KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Wrecked at The Wedding


__ADS_3

Kehidupan terus berjalan, waktu terus berlalu seiring perputaran dunia. Masing-masing pasangan telah menemukan kebahagiaannya. Kali ini giliran Radix dan Nabila yang akan menyusul sahabatnya mengakhiri masa lajangnya. Setelah mendapat ijin dari orang tua Nabila, pasangan ini akhirnya melangkah juga ke pelaminan. Seusai janji, Teddy juga yang menanggung semua biaya pernikahan Radix. Pemuda itu hanya mengeluarkan uang untuk mas kawin saja.


Pernikahan Radix dan Nabila juga menjadi pernikahan terakhir yang ditangani Rayi. Anfa telah menyelesaikan studinya, sudah saatnya pria itu memikul tanggung jawab baru sebagai pemimpin di Ocean Corporation yang berada di Jepang. Rayi juga memutuskan menjadi ibu rumah tangga saja dan memulai program hamil di sana.


Pagi ini, Rayi tengah disibukkan mengurus acara akad nikah yang dilanjut dengan resepsi pernikahan Radix dan Nabila. Pernikahan diadakan di vila yang ada di dadrah Lembang dan memiliki halaman luas. Sebelumnya Rayi menyarankan pada Radix agar menyelenggarakan pesta indoor saja, mengingat cuaca saat ini yang tidak bisa tebak, kadang panas kadang hujan, kadang pula hujan mengguyur setelah panas.


Meja akad nikah sudah siap dengan konsep lesehan. Keluarga Radix dan Nabila juga sudah datang. Demikian pula dengan keluarga Hikmat dan para sahabat Radix sudah berkumpul. Pada pernikahan ini, lagi-lagi Teddy diminta sebagai saksi. Pria berpenampilan tenang itu segera mengambil tempat untuk menyaksikan akad.


Nabila dan Radix sudah duduk bersisian dengan ayah Nabila berada di depan mereka. Kedua saksi juga sudah siap. Namun acara akad masih belum bisa dimulai. Mereka masih menunggu satu lagi orang penting yang harus hadir di pernikahan.


Setengah jam berlalu, namun sosok yang ditunggu belum terlihat batang hidungnya. Jika di pernikahan lain, drama yang terjadi adalah pengantin wanita menunggu pengantin pria yang tak kunjung datang, atau pengantin wanita yang kabur dari pernikahan. Pada pernikahan kali ini, pasangan pengantin menunggu penghulu yang belum hadir.


Rayi memerintahkan anak buahnya untuk terus menghubungi penghulu. Radix dan Nabila mulai resah, tak biasanya pengantin yang harus menunggu kedatangan sang penghulu. Lima menit kemudian, orang yang ditunggu muncul juga. Pria berumur empat puluh tahunan itu berjalan menuju meja akad sambil memegangi perutnya.


“Maaf kalau saya terlambat. Saya mengalami gangguan pencernaan.”


Ujar sang penghulu begitu sampai. Dia segera duduk di tempat seharusnya berada. Sejatinya kondisinya masih belum pulih, tapi karena rekannya yang lain juga memiliki jadwal yang padat, dia tak bisa mengalihkan tugasnya. Alhasil dengan memaksakan diri, pria itu datang memenuhi kewajibannya.


Hal pertama yang dilakukan adalah memeriksa kelengkapan dokumen pasangan pengantin. Setelah dirasa tak ada yang kurang, dia memberi kode untuk segera memulai akad. Ibu Nabila memasangkan kain putih di atas kepala kedua pengantin. Ayah Nabila menggenggam erat tangan Radix.


“Ananda Radix Argatama, saya nikahkan...”


“Maaf,” sela sang penghulu.


“Saya permisi ke toilet sebentar.”


Tanpa menunggu jawaban, pria itu segera melesat menuju toilet yang untungnya letaknya tidak terlalu jauh. Tak berapa lama kemudian dia kembali ke tempatnya kemudian duduk bersisian dengan ayah Nabila. Lagi-lagi calon mertua Radix menggenggam tangan pemuda itu.


“Ananda Radix Argatama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya, Nabila Permata Putri binti Syarif Hidayatullah dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas 15 gram dibayar tunai!”


“Saya terima....”


“Sebentar,” sela sang penghulu.


Lagi-lagi penghulu itu melesat menuju kamar mandi karena panggilan alam. Radix mengusap wajahnya kasar. Dua kali akadnya urung dilakukan. Gurit, Anfa, Sekar dan Rindu berusaha menahan tawa melihat kejadiaan naas temannya. Kalau lima sekawan tidak usah ditanya lagi bagaimana reaksinya. Tentu saja mereka langsung tertawa lepas tanpa mempedulikan pandangan dari keluarga Radix juga Nabila.


Sang penghulu keluar juga dari toilet setelah berjibaku selama sepuluh menit di dalam sana. Baru saja dia akan duduk, perutnya kembali bergejolak, pria itu kembali melesat ke toilet. Rayi meminta petugas catering membuatkan teh pahit untuk pak penghulu. Teddy bahkan langsung menelpon dokter keluarganya untuk datang. Berjaga-jaga kalau sang penghulu sampai kehabisan cairan.


Rayi memberikan teh pahit hangat pada penghulu sekeluarnya dari toilet. Pria itu mendudukkan diri di salah satu kursi. Perutnya terasa hangat setelah teh hijau masuk ke dalam pencernaannya. Untuk beberapa saat dia menunggu. Setelah yakin perutnya baik-baik saja, penghulu tersebut berjalan menuju meja akad nikah. Namun baru setengah jalan, dia harus kembali bertemu dengan toilet.


Melihat kondisi sang penghulu, keluarga Nabila mempersilahkan yang hadir untuk menikmati hidangan terlebih dulu sambil menunggu keadaan petugas KUA itu membaik. Lima menit berlalu, sang penghulu keluar dari toilet. karena lemas, dia keluar dengan posisi merangkak. Salah satu rekan Rayi langsung membantunya. Saat yang bersamaan dokter Gilang datang dan memeriksa keadaan pria itu.


“Gue pikir nikahannya Juna, Kevin ama Gurit doang yang ada dramanya. Ternyata nikahannya Radix ngga kalah drama hahaha,” celetuk Cakra.


“Harusnya tuh penghulu bawa pispot sekalian biar ngga repot bolak balik,” sambung Jojo.


“Sumpel dulu lubangnya emangnya ngga bisa ya,” ujar Kevin.


“Lo pikir lubang hidung bisa disumpel,” sewot Juna.


“Yang gue pikirin itu septic tank-nya penuh ngga ya,” sebuah toyoran langsung mendarat di kepala Abi.


Perbincangan absurd kelima pria itu masih berlanjut. Nina, Nadia dan Adinda tak bisa berhenti tertawa mendengarnya. Bahkan Adinda sampai bolak balik ke toilet karena tak berhenti tertawa.


“Si blewah kenapa jadi ikut-ikutan bolak balik toilet,” seru Cakra.


“Gara-gara lo pada PEA!”


“Pakein pampers aja,” celetuk Abi.


“Atau bawain pispot,” lanjut Kevin.


“Ck.. yang praktis aja, tuh pake botol Aqua hahaha...”


Jojo hanya mendengus kesal mendengar celotehan sahabatnya. Lagi dan lagi bola panas selalu bergulir padanya. Apa salah Jojo ya Allah, begitu kira-kira jeritan suara hatinya.


Setelah mendapat perawatan, kondisi sang penghulu mulai membaik. Dengan bantuan petugas WO, pria itu kembali ke tempatnya. Pasangan pengantin yang tengah bergosip dengan para sahabatnya langsung kembali ke meja akad.


“Maaf, tolong dipercepat. Saya udah ngga kuat ini,” ujar sang penghulu.


Tak ingin membuang waktu, ayah Nabila segera menggenggam tangan Radix. Pria itu segera memulai ijab kabul.

__ADS_1


“Ananda Radix Argatama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya, Nabila Permata Putri binti Syarif Hidayatullah dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas 15 gram dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Nabila Permata Putri binti Syarif Hidayatullah dengan mas kawin tersebut tunai!”


Semua yang hadir melongo mendengar Syarif dan Radix mengucapkan ijab kabul seperti orang sedang nge-rap saja. Kalau diukur, mungkin kecepatan berbicara mereka mencapai 70 km/jam.


“Bagaimana sah?” suara sang penghulu terdengar bergetar saking lemasnya.


“SAH!!” sahut para saksi.


“YESS!!!”


Teriak Radix seraya mengepalkan tangannya. Akhirnya ijab kabul yang tertunda beberapa kali selesai sudah. Semua yang hadir langsung tertawa melihat reaksi pengantin baru itu.


“Silahkan pakaikan cincin nikah dan tanda tangani buku nikahnya. Maaf saya ke toilet lagi.”


Penghulu itu segera menuju toilet karena perutnya kembali bergejolak. Ingin lari tapi sudah tak punya tenaga, tidak lari takutnya keluar di tengah jalan. Akhirnya dia memilih berjalan cepat dengan sisa-sisa tenaganya.


Radix memasangkan cincin pernikahan yang terbuat dari emas putih pada jari manis Nabila. Begitu pula dengan wanita itu, memasangkan cincin perak ke jari manis suaminya. Nabila lalu mencium punggung tangan Radix, yang dibalas dengan ciuman di keningnya. Keduanya kemudian menanda tangani semua dokumen pernikahan. Bahkan ayah Nabila membantu membereskan semua berkas milik sang penghulu.


Selesai dengan hajatnya, penghulu kembali ke tempatnya. Semua dokumen telah selesai ditanda tangani. Dia lalu mengambil berkas yang telah rapih lalu pamit pergi. Tak ada nasehat seputar penikahan darinya karena harus bergegas menuju rumah sakit.


Acara dilanjutkan dengan pemberian wejangan dari para orang tua untuk kedua pengantin. Wejangan juga diberikan oleh lima pria tak berakhlak yang kebanyakan isinya justru membuat telinga merah. Gurit yang merasa sudah senior dalam hal penikahan juga ikut memberikan nasehatnya.


“Jadi suami yang baek ya Dix, harus sayang ama istri lo. Kalau ada masalah dibicarain bareng-bareng, jangan ngadu ke orang tua. Telen aja sendiri.”


“Dih sok bijak lo!”


“Dibilangin ama senior nurut ngapa,” Gurit mengeplak kepala Radix, sontak saja pria itu melotot ke arahnya.


“Nanti pas MP, jebol aja langsung. Lihat nih gue, biar pun ada drama ranjang ambruk, tetap pantang mundur. Tuh lo lihat sendiri hasilnya.”


Gurit menunjuk ke arah Syakira yang tengah berbadan dua. Harus diakui kecebong Gurit memang kualitas unggul. Baru dua minggu menikah, dia sudah berhasil membuat perut Syakira kembung. Wanita itu kini tengah mengandung tujuh bulan.


“Iye.. iye yang udah bisa bikin Syakira masuk angin, bangga banget lo.”


“Harus dong, sebentar lagi Gurit junior launching.”


“Jangan sampe anak lo gaya ngomongnya kaya emaknya ye.”


☘️☘️☘️


Tepat jam 11 siang, acara resepsi digelar. Tamu-tamu mulai berdatangan untuk mengucapkan selamat pada pengantin baru. Banyak tamu berasal dari J&J Entertainment, bahkan ada juga beberapa teman artis Nabila menyempatkan datang untuk mengucapkan selamat.


Pada konsep pernikahan outdoor ini, pengantin memilih berbaur dengan para tamu. Dengan begini, suasana terasa lebih santai. Wajah Radix tak lepas dari senyuman setelah menyandang status menikah. Begitu pula dengan Nabila, penantian panjang mereka akhirnya berakhir manis.


Saat sang pengantin sibuk menyapa para tamu, Rayi malah sibuk memperhatikan cuaca. Dari hasil searching-nya diketahui kalau prakiraan cuaca mengatakan hari ini berpotensi hujan. Beberapa kali dia melihat ke arah langit yang perlahan berubah menjadi abu.


Rayi segera memerintahkan petugas catering untuk menata meja di selasar vila, takut kalau tiba-tiba hujan turun. Petugas catering segera melakukan apa yang diperintahkan wanita itu. Mereka mulai bergerak menata meja.


Apa yang ditakutkan Rayi menjadi kenyataan, tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Pengantin juga para tamu berlarian ke arah vila. Petugas catering tunggang langgang menyelamatkan makanan. Anak buah Rayi juga membantu mereka memindahkan makanan ke selasar. Pakaian mereka sampai basah kuyup saking derasnya hujan yang turun.


Radix hanya bisa terbengong melihat dekorasi pernikahan outdoornya kacau balau. Spot untuk berfoto rubuh, tirai yang menghias dekorasi juga sudah tidak menentu bentuknya akibat angin yang kencang, kursi-kursi berantakan tak tentu arah. Untung saja hidangan untuk para tamu masih bisa diselamatkan. Semua diletakkan begitu saja di meja yang ada di selasar. Alhasil kondisi selasar sudah seperti pasar kaget saja.


Orang tua Nabila juga Radix meminta maaf pada para tamu atas insiden tak terduga ini. Sambil menunggu hujan mereda, para tamu mulai menikmati hidangan. Selasar yang tak terlalu besar membuat tamu berdesakan untuk mengambil hidangan.


Radix dan Nabila duduk di tangga dengan wajah frustrasi, tak menyangka kalau acara pernikahannya akan kacau balau seperti ini. Anfa dan Gurit mendatangi sahabatnya itu lalu ikut duduk di sampingnya.


“Makanya nurut kalau dikasih tau. Rayi kan udah bilang riskan ngadain pesta outdoor sekarang-sekarang ini. Lo sih ngga mau denger,” sembur Anfa.


“Emangnya lo ngga pake pawang hujan?” tanya Gurit.


“Pake kok, malah bayarannya mahal.”


“Nah buktinya hujan juga, pesta lo jadi ambyar gini. Pawang uler kali yang lo panggil bukan pawang hujan.”


“Sembarangan lo!” Radix menoyor kepala sahabatnya ini.


Mendengar perkataan sahabatnya, Radix jadi kesal sendiri. Padahal dia sudah membayar mahal jasa pawang hujan yang disewanya. Nabila pun tak kalah kesal, pasalnya pawang hujan tersebut adalah rekomendasi teman artisnya yang konon kepiawaiannya tak perlu diragukan lagi.


Gadis itu berdiri untuk meminjam ponsel pada mamanya kemudian kembali ke tempat semula. Dia lalu menghubungi pawang hujan yang tak becus bekerja. Untuk beberapa saat tak ada jawaban. Namun Nabila terus menghubungi sampai akhirnya panggilannya terjawab.

__ADS_1


“Halo.”


“Halo, saya Nabila. Bagaimana ini pak, katanya pawang hujan profesional, tapi buktinya hujan juga. Pesta saya jadi kacau gini,” kesal Nabila.


“Yo maaf to mba. Saya juga melakukan ritual seperti biasanya. Tapi mau gimana lagi, kuasa Gusti Allah lebih besar dari saya. Biar saya sudah berusaha memindahkan hujan ke tempat lain tapi tetap hujan juga. Kayanya di tempat yang saya pindah, banyak yang hajatan juga. Lah mana saya kuat kalo pawang hujannya keroyokan. Jadi hujannya balik lagi.”


“Ah bapak ngeles aja kaya bajaj!”


Nabila memutuskan panggilan karena kesal. Pesta pernikahan yang sedianya akan menjadi kenangan indah seumur hidup justru kacau balau. Gurit menepuk bahu sahabatnya.


“Udahlah yang penting kan kalian udah sah, walau pun ada drama diare pas akad hahaha.”


“Iya Dix, yang penting udah sah.”


“Harusnya lo tuh bilang ke gue. Kalau cuma buat nahan hujan doang, gue juga bisa. Pas nikahan gue, ngga hujan kan, padahal lagi musim hujan loh.”


“Emang lo ngapain?” tanya Anfa penasaran.


“Gue cuma lempar celana dal*mnya Syakira ke genteng huahahaha.”


“Serius lo?”


Gurit hanya menganggukkan kepalanya saja karena mulutnya tak bisa berhenti tertawa. Ide konyol itu dia dapatkan dari teman kuliahnya yang mengatakan melempar celana dal*m ke genteng bisa mencegah hujan. Anfa pun tak bisa menahan tawanya, bahkan Radix dan Nabila yang tengah kesal pun akhirnya ikut tertawa.


“Si Syakira nyariin tuh celana ngga?” tanya Anfa.


“Kaga lah, orang tuh celana udah bolong juga. Pasti ngga akan dicari ama dia.”


“Bhuahahaha... gue curiga tuh celana bolong gara-gara sering dikentutin Syakira,” sambar Radix.


“Sue lo, bini gue tuh!”


Gurit mengeplak kepala sahabatnya itu. Tapi kemudian dia juga ikut tertawa. Saking kerasnya tawa mereka, para tamu yang tersisa melihat ke arah mereka. Termasuk Syakira, tokoh yang menjadi bahan pembicaraan.


“Eh mumpung hujan, mending lo belah duren aja. Pas banget kan, cuaca mendukung. Tamu-tamu juga ngga bakalan ngeh kalian ngilang,” bisik Gurit di telinga Radix.


Radix melihat ke arah sahabatnya. Sejurus kemudian dia menarik tangan Nabila lalu membawanya naik ke lantai atas. Kamar pengantin memang berada di lantai dua. Gurit hanya bisa tertawa melihat kelakuan sahabatnya.


“Mo kemana tuh orang?” tanya Anfa.


“Belah duren Fa, mumpung cakung, cuaca mendukung.”


“Buset dasar pengantin ngga ada akhlak, main tinggal tamu aja.”


“Hahahaha...”


Sementara itu, Radix terus menarik tangan Nabila tanpa mempedulikan pertanyaan istrinya itu. Dia membuka pintu kamar pengantin. Nampak ranjang pengantin sudah dihias sedemikian rupa, bahkan banyak kelopak mawar bertebaran di atasnya.


“Dix, kita kenapa ke sini.”


“Dari pada bete resepsi kita kacau, mending kita main aja di sini.”


“Main apa?”


“Kuda-kudaan.”


Nabila yang masih bingung dengan perkataan suaminya terkejut ketika Radix sudah menyambar bibirnya. Dengan rakus pria itu me**mat dan memagut bibir Nabila yang sudah pernah dicicipinya berkali-kali sebelum menikah.


Nabila yang awalnya terkejut akhirnya mulai menikmati ciuman Radix. Dia merapatkan tubuhnya ke arah Radix sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher sang suami. Ciuman keduanya terus berlangsung dan semakin dalam juga menuntut. Tangan Radix pun sudah bergerak bebas menelusuri tubuh Nabila.


Tanpa mempedulikan hujan yang terus mengguyur di luar sana. Sepasang pengantin mencari kehangatan dengan penyatuan mereka. Diiringi suara tetesan air di jendela kamar, keduanya terus bergerak di atas kasur beurukuran king size itu. Mereka saling berbagi peluh dan mencoba saling memuaskan satu sama lain.


Terdengar lenguhan Nabila dan erangan Radix saat keduanya berhasil mencapai kepuasaan bersamaan. Radix menciumi wajah Nabila sebagai bentuk terima kasih dan perasaan sayangnya. Dia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Radix memeluk tubuh Nabila dari belakang sambil meletakkan kepala di ceruk lehernya.


Lelah dan juga cuaca dingin yang mendukung, keduanya langsung jatuh terlelap. Tanpa mereka ketahui, keluarga juga para tamu tengah mencari-cari pasangan pengantin tersebut. Radix dan Gurit yang telah tahu apa yang dilakukan sahabatnya memilih untuk pulang setelah hujan mulai mereda.


☘️☘️☘️


**Astaga Radix😱😱😱


Gurit ye dasar kompor meledug.

__ADS_1


Aduh.. semakin mendekati ending🤧


Dah ah.. mamake mau istirahat dulu. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya🤗**


__ADS_2