KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Pendekar


__ADS_3

Rindu memberikan berkas terakhir yang dikerjakannya pada Kevin. Seharusnya Jumat kemarin adalah hari terakhirnya magang. Tapi karena kesibukan di kantor, gadis itu harus memperpanjang masa magangnya satu hari lagi.


Kevin membaca berkas yang diberikan oleh Rindu. Dalam hati dia mengakui kecekatan Rindu dalam mengerjakan semua tugasnya. Hampir tak pernah gadis itu melakukan kesalahan. Pekerjaan Kevin yang seabrek terbantu berkat kemampuannya. Hanya saja satu yang Kevin tak tahan, mulut bawelnya yang tak berhenti mengoceh.


“Ini hari terakhir kamu magang?”


“Iya pak.”


“Kamu sudah mulai kuliah lagi?”


“Belum pak. Mungkin awal bulan depan soalnya kampus masih sibuk dengan maba.”


“Kalau gitu bisa tidak kamu menjadi sekretaris saya lagi satu bulan ke depan? Sampai sekarang saya belum mendapatkan sekretaris pengganti.”


Rindu terdiam sejenak untuk menyusun kata-kata yang tepat. Ini adalah hari yang paling ditunggunya selama dua bulan terakhir. Mengakhiri masa magangnya di sini merupakan hal yang paling didambakannya. Kehidupannya akan kembali berjalan normal tanpa gangguan dari si kulkas berjalan.


“Maaf pak, saya ngga bisa.”


“Kenapa?”


“Saya mau mudik pak. Abah saya udah mau mulai masa tanam lagi, jadi saya mau buat bantuin abah.”


“Bantuin ngabisin gentong beras abahmu maksudnya?”


Rindu menarik nafas dalam-dalam mengisi rongga paru-parunya yang seketika hampa setelah mendengar ucapan Kevin yang menyebalkan. Walaupun abahnya sering bilang kalau dirinya memang penyebab gentong beras di rumahnya cepat habis. Tapi tetap saja tak rela ketika ejekan itu keluar dari mulut tanpa saringan bosnya itu.


“Bapak sebenarnya mau minta tolong apa mau ngajak ribut?”


“Siapa yang minta tolong?”


“Tadi bapak minta saya jadi seretaris bapak lagi satu bulan ke depan.”


“Apa saya nyebut kata tolong?”


Huufftt.. demi langit dan bumi ingin rasanya Rindu menyumpal mulut tengil si kulkas berjalan. Sudah butuh tapi tak mau mengakui. Rindu menatap pria di depannya ini dengan tatapan angkuh lalu dengan mantap dia menjawab.


“Maaf ya pak saya ngga bisa dan ngga mau!” Rindu segera berbalik badan.


“Oh ya sudah. Tadinya kalau kamu bersedia saya akan memberi kamu gaji full sebagai sekretaris plus makan tiga kali sehari.”


Dengan cepat Rindu membalik badannya kemudian menarik kursi di depan meja Kevin. Dengan antusias Rindu mulai menanggapi ucapan bosnya itu. Tangannya bersedekap di atas meja, binar matanya menunjukkan keantusiasan.


“Bapak tadi bilang apa? Tolong ulangi pak.”


“Ngga ada siaran ulang. Saya yakin kuping kamu masih jelas mendengar dan otakmu masih bagus merekam apa yang saya katakan tadi.”


“Ish tinggal ngulang aja apa susahnya, pelit banget sih.”


“Kamu yang drama banget. Minta diulang, emangnya siaran ulang sepak bola apa.”


“Iya.. iya.. iya deh pak.”


“Iya apa? Yang jelas kalau ngomong.”


“Iya saya mau jadi sekretaris bapak selama sebulan ke depan.”


“Bagus. Besok saya ngga mau lihat kamu pakai baju hitam putih. Pakai pakaian yang benar karena kamu akan sering mendampingi saya bertemu dengan klien di luar.”


“Kalau baju kerja saya ngga punya pak. Paling juga baju buat kuliah, itu juga kebanyakan celana jeans. Sisanya ya daster. Masa iya saya ke kantor pake daster hihihi..”


Rindu cekikikan sendiri membayangkan dirinya pergi bekerja mengenakan baju kebangsaan para emak-emak. Sudah dibayangkan kepala Kevin pasti akan bertanduk, bahkan di bokongnya mungkin akan tumbuh ekor. Kevin menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tangannya bersidekap dengan mata menatap tajam ke arah Rindu.


“Udah ngelawaknya?”


“Ya elah bapak sensi amat, lagi PMS ya.”


“Ayo ikut saya sekarang.”


“Kemana pak?”


“Ngga usah berisik. Tinggal ikut aja!”


“Ya saya takut pak kalau ngga tahu tujuannya. Kali aja bapak bakal jual saya ke om-om senang yang perutnya buncit, kepalanya botak, pendek, item, hidup lagi.”


“Biarpun mereka perutnya buncit, kepala botak, pendek dan hitam, mereka juga mikir-mikir dulu kalau ditawarin kamu buat jadi sugar babynya. Udah kecil, bawel, makannya banyak, mulutnya bau jengkol lagi.”


Rindu ternganga mendengar semua ledekan tentang dirinya keluar dari makluk yang bernama lengkap Kevin Sanjaya, sama persis seperti nama pebulutangkis ganda putra Indonesia. Sialnya semua yang dikatakan Kevin itu benar adanya. Kecuali soal mulutnya yang bau jengkol. Karena tidak setiap hari gadis itu makan makanan yang rasanya mengalahkan rendang Padang, buat yang suka tentunya.


Tak ingin memperpanjang perdebatan mereka yang Rindu tahu ujung-ujungnya pasti tidak akan menang, gadis itu memilih mengikuti Kevin yang sudah keluar dari ruang kerja lalu masuk ke dalam lift.


“Pak, itu nama bapak kan U. Kevin Sanjaya. U nya kepanjangan dari apa?”


“Kepo.”


“U itu bisa jadi Udin, Umar, Usman. Aah saya tahu, U itu kepanjangan dari Ujang kan? Hahahaha.... bapak Kevin yang dinginnya ngelebihin kulkas dua pintu ternyata nama aslinya Ujang huahahaha...”

__ADS_1


Kevin memalingkan wajahnya ke samping. Sebisa mungkin dia tetap menampilkan wajah cool-nya. Kalau sampai gadis itu tahu nama panjangnya adalah Ujang Kevin Sanjaya, harga dirinya bisa berserakan.


Semua ini gara-gara bidan yang menambahkan kata Ujang di depan namanya saat membuat surat keterangan lahir. Saat dia menanyakan nama pada ibunya, sebelum menyebut nama Kevin Sanjaya, mama Kevin memanggil dulu mang Ujang yang merupakan supir pribadi mereka. Alhasil kata Ujang terbawa sampai ke akta kelahiran.


Lebih parahnya, kedua orang tuanya tak menyadari hal tersebut. Karena mereka hanya fokus pada tanggal lahir dan nama mereka saja selaku orang tua. Mereka baru menyadari saat Kevin lulus SD. Kata Ujang muncul di ijazah sekolah dasarnya sebelum namanya. Orang tua Kevin tak berniat mengurus pergantian nama karena malas dengan urusan birokrasi. Anggap saja kata Ujang adalah jimat yang disematkan untuk anaknya.


Pintu lift terbuka, membuyarkan lamunan Kevin. Dia bergegas keluar dari lift kemudian menuju mobilnya yang terparkir di basement. Rindu terus mengekorinya dari belakang. Kevin mengarahkan remote mobil ke Pajero berwarna hitam lalu masuk ke dalamnya, disusul oleh Rindu.


“Kita mau kemana sih pak?”


“Tinggal ikut aja pake banyak tanya.”


Rindu menutup mulutnya rapat-rapat. Dia lalu menarik tali seat beltnya, namun tali itu sedikit tersangkut hingga sulit ditarik. Beberapa kali gadis itu coba menariknya namun gagal. Kevin mendekatkan tubuhnya kemudian menarik tali seat belt dengan satu hentakan.


“Gini aja ngga bisa.”


“Susah pak.”


“Kamu makan banyak dikemanain? Masa iya semuanya jadi kotoran, ngga jadi tenaga.”


Rindu melotot mendengarnya. Untuk sesaat mereka saling menatap tanpa keduanya sadari posisi tubuh mereka begitu dekat. Tangan Kevin bergerak ke arah wajah Rindu membuat gadis itu menahan nafasnya. Dengan sekali tarikan, dia mengambil semut yang berjalan di pelipis gadis itu kemudian mengembalikan tubuhnya ke posisi semula. Spontan Rindu meraba bagian wajah yang disentuh Kevin tadi.


“Ada apaan pak tadi?”


“Kutu.”


“Hah? Ngga mungkin ah, saya ngga kutuan, enak aja.”


“Terus kalau bukan kutu apa? Bentuknya kecil warna hitam adanya di dekat rambut, masa iya dinosaurus.”


Rindu meraba lagi bagian tadi di sentuh, kemudian menyasar kulit rambutnya. Meraba-raba apa benar kalau tadi ada kutu yang hinggap di rambutnya. Kevin mengulum senyum tipis, sangat tipis hingga gadis itu tak melihatnya. Tangan Kevin memindahkan perseneling kemudian menekan pedal gas. Perlahan kendaraannya bergerak meninggalkan area basement.


☘️☘️☘️


Rindu masih belum tahu kemana tujuan Kevin sebenarnya. Demi kesejahteraan otak dan hatinya, dia memilih menutup mulutnya rapat-rapat walau rasanya sudah gatal ingin bertanya. Gadis itu tetap mengikuti langkah Kevin memasuki mall lalu menuju departemen store. Dia berheniti di bagian yang memajang pakaian kerja untuk wanita.


“Sekarang kamu pilih baju buat ke kantor.”


“Buat saya pak? Eh bang, kan udah bukan jam kerja hehehe..”


“Iya, cepetan.”


Rindu memandangi deretan pakaian kerja yang terpajang rapih di depannya. Tangannya menggaruk-garuk kepalanya. Sejujurnya dia tak tahu harus memilih pakaian model apa. Sehari-harinya dia tak pernah memusingkan soal penampilan. Lemari bajunya juga lebih banyak dipenuhi oleh celana jeans dan kaas atau kemeja. Di saat seperti ini dia membutuhkan bantuan Sekar.


“Lama banget sih,” gerutu Kevin.


“Sebenernya aku ngga tahu bang, bagusnya kalau baju buat sekretaris itu kaya apa.”


“Astaga kamu perempuan dari planet mana sih sampe ngga paham soal fashion. Makanan mulu yang ada di otak kamu,” Kevin mengetuk-ngetuk kepala Rindu.


Kevin mulai melihat-lihat pakaian yang terpajang, mengambil satu blouse lalu mencocokkan ke tubuh Rindu. Terus seperti itu sampai dia memilih lima buah blouse. Kemudian menuju deretan celana panjang. Dia mengambil lima potong dengan dengan warna tiga warna berbeda. Disesuaikan dengan warna blouse yang diambilnya tadi.


“Nih coba dulu sana. Nanti kalau sudah coba satu stel, keluar dulu. Aku mau lihat cocok apa ngga.”


Rindu membawa lima stel pakaian. Tubuh mungilnya cukup kesulitan membawa tumpukan baju yang hampir menutupi wajahnya. Dia masuk ke salah satu ruang ganti. Kevin menunggu di depan ruang ganti. Lima menit kemudian Rindu keluar. Kevin berusaha menahan tawa melihat celana yang digunakan Rindu menutupi seluruh kakinya bahkan sisanya bisa dipakai mengepel lantai.


“Untung aja kulit kamu putih, coba kalau hitam. Udah pendek, hitam, bawel, banyak makan, hidup lagi. Mana ada cowok yang mau sama kamu.”


“Sembarangan aja bang Ke. Aku tuh imut tahu.”


“Berapa sih tinggi kamu? Jangan-jangan semeter juga masih kurang setengah senti.”


“Enak aja! Aku 150 cm tahu.”


“Satu setengah meter aja bangga. Untung badan kamu kurus. Kalo gemuk saya kasih julukan Pendekar kamu.”


“Apaan tuh pendekar?”


“Pendek dan mekar hahahaha...”


Rindu mendengus sebal, ada saja kata-kata menyebalkan yang keluar dari mulut lemes Kevin. Gadis itu kembali masuk ke ruang ganti. Tak lama dia keluar tanpa mencoba semua bajunya.


“Cepet banget cobanya.”


“Ngga usah dicoba, ukurannya sama semua.”


“Ayo.”


Kevin menarik lengan kemeja Rindu, membawa gadis itu ke meja kasir. Setelah membayar semua belanjaan mereka keluar dari departemen store. Kevin melangkah menuju salah satu toko yang menjual pakaian dari desainer ternama. Kedatangannya langsung disambut pelayan yang telah mengenalnya.


“Selamat datang pak Kevin, ada yang bisa dibantu?”


“Saya pesan satu pasang tuxedo ya. seperti biasa warna hitam.”


“Baik pak, ada lagi?”

__ADS_1


“Bisa tolong potongkan celana anak ini?”


Kevin memberi isyarat pada Rindu memberikan kantong belanjaan yang berisi celana pada pelayan itu.


“Bisa pak. Mari mba ikut saya untuk diukur.”


“Sama sekalian carikan dress untuknya 3 potong.”


“Baik pak.”


Rindu ke ke bagian belakang toko lalu masuk ke sebuah ruangan yang berisi lima orang penjahit. Pelayan tersebut mengatakan apa yang diminta Kevin. Salah seorang penjahit segera mengujur panjang kaki Rindu. Kelima celana itu langsung dikerjakan lima orang penjahit agar tidak terlalu lama.


Sambil menunggu jahitan celananya beres, pelayan tersebut mengajak Rindu memilih dress yang tersedia. Dia memberikan masukan karena Rindu sama sekali tak paham akan mode. Akhirnya sang pelayan memilihkan blouse dengan model dan warna berbeda.


Selesai dengan urusan pakaian, Kevin mengajak Rindu menuju supermarket yang ada di lantai bawah. Dia harus bergegas karena ada janji makan malam dengan keluarganya. Kevin menarik sebuah troli lalu mendorongnya menyusuri deretan barang-barang yang terpajang.


“Pilih makanan yang kamu mau buat stok di kost-an kamu.”


“Beneran bang?”


“Iya.”


“Asik,” dengan cepat Rindu memasukan bermacam snack ke dalam troli belanjaan.


“Giliran makanan aja cepet banget.”


“Saya denger loh pak.”


“Cepetan. Sekalian kamu beli buat makan malam di sana.”


Kevin menunjuk ke arah sudut supermarket yang menyediakan aneka makanan siap saji. Rindu tentu saja mengangguk penuh semangat empat lima. Sedang asik memilih makanan, tiba-tiba Rindu dikejutkan oleh sebuah suara yang dikenalnya.


“Ya ampun Rin. Sejak kapan lo jadi piaraan om-om? Segitu frustrasinya lo diputusin Hendra sampai putar haluan?”


Rindu memandang gadis di depannya yang tengah menggandeng mesra tangan Hendra, mantan pacar Rindu. Sedang sang gadis adalah sahabat baik Rindu yang tega menikung dirinya.


“Ya mending gue dong. Lo lihat secara fisik, dia lebih oke dari Hendra. Apalagi dari segi dompet. Kalau sama Hendra lo paling dibeliin es doger doang. Ayo om kita pergi aja. Ngga baik atmosfer di sini. Ada orang sirik pidik jail kaniaya.”


Rindu menarik tangan Kevin. Hendra bersama pacarnya melihat kesal ke arah Rindu. Tapi gadis itu berlalu seolah tanpa beban. Sebelum ke meja kasir, Rindu mengambil beberapa makanan siap saji yang akan dibawanya pulang. Kevin juga menambahkan roti juga buah-buahan ke dalam troli belanjaan.


Rindu membelalakkan matanya, melihat total harga belanjaan yang isinya makanan semua hampir mencapai lima ratus ribu rupiah. Kevin mengeluarkan kartu debitnya untuk membayar semua belanjaan.


Dengan langkah cepat mereka bergegas menuju parkiran. Waktu jam makan malam sudah semakin mepet. Kevin langsung tancap gas keluar dari mall. Kali ini tujuannya adalah mengantarkan Rindu ke kost-annya.


“Tadi siapa?”


“Yang cowok mantan pacarku, yang cewek pacarnya. Mereka selingkuh di belakangku sampai akhirnya aku tahu dan kita putus,” wajah Rindu nampak sendu.


“Kenapa sedih? Kamu masih suka sama mantan kamu?”


“Ngga. Aku cuma sedih, cewek itu sahabatku dari SMA. Aku deket sama dia sebelum kenal Sekar, Radix dan Gurit. Tapi gara-gara cowok, dia tega khianat. Padahal kalau dia bilang suka sama Hendra, aku pasti bakal lepas Hendra buat dia kok, tanpa dia harus nikung.”


“Ya bagus dong. Berarti Allah udah memperlihatkan sama kamu mana orang yang pantas jadi sahabat kamu, mana yang tidak.”


“Iya juga sih bang.”


Kevin membelokkan kendaraannya memasuki daerah yang banyak menyediakan tempat kost untuk mahasiswa atau pegawai. Dia berhenti di depan sebuah rumah bercat hijau. Rindu membuka tali seat beltnya.


“Makasih ya bang buat semuanya. Buat baju sama makanannya.”


“Hmm..”


Rindu turun dari mobil. Kevin juga ikut turun untuk membantu gadis itu menurunkan kantong belanjaan. Pria itu membawakan kantong belanjaan sampai ke depan teras kost-an. Diletakkan semua kantong di atas kursi.


“Kang.. makasih ya kamu mau jadi sekretaris saya sampai sebulan ke depan.”


“Iya sama-sama bang. Makasih juga buat semuanya.”


“Itu cemilan jangan dihabisin sekaligus, nanti kamu beneran jadi pendekar.”


“Ya ampun bang, aku kan ngga serewog itu kali.”


“Besok jangan lupa, jam delapan sudah di kantor. Kita ada meeting pagi.”


“Siap bos.”


Rindu menaruh tangannya di kening seperti orang sedang menghormat bendera. Kevin kembali menuju mobilnya. Tak lama kendaraan roda empat itu berlalu. Rindu mengangkat semua kantong belanjaan lalu masuk ke dalam rumah.


☘️☘️☘️


Ciiee **Ujang Kevin sama Kang Pur udah mulai Deket nih. Beli baju kerja buat awalnya aja ya bang Ke, nanti beli baju buat hantaran nikah eaa.. eaa..💃💃💃


Episode kali ini 2000 kata lebih ya gaaaeesss, spesial buat kalian yg kangen sama pasangan ini. Hari ini mamake cuma bisa up 1 ya, kerjaanku belum beres😭**


Maaf ya nunggu lama buat episode ini, review-nya lamaaaaa.

__ADS_1


__ADS_2