
**Demi menjaga ibadah puasa kita tetap terjaga kemurniannya, dimohon membaca setelah berbuka. Bagi yang tidak berpuasa disarankan membaca di tempat sepi supaya tidak menimbulkan kecurigaan😉
*********************************************
Lima tahun berselang
Suasana kediaman Teddy di Minggu pagi, nampak sepi. Kesibukan hanya terlihat di dapur. Rahma bersama dengan bi Cucu, pengganti bi Sari dan Rayi tengah menyiapkan sarapan. Seperti biasa, hari ini semua keluarga Hikmat akan berkumpul untuk sarapan bersama.
Anfa sedang mengajak kedua anaknya mengelilingi halaman depan. Dan Teddy masih berada di kamar. Sehabis shubuh, pria itu memilih tidur kembali.
Rahma melepaskan celemek, kemudian berjalan ke kamarnya untuk membangunkan sang suami. Sarapan telah siap, hanya tinggal menunggu anaknya yang lain datang. Di pintu depan, nampak Juna datang bersama istri dan anak-anaknya. Di belakang mereka, Abi dengan keluarga kecilnya menyusul.
Rahma membuka pintu kamar. Kepalanya hanya menggeleng pelan melihat suaminya masih pulas tertidur. Dia berjalan mendekat kemudian mendudukkan diri di sisi ranjang. Dengan gerakan pelan wanita itu mengguncang bahu suaminya.
“Pa.. bangun pa, anak-anak sudah datang. Ayo kita sarapan.”
Tak ada reaksi dari Teddy. Rahma kembali membangunkan suaminya, namun Teddy bergeming. Kali ini Rahma mengguncang bahu suaminya sedikit lebih kencang seraya, namun tetap pria itu hanya terdiam. Perasaan Rahma tak enak, dia menepuk pipi suaminya. dia terjengit saat merasakan kulit sang suami begitu dingin.
“Pa.. bangun pa!! Bangun.. papa.. papaaaa!!!”
Rahma berteriak kencang, tangisnya seketika pecah ketika mengetahui suaminya sudah tak bernafas lagi. Juna dan Abi yang mendengar teriakan Rahma bergegas menuju ke kamar disusul oleh Anfa juga Cakra dan Sekar yang baru saja tiba.
Juna dan Abi terpaku di tempatnya ketika melihat Rahma menangis sambil memeluk tubuh Teddy yang telah kaku. Sekar menerobos masuk kemudian menghambur ke arah sang ayah.
“Papa kenapa ma? Papa.. ini Sekar pa.. bangun pa..”
Tak ada jawaban dari Rahma. Wanita itu terus saja menangis sambil terus memeluk tubuh suaminya. Juna dan yang lainnya perlahan mendekat. Direngkuhnya tubuh Rahma sedikit menjauh dari Teddy. Abi maju untuk memeriksa keadaan papanya.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Papa sudah ngga ada,” ucap Abi dengan suara tercekat.
Sekar menjerit histeris mendengar ucapan Abi. dia mengguncang-guncang tubuh Teddy yang sudah tak bernyawa. Sekeras apapun dia berusaha, Teddy tetap terdiam. Lelaki itu tetap berada dalam tidur panjangnya dengan senyum menghiasi wajahnya.
Cakra menarik Sekar ke dalam pelukannya. Abi hanya mampu bersimpuh di depan jasad sang ayah. Airmata mengalir dari kedua matanya. Tubuh Anfa jatuh terkulai di lantai mengetahui lelaki yang sudah dianggap ayah kandungnya telah meninggalkannya untuk selamanya. Tangisnya seketika pecah.
Mendengar keributan di kamar Rahma, Nina, Nadia, Rayi dan juga anak-anak mereka bergegas masuk ke dalam kamar. Mereka terkejut saat tahu lelaki yang begitu mereka sayangi ternyata telah berpulang ke Rahmatullah. Rayi segera menghampiri Anfa kemudian memeluknya. Suaminya itu nampak begitu terpukul dengan kepergian Teddy.
“Opa!!”
Terdengar teriakan cucu-cucu Teddy memanggilnya. Mereka menghambur naik ke atas kasur untuk memastikan keadaan kakeknya. Tangis Freya, Azra, Alisha, Anya dan Hanna pecah seketika. Begitu pula dengan Kenzie, Ezra, Kenan, Aric dan Haikal. Mereka terpaku di tempatnya dengan wajah bersimbah airmata.
Bukan hanya keluarga yang terkejut dengan kepergian Teddy yang tiba-tiba. Tapi semua pegawai di rumahnya pun ikut terkejut. Mereka menangis mengetahui majikannya yang senantiasa bersikap ramah dan santun telah berpulang. Tatan bergegas keluar rumah untuk menemui pengurus RT dan juga pengurus masjid setempat untuk mengumumkan berita duka.
☘️☘️☘️
Isak tangis mengiringi acara pemakaman Teddy yang dilakukan di lahan pribadi milik pribadinya. Lahan tersebut memang telah dipersiapkan oleh Teddy sebagai rumah masa depan untuk dirinya juga seluruh keluarganya.
Jojo dan Kevin yang mendengar kabar tersebut segera datang bersama keluarga mereka. Begitu pula dengan Radix dan Gurit. Dengan airmata berlinang, keempat pria itu membantu proses pemakaman.
Banyak teman dan juga kolega Teddy yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Begitu pula dengan para tetangga dan karyawan perusahaan, mereka berbondong-bondong datang untuk memberi penghormatan terakhir pada pria bersahaja itu. Lita terus mendampingi Rahma yang nampak terpukul. Wanita itu memandangi tubuh suaminya yang mulai tertimbun oleh tanah merah.
Acara pemakaman usai sudah. Semua yang datang mengantar telah beranjak pulang. Hanya menyisakan keluarga saja yang masih bertahan di sana. Rahma duduk bersimpuh di samping makam suaminya, tangannya terus memegangi nisan kayu yang bertuliskan nama Teddy.
“Ma.. jangan menangis lagi,” ujar Juna yang sedari tadi tak pernah jauh dari sisi sang mama.
“Ayo kita pulang ma,” sambung Abi.
“Mama mau di sini. Papa pasti kesepian kalau kita pulang.”
“Papa sudah tenang di peristirahatannya, ma. Mama harus ikhlas,” Juna merangkul bahu Rahma.
“Besok aku antar mama ke sini. Kapan pun mama mau melihat papa, aku akan mengantar mama. Sekarang kita pulang ya ma,” bujuk Abi.
“Oma.. ayo kita pulang. Opa pasti sedih kalau oma nangis terus.”
Rahma mengangkat kepalanya, matanya yang masih basah menatap Kenzie yang berdiri di samping Abi dan tengah melihat ke arahnya. Tangan Kenzie terulur pada sang nenek. Perlahan Rahma menyambut uluran tangan cucunya. Dibantu Juna juga Abi, Rahma berdiri. Sejenak dia masih terdiam di tempatnya, menatap makam suaminya yang masih basah.
“Aku pulang dulu mas,” lirih Rahma.
Dengan langkah pelan, wanita itu meninggalkan area pemakaman. Rahma merangkul Kenzie yang tingginya sekarang hampir setara dengan dirinya. Keduanya berjalan menuju kendaraan yang terparkir di depan pintu masuk makam.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Anfa duduk termenung di ruang kerja pribadinya. Matanya menatap kosong ke arah sofa di depannya. Biasanya di sana dia dan Teddy sering menghabiskan waktu berbicara berdua. Anfa kerap berkonsultasi masalah pekerjaan, dan Teddy selalu membimbingnya bagaimana melakukan pekerjaan dengan baik, bagaimana menjalin hubungan dengan rekan bisnis, bagaimana mencari solusi dari masalah yang datang dan mengambil keputusan di saat kritis.
Tak hanya itu, Teddy juga kerap mengajarkan padanya bagaimana menjadi suami dan ayah yang baik. Pria itu juga selalu mendengarkan keluh kesah Anfa, menyemangatinya di saat Anfa terpuruk. Kehadiran Teddy benar-benar mengisi kekosongan sosok ayah yang bertahun-tahun tak dimilikinya.
Mata Anfa kembali memanas, perlahan buliran bening itu mengalir dari kedua matanya. Mulutnya terus bergumam memanggil Teddy dengan sebutan papa. Kepergian Teddy yang mendadak membuatnya sulit untuk menerima. Anfa menghapus airmatanya ketika pintu terbuka. Hanna masuk menghampiri dirinya.
“Pipi..”
“Iya sayang.”
Hanna yang kini berusia 11 tahun memandangi wajah ayahnya. Dia tahu kalau sang ayah tengah bersedih karena kepergian Teddy, dan itu juga yang dirasakannya.
“Pipi dipanggil sama mimi.”
“Ayo,” Anfa berdiri dari duduknya.
“Kamu kenapa belum tidur?”
“Belum ngantuk.”
“Ini sudah malam. Ayo pipi antar ke kamar.”
Anfa menggandeng tangan Hanna kemudian keluar dari ruangan. Sejenak dia melihat ke pintu kamar tidur Teddy. Kemudian mereka kembali melangkah lalu menaiki anak tangga. Kamar Hanna dan Haikal memang berada di lantai dua. Anfa membukakan pintu kamar lalu mengantar Hanna sampai naik ke atas ranjang.
“Pipi... pipi kangen ya sama opa?”
Gerakan tangan Anfa saat tengah menyelimuti anaknya terhenti ketika mendengar pertanyaan Hanna. Pria itu kemudian mendudukkan diri di sisi ranjang.
“Hmm.. pipi kangen sama opa.”
“Hanna juga. Sekarang ngga ada yang temenin Hanna kerjain PR lagi.”
“Opa sekarang sudah tenang di tempat barunya. Jangan lupa Hanna kirim doa buat opa selesai shalat, biar opa senang.”
“Iya pi.”
Anfa menarik selimut hingga ke batas dada, kemudian mendaratkan ciuman di kening Hanna. Setelah menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama, pria itu keluar dari kamar. Dibukanya pintu kamar Haikal, nampak anak keduanya itu telah tertidur. Perlahan Anfa menutup kembali pintu kemudian turun ke bawah lalu masuk ke kamarnya.
☘️☘️☘️
Tengah malam, Rahma terjaga dari tidurnya. Tangannya menyentuh ruang kosong di sebelahnya. Matanya kembali memanas mengingat pria yang biasa menemaninya tidur, yang biasa memeluknya kini sudah tak bersamanya lagi. Dia mengubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap ke tempat biasa Teddy berbaring.
Tangan Rahma mengelus bantal yang biasa menyangga kepala suaminya. Lalu mengusap bagian kasur yang biasa ditidurinya. Airmatanya terus mengalir mengingat pembicaraan terakhirnya semalam menjelang tidur mereka.
Flashback On
Teddy merangkak naik ke atas kasur setelah menengok kedua cucunya, kebiasaan yang dilakukannya setiap malam. Dia membaringkan tubuh di sisi sang istri kemudian menarik Rahma ke dalam pelukannya. Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala sang istri. Kemudian terdengar pria itu bersenandung menyanyikan lagu cinta sejati untuk sang istri. Senyum Rahma mengembang, suaminya selalu saja bersikap romantis padanya. Matanya terpejam menikmati suara merdu sang suami.
“Sayang.. terima kasih sudah hadir dalam kehidupanku. Mas bahagia memilikimu. Kamu sudah memberiku tiga orang anak yang hebat. Kemudian kita mendapatkan menantu yang baik dan juga Anfa. Sekarang kita juga sudah mempunyai cucu-cucu yang cantik dan tampan, mereka juga begitu baik. Kebahagiaan mas sudah lengkap sekarang. Mas bersyukur diberikan umur hingga saat ini dan merasakan semua kebahagiaan ini.”
“Iya mas, aku juga. Hidup kita sudah lengkap.”
“Seandainya mas pergi lebih dulu, kamu jangan bersedih. Ingatlah kamu masih memiliki anak dan cucu-cucu kita. Jalani hidupmu dengan baik sampai nanti mas menjemputmu.”
“Kalau aku boleh meminta, aku ingin pergi bersamaan denganmu. Aku ngga tau apa sanggup kalau harus hidup tanpamu.”
“Kamu harus bisa sayang, kamu pasti bisa.”
Teddy mengeratkan pelukannya, matanya nampak berkaca-kaca ketika mengatakan itu semua. Rahma memeluk pinggang suaminya erat. Dia tak berani membayangkan jika suatu saat Teddy meninggalkannya lebih dulu.
“Kalau seandainya aku yang lebih dulu pergi, mas juga jangan bersedih. Ingat saja kebersamaan kita. Dan mas jangan nikah lagi, aku ngga rela ya mas nikah lagi walau aku udah ngga ada.”
“Hahaha..”
Teddy tertawa mendengar ucapan sang istri. Dia mengusap sudut matanya yang membasah. Di tengah keharuannya, sang istri masih saja bisa membuatnya tertawa. Pria itu melonggarkan pelukannya agar bisa menatap wajah cantik istrinya yang begitu dicintainya.
“Kamu tuh.. siapa juga yang mau sama kakek-kakek kaya aku,” Teddy menjawil hidung Rahma.
__ADS_1
“Jangan salah mas. Tadi aku lihat di berita, kakek-kakek umur 81 tahun menikah lagi. Mas kan lebih muda dari dia, bukan ngga mungkin kalau mas nikah lagi setelah aku ngga ada. Pokoknya mas ngga boleh nikah lagi.”
“Kalaupun mas mau, apa menurutmu anak dan cucu kita akan mengijinkan?”
“Pastinya ngga,” Rahma terkikik sendiri.
“Mas ngga akan menikah lagi, karena satu-satunya wanita yang mas cintai cuma kamu. Memilikimu sudah lebih dari cukup. Kamu sudah memberikan banyak kebahagiaan untuk mas. Aku sangat mencintaimu Rahma.”
“Aku juga mencintaimu, mas Teddy-ku.”
Teddy menangkup wajah Rahma kemudian mendaratkan ciuman di bibir istrinya itu. Entah mengapa dia merasa kalau ini adalah ciuman terakhir yang diberikan untuk sang istri. Rahma memejamkan matanya, terasa ada yang berbeda dengan ciuman suaminya kali ini.
Flashback Off
Tangis Rahma kembali pecah mengingat itu semua. Tak menyangka kalau pembicaraan semalam, nyanyian dan ciuman yang diberikan Teddy adalah ucapan selamat tinggal untuknya. Andai dirinya tahu kemarin adalah waktu terakhirnya bersama sang suami, dia akan menghabiskan waktu lebih banyak bersama sang suami. Kini hanya doa yang bisa dia kirimkan untuk suami tercinta.
☘️☘️☘️
Enam bulan berlalu setelah kepergian Teddy. Semua anggota keluarga Hikmat tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Mereka telah mengikhlaskan kepergian Teddy, begitu pula dengan Rahma dan Anfa.
Semenjak Teddy tiada, Rahma lebih sering menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya. Tiap minggu dia berkeliling menginap di rumah anak-anaknya bergantian. Kesehatannya pun mulai menurun. Walau telah mengikhlaskan kepergian sang suami, namun tetap saja kehilangan belahan jiwanya memberikan dampak yang begitu besar padanya.
Rahma keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju halaman belakang. Dia mendudukkan diri di kursi goyang yang ada di sana. Keadaan rumah nampak sepi, Anfa sudah berangkat ke kantor, Rayi tengah menengok salah satu temannya yang sakit dan kedua anak mereka sudah pergi ke sekolah.
Rahma memandangi langit yang begitu cerah, semilir angin menerpa wajahnya. Udara di pagi ini terasa begitu sejuk. Tangannya kemudian bergerak mengambil ponsel dari saku bajunya. Diletakkan ponsel di atas meja yang ada di dekatnya setelah memilih sebuah lagu favoritnya. Alunan musik mulai terdengar. Mata Rahma terpejam menikmati suara indah sang penyanyi**.
Manakala hati, menggeliat mengusik kenangan. Mengulang kenangan, saat cinta menemui cinta. Suara sang malam dan siang seakan berlagu. Dapat aku dengar, rindumu memanggil namaku. Saat aku tak lagi di sisimu, kutunggu kau di keabadian. Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu. Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku. Sukmaku berteriak, menegaskan kucinta padamu. Terima kasih pada mahacinta, menyatukan kita. Saat aku tak lagi di sisimu, kutunggu kau di keabadian. Cinta kita melukiskan sejarah. Menggelarkan cerita penuh suka cita. Sehingga siapapun insan Tuhan, pasti tahu. Cinta kita sejati.
**☘️☘️☘️
Juna, Abi dan Sekar bergegas datang ke rumah bersama dengan keluarga mereka begitu mendengar Rahma menghubungi mereka, meminta untuk datang. Anfa segera meninggalkan rapat pentingnya ketika Rahma memintanya pulang. Begitu pula dengan Jojo dan Kevin. Dengan membawa semua keluarganya, mereka secepatnya datang ke kediaman Teddy.
Rahma tersenyum melihat semua anak dan cucunya telah berkumpul. Sang cucu duduk mengelilinginya yang tengah berbaring di atas kasur. Senyumnya terus mengembang, terlihat wanita itu begitu bahagia.
“Mama kenapa? Mama sakit? Mau aku panggilkan dokter?” tanya Juna cemas.
“Mama baik-baik aja. Mama cuma ingin berkumpul bersama kalian.”
“Ma...”
Abi menjatuhkan diri di sisi ranjang, tangannya meraih tangan Rahma yang sudah keriput kemudian mencium punggung tangannya. Dia merasa kalau sang mama seperti hendak mengucapkan selamat tinggal.
“Ada apa dengan kalian? Mama baik-baik aja.”
Rahma memandangi wajah anaknya satu per satu yang nampak cemas dan juga sedih. Kemudian dia melihat ke arah cucu-cucunya yang sudah sudah semakin membesar saja. Lalu pandangannya tertuju ke arah depannya. samar-samar dia melihat Teddy di sana. Pria itu tersenyum ke arahnya.
“Sepertinya waktu mama sudah tiba. Papa kalian sudah menjemput.”
Tangis yang sedari tadi ditahan akhirnya mulai pecah. Abi menundukkan kepalanya, punggungnya nampak bergetar ketika pria itu mulai menangis. Juna ikut bersimpuh di dekat Rahma, demikian juga dengan Anfa. Sekar hanya bisa menangis dalam pelukan suaminya.
“Terima kasih kalian semua sudah menjadi anak-anak mama. Mama bangga memiliki anak seperti kalian. Kalian sudah memberikan mama cucu yang baik. Terima kasih sudah menyempurnakan kehidupan mama. Pesan mama, tetaplah kalian saling menyayangi dan menjaga satu sama lain. Jangan kalian berselisih hanya karena harta. Harta bisa dicari, tapi persaudaraan dan kasih sayang jika sudah hilang, susah untuk dicari penggantinya. Cucu-cucu oma, kalian harus akur, hidup rukun dan saling menjaga. Ingatlah, di saat tersulit kalian, keluarga dan sahabat sejati akan selalu ada untuk mendukung.”
Tak ada kata-kata yang keluar dari semua orang yang ada di sana. Hanya anggukan kepala disertai airmata yang berlinang saja. Rahma kembali melihat ke arah depannya. sang suami masih setia menunggunya.
“Mama sayang kalian semua. Oma juga sayang kalian. Jangan lupa untuk terus mendoakan kami. Maafkan kalau mama dan oma pernah melakukan kesalahan. Mama pamit, papa kalian sudah menunggu.”
“Omaaaaa!!” terdengar teriakan para cucu.
“Mama..”
Sekar melepaskan diri dari pelukan Cakra kemudian menghambur ke arah Rahma. Jojo juga Adinda mendekat, mereka ingin berada dekat di sisi Rahma di saat terakhirnya.
“Juna... tolong bimbing mama.”
Dengan airmata berlinang, Juna mendekat. Di tengah isaknya, dia membimbing sang mama mengucapkan lafaz Allah di saat terakhirnya. Dengan suara pelan, Rahma mengikuti bimbingan sang anak. Dia tersenyum bahagia setelahnya, kemudian perlahan matanya menutup. Sayup-sayup terdengar teriakan dan tangisan semua orang memanggil dirinya saat ruh meninggalkan raga. Kesendiriannya kini telah berakhir, sang kekasih telah menjemputnya. Mereka akan kembali bersama di keabadian.
☘️☘️☘️
Harusnya bab ini up kemarin, tapi mamake kesulitan menyelesaikan part ini dan baru beres sehabis sahur tadi.
__ADS_1
No comment karena mamake juga lagi mellow🤧**