
Usai menyiapkan sarapan, Sekar dibuat terkejut ketika masuk ke kamar. Cakra baru saja mengepak koper, pakaian yang dikenakannya juga sudah rapih. Dengan perasaan bingung dan was-was, Sekar menghampiri sang suami.
“Abang mau kemana?”
“Ke Jepang. Hari ini kan jadwal aku ke sana,” jawab Cakra tanpa melihat ke arah Sekar.
“Tapi kata papa, abang ngga usah ke sana.”
“Itu karena kamu hamil, Se. Tapi nyatanya kamu ngga hamil kan? Aku harus pergi.”
Cakra menarik kopernya. Sekar buru-buru menahannya, dia berdiri menghalangi pintu dengan melebarkan kedua tangannya. Cakra menarik nafas dalam melihat sikap istrinya.
“Abang ngga boleh pergi.”
“Ini tanggung jawabku, Se.”
“Kalau abang pergi, aku akan mogok makan.”
Cakra memandangi Sekar. Sikap istrinya benar-benar kekanakan di matanya. Setelah membohongi soal kehamilan kini Sekar mengancamnya dengan aksi mogok makan.
“Lakukan saja Se. Kalau kamu lakukan itu, semakin membuktikan kalau kamu masih kekanakkan.”
“Aku ngga peduli!!”
“Kamu pikir aku senang tinggal berjauhan denganmu? Kamu pikir aku tenang meninggalkanmu sendiri? Ini juga keputusan berat buatku, bukan cuma untukmu. Tapi aku anggap semua ini sebagai ujian pernikahan kita, cinta kita. Dengan jauhnya jarak di antara kita, aku berharap akan semakin menguatkan cinta di antara kita. Menyadarkan diri sendiri kalau kita saling membutuhkan, dan tidak dengan mudah melepaskan apalagi mengkhianati satu sama lain. Harusnya kamu mendukungku, menguatkanku bukan bersikap kekanakkan seperti ini.”
Sekar mulai menangis, tubuhnya luruh jatuh ke lantai. Sekar tahu kalau Cakra masih kecewa padanya. Bahkan kini suaminya sudah tidak menyebut dirinya abang, melainkan aku. Tapi dirinya benar-benar tak rela harus ditinggalkan sang suami. Cakra menghela nafas panjang, kemudian berjongkok di hadapan sang istri. Perlahan dia membantu Sekar bangun lalu membawanya duduk di sisi ranjang.
“Baik-baik selama aku tinggal. Aku usahakan pulang sesering mungkin untuk menengokmu. Cepat selesaikan skripsimu supaya kita bisa tinggal bersama lagi.”
“Aku ngga bisa tidur kalau ngga sama abang.”
“Aku juga Se.”
“Abang masih marah sama aku?”
“Aku cuma kecewa, Se. Aku harap kamu bisa lebih dewasa lagi dalam menyikapi semua persoalan. Mari kita introspeksi diri selama berjauhan.”
Kembali terdengar isak tangis Sekar. Jari Cakra bergerak mengusap airmata sang istri kemudian menyatukan kening mereka. Perlahan Cakra memagut bibir Sekar. Keduanya larut dalam ciuman panjang yang sarat akan cinta. Cakra mengakhiri ciumannya kemudian mengecup kening Sekar.
“Aku pergi. Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di rumah mama, aku ijinkan.”
“Aku tunggu abang di sini aja. Rumahku sekarang di sini.”
Cakra menarik Sekar dalam pelukannya. Dibiarkan sang istri menumpahkan airmata di dadanya. Tangannya mengusap lembut punggung Sekar. Setelah beberapa saat Cakra mengurai pelukannya. Dia berdiri kemudian meraih kembali kopernya.
“Ngga usah mengantarku. Kamu di sini aja.”
Cakra membuka pintu kamar kemudian seraya menggeret kopernya. Bukan tanpa alasan Cakra meminta sang istri tetap di kamar. Dia takut semakin berat meninggalkan Sekar. Tangis Sekar kembali pecah melihat kepergian sang suami.
Baru saja Cakra keluar dari rumah, Teddy dan Rahma tiba di kediamannya. Keduanya terkejut melihat sang menantu bersiap untuk pergi.
“Cak.. kamu mau kemana?”
“Mau ke Jepang ma.”
“Bukannya papa sudah bilang kamu ngga usah ke sana. Biar Yamada yang mengurus perusahaan di sana sementara. Kamu jaga Sekar aja di sini,” tukas Teddy.
“Kasihan pak Yamada kalau harus mengurus perusahaan sendirian. Apalagi banyak proyek yang kemarin sudah digagas kak Juna. Soal kehamilan Sekar, mama dan papa silahkan tanya sendiri padanya. Aku pergi ma, pa.”
Cakra mencium punggung tangan Rahma dan Teddy, kemudian masuk ke dalam taksi online yang tadi dipesannya. Rahma yang bingung dengan perkataan Cakra, bergegas masuk ke dalam rumah. Dia langsung menuju kamar anaknya. Saat pintu terbuka, Rahma terkejut mendapati Sekar tengah duduk sambil menangis.
“Se.. kamu kenapa?”
Rahma mendudukkan diri di samping anaknya. Sekar langsung menghambur dalam pelukan sang mama. Teddy masuk kemudian mendekati anak juga istrinya. Rahma membiarkan Sekar menangis dalam pelukannya. Setelah puas menangis, Sekar mengurai pelukannya lalu mulai menceritakan apa yang terjadi.
Terkejut juga kecewa dirasakan oleh Teddy dan Rahma saat mengetahui kalau kehamilan Sekar hanya kebohongan yang dibuat untuk mencegah suaminya pergi ke Jepang. Rahma memandangi suaminya. Sejak awal dia memang tak setuju suaminya mendirikan perusahaan untuk Sekar di Jepang.
“Kamu ikut mama pulang ya.”
“Ngga ma, aku mau di sini aja. Bang Cakra janji mau sering pulang nengokin aku.”
“Iya nanti kan Cakra bisa ke rumah.”
“Ngga ma, aku di sini aja.”
“Tapi kamu cuma berdua sama bi Parmi di sini. mama ngga tenang ninggalin kamu di sini.”
“Aku baik-baik aja ma. Aku mau belajar jadi istri yang baik. Aku udah kecewain bang Cakra. Biarin aku di sini ma, biar aku belajar mandiri dan ngga manja lagi.”
__ADS_1
Rahma membelai puncak kepala putrinya. Walau berat, dia menyetujui keputusan anaknya. Memang benar putri semata wayangnya itu harus belajar mandiri. Selama ini baik dirinya, maupun Teddy dan kedua anak lelakinya terlalu memanjakan Sekar.
“Papa hargai keputusanmu. Papa harap kamu bisa belajar dari kejadian ini. Dalam pernikahan, kepercayaan adalah pondasi utama. Sekali kamu sudah mematahkan kepercayaan suamimu, maka akan sulit untuk diperbaiki.”
Sekar hanya menganggukkan kepala. Rahma kembali memeluk sang putri. Dia tahu bagaimana tinggal terpisah dengan suami tercinta. Dulu pun dia pernah mengalaminya di masa awal-awal pernikahan mereka.
☘️☘️☘️
Sekar duduk termenung di halaman belakang rumah. Dia baru saja mendapat kabar kalau sang suami telah sampai dengan selamat di Tokyo. Belum ada sehari dirinya ditinggal, dia sudah merasakan kerinduan yang begitu sangat. Matanya kembali berkaca-kaca dan perlahan buliran bening itu turun membasahi pipinya.
Sekar mengusap airmatanya. Tanpa disadari ada seseorang yang tengah memperhatikannya dari belakang. Setelah mendengar kabar tentang Sekar, Juna langsung menuju rumah sang adik sepulang kerja. Pria itu kemudian mendekati Sekar lalu mendudukkan diri di sampingnya.
Juna langsung merangkul bahu Sekar, membuat sang adik terkejut. Mengetahui Juna yang datang, Sekar langsung memeluk kakak tertuanya itu. Tangisnya kembali pecah. Sambil sesenggukan dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Kenapa kamu lakuin itu, Se? Wajar aja kalau Cakra marah dan kecewa. Kamu sudah memberikan harapan palsu padanya.”
“Aku cuma ngga mau bang Cakra pergi ke Jepang, hiks.. aku ngga mau ditinggal kak. Aku maunya abang tetap di sini bersama aku. Apa aku egois?”
“Tapi bukan berarti kamu bisa bermain-main dengan membohonginya. Bukan cuma Cakra yang dibohongi kehamilan palsumu, tapi semua keluarga kita.”
“Aku nyesel kak. Abang pergi dalam keadaan marah sama aku. Walau dia masih bersikap baik sama aku. Aku tahu kalau dia masih marah dan kecewa. Aku nyesel kak.”
“Penyesalan itu emang datangnya belakangan, kalau duluan namanya pendaftaran. Makanya kalau mau bertindak dipikir dulu. Udah besar tapi mikir masih kaya anak SD.”
Juna dan Sekar menoleh ke arah datangnya suara yang berasal dari arah belakang mereka. Ternyata Abi yang baru saja datang langsung menyambar ucapan Sekar. Pria itu mendudukkan diri di samping kanan Sekar. Diusaknya puncak kepala sang adik yang sering membuatnya pusing.
“Kak Abi.. hiks.. hiks..”
“Kamu tuh kapan dewasanya sih? Selalu aja buat onar.”
“Bi,” tegur Juna.
“Ini gara-gara kakak yang selalu manjain dia, jadi gini nih anak.”
Juna hanya menggelengkan kepalanya. Dia dan Abi memang punya cara berbeda dalam menunjukkan kasih sayang pada Sekar. Jika Juna selalu bersikap lembut dan tidak pernah memarahinya. Berbeda dengan Abi yang cenderung bersikap dingin dan berbicara ceplas-ceplos yang kerap membuat telinga merah.
PLETAK
Abi mendaratkan sentilan di kening Sekar. Juna melotot ke arah sang adik lalu mengeplak belakang kepala calon ayah tersebut. Sekar mengusap keningnya yang terasa panas seraya memajukan bibirnya. Abi mengusap kening Sekar dengan telapak tangannya lalu mengecup puncak kepala sang adik.
“Terus kamu ngga jadi hamilnya?” tanya Abi.
“Itu testpack siapa yang kamu kasih ke Cakra?”
“Rindu.”
“Astaga,” Juna menepuk keningnya.
“Ck.. payah si Cakra, kalah ama Kevin.”
“Ish kak Abi, jangan ledekin bang Cakra.”
“Iyalah yang udah bucin. Dulu aja sok nolak, sekarang baru ditinggal ke Jepang udah nangis bombay. Apalagi dimadu.”
“Kak Abi!!”
Sekar memukul lengan kakaknya berkali-kali. Ucapan Abi selalu saja sukses membuat orang yang mendengarnya naik darah. Juna tersenyum geli melihat Sekar yang tadinya menangis kini malah menunjukkan taringnya.
“Sekarang kamu fokus aja sama skripsi kamu, Se. Masalah perusahaan di Jepang, biar kakak, Abi sama Cakra yang cari solusinya.”
“Hmm.. kamu lupa ya punya kakak ganteng dan pinter. Biar kita yang cari solusinya.”
“Narsis,” desis Sekar yang hanya dibalas kekehan Abi.
Kedatangan Abi dan Juna sedikit banyak mengurangi kesedihan Sekar. Tak berapa lama kemudian, pak Kamal mengantarkan Nina dan Nadia. Mereka menemani Sekar dan makan malam bersama. Bahkan Juna juga meminta Kevin juga Rindu datang. Tak lupa duo curut, Radix dan Gurit. Kediaman Sekar seketika penuh dengan perbincangan dan canda tawa.
“Rit, kamu beneran sama Syakira,” Nina mulai kepo.
“Doain aja kak.”
“Lo ngga h*rny setiap denger dia ngomong?” timpal Rindu.
“Wiiddiihh bikin merinding, bawaannya pengen ke kamar mandi mulu.”
Jawaban Gurit sontak mengundang gelak tawa yang lain. Setelah Gurit kini cecaran beralih pada Radix. Pemuda itu ternyata terlibat cinta lokasi dengan Nabila, artis pendatang baru yang masih muda dan cantik.
“Ciee yang udah ngga jomblo lagi,” celetuk Rindu.
“Iya dong. Truk aja gandengan masa kita ngga?” jawab Gurit jumawa.
__ADS_1
“Kok mau ya Syakira sama kamu. Turun jauh itu levelnya dari Jojo ke kamu.”
Perkataan Abi sontak membuat Gurit mingkem. Sebenarnya dia cukup kesal mendengarnya, namun apa daya, tak ada nyali berhadapan dengan beruang kutub bermulut bon cabe. Nina mencubit pinggang sang suami yang tak pernah bisa mengerem mulutnya.
“Kalau ada acara kumpul kaya gini, Syakira jangan dibawa ya,” ucap Juna.
“Kenapa kak?”
“Kasihan para ibu hamil ini. Kacau kalau anak kita lahir bukannya nangis malah men**sah.”
Gelak tawa kembali terdengar, Gurit pun tak bisa menahan tawanya membayangkan anak Rindu lahir lalu men**sah.
“Jadinya gini ya kak, oeeekkkhhh.. oeeekkhhhh...” Gurit terpingkal sendiri setelahnya.
“Dih mana ada anak gue kaya gitu nangisnya,” sembur Rindu.
“Anak kamu kalo lahir bukan nangis Rin, tapi bersin,” sambung Nadia.
“Kok bersin kak?”
“Bapaknya kan kulkas berjalan hahaha...”
Ucapan Nadia kembali mengundang gelak tawa. Sang topik pembicaraan tetap berusaha menampilkan wajah datarnya walau sebenarnya ingin tertawa juga. Tapi gengsi, kalau tertawa berarti mengakui kalau dirinya kulkas berjalan.
Hari semakin larut, para tamu pun satu per satu pamit pulang. Juna juga Abi mengajak Sekar untuk tinggal bersama salah satu dari mereka. Namun Sekar menolaknya. Dia sudah bertekad akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, menjadi istri yang baik, mandiri dan tidak manja lagi, agar Cakra tidak kecewa padanya.
☘️☘️☘️
Tak terasa satu bulan berlalu sejak kepergian Cakra ke Jepang. Nyatanya selama sebulan ini, Cakra tidak juga pulang mengunjungi sang istri. Kesibukannya di sana membuatnya tak memiliki waktu luang untuk pulang.
Begitu pula dengan Sekar yang lebih menyibukkan dirinya menyelesaikan tugas akhirnya. Dia juga mulai belajar banyak hal menjadi istri yang baik. Sekarang Sekar sudah bisa memasak, walaupun rasanya masih sedikit amburadul.
Dua hari yang lalu, dia telah menyelesaikan sidangnya. Sekar bermaksud memberi kejutan pada sang suami. Diam-diam dia telah memesan tiket untuk pergi ke Jepang. Tak ada yang tahu soal rencananya, kecuali bi Parmi.
Sekar baru saja mengepak pakaiannya ke koper. Kemudian dia memastikan tiket, passport dan visa sudah siap dan menaruhnya ke dalam laci lemari. Wanita itu akan terbang ke Jepang dua hari lagi.
Setelah menutup pintu lemari, tiba-tiba Sekar merasakan pusing. Dunia seolah berputar begitu cepat. Hampir saja dia terjatuh, namun tangannya telah lebih dulu bertumpu pada lemari. Keringat dingin keluar dari tubuhnya, perutnya terasa mual. Dengan langkah tertatih, dia menuju kamar mandi.
HOEK
HOEK
Sekar memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke dalam lambungnya sejam yang lalu. Dia terus mengeluarkan seluruh isi perutnya sampai hanya cairan bening saja yang keluar setelahnya. Wanita itu terduduk di lantai kamar mandi, tak sanggup rasanya untuk bangun dan kembali ke kamar.
Bi Parmi mengetuk pintu kamar, tak lama wanita paruh baya itu masuk dengan membawa tumpukan pakaian di tangannya. Matanya berkeliling mencari keberadaan Sekar. Matanya kemudian menangkap pintu kamar mandi yang terbuka. Bi Parmi menaruh pakaian di atas kasur lalu bergegas menuju kamar mandi. Wanita itu terkejut melihat Sekar duduk di lantai.
“Ya ampun non Sekar kenapa?”
Bi Parmi membantu Sekar berdiri kemudian menuntunnya keluar kamar mandi. Dibawanya Sekar ke ranjang kemudian membantunya berbaring.
“Non kenapa?”
“Kepalaku pusing bi. Perutku juga mual. Masuk angin kali ya, bi.”
“Atau jangan-jangan non hamil.”
Sekar terdiam sejenak kemudian mengambil ponsel di atas nakas. Dibukanya aplikasi kalender di ponselnya. Saking sibuknya dengan skripsi dan merindukan Cakra, dia lupa jadwal datang bulannya sudah lewat tiga minggu.
“Mau bibi belikan testpack non?”
“Ngga usah bi. Aku masih ada stok di laci meja rias. Tolong ambilin ya bi.”
Bi Parmi mengangguk kemudian menuju meja rias kemudian membuka laci. Diambilnya satu buah testpack dari dalamnya. Kemudian bi Parmi membantu Sekar untuk ke kamar mandi. Wanita paruh baya itu dengan setia menunggu Sekar di depan pintu kamar mandi. Sepuluh menit kemudian Sekar keluar dengan testpack di tangannya.
“Gimana non?”
“Positif bi.”
“Alhamdulillah.”
☘️☘️☘️
**Haaiii... KPA is back. Maaf jadwal up nya terlambat. Ngga apa² ya yang penting udah up😁
Sambil nunggu up KPA selanjutnya, mamake mau rekomendasiin novel lain nih. Buat para ABG dan yg masih jomblo cocok buat baca cerita ini. Tapi para emak juga bisa kok ikutan baca, biar jiwa kalian tetap muda😁
Kisah tentang Tasya dan Sean yang selalu bertengkar namun harus terjebak dalam perjodohan. Cuss ikuti keseruannya dalam MY CUTE LITTLE HUSBAND, karya othor muda berbakat yang ngakunya ganteng😎
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian nantinya ya, like and komen. Kalau berkenan sekalian sama giftnya juga. Makasih readers keceku😘😘😘**
__ADS_1