KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Suprised Sandi


__ADS_3

Bersama dengan Nina, Nara mencari kebutuhan untuk calon anaknya. Selain mereka, Syakira dan Emily juga ikut bergabung, keduanya juga tengah berburu hantaran pernikahan. Emily sudah dilamar oleh Ilham, anak Fani, istri dari Beno. Keempat wanita itu berkeliling mencari barang yang dibutuhkan bersama-sama.


Tepat di samping departemen store, terdapat toko yang menjual perlengkapan bayi. Nina dan Nara memutuskan masuk ke sana dahulu, sedang Syakira memasuki departemen store bersama dengan Emily. Setelah memberi perlengkapan bayi, nanti Nina dan Nara akan menyusul.


Masih di departemen store yang sama, terlihat Silva terus mengikuti kemana langkah Risma dan kedua anaknya pergi. Seperti biasa, jika mereka hendak berbelanja, pasti akan mengajak Silva yang diminta membawa barang-barang mereka. Dengan kantong belanjaan di tangannya Silva berjalan di belakang ketiga orang itu. Sandi yang baru saja bergabung juga nampak tak acuh pada anaknya itu.


Langkah Silva terhenti ketika Risma tengah melihat-lihat pakaian untuknya. Begitu pula Dila dan Sisil yang melihat-lihat pakaian yang tergantung, sesekali memperlihatkan pada mamanya. Begitu pula dengan Sandi yang sibuk mencarai pakaian untuk dirinya sendiri. Tinggalah Silva yang hanya bisa termangu melihat kesibukan mereka.


Tak lama Risma datang lalu menaruh pakaian yang dipillih ke dalam kantong belanjaan yang Silva pegang. Kemudian dia melanjutkan memilih pakaian lain. Tak berapa lama, Syakira datang dan memilih pakaian di dekat mereka, sedang Emily tengah berada di bagian lain. Tak sengaja Syakira menyenggol lengan Sandi, membuat pakaian yang ada di tangannya terjatuh ke lantai.


“Maaaffhhh.. nggaaahh syengaajaahh,” ujar Syakira seraya memberikan pakaian yang terjatuh tadi. Untuk sesaat Sandi hanya terpaku melihat wanita cantik di depannya. Walau sudah berumur, Syakira masih terlihat seksi dengan tubuh sintalnya, ditambah dengan suaranya yang mend*sah.


“Adduuhhh.. jangaannhhh maaraaahhh yaah phaakkhh,” ujar Syakira lagi.


“Eh.. eung.. ngga.. saya ngga marah. Terima kasih, loh.”


Sandi mengambil pakaian yang diberikan Syakira sambil tidak henti memandang wajah wanita itu. Tanpa mempedulikan Sandi, Syakira segera memilih pakaian untuk suaminya. Seperti terhipnotis, Sandi malah mengikuti langkah Syakira.


“Mau beli pakaian juga?” tanya Sandi.


“Iyaaahhh.. untuukhh syuamiihh sayaaahhh.”


“Bisa sekalian pilihkan untuk saya juga?”


“Boleeehhh.. syukaahh yanngghh mhodeelhh gimaanaahh?”


“Apa aja.”


Jawaban asal keluar dari mulut Sandi. Sejatinya pria itu tak bisa berkonsentrasi karena des*han suara Syakira membuatnya cenat-cenut sendiri. Tanpa sadar pria itu terus mengikuti langkah Syakira, dan ikut berhenti ketika Syakira menerima panggilan dari Gurit. Risma yang tengah sibuk sendiri, tanpa sengaja melihat ke arah suaminya. Bergegas wanita itu segera menghampiri.


“Iyaahhh papaaahhh byeehh byeehh mmuuaaacccchhh,” ujar Syakira saat mengakhiri panggilannya. Gurit yang mendapat ciuman jauh dari Syakira, tapi hati Sandi yang berdebar saat mendengarnya.


“Suamimu?” tanya Sandi.


“Iyaahhh.”


“Heh!! Kamu ngapain deket-deket suami saya?” hardik Risma tiba-tiba mengejutkan Syakira hingga keluar latahnya.


“Ehh chopotthh.. chopoothh.. chopoothh.. ibuuhhh ngaghetinhh sayaahh ajaahhh.”


“Kamu ngapain deketin suami saya?”


“Syiapaahh yangghh dheketinh syuamiihh ibuuhh? Diaahh yanghh ngkuhtinnhh sayaahh.”


“Dasar ganjen! Biar apa itu ngomong pake mend*sah gitu? Biar suami saya tergoda gitu?” Risma semakin sewot.


“Ma.. udah, ma. Malu dilihatin orang.”


“Biarin! Biar orang-orang pada denger, nih perempuan kegatelan godain suami orang. Dikira suaranya seksi apa digitu-gituin. Ngga pernah lihat laki-laki ganteng ya, kaya suami saya!”


“Maaf ya tante. Mama saya bukannya kegatelan, mama saya memang begini bicaranya. Suami tante aja yang kegeeran. Lagian, papa saya jauh lebih ganteng dari pada suami tante. Ayo ma!!”


Emily menarik tangan Syakira dan segera meninggalkan kedua orang menyebalkan itu. Risma tak jadi mencari pakaian lain, dia memilih untuk terus berada dekat dengan suaminya.


Dari arah pintu masuk, muncul Nina dan Nara. Mata mereka berkeliling mencari keberadaan Syakira. Nara menepuk lengan Nina saat melihat Silva tengah berdiri tak jauh dari mereka. Keduanya segera menghampiri gadis itu.


“Udah selesai tante?” tanya Silva pada Risma.


“Belum. Dila sama Sisil juga belum beli sepatu. Nih, masukin bajunya,” Risma menyerahkan dua potong pakaian untuk Sandi pada Silva. Tak berapa lama muncul Dila dan Sisil, mereka membawa kantong belanjaan lain yang berisi sepatu lalu menyerahkannya pada Silva.


“Nih bawa,” ujar Dila.


“Silva..” panggil Nina.


Bukan hanya Silva, namun semua yang ada di sana langsung menolehkan kepalanya pada sang pemilik suara. Nina mendekati Silva, matanya melihat pada kantong belanjaan di tangan Silva. Sekali lihat, dia sudah tahu apa yang terjadi.


“Silva sedang belanja?” Nina pura-pura tak mengerti.


“Eh.. ng.. i..ya tan,” Silva nampak malu di hadapan Nina.


“Enak aja, itu baju aku. Kamu kan diajak cuma buat bantu bawa belanjaan aja,” celetuk Dila.


Kesal mendengar perkataan gadis belia itu, Nina mengambil semua kantong belanjaan di tangan Silva lalu memberikannya pada Dila dan Risma. Wanita itu menarik tangan Silva ke dekatnya, menyembunyikan gadis itu di belakang punggungnya.


“Siapa kamu?” tanya Risma kesal.


“Ngga perlu tahu siapa saya. Silva bukan pelayan kalian! Bawa sendiri belanjaan kalian. Sekali lagi saya melihat kalian memperlakukannya seperti budak, saya akan membuat kalian menyesal!”


Nina segera membawa pergi Silva dari hadapan mereka. Risma tadinya hendak membalas Nina, namun ditahan oleh Sandi begitu melihat dua orang pria berbadan tegap langsung mengikuti langkah Nina.


“Siapa perempuan itu? Sombong sekali,” kesal Risma sambil terus melihat ke arah Nina.


“Dilihat dari dua pengawal yang mengikutinya, sepertinya dia salah satu istri pejabat.”


“Makanya papa harus cepet-cepet kenal dengan Abimanyu Hikmat dan masuk dalam lingkaran keluarga Hikmat. Biar perempuan sombong itu ngga bisa macem-macem.”


“Iya, ma. Ternyata si Kenan itu sekarang jadi sekretarisnya pak Abi.”


“Masa?”


“Iya.”


“Manfaatin aja, pa. Kalau kita udah kenal sama keluarga pak Abi, tendang aja tuh anak. Aku denger pak Abi masih punya satu anak laki-laki yang belum nikah. Suruh Zahra nikah sama dia.”


“Usulan mama boleh juga. Terus Jay gimana?”

__ADS_1


“Alaahh.. laki mata keranjang kaya dia, tendang aja. Cari yang lebih berkualitas, kaya anaknya pak Abi.”


Sandi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Secepatnya dia akan meminta Kenan untuk mengenalkannya pada Abimanyu. Baru saja membayangkan dirinya berhasil masuk dalam lingkaran keluarga Hikmat, sudah membuat pria itu tersenyum senang.


Sementara itu, Nina yang sudah bergabung dengan Syakira, kembali memilih barang-barang yang hendak dibelinya. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk Silva. Beberapa kali dia memilihkan pakaian untuk anak itu, namun Silva hanya menggelengkan kepala karena sungkan.


“Kenapa Sil? Ngga suka modelnya?” tanya Nina.


“Bukan, tan. Bajunya bagus, tapi aku malu.”


“Kenapa harus malu? Kamu adiknya Zahra, sebentar lagi kamu akan jadi bagian keluarga kami. Jangan malu, sayang,” Nina mengusap puncak kepala Silva.


“Ayo kakak pilihin,” Nara menggandeng tangan Silva menuju deretan baju untuk anak remaja yang ada di sana.


Risma terus memperhatikan gerakan Silva. Hatinya kesal melihat bagaimana Nina dan Nara memperlakukan Silva. Terlebih dia melihat Syakira juga ada di tengah-tengah mereka, semakin membuat kepala wanita itu berasap.


☘️☘️☘️


Suasana tenang meliputi kediaman Cakra di Sabtu pagi. Para pria di rumah ini, memilih tinggal di rumah. Ingin menghabiskan waktu akhir pekan bersama dengan keluarga. Setelah sarapan, Cakra berkumpul dengan anak dan menantunya di teras.


“Pa.. mungkin minggu depan, aku udah pindah ke rumah baru. Sekarang udah ada Irvin yang jagain Anya,” Aric membuka percakapan.


“Tapi usahakan kamu tetap berkunjung ke rumah dan rumah mertuamu. Apalagi Anya juga belum terbiasa jauh darimu.”


“Iya, pa.”


“Bagaimana Anya? Apa keadaannya sudah lebih baik?” tanya Cakra pada Irvin.


“Masih belum, pi. Kadang kalau malam dia suka bangun, katanya habis dikejar-kejar jin.”


“Kok bisa, ya. Nanti papi tanya ustadz lagi, mungkin dia perlu diruqyah lagi. Kamu kayanya harus diruqyah juga.”


“Kamu udah jebol gawang belum?” celetuk Aric.


“Belum hehehe..”


“Pantes!” ujar Cakra dan Aric bersamaan.


Irvin hanya melongo saja mendengar jawaban mertua dan kakak iparnya. Baru saja dia akan bertanya ketika Anya datang membawakan camilan untuk mereka. Setelah meletakkan camilan di atas meja, Anya kembali ke dalam saat mendengar Sekar memanggilnya.


“Maksudnya apa pi?” akhirnya pertanyaan Irvin keluar juga.


“Pantes aja Anya masih dikintilin, sama kamu belum dijebol gawangnya,” jelas Aric.


“Hah?? Emang pengaruh ya?”


“Astaga nih, anak. Terus buat apa papi nikahin kamu sama Anya. Cuma buat nemenin tidur doang? Ajarin tuh menantu papi.”


“Hahaha…”


“Bukan gitu, bang. Kan Anya belum siap, masa iya aku maksa.”


Cakra tak bisa berhenti terpingkal mendengarnya. Dulu juga dia sempat menunda malam pertama dengan Sekar walau hanya semalam saja. Tak terbayang Irvin sudah menahannya hampir dua minggu lamanya.


“Urusan Anya biar mami yang handle. Kamu minta aja jurus jebol gawang sama papi hahahaha…” seru Aric.


Irvin mengusap tengkuknya, wajahnya memerah mendengar ucapan frontal kakak iparnya. Wajahnya bertambah merah ketika Cakra dengan santainya membicarakan tips-tips membobol gawang untuk pertama kali. Aric sesekali terpingkal melihat wajah adik iparnya.


Sementara itu di dalam rumah, Sekar juga tengah berbincang serius dengan anak bungsunya. Naya yang juga berada bersama kedua wanita itu hanya mendengarkan saja. Ketiga wanita itu duduk bersama di ruang makan sambil menikmati camilan.


“Nya.. kamu sama Irvin udah hubungan intim belum?” tanya Sekar, membuat Anya langsung terbatuk.


“Emang harus mi?”


“Astaga ini anak. Ya haruslah, dia itu suamimu. Dosa kamu kalau ngga mau melayani suamimu.”


“Kata a Irvin, ngga apa-apa, nunggu aku sampe siap. Aku kan belum siap, mi.”


“Pertama, kamu udah berdosa, menggantung hak suami. Kedua, kamu bakalan terus diintilin jin yang naksir kamu kalau belum dijebol gawangnya sama Irvin.”


“Hah?? Serius mi? Mami jangan nakut-nakutin dong.”


“Sekarang mami, tanya, kamu masih digangguin ngga sama tuh jin tomang?”


“Masih, mi. Aku masih suka mimpi.”


“Nah, itu. Sekarang pilihan ada di tangan kamu.”


Anya berpikir sejenak. Dia bergidik juga membayangkan terus diikuti jin yang menyukainya. Tapi di satu sisi, dirinya juga belum siap untuk melakukan hubungan intim dengan Irvin. Cerita akan malam pertama, membuatnya dia menjadi takut sebelum mencoba.


“Nya..”


Anya terjengit ketika Irvin memanggilnya. Suaminya itu mengajak istrinya masuk ke dalam kamar. Gadis itu mendudukkan diri di sisi ranjang dan Irvin ikut menyusul duduk di sebelahnya. Untuk sesaat suasana hening, Anya masih memikirkan ucapan sang mami barusan.


“Nya.. kita liburan yuk.”


“Liburan kemana a?”


“Ke vila temen aa di Ciwidey. Mau ngga? Nanti kita jalan-jalan ke kawah putih atau ke kebun teh. Kebetulan vilanya dekat dengan kebun teh.”


“Kapan a?”


“Sekarang aja kita berangkatnya, gimana? Besok pulang lagi.”


“Hmm.. boleh deh. Aku siapin bajunya dulu ya, a.”

__ADS_1


Dengan cepat Anya berdiri kemudian menyiapkan pakaian yang hendak dibawa. Irvin juga segera membersihkan diri ke kamar mandi. Mungkin dengan mengajak Anya berlibur, bisa membuat istrinya itu lebih rileks dan dia bisa mengakhiri penantian panjangnya untuk mencetak gol.


☘️☘️☘️


Sudah sejak dua jam lalu Irvin dan Anya sampai di vila milik teman Irvin. Sebelum sampai di vila, mereka menyempatkan dulu untuk makan siang di restoran Sunda yang mereka temui di jalan. Setelah menaruh barang-barang, Irvin mengajak Anya berenang di kolam yang ada di vila.


Anya duduk bersandar di headboard ranjang setelah membersihkan diri usai berenang. Irvin sendiri masih berada di kamar mandi. Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Irvin keluar dengan tubuh hanya terbalut handuk sebatas pinggang. Anya sontak menutup wajahnya dengan bantal begitu melihat suaminya dalam keadaan setengah polos.


Pelan-pelan diturunkannya bantal yang ada di tangannya, Anya terjengit saat melihat Irvin sudah berada di dekatnya dengan keadaan yang belum berubah. Diambilnya bantal yang ada di tangan sang istri, kemudian Irvin mendudukkan diri di sisinya. Perlahan dia mendekat lalu mendaratkan bibirnya di bibir Anya, mel*matnya dengan lembut.


Terbawa permainan bibir sang suami, Anya semakin terbuai. Dibiarkannya Irvin menyentuh semua bagian tubuhnya, hingga tak sadar kalau kini hanya tinggal menyisakan dal*man saja di tubuhnya. Irvin membaringkan tubuh Anya dan meneruskan cumbuannya. Kini bibirnya menyusuri bagian lain tubuh sang istri, membuat wanita itu tak enak diam.


Anya semakin pasrah ketika Irvin melepaskan semua benang terakhir yang melekat di tubuhnya. Kakinya bergerak ke sana kemari saat menerima sensasi yang baru pertama kali dirasakannya. Sesekali kepalanya mendongak dan tangan meremat-remat seprai. Dadanya membusung saat Irvin mulai bermain di area intimnya. Des*han pun keluar dari mulutnya. Tangannya sudah berpindah meremat rambut suaminya saat pria itu membuatnya semakin melayang hingga akhirnya berhasil mencapai pelepasan pertamanya.


Dengan mata sayu, Anya menatap sang suami yang berdiri di hadapannya. Dari balik handuk yang dikenakannya, dia bisa melihat sesuatu yang menonjol. Irvin melepaskan handuk yang membelit pinggangnya. Ingin rasanya Anya memalingkan wajah, namun matanya seakan terpaku menatap batangan yang menjulang tegak.


Irvin merangkak naik ke atas ranjang, memposisikan diri di atas Anya lalu kembali memberikan cumbuannya. Tak butuh waktu lama baginya untuk membuat sang istri kembail dalam gairahnya. Dia mengalungkan tangan Anya ke lehernya saat dirinya bersiap untuk menjebol gawang sang istri.


Suara jeritan Anya terdengar ketika suaminya itu berhasil menerobos pertahanannya. Irvin terdiam saat melihat sang istri menangis. Untuk beberapa saat dia tak melakukan apapun. Jarinya terus mengusap airmata Anya yang mengalir keluar, kemudian dengan penuh kelembutan diciuminya wajah cantik di bawahnya dan tak lupa diakhiri dengan lum*tan panjang dan dalam.


Anya kembali meringis saat Irvin mulai bergerak maju mundur, namun perlahan rasa ngilu dan nyeri yang dirasakan berganti dengan sesuatu yang membuatnya melayang. Suara ringisan kini sudah berganti dengan suara *******. Wanita itu mulai bisa menikmati percintaannya dengan sang suami.


Tak ingin membuat sang istri merasakan sakit lebih lama, Irvin memilih untuk mengakhiri permainannya. Lenguhan panjang pria itu terdengar ketika dia berhasil mencapai puncaknya. Semburan lahar panasnya masuk memenuhi rahim Anya yang sudah lebih dulu mencapai pelepasannya.


Irvin masih belum melepas penyatuan mereka. Dia memilih untuk memberikan lum*tan dan sesapan singkat di bibir sang istri. Setiap lum*tannya selalu diselingi dengan ucapan terima kasih dan cinta di telinga istrinya yang kini sudah sepenuhnya menjadi miliknya. Senyum mengembang di wajah Anya. Ternyata pembobolan gawang tidak semenyeramkan yang dibayangkan.


☘️☘️☘️


Sejak pagi, wajah Sandi nampak sumringah. Sejak dua hari lalu, sikap Darmawan berubah semakin baik padanya. Sepertinya peluang masuk ke dalam lingkaran keluarga Hikmat akan semakin besar dan cepat. Di saat dirinya tengah sibuk menyelesaikan pekerjaan, salah seorang anak buahnya mengatakan kalau Darmawan memanggilnya.


Sandi merapihkan pakaiannya sebentar, kemudian keluar ruangan. Dengan langkah penuh semangat pria itu berjalan menuju ruang atasannya. Diketuknya pintu berwarna coklat yang masih tertutup rapat. Setelah mendengar jawaban dari dalam, barulah dia membukanya.


“Silahkan duduk,” ujar Darmawan.


“Saya baru saja dapat kabar kalau Metro East setuju untuk bekerja sama dengan kita di dua proyek kemarin. Saya berterima kasih pada pak Sandi yang sudah bekerja keras, hingga kita berhasil mendapatkan proyek tersebut.”


“Sama-sama, pak.”


Sandi semakin jumawa dan percaya diri mendengar ucapan sang atasan. Dirinya yakin sudah mendapatkan nilai plus dari Abimanyu karena kinerjanya yang baik. Senyum lebar semakin menghiasi wajahnya.


“Siang ini, pak Abi mengajak kita makan bersama. Kalau pak Sandi bersedia, silahkan bergabung bersama kami.”


“Be.. benarkah bapak mengajak saya?” tanyanya setengah tak percaya.


“Iya, pak. Siang ini kita berangkat bersama saja,” ajak Darmawan.


“Terima kasih, pak. Tentu saja saya mau.”


“Ok, satu jam lagi kita berangkat bersama.”


“Baik, pak.”


Sandi bangun dari duduknya kemudian menyalami Darmawan. Dengan penuh kebahagiaan dia keluar dari ruangan atasannya tersebut untuk kembali ke ruangannya. Tak percaya sebentar lagi impiannya menjadi kenyataan, akan bertemu dengan CEO sekaligus pemilik Metro East, salah satu pengusaha keturunan keluarga Hikmat yang disegani oleh para pebinis.


“Untuk makan siang kali ini, saya akan mentraktir kalian semua,” cetus Sandi pada semua anggota timnya sesampainya di ruangan divisinya.


“Rani, pesankan makanan di restoran biasa untuk mereka.”


Sandi mengeluarkan lima lembar seratus ribuan kemudian memberikannya pada salah satu staf di sana. Karuan saja apa yang dilakukan Sandi mendapatkan sambutan gembira dari yang lainnya. Pria itu hanya mengangkat tangannya seraya melangkah masuk ke dalam ruangannya saat para stafnya mengucapkan terima kasih.


Pria itu menghempaskan bokong di kursi kebesarannya. Rasanya sudah tidak sabar menunggu waktu pertemuan tiba. Sesekali dilihatnya jam yang tergantung di dinding ruangannya. Waktu terasa berjalan begitu lambat. Dia sudah seperti orang yang tengah menanti waktu pertemuan dengan kekasih tercinta. Untuk membunuh waktu, pria itu kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.


Setelah melewati proses penantian yang dirasa begitu panjang. Akhirnya tiba waktu pertemuan. Sandi berdiri, merapihkan kemejanya yang sedikit kusut lalu mengenakan jasnya. Setelahnya pria itu segera menuju ke ruangan Darmawan. Atasannya itu juga sudah bersiap untuk pergi. Sandi berinisiatif untuk menyupir kendaraan milik bosnya.


Acara makan siang kali ini dilakukan di Amarta Restoran yang ada di hotel Yudhistira. Sandi dan Darmawan datang lebih dulu. Pelayan langsung membawa mereka menuju privat room yang sudah dibooking sebelumnya. Abi mengabarkan kalau akan tiba dalam waktu lima menit lagi.


Sandi berusaha menghilangkan kegugupannya dengan meminum air putih yang ada di dekatnya. Sebelumnya dia memang belum pernah bertemu dengan Abi, bahkan pria itu juga jarang melihatnya di media massa atau sosial. Kehidupan pribadi pria itu memang sepi dari pemberitaan dan wajahnya juga jarang terpampang di televisi, majalah atau portal berita online.


Pintu ruangan terbuka, seorang pelayan masuk kemudian mempersilahkan Abi masuk. Sandi segera berdiri mengikuti gerakan tubuh atasannya. Darmawan segera menyambut rekan bisnis sekaligus temannya itu.


“Selamat datang, pak Abi,” sambut Darmawan.


“Maaf saya sedikit terlambat.”


“Tidak apa. Kami juga baru datang. Oh iya, perkenalkan ini pak Sandi Putra, dia yang waktu itu saya ceritakan.”


“Sandi Putra.”


Sandi langsung mengulurkan tangannya ke arah Abi seraya menjabat tangannya. Sejenak dia tertegun melihat wajah Abi dari dekat. Sepertinya dia tak asing dengan wajah itu. Belum hilang rasa terkejutnya, pintu kembali terbuka. Mata Sandi membulat ketika melihat Kenan masuk. Bukan karena kehadiran pemuda itu yang membuatnya terkejut, namun kemiripan wajah kekasih anaknya dengan Abi.


“Halo Kenan,” sapa Darmawan.


“Selamat siang, pak,” Kenan menyapa Darmawan sambil menjabat tangannya. Kemudian dia beralih pada Sandi.


“Siang, pak Sandi,” Kenan juga menjabat tangan pria itu.


“Kenapa pak Sandi?” tanya Darmawan saat melihat Sandi hanya terpaku melihat pada Abi dan Kenan bergantian.


“Maaf, wajah pak Abi dengan Kenan begitu mirip. Apa mungkin Kenan anaknya pak Abi?” tanya Sandi hati-hati.


“Dia sekretaris saya, karena ini masih masuk jam kerja. Tapi kalau di rumah, dia anak saya. Anak bungsu saya, Kenan Mahendra Hikmat.”


☘️☘️☘️


Apa yang akan terjadi selanjutnya saudara²?🤣🤣🤣

__ADS_1


Seperti biasa, besok mamake libur yaa. Sambil nunggu KPA up, bisa juga mampir ke novel mamake yang lain. Ataaauuuu.. coba mampir yuk ke karya teman mamake. Kalian tinggal pilih, mau novel atau cerpen. Namanya Reman Picisan, cari aja di kolom pencarian. Yang suka nge room, mampir juga ke roomnya, namanya Musafir Cinta. Mamake juga kadang² parkir di sana, jagain pintu masuk wkwkwk.. Kalo mampir ke novelnya jangan lupa like and komennya, ok😉



__ADS_2