
Nina dan Nadia baru saja selesai berbelanja keperluan bayi. Dua orang pengawal yang ditugaskan mengantar dan menjaga mereka mengikuti kedua wanita itu dari belakang sambil menenteng tas belanjaan. Di lobi depan, Juna sudah menunggu di dalam mobil.
“Nin, aku duluan ya. Mas Juna udah jemput. Kamu mau bareng ngga?”
“Aku sama Dendi aja kak.”
“Ya udah, bye.”
Nadia segera keluar dari gedung mall, seorang pengawal yang tadi mengikutinya bergegas menyusul. Setelah meletakkan semua barang belanjaan ke dalam bagasi. Mobil yang dikendarai Juna segera meluncur.
“Bu Nina, saya ambil mobil dulu,” ucap Dendi.
“Iya, saya tunggu di sini.”
Dendi memerintahkan temannya untuk berjaga di dekat Nina, sedang dirinya segera menuju tempat di mana mobil terparkir. Nina sendiri memilih berjalan keluar dari gedung.
“Nina...”
Nina menghentikan langkahnya ketika seseorang memanggil namanya. Dia menoleh ke arah datangnya suara. Nampak seorang wanita paruh baya mengenakan hijab, berjalan ke arahnya.
“Nina.. kamu Nina kan?” tanya wanita itu seraya memegang kedua bahu Nina.
Pengawal yang menjaga Nina hendak menghalau wanita itu namun Nina hanya menggelengkan kepalanya. Akhirnya pria itu tetap di tempatnya, dengan mata terus mengawasi wanita yang bersama Nina.
“Ibu kenal saya?”
“Kamu benar Nina? Kamu anaknya mas Ahmad dan teh Novi kan?”
Nina terkejut wanita di depannya mengenal kedua orang tuanya. Matanya menatap lekat wanita berhijab di depannya. Dia sepertinya tak asing dengan wajah wanita ini.
“Ini tante Lita, adik mamamu.”
“Ya Allah tante..”
Nina langsung memeluk Lita yang ternyata adalah adik dari almarhum mamanya. Nina memang hampir tak mengenali tantenya itu, selain mereka telah lama tak bertemu, terakhir pertemuan mereka juga terjadi saat Nina berumur lima tahun. Cukup lama kedua wanita itu berpelukan.
“Ya Allah, alhamdulillah.. tante bisa bertemu denganmu juga.”
Lita mengurai pelukannya, beberapa kali dia mengusap pipi keponakannya ini. Wajah Nina memang mirip dengan almarhumah kakaknya, jadi dia bisa dengan cepat mengenali Nina. Mata wanita itu nampak berkaca-kaca. Keponakan yang disangkanya sudah meninggal bersama sang kakak, ternyata masih hidup dan kini ada di hadapannya.
“Kamu sudah menikah?”
“Iya tante.”
“Berapa usia kandunganmu?” Lita mengusap perut Nina yang sudah mulai buncit.
“Jalan tujuh bulan tante. Dan ini anak ketigaku.”
“Oh... selamat Nina. Mamamu pasti bahagia melihatmu sekarang. Lalu Anfa, apa dia selamat?”
“Iya tante, alhamdulillah Anfa juga selamat. Dia sudah menilah dan punya anak sekarang.”
“Alhamdulillah.. Nina ke rumah tante ya, om pasti senang ketemu sama kamu.”
“Maaf tante, aku harus ijin suamiku dulu.”
“Oh iya ngga apa-apa. Ini tante kasih alamat dan no telepon tante.”
Lita mengambil pulpen juga kertas dari dalam tasnya. Dengan cepat dia menuliskan alamat dan juga nomor ponselnya lalu memberikannya pada Nina.
“Hubungi tante kalau kamu mau datang.”
“Iya tan, pasti.”
“Sekalian ajak Anfa.”
“Iya.”
“Maaf bu, pak Dendi sudah sampai,” pengawal yang tadi menunggui Nina, menyela pembicaraan kedua wanita itu.
“Tante maaf, aku harus pulang. Secepatnya aku akan hubungi tante.”
“Iya sayang, tante tunggu ya.”
Nina mencium punggung tangan Lita. Wanita itu kembali menarik Nina ke dalam pelukannya. Setelah pelukannya terurai, Nina berjalan meninggalkannya lalu masuk ke dalam mobil. Lita terus memandangi mobil yang membawa keponakannya pergi sambil mengusap airmatanya.
☘️☘️☘️
Nina langsung menceritakan pertemuannya dengan Lita pada Abi. Hatinya benar-benar bahagia mengetahui dirinya masih mempunyai sanak keluarga. Abi yang penuh perhitungan memilih menyelidiki tentang Lita terlebih dulu. Dia segera memerintahkan Agung mencari tahu semua tentang wanita bernama Lita itu.
“Gimana mas?”
Tanya Nina begitu Abi baru saja selesai berbicara dengan Agung di telepon. Abi tak langsung menjawab pertanyaan Nina, dia mengajak sang istri duduk di sofa.
“Dia memang adik mamamu. Setelah menikah, dia dibawa suaminya ke Kuala Lumpur karena pekerjaannya di sana. Baru lima tahun dia kembali ke Indonesia setelah suaminya pensiun dan menetap di Bandung.”
“Jadi dia benar keluargaku mas?”
“Iya sayang. Maaf aku terlambat menemukannya untukmu.”
“Ngga mas. Ini memang takdir Tuhan, kami baru dipertemukan sekarang. Kamu sudah menemukan Anfa adalah anugerah terbesar untukku.”
Nina memeluk Abi erat. Hatinya tak henti bersyukur dengan semua kebahagiaan yang diterimanya. Abi mengusap punggung sang istri pelan, dia juga merasa bahagia Nina bisa bertemu dengan keluarga dari pihak ibunya.
“Tante minta aku sama Anfa ke rumahnya.”
“Ayo kita ke sana malam ini.”
“Iya mas. Aku mau kasih tahu Anfa dulu.”
Nina segera menghubungi adiknya. Seperti halnya Nina, Anfa juga begitu bahagia mendengar kabar ini. Akhirnya mereka tak sebatang kara lagi, karena masih ada keluarga mereka yang tersisa. Setelah menghubungi Anfa, Nina menghubungi Lita untuk mengabarkan kedatangan mereka nanti malam.
☘️☘️☘️
Lita dan Sahrul, suaminya menyambut kedatangan Nina beserta keluarga kecilnya dan juga Anfa. Lita memeluk Anfa erat, tangisnya kembali pecah karena terharu. Dulu Anfa masih berumur satu tahun ketika Lita memutuskan pindah ke Kuala Lumpur, mengikuti suaminya.
“Ini anak-anakmu?” tanya Lita.
“Iya tante. Kenzie, Freya, ayo salim sama nenek.”
__ADS_1
Kenzie juga Freya meraih tangan Lita dan Sahrul lalu mencium punggung tangan mereka bergantian. Anfa juga meminta Hanna, melakukan hal yang serupa. Anak manis itu mengikuti kedua kakak sepupunya menyalami Lita dan Sahrul.
Sahrul mengajak Nina dan yang lainnya berbincang di ruang tengah. Lita langsung menyuguhkan minuman juga camilan untuk tamu istimewanya. Wanita itu kemudian masuk ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian dia keluar dengan dua buah album usang di tangannya. Lita mendudukkan diri di samping Nina.
“Apa itu tante?”
“Ini foto-foto mama dan papamu juga foto kalian waktu masih kecil. Sebelum tante pindah, tante sengaja ambil foto-foto kalian buat obat kangen tante.”
Nina dan Anfa membuka lembaran album yang terdapat foto-foto mereka dan juga kedua orang tua mereka. Lita menceritakan kapan foto tersebut diambil dan siapa saja orang yang ada di dalam foto selain kedua orang tua mereka.
“Kalau keluarga papa di mana tan?”
“Papamu itu anak tunggal, kedua orang tuanya sudah meninggal sejak papamu masih kecil. Papamu besar di panti asuhan, dan bertemu dengan mamamu saat kuliah. Papamu itu senior mamamu. Awalnya mereka sering ribut eh ujung-ujungnya malah jatuh cinta,” Lita tertawa kecil mengenang perjalanan cinta sang kakak.
“Anak tante berapa?” tanya Nina.
“Tiga, dua laki-laki, satu perempuan. Tapi anak sulung tante sudah meninggal waktu kecil karena sakit. Jadi sekarang tinggal sisa dua.”
“Assalamu’alaikum.”
Terdengar suara seorang perempuan mengucapkan salam. Semua yang mendengar langsung menjawab salam tersebut. Tak lama seorang gadis berusia dua puluhan masuk ke dalam rumah.
“Nina.. kenalkan ini anak bungsu tante, Sandra namanya. Sandra, ini Nina juga Anfa, anaknya tante Novi.”
“Jadi kak Nina sama kak Anfa masih hidup ma?”
“Iya sayang.”
Sandra langsung menghambur ke arah Nina. Dia sudah sering mendengar cerita tentang kakak sepupunya itu dari sang mama. Lita selalu menangis jika teringat pada Novi juga anak-anaknya yang menjadi korban tsunami Aceh. Nina mengenalkan Sandra pada Abi dan juga anak-anaknya.
Gadis itu lalu beralih pada Anfa, dia hanya bersalaman saja. Anfa mengenalkannya pada Rayi juga Hanna. Sandra yang memang menyukai anak kecil, langsung mengajak Hanna juga Freya bermain. Di tengah keharuan, datang anak Lita yang lain. Kali ini Abi dan Anfa yang terkejut melihat pemuda yang baru datang.
“Pak Abi.. pak Anfa..”
“Darian,” panggil Abi dan Anfa bersamaan.
“Kamu kenal?” tanya Lita pada anaknya, Darian.
“Kenal ma. Ini pak Abi, adik dari pak Juna, atasanku.”
“Ya Allah, ternyata dunia memang sempit ya.”
“Bapak ngapain ke rumah saya?” tanya Darian yang masih bingung.
“Abi itu suaminya Nina, kakak sepupumu, anak dari tante Novi.”
“Hah???” mata Darian membelalak mendengar ucapan mamanya.
“Jadi bu Nina, istrinya pak Abi tuh anaknya tante Novi?”
“Iya.”
“Ternyata dunia memang selebar daun kelor ya,” Anfa terkekeh.
Darian hanya menggaruk kepalanya saja yang tak gatal. Sungguh kenyataan ini mengejutkannya. Siapa sangka kakak sepupunya ternyata istri dari CEO Metro East, Abimanyu Hikmat, yang keluarganya masuk ke dalam jajaran orang kaya se-Asia.
“Pak jangan bilang-bilang ke yang lain ya kalau kita ada hubungan sodara,” ucap Darian sambil cengar-cengir.
Darian hanya tertawa mendengar tanggapan Abi, dia sudah paham betul bagaimana karakter pria tersebut. Saat Juna cuti, Abi yang akan menghandle pekerjaan di kantor tempatnya bekerja. Kekejaman pria itu memang sudah terkenal, dan dia sendiri pernah menjadi korban mulut pedas Abi.
Karena semua anggota keluarga sudah berkumpul, Lita mengajak semuanya untuk menikmati makan malam. Wanita itu sudah banyak menyiapkan hidangan untuk keponakannya yang hilang bertahun-tahun. Suasana hangat dan penuh canda mengiringi acara makan malam mereka.
☘️☘️☘️
Abi menghampiri Nina yang tengah duduk di sisi ranjang. Nina masih memandangi album yang tadi dibawanya dari kediaman Lita. Airmatanya menggenang begitu saja saat melihat foto kedua orang tuanya. Abi mendudukkan diri di sisi Nina lalu merangkul bahu istrinya itu.
“Akhirnya aku bisa melihat lagi wajah mama sama papa mas,” Nina mengusap foto kedua orang tuanya.
“Iya sayang. Alhamdulillah..”
“Ma.. pa.. ini Nina. Nina sekarang sudah bahagia. Nina mendapatkan suami yang baik dan sangat menyayangi Nina. Mama dan papa juga sudah punya cucu, ada Kenzie, Freya dan juga Hanna, anaknya Anfa. Perjuangan mama dan papa ngga sia-sia, aku dan Anfa selamat.”
Nina tak dapat menahan tangisnya, Abi menarik Nina dalam pelukannya. Untuk beberapa saat, wanita itu masih terisak, isak tangis bahagia tentunya. Abi mengusap punggung Nina seraya menciumi puncak kepala istrinya itu. Tiba-tiba
PLAK
PLAK
PLAK
“Aduh..”
Abi mengaduh kesakitan ketika Kenzie memukuli lengannya. Refleks dia melepaskan pelukannya lalu menoleh ke arah sang anak yang tengah melihatnya dengan tatapan tajam. Nina buru-buru mengusap airmatanya.
“Papa jahat!! Papa udah buat mama nangis!!” teriak Kenzie.
“Eh ngga.. bukan papa yang udah buat mama nangis.”
“Itu mama nangis. Papa jahat.”
Kenzie kembali memukuli lengan papanya. Nina yang tadinya menangis jadi tertawa melihat keposesifan anaknya. Namun pukulan Kenzie terhenti ketika Freya datang lalu mendorong tubuhnya.
“Angan ukul papa,” ucap Freya.
“Papa jahat!”
“Papa nda ahat!! Abang ahat!!! Huhuhu.. abang ukulin papa huhuhu..”
“Dasar cengeng!”
Freya yang tengah sedih karena Kenzie memukuli Abi bertambah kencang tangisnya ketika mendengar ledekan kakaknya itu. Abi segera menggendong Freya lalu membawanya keluar kamar. Selalu saja seperti itu, Kenzie dan Freya kerap bertengkar.
“Abang Ken, ngga boleh gitu sama dede Freya.”
“Freya cengeng. Ken juga sebel sama papa, udah buat mama nangis.”
Nina tersenyum lalu menepuk ruang di sebelahnya, meminta anaknya itu untuk duduk. Kenzie menuruti perintah sang mama, dia merangkak naik ke atas kasur lalu duduk di sebelah sang mama.
“Mama memang nangis tadi, tapi bukan karena papa. Mama menangis bahagia karena sudah ketemu sama nenek Lita, kakek Sahrul, tante Sandra sama om Darian.”
__ADS_1
“Emang ada ma, nangis bahagia?”
“Ada. Waktu kamu lahir, mama dan papa juga nangis karena bahagia.”
“Oooh.. gitu ya ma.”
Nina mengangguk seraya mengusap puncak kepala anak sulungnya yang tahun ini genap berusia enam tahun. Kenzie tumbuh menjadi anak yang cerdas, namun sifatnya lebih banyak menuruni sang ayah. Tak heran kalau keduanya kerap terlibat perdebatan.
“Dulu, mama dan om Anfa terpisah karena musibah tsunami. Dan papa kamu yang udah mempertemukan mama sama om Anfa. Papa tuh sayaaaaang banget sama mama, jadi papa ngga pernah buat mama nangis, kecuali nangis bahagia. Ken, sayang ngga sama papa?”
“Sayang.”
“Kalau sayang, abang jangan galak-galak ya sama papa.”
“Abis papa ngga mau ngalah sama Ken. Papa maunya deket-deket mama mulu.”
Nina tak bisa menahan tawanya. Kenzie dan Abi memang kerap ribut memperebutkan dirinya. Terkadang dia tak habis pikir pada suaminya yang tak mau mengalah pada sang anak.
“Aduh..”
“Kenapa ma?”
“Ini dede nendang perut mama.”
Nina mengusap perutnya, Kenzie juga mengulurkan tangannya lalu mengusap perut buncit sang mama.
“Dedenya pengen cepet keluar ya ma.”
“Iya, sebentar lagi dedenya mau keluar.”
“Tapi Ken ngga mau dedenya kaya Freya ya. Ken mau dedenya laki-laki biar bisa diajak main bola. Kalau Freya cengeng.”
“Abis Freyanya di gangguin terus sama abang, jadi nangis. Abang harus baik sama Freya, jagain Freya. Kan itu adeknya abang. Emang abang ngga sayang sama Freya?”
“Sayang, tapi abang ngga suka kalau Freya cengeng.”
“Abang ajarin Freya biar ngga cengeng, ok.”
“Ok, ma.”
“Udah malem. Abang tidur gih.”
“Iya ma.”
Kenzie mencium pipi Nina kemudian beranjak dari tempatnya. Sebelum masuk ke kamarnya, dia lebih dulu masuk ke kamar sang adik. Nampak Freya sudah tertidur dengan Abi di sampingnya. Kenzie menghampiri Freya, melihat sebentar ke arah adiknya itu lalu mengusap puncak kepalanya.
Anak itu kemudian beralih pada Abi. Sejenak dipandangi wajah sang ayah yang tengah terpejam. Kenzie mendekat lalu mencium pipi Abi.
“Love you papa.”
“I love you too.”
Kenzie terkejut saat mendengar suara Abi, disangkanya sang papa telah tertidur ternyata hanya berpura-pura saja. Abi bangun kemudian duduk di sisi ranjang. Dia memandangi Kenzie yang berusaha mempertahankan wajah cool-nya.
“Makasih buat ciumannya,” ujar Abi.
“Kalau bukan mama yang nyuruh, aku ngga mau.”
Kenzie bergegas keluar kamar sang adik. Abi hanya terkekeh melihat tingkah sang anak. Dia lalu membenarkan selimut yang menutupi tubuh Freya, setelah mengecup kening anaknya, Abi keluar dari kamar.
Abi masuk ke dalam kamar Kenzie. Melihat kedatangan Abi, anak itu langsung memejamkan matanya. Abi mendudukkan diri di sisi ranjang, lalu mengusap puncak kepala sang anak.
“Anak papa, semoga menjadi anak yang soleh, anak yang pintar dan bertanggung jawab. Kamu harus tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat. Kalau papa ngga ada, maka kamu yang harus menjaga mama dan adik-adikmu.”
Abi terjengit ketika tiba-tiba Kenzie bangun lalu memeluk lehernya. Abi memeluk erat punggung sang anak. Kenzie merapatkan tubuhnya memeluk tubuh papanya.
“Papa jangan tinggalin Ken. Ken sayang papa.”
“Papa juga sayang sama Ken. Papa ngga akan kemana-mana. Papa akan tetap di samping Ken, sampai Ken besar dan kasih papa cucu.”
“Promise?” Kenzie mengurai pelukannya lalu mengulurkan jari kelingking ke arah Abi.
“In Syaa Allah, promise.”
Abi menautkan jari kelingkingnya ke jari sang anak. Senyum Kenzie mengembang. Abi membaringkan tubuh Kenzie ke kasur lalu menyelimutinya sampai ke batas dada. Sebuah ciuman mendarat di kening anak sulungnya itu.
“Have a nice sleep boy. Don’t forget to pray (tidur yang nyenyak, nak. Jangan lupa berdoa).”
“Ok papa.”
Tangan Abi bergerak menyalakan lampu tidur. Setelah mengusak puncak kepala Kenzie, pria itu berdiri kemudian mematikan lampu utama. Dengan gerakan pelan, dia menutup pintu kamar. Selanjutnya Abi kembali ke kamarnya, Nina sudah menunggunya di atas ranjang.
“Freya sama Kenzie sudah tidur mas?”
“Sudah. Kalau yang ini sudah tidur belum?” Abi mencium perut buncit Nina.
“Belum papa,” jawab Nina menirukan suara anak kecil.
“Ngga bisa bobo ya? Pengen ditengok papa ya?”
“Maunya.”
Nina segera membaringkan tubuhnya lalu membelakangi sang suami. Abi terkekeh melihat tingkah sang istri. Dia ikut berbaring di sisi Nina lalu memeluk sang istri dari belakang. Tangannya mengusap perut yang semakin membuncit saja. Baik dirinya juga Nina masih belum mengetahui jenis kelamin anak ketiganya. Mereka memutuskan menunggu sampai hari kelahiran tiba.
“Yang..”
“Hmm..”
“Nengok bentar ya.”
“Bentar aja ya.”
“Iya.. bentar paling cuma dua jam.”
“Maaaasss..”
Terdengar kekehan Abi, setelahnya pria itu membalikkan tubuh sang istri menghadapnya. Diraihnya tengkuk Nina lalu membenamkan bibirnya. Pria itu memulai cumbuannya dengan ciuman mesranya. Dia ingin menutup hari yang penuh kebahagiaan ini dengan penyatuan mereka.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Haaiii readers kece, daku kembali yuhuuuu... terima kasih ya masih tetap setia dengan cerita ini. Tinggal beberapa episode lagi cerita Abi cs, next kita akan masuk ke kisah anak² mereka😉