
Malam harinya pesta resepsi jilid dua digelar. Aric dan Naya sudah bersanding di pelaminan. Di samping kanan, kiri mereka, sudah ada Cakra, Sekar, Jojo dan Adinda. Para tamu undangan pun mulai berdatangan. Sebagian tamu yang hadir masih orang dengan wajah yang sama yang datang kemarin. Sebagian lagi adalah teman-teman Naya dan Aric. Jadi terdapat beberapa wajah baru di dalam ballroom.
Pengisi acara pun masih sama, masih menggunakan wedding singer bersama band pengiringnya yang sama, termasuk Zahra. The Myth juga tetap diminta tampil untuk menghibur para tamu. Namun kesempatan pertama, hiburan diberikan oleh para wedding singer. Zahra dan kedua orang temannya bergantian naik ke atas pentas.
Kali ini giliran Zahra yang harus menghibur tamu undangan. Kenan sengaja menampakkan diri di depan gadis itu. Dia mengambil tempat di meja yang dekat dengan panggung hiburan. Dalam hati Kenan memuji penampilan Zahra yang begitu cantik dalam balutan dress selutut berwarna lavender. Rambutnya diikat setengah, walau dengan make up tipis, kecantikan gadis pujaannya tetap terpancar.
Dada Zahra berdebar saat bersitatap dengan mata Kenan. Gadis itu beberapa saat sempat merasakan grogi. Buru-buru ditariknya nafas dalam untuk menyingkirkan itu semua. Dia harus segera berkonsentrasi dengan lagu yang akan dibawakannya. Tak lama kemudian terdengar iringan musik berirama slow. Sebuah lagu lawas bertema cinta yang dipilihnya sendiri untuk menyuarakan isi hatinya saat ini.
Zahra maju selangkah ke depan seraya memegang erat mic di tangannya. Gadis itu memberanikan diri menatap mata Kenan saat mulai menyanyikan lirik lagu Too Love You More milik Celine Dion.
“Take me back into the arms I love. Need me like you did before. Touch me once again. And remember when. There was no one that you wanted me (Bawa aku kembali ke dalam dekapan tanganmu yang kucinta . Butuhkan aku seperti yang kamu lakukan dulu. Sentuh aku sekali lagi dan ingatlah. Tidak ada orang lain yang lebih kamu inginkan).”
Hati Kenan menghangat saat mendengar bait pertama yang dinyanyikan Zahra. Dia merasa lirik di dalam lagu ditujukan padanya. Pemuda itu terus menatap ke arah Zahra tanpa berkedip. Begitu pula dengan Zahra yang hanya menatap Kenan saat bernyanyi, seolah tak ada orang selain mereka di dalam gedung ini.
“I’ll be waiting for you. Here inside my heat. I’m the one who wants to love you more. You will see, I can give you. Everything you need. Let me be the one to love you more (Aku akan menunggumu. Di sini di dalam hatiku. Aku adalah orang yang ingin lebih mencintaimu. Kamu akan melihat bahwa aku akan bisa memberimu. Segala yang kamu butuhkan. Biarkan aku menjadi orang yang lebih mencintaimu).”
Rasanya Kenan ingin berlari ke atas panggung dan memeluk tubuh itu. Seperti halnya Zahra, dia juga ingin menyanyikan lagu itu padanya. Mulutnya sudah gatal ingin meneriakkan kata cinta pada gadis pujaannya itu. Entah sampai berapa lama dia bisa bermain tarik ulur seperti ini, di saat hatinya sudah sarat akan kerinduan.
Di sisi lain, pasangan suami istri yang baru saja menikah seminggu yang lalu juga turut larut dengan lagu yang dinyanyikan oleh Zahra. Viren menggenggam erat tangan Alisha. Sesekali dia mencium punggung tangan istrinya itu dengan lembut. Alisha melihat suaminya dengan penuh cinta. Senyum manis tercetak di wajah cantiknya.
“I love you, Al,” bisik Viren di telinga sang istri membuat wanita cantik itu menolehkan wajahnya dan seketika bibir mereka bertemu.
CUP
Viren mengecup bibir Alisha tanpa mempedulikan mungkin ada beberapa pasang mata yang menangkap apa yang dilakukannya barusan. Pipi Alisha merona mendapatkan perlakuan romantis dari suaminya di tempat umum seperti ini. Wajah wanita itu semakin merona ketika Viren mencium pipi yang kemerahan itu.
“Anjaaayyy… itu es balok tetiba berubah jadi es doger,” seru Revan yang tak sengaja menangkap sikap mesra Viren pada Alisha.
“Gue malah penasaran kalo elo yang bucin gimana bentukannya,” celetuk Anya.
“Ya ngga akan berubah, Nya. Gitu-gitu aja paling cengar-cengir kaya orang gila,” sahut Haikal diringi gelak tawanya. Dan sebuah tepukan sukses mendarat di belakang kepalanya.
“Kamu ngga penasaran kalau abang yang bucin kaya gimana?” seru Irvin yang langsung mendapat sorakan dan ledekan dari Revan dan Haikal.
“Emang kaya gimana?” tantang Anya.
“Yakin nih mau abang lihatin di depan nih kampret dua.”
“Ngga usah!”
Anya buru-buru berdiri kemudian menuju salah satu stand untuk mengambil makanan. Walau belum merasa lapar, tapi ini satu-satunya cara untuk menghindari Irvin. Sikap pria itu semakin lama semakin membuat kinerja jantungnya tak karuan.
Usai menyanyikan lagu yang membuat suasana menjadi syahdu, Zahra bersiap menyanyikan lagu keduanya. Lagu yang kembali menyuarakan isi hatinya. Lagi-lagi gadis itu menatap Kenan saat mulai menyanyikan liriknya.
“Say you love me. Are you lying? Break me just to fix me, keep me holding on.When you’re lonely. I come running. But anytime I need you, then you’re gone, gone, gone (Apa kamu berdusta saat mengatakan mencintaiku? Mempermainkanku agar buatku terus bertahan. Saat kau kesepian, aku segera hadir. Tapi tiap kali aku membutuhkanmu, kamu malah menghilang).”
Kenan tersenyum tipis saat menyadari lagu itu seperti sebuah sindiran Zahra untuknya. Sama seperti lagu pertama, gadis itu menyanyikannya sambil tak melepaskan pandangannya dari wajah Kenan. Hanya saja lagu kali ini dinyanyikannya dengan wajah penuh kesedihan dan sukses membuat pertahanan Kenan runtuh.
Freya yang sedari tadi memperhatikan interaksi sang adik dengan Zahra, sudah bisa menebak kalau sebentar lagi Kenan akan mengakhiri sandiwaranya. Jelas terlihat di wajah pemuda itu yang penuh dengan kerinduan dan penyesalan karena Zahra terus memberondongnya dengan lagu yang menunjuk langsung padanya.
“Kenapa sayang? Serius banget lihatnya,” ujar Ravin seraya memeluk istrinya dari belakang.
“Nan.. sebentar lagi dia pasti bakal balik sama Zahra. Dia pasti ngga tega lihat Zahra yang kaya frustrasi lihat dia yang menjauh. Abang lihat aja gimana Zahra nyanyi, cuma Nan yang dilihatnya.”
“Ya bagus dong. Jangan kelamaan Nan jauhin Zahra, nanti dia malah nyangka Nan cuma main-main aja.”
“Iya juga sih.”
Ravin mengeratkan pelukannya di tubuh Freya sambil terus mendengarkan suara merdu Zahra. Dagunya diletakkan di bahu sang istri sambil sesekali mencuri ciuman di pipinya.
Saat lagu yang dinyanyikan Zahra menjelang akhir, Kenan berdiri dari duduknya kemudian meninggalkan tempatnya. Zahra terus melihat pergerakan pemuda itu sampai hilang di kerumunan orang.
“I wouldn’t wish this love, wish this love on anybody else. Wish that you anybody else, then I’d be on my way (aku tak mengharapkan cinta ini pada orang lain. Kuharap orang itu dirimu, maka ku akan tenang).”
Sayup-sayup Kenan masih dapat mendengar suara Zahra menyanyikan part reffrain, sebelum dirinya keluar dari ballroom. Zahra tetap bertahan menyanyikan lagu itu sampai selesai, walau rasanya dia ingin menangis melihat Kenan yang pergi begitu saja.
Aric yang sedari tadi menerima ucapan selamat dari para tamu undangan, sedikit heran mendengar lagu yang dinyanyikan seperti tema patah hati. Begitu melihat ke arah panggung, dia baru sadar kalau sedari tadi yang menyanyi adalah Zahra, gadis pujaan si kompor mledug.
“Ini kenapa lagunya jadi galon gini liriknya,” bisik Aric di telinga Naya.
“Si Zahra lagi galon gara-gara si Nan lagi main layangan.”
__ADS_1
“Bukannya si Nan bucin akut ya.”
“Iya, tapi Frey nyaranin tuh anak buat tarik ulur, soalnya Zahra kaya jual mahal gitu sama dia.”
“Ck.. masa kompor mledug ngga bisa dapetin gebetannya. Bisa jatuh harga dirinya kalau para fans-nya tahu,” Aric terkekeh.
“Makanya dia ikutin saran Frey main layangan.”
“Jangan kelamaan mainnya tar kegaet jadi layangan putus hahaha…”
“Ish abang jahara.”
Percakapan kedua pengantin itu terhenti ketika para undangan yang baru datang naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat. Di antara mereka terdapat salah seorang yang menarik perhatian pengantin. Seorang yang berdandan seperti wanita, mengenakan dress panjang dengan belahan sampai ke paha.
“Itu siapa Nay? Kok mukanya kaya ngga asing ya?” bisik Aric.
“Bentar deh… iihh itu kan Syaiful.”
“Syaiful siapa?”
“Salah satu staf di J&J Entertainment. Katanya dia ngefans sama abang. Tapi kok dia dandanannya kaya Nancy sih,” Naya terkikik geli.
"Dih.. amit-aming jabang baby."
Tak lama pria yang diyakini Naya bernama Syaiful itu sampai ke dekat pengantin. Dia memberikan ucapan selamat pada Naya tanpa senyum sedikit pun. Namun ketika berhadapan dengan Aric, dengan cepat dia menarik Aric ke dalam pelukannya. Spontan membuat pengantin pria itu terkejut.
“Mas Aric.. hiks.. hiks.. kamu benar-benar membuatku patah hati.”
“Eh.. eh.. apaan nih, lepas ngga!”
Alih-alih melepaskan, tamu yang tak jelas asal usulnya itu malah semakin mengeratkan pelukannya. Kesal tak kunjung dilepaskan, Aric mengeluarkan tenaganya mendorong sang pemeluk hingga jatuh terjengkang. Tawa Naya lepas begitu saja ketika melihat Syaiful terjatuh dengan posisi kaki terangkat ke atas memperlihatkan bulu-bulu kakinya yang lebat.
Sang MC segera naik ke atas panggung pelaminan untuk membantu Syaiful berdiri. Sebisa mungkin pria itu menahan tawanya melihat gaya jatuh Syaiful yang fenomenal. Jojo dan Cakra pun tak bisa menahan tawanya. Sekar sampai membalikkan badannya kemudian memeluk suaminya erat untuk menyembunyikan tawanya.
“Mas Aric sungguh ter..la..lu,” ucap Syaiful dengan suara bassnya sambil berlalu pergi.
Aric hanya bisa melongo saat mendengar suara Syaiful yang tiba-tiba berubah macho. Pria itu bergidik mengingat dirinya baru saja mendapat pelukan erat dari pria bertulang lunak. Naya sampai memeluk suaminya demi menghilangkan rasa shock yang melandanya. Jojo yang juga mengetahui siapa Syaiful tak bisa berhenti tertawa. Pria itu sampai turun panggung untuk mencari toilet.
Kehebohan di atas panggung nyatanya tak diketahui oleh Zahra. Begitu menyelesaikan lagunya, gadis itu segera meninggalkan ballroom. Rasanya tak sanggup untuk menyelesaikan tugasnya malam ini. Dia berjalan menuju toilet seraya menyusut airmata di sudut matanya. Saat pertama kali merasakan cinta, di saat bersamaan, dirinya juga harus merasakan sakit hati.
“I miss you,” bisik Kenan di telinga Zahra.
“I hate you,” ujar Zahra sambil memukul pelan punggung Kenan.
“I love you,” balas Kenan.
Tak ada balasan dari Zahra, Kenan menguraikan pelukannya. Jarinya menghapus buliran bening yang membasahi pipi Zahra, kemudian merangkum wajahnya. Kedua netranya menatap dalam ke mata hazel milik gadis yang begitu dicintainya.
“I love you, Za. Ich liebe dich,” Kenan mengulang pernyataan cintanya.
“Ich liebe dich auch (aku juga mencintaimu),” jawab Zahra.
Kenan kembali menarik Zahra ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap belakang kepala gadis itu dengan lembut. Zahra seperti telah melepas beban berat yang menghimpit dadanya setelah menjawab pernyataan cinta Kenan. Dia menyerah kalah, jatuh ke dalam cinta pemuda itu dan berharap kisah cintanya tak setragis kisah cinta sang mama.
☘️☘️☘️
Suasana ruangan suite room terasa begitu tenang. Di dalam kamar, nampak sepasang pengantin baru tengah mengistirahatkan tubuhnya. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, mereka memilih berbaring sambil berbincang santai. Kepala Naya direbahkan di atas lengan Aric.
“Aku masih belum percaya kalau kita udah nikah. Terima kasih, abang selalu bersabar padaku. Abang mau menunggu dan membantuku untuk berubah saat aku kehilangan arah. Walau niat awalku mendekati abang salah, tapi hasil akhirnya aku benar-benar jatuh cinta padamu dan takut kehilanganmu.”
“Lupakan itu. Semua hanya masa lalu. Kita hanya perlu menatap masa depan. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, bukan sesuatu yang harus selalu diingat dan dikenang. Kadang kita memerlukan masa lalu yang tak menyenangkan untuk merangkai masa depan yang lebih indah. Tetaplah menjadi Nayaku yang manis, yang selalu membuatku jatuh cinta setiap harinya.”
Aric meraih tangan Naya kemudian mengecup punggung tangannya. Ciumannya kemudian berlajut pada bibir yang baru beberapa kali dicecapnya selama empat tahun menjalin hubungan. Pagutan di antara keduanya mulai tercipta, tangan Aric mengusap pelan punggung Naya yang masih terlapisi lingerie berbahan satin.
Saat ******* mereka semakin intens dan dalam, tangan Aric menelusup masuk ke dalam lingerie. Naya mengangkat tubuhnya sedikit ketika suaminya itu meloloskan pakaian tidur yang dikenakannya tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Mata Naya terpejam, gadis itu malu karena hanya tinggal segitiga pengaman saja yang melekat di tubuhnya.
Aric mengakhiri tautan bibir mereka. Matanya menatap wajah sang istri yang nampak memerah dengan mata terpejam. Kemudian bibirnya mulai menciumi leher jenjang nan putih dengan begitu lembut. Des*han pelan keluar dari mulut Naya saat sang suami terus menelusuri lehernya dengan bibir dan sapuan lidahnya. Kepalanya terdongak ke atas, seakan memberikan akses lebih pada suaminya untuk mengeksplor lehernya. Sementara itu jemari Aric mulai memainkan bukit kembarnya.
Naya menggigit bibir bawahnya ketika Aric mencium dan menyesap salah satu bukit kembarnya. Jarinya bergerak meremat rambut suaminya ketika tubuhnya terasa seperti tengah dialiri listrik ribuan volt. Pemanasan yang dilakukan Aric begitu lembut dan membuai Naya. Rasa takut akan malam pertama yang tadi sempat menghantuinya, perlahan mulai menjauh.
Bibir Aric kembali memagut bibir Naya, sedang tangannya mengusap perut rata sang istri. Tubuh Naya mulai tak enak diam, bergerak ke sana sini akibat sentuhan yang diberikan sang suami. Lenguhan Naya terdengar ketika Aric mulai bermain di area bawahnya, tangannya meremat ujung bantal dengan dada membusung. Kenikmatan yang baru pertama kali dirasakannya ini membuatnya melayang dan menginginkan sesuatu yang lebih lagi.
__ADS_1
Aric menjeda cumbuannya. Pria itu melepaskan dahulu semua pakaian yang melekat di tubuhnya, kemudian kembali bermain dengan area bawah sang istri. Tubuh Naya bergetar ketika merasakan pelepasan pertamanya. Aric mencium bibir Naya sebentar sebelum melanjutkan permainan. Naya yang pernah menonton film dewasa bersama dengan Nara dan Azra, memberanikan diri untuk bermain-main sebentar dengan milik suaminya sebelum percintaan dimulai.
Aric mengikuti saja ketika sang istri memintanya untuk berbaring. Tak lama terdengar erangannya ketika Naya memainkan adik kecilnya. Matanya terpejam menikmati semua sentuhan Naya. Beberapa waktu berjalan dan Aric sudah tak dapat menahan hasratnya lagi, dengan cepat dia membalik posisi hingga Naya berada di bawah kungkungannya. Pria itu bersiap memulai penyatuan mereka. Menanggalkan status perjaka dan perawan secara bersama-sama.
☘️☘️☘️
Sejak membuka mata sampai selesai shalat berjamaah, Naya tak berani melihat wajah suaminya. Dia masih malu mengingat aktivitas panas mereka semalam. Wajahnya memerah ketika mengingat berapa sering dia mengeluarkan des*han manja saat Aric terus memborbardirnya dengan kenikmatan yang baru pertama kali dirasakannya.
“Nay..”
“I.. iya bang.”
“Kamu mau sarapan di kamar apa bareng sama yang lain? Kata papi, mereka mau sarapan di area kolam renang.”
“Aku terserah abang aja.”
“Sarapan bareng aja, ya. Biar bisa sambil ngobrol juga sama yang lain.”
“Boleh bang.”
Aric mendudukkan Naya di sisi ranjang, sedang dirinya berdiri dengan lutut menempel di lantai tepat di hadapan istrinya itu. Naya memberanikan diri menatap wajah suaminya. Punggung tangan Aric mengusap lembut pipi sang istri yang kemerahan.
“Masih sakit ngga? Kalau masih sakit, aku mau minta obat ke mami buat kamu.”
“Ehem… ng.. ma.. masih sakit sedikit. Ngga usah minta obat, bang. Malu,” Naya menundukkan kepalanya.
Jari Aric menyentuh dagu sang istri lalu mendongakkan wajah cantik itu ke arahnya. Sejurus kemudian bibirnya sudah mel*mat bibir Naya, menyesapnya sebentar dengan gerakan lembut.
“Nay.. kamu ngga keberatan kan, kalau kita tinggal di rumah orang tuaku sampai papi menemukan solusi untuk Anya?”
“Iya, bang. Aku ikut aja gimana baiknya. Anya juga adikku, aku ngga mau terjadi sesuatu yang buruk dengannya. Semoga papi dan abang bisa menemukan solusi secepatnya.”
“Makasih, sayang,” Aric memeluk Naya sebentar.
“Mau jalan-jalan sebentar sambil nunggu sarapan?”
Naya hanya mengangguk sambil tersenyum. Aric berdiri kemudian meraih tangan Naya. Dibantunya sang istri yang masih kesulitan berjalan kemudian keluar kamar bersama. Tangan Aric melingkari pinggang sang istri saat keduanya memasuki lift.
Rencana jalan-jalan nyatanya hanya wacana semata. Melihat kondisi Naya yang masih merasakan sedikit nyeri saat berjalan membuat Aric tak tega dan akhirnya mereka langsung menuju kolam. Duduk santai di sana sambil menunggu anggota keluarga yang lain datang untuk sarapan bersama.
Setengah jam kemudian, orang-orang yang ditunggu oleh pasangan pengantin datang satu per satu. Cakra dan Abi yang sudah datang lebih dulu terkejut melihat pasangan pengantin sudah duduk cantik di sana.
“Tumben pengantin baru udah duluan nangkring,” celetuk Cakra.
“Jangan-jangan kalian semalem mabar ya bukan jebol gawang,” terka Abi seenaknya dan sontak membuat wajah Naya memerah.
“Ya ampun, pa, coba dikondisikan komentarnya. Emangnya aku pipi Anfa. Cetak gol mah udah beres dong.”
Wajah Naya semakin memerah mendengar jawaban Aric. Dia mencubit pinggang suaminya itu. Cakra dan Abi hanya terkekeh. Suasana di sekitar kolam renang yang tadinya sepi, kini mulai ramai dengan kehadiran anggota keluarga Hikmat.
Kenan datang dengan wajah berseri, semalam dia dan Zahra sudah saling mengungkapkan perasaannya masing-masing. Namun begitu, Zahra tidak mau berpacaran, dia ingin melihat dulu seberapa serius Kenan padanya dan jika benar pria itu bersungguh-sungguh, Zahra memintanya untuk melamar setelah mereka menyelesaikan studi masing-masing dan Kenan sudah bisa mendapatkan penghasilan sendiri.
Lain Kenan, lain Fathan. Wajah pria itu nampak tegang, karena dalam hitungan jam dirinya juga akan bertemu dengan penghulu. Azra sendiri tidak ikut sarapan bersama. Gadis itu memilih sarapan di ruangan lain bersama dengan Nadia, Nina, Rayi dan Hanna. Wajah tegang Fathan tentu saja memancing para sahabat durjananya untuk memancing kerusuhan.
“Kenapa lo, Than? Tuh muka kenceng banget? Maskeran dulu sono pake oli, biar enakan dilihatnya,” Barra memulai kerusuhan.
“Palingan dia lagi harap-harap cemas mau meet and greet sama penghulu,” Ezra menimpali.
“Tenang aja, Than, penghulunya jinak kok, ngga akan gigit,” Aric terkekeh melihat wajah keki sahabatnya.
"Inget Than, Azra ya bukan Ezra yg dibayat tunai hahaha..." sahut Kenzie.
"Asem!!" kesal Fathan.
“Kayanya bukan masalah penghulu, tapi lagi mikir kira-kira bisa ngga jebol gawang Azra nanti huahahaha….” Fathan melotot ke arah Ravin yang mengeluarkan komentar saringan yang membuatnya malu di hadapan pada tetua.
“Sabar bang, emang nasib ya punya sahabat minim akhlak kaya mereka. Ngga usah didengerin bang, rileks sama fokus aja sama acara akad nanti, jangan sampe nanti salah sebut pas akad, mas kawinnya jadi seperangkat alat sunat beserta bengkongnya hahaha…”
Fathan bertambah keki mendengar komentar si kompor mledug yang awalnya mengangkat kemudian menghempaskan ke bumi. Celotehan Kenan sontak membuat suasana sarapan pagi menjadi lebhi semarak. Fathan hanya bisa pasrah menjadi target pembully-an.
☘️☘️☘️
__ADS_1
**Yang kepo sama lagu kedua yg dinyanyiin Zahra, judulnya Anybody Else dari Faouzia.
Semoga cepat lulus review, aamiin🤲**