
Di sebuah private room restoran ternama, lima orang pria berusia setengah abad lebih tengah berkumpul sambil menikmati makan siang. Sejatinya, rencana makan siang diadakan kemarin, namun karena Juna dan Kevin harus berangkat ke Jakarta, Abi memundurkan jadwal makan siang mereka.
Selain makan siang bersama, mereka juga membicarakan masalah yang tengah menimpa Jojo. Selain Abi, Juna, Kevin dan Cakra juga sudah mengetahuinya. Abi mengatakan semua yang dilaporkan Dendi padanya. Agung juga tengah melacak siapa dalang dibalik aksi Veruca juga Lucky. Sedang Dendi telah berhasil meloloskan anak buahnya masuk ke dalam lingkaran Lucky.
“Dalangnya sih gue yakin ngga jauh dari masa lalu elo, Jo. Orang yang mungkin pernah sakit hati sama elo. Angela mungkin,” seru Cakra.
“Bukan Angela. Gue sama Dinda sengaja pergi ke Thailand buat cari tahu soal Angela juga keluarganya. Pelakunya bukan Angela. Suami Angela kembali ke daerah pedalaman untuk pengabdian. Mereka cuma punya satu anak cewek dan sekarang udah nikah. Anaknya ikut sama suaminya tinggal di Turki. Suaminya itu pelatih sepak bola.”
“Terus Angela?”
“Angela udah meninggal empat tahun yang lalu. Jadi bisa gue pastiin kalau pelakunya bukan Angela atau keluarganya.”
Semua yang ada di sana cukup terkejut mendengar Angela telah meninggal dunia. Umur memang tidak ada yang tahu. Siapa sangka, wanita yang dulu sempat membuat kegaduhan di keluarga Hikmat, ternyata harus lebih dulu berpulang pada Sang Pencipta.
“Yang dulu pernah nyulik si Pitak siapa tuh namanya? Siapa tahu dia pelakunya.”
Jojo menatap kesal pada Kevin yang masih saja memanggil istrinya dengan sebutan pitak. Tapi pria dingin itu mana peduli, dia tetap memasang wajah datarnya. Juna hanya terkekeh saja, walau sudah tak muda lagi, tapi Jojo dan Kevin tetap seperti dulu, suka beradu mulut jika bertemu.
“Luna maksud lo?”
“Kayanya dalem banget ya sama si Luna, masih inget aja namanya sampe sekarang,” goda Cakra.
“Jangan sampe mulut lo gue sumpel pake sikat WC ya, Cak,” kesal Jojo. Cakra hanya tergelak saja.
“Kalau Luna ngga mungkin sih. Soalnya dari laporan Dendi, jangankan buat bayar orang, buat biayain hidupnya aja sendiri susah,” terang Abi.
“Selain Angela, siapa lagi cewek yang pernah dicelup ama elo, Jo? Kali aja salah satu dari mereka masih ada yang dendam gara-gara bayaran lo kurang abis nyelup hahaha..”
Semua langsung tergelak mendengar celetukan Juna. Semakin tua, pria kalem itu ternyata semakin bergeser otaknya. Jojo mendengus kesal, berbicara dengan keempat sahabatnya ini bukannya menemukan solusi tapi malah membuatnya darah tinggi.
“Saat ini Jacob lagi ngelacak rekening koran Veruca dan Lucky. Siapa tahu kita bisa dapet petunjuk dari situ. Sebenernya gue ada curiga sama satu orang, tapi gue mau pastiin dulu, bener atau ngga.”
“Siapa?” tanya Jojo antusias.
“Mau tau aja apa mau tau banget?”
“Sumpah ya Bi, udah tua tapi kelakuan nyebelin lo ngga hilang-hilang.”
Kembali suara gelak tawa terdengar. Kepenatan mereka bekerja bisa hilang hanya karena celotehan-celotehan absurd di antara mereka. Begitu pula Jojo, setidaknya dia bisa sedikit rileks jika berkumpul bersama para sahabatnya.
“Sebentar deh.. gue masih ngga ngerti sebenernya masalah si Jojo apaan sih?”
Semua yang ada di dalam ruangan langsung melihat ke arah Kevin. Abi menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan si kulkas dua pintu itu. Padahal sebelum pertemuan, dia sudah menjelaskan masalah yang menimpa Jojo. Tapi seperti biasa, Kevin memang tidak terlalu peduli dengan urusan orang lain.
“Lo tuh sebenernya ngga peduli apa oon sih?” kesal Jojo.
“Ada orang yang coba hancurin keluarga Jojo lewat perpecahan anak-anaknya. Kan gue kemarin udah cerita,” timpal Juna.
“Ooh..”
Jojo melotot mendengar Kevin hanya ber ’oh’ ria saja mendengar permasalahannya. Juna terkekeh, berpuluh tahun bersahabat dengan Kevin, dia sudah paham betul dengan karakter Kevin. Walau terlihat tak peduli, sebenarnya dia juga ikut memikirkan jalan keluar jika salah satu dari mereka terkena masalah.
“Kalau dari hasil penelusuran Jacob, popularitas Naya di dunia maya dimulai tiga tahun lalu. Dia punya banyak followers sekaligus fans garis keras. Pelan-pelan para fans garis keras Naya mulai menjadi haters Nara. Lalu Veruca dan Lucky masuk. Aric dan Kenzie yakin dua orang ini yang membuat hubungan Naya dan Nara merenggang. Begitu pula dengan Dila. Tapi sekarang Dila udah sadar, tinggal Naya,” terang Abi panjang lebar.
“Bahaya laten itu,” timpal Kevin.
“Betul. Sepertinya sudah direncanakan dengan matang. Rencananya rapih banget,” sahut Cakra.
“Orang ini pastinya dendam banget sama kamu, Jo. Kamu harus hati-hati. Sekarang ini yang dalam bahaya itu Naya,” Juna mulai terlihat serius.
“Iya kak.”
Pembicaraan mereka terhenti ketika ponsel Abi berdering. Dendi menghubunginya dan mengatakan ada hal yang perlu dilaporkan. Abi meminta Dendi datang langsung ke restoran. Kebetulan sekali mereka tengah berkumpul, jadi semua bisa mendengarkan laporan perkembangan penyelidikan.
Sambil menunggu Dendi datang, mereka melanjutkan pembicaraan. Jojo menanyakan pada Cakra tentang Aric. Dia penasaran apakah Aric berniat melanjutkan hubungannya dengan Naya.
“Gue ngga tau, Jo. Aric belum ngomong apa-apa lagi. Kayanya dia mau beresin masalah Veruca sama Lucky dulu.”
“Si Barra lagi deketin Hanna ya?” tanya Juna.
“Kayanya sih.”
“Itu beneran kemauan Barra apa hasil hipnotis elo lagi?” Cakra terkekeh.
“Gue ngga ikut campur ya soal Barra sama Hanna,” sewot Jojo.
“Coba lo ngga hipnotis Barra, Ravin udah nikah kali sama Frey,” seru Kevin.
“Emang lo yakin Frey mau ama Ravin tanpa ada Barra?”
“Yakinlah, turunan gue ngga ada yang gagal.”
“Songong.”
Abi tak bisa menahan tawanya melihat Kevin dan Jojo yang terus saja berdebat jika membahas soal Freya. Setelah persaingan anak mereka berakhir, persaingan para ayah masih terus berlangsung.
Terdengar ketukan di pintu disusul dengan masuknya Dendi. Abi mempersilahkan Dendi duduk di dekatnya. Yang lain sudah tak sabar mendengar perkembangan hasil penyelidikan pria itu.
“Apa yang kamu dapat, Den?”
“Tiap bulannya Lucky dan Verucca menerima bayaran sebanyak 15 juta. Tapi uang dikirimkan oleh orang yang berbeda. Kami melacak satu per satu orang yang mengirimkan uang. Mereka hanya mengatakan diminta untuk mentransfer sejumah uang ke bank dan mendapat bayaran untuk itu. Mereka juga tidak kenal siapa yang menyuruhnya.”
“Bener-bener mateng rencananya. Dia berusaha menutupi jejak dengan baik.”
“Apa uang dimasukkan hanya melalui satu bank tiap bulannya atau ganti-ganti?” tanya Abi.
“Satu bank. Tapi Veruca dan Lucky memiliki rekening di bank berbeda.”
“Tanggal berapa biasanya mereka mendapat bayaran?”
“Antara tanggal 4 sampai 6 tiap bulannya.”
“Besok itu tanggal 4. Minta Jacob mengawasi cctv di semua cabang bank yang biasa digunakan pelaku. Tempatkan anak buahmu untuk mengawasi cabang-cabang tertentu.”
“Banyak banget itu, Bi,” timpal Cakra.
“Pilih bank yang memiliki cabang kecil saja. Dia pasti memilih cabang kecil dan mungkin yang tidak banyak dikunjungi nasabah. Kalau di cabang besar terlalu menonjol.”
“Baik pak.”
“Bagaimana dengan Jamal dan Septa?”
“Duta yang mengawasinya pak.”
“Hubungi Duta.”
Dendi menganggukkan kepalanya, kemudian menghubungi anak buahnya itu. Raut wajah Dendi nampak berubah saat berbicara dengan Duta. Tak lama pria itu mengakhiri panggilannya.
“Maaf pak. Duta tidak bisa datang karena sedang menjalankan tugas dari mas Kenzie. Setelah tugasnya selesai, dia akan langsung menghadap bapak.”
“Tugas apa?”
“Hmm... ini pak.”
Dendi menceritakan semua yang dikatakan Duta padanya. Tentang rencana Chika untuk menyingkirkan Nara. Dan apa yang dilakukan Kenzie untuk menggagalkan rencana tersebut termasuk hukuman yang diberikan untuk Chika.
“Posisi Chika di mana saat itu?”
“Di daerah dekat pasar Kosambi pak.”
Abi dan yang lainnya mulai berhitung. Rumah Chika berada di daerah Wastu Kencana, sedang perjalanan dimulai dari pasar Kosambi. Langsung terbayang perjalanan panjang yang harus ditempuh gadis itu dengan berjalan kaki.
“Anak lo, Bi. Sadisnya bener-bener nurun dari lo,” celetuk Cakra.
__ADS_1
“Menantu siapa dulu,” bangga Jojo.
“Songong,” seru Cakra.
“Kepedean,” timpal Juna.
"Lupa lo pernah doain Ken ileran sebaskom," sahut Abi.
“Untung anak gue ngga ada yang demen ama produknya dia,” sambung Kevin.
Gelak tawa kembali terdengar. Komentar Kevin jelas saja kembali memicu perdebatan kembali pria itu dengan Jojo. Dendi pun tak bisa menahan senyumnya. Para atasannya ini jika tengah berkumpul memang kerap melontarkan komentar atau celotehan ajaib yang membuat orang yang mendengarkan menggeleng-gelengkan kepalanya.
☘️☘️☘️
Ravin sedari tadi terus mondar-mandir di dalam kamarnya. Sesekali dia melihat dari arah balkon apakah mobil yang ayahnya kendarai telah datang atau belum. Pria itu melihat jam yang tergantung di dinding kamar. Waktu menunjukkan pukul lima sore. Tadi pagi, Ravin sudah mewanti-wanti ayahnya agar pulang lebih cepat.
Pria itu berlari menuju balkon saat medengar suara mesin mobil berhenti. Kali ini orang yang ditunggunya sudah datang. Bergegas Ravin keluar dari kamarnya kemudian menuruni anak tangga sambil berlari kecil. Kevin terkejut saat dirinya hampir saja bertabrakan dengan sang anak.
“Pa..”
“Apa?” jawab Kevin santai sambil melangkahkan kaki memasuki rumah.
“Malem ini kita ke rumah om Abi ya.”
“Ngapain?”
“Ngelamar Frey.”
Langkah Kevin terhenti begitu mendengar ucapan anak sulungnya. Pria itu membalikkan tubuhnya kemudian kembali menghampiri sang anak.
“Ngelamar Frey?”
“Iya. Mama juga udah aku kasih tahu.”
“Emang Frey mau sama kamu? Nanti ditolak lagi.”
“Ck.. papa.. percaya deh sama aku. Kali ini aku ngga akan salah lagi. Cepetan mandi terus siap-siap pa.”
Ravin mendorong tubuh ayahnya sampai ke depan pintu kamarnya. Dengan cepat dibukanya pintu kamar kemudian mendorong tubuh Kevin sampai masuk ke dalam. Ravin menutup kembali pintu kamar kemudian bergegas kembali ke kamarnya.
“Anak siapa sih tuh,” kesal Kevin.
“Anaknya pak Ujang hahaha,” terdengar suara Rindu dari balik pintu lemari.
Kevin mendekat ke arah lemari yang terbuka pintunya kemudian menutup pintu tersebut. Nampak Rindu masih menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Wanita itu baru saja selesai mandi. Kevin menarik pinggang Rindu kemudian mencium bibir istrinya itu. Tawa Rindu langsung terhenti ketika Kevin me**mat bibirnya dengan rakus. Dia menepuk-nepuk dada Kevin saat hampir kehabisan oksigen.
“Abang mau bunuh aku ya,” kesal Rindu.
“Hukuman buat kamu.”
“Hukuman buat apa? Aku kan ngga salah ngomong. Emang bener Ravin itu anaknya pak Ujang hahaha..”
Rindu kembali tertawa seraya melarikan diri dari Kevin. Dengan cepat Kevin berusaha menangkap tubuh sang istri, namun pria itu hanya bisa meraih ujung handuk yang dikenakannya. Seketika handuk yang menutupi tubuh Rindu terlepas. Kevin menelan ludahnya kelat melihat tubuh polos istrinya.
Dengan cepat Kevin menghampiri sang istri kemudian membopong tubuhnya. Dia membawa masuk sang istri ke kamar mandi. Diturunkannya Rindu di bawah pancuran. Pria itu langsung mengurung pergerakan Rindu dengan kedua tangan dan tubuh jangkungnya. Kemudian tanpa banyak bicara, Kevin kembali me**mat bibir Rindu. Sebelum mengantar sang anak melamar wanita pujaaannya, dia ingin lebih dulu menyegarkan tubuh dengan berolahraga sore bersama sang istri.
Sementara itu di lantai atas, Viren yang tengah bersantai di atas kasur dikejutkan dengan sebuah paper bag yang menimpa kepalanya. Matanya menatap kesal ke arah sang pelaku pelemparan yang berdiri di dekat pintu.
“Pake tuh baju. Abis maghrib kita pergi ke rumah Frey.”
“Ngapain?”
“Ngelamar Frey.”
“Ogah. Malu gue kalo ditolak lagi.”
“Jangan banyak bacot! Buruan mandi sana!”
Ravin keluar dari kamar adiknya seraya membanting pintu. Tidak ayahnya, tidak adiknya melontarkan pernyataan yang hampir sama maknanya. Malam ini dia akan membuktikan kalau dirinya berhasil mendapatkan Freya.
☘️☘️☘️
Dewi, asisten rumah tangga yang sudah ikut pada keluarga Hikmat sejak Teddy dan Rahma masih ada membukakan pintu untuk para tamu. Dia mempersilahkan Kevin bersama keluarga menunggu di ruang tamu. Wanita itu lalu bergegas untuk memanggil majikannya.
Kenzie yang telah mendengar rencana Ravin melamar Freya, turun lebih dulu untuk menemui keluarga dari sahabatnya itu. Kenan yang memang tengah bersantai di balkon kamarnya langsung ikutan keluar. Dia cukup terkejut melihat Ravin datang dengan semua keluarganya.
Bergantian Kenzie dan Kenan mencium punggung tangan Kevin serta Rindu kemudian mendudukkan diri di sofa yang kosong. Kening Kenan berkerut melihat penampilan Ravin yang begitu rapih seperti hendak melamar saja. Begitu pula dengan Viren, biasanya sahabatnya itu hanya mengenakan T-Shirt. Tapi kini, kemeja batik melekat di tubuhnya.
“Tumben bener, rapih banget lo,” seru Kenan pada Viren.
“Nih abang gue mau mmpphh..”
Viren tak dapat menyelesaikan kalimatnya karena Ravin langung membekap mulutnya. Dengan kesal pemuda itu melepaskan tangan Ravin dari mulutnya. Di saat yang bersamaan, Abi dan Nina datang. Mereka langsung mendudukkan diri di sofa yang tersisa.
“Ada apa nih datang mendadak seperti ini?” tanya Abi.
“Sebelumnya aku minta maaf karena datang tanpa pemberitahuan. Maksud kedatangan kami, mengantar Ravin untuk melamar Freya.”
Abi, Nina dan Kenan kecuali Kenzie terkejut mendengarnya. Mereka tak menyangka Ravin akan melamar Freya secepat ini dan tanpa pemberitahuan. Sepertinya pria itu sengaja ingin memberi kejutan.
“Kok mendadak banget. Freya sudah tahu belum?” tanya Nina.
“Belum tan. Aku sengaja mau kasih surprise buat dia,” Ravin tersenyum kikuk. Kevin langsung melotot mendengar jawaban anaknya.
“Oh.. gitu ya,” Nina memandang ke arah Abi.
“Freyanya mana?” tanya Kevin.
“Frey.. belum pulang,” jawab Nina.
Mengetahui orang yang hendak dilamar anaknya tidak ada di rumah. Dengan kesal Kevin melihat ke arah sang anak. Sebuah tepakan di kepala langsung dihadiahkan pada anak sulungnya itu.
“Kamu mau ngelamar tapi ngga bilang dulu sama yang dilamar. Otak kamu di mana sih,” kesal Kevin.
“Kan judulnya surprise pa.”
“Surprise.. surprise.. sekarang anaknya ngga ada terus kamu mau ngelamar siapa? Kenan?”
“Dih.. om, aku masih normal keles,” sambar Kenan.
“Gue bilang juga apa. Alamat ditolak lagi ini mah,” Viren menepuk keningnya.
“Ken.. coba kamu telepon Frey. Suruh dia cepet pulang.”
Kenzie mengambil ponselnya kemudian mulai menghubungi Freya. Tanpa berbicara banyak dia langsung meminta adiknya itu untuk pulang. Sambil menunggu pemeran utama wanita datang, Abi mengajak Kevin berbincang. Nina bergegas ke dapur untuk menyiapkan hidangan bagi para tamunya.
“Biar aku bantu, kak,” ucap Rindu yang menyusul Nina ke dapur.
“Ngga usah Rin. Kamu kan tamu, masa ikut nyiapin sih.”
“Ngga apa-apa kak. Lagian salah anak aku juga, ngelamar dadakan. Tadinya aku mau kasih tau kakak, tapi dilarang sama Ravin.”
“Dasar anak muda. Ada-ada aja kelakuannya kalau udah bucin.”
“Ya gitu deh kak. Ravin tuh beneran cinta mati sama Frey. Kayanya ngga ada perempuan lain di mata dia selain Frey.”
“Aku terharu dengernya. Tapi untung ya, Ravin ngga kaya bapaknya. Coba kalau kaya bapaknya, bisa-bisa si Ravin bisulan soalnya dipendem terus itu cintanya hihihi,” Nina terkikik.
“Kalau Ravin kaya bapaknya, ngga yakin Frey mau,” Rindu ikutan tertawa.
Ravin memandang kesal pada benda pipih di tangannya. Sudah beberapa pesan dikirimkan namun hanya dibaca saja oleh Freya tanpa ada keinginan untuk membalasnya. Teleponnya pun tak diangkat, tapi begitu Kenzie yang menghubunginya langsung dijawab.
Pria itu memilih duduk menunggu di teras. Bukan tanpa alasan dia melamar Freya dadakan seperti ini. Akhir-akhir ini mereka kerap bertengkar karena persoalan Adel dan Remy. Adel yang terus menempel padanya membuat Freya selalu emosi. Dan Remy yang pantang menyerah mendekati Freya tentu saja membuat Ravin kesal setengah mati.
__ADS_1
Demi mengakhiri perang negara api yang terus terjadi di antara mereka. Ravin memutuskan untuk melamar Freya. Tapi melihat ketiadaan gadis itu di rumah, mulai membuat perasaan Ravin was-was. Apa benar Freya mencintainya atau jangan-jangan dia sudah mulai tergoda oleh Remy.
Lamunan Ravin buyar begitu mendengar sebuah mobil berhenti di depan rumah. Pria itu berdiri dari duduknya kemudian berjalan keluar. Pria itu mengernyitkan keningnya melihat sebuah mobil yang tak dikenalnya, kemudian dari dalamnya keluar Freya disusul seorang pria. Darah Ravin langsung mendidih melihatnya.
“Dari mana kamu Frey?” sembur Ravin.
“Abis jalan-jalan.”
“Sama siapa?! Kemana?!”
“Abang kenapa sih? Nanyanya biasa aja kali, ngga usah ngegas gitu.”
Ravin tak mempedulikan protesan Freya. Matanya langsung tertuju pada pria di sebelah Freya. Dia seperti kenal pria itu tapi entah siapa.
“Siapa dia?”
“Ampun.. masa abang ngga kenal sih? Coba deh inget-inget.”
Kembali Ravin melihat laki-laki yang ada di samping Freya. Dia sampai mendekatkan tubuhnya ke arah pria itu. Dengan kesal pria itu mendorong kepala Ravin dengan tangannya karena jarak mereka terlalu dekat.
“Jangan deket-deket.. gue masih normal, monyong!”
“Bang Akmal!”
“Iye gue. Segitu bucinnya lo, sampe kaga ngenalin gue. Ah elah.. minggir..”
Pria yang bernama Akmal itu mendorong tubuh Ravin yang menghalangi jalannya. Kemudian dengan santai pria itu melenggang masuk ke dalam rumah. Akmal, anak tiri Gurit, kini sudah berusia 29 tahun. Namun pria itu belum menikah sampai saat ini. Dia sibuk membangun karirnya.
Sudah lima tahun lamanya Akmal tinggal di Singapura. Saat Charlie mengatakan mencari asisten untuk membantu pekerjaannya yang semakin menumpuk, Jojo merekomendasikan nama Akmal. Pria itu begitu rajin dan cekatan dalam bekerja. Kepulangannya kali ini untuk memberikan undangan pernikahan. Dia akan mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi wanita warga negara Singapura yang sudah dipacarinya selama setahun.
“Abang ngapain ke sini?” tanya Freya begitu Akmal meninggalkan mereka.
“Mau ngelamar kamu.”
“Yakin mau ngelamar aku? Bukannya mau ngelamar Adel ya,” sindir Freya sambil berlalu dari pria itu.
Dengan cepat Ravin menarik tangan Freya lalu mendorong pelan tubuhnya hingga menempel ke dinding. Dia lalu mengurung pergerakan Freya dengan meletakkan kedua tangannya di samping kanan dan kiri gadis itu.
“Kamu ngga mau aku lamar karena Remy? Kamu suka kan sama dia?”
“Lalu bagaimana dengan abang? Abang bilang suka sama aku tapi abang terus aja deket sama Adel. Kalau abang lebih suka sama dia, silahkan kejar dia.”
“Dengar Frey, aku udah muak dengan drama Adel dan Remy. Aku ke sini untuk melamarmu. Tapi kalau memang kamu tidak mau, aku akan pulang. Dan mulai besok aku ngga akan mengganggu hidupmu lagi.”
Dengan kesal Ravin menjauhkan tubuhnya kemudian beranjak dari tempatnya. Langkah Ravin terhenti ketika Freya menarik bagian belakang kemejanya.
“Aku ngga suka abang deket-deket sama Adel. Aku cemburu.”
Ravin membalikkan tubuhnya kemudian menatap wanita di depannya ini lekat-lekat. Mata keduanya bertemu dan saling mengunci. Perlahan tangan Ravin bergerak mengusap pipi Freya.
“Aku juga ngga suka kamu dekat-dekat dengan Remy. Aku cemburu setiap melihatnya mendekatimu.”
“Abang serius mau melamarku?”
“Iya. Ayo kita menikah, Frey.”
Senyum Freya terbit mendengar ucapan pria di depannya. Tak lama kemudian kepalanya mengangguk membuat Ravin tersenyum senang. Diraihnya tangan gadis itu, kemudian sambil bergandengan tangan keduanya masuk ke dalam rumah. Di dekat pintu mereka berpapasan dengan Akmal yang hendak pulang.
“Bang Akmal mau kemana?” tanya Freya.
“Pulang Frey. Aku ke sini cuma mau kasih undangan aja. Kamu sama Ravin jangan lupa dateng ya.”
“In Syaa Allah bang.”
Akmal tersenyum kemudian mengusak puncak kepala Freya dan menepuk pundak Ravin sebelum pergi meninggalkan kediaman Abi. Freya dan Ravin melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah. Kali ini kedua keluarga sudah berpindah duduk ke ruang tengah. Mereka segera menuju ke sana.
“Nah.. yang mau dilamar akhirnya nongol juga,” celetuk Kenan.
Freya mencium punggung Kevin dan Rindu dilanjut dengan kedua orang tuanya. Dia lalu mendudukkan diri di antara Abi dan Nina. Abi merangkul putri satu-satunya ini.
“Frey.. kedatangan om Kevin dan keluarga ke sini untuk melamar kamu. Apa kamu mau menerima lamarannya Ravin?”
“Yakin bang mau ngelamar kak Frey sekarang? Dianya aja belum mandi, mukanya kucel, badannya masih bau asem kaya gitu, apalagi keteknya hoeekk.”
Mata Freya langsung melotot mendengar celetukan Kenan. Bukan hanya telah menjatuhkan harga dirinya, adik durjananya itu dengan seenak jidatnya menyela pembicaraan.
“Diem lo! Nyamber mulu kaya bensin,” kesal Freya.
“Noh, yakin bang mau ama yang model begini? Pikir lagi deh..”
“Naaaan!!”
Kenzie langsung menjitak kepala Kenan yang telah merusak acara lamaran malam ini. Viren malah terpingkal melihatnya. Rindu tersenyum seraya mendaratkan cubitan di pinggang suaminya begitu mendengar gumaman pelannya.
“Dasar keturunan bon cabe.”
“Jadi gimana jawaban kamu, Frey?” tanya Nina.
“Nan.. kamu ngomong sekali lagi mama sumpel mulut kamu pake sedotan WC.”
Nina melanjutkan ucapannya begitu melihat anak bungsunya sudah membuka mulutnya. Kenan langsung mengatupkan mulutnya mendengar ancaman sang mama. Demi keselamatan dirinya, akhirnya pemuda itu tak berkomentar lagi.
“Frey.. apa kamu mau menerima lamaran anak tante?” kali ini Rindu yang bertanya.
“Iya tante.”
“Alhamdulillah abang gue laku juga,” celetuk Viren.
“Laku sama cewek bau asem,” sambung Kenan.
“Lo berdua kalau masih pada komen, gue kawinin!” ancam Kenzie.
“Najis!!” jawab Viren dan Kenan bersamaan.
Abi hanya menepuk keningnya saja. Acara lamaran di keluarga Hikmat memang tak pernah benar-benar khidmat. Ada saja hal yang terjadi di tengah lamaran, entah pembicaraan absurd atau tingkah konyol para anggota keluarga.
“Kapan rencana kalian menikah?” tanya Abi.
“Secepatnya om. Lebih cepat lebih baik. Minggu depan juga, aku siap aja om.”
“Bosen hidup lo, mau nyalip gue!” sembur Kenzie. Ravin hanya terkekeh melihat wajah perang sahabatnya.
“Bagaimana kalau kita jeda satu atau dua bulan setelah pernikahan Kenzie?” usul Nina.
“Tiga bulan aja. Biar persiapannya lebih matang. Kalian juga pasti lelah kalau dua bulan berturut-turut menggelar resepsi pernikahan.”
Semua menyetujui usulan Kevin. Keputusan sudah bulat, pernikahan Freya dan Ravin akan digelar tiga bulan setelah pernikahan Kenzie. Walau masih harus menunggu, namun Ravin puas dengan keputusan sang ayah. Setidaknya dia sudah berhasil mengikat Freya. Tinggal bagaimana caranya menjaga calon istrinya dari para kumbang yang mencoba mendekat.
☘️☘️☘️
**Yang tinggal di Bandung bisa dibayangin kan jarak dari pasar Kosambi ke Wastu Kencana😂
Musim kawin udah dimulai, siapin angpaw yang banyak ya💃💃💃
Kemarin ngga jadi up gara² tim Thomas kalah🤧
Untung dapet hiburan lihat Rivan Nurmulki. Kangen lihat spike² dia lagi😍
Ini visual anaknya pak Ujang🤣🤣
Ravin**
__ADS_1
Viren