KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Super Kenzie


__ADS_3

Pagi-pagi Kenzie sudah keluar dari rumah. Dia bahkan melewatkan sarapan karena banyak hal yang harus diselesaikannya hari ini. Pria itu harus sampai di kantor sebelum jam makan siang karena Nara akan masuk pasca makan siang nanti sambil membawakan makan siang, sesuai permintaannya.


Kenzie memacu kendaraannya menuju daerah Ujungberung. Semalam Duta memberikan informasi keberadaan Ferina. Sepertinya kecurigaan Kenzie menemukan titik terang. Karenanya dia memutuskan untuk menemui Ferina langsung.


Mobil yang dikendarai Kenzie berbelok ke arah kiri, menuju perumahan Pasir Jati. Setelah melewati beberapa belokan dan tanjakan, akhirnya Kenzie sampai juga di perumahan yang dimaksud. Dia membelokkan kendaraan ke arah kanan begitu melihat plang jalan bertuliskan Karang Pasundan II. Kemudian menghentikan mobil di sebuah rumah bercat hijau.


Sejenak Kenzie memandangi rumah di depannya, memastikan kalau benar ini adalah alamat yang dituju. Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah begitu mendengar suara mobil berhenti. Keningnya berkerut melihat pria muda yang tak dikenalnya berdiri di depan rumah.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Cari siapa ya?” tanya ibu itu.


“Maaf bu, apa benar ini rumah Ferina Meylani?”


“Iya betul. Adek siapa ya?”


“Perkenalkan, saya Kenzie. Bisa saya bertemu dengan Ferina, bu?”


Kenzie mengulurkan tangannya ke arah wanita di depannya. Walau masih bingung namun wanita tersebut menyambut uluran tangan Kenzie. Kemudian mempersilahkan tamunya untuk masuk.


Mata Kenzie berkeliling menatap deretan foto yang terpajang di dinding. Terdapat juga foto Ferina di sana bersama dengan kedua orang tua dan perempuan yang lebih muda darinya. Sepertinya itu adalah adik dari Ferina. Tak lama wanita tadi datang bersama dengan Ferina. Keduanya duduk berhadapan dengan Kenzie.


“Kamu siapa?” tanya Ferina to the point.


“Saya Kenzie. Maaf sebelumnya, kamu mungkin tidak mengenal saya. Tapi ada yang perlu saya tanyakan padamu.”


“Soal apa?”


“Soal kejadian dua tahun lalu saat kamu mengundurkan diri dari ajang ratu kecantikan.”


Wajah Ferina langsung berubah begitu mendengar peristiwa yang ingin dilupakannya. Mengikuti ajang ratu kecantikan seperti musibah untuknya. Bukan hanya dirinya harus kehilangan gelar yang hampir diraih, namun ada kejadian yang membuat dirinya harus menghabiskan waktu selama enam bulan keluar masuk rumah sakit.


“Maaf, aku ngga mau membicarakan soal itu. Lebih baik kamu pergi.”


“Tolong Fer, saya tahu kamu mengalami ketidakadilan pada waktu itu. Saya hanya ingin tahu kejadian yang sebenarnya, dan kalau memungkinkan saya akan membantu kamu.”


“Ngga.. saya ngga mau. Sudah cukup hidup saya hancur saat itu. Saya ngga mau berhubungan dengan dua orang itu lagi.”


“Maksudmu Chika dan Cheryl.”


Lagi Ferina dibuat terkejut dengan ucapan Kenzie. Wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Ferina memilih masuk ke dalam untuk memanggil adik Ferina. Sebagai seorang ibu, hatinya sakit melihat sang putri diperlakukan tak adil waktu itu. Namun sebagai orang biasa, mereka hanya bisa pasrah saat orang yang lebih berkuasa menekan dan membungkam mereka. Hanya Soraya, adik Ferina yang tak pernah berhenti menuntut keadilan sampai sekarang, walau hasilnya tetap nihil.


“Saya ngga kenal mereka,” sangkal Ferina.


“Ngga mungkin kamu ngga kenal Chika. Kalian kan berkompetisi di ajang yang sama.”


“Cuma tahu tapi ngga kenal.”


“Tolong bantu saya. Saya sedang menyelidiki kasus ini. Saya bisa membantu, asal kamu mau menceritakan dengan jelas kejadian waktu itu.”


“Dengar.. saya benar-bener ngga tahu apa yang kamu maksud. Lebih baik kamu pergi sekarang.”


“Biar saya yang ceritakan.”


Kenzie dan Ferina mengarahkan pandangannya ke arah datangnya suara. Soraya yang telah mendengar apa yang dikatakan Kenzie langsung menyambut penawaran pria itu. Gadis berumur sekitar 22 tahun itu mendekat lalu duduk di samping sang kakak.


“Masuk Aya, jangan ikut campur.”


“Ngga bisa kak. Udah saatnya kakak mendapat keadilan. Dua orang itu sudah menyusahkan hidup kakak. Ayolah kak, kita berjuang lagi. Kakak beneran mau bantu kita kan?”


“Ceritakan semua yang terjadi. Saya janji akan membantu kalian.”


Ferina menoleh ka arah sang adik kemudian menggelengkan kepalanya. Namun Soraya bergeming. Susah payah dia mengumpulkan bukti dan kini saat ada orang yang mau membantunya, tak mungkin melewatkan kesempatan begitu saja. Gadis itu membuka ponsel yang sedari dipegangnya. Jarinya menscroll mencari sebuah video, kemudian menunjukkannya pada Kenzie.


Dalam rekaman video Ferina dan Cheryl berada di ruang rias. Cheryl menawarkan Ferina untuk mencoba foundation dan bedak dari Inner Beauty. Tentu saja dengan senang hati Ferina mau mencobanya. Inner Beauty adalah brand kualitas tinggi yang namanya sudah dikenal baik dalam negeri maupun manca negara. Banyak artis papan atas yang menggunakan produk tersebut. soraya yang ada bersama mereka berinisiatif merekam bagaimana Cheryl mendandani sang kakak.


“Dua jam setelah kakak didandani, tiba-tiba kakak merasakan wajahnya panas dan gatal. Kulit wajahnya bukan hanya memerah tapi juga melepuh di beberapa bagian. Ini fotonya.”


Soraya kembali menunjukkan beberapa foto yang memperlihatkan kondisi Ferina saat itu. Wajah cantik Ferina penuh dengan bercak merah, bahkan kulit di bagian kening, dagu dan lehernya melepuh.


“Kakak langsung dibawa ke rumah sakit. Dokter bilang, kakak keracunan. Saat itu kami tidak berpikir kalau semua akibat make up yang dipakai kakak. Panitia langsung memeriksa makanan yang dikonsumsi oleh semua peserta. Anehnya hanya kakak yang keracunan, sedang yang lain tidak. Lalu aku melihat Cheryl membuang alat make up yang tadi digunakan pada kakak. Aku langsung ambil itu buat bukti.”


“Lalu.”


Soraya hanya menggelengkan kepala. Saat interogasi Chika mengelak kalau penyebab Ferina keracunan berasal dari kosmetiknya. Dia menunjukkan foundation dan bedak miliknya pada panitia. Bahkan wanita itu memakai itu untuk membuktikan kalau produk itu aman. Karena dia anak pemilik Inner Beauty tentu saja semua orang lebih mempercayainya.


“Aku ada rencana buat uji lab founation dan bedak yang aku ambil dari tempat sampah. Tapi ternyata biayanya mahal. Biaya perawatan kakak juga mahal, jadi kami lebih memilih mengobati kakak lebih dulu. Aku sempat menghubungi teman-temanku yang biasa menulis berita online untuk menulis kisah kakak. Tapi umur berita hanya bertahan sehari, setelah itu hilang tanpa jejak.”


“Saya menemukan sebuah berita soal kejadian yang menimpa kakakmu. Mungkin itu salah satu yang tersisa.”


“Bisa jadi kak.”


“Kamu sudah menguji kosmetik yang kamu ambil?”


“Belum.”


“Biar saya yang uji kalau kamu percaya saya.”


“Maaf sebelumnya. Tapi kakak ini siapa? Kenapa kakak tertarik dengan kasus kakakku?”

__ADS_1


Kenzie mengambil dompet lalu mengeluarkan sebuah kartu nama. Tangan Soraya terulur mengambil kartu tipis tersebut. Matanya membulat saat mengetahui yang saat ini tengah berhadapan dengannya adalah wakil CEO Metro East. Salah satu perusahaan besar di Indonesia juga Asia.


“Perusahaan kami akan mengeluarkan produk apparel terbaru. Rencananya Cheryl yang akan menjadi brand ambassadornya. Saya perlu tahu soal model yang akan membawa nama baik produk saya dan menemukan kasus kakakmu.”


Soraya bangun dari duduknya kemudian masuk ke dalam kamarnya. Tak lama dia kembali dengan membawa pouch kecil lalu duduk di tempat semula. Gadis itu menyerahkan pouch yang berisi foundation juga bedak yang dulu digunakan Cheryl.


“Terima kasih. Saya akan memeriksanya hari ini juga.”


Ucapan Kenzie terhenti ketika ponselnya berdering. Nama Fathan tertera di layar ponselnya. Pria itu beranjak sedikit menjauh untuk menjawab panggilan sang asisten. Tak lama dia kembali.


“Hari ini Cheryl dan ibu Sinta akan datang ke kantor untuk membicarakan pembatalan penandatanganan kontrak Cheryl. Apa kalian bersedia ikut bersama saya? Saya perlu bukti juga saksi agar bisa membatalkan kontrak Cheryl.”


“Maaf saya ngga bisa,” jawab Ferina.


“Kak.. ayolah, ini kesempatan kita kak. Dia harus mendapat balasan atas apa yang sudah dilakukannya. Bukan cuma Cheryl tapi juga Chika. Aku yakin keduanya bersekongkol untuk menjatuhkan kakak waktu itu.”


“Tapi aku takut. Apa kamu lupa kita pernah diteror dan beberapa preman terus mendatangi rumah kita mengancam akan menyakiti ibu kalau kita terus mengganggu mereka.”


“Saya yang akan melindungi kalian. Nanti saya akan mengirimkan tim keamanan untuk menjaga kalian. Bagaimana? Keadilan harus ditegakkan bukan?”


Ferina tak langsung menjawab, wanita itu masih menimbang-nimbang tawaran Kenzie. Soraya terus meyakinkan sang kakak agar berani berjuang menuntut keadilan. Akhirnya Ferina menganggukkan kepalanya tanda setuju.


“Kalian bisa ikut saya sekarang?”


“Kami akan berganti pakaian dulu.”


Kenzie hanya menganggukkan kepalanya. Kedua wanita itu kemudian masuk ke dalam kamar untuk bersiap. Kenzie menghembuskan nafas lega, akhirnya dia bisa menemukan alasan kuat untuk membatalkan kontrak Cheryl. Kemudian pria itu menghubungi salah satu anak buah Dendi untuk menemuinya di kantor.


Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, Ferina juga Soraya sudah siap berangkat. Keduanya berpamitan pada sang ibu lalu mengikuti Kenzie masuk ke dalam mobil. Dengan segera anak sulung Abimanyu itu memacu kendaraannya. Hari ini dia memang berpacu dengan waktu.


☘️☘️☘️


Kedatangan Kenzie disambut oleh Duta yang sudah menunggunya di lobi. Pria itu memberikan pouch yang tadi diberikan Soraya kepada Duta. Kening pemuda itu berkerut melihat alat kecantikan wanita yang ada di dalamnya.


“Bawa itu ke lab dan minta diuji apakah ada kandungan zat berbahaya di dalamnya. Saya mau hari ini juga hasilnya sudah keluar.”


“Baik pak.”


Duta menundukkan kepalanya kemudian berlalu pergi. Soraya dan Ferina kini benar-benar percaya kalau pria yang bersamanya adalah orang penting dan berkuasa. Kenzie mengajak keduanya menuju lift khusus petinggi. Saat mereka akan masuk, terdengar suara Fathan dari arah belakang mereka.


“Ken..” Fathan bergegas menghampiri atasannya itu.


“Lo ditunggu pak Abi di ruangannya sekarang. Bu Sinta sama Cheryl juga udah dateng. Gila tuh cewek sampe geret ibunya ke sini.”


“Ck.. dasar anak manja. Udah gede masih aja ngumpet di ketek ibunya. Ayo..”


TING


Pintu lift terbuka. Kenzie dan Fathan lebih dulu keluar disusul oleh Ferina juga Soraya. Melihat kedatangan sang wakil CEO, Fadil segera membukakan pintu ruangan Abi. Ferina menggenggam erat tangan sang adik saat memasuki ruangan. Matanya menangkap tiga orang tengah duduk di sofa menunggu kedatangan mereka. Kenzie mempersilahkan kedua wanita itu untuk duduk.


Dada Ferina semakin berdebar kencang saat bertatapan dengan Cheryl. Wanita itu nampak terkejut melihat kehadiran Ferina. Cheryl terlihat sedikit cemas. Kenzie tersenyum tipis, mengajak Ferina bersamanya adalah keputusan yang tepat. Sedikit banyak hal itu mempengaruhi mental Cheryl.


“Siapa mereka?” tanya Abi.


Ferina menundukkan kepalanya saat Abi melihat ke arahnya. Pria paruh baya itu memiliki aura yang begitu kuat. Jujur saja, Ferina takut bersitatap dengannya. Setali tiga uang, Soraya pun merasakan hal yang sama. Belum apa-apa telapak tangannya sudah berkeringat dingin.


“Saya sudah berjanji memberikan jawaban atas pertanyaan bapak kemarin. Dan dua orang ini adalah saksi dari bukti yang saya bawa untuk membatalkan kontrak Cheryl.”


“Apa maksudmu Ken? Tante tidak mengerti, ada masalah apa kamu dengan Cheryl? Kejahatan apa yang sudah anak tante lakukan?”


Kenzie melihat ke arah Soraya. Tahu akan kode yang diberikan Kenzie, Soraya mengeluarkan ponselnya. Dia membuka galeri kemudian menunjukkan video yang tadi dipertontonkan kepada Sinta.


“Apa ada yang salah? Di sini Cheryl hanya bantu merias kamu saja kan?” Sinta melihat ke arah Ferina.


“Dua jam setelah itu, Ferina harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami iritasi kulit,” sahut Kenzie.


Beberapa foto diperlihatkan Soraya kepada Sinta. Wanita berusia hampir lima puluh tahun itu terkejut melihat kondisi Ferina. Sebagai orang yang berkecimpung lama dalam bisnis kosmetik dan kecantikan, tentu saja dia paham kalau yang terjadi pada Ferina kemungkinan besar karena kosmetik yang dikenakannya.


“Dokter mengatakan kalau Ferina keracunan zat berbahaya. Dan itu berasal dari kosmetik yang kamu gunakan untuk meriasnya,” Kenzie menunjuk pada Cheryl.


“Ngga.. itu ngga benar. Aku udah membuktikannya waktu itu,” sangkal Cheryl.


“Iya kamu memang membuktikan dengan memakai kosmetik yang sama. Tapi kamu memakai produk yang asli sedang kosmetik yang kamu gunakan pada kakakku sudah kamu buang.”


“Soraya berhasil mengamankan barang bukti. Sekarang kosmetik itu sedang diperiksa di lab. Kalau ternyata terbukti kalau kosmetik yang digunakan Cheryl pada saat itu mengandung zat berbahaya, tante pasti tahu konsekuensi apa yang akan diterima.”


Terkejut dengan penuturan Soraya dan Kenzie, Sinta melihat ke arah sang anak. Cheryl menundukkan kepalanya dalam. Tanpa sang anak berkata, wanita itu sudah mengetahui kalau asumsi Kenzie benar adanya. Sinta memejamkan matanya, rasa marah, kesal sekaligus malu menderanya. Bisa-bisanya sang anak menjatuhkan kotoran ke wajahnya.


“Cheryl.. keterlaluan kamu!” kesal Sinta.


“Ma.. bukan aku ma. Beneran.”


“Mama ngga mau dengar alasanmu. Kita tunggu saja hasil pemeriksaan. Kalau benar terbukti kamu sengaja memasukkan zat berbahaya ke dalam kosmetik, mama sendiri yang akan menghukum kamu!”


Cheryl menggelengkan kepalanya dengan kuat. Dia benar-benar takut akan ancaman sang mama. Sinta bukanlah sosok ibu yang memanjakan anaknya, dia tak segan menghukum anaknya yang berbuat salah. Sikap tegasnya itu berhasil mendidik kedua kakak Cheryl yang kini membantunya di perusahaan.


Berbeda dengan Cheryl, sejak kecil anak bungsunya itu tinggal bersama mantan suaminya dan berada di bawah asuhan sang nenek. Perbedaan cara pengasuhan, membuat Cheryl tumbuh menjadi anak yang manja dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Saat SMA Cheryl baru tinggal bersama dengan Sinta, setelah nenek Cheryl meninggal dunia dan ayahnya mengalami kebangkrutan.


“Tante tunggu hasil lab secepatnya Ken. Kalau benar terbukti, biar tante yang menghukum Cheryl. Pak Abi, saya benar-benar minta maaf atas semua ini. Saya setuju kalau Kenzie mau membatalkan kontrak Cheryl.”

__ADS_1


“Ma..”


“Diam!!”


Tangan Sinta mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia menghubungi dua orang anak buahnya yang selalu mengawalnya kemana pun wanita itu pergi. Cheryl menatap penuh kebencian pada Ferina juga Soraya. Kedatangan dua wanita itu membawa petaka dalam hidupnya. Dirinya sudah bisa membayangkan hukuman macam apa yang akan diberikan sang mama padanya.


“Sekarang katakan alasan kamu melakukan itu semua. Apa itu untuk membantu Chika supaya menjadi juara ratu kecantikan?” tanya Kenzie.


Tak ada niat Cheryl untuk menjawab pertanyaan Kenzie. Gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat. Walau Cheryl adalah anak manja, egosi dan sedikit licik, namun dia adalah tipe orang yang setia kawan.


“Apa benar begitu Cher?” tanya Sinta.


“Ngga. Karena aku ngga melakukan apa-apa. Chika murni menang karena dirinya sendiri.”


“Kalau begitu kenapa kamu dan Chika sampai mengancam Ferina untuk tutup mulut? Apa perlu aku putar rekaman suara saat kamu dan Chika mengancamnya saat di rumah sakit?” lanjut Kenzie.


Soraya melihat ke arah Kenzie. Dia memang menceritakan tentang rekaman suara itu tapi rekaman tersebut sudah tak ada karena para preman yang dikirim Cheryl sudah menghapusnya.


“Jangan ngaco kamu Ken.”


“Kenapa? Kamu pikir aku ngga bisa membuktikan ucapanku. Aya, mana rekaman itu,” Kenzie menggerakkan tangannya ke arah Soraya.


“Ngga mungkin rekaman itu masih ada. Anak buah yang kukirim sudah menghapusnya!!”


Segurat senyum tipis tergambar di wajah Abi melihat aksi sang anak. Tekanan Kenzie berhasil membuat Cheryl mengakui perbuatannya secara tidak langsung. Sinta tentu saja terkejut mendengarnya.


“Cheryl! Berarti benar kamu sengaja merusak wajah Ferina,” wajah Sinta nampak merah padam.


“Maaf ma, aku cuma mau bantu Chika.”


“Apa yang kamu masukkan ke dalam kosmetik itu?”


“Aku ngga masukkin apa-apa, ma. Kosmetik yang aku pakai kosmetik yang udah kadaluarsa dua tahun.”


“Astagfirullah..”


Sinta memegangi keningnya, tak percaya mendengar penuturan putrinya barusan. Soraya yang kesal akan pengakuan Cheryl hendak melabraknya namun Ferina segera menahannya. Di saat tegang seperti itu, terdengar ketukan di pintu. Tak berapa lama Fadil masuk bersama dua orang pria bertubuh tegap.


“Pak Sapto, tolong bawa pergi Cheryl. Kurung dia di dalam kamarnya. Jangan biarkan dia keluar sampai saya pulang.”


“Baik bu.”


Pria bernama Sapto itu bersama rekannya menghampiri Cheryl lalu membawa gadis itu pergi. Cheryl berusaha berontak, namun tenaganya tak cukup kuat melawan dua orang pengawal Sinta yang bertubuh kekar. Sepeninggal Cheryl, Sinta melihat ke arah Ferina.


“Ferina, saya mohon maafkan anak saya. Saya tahu kalau penderitaan yang kamu alami tidak bisa digantikan dengan materi, tapi hanya itu yang bisa saya lakukan saat ini. Saya mohon jangan laporkan Cheryl ke polisi. Biarkan saya yang menghukum anak itu. Saya akan pastikan dia menerima hukuman setimpal. Tolong percaya saya.”


Sinta menangkupkan kedua tangannya, matanya menyiratkan penyesalan yang dalam. Percaya akan ketulusan wanita di hadapannya, Ferina menganggukkan kepalanya. Sinta lalu melihat ke arah Kenzie.


“Terima kasih Ken, karena kamu tante bisa tahu kesalahan apa yang anak tante lakukan. Soal kontrak, sekali lagi tante setuju kamu membatalkannya. Pak Abi, saya minta maaf kalau sudah membuat kegaduhan. Saya permisi dulu.”


Sinta berdiri dari duduknya. Abi juga Kenzie ikut berdiri, begitu pula dengan Ferina dan Soraya. Setelah menjabat tangan Abi juga Kenzie, Sinta menghampiri Ferina. Diraihnya tangan wanita itu dan digenggamnya erat.


“Terima kasih Ferina atas kebaikan hatimu. Dari hati paling dalam, atas nama Cheryl saya minta maaf. Kalau boleh, bisakah kamu ke kantor saya besok? Saya ingin mengganti semua biaya yang sudah kamu keluarkan untuk perawatan dan ingin mengajukan penawaran untukmu.”


“Penawaran apa bu?”


“Jadi model salah satu produk kosmetik Inner Beauty, kamu maukan?”


“Ibu serius?”


“Iya. Saya tunggu besok di kantor.”


Sinta mengusap punggung tangan Ferina kemudian beranjak pergi. Tak lupa dia melemparkan senyuman ke arah Soraya.


“Kak.. terima kasih sudah membantu kami,” ucap Soraya.


“Sama-sama. Saya juga berterima kasih pada kalian. Than, suruh pak Ahmad antar mereka pulang.”


Fathan mengajak Ferina dan Soraya keluar dari ruangan. Kini hanya tinggal Kenzie dan Abi saja di ruangan. Abi menghampiri sang anak lalu menepuk pundaknya.


“Good job, Ken. Selain melindungi Nara, kamu juga membantu orang yang teraniaya.”


“Bukan melindungi Nara, pa. Aku hanya memastikan kalau kita ngga memilih brand ambassador yang salah.”


“Kalau ngga ada hubungannya dengan Nara, apa mau kamu cari tahu soal Cheryl? Ngeles mulu, sana kerja.”


Abi kembali ke belakang meja kerjanya. Kenzie pun langsung keluar dari ruangan sang ayah. Kalau terlalu lama di dalam, bisa-bisa Abi akan meledeknya terus menerus. Perasaannya kini sudah sedikit tenang, dia sudah bisa menyingkirkan Cheryl. Target selanjutnya Chika, Lucky dan Veruca.


☘️☘️☘️


**Good job Ken.. Tapi jangan gengsi juga dong kalo udah lope² ama neng Nara😘


Kemarin ngga nunggu mamake up kan? Karena tiap Jumat, mamake istiqomah ngga up🤭


Buat yg minta crazy up, mohon maaf mamake ngga bisa🙏 Selain kesibukan di RL, mamake juga lagi garap 3 judul novel sekaligus, jadi harus bisa jaga porsi dan konsentrasi. Tapi mamake usahakan tiap up selalu panjang biar kalian puas bacanya🤗


Happy Weekend all readers😘😘😘


Oh iya mohon doanya ya, mulai besok tim bulu tangkis kita akan berjuang buat mempertahankan piala Thomas dan bawa pulang piala Uber. Buat penggemar Anthony Ginting dkk, jangan lupa nonton perjuangan mereka**.

__ADS_1


__ADS_2