
Abi menggandeng tangan Nina menyusuri pantai Senggigi. Semalam mereka tiba di Lombok dan langsung menuju resort salah satu milik keluarganya yang ada di sana. Mood Nina sudah kembali baik, kondisinya juga sudah mulai tenang. Abi mengajak Nina duduk di dekat pohon sambil melihat beberapa pengunjung yang asik bermain air.
“Yang.. mau naik speedboat ngga? Kita ke Gili Trawangan.”
“Ngga mas. Jujur kalau naik kapal dan berada di tengah laut aku ngga berani. Bisa main di tepi pantai aja udah Alhamdulillah. Sama seperti Anfa, aku sempat trauma sama air. Bu Lidya dengan telaten menerapiku sampai traumaku sedikit-sedikit berkurang. Tapi aku masih takut kalau melihat ombak yang besar apalagi naik kapal.”
“Hmm.. tahu gitu mending kita honeymoon di daerah pegunungan aja. Nyewa kabin di sana terus diem aja di kasur, lebih asik kayanya.”
Nina memukul pelan lengan suaminya yang selalu saja berpikiran mesum. Abi memeluk tubuh Nina lalu mengecupi telinga dan tengkuknya membuat sang istri kegelian. Bahkan Abi menjulurkan lidahnya di leher Nina.
“Mas.. inget tempat iih..”
“Pulang ke resort aja yuk. Percuma juga ke sini ngga bisa main air. Mending di kamar, kita main di kasur.”
Wajah Nina merona mendengar ucapan suaminya. Tanpa menunggu jawaban Nina, Abi segera berdiri lalu menarik tangan istrinya. Mereka bergegas menuju mobil yang disiapkan manager resort selama berada di Lombok.
Abi membuka pintu mobil lalu membopong tubuh Nina. Dengan langkah cepat dia menuju kamar mereka yang berada di paling ujung. Nina menempelkan keycard pada panel pintu. Abi masuk lalu menutup pintu dengan cara mendorong dengan kakinya. Dibaringkan tubuh Nina di atas kasur. Baru saja dia akan menerkam sang istri, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari perut Nina.
“Laper mas,” Nina menampilkan cengiran khasnya.
Setengah frustrasi Abi bangun dari tidurnya kemudian meraih gagang telepon di nakas dekat ranjang. Dia memesan makanan untuk sang istri tercinta. Nina memeluk leher Abi lalu mendaratkan ciuman di pipinya.
“Makasih masku sayang.”
“Habis makan main triple ya.”
“Ish.. sekali aja.”
“Oke.. sekali tapi lama.”
Nina memutar bola matanya. Untuk urusan ranjang Abi memang tak pernah lelah. Suaminya itu benar-benar ganas dan mampu membuatnya mabuk kepayang. Nina heran saja dengan tuduhan yang pernah didengarnya kalau sang suami lemah di ranjang. Dia juga tak mengerti dengan jalan pikiran Fahira yang mengkhianati suami sempurna seperti Abi.
Nina memutar tubuhnya lalu duduk di pangkuan Abi. Tangannya menggelayut manja di leher sang suami. Abi memeluk pinggang Nina erat, kecupan-kecupan kecil didaratkan ke bibir seksi di depannya.
“Mas.. aku ngga habis pikir loh. Kenapa Fahira sampai mengkhianatimu. Padahal menurutku kamu itu paket sempurna.”
“Karena dia tidak mencintaiku.”
“Kok bisa? Bukannya sebelum menikah kalian pacaran dulu? Masa pacaran tanpa cinta.”
“Itulah kenyataannya. Dia cuma memanfaatkanku saja yang tergila-gila padanya. Hidupnya dan keluarganya terjamin karenaku. Dia hanya mencintai uangku saja.”
“Jahat banget sih dia. Tapi aku bersyukur dia tidak mencintaimu, jadi sekarang aku bisa memilikimu. Lihat aja kalau ada perempuan yang berani deketin atau coba-coba ngerebut mas, bakalan aku tebas.”
Abi tersenyum mendengar ucapan sang istri. Dipandanginya wajah wanita yang telah memenuhi relung hatinya. Kini sudah tidak ada amarah atau kebencian ketika membicarakan tentang Fahira. Abi dapat mengucapkan nama wanita itu tanpa beban. Mungkin benar apa kata Nina, dibalik pengkhianatan Fahira ada hikmah tersembunyi. Kini dirinya memiliki istri yang tidak hanya cantik tapi juga mencintai dirinya sepenuh hati.
“Emang siapa perempuan yang mau ngerebut mas dari kamu?”
“Banyak mas. Kaya Keysha, Ruby.”
“Ruby?”
“Iya.. sekretaris mas, si Ruby Rainbow, sahabatnya Coco yang suka pergi ke desa pelangi. Dia kan naksir ama mas, kelihatan jelas dari matanya. Waktu aku mau ketemu mas di kantor aja, judes banget. Berasa dia istrinya mas.”
“Hahaha... mas ngga tertarik sama dia sayang.”
“Awas aja kalau mas berani dekat-dekat sama dia. Ngga bakalan aku kasih jatah lagi.”
“Yakin kamu bakalan kuat ngga ngasih jatah sama mas? Kamu kan seneng banget dibuat mend**ah dan menjerit.”
Nina membelalakkan matanya. Tingkat kepedean suaminya ini memang sudah berada di level tertinggi. Namun Nina tak menampik kalau Abi begitu perkasa di ranjang hingga membuatnya selalu mendamba sentuhan darinya.
Keasikan mereka mengobrol terusik dengan suara bel di pintu. Nina turun dari pangkuan Abi lalu bergegas membukakan pintu. Seorang pelayan mendorong troli berisi makanan ke dalam kamar. Nina memanggil Abi untuk makan bersama. Menu seafood yang dipesan Abi begitu menggugah selera makannya. Dengan lahap Nina menyantap semua hidangan.
Abi membersihkan sisa saos yang menempel di bibir Nina dengan bibirnya, kemudian me**matnya sebentar. Mixed seafood dengan bumbu saos padang tandas sudah oleh mereka berdua. Ditambah dengan cah kangkung dan udang goreng tepung membuat perut Nina terasa penuh.
Nina merebahkan kepalanya di pangkuan Abi. Matanya memberat setelah bebagai makanan masuk ke dalam perutnya. Abi mencapit hidung Nina dengan kedua jarinya membuat mata Nina yang hendak terpejam kembali terbuka.
“Habis makan jangan tidur.”
__ADS_1
“Ngantuk mas.”
“Bangun, jangan rebahan. Kita olahraga aja yuk.”
“Olahraga apa nih?” Nina memicingkan matanya, menatap curiga ke arah sang suami.
“Olahraga jempol. Kita main game di hp. Otakmu ngeres aja bawaannya.”
Abi menyentil pelan kening sang istri. Diraihnya ponsel miliknya kemudian mulai membuka aplikasi permainan di ponselnya.
“Jangan main mobile legend ah, aku ngga suka.”
“Terus mau main apa?”
“Main tetris.”
“Dih kaya anak sd aja main tetris. Nonton film aja gimana?”
“Film apa?”
“Action aja biar ngga ngantuk.”
Nina mengangguk, mereka mengambil remote televisi kemudian menghubungkannya ke internet. Setelah memilih-milih sebentar, pilihannya jatuh pada film box office yang telah mengeluarkan sequelnya hingga seri ke-9.
Baru sampai pertengahan film, Abi mulai tak bisa diam. Tangannya menelusup kebalik dress Nina, meraba-raba tubuh istrinya itu. Nina berusaha menyingkirkan tangan Abi namun suaminya itu malah melepaskan dressnya. Dia langsung membungkam mulut Nina dengan pagutannya ketika sang istri hendak protes.
Keseruan Vin Diesel berkejar-kejaran dengan John Cena sudah tak dipedulikan lagi. Keduanya mulai sibuk bercumbu. Tubuh Nina menggelinjang saat Abi menyentuh titi-titik sensitifnya dengan jari, bibir dan lidahnya. Kini tubuh wanita itu sudah tak tertutupi benang selembar pun. Tangan Abi tak berhenti memainkan bukit kembar Nina, sedang bibir dan lidahnya bermain di bagian bawah.
De**han dan lenguhan Nina terdengar ketika Abi menciumi area sensitifnya. Dirematnya rambut sang suami. Nafasnya mulai terengah, sebentar lagi dia akan sampai ke puncaknya. Namun tiba-tiba Abi menghentikan aksinya. Dengan santainya dia berbaring di sisi Nina.
“Mas ngantuk.”
Abi memejamkan matanya, karuan Nina keki di buatnya. Wanita itu bangun lalu menggungcang-guncang tubuh sang suami.
“Maaaasss.. ngga lucu... terusin ngga?”
“Mas ngantuk sayang. Hoaaam.”
Nina mulai memainkan batangan kenyal itu. Erangan dan geraman Abi membuat wanita itu tambah bersemangat. Berkali-kali terdengar Abi menyebutkan namanya setiap merasakan menikmatan dari sentuhan Nina.
Setelah puas, Nina naik ke atas Abi. Tanpa malu dia memulai percintaan dengan gaya yang banyak disukai kaum hawa. Nina melepaskan kaos yang melekat di tubuh suaminya, kemudian bibirnya mulai menciumi dada bidang yang membuatnya tak pernah bosan untuk menyentuhnya. Abi tersenyum melihat sang istri yang sudah mulai berani dan agresif. Kali ini, dia membiarkan Nina memimpin permainan.
☘️☘️☘️
Nina memasuki kamar dengan kesal. Niatnya berkeliling kota Mataram gagal gara-gara Abi bertemu dengan salah satu koleganya. Mereka mendadak membicarakan bisnis yang sebentar lagi akan mereka garap bersama. Bukan itu yang membuat Nina kesal, tapi kolega bisnis Abi yang seorang perempuan keturunan Indonesia-Spanyol yang membuatnya geram.
Sonya, nama wanita itu. Sepertinya Sonya sengaja menahan Abi agar terus bersamanya. Ada saja bahasan yang wanita itu bicarakan setiap Abi berusaha pamit. Nina yang berada bersama mereka terlihat seperti kambing congek saja. Terlebih dia memang tidak paham tentang dunia bisnis.
Ingin rasanya Nina mencolok mata Sonya yang selalu menatap penuh damba pada Abi. Entah suaminya menyadari atau tidak, yang jelas hal tersebut sukses membuat Nina terbakar cemburu. Nina meletakkan gelas dengan keras ke atas meja kemudian menyambar tasnya dan berlalu pergi. Abi buru-buru menyusulnya.
BRAK!!!
Nina menutup pintu kamar dengan kencang, hampir saja hidung Abi mencium daun pintu. Pria itu bergegas masuk lalu menghampiri sang istri.
“Sayang.. kamu kenapa sih?”
“Ngapain ikut ke kamar? Sana aja ngobrol terus sama Sonyaaaaaa,” kesal Nina.
“Maaf.. maaf.. tapi dia salah satu kolega pentingku.”
“Jadi dia lebih penting dari aku gitu?”
“Ya ngga sayang, bukan gitu.”
“Emang begitu kan? Dia emang lebih penting dari aku sampai mas lupa sama janji mas ngajak aku keliling Mataram.”
“Sekali lagi mas minta maaf. Ayo kita pergi sekarang.”
“Udah ngga mood!!”
__ADS_1
Nina menghempaskan tubuhnya ke atas kasur lalu menutupi tubuhnya dengan selimut. Abi mendekat lalu duduk di sisi ranjang. Disentuhnya tubuh Nina namun dengan gerakan kasar Nina menepis tangan Abi. Pria itu hanya menghembuskan nafas panjang, sepertinya istrinya benar-benar murka. Akhirnya dia memilih naik ke kasur lalu berbaring di sisi Nina tanpa berani menyentuhnya.
☘️☘️☘️
Malam semakin larut, namun Nina masih belum sembuh dari mode ngambeknya. Dia masih setia menutup mulutnya dan menghindari bertatap muka dengan sang suami. Abi duduk di sofa memandangi Nina yang tengah duduk menyandar di ranjang menonton tayangan di televisi yang kebetulan memutar film horor.
Terus tak dipedulikan Nina, Abi memilih keluar dari ruang tidur. Dia menuju dapur untuk menikmati minuman dingin. Tiba-tiba lampu di kamarnya padam. Nina yang tengah duduk santai langsung terlonjak. Suasana gelap menyelimuti seisi kamar. Dia yang tengah menonton film horor karuan menjadi parno sendiri.
Tiba-tiba hidungnya mencium aroma kemenyan. Nina mengendus beberapa kali untuk memastikan kalau tak salah cium. Benar saja, aroma kemenyan memenuhi seisi ruang tidur. Hati Nina mulai ketar-ketir, perlahan dia turun dari ranjang.
“Mas Abi...” panggilnya pelan. Tapi sang empu nama belum datang juga.
Nina merentangkan tangannya, meraba-raba sekelilingnya sedang kakinya berjalan perlahan. Saat matanya sudah mulai terbiasa dengan suasana gelap, tiba-tiba matanya menangkap sesosok putih berdiri di dekat pintu kamar yang terhubung ke teras.
“Mas Abi!!! mas Abi!!!”
Nina berteriak kencang, membuat Abi yang berada di dapur bergegas masuk ke ruang tidur. Abi datang dengan cahaya senter dari ponselnya.
“Kenapa sayang?”
“Mas.. i.. itu yang di deket jendela apa?”
Nina menunjuk ke arah pintu geser yang terbuat dari kaca. Penerangan dari ponsel Abi semakin memperjelas sosok yang dilihatnya. Seorang wanita mengenakan pakaian putih dengan rambut tergerai panjang serta wajah menakutkan berdiri di pojokan dan memandang tajam ke arahnya.
“Ada apa sayang? Ngga ada apa-apa kok.”
“I.. itu.. masa mas ngga lihat. Itu kunti mas,” suara Nina terdengar bergetar.
Nina memeluk Abi erat, membenamkan wajahnya ke dada bidang sang suami, tangannya meremat erat kaos yang dikenakan Abi. Tak lama lampu kembali menyala, Nina menarik kepalanya. Matanya langsung tertuju ke arah pojokan dan sosok yang dilihatnya tadi sudah tidak ada.
“Kamu lihat apa sampai histeris gitu?”
“Kunti mas..”
“Mana?”
“Itu tadi ada di pojokan.”
“Cuma bayangan kamu aja kali. Kamu kan habis nonton film horor. Udah ayo tidur.”
Abi membawa Nina naik ke atas ranjang. Dia juga ikut berbaring di sisi istrinya. Nina menyurukkan kepalanya ke dada Abi, takut kalau sosok menyeramkan tadi kembali datang menghantuinya.
“Sayang.. maafin mas soal Sonya ya. Kamu masih marah ngga?”
“Ngga. Tapi mas jangan ulangi lagi ya.”
“Iya sayang.”
Abi menundukkan kepalanya, tangannya meraih dagu Nina kemudian me**mat bibirnya. Rasa takut Nina berganti dengan keinginan disentuh sang suami. Keduanya mulai hanyut dengan cumbuan dan hasrat yang membara. Beberapa kali Nina merasakan pelepasan yang mengirimnya ke langit ke tujuh. Begitu pula Abi yang puas berhasil menyemburkan ratusan cebongnya ke rahim sang istri.
Abi mencium kening Nina kemudian menutupi tubuh polos sang istri setelah membersihkan area intimnya. Abi beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Disambarnya boxer yang tergeletak di lantai. Setelah memakainya, Abi berjalan menuju pintu kaca yang menuju teras. Dia memang sengaja membiarkan pintu terbuka.
Abi berdiri sebentar di teras kamar menikmati semilir angin malam. Senyum menyungging di wajahnya. Tak sia-sia dia meminta pegawai resort meniupkan aroma kemenyan ke kamarnya juga menyamar sebagai hantu untuk menakuti-nakuti Nina. Namun dirinya tak berani membayangkan kalau Nina sampai tahu kejadian tadi hanya akal-akalannya saja.
Setelah puas menikmati angin malam, Abi memutuskan masuk ke dalam kamar. Saat akan beranjak sudut matanya menangkap sesosok putih berkelebat di dekat pohon depan kamarnya. Abi menajamkan matanya melihat ke arah pohon. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan penampakan makhluk astral di dekat pohon. Wujud makhluk astral itu sama persis seperti yang menghantui Nina tadi.
“Astaghfirullahaladziim!”
Abi memegang dadanya saking terkejutnya. Makhluk berpakain putih dengan wajah menyeramkan itu menatap tajam ke arahnya. Abi mengambil batu kerikil yang ada di dekatnya kemudian melemparkannya ke arah makhluk tersebut. Seketika makhluk tersebut langsung hilang dari pandangan Abi.
“Ngagetin aja! Pantes orang-orang pada takut, muka lo jelek kaya gitu. Awas lo berani balik lagi gue kirimin ayat kursi segerbong!”
Abi masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu yang menuju teras. Ditariknya hordeng hingga pintu kaca itu tertutup sempurna. Dia merangkak naik ke atas ranjang lalu berbaring di samping sang istri. Dipandanginya wajah Nina yang sudah terlelap.
Maafin mas ya udah ngerjain kamu. Tapi mas barusan didatengin kunti beneran. Kayanya mas kualat deh sama kamu.
Abi mencium kening Nina kemudian menarik istrinya itu ke dalam pelukannya. Tak lama dia pun memejamkan mata. Nina bergerak mengeratkan pelukannya di pinggang Abi, wanita itu nampak pulas dalam dekapan sang suami.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Ya ampun Abi, ngga ke orang ngga ke Kunti, mulutnya tetep pedes ya🤣🤣🤣
Sokoorin kamu Bi, didatengin Kunti beneran😂