
Cakra membuka kamarnya, terlihat Sekar tengah duduk melamun di sisi ranjang. Istrinya itu terjengit ketika sebuah kecupan mendarat di puncak kepalanya. Cakra mendudukkan diri di samping Sekar. Tangannya meraih bahu sang istri kemudian menarik ke dalam dekapannya.
“Mikirin apa hmm?”
“Ngga ada bang. Abang kapan berangkat ke Jepang?”
“Tiga hari lagi.”
Sekar mengesah pelan. Mengingat tiga hari lagi dia akan tinggal terpisah dengan sang suami membuat hatinya sedih. Keputusan papanya sudah bulat, seminggu setelah pernikahan Jojo, sang suami harus berangkat ke Jepang untuk mengurus perusahaan yang didirikan Teddy untuknya.
“Sebulan sekali abang akan pulang. Nanti kalau skripsi kamu udah beres, kamu tinggal nyusul ke sana.”
“Aku ngga suka tinggal di sana bang. Aku mau di sini aja sama abang juga.”
“Mau gimana lagi Se. Papa udah kasih tanggung jawab perusahaan di Jepang sama abang. Lagian itu juga nantinya untuk kamu.”
Sekar memeluk pinggang Cakra. Hatinya benar-benar tak rela harus melepas kepergian sang suami. Bukan hanya jarak yang memisahkan, tapi dia juga takut Cakra akan terkena godaan perempuan di sana. Tiba-tiba Sekar merasakan mual pada perutnya. Dengan cepat dia bangun lalu berlari menuju kamar mandi.
HOEK
HOEK
Cairan bening keluar dari mulutnya. Cakra yang cemas dengan keadaan Sekar, segera menghampiri. Dipijatnya tengkuk sang istri yang masih saja muntah namun tak mengeluarkan apapun.
Setelah membasuh wajahnya, Sekar keluar dari kamar mandi dengan dibimbing Cakra. Pria itu mendudukkan sang istri di sisi ranjang. Dia lalu berjongkok di depan Sekar seraya memegang tangan istrinya.
“Kamu sakit? Aku panggilin dokter ya.”
“Ngga usah bang. Bisa tolong ambilkan sesuatu di laci nakas bang.”
“Ambil apa?”
“Testpack.”
Cakra bangun lalu beranjak menuju nakas dan mengambil testpack dari dalam laci. Matanya membulat melihat alat tes kehamilan itu memperlihatkan tanda positif. Dengan cepat dia menghampiri Sekar.
“Sayang.. ini beneran? Kamu hamil?”
“Iya bang. Tadi sore aku tes, soalnya dari pagi kepalaku pusing dan mual. Ternyata hasilnya positif.”
“Alhamdulillah. Abang akan punya anak, makasih ya sayang.”
Cakra memeluk Sekar, kemudian tangannya mengusap perut sang istri yang masih terlihat rata. Sekar memeluk leher Cakra kemudian memagut bibir lelaki yang sangat dicintainya itu. Cakra menyambut ciuman Sekar, pertautan bibir mereka bertambah dalam dan menuntut. Cakra mengakhiri ciumannya.
“Abang pengen Se, tapi kamu lagi isi gini.”
“Ngga apa-apa bang. Pelan-pelan aja mainnya. Aku juga mau.”
Cakra tersenyum lebar, dia kembali memagut bibir Sekar seraya membaringkan tubuh wanita itu di kasur. Cumbuan demi cumbuan diberikan lelaki itu, membuat Sekar tak bisa berhenti men**sah. Mereka lalu mulai melucuti pakaian satu per satu. Keduanya sudah siap untuk mendayung kenikmatan menuju puncak nirwana.
Cakra memacu tubuhnya di atas Sekar tanpa tergesa. Dia berusaha bermain lembut agar janin di dalam perut sang istri tidak tersakiti. Bibirnya terus memagut dan sesekali menghisap leher juga bahu Sekar. Ketika merasakan Sekar sudah hampir ke puncaknya, Cakra menaikkan temponya sedikit lebih cepat. Dia ingin merasakan pelepasan bersama. Tak lama lenguhan dan erangan mereka terdengar, saat keduanya berhasil menggapai kepuasan bersamaan.
Sekar terkulai lemas dalam dekapan Cakra. Tangannya melingkari pinggang sang suami dan kepalanya menelusup masuk ke dalam dada bidangnya. Cakra menciumi puncak kepala sang istri beberapa kali. Hatinya terus mengucap rasa syukur karena telah diberikan kebahagiaan yang luar biasa indahnya.
☘️☘️☘️
Mendengar kabar kehamilan Sekar, pagi harinya Rahma bersama Teddy datang ke rumah sang menantu. Hatinya begitu senang akan mendapatkan tiga orang cucu sekaligus. Tak lupa dia membawakan makanan kesukaan Sekar. Rahma bahkan meminta Juna juga Abi untuk datang ke rumah Cakra dengan membawa istri masing-masing. Wanita itu ingin sarapan bersama seluruh keluarganya di kediaman anak bungsunya.
Nina langsung memeluk Sekar begitu sampai. Hatinya senang mengetahui adik iparnya itu tengah hamil muda. Berarti jarak kelahiran anaknya dengan anak Nadia juga Sekar hanya berselang hitungan bulan saja.
“Selamat ya Se.. kalau kamu mau apa-apa tinggal bilang sama mas Abi.”
“Iya Se.. mas Juna juga bakalan siap siaga buat kamu. Selama Cakra di Jepang, biar mas Juna juga Abi yang jadi pengganti Cakra.”
“Sudah-sudah jangan ngobrol terus, ayo sarapan.”
Rahma menyela percakapan kedua ibu hamil itu, lalu membimbing Sekar menuju meja makan. Semua pria di keluarga ini sudah duduk di tempatnya masing-masing. Nina dan Nadia segera menyusul duduk di samping pasangannya. Rahma mengambil duduk di samping Sekar. Wanita itu terus memberikan makanan pada sang anak.
“Ma.. aku udah kenyang,” rengek Sekar.
“Makan yang banyak sayang. Ingat sekarang kamu makan bukan hanya untuk dirimu sendiri, tapi juga buat janin yang ada di perutmu.”
“Kamu udah periksa ke dokter?” tanya Juna.
“Belum kak. Sekar juga baru kasih tahunya tadi malam,” Cakra yang menjawab pertanyaan Juna.
“Kamu periksanya di dokter kandunganku aja,” usul Nadia.
“Iya, aku sama kak Nadia kan sama dokternya,” timpal Nina.
“Iya kak. Tapi aku mau ke dokternya nanti sore aja, biar ditemanin bang Cakra.”
“Pagi aja. Kakak kasih libur suamimu hari ini,” tutur Abi.
__ADS_1
“Jangan kak, katanya hari ini ada meeting sama klien penting. Ngga apa-apa sore aja periksanya. Lagian badanku lemes, pengennya tiduran aja.”
“Ya udah periksanya nanti sore aja. Kamu mending istirahat aja ya. Mau mama yang daftarkan?”
“Ngga usah ma, nanti biar aku yang daftar via telepon.”
“Terserah kamu aja sayang.”
Rahma mengusap puncak kepala Sekar kemudian melanjutkan sarapannya. Beberapa kali Cakra menyuapi buah padanya. Sekar melihat penuh haru ke arah sang suami.
“Cakra... karena Sekar sedang hamil. Kamu tidak usah ke Jepang. Biar papa minta Yamada mencari orang yang bisa membantunya mengurus perusahaan.”
“Beneran pa?” tanya Cakra.
“Iya. Keberadaanmu di dekat Sekar lebih penting.”
Cakra mengangguk senang. Akhirnya dia tak harus tinggal berjauhan dengan sang istri. Pria itu melihat ke arah Sekar kemudian tersenyum manis. Sekar hanya membalas dengan senyuman tipis. Batinnya meronta melihat kebahagiaan sang suami.
Maafin aku bang.. maaf..
☘️☘️☘️
Sore harinya Cakra pulang cepat dari kantor agar bisa mengantar sang istri ke dokter kandungan. Bergegas pria itu turun dari mobilnya lalu masuk ke dalam rumah. Seraya memanggil nama Sekar, dia masuk ke dalam kamar. Terlihat Sekar tengah meringkuk dalam balutan selimut. Cakra segera menghampirinya.
“Sayang... ayo kita ke dokter,” Cakra mengusap lembut puncak kepala Sekar.
Melihat kedatangan Cakra, Sekar bangun kemudian menegakkan tubuhnya dengan punggung bersandar pada headboard ranjang.
“Ayo ke dokter.”
“Maaf bang. Tadi pagi abis sarapan aku ketiduran, pas aku telpon, jadwal periksa kandungan hari ini sudah penuh. Jadi aku daftar buat besok bang.”
“Oh gitu. Periksa ke dokter lain aja gimana? Ke klinik bersalin?”
“Ngga ah bang. Aku mau periksanya di dokter kak Nina aja.”
“Ya udah. Abang mandi dulu ya.”
Cakra mengusap puncak kepala Sekar lalu mendaratkan ciuman di keningnya. Pria itu lalu menuju kamar mandi. Mata Sekar terus mengikuti pergerakan sang suami. Perasaan bersalah terus menerpanya, namun dirinya sudah bertekad meneruskan sandiwara yang dibuatnya. Apapun resikonya nanti, dia akan hadapi.
Saat makan malam, Cakra dengan telaten menyuapi Sekar. Kebahagiaan akan segera memiliki momongan membuat pria itu memperlakukan sang istri berkali lipat manisnya. Dan itu sukses membuat perasaan bersalah Sekar semakin mendalam.
Usai membereskan pekerjaan, Cakra masuk ke dalam kamar. dihampirinya Sekar yang tengah bersantai di atas kasur sambil menonton drakor kesukaannya. Cakra merangkak naik ke atas kasur lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Sekar. Kepalanya menghadap ke arah perut, kemudian pria itu mendaratkan ciuman bertubi di perut Sekar.
“Anak papa, baik-baik di dalam sini ya. Jangan menyusahkan mama.”
Hati Sekar bergetar mendengar ucapan Cakra. Matanya mulai berkaca-kaca. Sebisa mungkin dirinya menahan buliran bening yang hendak turun. Cakra membalikkan tubuhnya menjadi telentang. Netranya menatap ke arah sang istri yang masih menatap lurus ke depan.
“Yang.. kira-kira anak kita perempuan atau laki-laki?”
“Abang maunya apa?” tanya Sekar tanpa melihat ke arah Cakra. Jujur saja, dia tak berani menatap mata sang suami.
“Hmm.. kalau boleh memilih, abang pengen punya anak perempuan. Anak kita pasti cantik seperti kamu. Seharian ini abang ngga konsentrasi kerja, abang terus mikirin kamu sama calon anak kita. Bahkan abang udah cari-cari nama yang cocok. Kalau perempuan, abang mau kasih nama Khanza, kalau laki-laki, Adrian. Gimana menurutmu?”
“Bagus bang.”
Sekar tak bisa menahan airmatanya lagi. Butiran itu langsung luruh begitu saja saat mendengar nama yang Cakra rencanakan untuk buah hati mereka. Terkejut melihat sang istri menangis, Cakra bangun kemudian menghapus airmata yang membasahi pipi Sekar.
“Kamu kenapa?”
“Ngga apa-apa bang. Aku cuma bahagia aja. Abang tahu sendiri kalau lagi hamil bawaannya sensitif banget.”
Cakra terkekeh mendengarnya, ditariknya Sekar ke dalam pelukannya. Drama tentang istri hamil memang sering didengarnya dari Abi, Kevin juga Juna. Ketiganya kerap bercerita bagaimana repotnya menghadapi mood ibu hamil yang naik turun. Kini dia pun harus bersiap untuk itu.
“Abang ngga mau lihat kamu nangis. Abang maunya denger kamu men**sah aja.”
Sekar mencubit pinggang suaminya yang selalu berbicara mesum. Cakra tergelak melihat wajah Sekar yang kemerahan. Ditariknya tengkuk Sekar kemudian menyatukan bibir mereka. Cakra mulai memagut dan me**mat bibir yang tak pernah bosan dicecapnya. Terbuai dengan ciuman sang suami, Sekar melingkarkan kedua tangan di leher Cakra. Kini mereka bukan hanya menautkan bibir saja. Tapi sudah membuat persiapan untuk menautkan bagian lain.
☘️☘️☘️
Keesokan harinya, Cakra lagi-lagi pulang lebih awal. Dia sudah tidak sabar untuk mengetahui segala hal tentang kehamilan sang istri. Dengan langkah lebar pria itu memasuki rumah lalu membuka pintu kamar. Nampak Sekar tengah berbaring dengan tubuh terbalut selimut.
“Sayaaang.”
Tak ada jawaban dari Sekar. Cakra bergegas menghampiri kemudian duduk di sisi ranjang. Diguncangkan tubuh Sekar dengan pelan. Perlahan Sekar membuka matanya. Wajah Cakra yang tengah tersenyum langsung menyambutnya.
“Ayo kita ke dokter.”
“Badan aku lemes bang.”
“Makanya harus ke dokter, biar kamu dikasih vitamin.”
“Besok aja bang. Badanku lemes banget, dari siang aku ngga berhenti muntah.”
__ADS_1
“Aku gendong ya. Nanti di rumah sakit bisa pake kursi roda.”
“Ngga mau, udah kaya orang jompo aja.”
Cakra terkekeh mendengarnya. Setelah mencium kening istrinya, pria itu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Usai mandi dan berpakaian, Cakra keluar dari kamar lalu menuju ruang kerjanya. Di sana dia menghubungi temannya yang seorang dokter kandungan untuk memeriksa keadaan sang istri.
Sekar terkejut selepas shalat isya, Cakra membawa seorang wanita masuk ke dalam kamar. Yang membuatnya terkejut bukan keberadaan wanita itu melainkan peralatan yang dibawanya. Jantung Sekar langsung berdegup kencang.
“Sayang, kenalin ini temanku, Melati. Dia itu dokter kandungan. Karena kamu ngga bisa ke rumah sakit, jadi aku panggil ke sini aja buat periksa kamu. Mel, ini Sekar, istriku. Tolong diperiksa ya. Katanya dari siang muntah-muntah terus sama badannya lemas.”
“Iya Cak.”
“Aku tinggal ya.”
Cakra keluar dari kamar untuk memberi waktu pada Melati memeriksa keadaan sang istri. Sekar menggigit bibirnya ketika melihat Melati mulai mengeluarkan peralatan untuk memeriksanya. Dokter kandungan itu mendekat kemudian memeriksa keadaan istri dari temannya itu. Sekar pasrah saja jika rahasianya terbongkar.
Begitu pintu kamar terbuka, Cakra bergegas menghampiri. Raut wajahnya sulit diartikan, antara cemas dan juga bahagia. Melati melihat sesaat pada pria di hadapannya itu. Agak bingung bagaimana mengatakan hal yang terjadi pada Sekar.
“Gimana Mel, keadaan istriku?”
“Dia baik-baik aja.”
“Kandungannya? Kamu bisa kan kasih obat pereda mual atau vitamin biar tubuhnya ngga lemas.”
“Dia ngga perlu itu Cak. Lebih baik kamu masuk. Ada yang ingin dibicarakan oleh istrimu. Aku pulang dulu ya.”
Melati menepuk pelan pundak Cakra kemudian berlalu meninggalkan pria itu. Cakra menatap bingung. Matanya terus mengikuti pergerakan Melati sampai menghilang dari pandangannya. Kemudian dia bergegas masuk ke dalam kamar. Sekar duduk di sisi ranjang dengan kepala tertunduk.
“Sayang..” Cakra berjongkok di depan Sekar seraya menggenggam kedua tangannya.
Sekar mengangkat kepalanya. Netranya menatap dalam ke arah sang suami yang wajahnya nampak cemas juga bingung. Tangis Sekar pecah begitu saja, membuat Cakra semakin bingung.
“Maafin aku bang, maaf.”
“Maaf kenapa sayang? Kamu kenapa nangis?”
“Aku... aku sebenarnya ngga hamil bang.”
Cakra tercenung sesaat, mencoba memahami apa yang baru saja didengarnya. Melihat tak ada reaksi dari sang suami, Sekar mengulangi ucapannya.
“Aku ngga hamil bang.”
Genggaman Cakra seketika terlepas begitu mendengar ucapan kedua sang istri. Dia berdiri kemudian beranjak sedikit menjauh. Raut kekecewaan tergambar jelas di wajahnya. Sekar berdiri kemudian menghampiri, namun Cakra memajukan tangannya pertanda tak ingin didekati.
“Kenapa Se? Kenapa kamu bohongin aku?”
“Maaf bang.. aku terpaksa.”
“Terpaksa? Apa aku pernah menuntutmu cepat memiliki anak?”
“Bukan bang.. bukan itu alasannya. Aku terpaksa melakukannya karena aku ngga mau abang pergi ke Jepang. Aku ngga mau tinggal terpisah sama abang.”
Cakra meremat rambutnya, matanya menatap tak percaya pada sang istri. Hanya karena tak ingin tinggal terpisah, Sekar tega membohonginya. Membuatnya berangan tinggi kemudian menghempaskannya seketika.
“Kamu kekanakan Se... kalau soal LDR, kita bisa membicarakannya baik-baik. Kita bisa cari solusi bersama bukan membohongiku seperti ini.”
“Maaf bang.. aku terpaksa. Abang tahu sejak awal aku ngga berminat dengan perusahaan di Jepang. Keinginanku sederhana bang, hidup bersama dengan abang dan dekat dengan keluarga.”
“Perusahaan itu tanda kasih sayang papa padamu, Se.”
“Aku ngga butuh itu bang! Aku ngga butuh!”
“Kamu bisa bilang seperti itu karena sejak kecil kamu tidak pernah hidup kekurangan. Apa kamu tahu di luar sana banyak orang yang ingin berada di posisimu? Harusnya kamu bersyukur, bukan bersikap kekanakan seperti ini.”
Sekar mendekat ke arah Cakra kemudian meraih tangan suaminya itu. Matanya dipenuhi sorot penyesalan. Reaksi Cakra sungguh di luar dugaannya. Tadinya dia berpikir kalau Cakra akan dengan mudah memaafkannya, seperti yang sudah-sudah. Tapi kali ini berbeda. Cakra nampak begitu kecewa dan marah.
“Bang.. maaf..”
“Apa aku hanya lelucon bagimu, Se? Aku memang mencintaimu tapi bukan berarti kamu bisa berbuat seenaknya padaku. Dengan mudahnya kamu meminta maaf setelah membohongiku. Apa kamu tahu betapa bahagianya aku waktu tahu kamu hamil? Tapi ternyata, itu semua hanya kebohongan. Selamat Se, kamu sukses memberiku harapan palsu!”
Cakra menghempaskan tangan Sekar dengan kasar kemudian beranjak pergi. Sekar segera mengejar lalu memeluk tubuh pria itu dari belakang. Cakra berusaha melepaskan diri namun Sekar mengeratkan pelukannya.
“Maafin aku bang. Aku janji ngga akan mengulanginya.”
Cakra melepaskan pelukan Sekar di pinggangnya kemudian keluar dari kamar seraya membanting pintu. Tubuh Sekar luruh jatuh ke lantai, tangisnya pecah seketika. Sejak awal mengenal Cakra, baru kali ini pria itu meninggikan suara dan mengabaikan dirinya.
☘️☘️☘️
**Jojo sama Muh lagi bulan madu dan mereka larang buat ekspos. Jadinya mamake intip kehidupan rumah tangga Sekar ama Cakra aja ya.
Maaf baru bisa up lagi. Karena badan ngga fit, mood jadi naik turun. Mamake juga ngga bisa nyusun alur dengan benar, makanya mamake rehat sejenak buat tancap gas lagi. Mudah²an bsk sudah bisa up seperti biasanya.
Terima kasih buat semua doa readers semua. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan, aamiin...
__ADS_1
Mamake mau promo lagi nih. Yang udah baca Perjaka dan Tiga Janda, sekarang udah ada season 2 nya nih. Cuss kepoin kehidupan Jaka yang udah ngga perjaka lagi dengan ketiga jandanya**.