KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : The Twins


__ADS_3

Kenzie terus menemani Nara berjalan-jalan di koridor rumah sakit. Sejak pagi, wanita itu sudah mengeluhkan sakit di perutnya. Dan saat memeriksakan ke dokter kandungan, waktu Nara melahirkan sudah tiba. Dia sedang menunggu pembukaan sampai sempurna. Nara menghentikan langkahnya ketika merasakan kontraksi. Tangannya berpegangan erat pada lengan sang suami.


“Ssshhh.. sakit, mas.”


“Sabar, sayang. Ayo duduk dulu.”


Kenzie memapah sang istri untuk duduk, kemudian dia berlari menuju kamar dan tak lama kembali keluar dengan membawa sebotol air mineral di tangannya. Nara meneguk air dalam botol hingga habis setengah. Kenzie mengeluarkan sapu tangan kemudian mengusap kening dan leher sang istri yang dipenuhi keringat.


“Nara..”


Sepasang suami istri itu menoleh, ketika mendengar sebuah suara memanggilnya. Nampak Nina dan Adinda datang dengan tergopoh. Kedua wanita itu langsung menuju rumah sakit begitu Kenzie mengabarkan perihal Nara.


“Gimana, nak?” tanya Adinda.


“Baru pembukaan lima, ma. Hiks.. hiks.. sakit..”


“Sabar sayang.”


Adinda memeluk sang anak untuk menenangkan. Begitu pula dengan Nina yang mengusap punggung menantunya itu. Nara mengusap airmata yang membasahi wajahnya. Jika tadi dia berusaha tetap kuat di depan suaminya, namun setelah bertemu dengan sang mama tangisnya keluar juga.


“Aduuuhhh… sakiiiittt.”


Nara mencengkeram tangan Kenzie begitu merasakan kontraksi untuk ke sekian kalinya. Seorang suster datang menghampiri dan meminta Nara kembali ke kamar untuk diperiksa pembukaannya. Dengan dibantu suaminya, Nara berjalan pelan menuju kamarnya.


☘️☘️☘️


OEEK


OEEK


Tepat pukul dua siang, Nara berhasil melahirkan bayinya. Seorang bayi lelaki langsung terdengar suara tangisnya begitu keluar dari zona nyamannya, di dalam kandungan sang mama. Seorang suster langsung membawa bayi itu untuk ditimbang dan dibersihkan. Sedangkan dokter didampingi bidan, masih terus memberi semangat pada Nara untuk mengeluarkan bayi keduanya.


OEEK


OEEK


Selang lima menit kemudian bayi kedua yang berjenis kelamin perempuan berhasil dikeluarkan oleh Nara. Wanita itu terkulai lemas setelah berjuang melahirkan bayi kembarnya dengan selamat. Kenzie langsung menciumi kening istrinya itu. Ucapan terima kasih tak henti keluar dari bibirnya.


Kedua suster yang sudah selesai menimbang dan membersihkan anak kembar Nara dan Kenzie segera menghampiri orang tuanya. Suster yang menggengong bayi laki-laki meletakkan sang bayi di atas dada Nara untuk diinisiasi dini. Sedang yang perempuan pada Kenzie untuk diadzani. Bergantian pasangan orang tua itu menginisiasi dini dan mengadzani anak kembarnya.


“Selamat ibu, bapak. Anak kembarnya terlahir sehat, sempurna tidak kekurangan apapun. Bayi lelaki berat 3,2 kg dan panjang 53 cm. Bayi perempuan, berat 3,2 kg panjang 50 cm,” terang sang suster.


Setelah Nara selesai dibersihkan dan dijahit, dokter memperbolehkan ibu muda itu untuk kembali ke ruang rawatnya. Seorang suster membantu Nara turun dari bed partus dan mendudukkannya di kursi roda. Kenzie mengekor di belakang sang istri sambil menggendong salah satu anaknya.


Pasangan orang tua itu segera disambut oleh keluarga yang sedari tadi sudah menunggu di depan ruang persalinan. Adinda mengambil bayi yang ada dalam gendongan Nara dan Nina mengambil bayi yang ada dalam gendongan Kenzie. Mereka bahagia mendapatkan cucu pertama kembar sepasang, laki-laki dan perempuan.


Kenzie membopong tubuh Nara kemudian membaringkannya di atas bed sesampainya di ruang rawat inap VVIP, sedangkan kedua bayinya masih dikerubungi oleh kakek dan neneknya.


“Gantengnya cucu kakek,” ujar Jojo seraya memandangi bayi berjenis kelamin laki-laki dalam gendongan Nina.


“Kakek panggilan buat gue,” celetuk Abi.


“Ck.. ya udah gue ngalah. Gantengnya cucu opa.”


“Kebagusan dipanggil opa,” ujar Abi lagi.


“Rese emang nih kakek satu. Terus gue harus dipanggil apa?” kesal Jojo.


“Aki dan nini,” Abi menunjuk pada Jojo dan Adinda. Tawa Nina langsung pecah mendengarnya. Kenzie dan Nara juga hanya mengulum senyum saja.


Pasangan itu hanya bisa memandangi kedua bayi mereka yang sepenuhnya dimonopli oleh kedua orang tua mereka. Bayi tampan dan cantik itu terlelap dalam gendongan kedua neneknya tanpa menghiraukan perdebatan yang terjadi di antara para kakek.

__ADS_1


“Ken.. kamu udah siapin nama belum? Kalau belum, papa bantu kasih nama ya,” ujar Jojo.


“Ngga usah. Nama rekomen dari papa mertua kamu ngga bagus, yakin,” sahut Abi.


“Beneran ya, Bi. Udah jadi kakek tuh bacot masih ngeselin aja.”


Para istri hanya bisa tersenyum melihat suami-suami mereka terus saja memperdebatkan hal sepele. Kenzie mendekati mereka, kemudian berjongkok di depan mama dan mama mertuanya yang tengah memangku anak-anaknya.


“Yang laki-laki, namanya Abizar Danendra Hikmat. Kalau yang perempuan Arsyana Diandra Hikmat.”


“Hmm.. namanya bagus,” ujar Abi.


“Tapi panggilan Abizar jangan Abi, ya. Panggil aja Izar. Biar kelakuannya ngga kaya kakeknya,” celetuk Jojo yang hanya dibalas decakan saja oleh Abi.


Di tengah-tengah kebahagiaan, pintu ruangan perawatan VVIP terbuka. Berturut-turut masuk Juna, Cakra, Anfa dan Kevin bersama dengan pasangannya. Mereka turut bergembira, anggota keluarga Hikmat kembali bertambah dengan kehadiran dua bayi keturunan Kenzie dan Nara.


“Pertama yang jadi kakek, Abi sama Jojo. Disusul Cakra, tinggal kak Juna, bang Kevin sama Anfa. Siapa yang duluan nih,” ujar Nina.


“Oh udah jelas pasti aku, kan bibit unggul,” jumawa Kevin.


“Yakin?” sahut Juna.


Kevin tak menanggapi ucapan sahabatnya itu. Nyatanya kedua anaknya memang belum memberikan kabar gembir padanya. Baik Alisha maupun Freya belum ada yang berbadan dua. Tapi dia tak memusingkan itu, karena Azra dan Hanna pun masih belum ada tanda-tanda kehamilan.


“Bi.. dengar-dengar bapaknya Zahra dipindahkan ke pulau Rinca?” tanya Juna ketika mereka melipir keluar ruangan karena Nara hendak menyusui kedua anaknya.


“Iya, kak. Dia kan dapet promosi jabatan dan ditugaskan ke sana.”


“Heleh paling kerjaan si Abi, itu. Yakin gue, kalau pak Darmawan mana tega. Si raja tega kan tetap Abi,” celetuk Jojo dan hanya dibalas kekehan dari Abi.


“Biar dia merasakan susahnya hidup di sana. Siapa tahu bertemu dan bergaul dengan dengan orang-orang di sana sedikit mengubah pandangan dan cara berpikirnya.”


“Tapi bu Risma ngga ikut ke sana ya? Kata Rayi, dia masih suka datang ke panti jompo tiap akhir pekan,” timpal Anfa.


“Ngga mau hidup susah. Dia bisa mati berdiri tinggal di sana yang jauh dari perkotaan dan fasilitas lain,” celetuk Juna.


“Ngga takut tuh bu Risma kalau pak Sandi selingkuh?” tanya Jojo.


“Bagus kalau dia selingkuh. Kali aja dia berjodoh sama komodo betina di sana. Bisa hancur harga diri bu Risma kalau dapet madu komodo betina, hahaha…”


Ucapan nyeleneh Abi tentu saja disambut gelak tawa yang lainnya. Jojo sampai memegangi perutnya karena tak berhenti tertawa. Zahra yang kebetulan baru sampai bersama dengan Kenan, tak sengaja mendengar percakapan mereka. Gadis itu tak kuasa menahan senyumnya. Para tetua itu kalau sudah berkumpul memang tidak ada yang bisa mengerem mulut dol mereka.


☘️☘️☘️


Alisha berdiri termenung di depan jendela kamarnya. Pandangan lurus menatap ke arah depan, memandangi pepohonan yang daunnya bergerak ditiup angin. Wajahnya nampak muram sepulangnya dari rumah sakit setelah menengok baby Zar dan Arsya.


Bukan tanpa sebab wanita itu terlihat murung. Setelah Nara melahirkan, sang kakak Azra, mengabarkan kalau dirinya positif hamil. Usia kehamilannya sama dengan Anya. Total ada tiga orang yang tengah mengandung saat ini, Naya, Anya dan Azra. Jujur saja dia merasa iri, karena sampai kini dirinya masih belum mengandung. Padahal Alisha sudah sangat ingin memiliki momongan.


Wanita itu menyandarkan kepalanya ke sisi jendela. Terdengar helaan nafas panjangnya, seakan mempertegas kegalauan yang dirasakannya saat ini. Karena asik melamun, Alisha sampai tidak tahu kalau Viren sudah masuk ke dalam kamar. Pria itu tercenung melihat sang istri yang banyak melamun sepulangnya dari rumah sakit.


Dihampirinya Alisha kemudian melingkarkan tangannya ke perut istrinya itu. Sebuah kecupan di pipi kanan wanita itu membuat lamunan Alisha buyar seketika. Viren meletakkan dagu di pundak sang istri.


“Abang ngagetin aja.”


“Siapa suruh bengong.”


“Siapa juga yang bengong?”


“Ya kamulah, masa kucing tetangga.”


Alisha terkikik mendengar ucapan suaminya. Dia membalikkan tubuhnya kemudian memeluk leher sang suami. Matanya menatap lekat pada netra Viren. Semakin hari wajah suaminya itu terlihat semakin tampan saja di matanya.

__ADS_1


“Yang… keluar, yuk,” ajak Viren.


“Kemana bang?”


“Di depan kompleks ada kedai baru, jual pempek Palembang. Kamu kan suka pempek, gimana kalau kita cobain?”


“Ayo bang, aku udah lama ngga makan pempek.”


Mata Alisha berbinar mendengar makanan kesukaannya. Wanita itu melepaskan diri dari suaminya kemudian menyambar outer dari dalam lemari untuk menutupi tubuhnya yang hanya terbalut kaos lengan pendek. Senyum Viren terbit melihat antusiasme sang istri mendengar ajakannya. Sambil menggenggam tangan Alisha, pria itu keluar dari kamar.


Bersama pengunjung lain, Viren mengantri untuk memesan pempek Palembang asli, sedang Alisha sudah duduk cantik di salah satu meja. Setelah memesan dua porsi pempek lengkap dengan minumannya, pria itu bergabung dengan istrinya. Dia menarik kursi di depan Alisha.


Tiga orang gadis yang duduk di meja dekat mereka melihat iri pada pasangan tersebut. Nampak Viren tengah berbincang dengan Alisha. Tangannya tak lepas menggenggam tangan sang istri, sambil mengusap punggung tangan dengan ibu jarinya. Kadang terdengar tawa kecil keduanya atau senyum simpul di wajah.


“Hmm.. pempeknya enak, bang,” ujar Alisha ketika menyuapkan makanan khas dari Palembang itu.


“Iya, kuahnya juga enak. Recommended banget ini.”


“Huum.. sekarang ngga usah jauh-jauh kalau mau makan pempek. Tinggal jalan aja.”


Keduanya terus menikmati makanan tersenyum seraya berbincang ringan. Viren lega melihat wajah istrinya sudah tidak muram lagi. Tanpa bertanya, dia tahu apa yang membuat mendung menggelayut di wajah cantik Alisha.


Setelah membayar pesanan yang mereka makan, keduanya memutuskan untuk langsung pulang karena waktu juga sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Baru beberapa langkah meninggalkan kedai, tiba-tiba Viren berjongkok di depan istrinya itu.


“Abang kenapa?”


“Naik… abang gendong.”


“Ngga ah, malu, bang.”


“Kenapa harus malu? Kamu istri abang. Ayo naik, anggap aja kamu lagi syuting drama Korea.”


Alisha tersipu malu mendengarnya. Saat nonton drama Korea bersama sang suami, dia memang sempat mengatakan keinginannya digendong ala oppa-oppa Korea. Wanita itu mendekat kemudian naik ke punggung suaminya lalu memeluk lehernya. Viren mengangkat tubuhnya lalu mulai berjalan dengan langkah pelan.


“Al…”


“Hmm…”


“Maaf kalau abang ngga pandai menciptakan suasana romantis untukmu. Tapi abang sangat menyayangimu. Abang sedih kalau melihatmu bersedih. Abang tahu, kamu pasti sangat ingin seperti Anya, kak Azra atau Naya. Tapi, ternyata Allah belum mengijinkanmu untuk mengandung. Abang harap itu ngga menjadikan beban untukmu. Berbaik sangkalah, Allah akan memberi kita anak pada waktunya nanti.”


“Iya, bang,” Alisha menyandarkan kepala ke punggung Viren.


“Belum diberi kepercayaan memiliki momongan bukan berarti kita tidak bisa bahagia. Coba lihat sisi baiknya. Kita bisa berduaan seperti ini lebih lama, menghabiskan waktu berdua.”


“Iya, bang.”


Alisha mengeratkan pelukannya di leher sang suami. Sebuah di kecupan didaratkan di rahang Viren. Ucapan pria itu sedikit banyak mampu mengurai kesedihan dan kegalauan yang dirasakannya. Terlebih melihat sikap Viren yang sudah tidak sekaku dulu lagi.


Tak terasa perjalanan mereka berakhir sudah. Sang security hanya tersenyum melihat kemesraan pasangan suami istri muda itu. Sesampainya di kediaman mertuanya, Viren tak langsung masuk ke dalam, melainkan menuju taman yang ada di depan rumah. Dia menurunkan Alisha di bangku taman dekat lampu yang penerangannya temaram.


Keduanya lalu duduk di bangku tersebut sambil menikmati semilir angin malam. Alisha menyandarkan kepalanya ke bahu sang suami. Viren menolehkan wajahnya, kemudian sebelah tangannya mengarahkan dagu istrinya padanya. Sebuah kecupan lembut diberikan di bibir ranum Alisha.


Tak cukup hanya kecupan, Viren melanjutkan ciumannya menjadi pagutan dan lum*tan yang semakin lama semakin dalam dan menunut. Keduanya menjeda ciuman sejenak untuk mengambil nafas lalu melanjutkan kembali pertautan bibir mereka. Suasana di sekitar mereka seketika mulai terasa panas.


Viren mengangkat tubuh Alisha ke atas pangkuannya kemudian pria itu berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumah dengan Alisha berada dalam gendongannya. Kedua kaki istrinya itu melingkar di pinggangnya. Tanpa mempedulikan sekitar pasangan itu masuk ke dalam rumah dan terus menuju lantai dua. Ezra yang hendak keluar kamar terpaksa menutup kembali pintu kamar begitu melihat sang adik tengah bermesraan dengan suaminya di depan pintu kamar mereka.


☘️☘️☘️


Maaf baru bisa up malam🙏


Dan terjadi lagi... Muncul keesokan harinya. Entah di jam berapa🤧

__ADS_1


__ADS_2