KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Bonus Dari Kenan


__ADS_3

Jihan memandangi kelima orang yang bersekongkol dengan dirinya mengerjai Anya sambil melipat kedua tangannya. Hanya mereka berenam dalam ruangan itu. Ruangan interogasi yang biasa digunakan para pengawal keluarga Hikmat. Ruangannya sendiri disetting seperti ruang penyidikan pada umumnya. Ruang tertutup dengan sebuah kaca besar di samping. Dibalik kaca tersebut ada ruangan lain. Dari sana bisa terlihat dan terdengar apa yang terjadi di dalam ruang sebelah.


Viren, Ravin, Haikal dan Alisha didampingi oleh Duta mengawasi Jihan yang sengaja dikonfrontasi langsung oleh mereka. Sejak dijemput dari rumahnya, Jihan selalu mengelak dan pura-pura tak mengerti apa yang terjadi. Viren sengaja mengatakan pada Jihan kalau para komplotannya yang telah menyebut nama Jihan sebagai dalangnya.


“Kan gue udah bilang jangan bawa-bawa nama gue. Kalau kalian gagal, tanggung sendiri akibatnya. Ngerjain satu cewek aja ngga becus.”


“Gila lo, Ji. Kita tuh lakuin semua yang lo rencanain. Awalnya kita cuma mau nakutin Anya pake setan jadi-jadian. Tapi elo malah manggil setan asli. Kalau ada apa-apa sama Anya, kita yang bakal kena getahnya!” kesal salah satunya.


“Ya kalo pake setan bohongan, ngga mempan dodol!”


“Tapi sekarang lihat! Kita yang kena getahnya, dan lo dengan seenaknya cuci tangan begitu aja. Lo yang harusnya dapet hukuman paling berat.”


“Orang tua gue itu sahabatnya orang tuanya Anya. Mereka pasti ngga percaya kalau gue yang rencanain ini semua.”


“Lo emang kejam, Ji. Lo tahu orang tua kalian bersahabat, tapi lo masih tega ngerjain Anya kaya tadi.”


“Karena gue ngga suka sama dia!”


BRAK!!


Semua yang ada di dalam terkejut ketika pintu terbuka dengan kasar. Dengan santai Jihan menolehkan kepalanya. Namun dia terkejut ketika melihat Aric yang berdiri di dekat pintu. Gadis itu menelan ludahnya kelat melihat wajah Aric yang mengeras dan menatapnya dengan tajam. Dia semakin tercekat melihat Kenan di belakang Aric.


Tak berapa lama Jamal masuk lalu membawa semua yang ada di dalam untuk dipindahkan ke ruangan lain, kecuali Jihan. Kini hanya tersisa Jihan, Aric dan Kenan. Aric menarik kursi, dia perlu mendudukkan diri agar bisa sedikit meredam emosinya.


“Kenapa Ji? Kenapa kamu melakukan itu pada Anya?”


“Melakukan apa bang?”


“Ngga usah ngeles lagi, lo. Apa perlu gue putar ulang rekaman omongan kalian tadi?!” bentak Kenan yang sudah muak melihat Jihan yang terus menyangkal.


“Aku cuma bercanda bang. Mereka aja yang keterlaluan.”


Dengan kesal Kenan menaruh ponsel di mana terdapat chat dari Jihan mengirimkan audio berisi mantra pemanggil setan dan lagu lingsir wengi. Wajah Jihan berubah pucat dan mulai terlihat gelisah. Apalagi wajah Aric dan Kenan jauh dari kata ramah.


“Apa salah kami padamu? Selama ini aku dan orang tuaku selalu bersikap baik padamu. Walau kamu tidak terlalu akrab dengan Anya, tapi bukan berarti kalian bermusuhan. Anya juga tidak pernah melakukan hal yang merugikan dirimu apalagi mencelakaimu. Apa kamu tahu apa yang kamu lakukan itu bisa membahayakan Anya? Dia bisa saja terkena serangan jantung atau mati ketakutan. APA KAMU TAHU ITU?!!”


Jihan terkesiap mendengar teriakan kencang Aric diiringi gebrakan tangannya di meja. Selama ini Jihan mengenal Aric sebagai sosok yang ramah, namun kali ini semua predikat pria baik seolah hilang darinya.


“Maaf bang.. maaf..” Jihan mulai menangis, Kenan berdecih melihatnya.


“Airmata buaya,” ketus Kenan.


Pintu ruangan kembali terbuka, Gurit muncul bersama dengan Radix. Dengan lembut dan nada memohon, pria itu meminta Aric dan Kenan memberinya waktu berbicara dengan Jihan. Menghargai persahabatan orang tuanya, Aric memberikan waktu pada Gurit. Dia dan Kenan keluar dari ruangan.


“Duduk!” titah Gurit.


Jihan menarik kursi di depan kursi yang tadi Aric duduki, kini sudah berganti sang papa, dengan Radix duduk di sampingnya. Hatinya sedikit lega melihat kedatangan Gurit. Gadis itu berharap Gurit akan menyelamatkannya. Cukup lama Gurit memandangi wajah putri bungsunya. Kesedihan, kekecewaan dan kemarahan menghantamnya bersamaan. Dia merasa gagal menjadi orang tua.


“Apa papa pernah melakukan kesalahan padamu, Ji?” tanya Gurit.


“Ngga pa.”


“Lalu kenapa kamu tega melakukan semua ini? Kamu tahu hubungan papa dan tante Sekar seperti apa. Teganya kamu menghancurkan begitu saja. Kenapa ngga sekalian kamu kasih racun ke papa, biar papa mati.”


“Papa maaf,” Jihan mulai menangis.


“Apa airmatamu itu akan bisa menyelesaikan segalanya? Apa tangisanmu itu bisa menyelamatkan muka papa di hadapan tante Sekar? Di hadapan keluarga besar Hikmat? Mereka selama ini selalu bersikap baik pada papa, dari mulai papa muda sampai sekarang. Tapi berkat kamu, papa membalas semua kebaikan mereka dengan kotoran.”


Jihan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Melihat wajah penuh kekecewaan sang papa, seketika membuatnya menyesal. Mengapa dia tak bisa mengendalikan perasaannya dan terjerumus dalam kebencian yang tak berdasar.


“Papa tidak akan menghalangi jika mereka akan menghukummu. Kamu harus bertanggung jawab atas semua perbuatanmu. Jangan karena kamu anak papa, maka papa akan bersikap lunak padamu atau meminta pengampunan untukmu. Terima saja apapun hukuman untukmu. Walau Aric memutuskan untuk mengirimmu ke pulau terpencil, papa tidak akan menghalangi. Papa kecewa padamu, sangat kecewa.”


Gurit mengangkat tubuhnya kemudian keluar dari ruangan. Tangis Jihan semakin keras, rasa takut langsung menyergapnya. Gurit yang disangka akan menjadi tembok pelindung untuknya ternyata berpaling darinya.


“Belajarlah dari kesalahanmu, Jihan. Bukan hanya orang tuamu, tapi kedua kakakmu juga kecewa, termasuk om. Dengan kedekatan kalian, kamu menghasut Irvin untuk membenci Anya. Sungguh om tidak percaya ini. Kemana Jihan yang dulu, Jihan yang baik dan selalu membuat orang senang? Apa cinta dan cemburu sudah membutakan mata hatimu? Kalau sesuatu terjadi pada Anya, mungkin papamu tidak akan bisa hidup tenang. Seumur hidupnya akan terus berkubang dalam rasa bersalah. Om harap kamu merenungi semua ini. Jangan sampai kamu menyesal kehilangan semua orang yang menyayangimu.”


Radix beranjak dari tempatnya kemudian keluar ruangan, meninggalkan Jihan yang masih terus menangis. Kata-kata Radix walau dilontarkan dengan nada yang pelan dan tenang, namun sukses menghujam ke ulu hatinya. Sejuta penyesalan semakin dirasakan oleh gadis itu.


Di luar, Gurit tengah berbicara dengan Aric. Sesuai dengan yang dikatakan tadi pada Jihan, dia menyerahkan semua keputusan pada Aric. Apapun hukuman yang hendak diberikan pria itu akan diterima olehnya. Anaknya memang perlu diberikan efek jera agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.


Selesai berbicara dengan Aric, Gurit meninggalkan markas. Dia akan kembali ke kediaman Cakra, namun sebelumnya pulang ke rumah lebih dulu untuk menjemput Syakira. Jihan masih dalam tanggung jawabnya, maka dia dan Syakira ikut bertanggung jawab juga atas perbuatan anaknya itu. Radix dengan setia menemani Gurit. Walau kecewa dan marah, namun Radix yakin, Sekar dan Cakra akan memaafkan Gurit.


Sepeninggal Gurit dan Radix, Aric nampak berbincang sebentar dengan Agung. Bagaimana pun juga dia adalah kepala keamanan keluarganya. Nanti dia yang akan diminta pertanggung jawabannya oleh orang tua dan para pamannya. Dendi datang bergabung dan mengabarkan kalau Cakra telah menyerahkan semua hukuman di tangan Aric. Para orang tua tidak akan ikut campur, untuk menghargai Gurit sebagai ayah dari Jihan.


Usai berbicara dengan Agung dan Dendi, Aric menghampiri Kenan dan yang lainnya. Mereka berdiskusi sebentar. Aric ingin memberikan hukuman yang bisa memberikan efek jera sekaligus tidak membahayakan para pelaku. Usia mereka yang masih muda yang menjadi pertimbangannya. Setelah sepakat, mereka masuk ke ruangan di mana kelima pelaku berada.


Aric berdiri di depan kelima orang yang telah membuat adiknya sengsara. Wajah pria itu nampak begitu dingin, membuat mereka seperti tengah menanti hukuman mati. Satu per satu Aric menatap wajah pelaku dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


“Demi keselamatan adik saya ke depannya, kalian semua akan dikeluarkan dari kampus. Semua nilai yang kalian dapatkan di semester sebelumnya akan dihapus. Kalau kalian ingin mendaftar ke kampus lain, maka harus memulai dari awal. Tidak akan ada fasilitas transfer nilai dari kampus yang sekarang.”


Semua terhenyak mendengar penuturan Aric. Padahal sebentar lagi mereka akan menjalani masa magang. Berarti semua usaha mereka di awal kuliah sampai sekarang sia-sia. Meski begitu, tidak ada yang berani melawan keputusan Aric.

__ADS_1


“Dan berhubung kalian resmi menjadi pengangguran mulai besok. Saya berbaik hati memberikan pekerjaan paruh waktu untuk kalian. Selama tiga bulan, kalian akan dikirim ke pulau A. Kamu dan kamu bergabung di tim kebersihan. Kalian bertanggung jawab atas kebersihan pulau, dan seminggu dua kali membantu memberi makan buaya di penangkaran buaya,” Aric menunjuk pada dua pelaku yang berjenis kelamin pria.


“Dan kalian, akan membantu bagian dapur menyiapkan makanan untuk para napi di sana. Kalian juga akan membantu bagian laundry. Mengerti?”


Ketiga gadis itu menganggukkan kepalanya dengan cepat. Mau tak mau, suka tak suka mereka harus menerima hukuman yang diberikan. Inilah resiko yang harus mereka tanggung akibat mengganggu anggota keluarga Hikmat. Selesai dengan para komplotan, Aric menuju sang pelaku utama. Dalang dari penyekapan Anya.


Aric dan Kenan kembali masuk ke dalam ruangan di mana Jihan berada. Dengan wajah tanpa ekspresi, Aric menatap tajam ke arah Jihan. Mata gadis itu memerah dan bengkak, karena tangisannya yang tak berhenti. Aric menarik kursi di depan Jihan.


“Karena kamu anak om Gurit, aku masih berbaik hati padamu. Kamu akan dipindahkan ke kelas lain, agar tidak selalu mengganggu Anya. Selama setahun, setiap Sabtu, Minggu dan di hari libur kuliah, kamu akan melakukan pekerjaan amal. Membantu di panti asuhan, panti Jompo atau para penderita tuna grahita. Itu hukuman dariku. Tapi Nan berbaik hati mau memberikan bonus untukmu.”


Aric bangun dari duduknya kemudian segera berlalu dari ruangan. Bertepatan dengan itu, Viren, Alisha, Revan dan Haikal masuk ke dalam ruangan, bergabung dengan Kenan. Hati Jihan semakin ketar-ketir melihat wajah Kenan yang tak begitu bersahabat. Kedua tangannya meremat blouse yang dikenakannya.


“Lo beruntung bang Aric masih berbaik hati kasih hukuman ke elo. Untung bang Ken ngga ada di sini, tapi bukan berarti gue ngga bisa lebih kejam dari dia. Bangun! Gue bakalan kasih bonus ke elo, sekarang. Kontan!”


Jihan masih bingung dengan apa yang akan dilakukan Kenan. Gadis itu tak berdaya saat Revan dan Haikal membawanya keluar dari ruangan. Mereka terus berjalan keluar dari markas lalu memasukkan Jihan ke dalam mobil. Revan langsung mengemudikan mobilnya, dengan Kenan berada di kursi depan dan Haikal duduk di belakang bersama dengan Jihan.


Sedangkan Viren akan menaiki mobil lain bersama dengan Alisha. Kenan sengaja membiarkan kedua orang itu bersama. Dia memang diminta Anya membantu mendekatkan Viren dan Alisha. Viren membukakan pintu untuk Alisha, kemudian dia naik ke kursi pengemudi.


“Anya baik-baik aja kan bang?” Alisha membuka percakapan.


“Iya. Barusan bang Ravin telepon, udah bisa ngelawak lagi katanya.”


“Syukur deh.”


“Nanti abis dari kampus, mau aku antar ke rumah apa ke rumah Anya?”


“Abang mau nengok Anya ngga?”


“Ya maulah.”


“Kalau gitu aku ikut ke rumah Anya aja.”


Viren hanya menganggukkan kepalanya. Alisha berharap kepedulian Viren pada Anya hanya sebatas persahabatan saja, bukan karena ada perasaan lain. Namun jika memang Viren menyukai Anya, dia memilih untuk mundur dan mengikhlaskan pria itu untuk sepupunya.


“Abang deket banget sama Anya. Kenapa ngga pacaran aja? Sekalian biar Anya ada yang jaga.”


Alisha terkejut sendiri dengan ucapannya barusan. Bisa-bisanya dia melontarkan kalimat seperti itu. Takut-takut dia melirik ke arah Viren. Seperti biasa, pria itu tetap menampilkan wajah tanpa ekspresinya. Namun tak urung dadanya berdebar menanti jawaban apa yang akan diberikan pria itu.


“BIsa hancur dunia persilatan kalau aku sama Anya pacaran hahaha..”


Alisha terhenyak melihat tawa Viren. Baru kali ini dia melihat pria itu tertawa lebar saat bersamanya. Biasanya dia seperti itu saat bersama Anya saja. Diam-diam Alisha tersenyum mendengar jawabannya.


“Ehm.. kaya gimana ya. Yang rada kaleman lah, ngga kaya si Anya yang mirip kuda lumping hahaha.. model kamu juga boleh, Al.”


Semburat merah langsung terlihat di wajah Alisha. Buru-buru gadis itu memalingkan wajahnya ke arah samping. Jangan sampai Viren melihatnya seperti ini.


“Denger-denger katanya kamu mau nikah ya, Al?”


“Hah?? Eh i.. iya aku emang pernah bilang sama ayah mau nikah.”


“Kenapa? Kamu masih muda, kenapa mau nikah?”


“Ngga tau juga, bang. Aku ngerasa akan lebih aman aja kalau aku udah nikah. Setidaknya akan ada orang yang bisa nemenin aku terus, jagain aku 24 jam.”


“Kamu masih trauma sama kejadian dulu?”


“Jujur.. iya. Apalagi belakangan bu Lisda pernah muncul.”


“Udah punya calonnya?”


“Belum.”


“Hah? Hahaha… kamu aneh, pengen nikah tapi belum punya calonnya. Gimana sih?”


“Makanya aku bilang ke ayah. Kali aja ayah punya calon yang baik buat aku. Kemarin sempet sih aku mau dijodohin sama bang Irvin. Kita juga udah berapa kali pergi bareng.”


“Terus?”


“Bang Irvin udah punya pacar. Lagian aku ke dia lebih nyaman bersahabat aja. Di mataku, bang Irvin tuh kaya kak Ezra aja.”


Viren hanya manggut-manggut saja. Pria itu kembali berkonsentrasi mengemudikan mobilnya. Alisha melirik ke arah Viren. Wajahnya yang selalu terlihat tenang dan tanpa ekspresi, membuat dirinya tak bisa menebak bagaimana reaksi Viren soal yanng tadi dikatakannya.


Akhirnya, kendaraan Viren berhenti juga. Dia memarkir mobil di belakang mobil Kenan. Mereka kembali ke kampus, tepatnya ke tempat di mana Anya disekap tadi. Haikal membantu Jihan turun. Awalnya gadis itu tak mengerti mengapa Kenan membawanya ke kampus. Namun ketika tahu kemana tujuan mereka sebenarnya, Jihan mulai merasa takut.


“Na..n ma.. mau ap..a ki.. kita ke.. sini?”


“Gue mau kasih bonus buat elo. Karena gue baik hati dan tidak sombong, makanya gue kasih elo kesempatan ngerasain apa yang tadi Anya rasain. Ayo masuk.”


Kenan mendorong Jihan sampai masuk ke dalam ruangan. Revan meletakkan speaker kecil di dekat jendela. Dia lalu membuka ponselnya dan mengubungkan ke speaker tersebut melalui bluetooth. Kenan menutup pintu kemudian mematikan lampu ruangan. Tak lama kemudian terdengar suara mantra yang disusul dengan lagu lingsir wengi.


Jihan tercekat mendengar suara yang berasal dari speaker. Senjata yang diberikan untuk mengerjai Anya, kini berbalik padanya. Tiba-tiba saja dia merasakan bulu kuduknya berdiri. Udara di sekitarnya juga terasa dingin. Gadis itu terjengit ketika merasakan seperti ada yang meniup tengkuknya.

__ADS_1


Jihan berlari ke arah pintu kemudian menggedornya. Memanggil nama Kenan, Viren, Revan dan Haikal bergantian. Tangannya terus memukul pintu. Gadis itu mulai menangis karena ketakutan yang begitu sangat. Jantungnya semakin berdebar kencang ketika tiba-tiba saja, tumpukan kursi yang ada di sudut ruangan roboh.


“Nan!! Keluarin aku Nan!!”


Tangis Jihan semakin histeris ketika terdengar suara-suara lain di dalam ruangan. Belum lagi sebuah kursi goyang tua yang sering dipakai untuk keperluan teater tiba-tiba saja bergoyang dengan sendirinya.


“Nan!! Tolong Nan!!”


Pintu ruangan akhirnya terbuka, Jihan bergegas keluar. Dia terkejut saat tak mendapati siapapun di sana. Dengan cepat gadis itu berlari menjauh dari tempat tersebut. Setelah Jihan menghilang, Kenan dan yang lainnya keluar dari tempat persembunyiannya. Walau masih belum bisa menghilangkan kekesalan pada gadis itu, setidaknya Kenan puas, Jihan bisa merasakan apa yang dirasakan Anya tadi.


“Nan.. itu Jihan gimana? Udah malem ini, dia pulangnya gimana?” tanya Alisha.


“Tenang aja. Ada Jamal, dia udah standbye. Paling pura-pura jadi ojeg,” jawab Kenan santai.


Mendengar jawaban Kenan, Alisha lega. Biar bagaimana pun Jihan itu perempuan. Berbahaya kalau pulang sendiri saat malam. Dia segera mengajak yang lain pulang karena takut juga berlama-lama di tempat ini.


☘️☘️☘️


Kediaman Cakra kembali ramai. Baru saja para orang tua pulang ke habitatnya masing-masing. Kali ini para sahabat Anya yang meramaikan suasana. Mereka berkumpul di kamar Anya. Sekar dapat bernafas lega melihat sang anak sudah mulai membaik kondisinya. Tawa Anya juga sudah kembali terdengar.


Begitu pula dengan Cakra, dia lega putrinya tidak mengalami trauma. Tadi ustadz yang biasa membantu Anya datang. Dia membimbing Anya melakukan ruqiyah mandiri. Namun ada satu yang masih belum beranjak dari Anya. Jin yang mengikuti Anya dari Singapura, masih bertahan di dekat gadis itu.


Ustadz tersebut mengatakan kalau jin tersebut menyukai Anya. Tapi dia tidak akan bisa merasuki Anya. Nanti dia akan menghilang dengan sendirinya jika Anya sudah menikah. Dulu juga Cakra pernah mengalami hal tersebut. Ada jin wanita yang selalu mengikutinya. Namun jin itu menghilang setelah dia menikah dengan Sekar.


Alisha duduk menyandar di ranjang bersama dengan Anya. Gelak tawa sedari tadi tak henti terdengar dari kamar itu. Aric yang baru saja mengantarkan Naya pulang, langsung bergabung. Dia merangkak naik ke atas ranjang lalu duduk di sisi Anya. Direngkuhnya pundak adiknya itu. Anya menyenderkan kepalanya di dada sang kakak.


“Jadi tuh setan udah kaga ada ya, Nya. Udah diruqiyah sama ustadz ya?” tanya Revan.


“Huum.. tapi masih nyisa satu. Jin import dari Singapura masih ngikutin gue. Tapi gue udah ngga takut lagi sih sekarang.”


“Tuh jin penampakannya kaya gimana, Nya? Ganteng ngga?” celetuk Alisha.


“Ganteng dari Hongkong, bikin serem iya. Kalau ganteng kaya oppa-oppa gue pantengin terus mukanya hahaha..”


“Dasar somplak,” Alisha menoyor kepala sepupunya ini.


“Sekarang dia di mana, Nya?” tanya Haikal.


“Noh, di samping elo.”


“Eh buset!”


Haikal segera berpindah duduk ke samping Viren. Walau tidak terlihat, Haikal ngeri juga saat tahu ada makhluk astral di dekatnya. Dia takut jin itu berpindah haluan. Karena frustrasi tak bisa mendapatkan Anya, bisa-bisa dirinya yang menjadi sasaran berikutnya.


“Dasar penakut lo. Nya, gue tadi udah diajarin sama ustadz biar bisa lihat dan ngobrol ama jin. Mau gue tanya ngga kenapa dia deketin lo mulu,” seru Kenan.


“Serius? Boleh Nan.”


Kenan berdiri lalu berpindah ke tempat Haikal tadi. Dia berjongkok dan memposisikan diri di depan jin Singapura tersebut. Matanya menutup sebentar sambil membaca ayat suci Al-Qur’an. Entah ayat apa yang dibacanya karena suaranya begitu kecil. Tak lama dia membuka matanya.


“Siapa nama kamu?” Kenan terdiam seperti tengah mendengar sesuatu.


“Kamu kenapa ngikutin Anya terus?” kembali Kenan terdiam sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Ya udah. Tapi lo ngga boleh ganggu dia. Kalo lo berani ganggu, gue kirim lo ke jalan Asia Afrika!”


Kenan menutup matanya lagi sambil bergumam membacakan ayat suci Al-Qur’an yang lagi-lagi tak terdengar suaranya. Setelah itu dia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Anya.


“Namanya Qomar, Nya.”


“Terus dia bilang ngga kenapa ngikutin gue mulu?”


“Iya. Katanya lo bawa sesuatu miliknya makanya dia ngikutin mulu.”


“Bawa apaan?” tanya Revan.


“Hatinya eaa.. eaa..” celetuk Haikal yang langsung disambut gelak tawa lainnya.


“Katanya…” Kenan menggantung kalimatnya membuat yang lain terdiam. Anya harap-harap cemas menunggu jawaban dari sepupunya itu.


“Waktu di Singapura elo bawa kabur kolornya makanya dia ngikutin elo sampe ke sini huahahaha…”


“Nan!!! Dasar Kampreto!!!” Anya melemparkan bantal ke arah Kenan. Gelak tawa kembali terdengar.


“Akting lo, nyet kaya yang iya. Tadi lo baca surat apaan?” tanya Viren.


“Trio qulhu huahahahaha…”


☘️☘️☘️


**Entah kapan bab ini nongol. Sabaaaaarrrrr

__ADS_1


__ADS_2