KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Perawat Antik & Pasien Jutek


__ADS_3

Kediaman Juna sudah didekorasi dengan pernak-pernik ulang tahun. Balon berwarna biru dan pink mendominasi ruangan tengah. Tempat di mana pesta ulang tahun pertama si kembar dilangsungkan. Pada acara ulang tahun perdana ini, Juna hanya mengundang keluarga dan para sahabat saja. Seperti halnya Abi dan Cakra, Juna juga menyembunyikan identitas anak kembarnya dari publik.


Nina dan Sekar tengah menata souvenir yang akan dibagikan pada tetangga dan juga tamu undangan. Sedang anak-anak mereka diasuh oleh para suami. Nina mendudukkan diri di kursi untuk mengistirahatkan diri. Nyonya Abimanyu itu tengah hamil anak kedua. Di trimester pertama ini, tubuhnya mudah sekali lelah.


Kevin dan Rindu datang beserta dengan Ravindra. Pria yang sering dipanggil kulkas dua pintu itu menggandeng tangan istri dan anaknya. Sekar menyambut kedatangan sahabatnya. Dia langsung mengusap perut buncit Rindu yang saat ini tengah hamil enam bulan.


Sebenarnya Sekar juga berniat menambah momongan, namun Cakra belum mengijinkan. Pria itu masih trauma pasca kelahiran anak pertamanya. Sebagai istri yang baik, Sekar menuruti keinginan dan menghargai keputusan sang suami.


Sebuah mobil berhenti di depan kediaman Juna. Jojo bersama Adinda turun dari mobil. Bersama mereka, ikut pula anak mereka. Anak pertama pasangan Jojo dan Adinda berjenis kelamin laki-laki. Jagoannya itu diberi nama Barra El-Fatih. Dan sekarang Adinda tengah hamil anak kedua yang diperkirakan kembar.


Melihat kedatangan Barra, Kenzie, Aric juga Ravin segera mengajaknya bermain. Keempat bocah itu bermain bersama di taman belakang sambil menunggu kedatangan yang lain. Para ayah mengawasi sambil duduk di gazebo. Ternyata persahabatan mereka menular pada anak-anak mereka. Hanya tinggal menunggu waktu saja, Ezra bergabung bersama mereka.


Keriuhan rumah Juna semakin bertambah dengan kedatangan Gurit dan Radix yang sampai bersamaan. Gurit menuntun Akmal sedang Syakira menggendong anaknya. Dari hasil pernikahannya dengan Gurit, Syakira mendapatkan anak perempuan. Gurit memberinya nama Emily Faradila.


Radix yang datang bersama dengan Nabila langsung bergabung dengan yang lain. Hati-hati dia menuntun sang istri yang tengah hamil tua. Kehamilan Nabila telah memasuki usia delapan bulan.


Agung dan Ruby juga turut diundang. Mereka datang bersama anak semata wayangnya yang bernama Fathan Gunardhya. Pasca melahirkan, rahim Ruby mengalami masalah. Wanita itu divonis tak akan bisa mengandung lagi. Ruby hanya bisa menerima dengan pasrah. Dia masih beruntung bisa dikaruniai satu orang anak.


Rahma dan Teddy menyambut kedatangan cucu-cucu mereka dengan penuh sukacita. Kebahagiaan mereka bertambah ketika Anfa dan Rayi juga datang dari Jepang. Rayi memutuskan tinggal di Bandung sampai melahirkan. Istri dari Anfa itu tengah mengandung anak pertama mereka.


Karena semua tamu yang ditunggu sudah hadir. Acara ulang tahun pun segera dimulai. Dengan bersemangat, Kenzie, Aric, Ravin, Barra, Fathan dan Akmal menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Ezra dan Azra yang belum mengerti apa-apa hanya memandangi keenam anak lelaki yang tengah bernyanyi untuk mereka.



Confetti ditembakkan oleh Anfa dan Radix setelah lagu selamat ulang tahun usai dinyanyikan. Azra yang terkejut sontak menangis. Nadia segera menggendong Azra untuk menenangkannya. Selanjutnya Juna menggendong Ezra, bersama dengan Nadia yang juga menggendong Azra, mereka berdiri di depan kue ulang tahun. Bersama mereka meniup lilin berbentuk angka satu. Tepuk tangan bahagia langsung terdengar.


Usai acara pemotongan kue, anak-anak berkumpul di ruang tengah. Para ibu menemani mereka bermain. Ezra dan Azra pun ikut bermain bersama mereka. Sedangkan para pria terbagi dalam dua kubu. Lima sekawan berkumpul di halaman belakang. Sedangkan trio somplak berbincang di teras depan.


“Gimana Fa tinggal di Jepang?”


“Ya gitu deh. Enaknya tuh mereka itu disiplin, pekerja keras. Tapi ngga enaknya, ngga ada yang bisa gue ajak ngomong Sunda huahahaha...”


“PEA lo.. kebanyang ngga orang Jepang ngomong Sunda, gimana coba. Kumaha damang? Dasar borokokok.”


Anfa dan Radix langsung tertawa mendengar Gurit berbicara bahasa Sunda dengan logat orang Jepang yang penuh dengan penekanan. Inilah yang dirindukan Anfa selama di Jepang. Dia harus bersabar sampai dua tahun ke depan agar bisa kembali tinggal di tanah air. Berkumpul lagi bersama keluarga dan teman-temannya.


“Eh anak lo cewek apa cowok Fa?”


“Kalau dari hasil USG sih cewek katanya.”


“Wah pasti tante Rahma seneng tuh bakal dapet cucu cewek lagi.”


“Iya. Doain ya semuanya lancar.”


“Aamiin,” jawab Gurit dan Radix bersamaan.


“Lo sendiri Dix, anak lo laki apa perempuan?”


“Dari hasil USG cowok.”


“Asoy... bisa besanan kita,” celetuk Gurit yang langsung disambut gelak tawa mereka.


Sementara itu, di halaman belakang. Perbincangan lima sekawan juga tak kalah serunya. Bergantian mereka menceritakan bagaimana rasanya menjadi seorang ayah. Seperti biasa, perbincangan diselingi candaan atau komen Abi dan Kevin yang membuat telinga merah.


“Anak kedua lo laki apa perempuan?” tanya Cakra pada Kevin.


“Heleh dia kan mau sok misterius. Paling belum di USG, biar surprise,” celetuk Jojo.


Kevin tak menanggapi ucapan sahabatnya itu, karena memang dia belum mau mengetahui jenis kelamin anak keduanya. Biar saja menjadi kejutan seperti anak pertamanya.


“Anak lo kembar Jo?”


“Iya kalau dari hasil pemeriksaan terakhir.”


“Mudah-mudahan cewek ya. Soalnya di kita kekurangan stok cewek,” Cakra terkekeh.


“Lo sendiri belum ada niat nambah momongan?” Jojo bertanya pada Cakra.


“Belumlah. Gue masih nyiapin mental, takut kalau kejadian dulu terulang.”


“Iya juga sih.”


Semua terdiam mengingat bagaimana perjuangan Sekar lolos dari maut dan bagaimana rapuh dan hancurnya Cakra saat itu. Jadi wajar saja kalau pria itu masih berpikir dua kali soal menambah momongan.


“Kalau nanti si Rindu lahiran, mau normal lagi atau caesar?” Juna membuka suaranya juga.


“Gue sih maunya caesar ya. Istri gue kuat banget tenaganya nyiksa gue pas lahiran Ravin.”


“Hahahaha....”

__ADS_1


“Itu balesan buat elo. Sebelum nikah kan lo tuh nyebelin abis, makanya dibales ama si Rindu. Pembalasan dendam itu lebih kejam bro, hahaha,” seru Abi.


“Kaya lo ngga nyebelin aja. Lupa lo udah buat sawan karyawan Blue Sky,” cecar Kevin. Abi hanya mengendikkan bahunya saja, seolah tak peduli dengan perkataan sahabatnya itu.


“Bukan Cuma karyawan Blue Sky. Dia juga udah buat sawan mertuanya si Anfa hahahaha.”


Cakra memegangi perutnya karena tak berhenti tertawa. Sama dengan Cakra, yang lain ikut terpingkal mengingat peristiwa setahun lalu. Kevin yang biasanya tak berekspresi pun ikutan tertawa.


Pada saat liburan di pulau pribadi, Abi mengajak semua keluarga berjalan-jalan di hutan untuk melihat Anggrek liar dan juga kumpulan monyet yang ada di sana. Dia sengaja mengalihkan perhatian Astuti pada tanaman Anggrek kesukaannya. Saat Astuti tengah mengabadikan kumpulan Anggrek, diam-diam Abi mengajak semua pergi meninggalkan Astuti. Kebetulan sekali, Wisnu tak ikut berjalan-jalan ke hutan karena encoknya sedang kambuh dan hanya menunggu di vila. Jadi rencananya berjalan lancar. Dia meminta dua orang anak buah yang mengawasi Astuti untuk membunyikan rekaman suara binatang buas. Selama dua jam Astuti ditinggal di sana sendirian.


“Lo masih inget ngga keadaannya pas ditemuin?” tanya Cakra.


“Pucet, gemeteran kaya orang belum makan dua hari sama bau pesing,” jawab Jojo.


“Hahahaha...” tawa mereka semua kembali terdengar.


“Gila lo ya, mertua adik sendiri dikerjain.”


“Abis rese tuh emak-emak. Nyinyir mulu bawaannya,” jawab Abi santai.


“Tapi emang cuma si Anfa yang dapet mertua ajaib.”


“Untung tuh anak sabar.”


“Coba kalau si Abi yang dapet mertua modelan dia.”


“Langsung dikirim ke taman safari kayanya hahahaha...”


“Kebagusan taman safari, pulau komodo coy,” celetuk Jojo yang semakin membuat suasana semakin riuh.


Juna tak bisa berkomentar karena tak berhenti tertawa. Adiknya itu memang terkenal sadis dan kejam. Maka tak heran kalau dia bisa berbuat seperti itu pada Astuti. Tapi dalam hatinya dia senang juga Abi mengerjai wanita itu, Astuti memang sudah bersikap keterlaluan pada Anfa.


“By the way si Anfa tahu soal itu?”


“Tahu,” jawab Abi.


“Si Rayi?” Abi mengangkat bahunya.


“Ngga ngaruh juga kalau Rayi tahu. Emang dia berani ngelawan nih beruang kutub,” jawab Jojo.


“Beruang kutub yang kalah sama beruang madu,” celetuk Kevin.


“Ngga masalah ngga dapet gunung kembar, kan tetap lembahnya punya gue,” jawab Juna tak mau kalah yang langsung disambut gelak tawa lainnya.


Keramaian di halaman belakang tersaingi oleh kegaduhan di ruang tengah. Teriakan, tangisan tak henti bersahutan saat para bocah bermain. Kadang mereka berebut mainan, kadang berteriak kesenangan atau menertawakan sesuatu.


Teddy dan Rahma yang duduk di sofa memperhatikan semua cucunya yang tengah bermain bersama. Bahagia rasanya masih diberi umur dan kesempatan untuk memiliki cucu dan melihatnya tumbuh. Teddy memeluk pinggang istrinya kemudian berbisik pelan di telinganya.


“Terima kasih sayang, sudah menemaniku selama ini. Memberiku anak yang tampan dan cantik hingga dikaruniai cucu. Terima kasih sudah menerima semua kekuranganku, memberiku semangat dan kekuatan. Aku mencintaimu, dulu, sekarang dan sampai akhir nafasku.”


“Aku juga mencintaimu mas. Terima kasih sudah bersabar denganku selama ini. Maafkan kalau keluargaku sering membuatmu tak nyaman. Dan terima kasih sudah menjadi suami dan ayah yang baik selama ini.”


Teddy mencium kening Rahma dengan mesra. Dia sadar kalau banyak waktu terlewat karena kesibukannya. Namun semuanya impiannya sudah tercapai. Pria itu sudah mengumumkan secara resmi pengunduran dirinya. Semua urusan pekerjaan sudah dilimpahkan sepenuhnya pada anak-anaknya. Kini dia hanya ingin menikmati masa tua bersama sang istri dan bermain dengan cucu-cucunya.


☘️☘️☘️


Abi baru saja selesai membacakan cerita sebelum tidur untuk Kenzie. Sejak anak itu tidur terpisah, Abi selalu menyempatkan diri membacakan cerita menjelang waktu tidur sang anak. Dia membenarkan selimut dan menutupi tubuh anaknya sampai sebatas dada. Setelah memberi kecupan di kening, Abi menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama.


Pelan-pelan dia menutup pintu kamar, kemudian berjalan menuju kamarnya. Abi merangkak naik ke kasur kemudian berbaring di samping istrinya. Nina mengubah posisinya menjadi berbalik ke arah sang suami.


“Ken udah tidur?”


“Hmm..”


“Dia tuh lebih seneng dibacain cerita sama mas dari pada sama aku.”


“Suaraku lebih bagus.”


“Narsis. Belum tau aja Ken, gimana suara papanya kalau lagi nyanyi. Hahaha.. ampun mas.”


Nina tertawa geli saat Abi mengelitikinya. Abi adalah sosok pria sempurna namun ada dua hal yang tak bisa dilakukannya, yakni menyanyi dan memasak. Pria itu menangkup wajah Nina lalu mencium lembut bibirnya.


“Kadang aku masih ngga percaya kalau kita sudah sampai sejauh ini,” ucap Abi.


“Aku juga mas. Kalau ingat pertemuan kita dulu, benar-benar ngga nyangka. Waktu pertama kali kita ketemu, apa yang mas pikirin soal aku?”


“Hmm... bar-bar, pede abis, gesrek, bawel dan.... cantik. Kalau kamu?”


“Mas tuh jutek, nyebelin, tukang maksa, mau menang sendiri, kalo ngomong ngga ada enak-enaknya tapi ganteng hihihi...”

__ADS_1


Abi tersenyum mengingat kembali pertemuan pertama mereka. Kepribadian Nina yang ceria perlahan mampu membangkitkan semangat hidupnya dan menumbuhkan benih-benih cinta di hatinya. Sampai akhirnya mereka menikah dan dikaruniai anak.


“Aku mau pengakuan dosa nih, Yang.”


“Apa tuh?”


“Tapi janji ya jangan marah.”


“Iya. Apaan sih, jangan bikin penasaran. Mas ngga selingkuh kan?”


“Ya ngga lah sayang.”


Abi terdiam sebentar. Diliriknya Nina yang masih setia menunggunya bicara. Sebenarnya dia ingin tertawa mengingat kejahilannya dulu pada sang istri.


“Jadi dulu sebelum kita nikah. Kamu kan pernah ketiduran di kantor sama di mobil. Nah yang mindahin kamu ke kamar tuh, mas. Bukan OB atau pak Bagja.”


“Beneran mas?”


“Iya. Waktu itu sebenarnya mas udah bisa jalan. Tapi mas pura-pura belum sembuh. Selain gengsi kalah taruhan sama kamu, mas juga ngga mau kamu cepet-cepet pergi,” Abi mencium bibir Nina.


“Ya ampun kalau gitu aku dosa dong udah ngatain tuh OB tuyul gara-gara kusangka udah gendong aku.”


“Hahahaha..”


Tawa Abi langsung meledak, Nina juga ikut tertawa. Teringat bagaimana paniknya dia dulu saat Abi mengatakan kalau OB berkepala plontos dan berperut buncit yang telah menggendongnya ke kamar. Ditambah dengan pak Bagja juga.


“Masih ada satu lagi, Yang.”


“Apalagi?”


“Waktu bulan madu. Kuntilanak yang kamu lihat di kamar itu pegawai resort yang mas suruh buat nakut-nakutin kamu.”


“Hah?? Mas jahat ya, keterlaluan, istri sendiri dikerjain.”


“Aaaww.. ampun sayang ampun, katanya tadi ngga marah.”


Nina memukuli lengan suaminya begitu selesai dengan pengakuan dosanya. Dengan entengnya Abi mengakui perbuatannya, padahal saat itu dia ketakutan setengah mati.


“Maaf Yang.. maaf. Tapi mas juga udah dapet balasannya kok.”


“Apa balasannya? Emang ada yang bisa bales mas?”


“Ada. Pas mas lagi diem di teras kamar, mas didatengin kunti beneran.”


“Hahahaha... sukurrrr... kualat ama istri. Terus mas langsung kabur ya.”


“Ngga, mas sambit pake batu tuh kunti sama mas ancem kalau berani nongol lagi mau mas kasih ayat kursi segerbong.”


“Hahaha... astaga suamiku bener-bener deh. Kirain cuma ngancem orang aja ternyata kunti juga diancem hahahaha...”


Abi ikut tertawa membayangkan kekonyolannya dulu. Ditariknya tubuh Nina lebih mendekat ke arahnya, kemudian meletakkan kepalanya di dada wanita yang telah memberi seorang anak dan kini tengah mengandung anak keduanya.


“Terima kasih mas. Aku beruntung dipertemukan denganmu. Kadang aku berpikir, kalau Fahira tidak meninggalkanmu mungkin aku tidak bisa bersamamu. Atau kalau mas tidak bertemu dengan Fahira, apa mungkin kita akan bersama?” Nina mengecup puncak kepala suaminya. Abi mendongakkan kepalanya, melihat ke arah sang istri.


“Kalau Fahira tidak pernah hadir dalam hidupku, maka aku akan mencari jalan untuk bertemu dan bisa bersamamu. Kamu percaya kalau jodoh kita sudah ditentukan sejak kita lahir? Dengan atau tanpa adanya Fahira, kalau kita memang telah dijodohkan, maka kita akan bertemu bagaimana pun caranya. Dan aku tidak menyesali bagaimana cara kita bertemu. Kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan sebelum merasakan penderitaan. Fahira adalah penderitaan yang harus kujalani sebelum aku merasakan bahagia. Dan kebahagiaanku adalah kamu.”


“Begitu juga aku mas. Banyak kesedihan dan penderitaan yang kualami sejak kecil. Tapi aku bahagia sejak bertemu denganmu. Dirimu seperti hujan yang datang di tengah kemarau dan menghadirkan pelangi di hidupku.”


“Aku mencintaimu, perawat antikku.”


“Aku mencintaimu, pasien jutekku.”


Keduanya tertawa mendengar julukan masing-masing. Abi menangkup wajah Nina kemudian membenamkan bibirnya. Sebuah lu**tan lembut diberikan untuk istri tercinta. Ciuman yang menyiratkan berjuta cinta dan kasih sayang dalam setiap pagutannya.


Cinta tak bisa ditebak kapan dan di mana dia akan berlabuh. Namun percayalah jika cinta sudah menemukan pasangan yang tepat, maka cinta akan terus tumbuh dan berkembang.


Cinta bertahan bukan karena seberapa besar dan banyak cinta yang kita terima atau berikan. Tapi cinta bertahan selama kita mensyukuri cinta yang kita terima, semakin kita bersyukur maka semakin besar dan dalam cinta yang kita miliki. Oleh karenanya, syukurilah cinta yang kita miliki. Cinta pada pasangan yang halal, walau tak sempurna namun dia tetap ada di samping kita dan menerima semua kekurangan kita. Seperti cinta Abi dan Nina yang terus tumbuh besar dan bertambah dalam sampai nafas meninggalkan raga.


************** *HAPPY ENDING ************


Alhamdulillah, setelah beberapa bulan tayang, mamake bisa mengakhiri kisah ini. Semoga cerita KPA bisa menghibur semua pembaca dan memberikan kenangan indah. Mamake juga berharap ada pembelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini.


Terima kasih buat semua yang sudah setia mengikuti kisah Abi dan Nina dari episode awal sampai terakhir. Terima kasih juga buat semua komentar positifnya🙏 Mamake hanya butiran debu tanpa kalian semua🤗


Eiiitttsss tapi jangan di unfav dulu ya. Karena masih ada bonchap untuk kalian yang berisi cerita anak² mereka. Mamake ngga bisa janji bisa up tiap hari, tapi akan tetap berusaha memberikan episode bonus sampai benar² selesai.


Nantikan karya baru mamake yang In Syaa Allah akan tayang setelah lebaran.


Sebagai penutup, mamake kasih visual mama Rahma dan papa Teddy. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang bijak seperti mereka, aamiin**.

__ADS_1



__ADS_2