KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Pengkhianatan


__ADS_3

Flashback On


8 tahun lalu


Sambil berlari kecil, Alisha turun dari lantai dua. gadis berusia 12 tahun itu sudah siap dengan seragam sekolahnya. Anak bungsu dari Juna dan Nadia itu kini sedang menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama. Alisha segera menuju ruang makan, di sana semua anggota keluarganya sudah berkumpul.


Alisha adalah gadis yang periang dan mudah bergaul. Ditambah dengan wajahnya yang cantik, semakin banyak orang yang menyukainya, termasuk teman-teman di sekolahnya. Alisha mempunyai seorang sahabat dekat bernama Mela. Mereka dekat sejak hari pertama masuk sekolah menengah pertama.


Dari arah dapur muncul Lisda membawakan sarapan untuk Alisha. Dia adalah pengasuh Alisha sejak gadis itu berusia lima tahun. Sebenarnya Nadia tidak memerlukan jasa seorang pengasuh, karena dia sendiri masih bisa mengurus ketiga anaknya. Namun mengingat Lisda adalah kerabat bi Murni, akhirnya wanita itu memberikan pekerjaan padanya.


Hubungan Alisha dengan Lisda sendiri sangat dekat. Dia seperti ibu kedua di rumah untuknya. Jika Nadia atau Juna memarahinya, maka gadis itu menjadikan Lisda tempat mengadu dan bersandar. Sifat Alisha yang lugu, membuatnya mudah mempercayai Lisda. Walau Abi pernah mengingatkan padanya untuk tidak terlalu percaya pada wanita itu.


Semua hal yang terjadi pada Alisha selalu diceritakan pada Lisda. Karenanya wanita itu paham, siapa saja anggota keamanan keluarga Hikmat, perangkat apa saja yang diberikan pada semua anggota keluarga yang bisa digunakan di saat darurat. Alisha juga mengatakan kalau di ponsel dan kalungnya dipasang GPS yang bisa melacak keberadaannya di mana pun.


“Non Al.. ini bekalnya jangan lupa dibawa ya. Ibu udah buatin sandwich kesukaan non sama jus jeruk.”


“Iya bu, makasih. Ayah, bunda, Al berangkat dulu ya.”


Alisha mencium punggung tangan Juna dan Nadia bergantian. Setelah mengucapkan salam gadis itu keluar dari rumah. Di depan, pak Agus, supir sekaligus pengawal pribadinya sudah menunggu. Dengan cepat Alisha masuk ke dalam mobil. Hari ini dia harus sampai di sekolah lebih awal. Mela menghubunginya tadi dan mengatakan ada hal penting yang ingin dibicarakan sahabatnya itu.


Kedatangan Alisha disambut gembira oleh Mela. Dia menarik tangan Alisha masuk ke dalam kelas kemudian mendudukkan sahabatnya itu di kursi belajar. Mela juga ikut duduk di kursinya.


“Ada apa sih Mel? Kayanya penting banget?”


“Aku mau minta tolong sama kamu, Al.”


“Minta tolong apa?”


“Aku mau ketemu nenek aku. Tapi papa ngga ngijinin aku, kamu mau kan temenin aku ke rumah nenekku?”


“Emang nenek kamu rumahnya di mana?”


“Di Cihideung, deket Lembang. Nanti jam sembilan, tetangga nenekku mau jemput ke sekolah. Tapi aku takut pergi sendiri, makanya kamu temenin aku ya, Al.”


“Hmm.. berarti kita bolos dong. Kan jam 9 belum selesai sekolah.”


“Please Al.. aku kangen banget sama nenekku. Tolong ya.”


Mela menangkupkan kedua tangannya. wajahnya nampak begitu memelas. Karena tak tega, Alisha menganggukkan kepalanya. Dengan senang Mela memeluk sahabatnya itu.


Tepat jam sembilan, Mela mengajak Alisha ke pintu belakang sekolah. Gadis itu mengatakan kalau tetangga neneknya menunggu di belakang sekolah. Dia juga bilang jika sudah mendapatkan ijin dari wali kelas. Dibantu penjaga sekolah yang sudah disogok oleh Mela, mereka keluar melalui pintu belakang kemudian masuk ke dalam mobil.


Begitu berada di dalam mobil, Alisha membuka kotak bekalnya. Perutnya sudah lapar lagi karena tadi pagi hanya sarapan sedikit. Dia menawarkan pada Mela, tapi sahabatnya itu menolak. Akhirnya Alisha menghabiskan bekalnya sendirian.


Setengah jam berlalu, namun mereka masih belum sampai ke tempat tujuan. Tiba-tiba saja Alisha merasakan matanya memberat. Beberapa kali gadis itu menguap. Sebisa mungkin Alisha menahan kantuknya, namun godaan untuk tidur begitu kuat hingga gadis itu tak bisa menahan lagi dan jatuh tertidur.


☘️☘️☘️


Setelah tertidur hampir delapan jam lamanya, Alisha pun terbangun. Matanya membuka dan menutup beberapa kali, kemudian memandang sekeliling. Dia terkejut saat menyadari dirinya sudah tidak berada di dalam mobil lagi. Serta merta Alisha bangun, ternyata dirinya tengah berada di sebuah ruangan kecil.


Lantai ruangan masih berupa tanah padat, temboknya pun belum dipulas, masih berupa tatanan batu bata saja. Kemudian dia melihat ke arah jendela yang ada di bagian atas. jendela hanya ditutupi teralis besi tanpa kaca. Begitu pula pintunya terbuat dari besi. Ruangan ini sudah seperti penjara saja.


“Mela..”


Suara Alisha terdengar bergema. Sepertinya tak ada siapapun di sini. Kembali gadis itu mencoba memanggil sahabatnya, namun tak ada hasil. Kemudian telinganya menangkap suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Alisha yang awalnya merasa takut, mulai lega saat melihat sahabatnya datang bersama seorang pria yang dia tahu itu adalah ayah Mela.


“Mel.. kita udah sampe ya?”


“Iya, kamu sudah sampai di tempat yang semestinya.”


Bukan Mela yang menjawab melainkan ayahnya. Erlangga Putra Syamsudin, pria berusia empat puluh lima tahun itu adalah pesaing bisnis Juna. Kesal karena perusahaannya terus saja kalah tender dari Juna, dia mengambil langkah ekstrim. Pria itu merencanakan penculikan Alisha, dibantu oleh Lisda juga anaknya.


Ternyata persahabatan yang Mela tawarkan palsu belaka. Gadis itu kesal melihat Alisha selalu bisa mendapatkan perhatian lebih dari teman-teman sekelasnya. Bahkan senior yang disukainya juga menyukai gadis itu. Mela berpura-pura menjadi sahabat Alisha untuk mencari kelemahan gadis itu. Dan ketika ayahnya mengatakan ingin menculik Alisha, Mela dengan senang hati membantunya.


Begitu pula dengan Lisda. Wanita yang sudah lama hidup menjanda setelah ditinggal suaminya meminta pada Murni untuk mencarikannya pekerjaan. Murni adalah saudara sepupu dari mendiang suaminya. Karena kasihan melihat kehidupan Lisda yang morat-marit, Murni meminta pekerjaan pada Nadia. Tanpa merasa curiga, Nadia menerima Lisda bekerja.


Awalnya Lisda bekerja dengan baik. Karena belum dikaruniai anak, dia begitu menyayangi Alisha. Dua tahun bekerja pada anak sulung keluarga Hikmat, Lisda mulai berharap lebih. Melihat kemesraan dan kasih sayang Juna pada Nadia, membuatnya ingin merasakan berada di posisi Nadia. Diam-diam dia selalu mengambil gambar Juna lewat ponselnya.


Setelah bi Murni dan suaminya memilih pensiun, Lisda semakin berani. Di saat tak ada Nadia, dia berani masuk ke kamar majikannya dan mencoba pakaian Nadia. Bahkan dia pernah beberapa kali berusaha menjebak Juna. Namun usahanya tak pernah berhasil karena selalu bisa digagalkan oleh Titi, asisten rumah tangga kepercayaan Nadia.


Titi mengadukan semua kelakuan Lisda pada Juna dan Nadia. Tak ingin mengambil resiko, mereka bermaksud memecat Lisda. Mengetahui hal itu, Lisda yang sudah dihubungi Erlangga jauh hari, setuju untuk membantu pria itu. Di hari terakhirnya bekerja, mereka menculik Alisha.


“I.. ini di mana om?”


“Di tempat barumu sayang.”


“A.. apa maksud om. Mel.. ini bercanda kan?”


“Ini kenyataan sayang. Om butuh kamu supaya papamu mau memberikan apa yang kamu mau.”


Mendengar hal itu, Alisha sadar kalau dirinya sedang dalam bahaya. Dia segera mengambil tas ranselnya dan bermaksud mengambil ponselnya. Namun gerakannya terhenti ketika melihat Mela menggoyang-goyangkan benda pipih miliknya. Tahu ponselnya sudah diambil, Alisha bermaksud mengirim tanda bahaya melalui GPS yang tertanam di kalungnya. Namun ternyata, kalungnya sudah tidak ada.


“Kenapa sayang? Kamu mau minta tolong pada ayah dan pamanmu? Sayang sekali.. kami sudah mengambil semuanya.”


“Ba.. bagaimana kamu tahu?”


Erlangga tak menjawab. Dia hanya menepukkan tangannya dua kali. Tak lama kemudian seseorang yang begitu dikenal Alisha muncul. Gadis itu tak percaya, Lisda, orang yang begitu dipercayainya adalah orang yang menusuknya dari belakang.


“Bu Lisda.. ke.. kenapa ibu ada di sini?”


“Karena dia adalah orang yang membantuku,” jawab Erlangga.


“Ngga.. itu bohong kan bu? Ibu diancem kan sama dia?”

__ADS_1


Lisda mendekati Alisha. Dengan tenang dia menundukkan tubuhnya sedikit agar bisa sejajar dengan mantan anak asuhnya. Kemudian tangannya mencengkeram rahang Alisha dengan kuat.


“Aku melakukannya dengan suka rela. Kalau saja ayahmu mau membalas cintaku dan menjadikanku istri kedua, aku pasti akan sangat menyayangimu. Tapi dia malah memecatku, jadi ini balasan untuknya.”


“Aku pikir ibu sayang padaku.”


“Sayang? Hahaha... aku menyayangimu karena ayahmu. Aku berharap bisa mendapatkan hatinya melalui dirimu. Kalau bukan karena ayahmu dan uang yang diberikannya tiap bulan sebagai ganti tenagaku, aku tidak sudi mengurusmu. Anak manja dan cengeng,” Lisda melepaskan dengan kasar cengkeramannya di rahang Alisha.


“Lo pikir elo tuh princess, Al? Jangan karena elo merasa cantik, jadi menganggap semua orang suka sama elo. Asal lo tahu, gue benci sama elo. Gue muak sama elo. Demi bisa melihat lo menderita, gue tahan semua kebencian buat berteman sama elo.”


“Mel... kita kan sahabat.”


“Sahabat? Ngga ada kata sahabat di kamus gue buat elo. Kalau bukan karena lo cucu Teddy Hikmat dan gelar konglomerat di belakang nama keluarga lo, ngga ada yang mau temenan sama elo.”


Mela mendorong kepala Alisha dengan tangannya sampai gadis itu terjatuh di lantai. Tangis Alisha mulai pecah, selain takut, gadis itu juga sedih telah dikhianati orang-orang yang disayangi dan dipercayai olehnya.


“Ayo tinggalkan dia di sini. Kita harus memberi kejutan pada ayahnya,” ajak Erlangga.


Erlangga, Mela disusul Lisda segera meninggalkan Alisha. Erlangga menutup pintu besi kemudian menggemboknya dari luar. Alisha segera berlari menuju pintu, dia berteriak sambil berpegangan ke pintu.


“Jangan tinggalin aku di sini!! Tolong!! Tolong!!”


“Matikan lampunya!” seru Lisda.


Seorang pengawal yang ditugaskan menjaga Alisha segera menekan saklar. Seketika ruangan menjadi gelap. Hanya ada sedikit cahaya yang berasal dari jendela kamar, namun sinarnya pun mulai meredup karena hari mulai beranjak malam.


☘️☘️☘️


Kepanikan terjadi di kediaman Juna. Ketika wali kelas mengabarkan kalau Alisha kabur di saat jam pelajaran, Juna segera mengerahkan semua anggota tim keamanan untuk mencari gadis itu. Namun setelah beberapa jam melakukan pencarian, mereka tak juga mendapatkan hasil. Curiga dengan keterlibatan Erlangga, Juna segera mendatangi kediaman pesaing bisnisnya itu. Namun terlambat, Erlangga beserta keluarganya sudah meninggalkan rumah.


Tak ada satu pun yang curiga dengan keterlibatan Lisda. Mereka fokus mencari jejak Erlangga. Oleh karenanya wanita itu dapat meninggalkan kediaman Juna dengan santai setelah Nadia memecatnya tadi pagi.


Nina, Sekar juga Rayi terus menemani dan menenangkan Nadia yang tak berhenti menangis. Bahkan wanita itu sempat beberapa kali pingsan saking mencemaskan keadaan putri bungsunya. Ezra dibantu dengan Kenzie, Aric, Fathan, Barra dan Ravin juga ikut mencari adiknya itu. Azra bahkan menghubungi semua teman-teman Alisha yang dikenalnya, namun nihil.


Dendi yang ditugaskan mencari Alisha langsung datang melapor ke kediaman Juna. Di sana, Abi, Cakra, Kevin dan Jojo sudah menunggunya. Pria itu langsung menghadap para atasannya di ruang kerja Juna.


“Apa yang kamu dapatkan?” tanya Juna.


“Belum ada pak. Erlangga sepertinya sudah merencanakan ini dengan baik. Bahkan perangkat yang kami pasangkan di ponsel dan kalung Alisha juga tidak bisa dideteksi. Sepertinya dia sudah menyingkirkan kedua barang tersebut.”


“Bagaimana bisa dia tahu soal perangkat itu?” tanya Cakra.


“Sepertinya ada orang dalam yang bekerja sama dengannya,” timpal Abi.


“Siapa?” tanya Jojo.


“Lisda. Aku curiga sama perempuan itu. Alisha itu lugu, dia pasti menceritakan semua pada Lisda termasuk soal perangkat keamanannya. Di mana perempuan itu?”


“Nadia sudah memecatnya tadi pagi.”


“Baik pak.”


Dendi menundukkan kepalanya sejenak kemudian segera meninggalkan ruangan. sambil menghubungi anak buahnya, pria itu bergegas menuju markas. Kini daftar pencarian orang bertambah dengan masuknya Lisda sebagai tersangka kaki tangan Erlangga.


“Sekarang bagaimana kita menemukan Alisha?” Juna meremat rambutnya frustrasi. Dirinya tak bisa berpikir jernih karena mencemaskan keadaan anak bungsunya.


“Sebenarnya masih ada satu lagi perangkat yang aku pasang untuk Al.”


“Di mana Bi?” tanya Juna penuh harap.


“Di gantungan kunci tas sekolahnya. Aku curiga dengan Lisda makanya aku menambah perangkat itu untuk Al. Aku harap Al tidak menceritakan soal itu juga pada Lisda karena aku sudah mewanti-wantinya. Perangkat itu tersambung langsung ke hp ku. Tapi sampai sekarang masih belum ada tanda-tanda dari Al.”


Juna menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Berbagai pikiran buruk berkecamuk di kepalanya. Dirinya hanya bisa berdoa semoga sang anak dalam keadaan baik-baik saja. Abi mengambil ponselnya. Matanya terus memandangi layar ponselnya, berharap akan ada tanda keberadaan keponakannya.


Ayo Al, jangan kecewakan papa. Kamu anak pintar dan kuat. Beritahu papa di mana keberadaanmu, nak.


☘️☘️☘️


Malam semakin larut, suara binatang malam terdengar saling bersahutan. Alisha duduk meringkuk di sudut ruangan sambil memeluk kedua lututnya. Hembusan angin malam yang masuk melalui jendela yang hanya tertutup teralis besi menjadikan suasana ruangan semakin terasa dingin. Ditambah lagi dengan suasana gelap semakin membuat Alisha bertambah takut.


“Ayah.. papa.. papi.. pipi.. Al takut. Kak Ezra, bang Ken.. bang Aric tolong Al.. hiks.. hiks..”


Alisha mengusap airmata yang membasahi pipinya. Sedari tadi gadis tak berhenti menangis. Rasa sedih, takut bercampur menjadi satu. Alisha membenamkan wajahnya ke lutut ketika mendengar suara kepakan kelelawar di dekat jendela.


Al.. ini hadiah buat kamu. Gantungkan ini di tas sekolahmu. Gantungan kelinci ini berisi perangkat GPS yang langsung terhubung ke hp papa. Kalau kamu dalam bahaya, tekan kuat-kuat perut kelinci ini. Dia akan mengirimkan sinyal keberadaanmu ke papa. Ingat Al, tekan ini kalau kamu dalam bahaya, papa akan datang menyelamatkanmu. Tapi.. jangan katakan soal ini pada siapa pun, termasuk mama, papa dan ibu Lisda, karena ini rahasia kita berdua.


Alisha mengangkat kepalanya begitu dia teringat akan pesan Abi. Dia bergerak mencari keberadaan tasnya. Untung saja Erlangga hanya mengambil ponsel dan kalungnya saja. Sedang tasnya masih dibiarkan utuh. Sambil merangkak, Alisha meraba-meraba mencari tasnya. Kemudian tangannya mendapati keberadaan tasnya. Dengan cepat dia mengambilnya.


Alisha bergerak menuju ke arah jendela, dia perlu mendapat sinar yang berasal dari cahaya bulan. Setelah berada di tempat yang cukup mendapat cahaya, gadis itu mencari keberadaan gantungan kelinci miliknya. Gantungan itu dia taruh di resleting tas bagian depan karena bentuknya memang tidak terlalu besar. Kemudian gadis itu menekan perut kelinci beberapa kali.


Papa.. tolong Al.. cepat datang papa.. Al takut.


☘️☘️☘️


Alisha beringsut mundur ketika pintu ruangan terbuka. Erlangga masuk bersama dengan Lisda dan dua orang anak buahnya. Ruangan yang tadinya gelap berubah menjadi terang begitu salah seorang anak buahnya menekan saklar lampu. Erlangga berjalan mendekat kemudian berjongkok di depan gadis itu.


“Bagaimana keadaanmu anak manis?” Erlangga menepuk pelan kepala Alisha namun segera ditepis kasar olehnya.


“Sepertinya ayahmu masih belum menyerah untuk mencari keberadaanmu. Dia masih tidak mau mengabulkan permintaanku. Sepertinya dia lebih memilih harta dan perusahaannya dibanding dirimu.”


“Ayahku bukan orang bodoh! Om pasti tidak akan mengembalikanku walau ayah sudah memenuhi permintaan om!”


“Wow.. kamu memang anak yang cerdas. Om memang tidak akan mengembalikanmu. Om akan mengirimkanmu ke tempat yang jauh supaya ayahmu menderita.”

__ADS_1


“Papa akan menemukanku. Papa pasti akan menghukum om!”


“Papa? Maksudmu om Abimu? Dia juga tidak akan bisa menemukanmu sayang.”


“Oh ya?”


Erlangga terjengit mendengar suara di belakangnya. Pria itu berdiri kemudian membalikkan tubuhnya. Dia terkejut saat melihat Abi dan Juna sudah ada di belakangnya. Semua anak buahnya sudah berhasil dibekuk oleh anak buah Abi, begitu pula dengan Lisda. Wanita itu sudah dibawa pergi. Kini hanya tinggal Erlangga sendiri.


Sadar akan bahaya yang mengancamnya. Erlangga bergerak hendak menjadikan Alisha tawanannya. Terlambat, pria itu mengerang kesakitan ketika Abi melemparkan sebuah pisau kecil dan menancap di pahanya. Melihat kode yang diberikan Abi, Alisha berlari ke arahnya. Dengan cepat Abi menangkap tubuh keponakannya itu.


“Bi.. bawa Alisha keluar.”


“Kak.. biar Agung yang mengurusnya.”


“Bawa Al keluar!”


Abi terpaksa menuruti perintah Juna. Sambil menggendong Alisha, dia keluar dari ruang bawah tanah itu. Namun dia memerintahkan Agung untuk berjaga di bawah. Pria itu takut Juna kehilangan kendali. Melihat emosi sang kakak, bisa jadi Juna gelap mata dan membunuhnya.


Flashback Off


Alisha berbangun dari tidurnya dengan nafas tersengal. Keringat dingin membasahi kening dan tubuhnya. Peristiwa penculikan beberapa tahun silam masih sering menghantui tidurnya. Sejak saat itu juga gadis itu selalu tidur dengan lampu menyala. Walau Juna sudah membawanya menemui psikolog beberapa kali, namun trauma akibat penculikan masih belum sepenuhnya hilang.


Alisha baru saja akan beranjak dari ranjangnya ketika tiba-tiba lampu di kamar dan ruangan lain padam. Gadis itu terdiam di tempatnya, rasa takut seketika menyergapnya. Dia terkejut saat mendengar suara-suara di dekat jendela kamarnya.


“AYAH!!! AYAH!!! AYAH!!!”


Mendengar teriakan Alisha, Ezra terjaga dari tidurnya. Bergegas dia bangun dan berlari. Karena suasana gelap, kaki Ezra sempat terantuk kaki ranjang miliknya dan terjatuh. Secepat kilat dia kembali bangun kemudian berlari menuju kamar adiknya. Teriakan Alisha masih belum juga berhenti.


“AYAH!!!”


“Al.. kenapa Al? Ini kakak.”


“Kakak..”


“Iya ini kakak.”


Ezra memeluk Alisha. Tubuh adiknya itu bergetar hebat. Azra yang juga mendengar teriakan Alisha segera datang melihat.


“Al takut kak..”


“Jangan takut.. ada kakak,” Ezra mengusap punggung Alisha, berusaha menenangkan adiknya itu.


“Ayah mana.. Al mau ke ayah.”


“Ini ayah sayang.”


Juna yang mendengar keributan dari arah lantai dua bergegas naik. Dia meletakkan ponsel yang dijadikan penerang jalan untuknya kemudian menghampiri anak bungsunya. Alisha melepaskan diri dari pelukan Ezra kemudian menghambur ke arah Juna. Agus, pengawal yang bertugas menjaga keamanan rumah mendatangi kamar Alisha saat Titi melaporkan kegaduhan yang terjadi.


“Apa semua baik-baik saja pak?” tanya Agus.


“Iya. Kenapa listriknya mati?”


“Sepertinya ada pemadaman bergilir pak. Aliran listrik di kompleks dan daerah sekitar juga padam.”


“Nyalakan genset.”


“Baik pak.”


Agus segera keluar dari ruangan. Pria itu kemudian menuju halaman belakang. Dibukanya pintu sebuah ruangan kecil yang ada di samping kolam renang. Tak berapa lama kemudian listrik kembali menyala di kediaman Juna.


“Sekarang sudah tidak apa-apa. Lampunya sudah menyala,” ucap Juna.


Alisha mendongakkan kepalanya. Suasana kamarnya sudah kembali terang. Dia bisa melihat wajah Nadia, Ezra dan Azra yang melihat cemas ke arahnya. Gadis itu masih belum melepaskan pelukannya di tubuh sang ayah.


“Kamu ngga apa-apa sayang?” tanya Nadia cemas.


Gadis cantik itu hanya mengangguk lalu kembali membenamkan wajahnya ke dada ayahnya. Juna memberi tanda pada yang lain untuk kembali ke kamar masing-masing. Ezra dan Azra kembali ke kamarnya, sedang Nadia menuju dapur. Dia hendak membuatkan minuman untuk menenangkan putrinya.


“Apa kamu masih bermimpi buruk sayang?” Alisha mengangguk.


“Katakan ayah harus bagaimana untuk membuat keadaanmu bertambah baik?”


“Aku ngga mau tidur sendiri, ayah.”


“Kamu mau ditemani kak Azra?” Alisha menggelengkan kepalanya.


“Ditemani bunda?” kembali gadis itu menggeleng.


“Ditemani ayah?”


Alisha mengangkat kepalanya. Dia menatap ke arah Juna. Wajah tenang Juna selalu dapat menenangkan dirinya. Namun kini dia bukan hanya membutuhkan sosok ayah yang bisa menjaganya, namun laki-laki kuat yang mampu menjaga dan melindunginya setiap saat.


“Ayah..”


“Iya sayang.”


“Aku mau nikah.”


☘️☘️☘️


**Weleh beneran Al mau nikah. Hmm.. kira² siapa ya yang bakal jadi suaminya🤔


Yang kemarin nungguin, mohon maaf, mamake kembali istiqomah ngga up🤭 Selain kumpul bareng keluarga, kemarin juga banyak kesibukan di RL ditambah anak mamake lagi sakit, jadi ngga ada bonus buat kalian kemarin.

__ADS_1


Happy weekend gaaaeesss😎**


__ADS_2