
Mendengar cerita Ruby, Nina menghubungi Rayi untuk menemuinya. Dia tak punya pilihan selain meminta Rayi datang ke rumahnya. Karena tak mungkin juga dia bertemu dengan calon adik iparnya di luar rumah. Sudah pasti Abi tidak akan mengijinkannya.
Menjelang siang Rayi datang ke rumah Abi. Walau enggan tapi gadis itu sungkan juga menolak permintaan Nina. Hari ini sebenarnya dia harus ke toko perhiasan untuk memilih mahar pernikahan, tapi Rayi membatalkannya. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Anfa. Kalau Anfa masih bergeming, mungkin gadis itu akan benar-benar membatalkan pernikahan.
Nina menyambut kedatangan Rayi dengan suka cita. Dia mengajak Rayi berbicara di halaman belakang agar lebih santai. Kenzie sendiri tengah tidur di ruangan kerja ditemani oleh papanya yang juga tengah berkutat dengan pekerjaannya. Bi Ita datang membawakan minuman dingin juga camilan kemudian meninggalkan kedua wanita itu.
“Ray.. kamu ada masalah dengan Anfa?”
“Aku cuma kesel aja kak.”
“Kata mama Rahma kamu batalin ke toko perhiasan buat milih mahar.”
“Iya kak.”
“Kenapa Ray?”
Rayi tak langsung menjawab. Otaknya berputar bagaimana cara menjawab pertanyaan Nina. Tidak mungkin dia mengatakan kalau kesal pada suami wanita itu yang terus memberikan beban pekerjaan berlebih pada calon suaminya hingga tak punya waktu untuk mengurusi pernikahan mereka.
“Ray..” Nina menyentuh tangan Rayi, membuyarkan lamunan gadis itu.
“Aku kesel aja kak, Anfa tuh ngga ada waktu buat ngurusin pernikahan. Selalu aja bilangnya sibuk.”
“Maaf ya Ray.. mas Abi masih belum mau ke kantor. Jadinya Anfa deh yang harus menghadiri meeting. Tolong kamu ngertiin posisi Anfa ya.”
Rayi menundukkan kepalanya. Hatinya masih kesal, kenapa hanya dirinya yang harus mengerti kenapa Nina juga Abi tak mau mengerti keadaannya. Dia ingin Anfa juga terlibat mengambil keputusan atas rencana pernikahannya, bukan sepernuhnya menyerahkan pada dirinya saja.
“Bahkan dia ngga bisa dateng ke acara makan malam keluargaku kak. Jujur aku kecewa, dia seperti ngga menghargaiku juga keluargaku.”
Kali ini giliran Nina yang terdiam. Sebagai wanita, dia juga bisa merasakan kekesalan yang dialami Rayi. Namun dirinya juga tak bisa berbuat apa-apa. Keputusan Abi untuk bekerja dari rumah dan menyerahkan sebagian tugasnya di kantor tanpa Anfa bukan tanpa alasan khusus. Suaminya itu tengah menggembleng Anfa untuk mulai belajar mengendalikan perusahaan. Bahkan ada beberapa keputusan yang sengaja diminta Anfa untuk mengambilnya. Abi ingin melihat seberapa siap adik iparnya itu memikul tanggung jawab yang akan diberikan padanya nanti.
“Ray.. menjelang pernikahan memang ada saja hal yang memicu pertengkaran. Dan saat ini, kalian sedang menghadapinya. Kakak harap kalian berdua dapat berpikir jernih dan tidak bersikap egois.”
“Sebenarnya di sini yang egois siapa kak? Aku sudah berusaha mengalah beberapa kali. Tapi Anfa itu ngga peka, bukannya berubah malah cuek aja. Lebih baik batalin aja kak pernikahan ini. Toh di mata Anfa, aku ngga pernah jadi prioritasnya.”
Nina terkejut sekaligus tertohok mendengar ucapan gadis di sebelahnya. Secara tidak langsung Rayi seperti tengah menyindirnya juga Abi. Dia kembali meraih tangan Rayi kemudian menggenggam dengan kedua tangannya.
“Ray.. atas nama Anfa, aku minta maaf kalau sudah membuatmu marah juga kecewa. Tolong jangan seperti ini Ray. Aku akan bicara sama mas Abi, supaya dia mau kembali ke kantor secepatnya dan meringankan beban pekerjaan Anfa.”
Rayi bergeming, tak ada tanggapan sedikit pun keluar dari mulutnya. Setidaknya kali ini dia harus menguatkan hatinya agar tidak luluh dan kembali mengalah.
“Ray.. tolong pertimbangkan kembali keputusanmu. Kakak janji, besok Anfa akan bisa menemanimu mengurus pernikahan.”
“Aku pulang dulu kak.”
Rayi melepaskan genggaman tangan Nina kemudian beranjak dari duduknya. Nina hanya bisa menatap kepergian calon adik iparnya. Dia merasa serba salah, di satu sisi dia ingin mendukung keputusan suaminya tapi di sisi lain dia juga tak ingin menghancurkan kebahagiaan sang adik.
☘️☘️☘️
“Fa.. kamu ditunggu pak Abi di ruangannya,” ucap Ruby begitu Anfa baru saja tiba di ruangannya.
“Loh kak Abi masuk kantor?”
“Iya. Udah sana.”
Anfa menganggukkan kepalanya. Dia mengambil berkas hasil meeting pagi yang baru saja selesai dilakukannya. Dengan langkah lebar, pemuda itu berjalan menuju ruang CEO Metro East. Hatinya was-was mengetahui Abi sudah kembali bekerja lebih cepat dari rencananya, takut kalau dia melakukan kesalahan.
TOK
TOK
TOK
“Masuk!”
Anfa membuka pintu begitu terdengar suara Abi dari dalam. Fadil yang tengah berbicara dengan Abi langsung pamit begitu melihat kedatangan Anfa. Pemuda itu mendekati meja Abi kemudian menarik kursi di depannya. Sedang abi masih mempelajari berkas yang tadi diberikan Fadil.
“Ini hasil laporan meeting tadi pagi pak.”
__ADS_1
Anfa meletakkan berkas di meja, Abi hanya menganggukkan kepalanya kemudian melanjutkan kegiatannya. Anfa sendiri masih bersabar menunggunya. Hari ini Abi memang memutuskan untuk kembali ke kantor setelah pembicaraannya dengan Nina semalam. Melihat sang istri yang nampak bersedih, pria itu mengalah dan kembali ke kantor dengan cepat.
Selesai dengan berkas di tangannya, Abi mengambil berkas yang tadi diberikan oleh Anfa. Dengan cepat dia membaca berkas tersebut, dalam hatinya merasa puas dengan kinerja adik iparnya itu.
“Bagus.. kamu sudah melakukannya dengan baik.”
“Alhamdulillah pak.”
“Hari ini dan besok kamu tidak usah bekerja. Silahkan urus pernikahanmu, waktunya tinggal sebentar lagi kan.”
“Tapi pak.. masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.”
“Saya yang akan mengurusnya. Sekarang lebih baik pulang.”
“Baik pak.”
Anfa tak ingin membantah perintah Abi. Setelah berpamitan, pemuda itu keluar dari ruangan. Namun pikiran Anfa terus menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi sampai Abi memutuskan kembali ke kantor lebih cepat. Anfa masuk ke ruangannya kemudian langsung menuju ke meja Ruby.
“Kak.. kakak tahu ngga kenapa kak Abi kembali ke kantor lebih cepat? Apa ada pekerjaanku yang salah?”
“Ngga Fa.. semua pekerjaanmu baik. Maaf Fa kalau aku lancang. Aku cerita ke Nina soal pertengkaranmu dengan Rayi. Mungkin Nina yang membuat pak Abi berubah pikiran dan masuk lebih cepat.”
“Ngga apa-apa kak. Aku pulang dulu ya.”
“Iya Fa.”
Afa meraih jasnya kemudian menyambar tas kerja di meja. Pemuda itu keluar dari ruangannya. Saat sedang menunggu lift, sebuah pesan dari Nina masuk. Kakaknya itu mengatakan kalau sudah mengatur acara makan siang di restoran hotel Arjuna untuk keluarga Rayi dan Anfa diminta datang ke sana.
☘️☘️☘️
Suasana elegan Diamond resto langsung terasa begitu Anfa memasuki restoran yang mendapat predikat bintang lima itu. Seorang pelayan langsung memandunya menuju private room yang telah dipesan Nina sebelumnya. Sang pelayan membukakan pintu untuk Anfa.
Kedatangan Anfa disambut gembira oleh Astuti. Wanita itu menyongsong kedatangan sang calon menantu kemudian membawanya ke hadapan keluarganya. Dua minggu menjelang pernikahan, Astuti memang meminta kedua orang tuanya beserta kakak perempuannya datang ke Bandung dan tinggal bersamanya.
Astuti langsung memperkenalkan Anfa pada kedua orang tuanya, kakaknya dan juga sepupunya, Retno yang datang bersama Jenar, anak gadisnya. Jenar menggenggam tangan Anfa cukup lama. Baru kali ini dia melihat secara langsung kekasih dari sepupunya itu. Ternyata Anfa jauh lebih tampan dari di foto. Rayi berdehem kencang guna membuat Jenar melepaskan genggamannya.
“Ngga tan. Kebetulan aku dikasih cuti sampe besok.”
Astuti tersenyum senang, dia melirik ke arah Retno dengan wajah angkuhnya. Sedang Retno hanya melengos saja. Hatinya tak rela Rayi mendapatkan laki-laki yang kelas dan ketampanannya di atas tunangan anaknya.
“Katanya di kantormu sedang sibuk. Tapi kamu bisa dapet cuti,” ucap Wisnu.
“Iya om. Mulai hari ini kak Abi udah masuk kantor lagi, makanya aku bisa cuti.”
Anfa melihat ke arah Rayi dengan tatapan yang sulit diartikan. Jika sampai Abi bersedia mengalah dan kembali ke kantor dengan cepat, berarti ada hal penting yang kemarin kekasihnya bicarakan dengan Nina. Rayi hanya menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Anfa yang terasa menusuk.
Dua orang pelayan datang mengantarkan pesanan makan siang. Semua terkejut melihat begitu banyaknya menu yang telah dipersiapkan Nina. Kekaguman keluarga Astuti pada Anfa semakin bertambah saja dan itu membuat Retno semakin keki.
Suasana makan siang berjalan lancar dan pembicaraan mengalir begitu saja. Anfa senantiasa menjawab semua pertanyaan yang ditujukan padanya. Beberapa kali juga Astuti membanggakannya membuat pemuda itu jadi malu hati. Anfa juga bersikap biasa pada Rayi, seolah tak ada permasalahan di antara keduanya.
“Rencananya kalian akan bulan madu kemana Fa?” tanya Astuti, wanita itu mulai memanasi Retno.
“Belum tahu tante. Saya masih lihat jadwal kerjaan di kantor.”
“Sibuk ya Fa. Maklum sih, calon CEO,” Astuti melirik ke arah Retno yang terlihat mencibirkan bibirnya.
“Mba ikutan bangga punya keponakan CEO perusahaan di Jepang,” timpal kakak perempuan Astuti.
“Kalau calonnya Jenar kerja di mana?” Astuti membuat suasana semakin panas.
“Ma..”
Wisnu menegur istrinya yang sudah mulai keterlaluan. Melihat bahasa tubuh sang suami, Astuti pun memilih diam. Wajah Retno jangan ditanya lagi bagaimana rupanya, begitu pula Jenar yang semakin kesal pada Rayi.
“Habis ini kalian mau kemana?” tanya nenek Rayi.
“Mau ke toko perhiasan mbah,” jawab Rayi.
__ADS_1
“Ooh yang buat mas kawin yo. Satu set perhiasan kan le?” tanya kakak Astuti yang hanya dibalas anggukan oleh Anfa. Wisnu yang tak enak hati, langsung mengubah topik pembicaraan.
Usai makan siang, Anfa menemani Rayi menuju toko perhiasan untuk memilih mahar pernikahan. Awalnya Astuti bersikeras ingin ikut tapi Wisnu membujuknya untuk pulang. Lelaki itu tahu kalau ada sesuatu antara anaknya dan juga calon menantunya. Oleh karena itu dia membiarkan mereka berdua yang pergi ke toko perhiasan.
Mellihat kedatangan anak dari salah satu pelanggan istimewanya, pemilik toko menyambut langsung kedatangan Anfa juga Rayi. Dia memandu pasangan calon pengantin tersebut ke ruangan VVIP. Wanita itu meminta pegawainya mengeluarkan koleksi perhiasan terbaik mereka.
Rayi memandangi enam buat kotak berisi satu set perhiasan yang harganya mencapai ratusan juta rupiah. Gadis itu terlihat bingung memilih perhiasan di depannya. Dia melihat ke arah Anfa yang hanya duduk diam di tempatnya. Melihat sikap dingin kekasihnya itu, Rayi enggan menanyakan pendapat pria yang duduk di sebelahnya.
Hampir setengah jam lamanya Rayi berpikir memilih mana perhiasan yang dipilihnya. Dia juga sempat menghubungi mamanya melalu video call. Setali tiga uang dengan Rayi, wanita itu juga nampak bingung. Semua perhiasan yang diperlihat Rayi sukses membuatnya ternganga. Akhirnya Rayi menunjuk satu kotak berwarna biru yang menjadi pilihannya. Dengan senang hati sang pemilik toko langsung menyiapkan barang yang dipilih oleh Rayi.
Usai memilih perhiasan, Rayi mengajak Anfa ke kantornya untuk memilih souvenir pernikahan serta dekorasi pelaminan. Anfa hanya mengiyakan tanpa banyak bicara. Baru saja keduanya keluar dari toko perhiasan, ponsel Anfa berdering. Pria itu mengerutkan keningnya saat melihat nomor bi Ita yang memanggilnya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Mas Anfa, maaf apa lagi sama mas Abi?”
“Ngga bi, kenapa?”
“Ini.. den Kenzie badannya panas. Mba Nina sudah manggil dokter Gilang ke rumah, tapi den Kenzie ngga berhenti nangis. Sepertinya kangen papanya. Mas Abi ngga bisa dihubungi."
“Oh gitu ya bi. Kayanya kak Abi lagi meeting. Nanti biar aku yang hubungi.”
“Iya mas, makasih ya.”
“Iya bi.”
Setelah panggilan bi Ita berakhir, Anfa langsung menghubungi Fadil untuk menanyakan keberadaan Abi. Ternyata kakak iparnya itu tengah rapat penting bersama kepala departemen, dan rapat baru saja berlangsung. Akhirnya Anfa memutuskan untuk kembali ke kantor.
“Maaf Ray.. aku harus kembali ke kantor.”
“Kenapa? Bukannya kamu cuti?”
“Kenzie sakit, dia rewel kayanya dia kangen papanya. Aku harus ke kantor gantiin kak Abi rapat.”
“Kenapa harus kamu sih?”
“Ray.. tolong ngerti. Kak Nina sekarang pasti kerepotan karena anaknya nangis terus. Apalagi Kenzie lagi sakit, dia butuh papanya. Kamu aku antar ke kantormu terus aku langsung pergi, ayo.”
“Keterlaluan kamu ya Fa. Lagi-lagi kamu mengabaikan aku.”
“Bukan aku mengabaikan tapi ini menyangkut kak Nina dan keponakanku, harusnya kamu ngerti aku Ray. Urusan souvenir bisa besok kan? Aku masih punya waktu cuti besok.”
Tanpa menunggu jawaban Rayi, Anfa berjalan menuju mobilnya. Rayi kembali geram, Anfa selalu saja menomorduakan dirinya. Kekesalan gadis itu sudah sampai ke puncaknya. Sampai akhirnya dia berteriak kencang.
“Kalau kamu pergi, lebih baik batalkan saja pernikahan kita!!”
Perkataan Rayi sukses menghentikan langkah Anfa. Pria itu berbalik kemudian menghampiri kekasihnya itu. Dalam hati Rayi bersyukur karena Anfa bersedia kembali ke tempatnya. Anfa berdiri di hadapan Rayi lalu menatap gadis itu dengan seksama.
“Aku ngga tahu apa yang terjadi sama kamu, Ray. Dulu kamu selalu mengerti aku, kamu selalu mendorongku untuk maju, selalu memberikan semangat. Tapi sekarang kamu bersikap kekanak-kanakan menjelang pernikahan kita.”
“Kamu juga berubah Fa. Kamu biasanya selalu mengerti aku. Tapi sekarang kamu keras kepala, mau menang sendiri.”
“Aku hanya mencoba melakukan sesuatu sesuai prioritas Ray.”
“Dan aku bukan prioritasmu! Kamu selalu mendahulukan orang lain dibanding aku.”
“Kak Nina, Kenzie dan kak Abi itu bukan orang lain. Mereka itu keluargaku. Kalau kamu menyayangiku, maka kamu juga harus menyayangi keluargaku. Seperti halnya dirimu yang menginginkanku menjadi bagian keluargamu, begitu juga aku. Pernikahan itu bukan hanya antara kita berdua saja Ray, tapi melibatkan seluruh keluarga kita. Kalau kamu tak bisa menerima keluargaku, bahkan menganggapnya sebagai pesaing, maka kamu bukan orang yang tepat untuk mendampingiku. Silahkan pikirkan apa yang kukatakan, apapun keputusanmu akan kuterima. Aku pergi.”
Anfa membalikkan tubuhnya kemudian berjalan menuju mobilnya tanpa menoleh ke arah Rayi lagi. Dia naik ke dalam mobilnya kemudian melajukan kendaraan tersebut dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Rayi yang masih terpaku di tempatnya.
☘️☘️☘️
**Haaaaaiiiiii... sesuai janji... mamake hadiiirr lagi. Terima kasih buat komentar positif kalian. Terima kasih masih setia menunggu cerita ini setiap harinya. Terima kasih atas semua dukungan yang kalian beri, like, komen, vote, gift... terima kasih semuanya, berkah untuk kalian semua🙏
__ADS_1
Selamat bermalam minggu😘😘😘**