KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Pepetan Sandi


__ADS_3

Minggu pagi, kediaman Aric sudah didatangi para sahabatnya. Pria itu memang sengaja mengundang saudara sepupu dan sahabatnya untuk berkumpul bersama, sekaligus sykuran rumah barunya. Para wanita bekerja sama menyiapkan hidangan, minus Nara. Ibu hamil itu tidak diperbolehkan mengerjakan apapun oleh Kenzie. Akhirnya tugas masak memasak diserahkan pada Freya dan Azra. Anya dan Hanna menyiapkan dessert serta camilan. Naya, Alisha dan Dilara bertugas menyiapkan peralatan dan menata hidangan.


Semuanya sudah berkumpul di halaman belakang, kecuali Kenan dan Haikal. Kenan memang ijin datang terlambat karena harus menjemput dan mengantar Zahra ke rumah sakit. Setelahnya dia baru menyusul ke kediaman kakak sepupunya. Sedang Haikal ditugaskan Rayi mengambil seragam untuk para pria saat resepsi nanti.


Sebuah kendaraan roda empat berhenti di depan rumah. Haikal turun dengan membawa beberapa paper bag di tangannya. Pemuda itu langsung masuk ke dalam karena memang pintu tidak tertutup dan segera menuju ke halaman belakang. Jarinya menunjuk satu per satu pria yang ada di sana sambil menghitung, kemudian menyerahkan paper bag pada mereka.


“Si kompor mana?” tanya Haikal.


“Belum datang,” jawab Revan.


“Beres tugas gue. Cape euy, pagi-pagi udah nongki dibutik. Mana pegawainya tepe-tepe mulu ama gue,” cerocos Haikal seraya mendudukkan diri di atas rumput sintetis. Tangannya langsung menyomot camilan yang ada di sana.


“Heleh kaga caya, palingan elo yang tepe-tepe dodol,” jawab Revan seraya menoyor kepala sahabatnya.


“Kaga weh.. beneran. Pada nanyain nomer wa gue.”


“Iyain aja Van, biar dia bahagia,” celetuk Viren.


“Kan dia doang yang belum laku,” lanjut Viren. Haikal mengepalkan tangannya ke arah Viren namun hanya ditanggapi dengan gendikan bahu saja.


“Haisshh ngga usah banyak bacot, bantuin angkatin makanan sono,” Sela Anya yang datang dengan membawa piring berisi makanan.


Revan dan Haikal bangun kemudian menuju dapur. Mau tidak mau terpaksa mereka yang harus melakukannya, karena di antara para lelaki, hanya mereka berdua yang paling bontot ditambah Kenan. Beberapa kali kedua pemuda itu mondar-mandir memindahkan makanan dari dapur ke halaman belakang.


“Assalamu’alaikum!”


“Waalaikumsalam.”


Kenan yang baru datang langsung bergabung dengan yang lain. Dia duduk di samping Haikal seraya mengambil camilan dan memasukkan ke mulutnya sekaligus.


“Bar.. jadi nikahnya dua minggu lagi ya?” tanya Ravin.


“Iya, undangannya minggu depan udah dikirimin.”


“Rencana resepsi jadinya indoor apa outdoor?”


“Outdoor, di roof top hotel Yudhistira.”


“Jadi para tamu di Krishna café gitu? Kan kapasitasnya ngga banyak,” lanjut Ravin.


“Makanya undangannya ditermin. Jadi yang terima undangan beda-beda jamnya.”


“Buset udah kaya nonton bioskop aja, beda jam masuk wkwkwk,” timpal Haikal.


“Lah iya, dong. Harus dibuat beda, soalnya ini pernikahan fenomenal.”


“Iya, yang nikah juga pasangan fenomenal. Udah digantung disalip pula dua kali hahahaha..”


Gelak tawa langsung terdengar begitu Aric selesai berucap. Barra hanya memandang kesal pada sahabatnya yang saat ini telah bertambah gelarnya menjadi adik ipar. Kenan yang awalnya masih asik menikmati camilan, tiba-tiba berdiri lalu beranjak dari halaman belakang. Tak lama dia kembali dengan membawa beberapa lembar undangan di tangannya. Satu per satu undangan tersebut diberikan pada semua yang ada di sana.


“Apaan nih?” tanya Ezra.


“Sabtu depan gue mau tunangan, bang,” jawab Kenan jumawa.


“APA???!!”


Barra langsung terlonjak dari duduknya. Diambilnya undangan yang ada di tangan Hanna kemudian membacanya dengan cepat. Kenan hanya cengar-cengir melihat reaksi Barra. Dengan cepat Barra menghampiri Kenan.


“Maksudnya apa nih, Nan?”


“Ya elah, abang ngga bisa baca apa? Itu undangan pertunangan.”


“Pertunangan doang kan?”

__ADS_1


“Iya, kaga caya amat.”


“Bukannya gitu. Gue udah trauma nih sama yang beginian. Ngomong lamaran ama tunangan, tau-taunya salaman sama penghulu,” Barra melirik pada Viren dan Irvin.


“Hahahaha… derita abang itu namanya. Tapi gue ngga sejahat itu, suer tak kewer-kewer cuma tunangan doang. Lagian gue belum lulus kuliah ama kerja juga, mau gue empanin apa Zahra nanti.”


“Kan lo udah dikasih modal ama mama Nina,” celetuk Ravin.


“Modal apaan?”


“Tuh ayam jantan yang punya bini empat hahahaha…”


Kembali gelak tawa mereka terdengar. Cerita Kenan yang mendapat hukuman membersihkan kamar mandi selama seminggu sekaligus mengurus ayam sudah menyebar ke seluruh keluarga Hikmat. Sang pelaku penyebaran siapa lagi kalau bukan sepupu sekaligus sahabatnya, Haikal. Kebetulan pemuda itu berkunjung saat Kenan sedang melakukan tugas rutinnya.


"Pasti tau dari bacot si Ikal nih," Kenan menoyor kepala Haikal hingga terdorong ke belakang.


"Oii Nan, balikin pala gue!!!" seru Haikal yang masih memposisikan kepala mendongak ke belakang. Revan menepak belakang kepala Haikal, hingga kepalanya kembali ke posisi semula.


"Dasar sableng," seru Barra yang hanya dijawab dengan pingkalan ketiganya.


“Nan.. tuh calon bapak mertua songong gimana kabarnya?” tanya Kenzie.


“Udah jadi ayam kuluyuk bang.”


“Hahahaha….”


“Mau gue tambahin ngga Nan?” timpal Aric.


“Ngga usah bang, tar jadi ayam penyet dia.”


“Buset calon menantu durhakim,” seru Revan.


“Biarin, dia biangnya durhamin,” balas Kenan tak mau kalah.


“Klop dah mereka mah,” celetuk Ravin.


“Hahaha…”


Kenan hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak terasa gatal. Habis sudah dirinya menjadi bulan-bulanan para pria tak berakhlak itu. Di antara yang lain memang hanya dirinya yang mempunyai calon mertua fenomenal.


☘️☘️☘️


Suara ketukan high heels yang dikenakan Syakira terdengar saat memasuki café. Tiba-tiba saja Sandi mengajaknya bertemu. Mau tak mau wanita itu menerima ajakan pria itu. Gurit yang sudah tahu rencana Nina, ikut datang untuk mengawasi. Berjaga-jaga kalau sampai Sandi berani berbuat kurang ajar pada istrinya.


“Maaffhhh sayaahh therlambhaatthh,” ujar Syakira seraya menarik kursi di depan Sandi.


“Ngga apa-apa. Saya juga baru datang. Ibu Syakira mau pesan apa?”


“Minumhh ajaaahhh.”


Sandi mengangkat tangannya dan seorang pelayan menghampirinya. Pria itu memesan dua minuman dan camilan. Selesai dengan pesanannya, Sandi kembali mengalihkan perhatiannya pada Syakira. Hatinya tambah berdesir melihat kecantikan wanita di depannya. Di meja lain, Gurit terus mengawasi dengan hati geram. Kalau tidak ingat pria itu adalah calon mertua Kenan, mungkin sudah dihadiahi bogeman mentah olehnya.


“Phakkhh Syandiihh adaahh perluuhh apaahh?”


“Begini.. anak saya akan bertunangan. Apa bu Syakira bisa membantu saya memilihkan hadiah pertunangan?”


“Kenapaahh sayaahh? Khanhh adaahh istrinyaahh. Sayaahh nggaahh enakkhh.”


“Istri saya sedang sakit. Lagi pula seleranya kurang bagus.”


“Oohh.. begituuhh.. Ehmmhh kiraahh-kiraahh bapakhh mauuhh kasyiihh hadiaahh apaaahh?”


“Menurut ibu apa bagusnya?”

__ADS_1


“Entaaahhhh.. anaakkhh sayaahh beluummhh adaahh yangghh nikaahh.”


“Bagaimana kalau kita jalan-jalan cari hadiah?”


“Syekaraangghh?”


“Iyaahh.”


Lagi-lagi Sandi ikut berbicara dengan gaya Syakira. Matanya terus memandangi wajah wanita itu. Di matanya Syakira seperti punya magnet yang terus menariknya untuk terus melihat ke arahnya.


“Sayaahh cumaahh ijinnhh syebentaarrhh syamaahh syuaamiihh. Gimanaahh kalauuhh syekaranghh pergiihhnyaahh?”


“Boleehhh..”


Sandi kembali melambaikan tangannya. Setelah memberikan sejumlah uang untuk membayar pesanannya, pria itu berdiri dan mempersilahkan Syakira untuk keluar dari café terlebih dulu. Melihat kepergian istrinya, Gurit juga beranjak pergi.


Selama di dalam mobil, Sandi terus saja mengajak bicara Syakira. Pria itu mengeluhkan sikap istrnya yang terlalu ambisius. Dalam hati Syakira hanya berdecih saja dengan kelakuan pria yang duduk di sebelahnya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, mereka tiba di mall Andhara. Dengan wajah dipenuhi senyuman, Sandi menyusuri jajaran tenant yang ada di mall tersebut. Syakira mengajak Sandi memasuki sebuah butik. Wanita itu mulai memilihkan barang-barang untuk Zahra.


“Kalauuhh iniihh bagaimanaahh?”


Syakira menunjukkan sebuah dress pada Sandi. Pria itu hanya tergagap, karena sedari tadi hanya memperhatikan Syakira saja. Kepalanya mengangguk-angguk saja. Syakira kemudian berjalan menuju etalase yang memajang tas branded. Tangannya meraih satu tas yang berwarna senada dengan dress yang dipilihnya tadi.


Sandi terus mengekori kemana langkah Syakira pergi. Tangannya gatal ingin memeluk bahu wanita itu, namun sebisa mungkin ditahannya. Saat Syakira sedang memilih aksesoris, pria itu mendekat dan mencoba memposisikan diri sedekat mungkin dengan wanita itu. Gurit yang sudah geram melihat kelakuan Sandi segera mendekat. Namun langkahnya didahului oleh seorang wanita.


“Papa!”


Sandi terjengit begitu mendengar suara Risma dari arah belakangnya. Dengan gerakan pelan, dia membalikkan badannya. Risma menatap tajam ke arahnya seraya bertolak pinggang.


“Sedang apa papa di sini?”


“Eng.. papa cuma cari hadiah buat Zahra.”


“Kenapa sama dia? Kenapa ngga ajak aku?”


“Kan mama masih sakit.”


“Terus kalau aku sakit, papa bisa seenaknya pergi sama dia?”


“Bukan gitu, ma. Tadi kebetulan kita ketemu ngga sengaja. Ya kan bu Syakira?”


“Halah.. pasti nih perempuan kegenitan sama papa, makanya papa sampai kepincut sama dia!”


“Sembharangannhh!! Akuuhh bukaannhh pelakorhh yaahh,” kesal Syakira.


“Ngga usah ngeles! Dasar perempuan kegatelan, ngga bisa lihat laki ganteng, langsung aja dipepet. Jangan-jangan kamu janda yang lagi cara mangsa ya?”


PLAK!


Sebuah tamparan mendarat di wajah Risma, membuat wanita itu terkejut. Dia memegangi pipinya yang terkena tamparan seraya memandangi Syakira dengan mata nyalang.


“Sayaahh bukaannhh jandaahh. Sayaahh masiihh punyaahh syuamiihh. Dannhh syuamiihh sayaahh lebihh baikhh dariihh diaahh,” Syakira menunjuk ke arah Sandi.


“Sayang..”


Semua langsung menolehkan ke arah datangnya suara. Gurit mendekat kemudian menarik pinggang sang istri. Sandi mendadak tak enak hati melihat kehadiran suami dari Syakira. Pria itu menelan ludahnya kelat melihat tatapan tajam Gurit padanya.


“Pak Sandi, tolong jangan ganggu istri saya lagi. Dan anda, jangan sembarangan menuduh istri saya. Suami anda yang menghubungi istri saya minta untuk bertemu. Dari pada anda menyalahkan istri saya, lebih baik jaga suami anda. Jangan sampai dia berpindah ke wanita lain. Ayo sayang.”


Gurit segera membawa Syakira keluar dari butik tanpa melihat ke belakang lagi. Sepeninggal keduanya, Risma mendaratkan pukulan berkali-kali ke lengan suaminya. Wanita itu kesal sekaligus malu atas peristiwa yang menimpanya barusan. Dengan kesal Risma berjalan keluar dari butik. Dengan kasar dihapusnya airmata yang mengalir di pipinya. Ternyata sesakit ini melihat sang suami menggoda wanita lain.


☘️☘️☘️

__ADS_1


Kok cuma dikit? Iya, maaf ya udah beberapa hari otakku ngehang. Gara² dikejar deadline kerjaan, otakku stuck, ngga bisa mikirin alur novel. Maafkeun kalau alurnya gaje, ceritanya garing, aku memaksakan nulis untuk mengobati kerinduan kalian dan supaya terhindar dari surat cinta emteh. Mudah²an bisa refresh otak dan lancar lagi ngehalunya, aamiin...


__ADS_2