
Jojo mengendarai mobilnya seperti orang kesetanan setelah Kevin mendapat telepon dari Rindu yang mengatakan kalau Adinda pingsan. Hampir saja mobilnya menabrak kendaraan lain karena menyetir dengan kecepatan tinggi dan tak berhenti menyalip.
Dalam waktu singkat Jojo sampai di gedung aparetmennya. Pria itu menghentikan kendaraan di depan pintu masuk lalu melemparkan kunci pada security untuk memarkirkan mobilnya. Selanjutnya dia berlari memasuki lift, menuju lantai tempat unitnya berada.
TING
Pintu lift terbuka. Secepat kilat Jojo keluar kemudian menuju unitnya. Setelah memasukkan enam digit pin, dibukanya pintu unitnya. Dengan tergesa Jojo menghambur masuk ke dalam. Pria itu terpaku di tempatnya ketika melihat tiga orang perempuan tengah duduk anteng sambil cekikikan. Ketiganya sedang asik menonton drama Korea terbaru.
“Eh.. ada bang Jo,” tegur Sekar.
“Muh, kamu baik-baik aja?”
“Iya om, emangnya kenapa?”
“Rindu, tadi kenapa kamu telpon Kevin bilang kalau Muh pingsan?”
“Aku? Aku emang telepon bang Kev tapi cuma kasih tau kalau lagi di sini nemenin Dinda.”
Jojo menggeram kesal karena si kulkas dua pintu berhasil mengerjainya. Pria itu berlalu ke dapur lalu mengambil botol air dingin dari dalam kulkas. Dengan cepat diteguknya minuman dingin itu untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
“Din, kita pulang dulu ya. Kan udah ada bang Jojo,” ucap Sekar, Rindu juga ikut mengangguk.
“Makasih ya kak, udah nemenin aku.”
“Sama-sama. Kalau butuh teman kongkow kasih tau kita-kita aja ya.”
“Siap.”
Sekar dan Rindu bangun dari duduknya. Saat akan keluar, mereka berpapasan dengan Jojo yang hendak menemui Adinda.
“Bang Jo, kita pulang dulu ya.”
“Makasih ya udah mau nemenin Dinda.”
“Cie.. sekarang manggilnya Dinda bukan Muh lagi,” ledek Sekar.
“Udah sana pulang.”
Jojo mengusak puncak kepala Sekar seraya mendorong tubuh wanita itu sampai ke dekat pintu. Sekar mendelik sebal ke arah pria itu. Kedua mantan gadis itu akhirnya keluar juga dari unit apartemen. Jojo melangkah mendekati Adinda kemudian mendaratkan bokongnya di samping gadis itu.
“Ehmm.. om, malam ini aku boleh nginep di sini lagi ngga?”
“Muh.. denger, ada yang mau omongin sama kamu.”
Jojo terdiam sejenak seraya memandangi gadis di sebelahnya. Kondisi Adinda kini sudah lebih baik. sepertinya kedatangan Sekar dan Rindu membuat keadaan Adinda sedikit membaik.
“Muh.. maaf kamu ngga bisa tinggal di sini. Kamu juga ngga bisa kerja lagi sama aku. Saat ini aku ngga bisa bertanggung jawab atas hidup kamu.”
Adinda terkejut mendengar penuturan Jojo. Tadi malam pria itu mengatakan akan terus berada di sisinya tapi sekarang mengatakan hal yang sebaliknya. Bahkan Jojo juga tidak membutuhkan tenaganya lagi bekerja di sini. Mata Adinda berkaca-kaca. Dia seperti kehilangan tiang bersandarnya.
“Apa salah aku om? Kenapa om pecat aku? terus aku harus tinggal di mana om? Aku diusir dari kontrakan dan aku juga ngga punya uang.”
Adinda mulai menangis, sepertinya kesialan terus saja menimpa dirinya. Jojo meraih tangan gadis itu lalu menggenggamnya erat. Jarinya bergerak menghapus airmata yang membasahi pipi mulus Adinda.
“Aku memang belum bisa bertanggung jawab atas hidupmu sekarang. Tapi apa kamu mau memberiku jalan untuk bisa menjagamu dan bertanggung jawab atas hidupmu?”
“Maksud om apa?”
“Kamu mau menikah denganku?”
Adinda terkesiap mendengar pertanyaan Jojo. Refleks ditariknya kedua tangannya dari genggaman Jojo.
“Ma.. maaf om. A.. aku ngga bisa.”
Kali ini giliran Jojo yang terkejut. Dikiranya Adinda mempunyai rasa yang sama dengannya, mengingat bagaimana semalam gadis itu tak ingin berada jauh darinya. Ada perasaan kecewa menjalari hatinya. Kepala Jojo tertunduk lesu.
“Om sudah banyak menolongku. Aku ngga mau om berkorban lebih banyak buat aku.”
“Apa maksud kamu? Berkorban apa?”
“Aku tahu maksud om Jojo mau menikah denganku karena om kasihan padaku. Om cuma mau melindungiku setelah kepergian enin. Aku baik-baik aja om. Asalkan om mau tetap kasih aku pekerjaan, aku baik-baik aja. Untuk sementara aku bisa tinggal dengan bu Teni sampai aku punya uang untuk mengontrak sendiri.”
“Ok, aku akan kasih pekerjaan baru buat kamu.”
“Bener om? Pekerjaan apa?”
“Menjadi penamping dan ibu dari anak-anakku, mau?”
“Ish itu sama aja nikah namanya om. Aku kan udah bilang ngga mau nikah sama om kalau karena kasihan. Om kan udah punya pilihan sendiri.”
“Iya benar, aku emang udah punya pilihan sendiri. Tapi dia orangnya lemot, kebanyakan drama gara-gara nonton drakor mulu makanya susah kasih jawaban pas aku ajak nikah.”
“Siapa om?”
“Namanya Adinda Puspita Muharani alias Muh, alias blewah alias Pus, alias Pitak.”
Jojo menyebutkan semua nama yang disematkan sahabat-sahabatnya untuk gadis itu. Sejenak Adinda terdiam, kemudian matanya membelalak.
“Om Jo beneran mau nikah sama aku?” Jojo mengangguk.
__ADS_1
“Bukan karena kasihan atau terpaksa?”
“Astaga Muh, siapa yang bilang kalau aku nikah karena terpaksa? Itu pikiran kamu sendiri.”
Jojo mengetuk pelan kening gadis itu. Adinda memandang Jojo tanpa berkedip. Dia masih percaya kalau Jojo benar-benar ingin menikahinya bukan karena terpaksa atau rasa kasihan.
“Om Jo kenapa mau nikah sama aku?”
“Ya karena aku sayang kamu. Aku CINTA kamu, Muh.”
Mata Adinda berkedip-kedip mendengar pernyataan cinta Jojo yang tiba-tiba. Wajahnya merona, kedua pipinya terasa panas. Jojo menangkup pipi Adinda dengan kedua tangannya. Matanya memandang dalam ke netra gadis itu.
“Aku ngga tahu sejak kapan perasaan ini hadir. Tapi yang pasti aku sayang kamu, aku cinta kamu, Dinda. Will you marry me?”
Adinda terdiam sejenak, jantungnya tiba-tiba saja berdetak lebih kencang. Tatapan mata Jojo seakan melemaskan seluruh persendiannya. Ada rasa bahagia mendengar pria di depannya ini menyatakan cinta.
“Dinda, will you marry me?”
Jojo mengulang pertanyaannya. Mulai terlihat kecemasan di wajahnya, takut kalau gadis itu menolaknya, seperti yang dikatakan Abi tadi. Namun kecemasannya menguap ketika melihat anggukan Adinda. Dengan cepat direngkuhnya tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Adinda memejamkan matanya, pelukan Jojo terasa begitu nyaman dan menenangkan.
Jojo menguraikan pelukannya lalu kembali menangkup wajah Adinda. Perlahan dia mendekatkan wajahnya. Jantung Dinda berdetak semakin cepat ketika wajah Jojo semakin dekat saja. Saat bibir mereka akan bertemu sedikit lagi, tiba-tiba ponsel Jojo berdering.
Jojo berusaha mengabaikan deringan ponsel tersebut namun sia-sia. Panggilan yang masuk ke ponselnya sukses membuyarkan konsentrasi dan merusak momen romantisnya bersama Adinda. Dengan kesal diraihnya benda pipih itu kemudian menjawab panggilan yang ternyata berasal dari sahabat somplaknya.
“Halo.”
“Bawa si Pus ke rumah gue sekarang!” perintah Abi.
“Iya nanti gue anterin.”
“Sekarang! Gue ngga percaya dia berduaan ama lo lama-lama. Anterin sekarang! Kalau ngga gue suruh security apartemen lo nongkrong di tempat lo.”
“Iya-iya bawel banget!”
Jojo mengakhiri panggilan dengan perasaan dongkol. Abi sukses merusak suasana indah yang berasaha dibangunnya tadi. Adinda terus memperhatikan Jojo yang misah misuh sendiri.
“Kenapa om?”
“Ayo Muh, beresin baju kamu. Sebelum pernikahan, kamu tinggal di rumah Abi.”
“Dih manggilnya Muh lagi, tadi Dinda.”
“Tar aja kalo dah resmi jadi istri aku rubah panggilannya.”
“Bener ya, jangan panggil Muh lagi. Panggil Dinda aja.”
BLUSH
Wajah Adinda merona mendengarnya. Buru-buru gadis itu ngacir ke kamar Jojo untuk mengambil tas dan membereskan barang-barangnya. Jojo mengikuti dari belakang sambil tersenyum simpul.
☘️☘️☘️
Nina menyambut kedatangan Adinda dengan penuh sukacita. Abi telah mengatakan kalau gadis itu akan tinggal bersamanya. Dia mengajak Adinda menuju kamar tamu yang telah disiapkan olehnya. Adinda terkejut melihat kamar yang ukurannya sama dengan rumah kontrakannya dulu.
“Mudah-mudahan betah ya di sini. Kalau mau apa-apa bilang aja sama bi Ita atau Dewi. Ngga usah sungkan-sungkan.”
“Makasih kak Nina.”
Adinda memeluk Nina erat. Tak terasa airmatanya mengalir merasakan kebahagian bertubi yang dirasakannya. Jojo baru saja melamarnya, lalu melihat kebaikan Nina dan Abi padanya. Selain itu, Sekar dan Rindu juga sangat baik kepadanya. Sungguh Adinda merasa menjadi gadis paling beruntung di dunia.
“Jangan menangis. Mulai sekarang kamu harus bahagia.”
Nina menghapus airmata Adinda. Melihat Adinda mengingatkan pada dirinya dulu. Kehilangan kedua orang tua di saat masih kecil. Lalu kerja keras mencari uang demi memenuhi kehidupannya dan mencari keberadaan sang adik. Pertemuannya dengan Abi membalikkan semuanya.
Kini hidupnya berkecukupan bahkan lebih. Mendapat limpahan kasih saya dari mertua, kakak dan adik iparnya. Dan yang terpenting dicintai begitu besar oleh sang suami. Sekarang, dirinya tengah menanti kelahiran buah cintanya dengan Abi. sepertinya Tuhan sedang membayar semua jerih payah dan penderitaannya dulu.
“Keluar yuk, ada Anfa sama Rayi juga.”
Nina menggandeng tangan Adinda. Mereka menuju taman belakang. Di sana Abi, Jojo, Rayi dan Anfa tengah duduk santai di atas rumput sintetis. Nina duduk di samping Abi. seperti biasa, wanita itu langsung masuk ke dalam dekapan suaminya. Sejak hamil, Nina tak ingin lepas dari Abi.
“Bang Jo beneran mau nikah?” tanya Rayi.
“Iya.”
“Syukur deh gue pikir si Pus nolak. Kasihan aja lihat elo udah hampir jadi jomblo karatan.”
“Sumpah ya Bi, omongan dari mulut lo ngga ada yang enak,” kesal Jojo.
“Kapan kalian nikah?” tanya Nina.
“Minggu depan aja.”
Sebuah keplakan mendarat di belakang kepala Jojo. Pria itu menatap kesal ke arah sahabatnya, sang pelaku pengeplakan.
“Lo mau dicincang sama mama nikah minggu depan?”
Kekesalan Jojo surut begitu mendengar ucapan Abi. Bahkan dia harus bersyukur sudah diingatkan. Jika sampai dia menikah dan Rahma tidak mengetahuinya, bisa habis telinganya dijewer oleh wanita itu.
“Mama kapan pulang?”
__ADS_1
“Harusnya minggu depan, tapi diundur. Tadi kak Juna telepon, katanya Nadia hamil. Jadi mereka harus menunda kepulangan sampai usia kandungannya Nadia empat minggu.”
“Kak Nadia hamil?” antusias Nina.
“Iya.”
“Alhamdulillah.”
Nina bahagia mendengarnya. Dia tahu benar kalau Nadia ingin segera diberi momongan. Bahkan wanita itu sampai rela bolak-balik ke dokter kandungan mengecek kesuburan dan melakukan terapi.
“Amannya bulan depan aja,” usul Abi.
“Iya bang, biar aku bisa siapin konsep yang bagus buat kalian.”
“Kamu ngga apa-apa kan Muh kalau kita undur pernikahannya sampai bulan depan?”
“Dih pake nanya si Pus. Lo nya kali yang udah ngga sabaran pengen buka puasa, nyet!”
Nina mencubit pinggang Abi yang bicara tanpa saringan. Alhasil tiga makhluk polos yang ada di dekat mereka auto berpikir keras, mencoba memahami makna berbuka puasa. Jojo melayangkan toyoran ke kepala calon ayah itu. Abi hanya terkekeh saja.
“Kamu mau konsep pernikahan seperti apa Din?” tanya Rayi.
“Hmm.. tanya om Jojo aja, aku bingung.”
“Kok manggilnya masih om, Din?” tanya Anfa.
“Udah kebiasaan kak. Emangnya aku harus panggil apa gitu?”
“Hahahaha... udah panggil om aja. Lebih cocok dipanggil om, dia,” Abi puas menertawakan sahabatnya yang sudah memasang muka perang.
“Sebelumnya, maaf ini ya. Please... please.... konsep foto pre wed kalian nanti yang biasa aja ya. Jangan yang aneh-aneh kaya Sekar sama kak Abi. Tobat aku tobat.”
Anfa terkekeh mendengar ucapan kekasihnya itu. Dirangkulnya bahu Rayi kemudian meletakkan kepala kekasihnya itu di bahunya.
“Ehem!!!”
Deheman keras Abi membuat Anfa melepaskan rangkulannya. Nina memutar bola matanya melihat tingkah Abi. Bisa-bisanya suaminya itu melarang Anfa merangkul bahu Rayi sedangkan dulu sering mencium dirinya sebelum menikah.
Anfa menghela nafas panjang. Baru memeluk bahu saja, sudah terdengar deheman apalagi kalau dirinya meminta menikah cepat-cepat dengan Rayi. Sudah pasti akan terdengar aumannya. Walau keras dan suka memerintah seenaknya, namun Anfa sangat menghormati dan menyayanyi Abi. Dia tahu apa yang dilakukan kakak iparnya itu untuk kebaikannya.
☘️☘️☘️
Seusai makan malam, Anfa dan Rayi pamit pulang. Sementara Jojo masih bertahan di sana. Waktu terus bergulir, Abi mengusir Jojo yang masih betah berada di rumahnya padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
“Sana pulang, ngapain di sini mulu?”
“Bentar lagi, ah elah galak banget sih lo. Bapak mertua juga bukan.”
“Selama si Pus tinggal di sini, dia jadi tanggung jawab gue. Awas aja lo coba-coba jebol gawang sebelum waktunya.”
“Astaghfirullah, bacot lo, nyuk!”
“Bi.. panggilin si Muh dong. Ada yang mau gue obrolin nih ama dia, serius.”
“Soal apa?”
“Udah panggilin aja, kepo banget.”
Abi mendengus kesal namun tak ayal dia berdiri dari duduknya lalu masuk ke dalam. Dia dan Jojo memang masih di taman belakang. Sedang Adinda bersama dengan Nina menonton televisi.
“Abis manggil si Muh jangan balik lagi ke sini. gue mau ngobrol empat mata sama dia!”
Abi tak menggubris teriakan Jojo, pria itu terus berjalan menuju ruang tengah. Setelah mengatakan pesan Jojo pada Adinda, pria itu mendudukkan diri di samping sang istri. Seperti biasa, dia selalu mengusap perut Nina yang sekarang sudah mulai terlihat tonjolannya.
Adinda menuju halaman belakang lalu duduk di samping Jojo yang tengah menikmati udara malam sambil memandang jutaan bintang yang bertebaran di langit malam. Gadis itu duduk di samping Jojo.
“Ada apa om?”
Jojo menoleh ke arah Adinda kemudian merubah posisi duduknya menjadi berhadapan. Jantungnya berdegup kencang saat bertatapan dengan netra gadis yang akan menjadi istrinya. Ketakutan seketika melandanya. Berulang kali dia menarik nafas panjang, membuat Adinda terheran-heran.
“Kenapa om?”
“Muh... ada hal yang mau aku kasih tahu ke kamu.”
“Soal apa om?”
“Soal aku, keluargaku dan masa laluku yang suram. Aku mengatakan ini karena ingin memulai hubungan dengan kejujuran tanpa ada yang ditutupi. Setelah mendengar semuanya dan kamu ngga bisa menerimanya, kamu boleh membatalkan pernikahan kita.”
Jojo kembali menarik nafas panjang. Berharap apa yang dilakukannya ini benar. Setelah dapat menguasi diri, pria itu mulai bercerita tentang hidupnya. Cerita tentang kedua orang tuanya, Anka, papa Ronald, Fahira, termasuk tentang balas dendamnya pada Abi. Jojo juga secara jujur mengakui kalau sudah tidur dengan lima orang wanita selama hidupnya. Fahira, Ruby, Angela, temannya di Singapura, Puja, sekretaris Ronald dan terakhir wanita sewaan yang membantunya menuntaskan hasrat akibat obat per*ngsang yang salah alamat.
Jojo mengakhiri ceritanya. Adinda terdiam seribu bahasa. Dia cukup tercengang mengetahui masa lalu calon suaminya itu. Jojo menundukkan kepalanya. Dia pasrah kalau Adinda membatalkan niatnya menikah.
“Om..”
☘️☘️☘️
**Kira² Dinda alias Muh jawab apa ya🤔
Maaf ya hari ini cucian mamake banyak, jadi mau jemur baju dulu. Gantungan mana gantungan🏃🏃🏃🏃**
__ADS_1