KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Surprise


__ADS_3

“Bi.. kalau Frey ada masalah suka curhat ke elo atau Nina ngga?”


“Kadang iya kadang ngga. Kalau dia bisa ngatasin sendiri masalahnya, dia ngga curhat. Atau kalau merasa cukup curhat sama Ken, dia ngga akan curhat sama gue atau Nina lagi. Kenapa?”


“Nara..”


“Nara kenapa?”


Jojo mengambil nafas sejenak. Kalau mengingat anak kembarnya ini, Jojo selalu merasa sedih bahkan terkadang merasa gagal menjadi ayah. Bukan hanya dirinya, tapi Adinda juga sering merasa seperti itu.


“Sebagai orang tua, baik gue atau Dinda selalu mencoba memberikan kasih sayang yang rata untuk semua anak gue. Ngga ada yang dibedain atau dilebihkan. Begitu juga dengan Naya dan Nara. Kasih sayang kita berdua utuh dan sama rata untuk mereka. Kita juga ngga pernah membandingkan keduanya, karena kita sadar, walau kembar, mereka berdua tetaplah berbeda.”


Jojo menjeda sejenak ucapannya. Kembali pria itu menarik nafas panjang untuk menyingkirkan rasa sesak di dadanya. Abi masih setia mendengarkan tanpa ada niat untuk menyela.


“Tapi ternyata perbandingan itu justru datang dari luar. Banyak orang yang membandingkan Naya dengan Nara, baik dari segi fisik atau sikap. Di sekolah, kampus, lingkungan rumah sampai orang-orang yang tidak mengenal mereka pun ikut membandingkan. Naya sering memposting kebersamaannya dengan Nara ke medsos. Gue sering baca banyak banget komenan yang membandingkan keduanya, dan kebanyakan mereka memojokkan Nara dan memuji Naya. Naya yang cantik, anggun, pintar, apalagi setelah dia berhubungan dengan Aric, pujian dan dukungan untuknya semakin deras berdatangan.”


Jojo meraih gelas berisi air putih lalu meneguknya sampai habis. Dia perlu membasahi kerongkongannya yang terasa kering.


“Nara tidak pernah membalas komen buruk mereka. Dia terlihat santai, tapi sebenarnya dalam hatinya dia merasa sedih. Dia menutupi itu semua dengan wajah ceria, senyuman dan tawa. Kalau gue atau Dinda nanya dia selalu bilang, it’s okay pap.. ngga semua orang suka sama kita kan. Di satu sisi gue senang, dia bisa menyikapi itu dengan dewasa. Tapi dua bulan yang lalu, gue baru tahu kalau ternyata dia sering nangis diem-diem di kamarnya menjelang tidur malam. Dan ketika gue atau Dinda datang, dia berhenti menangis dan bilang semua baik-baik aja dengan wajah tersenyumnya. Gue bukan ayah yang baik, Bi. Gue ngga bisa berbuat apa-apa ketika anak gue menderita.”


Jojo menundukkan kepalanya, kedua tangannya menutupi wajahnya yang sudah bersimbah airmata. Abi beringsut mendekat lalu merangkul sahabatnya itu. Sebuah tepukan pelan diberikannya untuk menenangkan sang sahabat.


“Lo ayah yang hebat. Ngga semua ayah bisa peka dengan keadaan anaknya, tapi lo bisa. Jo.. tiap anak punya cara berbeda untuk mengatasi masalah yang datang dalam hidupnya. Percayalah, Nara itu anak yang kuat. Dia anak yang ceria, kehadirannya bisa membahagiakan orang-orang di dekatnya.”


“Lo ngga tahu, Bi. Nara itu kuat di luar tapi rapuh di dalam. Dia menyembunyikan kesedihannya dibalik tingkah konyolnya. Saat ini dia sedang mengalami krisis kepercayaan diri. Apalagi setelah Naya akan menikah dengan Aric dan Dilara sedang pedekatan dengan Ezra. Kalau gue tanya soal pasangan, dia selalu jawab, mana ada yang mau sama aku, pa. Tentu aja dengan gaya bercandanya. Dia selalu merasa kalau ngga akan ada laki-laki yang mau padanya. Gue harus gimana Bi?”


Abi terdiam, dia teringat saat Nara datang ke rumahnya tempo hari. Saat Kenan memuji Naya dan saat Kenzie memberikan perlakuan berbeda pada gadis itu juga Naya, sekilas dia bisa menangkap kesedihan di mata anak itu.


“Gue bisa bantu apa, Jo? Kalau gue bisa, pasti gue bantu. Nara juga anak gue.”


“Kalau lo ngga keberatan, Bi. Jodohkan Nara dengan Ken. Ken itu laki-laki yang baik, kuat dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Gue harap kalau Nara bersama dengan Ken, bisa mengembalikan kepercayaan dirinya.”


“Gue ngga bisa janji, Jo kalau itu. Gue dan Nina ngga pernah ikut campur soal pilihan pasangan anak-anak. Seperti Freya, gue ngga ikut campur soal Ravin atau Barra. Ken sendiri bukan tipe anak yang suka dengan perjodohan.”


“Gue tau Bi. Tapi ngga ada salahnya kan mencoba. Kita ngga perlu mengatakan secara langsung soal perjodohan mereka. Cukup dekatkan dan berikan mereka lebih banyak kesempatan untuk bersama dan mengenal lebih baik satu sama lain. Kalaupun pada akhirnya mereka ngga bisa bersama, yang penting kita sudah mencoba.”


Tak ada respon dari Abi. Pria itu termenung memikirkan semua yang Jojo katakan. Sebagai sahabat, tentu saja dia ingin membantu Jojo. Tapi dia juga tidak mau memaksakan keinginan pada sang anak, terutama masalah pasangan. Karena yang akan menjalani biduk pernikahan nantinya adalah anaknya sendiri.


“Nara masih belum kerja?”


“Belum. Gue udah nawarin kerja di kantor bareng gue, tapi dia ngga mau. Mungkin karena ada Naya. Dia ngga mau kalau harus dibanding-bandingin lagi.”


“Gini aja. Gimana kalau Nara jadi sekretaris sementaranya Ken.”


“Bukannya ada Yoga.”


“Sementara Yoga akan gue tarik jadi sekretaris Andhiar. Sekretarisnya lagi cuti melahirkan.”


“Wah boleh, Bi. Nanti gue bilang ke Nara,” mata Jojo nampak berbinar.


Abi menganggukkan kepalanya. Dia berharap rencananya ini berjalan dengan baik. Kalau berhasil maka dia tidak hanya bisa membantu Jojo, tapi dia juga bisa membuat sang anak melepas status jomblonya.


☘️☘️☘️


TOK


TOK


TOK


“Masuk.”


Rindu masuk ke dalam kamar anaknya ketika terdengar suara Ravin dari dalam. Dia mendekati sang anak yang tengah membereskan sesuatu. Wanita itu terkejut melihat Ravin yang tengah membereskan foto-foto Freya lalu memasukkannya ke dalam kotak. Diam-diam selama dua tahun terakhir, Ravin selalu mengambil foto gadis itu secara candid. Sudah sejak lama memang Ravin memendam perasaan pada Freya.


“Vin.. itu foto-foto Freya mau kamu kemanakan?”


“Dibuang ma.”


“Kok dibuang?”


“Frey kan udah nolak aku. Aku harus move on, ma. Salah satunya dengan menyingkirkan foto-foto ini. Kalau aku terus simpen foto ini, pasti aku bakalan lihat terus setiap malam. Aku ngga bakalan bisa lupain dia ma.”


“Kamu beneran suka ya sama Freya.”


Ravin hanya tersenyum tipis, senyum untuk menutupi perasaan kecewanya. Bohong kalau dia tak merasa sakit hati atas penolakan Freya. Tapi dia juga tak bisa memaksakan perasaannya. Rindu mendekat ke arah Ravin lalu memeluknya.


“Sabar ya, Vin. Mama percaya suatu saat kamu akan mendapatkan gadis yang mencintaimu.”


“Makasih ma,” Ravin balas memeluk sang mama.


“Foto-foto ini biar mama yang buang.”


“Ngga ngerepotin mama?”


“Sama sekali ngga.”


Rindu merapihkan sisa-sisa foto kemudian memasukkannya ke dalam kotak. Setelah itu dia membawa kotak tersebut keluar kamar. Ravin membaringkan tubuhnya di atas kasur. Matanya menatap kosong ke arah atas. Sesuatu seperti hilang dari hatinya, gadis yang selama ini menjadi penyemangat hidupnya telah menolak cintanya. Dia seperti kehilangan gairah hidup saja.

__ADS_1


☘️☘️☘️


Dengan langkah pelan Ravin menuruni anak tangga. Dia langsung menuju ruang makan. Di sana, Kevin, Rindu dan Viren sudah memulai sarapan mereka. Pria itu lalu menarik kursi di samping adiknya. Rindu dengan cekatan mengambilkan makanan untuk sang anak.


“Ma.. aku bisa sendiri kok.”


“Sebelum kamu punya istri, biar mama yang ambilkan makanan buat kamu.”


“Kasihan mama, kayanya bakalan lama ngambilin makan buat si abang. Secara kalo ngejar cewek udah kaya siput. Lama, udah gitu ditolak lagi.”


“Bacot mulu. Kuliah yang bener.”


Ravin hendak mendaratkan jitakan di kepala Viren. Namun dengan cepat pemuda itu berkelit, tangan sang kakak hanya mengenai ruang kosong. Kevin berdehem kencang, membuat keributan kecil anak-anaknya segera berhenti.


“Ma, aku mungkin beberapa hari ngga akan pulang ke rumah.”


“Kamu mau nginep di hotel?”


“Iya ma. Mau ada rombongan tamu dari Brunai, jadi aku harus mastiin semuanya lancar, aman terkendali.”


“Jangan lupa makan.”


“Iya ma.”


Dengan cepat, Ravin menghabiskan sarapannya. Dia lalu berpamitan dengan mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Pria itu segera naik ke dalam kendaraannya lalu melaju pergi menuju hotel Arjuna, tempatnya bekerja. Saat ini Ravin dipercaya menjadi General Manager Arjuna hotel, sedang Ezra menjabat posisi direktur. Keduanya sengaja ditempatkan di sana oleh Juna, sebelum Ezra diserahi tanggung jawab mengelola Blue Sky.


Semua pegawai menundukkan kepalanya ketika berpapasan dengan Ravin. Dia bergegas menuju ruangannya karena harus menemui pegawai baru. Monica, manager HRD segera menyambut kedatangan Ravin. Wanita berusia empat puluh tahunan itu mengatakan kalau pegawai baru sudah menunggu di ruangannya.


Ravin terkejut melihat pegawai baru yang akan mengisi posisi yang ditinggalkan pegawai lama yang pensiun ternyata adalah Freya. Ezra sepertinya sengaja tak mengatakan padanya untuk memberinya kejutan. Freya pun tak kalah terkejutnya, dipikirnya Ravin bekerja di Blue Sky, bukan di hotel bersama Ezra.


“Frey..” tegurnya.


“Bang Ravin.. eh maaf pak Ravin.”


“Jadi kamu pegawai barunya.”


“Iya pak hehehe.”


Freya tertawa memamerkan sederetan gigi putihnya. Hati Ravin kembali berdebar dibuatnya. Percuma saja dia membuang semua foto-foto Freya karena ternyata gadis itu kini bekerja bersamanya.


“Kamu sudah tahu kan job desknya seperti apa?”


“Iya pak.”


“Ok kalau gitu silahkan kembali ke ruanganmu. Kalau ada yang tidak kamu mengerti, tanyakan saja pada Siska atau Remy.”


“Baik pak. Saya permisi.”


☘️☘️☘️


“Frey..” panggil Siska.


“Iya, bu.”


“Kamu ikut meeting ya. Tolong siapkan bahan-bahan yang kita butuhkan.”


“Siap, bu.”


Freya bergegas menyiapkan bahan yang diperlukan untuk meeting. Minggu ini hotel kedatangan tamu dari Brunai, bahkan salah seorang peserta rombongan berasal dari keluarga kerajaan. Tentu saja mereka harus memberikan pelayanan terbaik. Sejatinya Freya akan mengisi posisi di bagian keuangan, namun Ezra memindahkannya ke bagian Marketing. Tugasnya membantu promosi hotel dan berhadapan langsung dengan klien. Remy, Salah seorang rekan kerjanya mendekati gadis itu.


“Hai.. kenalin, aku Remy.”


Sejenak Freya menjeda pekerjaannya. Dia melihat ke arah Remy yang tengah mengulurkan tangan padanya. Gadis itu segera membalas uluran tangan lelaki di hadapannya seraya menyebutkan nama. Penampilan Remy bisa dikatakan lebih menonjol dibanding karyawan lain yang ada di divisi ini. Wajahnya lumayan tampan dan postur tubuhnya pun bisa dikatakan ideal untuk ukuran laki-laki.


“Kamu diajak meeting sama bu Siska?”


“Iya pak.”


“No.. jangan panggil bapak. Panggil nama aja, aku kan belum terlalu tua,” Remy mengedipkan matanya ke arah Freya.


“Oh ok.. Re..my,” panggil Freya canggung. Dia tak terbiasa memanggil yang lebih tua dengan sebutan nama saja. Hal yang selalu diajarkan kedua orang tuanya.


“Jangan lupa bahan-bahannya jangan ada yang terlupa. Kita mau meeting sama pak Ravin juga. Dia paling ngga suka kalau ada bahan yang kurang saat meeting. Begitu juga soal pekerjaan. Pak Ravin itu terkenal dengan sebutan Mr. Perfect karena dia mau semua yang dikerjakannya sempurna.”


Remy menyebut kata sempurna dengan gaya seperti salah satu pesulap perkenal di Indonesia. Freya tercenung mendengar ucapan rekan kerjanya. Ini adalah hal baru yang diketahui gadis itu tentang Ravin.


“Ayo.. meeting udah mau dimulai.”


Suara Remy membuyarkan lamunan Freya. Dia membantu Freya membawa semua berkas yang dibutuhkan untuk meeting. Keduanya kemudian melangkah menuju elevator, karena ruang meeting terletak di lantai 15.


Hampir satu jam lamanya meeting berjalan. Freya sibuk mencatat apa saja yang dibahas saat meeting. Gadis itu dibuat terkejut dengan sikap Ravin selama meeting berlangsung. Pria itu selalu berbicara dengan nada tegas, lugas dan tidak bertele-tele. Aura kepemimpinan begitu terpancar darinya. Sikap Ravin bergitu berbeda dengan kesehariannya yang lebih santai dan banyak tersenyum.


“Siska, apa kamu sudah menunjuk orang dari divisimu yang akan mendampingi saya untuk menyambut rombongan dari Brunai?” tanya Ravin setelah meeting usai.


“Sudah pak. Remy yang akan mendampingi bapak.”


“Saya dan juga Freya, pak,” sahut Remy.

__ADS_1


Baik Ravin maupun Freya terkejut dibuatnya. Freya tak menyangka kalau dirinya ditunjuk untuk menyambut kedatangan tamu penting, padahal dirinya baru saja bergabung di hotel ini.


“Kita perlu perempuan, pak untuk menyambut mereka juga. Selain kemampuan bahasa Inggris yang baik, Freya juga cepat tanggap dan cekatan dalam bekerja. Ditambah lagi, cantik. Jadi saya rasa para tamu akan senang menerima sambutan darinya.”


Remy membeberkan alasan mengapa dirinya mengajak Freya bersamanya. Tak ada komentar dari Freya, dia cukup jengah juga mendengar alasan Remy yang terdengar seperti tengah memujinya. Begitu pula Ravin, pria itu hanya menganggukkan kepalanya saja. Hatinya sedikit cemburu melihat ada pria lain yang berusaha mendekati Freya. Jika dengan Barra, dia bisa lebih santai, tapi tidak dengan Remy. Ravin tahu betul dengan sepak terjang Remy yang terkenal sebagai penakluk wanita, karena mereka pernah kuliah di kampus yang sama.


“Frey.. kamu diminta ke ruangan pak Ezra.”


Ucapan Ravin menghentikan langkah Freya yang hendak keluar ruangan meeting. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah Ravin menuju lift khusus petinggi. Kantor Ezra berada dua lantai di atas tempat mereka berada sekarang. Remy memandangi kepergian keduanya dengan perasaan yang sulit dilukiskan. Dia sedikit takut Freya akan jatuh dalam pesona Ezra.


Pintu ruangan Ezra terketuk. Setelah mendengar jawaban dari dalam, Ravin segera membuka pintu. Bersama dengan Freya, mereka masuk ke dalam ruangan. Kedatangan Freya disambut suka cita oleh Ezra. Pria itu senang adik sepupunya mau bekerja bersamanya. Pria itu bangun dari duduknya lalu menghampiri Freya.


“Selamat bergabung adikku yang cantik.”


Ezra merentangkan tangannya lalu memeluk Freya. Dia mengajak adik sepupunya itu duduk di sofa bersamanya. Ravin mengambil tempat di depan Freya. Sekilas Ezra melihat ke arah sahabatnya itu. Dia sudah mendengar soal penolakan Freya. Sebenarnya Ezra berharap keduanya bisa bersama.


“Gimana hari pertamamu?”


“Lumayan baik. Bu Siska dan Remy banyak membantuku.”


“Remy? Wow gercep juga dia,” Ezra melihat ke arah Ravin.


“Kamu harus hati-hati sama dia. Dia itu penakluk wanita dan playboy kelas kakap. Jangan sampai kamu jatuh cinta sama dia. Nanti ada yang nangis guling-guling.”


Ravin memutar bola matanya mendengar ucapan sahabatnya yang pasti ditujukan untuk dirinya. Freya hanya tertawa kecil saja, namun itu sukses membuat hati Ravin kembali berdebar.


“Selain sama Remy, kamu juga harus hati-hati sama Adel.”


“Adel? Siapa itu?”


“Dia itu marketing leader di hotel ini. Cantik, pintar dan penuh percaya diri. Dan satu lagi, dia itu pemuja Ravin. Siapa pun perempuan yang coba-coba dekat sama dia bakalan disingkirkan. Jangan sampai dia tahu kalau kamu tuh cinta matinya Ravin, hahaha...”


“Rese lo, Ez,” gerutu Ravin.


Ezra terus saja tertawa melihat wajah Ravin yang sudah menunjukkan aura peperangan. Dia sengaja menyebut soal Adel, ingin mengetahui bagaimana reaksi Freya. Selama ini gadis itu hanya tahu kalau Ravin mencintainya, dia belum merasakan bagaimana rasanya melihat ada wanita lain yang mengejar Ravin. Apakah Freya akan bersikap biasa saja atau cemburu.


“Ngga usah dengerin Ezra, Frey. Kamu kerja aja yang bener. Remy itu profesional, dia bisa jadi mentor yang baik buat kamu. Soal Adel, kamu bisa belajar ilmu marketing dari dia. Adel itu baik kok, Ezra aja yang lebay.”


“Kok aku jadi penasaran soal Adel ya. Kaya gimana sih cewek yang tergila-gila sama bang Ravin.”


“Nanti kamu juga bakalan ketemu sama dia. Ingat, jangan sampai dia tahu kamu itu bidadarinya Ravin.”


Ravin hanya menggelengkan kepalanya lalu berdiri dari duduknya. Dia memilih keluar dari ruangan atasan menyebalkannya itu.


“Bang Ravin tunggu. Kak, aku balik ke ruangan dulu ya.”


Hanya anggukang yang diberikan Ezra pada sepupunya itu. Bergegas Freya menyusul Ravin yang telah lebih dulu keluar dari ruangan.


☘️☘️☘️


Waktu menunjukkan pukul sembilan kurang. Seperti biasa, Kenzie sudah tiba di kantor. Dia memang membiasakan diri datang lebih awal ke kantor. Setelah menggantung jasnya di kapstok, dia menghubungi Fathan untuk datang ke ruangannya.


Kenzie baru saja mendudukkan diri di kursi kebesarannya ketika Fathan masuk ke dalam ruangan. Pria itu segera menghampiri sang atasan. Dia sudah bisa menebak apa yang akan ditanyakan Kenzie padanya.


“Yoga dipindah ke atas?” tanya Kenzie.


“Iya pak. Sekretaris pak Andhiar sedang cuti hamil. Karena banyak pekerjaan, pak Andhiar meminta Yoga yang membantunya. Khawatir kalau orang baru tidak akan sanggup.”


“Terus yang menggantikan Yoga di sini? Ngga mungkin kan kamu yang handle pekerjaan Yoga juga.”


“Pak Andhiar sudah menyiapkan pengganti sementara Yoga. Dia orang yang direkomendasikan langsung oleh pak Abi.”


Mendengar nama papanya disebut, Kenzie tak banyak bertanya. Hanya dia heran saja sang papa belum membicarakan hal ini padanya. Merasa tak ada hal yang perlu disampaikan lagi, Fathan pamit kembali ke ruangannya. Kenzie pun memulai pekerjaannya.


Sepuluh menit kemudian terdengar pintu ruangannya terketuk. Fathan kembali masuk ke dalam ruangan bersama seorang wanita yang akan menjadi sekretaris sementara Kenzie.


“Sekretaris baru bapak sudah datang.”


Mendengar ucapan Fathan, Kenzie yang tengah memeriks e-mail yang masuk, mengalihkan pandangannya dari laptop. Dia terkejut melihat seseorang yang berdiri di samping Fathan.


“Nara..”


☘️☘️☘️


**What happen next🤔


Maaf ya kemarin² mamake salah ketik nama, harusnya Sutisna jadi Yayan, maksudnya Barra malah Jojo, maklum efek lavaaaarrr🤣🤣


Makasih loh buat yang udah ingetin dan koreksi, mamake seneng, berarti kalian memperhatikan novel ini, lope² buat kalian semua😘😘😘


Sekarang giliran visual si kembar bibitnya Jojo yang mamake kasih, chek it out.


Oh iya jangan heran ya kalau ngga mirip karena mereka kembat tidak identik. Ngga semua anak kembat berwajah mirip. Banyak yang wajah dan postur tubuhnya beda kaya penyanyi Rauf & Faik, bukan cuma mukanya yg ngga identik tapi postur tubuh mereka juga beda. Kakaknya tinggu kaya tiang listrik, adiknya pendek😁 Begitu pula dengan Naya dan Nara, ceritanya Naya mewarisi gen Jojo, Nara ke Dinda.


Naya yg cantik, kalem dan anggun**


__ADS_1


Nara yang ceria, somplak dan bar²



__ADS_2