KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Kang Pur


__ADS_3

Seorang gadis bertubuh mungil turun dari motor ojek online kemudian langsung berlari masuk ke dalam gedung. Dia tak mempedulikan teriakan sang driver dan beberapa orang yang melihat aneh kepadanya. Gadis itu yang tak lain adalah Rindu langsung menuju lift. Dia terjengit saat seseorang menepuk bahunya. Driver ojol yang tadi mengantarnya sudah berdiri di belakangnya.


“Eh pak ngapain nyusulin aku? Kan aku udah bayar non tunai.”


“Bayar mah udah neng, tapi itu helmnya belum dikembaliin.”


Rindu spontan meraba kepalanya. Cengiran menghiasi wajahnya. Dengan cepat dia melepaskan helm lalu memberikannya pada pengojek tersebut.


“Maaf ya pak. Ngga ada maksud loh bawa kabur helm bapak.”


“Ngga apa-apa neng. Mari neng.”


Pengojek tersebut segera meninggalkan Rindu setelah mendapatkan kembali asetnya. Sedang Rindu bergegas masuk ke dalam lift yang pintunya sudah terbuka. Sejak Juna cuti tiga hari lalu, kesibukannya terus bertambah. Semua pekerjaan Juna diambil alih Kevin, yang artinya pekerjaan Nadia juga beralih padanya. Sudah beberapa hari ini, dia selalu datang lebih awal dan pulang terlambat.


Rindu masuk ke dalam ruangan kerjanya. Tampak Kevin sudah lebih dulu ada di sana. Entah apakah lelaki itu pulang ke rumah atau tidak. Rindu menaruh tas ke atas mejanya kemudian menghampiri Kevin yang sepertinya sudah bersiap untuk pergi.


“Hari ini saya ada beberapa pertemuan di luar. mungkin sore saya baru kembali ke kantor. Jangan lupa siapkan bahan untuk meeting nanti jam sepuluh. Pak Abi yang bakal menggantikan saya meeting. Ingat catat poin-poin penting dalam meeting itu lalu buat laporannya. Tunjukkan kecerdasan kamu di depan pak Abi kalau ngga mau kena semprot.”


“Iya pak.”


“Nanti saya kirimin makan siang buat kamu biar kamu ngga usah ke EDR. Makan dan shalat di sini biar menghemat waktu.”


“Iya pak.”


Kevin memasukkan berkas-berkas yang dibutuhkan ke dalam tas, kemudian bergegas meninggalkan ruangan. Rindu juga kembali ke meja kerjanya. Hari ini banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Terlebih nanti harus mendampingi Abi meeting, butuh kesiapan mental berhadapan dengan si beruang kutub itu.


Tepat jam sepuluh, Abi sudah sampai di kantor Juna. Dia datang sendiri saja tanpa didampingi Ruby, karena untuk meeting kali ini, Rindu yang akan mendampinginya. Pria itu langsung menuju ruang meeting yang terletak di lantai 18. Berbeda dua lantai dari ruangan Rindu.


Dengan nafas terengah Rindu masuk ke dalam ruang meeting. Dia terkejut karena Abi sudah berada di sana. Sialnya, orang-orang yang harus menghadiri meeting belum ada satu pun yang datang. Rindu bergegas menghampiri Abi yang sudah memasang wajah perang.


“Bagus.. sudah lima menit saya di sini tapi belum ada yang datang satu pun.”


“Ma.. maaf pak. Saya akan menghubungi mereka.”


Rindu bergegas mengangkat gagang telepon kemudian menghubungi divisi perencanaan yang akan meeting dengan Abi. Rindu kembali mendekat pada Abi lalu menyerahkan berkas yang sedari tadi dipegangnya. Tanpa mengatakan apapun, Abi mulai mempelajari berkas yang diberikan Rindu.


Lima menit kemudian tim perencanaan memasuki ruangan. Ketua tim langsung dihadiahi semprotan Abi. Pria berusia tiga puluhan itu berkali-kali meminta maaf pada Abi. Rindu sedikit bergidik melihatnya. Kakak kedua dari Sekar itu ternyata lebih menyeramkan ketika sedang bekerja.


Rapat yang sedianya akan berlangsung dua jam, molor jadi tiga jam karena Abi tidak puas dengan rencana yang dibuat. Alhasil dia memaksa tim perencanaan membuat ulang rencana proyek terbaru mereka dan garis besarnya harus selesai saat rapat. Beberapa kali anggota tim terkena makian Abi. Dia tak menolerir kesalahan sekecil apapun. Pria itu benar-benar perfeksionis dan tidak mengenal belas kasihan.


Rindu menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Tubuhnya lemas seperti habis menaiki roller coaster yang memacu adrenalin. Tiga jam bersama dengan Abi di ruang rapat seperti berada di medan perang. Akhirnya rapat berakhir dan CEO kejam itu kembali ke habitatnya.


Rindu beranjak dari ruang meeting lalu kembali ke ruangannya. Dilihatnya jam di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Perutnya sudah keroncogan. Dia berharap Kevin sudah mengirimkan makan siang untuknya. Sungguh dia butuh asupan untuk memulihkan tenaga.


Dengan langkah lunglai Rindu membuka pintu ruangan. dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Namun tak mendapati bungkusan atau kotak makanan untuknya. Segera diambilnya ponsel dari saku celananya. Jarinya bergerak cepat mengirimkan pesan untuk Kevin.


To Bang Ke :


Selamat siang Bapa Ke.. kenapa makan siang saya belum tiba ya???


From Bang Ke :


Saya sudah kirim tadi. Coba tanya ke OB.


Rindu mengangkat gagang telepon lalu menghubungi pantry menanyakan makanan untuknya. Lima menit kemudian seorang OB bernama Purwanto datang ke ruangan dengan membawa kantong plastik hitam di tangannya.


“Selamat siang mba Rindu.”


“Met siang kang Pur. Mana makanan titipan dari pak Kevin?”


“Hmm.. hmm.. maaf mba, tadi ada sedikit kesalahpahaman. Makanan buat mba Rindu udah dimakan sama saya.”


“Hah? Kok bisa?”

__ADS_1


“Jadi gini mba. Tadi ada kurir kirim makanan, nah di atas kotak itu ada kertas yang tulisannya to Kang Pur. Nah di kantor ini kan cuma saya yang dipanggil kang Pur. Saya tanya ke pak Kevin selaku pengirim makanan, benar katanya makanan itu buat Kang Pur. Jadi ya saya makan aja mba.”


Rindu melongo mendengarnya. Kekesalan seketika menguasai hatinya, dengan tangan terkepal kencang dia menggebrak meja kerjanya membuat Purwanto terkejut setengah hidup.


“Dasar bang Keeeeeeee.... niat kaga sih lo kasih gue makanan!!!” geram Rindu.


Rindu terkulai lemas di kursinya. Sudah tenaganya habis menghadapi Abi di ruang rapat tadi. Makan siang yang dinantinya raib dimakan orang yang namanya sama dengan panggilan Kevin untuknya. ke EDR pun percuma karena hanya tinggal sisa-sisa perjuangan saja yang ada di sana.


Melihat Rindu yang sepertinya shock, Purwanto mendekat. Dengan hati-hati dia menyodorkan kantong plastik hitam di tangannya.


“Mba Rindu.. saya minta maaf ya sudah makan jatah makan siang dari pak Kevin. Ini sebagai gantinya, mba makan makanan yang saya beli tadi buat makan siang.”


Rindu memandang kresek hitam di tangan Purwanto. Dari pada tidak makan, Rindu mengambilnya dari tangan Purwanto.


“Sekali lagi saya minta maaf ya mba Rindu. Saya permisi dulu.”


Purwanto bergegas keluar dari ruangan. Rindu berdiri dari duduknya. Dia mengisi gelas minumnya dengan air putih kemudian beralih duduk di sofa. Dengan cepat dibukanya nasi bungkus yang tadi diberikan Purwanto. Mata Rindu terbelalak melihat isi nasi bungkus di depannya.


☘️☘️☘️


Menjelang jam pulang kerja Kevin kembali ke kantor. Pria itu masuk ke dalam ruangan lalu duduk di belakang meja kerjanya. Dipanggilnya Rindu untuk menemui dirinya. Masih dalam keadaan setengah gondok, Rindu menghampiri atasannya itu. Di tangannya terdapat file berisi laporan rapat tadi.


“Mana laporan rapat tadi siang?”


Kevin menengadahkan tangannya. Dengan gerakan sedikit kencang dia menaruh file di atas tangan Kevin. Dibacanya dengan teliti laporan yang telah disusun oleh Rindu.


“Banyak perubahan ternyata.”


“Bapak ngga tau aja kalau tadi pak Abi marah-marah. Semua perencanaan yang dibuat harus disusun ulang. Udah gitu....”


Kevin memundurkan kursi kerjanya ketika Rindu berbicara padanya. Posisi Rindu memang berada di samping kursinya, jadi dia dapat mencium aroma tidak sedap dari mulut Rindu.


“Mulut kamu bau banget sih!”


Rindu malah mencondongkan tubuhnya ke arah Kevin kemudian sengaja berkata-kata dengan menghembuskan nafas sehingga aroma mulut Rindu semakin tercium. Kevin menutup hidung dengan tangannya kemudian beranjak menjauh dari Rindu. Dia menjadikan kursi penghalang antara dirinya dengan gadis itu.


“Kamu abis makan apa sih? Bau banget mulut kamu.”


“Ini semua gara-gara bapake tau ngga!”


“Salah saya apa? Saya udah kirimin kamu makanan dari restoran bintang lima.”


“Iya.. tapi bapak kasih note kalau makanan itu buat kang Pur. Jadinya makanan itu dimakan sama kang Pur, OB di sini!!!”


Suara Rindu mulai meninggi, dia melepaskan semua kekesalan pada makhluk bernama Kevin yang begitu menjengkelkan. Kevin terdiam sebentar, entah mengapa dia menjadi sedikit lola. Tak lama tawanya terdengar membahana.


“Hahahaha...”


“Hah.. hah.. hah.. malah ketawa bukannya mikirrrrr. Aku udah kehabisan energi berhadapan dengan pak Abi tapi makan siang yang bapak janjikan malah dimakan kang Pur, dan semua gara-gara bapak!!”


“Iya maaf saya lupa pas nulis note buat kamu. Terus kamu makan apa?”


“Aku makan makanan yang dibeli kang Pur. Dan bapak tahu apa isinya? Isinya itu tumis kangkung, tempe orek sama semur jengkhoool. Mana nasinya porsi kuli lagi.”


“Terus habis ngga makanannya?”


“Ya habis lah..”


“Bhuahahahaha..”


Kevin kembali terpingkal, dia sampai memegangi perutnya. Sungguh di tengah harinya yang penat, Rindu dapat memberikan hiburan untuknya. Rindu semakin keki saja ditertawakan oleh Kevin.


“Kenapa ketawa? Bukannya mikir.”

__ADS_1


“Hahaha.. itu nasi porsi kuli kamu bilang tapi habis kamu makan. Jadi apa bedanya kamu sama kuli hahaha..”


Rindu terbungkam, dalam hatinya merutuki dirinya yang salah berucap. Kevin jadi tahu betapa maruk dirinya.


“Ya.. itu karena berhadapan dengan pak Abi menguras energi banget. Huaaa... aku kangen pak Juna yang ramah, rajin senyum dan murah hati.”


“Sudah.. sudah.. pak Abi dijadiin alasan, emang dasarnya kamu RW 06.”


“Apaan RW 06?”


“Rewog!!”


“Bang Keeeeeeee!!!!”


“Berisik! Ayo pulang.”


“Beneran boleh pulang sekarang.”


“Iya, kamu kerjain buat meeting besok di rumah aja. Punya laptop kan?”


“Punya.”


“Ya udah ayo pulang. Sekalian saya traktir makan malam.”


Mendengar kata makan malam, Rindu jadi bersemangat. Dengan cepat dia membereskan barang-barangnya. Tak butuh waktu lama dia sudah siap untuk pulang. Dengan bersenandung riang dia mengikuti langkah Kevin masuk ke dalam lift.


“Bener ya pak beliin saya makan malem.”


“Iya.”


“Sama cemilannya sekalian ya pak buat nememin ngerjain laporan.”


“Iya bawel.”


“Sama kopi juga ya pak.”


“Sana jauh-jauh, bau mulut kamu.”


Kevin meletakkan telapak tangannya yang lebar ke wajah Rindu sambil mendorong tubuh gadis itu pelan. Karuan saja seluruh wajah Rindu tertutup oleh telapak tangannya. Dengan kesal Rindu menyingkirkan tangan Kevin dari wajahnya.


“Tangan bapak bau tau!”


“Bauan mulut kamu.”


Rindu berdecak kesal, dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Kevin melirik ke arah gadis itu. Diam-diam senyum tipis tersungging di wajahnya.


“Besok saya harus meninjau proyek di luar. Tenang aja, nanti saya kirimin lagi makan siang.”


“Tapi nanti kasih pesennya yang bener pak, jangan kang Pur lagi.”


“Iya. Besok juga pak Abi ke sini lagi, buat meeting proyek yang di Surabaya.”


“Tidaaaaaaaakkkkk....”


☘️☘️☘️


🤣🤣🤣 **Kalau bikin part mereka mamake pasti ngakak terus. Menghibur banget mereka ya. Oh iya ada yg nanya visual Rindu, nih mamake kasih visual Rindu yang ditolak jadi pembayar hutang😂


Rindu alias Kang alias Pur**



Kevin, si jutek yang bikin bengek

__ADS_1



__ADS_2