KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Going Home


__ADS_3

HOEK


HOEK


HOEK


Sekar terus memuntahkan isi perutnya. Bi Parmi dengan setia memijat tengkuk majikannya itu. Setelah mencuci muka, Sekar kembali ke dalam kamar dipapah oleh bi Parmi. Pagi ini, wanita itu telah empat kali mengeluarkan isi perutnya. Setiap makanan yang masuk ke mulutnya akan langsung dimuntahkan lagi.


Bi Parmi membantu Sekar berbaring di kasur. Dia juga telah menyiapkan air madu yang diberi perasan jeruk lemon untuk meredakan mual. Wanita paruh baya itu kemudian duduk di sisi ranjang. Tanganya memulas perut Sekar dengan minyak kayu putih.


“Non.. apa ngga sebaiknya kasih tahu bu Rahma? Bibi ngga tega lihat non Sekar kaya gini.”


“Nanti aja bi. Kak Nadia lagi berduka. Aku ngga mau dia sedih mendengar kabar kehamilanku.”


Peristiwa yang kemarin dialami Nina cukup membuat Sekar shock. Bukan sikap Nadia padanya yang ditakutkan tapi dia takut kedua kakaknya akan kembali bertengkar. Sekar juga tak berani membayangkan bagaimana perasaan Juna melihat sang istri memusuhi adiknya sendiri.


“Kalau begitu kasih tahu den Cakra saja ya.”


“Aku takut bi. Aku takut bang Cakra ngga percaya.”


“Biar bibi yang bilang. Pasti den Cakra percaya kalau bibi jadi saksinya.”


Sekar terdiam sejenak kemudian menganggukkan kepalanya. Diambilnya ponsel di atas nakas lalu mulai menghubungi nomor suaminya. Namun sayang panggilannya hanya dijawab oleh mesin penjawab. Dia kembali menghubungi sang suami tapi lagi-lagi kotak suara yang menjawabnya.


“Hp bang Cakra ngga aktif bi. Hiks.. hiks.. bang Cakra lagi apa ya bi. Aku takut dia ketemu perempuan lain di sana bi, hiks.. hiks..”


Sekar mulai menangis, tiba-tiba saja dirinya merasa takut kalau Cakra meninggalkannya dan mencari wanita lain karena kecewa padanya.


“Ya Allah istighfar non, jangan bilang gitu. Den Cakra tuh sayang dan cinta sama non. Ngga mungkin dia cari perempuan lain.”


Bi Parmi memeluk Sekar yang masih menangis. Dia paham betul kalau perasaan ibu hamil sangatlah sensitif. Diusapnya pelan punggung majikannya itu untuk memberikan ketenangan.


“Assalamu’alaikum.. Se.. Sekar.”


Bi Parmi mengurai pelukannya begitu mendengar seseorang mengucapkan salam. Baru saja wanita paruh baya itu akan keluar kamar, Rahma masuk diikuti Teddy dari belakang. Melihat kedatangan Rahma, bi Parmi memilih keluar kamar. Rahma segera menghampiri putrinya yang duduk di atas kasur.


“Ya Allah Se.. muka kamu pucat banget sayang. Kamu sakit?”


“Ngga ma.. aku baik-baik aja.”


“Anak mama... kenapa kamu ngga bilang kalau sedang hamil?”


Sekar terkejut mendengar sang mama telah mengetahui tentang kehamilannya. Dia menatap ke arah Teddy yang juga dipastikan telah mengetahuinya juga. Rahma menarik Sekar ke dalam pelukannya. Tangis yang tadi sempat terhenti kembali pecah.


“Mama... hiks.. hiks..”


“Kenapa ngga bilang sayang? Kenapa kamu menyembunyikannya? Apa karena Nadia mengalami keguguran jadi kamu tak mengatakannya?”


Sekar hanya menganggukkan kepalanya. Rahma semakin mengeratkan pelukannya. Akhir-akhir ini dia terlalu fokus mengurus Nadia sehingga tak menyadari kehamilan putrinya sendiri. Dia mengurai pelukannya lalu mengusap airmata di pipi Sekar.


“Sudah periksa ke dokter?”


“Sudah ma. Mama tahu dari siapa?”


“Jojo. Jojo yang kasih tahu mama.”


“Cakra sudah tahu?” kali ini giliran Teddy yang bertanya.


“Belum pa,” Sekar menggelengkan kepalanya.


“Kenapa kamu belum kasih tahu Cakra?”


“Aku takut ma. Takut kalau bang Cakra ngga percaya. Aku udah pernah bohongin bang Cakra soal kehamilan.”


“Biar mama yang hubungi dia.”


“Hpnya ngga aktif ma.. hiks.. hiks..”


Rahma melihat ke arah Teddy. Suaminya itu kemudian merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Dia menghubungi Yamada untuk mengetahui keberadaan Cakra. Teddy keluar dari kamar agar lebih leluasa berbicara.


“Kamu mau makan apa sayang? Biar mama masakin.”


“Ngga tau ma, perutku mual kalau makan sesuatu, jadi muntah terus.”


“Mama bikinin camilan yang segar-segar ya.”


“Iya ma.”


Rahma mencium kening Sekar lalu keluar kamar untuk membuatkan camilan. Di luar kamar dia bertemu dengan Teddy yang baru saja selesai menghubungi Yamada. Asistennya itu mengatakan kalau Cakra pergi ke Osaka untuk meninjau secara langsung peluncuran produk di sana, setelah itu dia belum bertemu lagi dengannya. Karena Yamada harus pergi ke Shanghai untuk bertemu calon investor.


“Gimana pa? Ada kabar soal Cakra?”


“Kemarin Cakra ke Osaka untuk melihat launching produk di sana. Tapi sampai sekarang dia belum kembali ke kantor. Yamada sedang berada di Shanghai tapi dia akan meminta anak buahnya untuk mencari Cakra.”


“Ya Allah, anak itu kemana sampai ngga ada kabarnya gini.”


“Berdoa saja ma, mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Cakra.”


Rahma mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya menuju dapur. Langkahnya terhenti saat melihat kedatangan kedua anak dan menantunya. Teddy mengajak Juna dan Abi berbicara mengenai Cakra sedang Nadia dan Nina langsung menuju kamar Sekar.


Sekar baru saja hendak bangun dari duduknya saat kedua kakak iparnya memasuki ruangan. Nadia segera menghampiri wanita itu kemudian duduk di sisi kanannya. Hati Sekar sedikit was-was menunggu reaksi Nadia akan berita kehamilannya.


“Kamu hamil Se?” tanya Nadia.


“I.. iya kak.”


“Kenapa Se? Kenapa kamu menyembunyikannya? Apa karena aku?”


“Maafin aku kak.”

__ADS_1


“Harusnya aku yang minta maaf. Karena aku, kamu harus menyembunyikan perihal kehamilanmu. Pasti berat melewatinya seorang diri, maafin aku Se,” Nadia memeluk Sekar. Mendapat pelukan hangat dari kakak iparnya, airmata Sekar kembali mengalir.


“Maaf aku belum bisa menjadi kakak yang baik untukmu.”


“Kak Nadia ngga salah. Ini semua sudah menjadi ketentuan Allah.”


Nina hanya diam memandangi keduanya. Dia memberikan waktu pada Nadia juga Sekar untuk berbicara. Nadia mengurai pelukannya kemudian menghapus airmata Sekar. Nina berjalan mendekat lalu duduk di sisi kiri Sekar. Dirangkulnya bahu adik iparnya.


“Bang Cakra udah tahu Se?”


“Belum kak.. hiks.. aku ngga bisa menghubungi abang. Aku takut sesuatu terjadi padanya.”


“Jangan berpikiran negatif, Se. Kamu harus tetap tenang, ingat sekarang kamu sedang mengandung. In Syaa Allah bang Cakra akan baik-baik aja,” hibur Nina.


“Benar Se.. Cakra akan baik-baik aja. Kamu fokus pada kehamilanmu saja. Aku dengar kamu belum makan apapun.”


“Aku mual kak. Setiap yang aku makan pasti keluar lagi.”


“Wajar Se kalau trimester pertama emang suka gitu. Aku suka makan salad buah sebelum makan nasi. Kamu mau coba ngga? Biar aku bikinin.”


Sekar hanya mengangguk pelan. Nadia bangun dari duduknya. Nina juga ikutan berdiri. Menginjak usia kehamilan tujuh bulan, dia selalu ingin mencicipi makanan yang dibuat orang lain. Mendengar Nadia akan membuatkan salad buah, air liurnya hampir saja menetes.


“Aku ikut kak.”


“Kamu di sini aja jaga Sekar.”


“Ngga mau, aku mau lihat kakak buat salad buah.”


“Hilih yang ada salad buahnya ngga jadi-jadi, buahnya kamu makanin terus.”


“Hehehe.. bawaan utun kak.”


Nadia merangkul bahu Nina, kemudian dua wanita cantik itu keluar dari kamar. Sekar nampak bahagia melihat kedua kakak iparnya sudah berdamai lagi. Tak lama berselang, Juna masuk ke dalam kamar lalu duduk di samping adiknya itu.


“Adik kecil kakak ternyata hamil beneran sekarang, selamat ya Se,” Juna mengusak puncak kepala sang adik.


“Makasih ya Se, kamu menahan diri mengabarkan soal kehamilanmu demi menjaga perasaan Nadia. Maaf kalau kamu harus melewati semua ini sendirian.”


“Iya, ngga apa-apa kak. Kak Juna sama kak Abi udah baikan? Kalian jangan bertengkar lagi, aku sedih lihat kalian bertengkar. Aku sayang kak Juna sama kak Abi, kalau kalian bertengkar aku harus bagaimana.”


“Maafin kakak ya. Kemarin kakak hanya terbawa emosi, tapi sekarang kita udah baik-baik aja kok.”


Juna menarik Sekar ke dalam pelukannya. Ada sedikit penyesalan dalam hatinya telah membuat sang adik takut dan terluka akibat pertengkarannya kemarin dengan Abi. Di saat bersamaan Abi masuk ke dalam kamar lalu mendudukkan diri di sisi Sekar.


“Gimana keadaanmu sekarang?” tanya Abi.


“Baik kak, cuma aku masih sering mual dan muntah aja.”


“Kamu mau sesuatu? Nanti biar kakak atau kak Juna yang cari.”


“Aku ngga mau apa-apa kak.”


“Yakin? Biasanya ibu hamil banyak maunya tuh.”


Abi meraih kepala Sekar kemudian membenamkan ke dadanya. Beberapa kali pria itu mengecup puncak kepala adiknya. Juna juga mengusap punggung Sekar, untuk menenangkannya.


“Kamu tenang aja. Kalau sampai hari ini ngga ada kabar tentang Cakra. Besok kakak sendiri yang akan berangkat ke Jepang untuk menyusulnya.”


“Bener kak?” Sekar mendongakkan wajahnya ke arah Abi.


“Iya bener. Sekarang kamu makan dulu ya, mama sama Nadia udah buatin makanan buat kamu.”


Sekar melepaskan diri dari Abi seraya menghapus airmatanya. Dulu saat kecil, ketika dirinya bersedih selalu terhibur setiap kedua kakaknya datang menenangkan. Tapi kini serasa ada yang kurang. Wanita itu tetap merindukan sang suami untuk berada di sisinya sekarang.


“Badan kamu masih lemas, Se. Mau kakak gendong?” usul Juna.


“Iya mending kamu digendong aja. Mau sama kakak apa kak Juna?” Sekar terdiam memandangi kedua kakaknya bergantian.


“Udah biar kakak aja yang gendong. Kak Juna harus menjaga stamina biar tetap bugar dan kuat. Supaya kecebongnya sehat dan cepat jadi embrio.”


Juna menoyor kepala adiknya dengan kesal. Sekar terkikik geli melihatnya. Abi berjongkok di depan Sekar. Perlahan wanita itu naik ke punggung sang kakak. Tangannya melingkar di leher Abi. Tak lama kemudian, lelaki itu berjalan keluar dari kamar dengan Sekar berada di belakang punggungnya.


☘️☘️☘️


Usai makan siang, Sekar memilih beristirahat di kamarnya. Kedua kakak dan kakak iparnya telah kembali ke rumahnya masing-masing. Teddy memilih menuju markas untuk membentuk tim yang akan mencari keberadaan Cakra. Sedang Rahma berbelanja bahan-bahan makanan yang dibutuhkan Sekar.


Baru saja beberapa menit Sekar menutup matanya. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang kenyal dan dingin menyentuh keningnya. Mata Sekar terbuka, nampak wajah lelaki yang begitu dirindukan ada di hadapannya.


“Abang.. ini benar abang? Aku ngga mimpi?”


Sekar meraba wajah Cakra dengan tangannya. Cakra kembali mendekat kemudian membenamkan bibirnya di bibir milik sang istri. Dengan gerakan pelan dan penuh kelembutan dipagutnya bibir yang begitu dirindukannya sebulan belakangan ini. Sekar membalas ciuman sang suami. Pertautan bibir mereka berlangsung beberapa saat. Hingga Cakra mengakhirinya dengan sesapan di bibir bawah Sekar.


“Abang kangen sayang.”


“Hiks.. hiks.. abang kemana aja? Aku telponin dari semalem mailbox terus. Aku takut terjadi sesuatu sama abang. Aku juga takut abang diambil sadako di sana.”


Cakra terkekeh mendengar ucapan terakhir istrinya yang absurd. Pria itu mengangkat tubuhnya kemudian mendudukkan diri di sisi ranjang. Sekar juga bangun dari tidurnya kemudian memeluk pinggang sang suami. Wajahnya dibenamkan di dada Cakra. Indra penciumannya menghidu aroma tubuh Cakra sebanyak-banyaknya.


“Abang masih marah sama aku?”


“Ngga,” Cakra memegang dagu Sekar lalu mengecup bibirnya.


“Aku kangen abang.”


“Abang juga,” Cakra kembali mengecup bibir Sekar.


“Ada yang mau aku kasih tahu ke abang.”


“Abang udah tahu. Kemarin malam Jojo telepon abang. Di sini ada buah cinta kita kan?”

__ADS_1


Cakra mengusap perut Sekar. Kemudian pria itu turun ke lantai dan berdiri dengan kedua lututnya. Tangannya memeluk pinggang sang istri kemudian mendekatkan wajahnya ke perut Sekar yang masih terlihat rata. Ciuman bertubi-tubi diberikan calon papa itu. Sekar mengusap kepala Cakra. perasaan bahagia begitu dirasakannya. Akhirnya suami tercintanya pulang ke sisinya.


“Berapa usianya sekarang?”


“Kata dokter jalan satu bulan.”


“Alhamdulillah. Makasih Se.. aku sangat bahagia.”


“Aku juga bang.”


“Kamu mau sesuatu sayang?”


“Aku cuma mau dekat abang aja.”


“Abang ngga akan kemana-mana. Abang akan selalu ada di dekatmu. Abang mandi dulu ya.”


“Iya bang.”


Cakra bangun kemudian berjalan menuju kamar mandi. Sekar berdiri untuk mengambilkan pakaian ganti untuk sang suami, setelah itu menuju dapur, hendak menyiapkan makan siang. Tak lama Cakra bergabung di meja makan. Dengan cekatan Sekar mengambilkan makan untuk sang suami.


“Kamu makan juga ya sayang.”


“Ngga ah bang. Tadi aja aku makan keluar lagi.”


“In Syaa Allah sekarang ngga. Abang yang suapin, mau ya?”


Sekar sedikit ragu. Tadi saja dia hanya makan dua suap dan langsung dikeluarkan lagi. Hanya salad buah buatan Nadia yang bisa diterima perutnya. Cakra menarik tangan Sekar lalu mendudukkan di pangkuannya. Dia menyendok nasi dan lauknya kemudian menyuapkan pada Sekar.


Sekar membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Cakra. Perlahan dikunyahnya makanan yang masuk ke dalam mulutnya kemudian ditelannya. Ajaib makanan itu tidak membuat perutnya mual.


“Gimana? Mual ngga?”


“Ngga bang.”


“Bagus dong. Kayanya baby kita pengen makan samblil disuapin papanya.”


“Iya kayanya bang.”


“Ayo makan yang banyak sayang.”


Cakra kembali menyuapi Sekar. Dia terus menyuapi istri juga dirinya bergantian. Bahkan Sekar sempat meminta tambah karena masih lapar. Cakra memberikan minum setelah makan mereka usai. Diusapnya sudut bibir Sekar yang basah oleh minuman dengan ibu jarinya.


Cakra menyelipkan tangan ke bawah paha Sekar kemudian membopongnya. Dibawanya tubuh sang istri ke kamar lalu mendudukkan di kasur. Cakra menyusul duduk di samping sang istri. Punggung keduanya menempel di headboard ranjang.


“Abang kenapa ngga pulang-pulang. Udah kaya bang Toyib aja.”


“Maaf sayang. Abang sengaja ngga pulang buat kasih kejutan sama kamu.”


“Kejutan apa?”


“Papa, abang, kak Juna juga Abi sebulan kemarin terus cari solusi soal perusahaan di Jepang. Kak Juna dan Abi sibuk nyari perusahaan di Bandung yang bisa dimerger dengan perusahaan di Jepang. Kita cari perusahaan yang punya kesamaan usaha. Akhirnya dapet, kita akuisisi perusahaan itu dan dimerger dengan yang di Jepang. Kantor pusat dipindahkan ke Bandung. Di sini kantor hanya mengurus manajemen dan administratif, sedang di Jepang mengurus operasional. Pak Yamada pegang kendali di Jepang, abang yang urus perusahaan di sini. Makanya abang ngga pulang karena ngejar semua proses cepat selesai. Maaf ya sayang.”


“Jadi kita ngga akan pindah ke Jepang nanti?”


“Ngga sayang.”


“Makasih ya bang, makasih.”


"Iya sayang."


"Terus kemarin malam kenapa hp nya ngga aktif?"


"Abang dapet kabar dari Jojo kalau kamu hamil. Jadi pulang dari Osaka abang langsung berkemas. Tapi penerbangan delay selama dua jam, dan abang nunggu di bandara sampai akhirnya bisa pulang."


"Abang di sana ngga lirik-lirik perempuan kan?"


"Hahaha... kamu tuh. Ngga ada perempuan secantik kamu di sana. Jadi ngapain abang lirik."


"Gombal."


"Bukan gombal tapi kenyataan. Cuma kamu perempuan yg abang sayang dan cinta, dari dulu, sekarang dan selamanya."


Sekar begitu bahagia mendengar hal tersebut. Dia memeluk leher Cakra kemudian mencium bibir suaminya itu. Cakra menahan tengkuk Sekar lalu memperdalam ciumannya. Semakin lama ciuman mereka semakin menuntut. Tangan Cakra sudah tak enak diam dan mulai melepaskan apa yang dikenakan sang istri satu per satu.


Begitu pula dengan Sekar. Sambil terus menautkan bibir mereka, wanita itu melucuti pakaian Cakra. Kerinduan yang begitu mendalam, membuat keduanya tak dapat menahan hasrat yang membuncah. Cakra terus menciumi tubuh sang istri dari atas sampai bawah.


Kini pria itu sudah berada di atas sang istri. Bibirnya terus menciumi leher, bahu juga dada Sekar. Tangannya sibuk meremat bulatan kenyal yang begitu dirindukannya. Sekar memejamkan matanya, menikmati sentuhan suaminya yang sudah sebulan tak dirasakan.


“Se.. boleh kan? Baby kita ngga apa-apa kan?”


“Pelan-pelan aja bang.”


“Iya sayang.”


Mendapat lampu hijau dari sang istri Cakra memulai kembali cumbuannya. Dibalut kerinduan yang mendalam kedua insan tersebu langsung tenggelam dalam aktivitas ranjang yang memabukkan di siang hari yang panas.


☘️☘️☘️


** Adegan selanjutnya bayangkan saja sendiri atau langsung praktek dengan pasangan halalnya.


Mohon maaf kalau besok atau mungkin ke depannya aku ngga up KPA. Ada beberapa hal yang membuat aku pengen cooling down dulu di antaranya:



Moodku ambyaaarrr


Kebebasan berekspresiku seperti terkekang


Masih bingung dengan aturan absurd

__ADS_1



Terima kasih buat NT yang udah membuatku mengalami ketiga hal di atas. Next aku harap sebagai apk novel online yg punya banyak readers, perbaiki kebijakan kalian. Buat atura. yang jelas dan berikan penilaian yang adil buat semua othor yang ada di sini. Jangan ada ketimpangan dan menimbulkan kecemburuan sosial di antara kami. Salam penuh kekecewaan dari penulis receh ini**.


__ADS_2