KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Finally Happy Ending


__ADS_3

BLUK


Dengan cepat Haikal mengambilkan tas tersebut, begitu pula dengan sang gadis. Adegan tatap menatap sambil mengambil tas yang terjatuh seraya berdiri berlangsung layaknya gerakan slow motion.


“Maaf ngga sengaja,” ujar Haikal tanpa melepaskan pandangan dari gadis manis di hadapannya.


“Terima kasih.”


“Kamu pasti temannya Zahra,” terka Haikal.


“Iya, kok tau?”


“Karena aku tahu semua temannya Nan.”


“Nan?”


“Eh itu, mempelai laki-laki, suaminya Zahra.”


“Oooh..”


Gadis itu melemparkan senyum manis seraya menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. Untuk sesaat dirinya merasa gugup karena Haikal terus menatapnya tanpa berkedip. Sebenarnya dia senang juga diperhatikan sedemikian rupa oleh pemuda tampan tersebut.


“Aku Haikal,” Haikal mengulurkan tangan ke arah gadis di depannya.


“Vina,” gadis bernama Vina itu menyambut uluran tangan Haikal.


“Sudah kasih ucapan selamat?”


“Sudah.”


“Sudah makan?”


“Eung.. belum.”


“Makan bareng yuk. Kamu mau makan apa?”


Vina memandang berkeliling, melihat-lihat stand yang tersedia. Lalu tangannya menunjuk satu stand yang menyediakan menu kambing guling. Dengan gerakan kepala Haikal mengajak Vina menuju ke sana. Mereka berbaur di antara undangan lain yang tengah mengantre menu yang sama.


Sementara itu di sisi lain, nampak Jihan duduk sendiri di salah satu meja. Sesekali matanya melihat jam di pergelangan tangannya. Wajahnya mulai terlihat kesal karena orang yang ditunggunya belum juga menunjukkan batang hidungnya.


“Maaf.. maaf aku terlambat,” Jamal datang kemudian duduk di samping gadis itu.


“Kemana dulu sih?” kesal Jihan.


“Maaf, aku tadi nyari sesuatu dulu.”


“Nyari apa?”


Jamal merogoh saku jasnya kemudian mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru tua. Dengan cepat dia membuka kotak tersebut kemudian menyodorkannya pada Jihan. Untuk sesaat anak kedua dari Gurit itu hanya terpaku melihat sebuah cincin di dalam kotak beludru tersebut.


“Ji.. maukah kamu menikah denganku?”


“Kamu serius, Mal?”


“Iya. Kamu mau kan?”


Jihan mengangguk senang dengan senyum tersungging di bibir. Jamal mengeluarkan cincin tersebut kemudian menyematkan ke jari manis pujaan hatinya yang diakhiri dengan kecupan di punggung tangan.


Berbeda dengan Revan yang berdiri tak jauh dari sana hanya bisa memandang iri pasangan tersebut. Untuk bisa melakukan hal itu, dia masih harus menunggu setidaknya empat tahun lagi karena saat ini Tiara masih menyelesaikan sekolahnya. Sebuah tepukan mendarat di pundak Revan, pria itu menoleh dan melihat Tiara sudah berdiri di sampingnya.


“Ngapain bengong, kak?”


“Nungguin kamu. Kemana dulu sih? Udah laper tau,” keluh Revan seraya mengusap perutnya.


“Maaf, tadi ada telepon dulu.”


“Dari siapa?”


“Dari temanku.”


“Siapa?”


“Marni.”


“Marni apa Marno?”


“Ish kakak tuh. Mana ada teman aku namanya Marno, ngga usah ngadi-ngadi deh. Udah yuk, makan. Aku juga udah laper.”


Tanpa menunggu jawaban Revan, Tiara segera menarik tangan pria itu menuju salah satu stand yang menyediakan aneka pasta. Dari kejauhan Dendi tersenyum memperhatikan anak keduanya yang tengah bersama dengan Revan. Gurit dan Anfa yang berada di dekatnya langsung berkomentar.


“Bentar lagi ada yang besanan nih,” celetuk Gurit.


“Ngunduh mantu lagi nih Radix,” sambung Anfa.


Baik Dendi maupun Radix hanya mengulum senyum saja mendengar komentar kedua pria itu. Mereka tak pernah ikut campur akan hubungan yang terjalin antara Tiara dengan Revan. Membiarkan semua mengalir begitu saja.


“Mudah-mudahan kita bisa berbesan, ya pak Radix,” ujar Dendi.


“Aamiin..” jawab Radix.


☘️☘️☘️


Malam semakin larut, para tamu undangan telah kembali ke tempatnya masing-masing. Begitu pula dengan kedua mempelai dan seluruh keluarga telah meninggalkan area resepsi dan masuk ke kamarnya masing-masing. Di sana hanya ada para pegawai resort yang membersihkan sisa-sisa pesta.


Viren mengambil kaos dari dalam lemari kemudian memakainya. Dia lalu menuju ranjang dan mendudukkan diri di sana, menunggu Alisha yang masih berada di kamar mandi. Keduanya memutuskan menginap di resort dan berencana untuk pergi jalan-jalan esok harinya.


Usai membersihkan diri dan membungkus tubuhnya dengan pakaian tidur Alisha segera keluar dari kamar mandi. Namun baru saja dia melangkah keluar, tiba-tiba kepalanya terasa berat dan berputar cepat. Refleks tangannya bertumpu pada tembok di sampingnya. Melihat hal tersebut Viren bergegas menghampiri.

__ADS_1


“Al.. kamu kenapa?”


“Pusing bang.”


“Pusing? Pusing kenapa?”


“Ngga tau, tiba-tiba aja. Aku…”


Ucapan Alisha terputus karena tiba-tiba wanita itu kehilangan kesadarannya. Dengan cepat Viren menangkap tubuh sang istri lalu membawanya berbaring ke kasur. Pria itu lalu mengambil ponselnya dan menghubungi mama dan mama mertuanya.


Mendengar Alisha yang tiba-tiba pingsan, karuan saja membuat geger seluruh keluarga. Juna segera menghubungi dokter keluarga mereka untuk memeriksa keadaan anak bungsunya.


Viren terus mengawasi dengan cemas saat sang dokter pribadi tersebut memeriksa keadaan istrinya. Alisha sendiri sudah sadar sejak lima menit yang lalu. Dengan seksama sang dokter memeriksa keadaan wanita itu. Dan tak berapa lama kemudian pemeriksaannya selesai.


“Bagaimana dok? Istri saya kenapa?” tanya Viren dengan cemas.


“Alisha tidak apa-apa. Hanya sedikit kelelahan saja, karena saat ini tengah mengandung.”


“A.. apa dok? Alisha hamil?” tanya Viren tak percaya.


“Iya. Selamat Viren, kamu akan segera menjadi seorang bapak.”


“Alhamdulillah. Sayang, kamu dengar itu? Kita akan mendapat anak.”


Viren menghampiri Alisha kemudian duduk di sampingnya. Diraihnya tangan Alisha kemudian dikecupnya dengan mesra. Semua keluarga yang ada di sana juga turut merasa senang mendengar kabar tersebut. Juna, Nadia, Kevin dan Rindu mengucap syukur bersamaan, mereka akan memperoleh cucu tambahan.


“Selamat ya, sayang,” Nadia menghampiri putri bungsunya lalu memeluknya. Begitu pula dengan Rindu yang sudah berdiri di belakangnya. Berturut-turut kemudian Juna dan Kevin ikut memberikan ucapan selamat diikuti yang lainnya.


“Sekarang istirahat, ya. Besok jangan lupa bawa Al ke dokter kandungan,” ujar Nadia.


“Iya, ma.”


Para orang tua satu per satu meninggalkan kamar tersebut. Kini hanya tinggal Viren dan Alisha saja. Viren merangkak naik ke atas kasur lalu mendudukkan diri di samping sang istri. Tangannya meraih bahu Alisha kemudian merangkulnya mesra.


“Terima kasih, sayang,” Viren mengusap puncak kepala Alisha kemudian mendaratkan ciuman di sana.


“Kita akhirnya jadi orang tua juga, bang.”


“Iya, sayang.”


“Alhamdulillah.”


“Kira-kira anak kita ini made in Italia, Perancis apa Swiss ya”


“Kayanya sepertiga Italia, sepertiga Perancis dan sepertiga Swiss.”


Alisha terkikik geli menanggapi pertanyaan absurd Viren dengan jawaban yang absurd pula. Viren pun ikut tertawa mendengarnya. Pria itu menghujani wajah istrinya dengan ciuman kemudian membawanya berbaring. Dibawanya Alisha ke dalam pelukannya, lalu mengusap punggungnya pelan. Dia terus melakukan hal tersebut sampai Alisha tertidur dan dia pun ikut menyusul ke alam mimpi.


☘️☘️☘️


“Yang.. ayo, Yang..”


“Ngga mau, masih sakit.”


“Kalau yang kedua udah ngga sakit kok.”


“Kata siapa?”


“Kata yang pernah ngerasain. Apa perlu aku telepon mama sama yang lain?”


“Ish.. kamu tuh. Pokoknya ngga mau.”


Zahra menarik selimut lalu menutupi hingga kepala. Kenan menghembuskan nafas kesal. Diliriknya Zahra yang masih tertutup rapat oleh selimut. Perlahan pria itu beringsut menjauh lalu membalikkan tubuhnya dengan posisi membelakangi. Pelan-pelan Zahra menyingkap selimutnya lalu melihat pada suaminya.


Wanita itu berpikir sejenak sambil sesekali melihat pada punggung Kenan. Sedikit demi sedikit Zahra menggeser tubuhnya hingga mendekati sang suami. Dia mendekatkan telinganya, ingin memastikan apakah Kenan sudah tertidur atau belum.


“Nan…” panggilnya pelan namun taka da jawaban.


“Nan…” sekali Zahra memanggil suaminya seraya menusuk-nusukkan jarinya ke punggung Kenan.


“Hmm..” akhirnya terdengar juga suara Kenan.


“Udah tidur?”


“Udah.”


“Kok bisa jawab?”


“Bodo.”


“Nan..”


Tak ada jawaban. Sekali lagi Zahra memanggil, namun hasilnya nihil. Wanita itu bangun dari tidurnya kemudian berjalan menuju lemari. Setelah mengambil sesuatu dari dalamnya, dia menuju kamar mandi.


Sepeninggal Zahra, Kenan membuka matanya. Dia terus melihat ke kamar mandi yang pintunya tertutup rapat. Dengan kesal pria itu bangun dari tidurnya dan duduk bersila di atas kasur.


“Haiisshhh kenapa tadi pake jual mahal.”


Kenan mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Saat bersamaan pintu kamar mandi terbuka, dengan cepat Kenan kembali berbaring dan pura-pura memejamkan mata. Zahra berjalan tanpa suara mendekati sang suami. Dia menundukkan dirinya sedikit kemudian mengguncang bahu sang suami pelan.


“Nan…"


Kenan masih bergeming. Zahra maju lebih dekat lalu mengguncang kembali bahu suaminya. Mata Kenan masih menutup rapat, dia ingin tahu seberapa keras usaha sang istri membangunkannya. Pria itu terkejut saat Zahra menggelitiki pinggangnya. Dia membuka matanya lalu bangun dari tidurnya.


“Apaan sih Ya..ng”


Ucapan Kenan sempat terjeda sejenak begitu melihat Zahra berdiri di hadapannya dengan mengenakan lingerie seksi berbahan tipis. Dada pria itu berdetak lebih cepat, jakunnya bergerak naik turun, berusaha menelan ludah yang terasa menyangkut di tenggorokannya.

__ADS_1


“Yakin mau tidur, maasss.”


Zahra mengeluarkan suara seseksi mungkin seraya mengedipkan matanya pada sang suami. Kemudian dengan sengaja dia menggigit bibir bawahnya, membuat Kenan semakin blingsatan. Sebisa mungkin Zahra menahan rasa malunya, demi bisa membuat Kenan mengakhiri masa ngambeknya. Dia tak ingin di hari pertamanya menyandang status istri mendapat rutukan dari para malaikat.


“Yang..” panggil Kenan dengan suara serak menahan hasrat.


“Iya, mas…”


Suara Zahra semakin membuat Kenan semakin gerah. Dengan cepat ditariknya tangan sang istri hingga jatuh terduduk di pangkuannya. Tangannya melingkar erat di pinggang ramping itu. Zahra mengalungkan tangannya ke leher kekar suaminya.


“Kamu ngga takut godain aku, hmm..”


“Kenapa harus takut. Kan mas suamiku.”


“Coba panggil lagi.”


“Mas..”


Bisik Zahra di telinga Kenan seraya memberikan gigitan kecil di telinganya. Kenan meraih tengkuk Zahra kemudian membenamkan bibirnya. Pertautan bibir nan menggelora mulai terjadi. L*matan dan pagutan Kenan terasa begitu tergesa dan menuntut, dan Zahra berusaha mengimbangi itu semua.


Tangannya kemudian melepaskan kaos yang melekat di tubuh kekar suaminya dan membuangnya ke lantai. Dengan gemas Kenan meremat bulatan kenyal yang masih tertutup lingerie berbahan satin. Cumbuannya kembali berlangsung. Perlahan tangannya menyusup ke dalam pakaian tidur itu hingga mencapai gunung kembar yang tanpa penghalang.


Penolakan Zahra nyatanya berubah jadi pengharapan. Wanita itu sudah mulai candu dengan sentuhan suaminya. Tubuhnya terus bergerak saat Kenan mencium dan menyentuh titik-titik sensitifnya. Rasa sakit, linu dan takut yang tadi menggelayuti menguar entah kemana seiring sengan cumbuan Kenan yang semakin liar. Hingga akhirnya mereka tenggelam dalam pergulatan panas untuk kedua kalinya. Mengganti udara dingin yang menerpa dengan kehangatan berbalut peluh.


☘️☘️☘️


Beberapa bulan kemudian


Kediaman Juna terlihat ramai dengan kedatangan adik-adik dan para sahabatnya. Mereka memboyong seluruh keluarga ke rumah anak sulung dari pasangan Teddy dan Rahma. Sejatinya mereka tengah merayakan kelahiran berturut generasi Hikmat selanjutnya.


Kelahiran pertama dimulai dari Azra yang dengan selamat melahirkan putri cantiknya yang diberi nama Ayudia Chalondra. Sesuai dengan permintaan sang ayah, di belakang nama anaknya tersemat kata Hikmat dan Agung pun tidak keberatan akan hal tersebut.


Selanjutnya adalah Freya. Anak kedua dari pasangan Abi dan Nina itu berhasil memberikan cucu perempuan untuk Kevin, yang tentu saja disambut gembira oleh pria yang dulu kerap dipanggil dengan sebutan kulkas dua pintu. Freya dan Ravin sepakat memberi nama anak mereka, Dayana Gayatri Sanjaya.


Terakhir, Jojo yang kembali memperoleh cucu keempat lewat anak pertamanya, Barra. Anfa dan Rayi tentu saja berbahagia mendapatkan cucu pertama mereka yang berjenis kelamin laki-laki. Barra dan Hanna sepakat memberi nama anak mereka, Farzan Pranadipa Romano.


Selain kelahiran berturut, mereka juga mendapatkan kabar yang tak kalah menggembirakan. Alisha yang kini sudah memasuki usia kandungan lima bulan, diikuti jejaknya oleh Dilara. Istri dari Ezra itu juga tengah mengandung tiga bulan. Dan terakhir, Zahra juga membawa kabar baik. Dua hari lalu dokter mengatakan ada benih Kenan yang sudah berkembang di perut menantu Abi tersebut.


Kelahiran dan kehamilan berturut yang terjadi di keluarga ini tentu saja merupakan kabar gembira tersendiri. Mereka sepakat untuk mengadakan pertemuan rutin selama sebulan sekali secara bergiliran. Hal itu demi mempererat tali silaturahim di antara mereka, seperti pesan Rahma sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


Selain generasi ketiga Hikmat yang telah berpasangan, Revan dan Haikal juga datang dengan membawa teman masa depannya masing-masing. Revan bersama dengan Tiara, anak dari Dendi. Sedang Haikal bersama dengan Vina, teman dari Zahra yang ditemuinya saat resepsi pernikahan sepupu sekaligus sahabatnya.


Perbincangan hangat dan gelak tawa bersahutan dan terdengar di sekeliling rumah. Para orang tua berkumpul terpisah dengan anak-anak. Mereka berbicara mengenang masa lalu yang bahagia bersama pasangannya masing-masing. Sedang di area lain, generasi ketiga juga berkumpul sambil berkumpul santai sambil bermain dengan anak masing-masing. Kebahagiaan begitu terasa di rumah ini.


Juna baru saja kembali dari dapur untuk meletakkan piring kosong. Saat hendak kembali ke teras, dia terlebih dulu berhenti di depan figura besar yang memajang foto kedua orang tuanya. Mata tuanya menatap ke arah gambar tersebut dengan senyum mengembang.


“Ma.. pa.. impian kalian terwujud. Alhamdulillah sampai saat ini kami masih bersama dan ikatan di antara kami semakin kuat dengan penyatuan anak-anak kami. Terima kasih telah meninggalkan begitu banyak cinta dan kasih sayang pada kami. Semoga cinta dan kasih sayang ini tetap ada sampai kita bertemu lagi di keabadian,” gumam Juna pelan.


Pria itu kemudian melanjutkan langkahnya dan kembali ke tempat di mana orang-orang terkasihnya berada. Mereka melanjutkan lagi perbincangan hangat berbalut keceriaan. Hanya ada senyum kebahagiaan tercetak di wajah-wajah tua mereka. Tanda syukur masih diberi umur untuk tetap berkumpul di penghujung usia mereka bersama orang-orang terkasih.


☘️☘️☘️


Nina menutup pintu kamar setelah memastikan semua pintu terkunci dan lampu ruangan yang tak terpakai padam. Dilihatnya Abi tengah berdiri di teras kamar, menikmati semilir angina malam. Wanita itu melangkah mendekati sang suami kemudian memeluk pria itu dari belakang.


Abi memegang tangan Nina yang melingkari perutnya. Senyumnya terkembang saat Nina membenamkan wajahnya di punggungnya yang sudah tak sekokoh dulu namun masih cukup kuat untuk melindungi istri tercinta. Perlahan dia melepaskan pelukan Nina lalu membalikkan tubuhnya. Kini tangannya yang melingkari pinggang sang istri.


“Belum ngantuk, mas?”


“Mas sengaja menunggumu.”


“Mas..”


“Hmm..”


“Kenapa semakin hari aku semakin jatuh cinta padamu?”


“Itulah pesonaku.”


Nina tersenyum mendengarnya. Jawaban seperti ini sudah menjadi langganan untuknya. Dia melingkarkan tangannya ke leher Abi.


“Dan kamu membuat mas tidak bisa melihat hal lain selain dirimu.”


“Terima kasih sudah menjadi bagian hidupku. Mas adalah malaikat tak bersayap yang Tuhan kirimkan untukku.”


“Dan kamu adalah bidadari surga yang Tuhan datangkan untuk membuat hidupku lebih indah dan berwarna. I love you Karenina Anastasia until my last breath (Aku mencintaimu sampai helaan nafas terakhirku).”


“And I love you till death do us part (dan aku mencintaimu sampai maut memisahkan).”


Abi menundukkan kepalanya kemudian menyatukan kening mereka. Untuk beberapa saat keduanya terdiam menikmati keheningan berbalut kemesraan di antara mereka. Kemudian Abi mulai mencium bibir Nina. Walau telah termakan usia, namun ciumannya masih tetap bisa memabukkan sang istri.


Keduanya mengakhiri ciuman panjang mereka dengan sebuah kecupan hangat. Abi merangkul pinggang Nina lalu membawa istrinya itu ke ranjang. Dia membaringkan Nina ke kasur, baru kemudian dirinya naik dan berbaring di sisi sang istri. Lengannya terulur, Nina mendekatkan diri lalu merebahkan kepala di dada sang suami.


“Have a nice dream my love (mimpi indah, cintaku),” bisik Abi.


“Meet me in your dream (temui aku dimimpimu),” balas Nina.


Sambil berpelukan keduanya memejamkan mata. Senyum tersungging di bibir mereka, menggambarkan kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini. Cinta penuh kesetiaan yang mereka tanam dan kembangkan kini telah membuahkan kebahagiaan, bukan hanya untuk mereka tapi juga untuk orang-orang di sekelilingnya. Dalam setiap helaan nafas mereka berdoa, generasi mereka selanjutnya akan juga merasakan cinta dan kebahagiaan yang mereka rasakan.


\*\*\* T H E E N D \*\*\*


**Akhirnya kisah ini sampai juga ke ujungnya. Terima kasih untuk yang tetap setia mengikuti kisah Abi dan Nina, mulai dari season 1 hingga season 2. Terima kasih atas semua komentar positif kalian yang selalu bisa memberikanku semangat dan ide menulis.


Jangan di unfav dulu ya, masih ada beberaoa bonchap untuk kalian semua.


Sekali lagi terima kasih🙏Semoga kalian suka dengan endingnya dan memberikan kenangan indah di hati.


Nantikan juga karya baruku selanjutnya di lapak ini ya. Love you all and thank you so much😘😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2