
Sebuah pick up berhenti di depan kediaman Sandi. Dari dalamnya turun Dion bersama anak buahnya. Sandi dan Risma yang tengah bersantai di teras, cukup terkejut melihat kedatangan salah satu tim keamanan keluarga Hikmat. Sandi berdiri kemudian menghampiri Dion.
“Dengan pak Sandi?” tanya Dion.
“Iya. Kamu siapa?”
“Saya Dion, pak. Saya diminta mengantarkan sesuatu oleh pak Abi.”
“Oh ya? Apa?” tanya Sandi penuh semangat.
Dion memberi tanda pada anak buahnya. Empat orang anak buahnya langsung menurunkan barang yang ada di bagian belakang mobil. Sandi hanya melongo melihat keempat orang itu membawa masuk kandang ayam beserta ayam di dalamnya kemudian menaruhnya di halaman rumah pria itu.
“Ini apa?”
“Ini peliharaan mas Kenan. Tapi berhubung mas Kenan sekarang sudah sibuk dengan pekerjaannya, dia minta pak Sandi untuk bantu menguruskan ayam-ayamnya.”
“Saya juga sibuk,” protes Sandi. Dalam hati pria itu dongkol setengah mati harus mengurus ayam calon menantunya.
“Oh, baik. Kalau bapak keberatan, biar saya hubungi pak Abi dulu.”
“Tidak usah.. ngga apa-apa, biar saya yang urus. Kalau saya sibuk, masih ada istri dan anak-anak saya yang akan bantu urus. Sampaikan terima kasih saya untuk pak Abi.”
Sandi langsung menyela sebelum Dion menghubungi Abi. Bisa gawat kalau calon besannya itu tahu dia menolak titipannya. Dijamin masa depannya akan suram. Dion hanya menganggukkan kepalanya saja. Risma yang tadi hanya melihat dari teras, mulai menghampiri.
“Oh iya, selain untuk mengantarkan kandang, saya juga diminta menjemput bu Risma. Bu Nina sudah menunggu bu Risma.”
“Bu Nina menunggu saya? Kenapa baru bilang? Saya siap-siap dulu.”
Risma bergegas masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian. Hatinya senang bukan kepalang mendengar ucapan Dion. Pikirannya sudah berkelana kalau Nina akan mengajaknya shopping atau bertemu dengan kaum sosialita di lingkaran keluarga Hikmat.
Lima belas menit kemudian wanita itu keluar dengan mengenakan blouse dan celana kulot, tak lupa tas branded di tangannya. Sandi memandangi istrinya yang sudah tampil cantik. Tapi justru yang terbayang adalah wajah Nita. Pria itu menggelengkan kepalanya beberapa kali.
“Ayo pergi. Mana mobilnya?”
“Itu,” Sandi menunjuk pada pick up yang terparkir di depan rumah.
“Kok naik pick up?” protes Risma.
“Saya sekalian antar kandang ayam, jadi hanya bisa pakai pick up.”
“Ngga ada mobil lain?”
“Ngga ada bu. Kalau ibu minta diantar pakai mobil lain silahkan hubungi ibu Nina saja. Saya tidak berani, bu. Ibu Nina kalau sudah murka lebih menyeramkan dari pak Abi.”
Risma hanya bisa menelan kedongkolan saja. Akhirnya dengan sangat terpaksa, dia mengikuti langkah Dion. Mendengar ucapan pria itu tadi, dirinya pun tidak punya nyali untuk menghubungi Nina. Dion membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Risma masuk. Setelahnya pria itu segera naik ke belakang kemudi dan menjalankan kendaraannya.
☘️☘️☘️
Mobil yang dikendarai Dion akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan bercat putih setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam lamanya. Kembali kekecewaan yang diterima Risma. Ternyata Nina mengajak bertemu bukan untuk berbelanja atau berkumpul dengan teman sosialitanya. Sejenak wanita itu memandangi plang putih bertuliskan PANTI JOMPO YAYASAN KASIH BUNDA.
“Mari bu..”
Lamunan Risma buyar ketika mendengar suara Dion. Dengan malas Risma mengikuti langkah pria itu. Seorang wanita paruh baya langsung menyambut kedatangan Risma kemudian memandunya masuk ke dalam bangunan yang berbentuk rumah itu. Wanita yang bernama Astri itu adalah pengurus panti jompo yang disponsori oleh Metro East, Blue Sky, Maeswara Dunia, The Ocean dan J&J Entertainment.
Astri membuka pintu sebuah ruangan. Di dalamnya sudah ada Nina, Nadia, Sekar, Rayi, Rindu dan Adinda. Risma melemparkan senyum manis pada semua yang ada di sana lalu ikut bergabung dengan semuanya. Tak berapa lama pintu kembali terbuka, wajah Risma berubah masam begitu melihat Nita yang masuk. Dia bertambah dongkol ketika Nina bangun dan menyambut wanita itu.
“Selamat datang bu Nita.”
“Terima kasih, bu Nina. Aduh ada apa ya ini?”
“Sebulan sekali kami memang biasa berkumpul di sini. Membantu perawat di sini untuk merawat para lansia yang ditampung di sini. Sekaligus memberikan mereka hadiah atau hiburan. Bu Nita tidak keberatan bergabung dengan kami?”
“Tentu saja tidak.”
“Baiklah. Bu Astri, apa semuanya sudah siap?”
“Sudah bu. Para oma dan opa sudah berkumpul di aula. Mungkin mereka sedang makan. Mari..”
Yang lain berdiri kemudian mengikuti langkah Astri menuju aula yang berada di bagian dalam. Risma ikut berdiri kemudian menyusul yang lainnya. Dia hanya melirik sekilas pada Nita sambil berdecih. Ada rasa iri melihat mantan istri suaminya itu berdandan cantik dan mengenakan pakaian bermerk seperti dirinya.
Sesampainya di aula, suasana di sana sudah riuh dengan obrolan dan bunyi denting sendok yang beradu dengan piring. Beberapa di antara mereka langsung melambaikan tangan begitu melihat kedatangan Nina dan yang lainnya.
“Nadia… ibu kangen.”
Salah satu lansia datang menghampiri Nadia lalu memeluk wanita itu. Nadia membalas hangat pelukan wanita itu. Dia adalah salah satu lansia yang dekat dengan Nadia. Sambil menggamit lengan wanita itu, dia membawa Nadia ke tempat duduknya. Begitu pula dengan yang lain segera menghampiri para lansia yang sudah menunggu mereka.
Nina menarik lengan Nita untuk mengikuti langkahnya. Tinggalah Risma yang termangu sendirian, tak tahu harus kemana. Astri mendekati wanita itu lalu mengajaknya mendekati salah seorang lansia yang tengah makan bersama kedua temannya.
“Bu Risma, kenalkan ini bu Dina, bu Rita dan bu Sri,” Astri mengenalkan ketiga lansia yang sedang makan bersama.
“Ibu-ibu, ini teman kita yang baru. Namanya bu Risma. Diajak ngobrol ya. Bu Risma, saya permisi dulu.”
Risma hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu mendudukkan diri di samping wanita berusia tujuh puluhan yang bernama Rita. Dia sedikit risih karena ketiga wanita tua yang bersamanya terus memandanginya.
“Namamu Risma?” tanya Rita.
“Iya.”
“Apa pekerjaanmu?”
“Saya kerja di bank.”
“Bang apa? Bang Toyib bukan? Hihihi..” lansia yang bernama Sri terkikik geli disusul tawa yang lainnya. Risma hanya memutar bola matanya, malas menanggapi ucapan wanita di depannya.
“Heh! Jawab kalau ditanya! Nda sopan!”
__ADS_1
Risma terjengit ketika Dina menepuk punggung tangannya. Mata wanita itu menatapnya dengan tatapan tajam. Kalau tidak ingat ada Nina bersamanya, ingin rasanya Risma menghardik balik wanita tua itu.
“Ya bukan bang Toyib. Suami ibu kali yang bang Toyib,” kesal Risma.
“Hihihi.. kok tau nama suami saya bang Toyib. Dia emang udah lama ngga pulang-pulang, soalnya sudah dipanggil yang maha kuasa hiks.. hiks.. huaaaaa..”
Risma terkejut ketika melihat Sri menangis, kedua temannya langsung menenangkan. Dina kembali melihat pada Risma dengan tatapan tajam sambil bibirnya komat-kamit mengucapkan gerutuan pada Risma.
“Hayo tanggung jawab kamu Risma,” ujar Rita.
“Tanggung jawab apa? Kan bukan aku yang bikin dia nangis.”
“Tapi kamu sebut-sebut bang Toyib.”
“Kan bukan aku yang mulai duluan. Ibu kan yang bilang duluan.”
“Ya kenapa kamu ikut-ikutan?” balas Rita tak mau kalah. Risma hanya mampu menepuk keningnya saja.
“Ya terus aku harus gimana?”
“Sri itu suka tebak-tebakan. Kamu harus jawab soal yang dari dia, kalau salah, kamu harus suapin dia makan,” seru Dina.
“Iya.. iya.. apa tebakannya?”
Sri yang awalnya menangis, langsung berhenti. Diusapnya airmata yang masih membasahi pipinya. Kemudian tangannya meraih tisu yang ada di dekatnya. Dikeluarkannya cairan kental dari hidunganya lalu mengusapnya dengan tisu.
“Nih.. buangin,” Sri menyodorkan tisu bekas ingusnya pada Risma.
“Ngga mau buang aja sendiri,” Risma bergidik melihat tisu itu.
“Mba Dina… dia kasar yo.. hiks.. hiks..”
“Ya udah sini..”
Risma mengambil tisu di tangan Sri dengan ibu jari dan telunjuknya. Sambil berlari dia menuju tempat sampah dan membuang tisu pemberian Sri ke dalamnya. Wanita itu lalu kembali ke tempatnya semula.
“Jawab tebakanku, yo,” ujar Sri.
“Iya, apa?”
“Kecil putih bisa terbang.”
Sejenak Risma berpikir untuk mencari jawaban yang dimaksud. Diliriknya Rita dan Dina yang hanya terkikik geli melihat Risma nampak berpikir keras.
“Ayo tau ngga? Lama mikirnya.”
“Ngga tau,” Risma memilih menyerah.
“Nasi nempel di pesawat hihihi…” jawaban Sri langsung disambut cekikikan Rita dan Dina.
“Nda usah, udah selesai makan aku. Ini kamu minum ini aja buat hukumannya.”
“Apa nih?”
“Jus,” jawab Sri.
Walau tak yakin dengan jawaban wanita tua itu, namun tak ayal tangan Risma bergerak mengambil tumbler dari tangan Sri. Baru sedikit minuman itu masuk ke dalam mulutnya, Risma langsung mengeluarkannya sambil terbatuk. Diambilnya tisu untuk membersihkan cipratan minuman dan meneguk air putih yang ada di dekatnya.
“Pait banget, jus apa ini?”
“Brotowali hihihi…”
“Soal kedua,” lanjut Dina.
“Ngga mau!” bantah Risma.
“Aku aduin bu Nina kalau ngga mau jawab tebakannya Sri,” ancam Dina yang akhirnya membuat Risma pasrah saja. Nampak Sri berpikir sejenak, kemudian menjentikkan jarinya ke udara.
“Bentuknya kecil, warna putih kalau dipencet keluar hitam-hitam.”
Risma menghembuskan nafas kasar, lagi-lagi Sri memberinya pertanyaan yang membuat kepalanya pening. Dia harus bisa menjawab pertanyaan itu, kalau tidak bisa-bisa dia harus meminum kembali jus pahit itu.
“Kue gosong,” jawab Risma asal.
“Salah.”
“Lontong.”
“Salah.”
“Nyerah?” tanya Rita dan Risma hanya mengangguk pasrah.
“Apa jawabannya Sri?” tanya Dina.
“Bel rumahnya orang negro hihihi…”
Kepala Risma langsung berdenyut. Dihirupnya oksigen sebanyak-banyaknya sebelum meminum kembali jus pahit buatan Sri. Diliriknya ketiga wanita di dekatnya yang tertawa puas melihat penderitaannya.
“Bu Risma.. saya mau tanya. Kalau bu Risma lagi jalan pulang ke rumah terus nemu t*i kebo, kira-kira bu Risma mau diem di situ apa terus pulang?” tanya Rita.
“Ya pulanglah.”
“Hihihi.. dia mau pulang Sri, mau ambil piring buat wadahin tuh t*i kebo,” ucapan Rita langsung disambut gelak tawa lainnya.
“Ya udah aku diem aja di situ, ngga akan pulang,” ujar Risma lagi.
__ADS_1
“Berarti takut diambil orang,” sahut Rita.
“Hihihihi…”
“Itu t*i kebo mau dibagi dua ngga?” lanjut Rita.
Risma tak langsung menjawab. Dia takut terkena jebakan batman lagi jika salah menjawab. Rita terus menunggu jawabannya.
“Iya aku bagi dua sama kamu.”
“Hihihi.. berarti Risma doyan t*i kebo. Kalau aku ngga, jadi yang dikasih kamu, aku pake buat pupuk aja.”
“Ya udah aku ngga jadi bagi dua.”
“Bhuahahaha… pelit kamu Ris. T*i kebo boleh nemu ngga mau dibagi-bagi,” Rita tak bisa menahan tawanya.
“Iyo, serakah,” timpal Sri.
“Kuburanmu sempit, Ris kalau pelit,” sambung Dina.
Tangan Risma memijit pelan keningnya. Di atas kepalanya sepertinya sudah penuh dengan kepulan asap. Ketiga wanita di dekatnya ini sukses membuatnya naik darah. Namun ingin melampiaskan kekesalannya pun tak berani.
Risma melirik ke arah yang lain. Mereka nampak enjoy berbincang dengan yang lainnya, termasuk Nita. Entah mengapa dia justru terjebak dengan ketiga wanita tua aneh bin ajaib ini.
☘️☘️☘️
“Nita..”
Nita terkejut ketika melihat Darmawan sudah berada di depan tempatnya bekerja. Pria itu berdiri menyandar ke bodi mobil sambil melipat kedua tangannya di dada. Dengan langkah pelan Nita mendekati Dermawan. Bos Artha Buana itu menegakkan tubuhnya begitu melihat Nita mendekat padanya.
“Mas.. ada apa ke sini?” tanya Nita bingung.
“Menjemputmu.”
“Hah?”
“Kalau tidak keberatan, aku mau mengajakmu makan malam.”
“Makan malam?”
“Iya. Tadi aku sudah ijin pada Zahra dan Silva. Ayo..”
Darmawan membukakan pintu mobil untuk Nita. Dengan gugup wanita itu masuk ke dalam mobil. Setelah duduk di belakang kemudi, Darmawan segera menjalankan kendaraannya.
Nita lebih banyak diam dan menjawab pertanyaan Darmawan seadanya saja. Sejatinya, wanita itu merasa gugup dengan kebersamaan mereka. Dia lebih banyak menundukkan kepalanya saja. Darmawan hanya tersenyum tipis saja melihat tingkah wanita di sebelahnya. Dirinya pun tak kalah gugup, namun berusaha untuk menutupinya sebaik mungkin.
Mobil yang dikendarai Darmawan memasuki pelataran parkir sebuah restoran Sunda yang terkenal. Setelah memarkir kendaraannya, pria itu mengajak Nita masuk ke dalamnya. Dia memilih duduk di saung untuk menikmati hidangan. Sambil menunggu pesanan datang, Dermawan mencoba mengajak Nita berbicara.
“Sabtu ini aku ada undangan resepsi pernikahan Barra dan Hanna. Apa kamu mau menemaniku datang ke acara itu?”
“Mas yakin mau mengajakku?”
“Tentu saja. Kamu mau kan?”
“Duh, bagaimana ya, mas. Aku takutnya mas malu kalau mengajakku. Aku…”
“Biarkan aku yang menyulapmu menjadi seorang ratu, kalau penampilan fisik yang kamu khawatirkan.”
Nita mengangkat kepalanya. Wajah Dermawan menunjukkan keseriusan, pun matanya memperlihatkan kalau dia sungguh-sungguh dengan ucapannya. Pria itu meraih tangan Nita.
“Bagiku tidak masalah bagaimana penampilanmu. Kamu yang seperti ini pun sudah istimewa di mataku. Tapi jika dengan menyulapmu menjadi ratu bisa membuatmu percaya diri, kenapa tidak?”
“Mas terlalu baik padaku.”
“Apa aku salah berbuat baik pada wanita yang kusukai?”
Mata Nita membelalak mendengar pernyataan Darmawan. Dirinya masih belum mempercayai apa yang didengarnya barusan. Ada seorang pria yang menyukai dirinya, terlebih dia adalah pria berada dan terhormat. Sungguh Nita tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya, bahkan bermimpi pun tak berani.
“Apa yang mas sukai dariku? Aku hanyalah wanita biasa yang punya banyak kekurangan.”
“Aku menyukai semua yang ada dalam dirimu. Kesederhanaanmu, ketegaranmu menghadapi ujian hidup yang tak mudah, kesabaranmu membesarkan anak-anak seorang diri dan senyummu yang begitu tulus.”
Wanita mana yang tak bergetar hatinya mendengar pujian manis seperti itu. Walau usianya sudah tak muda lagi, tetap saja wajah Nita bersemu merah saat mendengarnya. Tanpa dapat ditahan, senyumnya mengembang.
“Kita bukan lagi anak muda yang harus berbasa-basi atau kode-kodean. Aku hanya ingin mengutarakan apa yang kurasakan saat ini. Apa kamu mau memberi kesempatan untukku? Bisakah kamu membuka hati untukku?”
“Apa mas yakin dan tidak akan menyesal?”
“Apa kamu masih trauma dengan pernikahanmu dahulu?”
“Sejujurnya iya. Aku.. tidak percaya diri kalau ada lelaki yang mencintaiku dan tetap setia di sisiku sampai ajal memisahkan.”
“Aku tidak mau menjanjikan apapun. Tapi aku akan membuktikan ucapanku dengan sikap dan tindakan. Aku ingin menjadi pendamping hidupmu, menjadi ayah sambung untuk Zahra dan Silva. Kalau kamu mengijinkan, aku ingin mengisi ruang kosong akan sosok ayah bagi mereka. Aku juga ingin menjadi bahu tempatmu bersandar. Dan kamu menjadi rumahku untuk pulang.”
Mata Nita berkaca-kaca mendengar rentetan kalimat dari mulut Darmawan. Setitik air luruh jatuh membasahi pipinya. Jari Darmawan bergerak mengusap buliran bening itu.
“Apa kamu mau memberiku kesempatan?” tanya Darmawan lagi. Nita hanya mampu menganggukkan kepalanya dan sukses membuat senyum pria itu terbit.
☘️☘️☘️
**Uhuy pak Darmawan gasspoll💃💃💃
Kemarin yang nemu typo, maafkeun ya, kadang memang jempol berkhianat🤣
Yang nunggu keuwuan Alisha-Viren, harap bersabar ya**..
__ADS_1