KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Tangisan Zahra


__ADS_3

“Zahra..”


Zahra menatap tak percaya pada pria di depannya. Dua kali berturut-turut di hari yang sama dia bertemu dengan papanya. Rupanya setelah dari restoran, Sandi membawa keluarganya berjalan-jalan di mall.


Kenan yang cerdas tentu sudah bisa menebak siapa lelaki di depannya yang tengah menatapnya dengan tajam. Kemiripan wajah pria itu dengan Zahra membuatnya mengambil kesimpulan kalau dia adalah ayah dari Zahra.


“Jadi karena dia kamu menolak Jay?” Sandi menunjuk ke arah Kenan. Pemuda yang memiliki julukan kompor mledug itu langsung melihat ke arah Zahra, namun gadisnya itu hanya bungkam saja.


“Kamu pacarnya Zahra?” tanya Risma pada Kenan.


“Iya, tante. Kenalkan, nama saya Kenan,” Kenan mengulurkan tangannya ke arah Risma namun tak ditanggapi oleh wanita itu, membuat Kenan menarik tangannya kembali.


Zahra yang kesal melihat sikap angkuh papa dan mama tirinya, segera menarik Kenan untuk pergi, namun dengan cepat Sandi menahan pergelangan tangan anak gadisnya itu, tapi segera ditepis oleh Zahra. Kenan semakin bertanya-tanya akan hubungan Zahra dengan ayahnya.


“Kamu belum jawab pertanyaan papa, Zahra. Apa karena dia, kamu menolak Jay?”


“Dengan atau tanpa Kenan, aku akan tetap menolak dia. Aku tidak yakin laki-laki yang diinginkan papa adalah laki-laki yang baik, karena papa sendiri tidak masuk kategori itu.”


“ZAHRA!!”


Teriakan Sandi yang kencang, cukup menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Risma segera mengingatkan suaminya agar tidak terbawa emosi. Begitu juga Kenan yang berusaha menenangkan Zahra yang terlihat begitu emosional.


“Mulai besok, kamu tinggal bersama papa. Didikan ibumu itu sudah membuatmu menjadi anak kurang ajar.”


“Papa yang sudah membuatku begini. Berhentilah menunjuk orang lain di saat telunjuk papa seharusnya menunjuk diri sendiri. Kenapa harus aku yang papa pilih untuk menikah dengan Jay? Kenapa tidak Dila? Suruh Jay menunggu beberapa tahun lagi lalu nikahkan anak kesayangan papa dengannya.”


“Kurang ajar!”


Tangan Sandi sudah terangkat namun Kenan buru-buru menahannya. Jika sedari tadi dirinya diam karena menghargai Sandi sebagai ayah kandung Zahra. Namun melihat pria itu hendak menyakiti kekasihnya, tentu saja dirinya tidak bisa tinggal diam.


“Sebagai orang tua, om harusnya tidak bersikap kasar, apalagi pada anak perempuan. Kalau om mau berbicara baik-baik dengan Zahra, saya akan mengantarkannya ke rumah om. Tapi tidak sekarang. Kami permisi, om.”


Kenan segera menggandeng tangan Zahra kemudian pergi dari hadapan Sandi. Niatnya ingin mengajak gadis itu menonton, batal sudah. Mood Zahra terlihat hancur. Kini tugasnya untuk mengembalikan senyum kekasihnya. Sepeninggal Zahra, Sandi menggeram kesal. Bagaimana pun caranya dia bertekad untuk menikahkan Zahra dengan Jay. Pria itu yang akan membantunya menapaki jenjang karir yang lebih tinggi di tempatnya bekerja sekarang.


Sementara itu Kenan mengajak Zahra keluar dari gedung mall lalu menuju mobilnya. Dia akan mengajak gadis itu ke suatu tempat untuk mengeluarkan semua beban yang menghimpitnya. Tak ada pembicaraan sama sekali di dalam mobil. Zahra menutup mulutnya rapat-rapat, berusaha menetralisir kesedihan dan meredam rasa malunya karena Kenan menyaksikan sendiri bagaimana buruknya hubungan dirinya dengan sang ayah.


Kenan terus melajukan kendaraannya menuju daerah Dago atas. Kemudian dia menghentikan mobilnya di tepi jalan yang cukup sepi. Dengan isyarat kepala, pemuda itu mengajak Zahra turun. Pemandangan kelap kelip lampu perkotaan langsung terlihat ketika Kenan mengajak Zahra ke tepian.


“Ngapain ngajak aku ke sini?”


“ZAHRA, I LOVE YOU!!!”


Teriak Kenan kencang yang tentu saja membuat gadis itu terkejut. Dia memukul lengan kekasihnya itu namun hanya dibalas kekehan saja.


“Tempat ini sepi, paling cuma semut, nyamuk, turaes sama toke mungkin yang denger teriakanku tadi, selain kamu. Jadi, ini tempat yang tepat buat kamu keluarin semua uneg-uneg kamu. Ayo coba.”


“Ngga mau.”


“Coba dulu biar perasaan kamu plong. Kalau ditahan, bahaya kalau keluar dari belakang, jadinya polusi udara nanti.”


Segurat senyum terbit di wajah cantik Zahra. Di tengah suasana mellow begini, sempat-sempatnya pemuda itu mengatakan hal yang memancing tawa. Mengikuti saran Kenan, Zahra maju beberapa langkah. Dua tangannya ditaruh di kedua sisi bibirnya.


“PAPA I HATE YOU!!! AKU BENCI PAPA!! KENAPA AKU HARUS MENJADI ANAKMU!! AKU LEBIH BAIK MATI!! AKU…”


Zahra tak meneruskan kalimatnya karena tak bisa menahan tangisnya lagi. Kenan mendekat kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Zahra semakin terisak dalam dekapan Kenan.


“Andai aku bisa… aku ingin menguras darah yang ada dalam tubuhku ini… aku tidak ingin memiliki darah yang sama dengannya. Aku membencinya, Nan..”


Pelukan Kenan semakin erat dengan bertambah kencangnya tangisan Zahra. Gadis itu seolah tengah mengeluarkan kesedihan dan rasa sesak yang selama ini ditahannya. Hati Kenan sakit melihat dan mendengar apa yang dikatakan kekasihnya itu. Entah apa yang terjadi di masa lalu mereka sampai Zahra begitu terpukul bahkan trauma akan perbuatan sang papa.


Setelah keadaan Zahra sedikit tenang, Kenan membawa gadis itu duduk di rerumputan sambil bersandar ke bodi mobil. Lengan pemuda itu merangkul bahu Zahra, membuat sang gadis menyandarkan kepala di bahunya. Buliran bening masih setia mengaliri wajah cantik Zahra.


“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan keluargamu. Bukannya aku ingin tahu, tapi kalau dengan bercerita bisa sedikit mengurangi bebanmu, aku akan menjadi pendengar yang baik.”


“Aku malu. Kehidupan keluargaku tidak seindah milikmu.”


“Kenapa harus malu? Cerita sedih dan tidak mengenakkan dalam hidupmu tidak lantas mengurangi keindahan dalam dirimu. Kalau aku tahu apa yang membuatmu terluka, aku akan berusaha untuk tidak mengulang luka di tempat yang sama. Kalau memungkinkan, aku akan menambal luka itu hingga tak berbekas.”


Hati Zahra menghangat mendengar penuturan pemuda itu. Dalam hatinya tahu, Kenan bukan hanya mengeluarkan gombalan semata tapi akan menunjukkannya dengan aksi nyata. Zahra menghapus airmatanya dan bersiap menceritakan kisah pilu keluarganya bertahun-tahun yang lalu.


“Saat mama mengandung Silva, mama merasakan sikap papa mulai berubah. Papa berubah dingin dan kasar, seperti tidak mempedulikan mama yang tengah mengandung anak kedua mereka. Sampai akhirnya saat usia kandungan mama mencapai tujuh bulan, mama memergoki papa sedang bercumbu dengan tante Risma di kamar hotel. Ada teman mama yang melaporkan perbuatan papa. Mama shock, apalagi saat itu papa malah berbalik marah dan menuding perselingkuhan terjadi karena mama yang tidak becus sebagai istri dan hanya mempermalukannya.


Mama yang hanya tamatan SMA dipandang rendah oleh papa dan dibandingkan dengan tante Risma yang berpendidikan tinggi dan bekerja di tempat yang sama dengan papa. Kata teman mama, mama didorong dengan kasar oleh papa sampai terjatuh dan mengalami pendarahan. Mama langsung dibawa ke rumah sakit dan Silva lahir prematur.”


Zahra mengakhiri ceritanya sejenak. Isaknya kembali terdengar, mengingat itu semuanya. Walau saat kejadian itu berlangsung, dirinya masih berumur tujuh tahun, tapi dia bisa mengingat semuanya dengan jelas. Setelah menarik nafas panjang, gadis itu melanjutkan ceritanya kembali.


“Setelah mama melahirkan Silva, papa langsung menceraikannya. Sekali pun papa tidak pernah memberikan nafkah untukku juga Silva. Mama berjuang sendirian membesarkan kami. Sampai saat Silva berumur tiga tahun, dia terkena DBD dan harus segera dirawat di rumah sakit. Mama berusaha mencari pinjaman uang ke sana kemari untuk membayar tagihan, tapi masih kurang karena Silva harus dirawat di ICU. Kondisinya saat itu sudah kritis. Akhirnya mama meminta bantuan papa.

__ADS_1


Papa bersedia membayar seluruh biaya perawatan tapi tidak gratis. Selama dua bulan mama disuruh menjadi pembantu tante Risma, saat itu tante Risma baru melahirkan anak keduanya.”


Kenan masih setia mendengarkan cerita Zahra tanpa ada niatan untuk menyela. Walau dalam hatinya kesal mendengar perlakuan Sandi pada Zahra dan adiknya, namun pemuda itu tetap berusaha menutup mulutnya untuk tidak mengeluarkan sumpah serapah.


“Setelah tahu apa yang papa lakukan pada mama, aku tidak pernah mau menginjakkan kakiku di rumah papa, walau dengan iming-iming uang atau apapun. Berbeda dengan Silva yang sejak lahir tidak pernah merasakan kasih sayang papa. Dia senang setiap papa menyuruhnya ke rumah. Padahal di sana Silva hanya dijadikan pelayan Dila dan Sisil saja. Bahkan dia tidak pernah diajak makan bersama di meja makan.


Setiap pulang dia selalu membawa barang-barang bekas Dila. Aku melarang Silva untuk datang ke rumah papa lagi, tapi dia bilang tidak apa-apa, yang penting bisa bertemu papa. Hatiku bertambah sakit, Nan. Aku.. benar-benar membencinya. Silva juga anaknya tapi kenapa papa memperlakukannya seperti pengemis.”


Tangis Zahra kembali pecah. Apa yang dilakukan sang papa sukses membuatnya membenci dan tidak mempercayai laki-laki. Namun itu semua runtuh ketika Kenan datang membawa cinta yang tulus untuknya. Dia berharap Kenan bisa memberikan kebahagiaan yang telah terenggut oleh sikap egois papanya.


“Aku tidak akan menjanjikan apa-apa untukmu, Za. Tapi aku akan berusaha untuk membahagiakanmu dan membuatmu tersenyum. Bukan cuma dirimu, tapi juga mama dan Silva. Mulai saat ini, mamamu adalah mamaku dan adikmu adalah adikku. Begitu juga dengan semua keluargaku, akan menjadi keluargamu.”


“Apa kamu ngga menyesal mendapatkanku yang penuh dengan kekurangan?” Zahra menatap Kenan dengan mata basah.


“Justru aku akan menyesal kalau tidak bisa menjadikanmu sebagai milikku. Aku akan menyelesaikan kuliah secepat mungkin, bekerja dan melamarmu. Aku akan tunjukkan pada papamu, kalau kalian tidak membutuhkan apapun lagi darinya. Dan Silva tidak perlu mengemis kasih sayang lagi darinya, karena papaku akan memberikan kasih sayang yang lebih besar untuk Silva dan juga kamu.”


Zahra memeluk pinggang Kenan dan membenamkan wajah ke dadanya. Airmata kembali mengalir di wajahnya, namun kali ini airmata kebahagiaan yang keluar. Mendengar ucapan Kenan yang hangat, bukan ucapan bualan semata karena dia sudah merasakan bagaimana Kenzie melindunginya tadi walau dirinya belum sepenuhnya masuk menjadi anggota keluarga mereka.


Malam mulai merayap naik. Kenan mengajak Zahra untuk pulang. Dia yakin perasaan gadis itu sudah sedikit lega dan kondisinya sudah sedikit tenang. Dia juga tadi meyakinkan Zahra kalau tidak akan membiarkan Jay mendekatinya.


Setelah memarkirkan kendaraannya, Kenan mengantarkan Zahra sampai ke depan pintu rumah. Mendengar suara salam diiringi suara ketukan, Nita membukakan pintu. Sejenak dia terpaku melihat Zahra pulang dengan diantar seorang pemuda. Dia sudah mendengar cerita Kenan dari Silva, namun baru kali ini bertemu langsung dengan pemuda itu. Tapi yang membuatnya bingung saat melihat mata sang anak yang sembab.


“Malam tante,” Kenan meraih tangan Nita lalu mencium punggung tangannya dan lamunan Nita buyar seketika.


“Maaf tante, tadi aku ajak Zahra jalan-jalan dulu.”


“Iya, ngga apa-apa. Tapi.. kamu kenapa, Ra?”


“Aku ngga apa-apa, ma.”


Zahra bergegas masuk kemudian menuju kamarnya sebelum sang mama mengajukan berbagai pertanyaan. Silva yang baru selesai mencuci piring, menghampiri Nita dan Kenan. Wajah gadis belia itu tersenyum saat melihat Kenan.


“Kak Kenan ya,” sapa Silva.


“Iya. Eh hampir lupa, ini buat tante dan Silva,” Kenan menyerahkan dua plastik berlogo salah satu departemen store terkenal di Indonesia yang langsung disambut oleh Silva.


“Apa ini kak?”


“Hadiah buat kamu. Kata kak Zahra, nilai ulangan kamu hasilnya bagus.”


“Wah, makasih ya, kak.”


“Dalam rangka apa ya?” Nita cukup terkejut mendengarnya.


“Perkenalan aja tante. Besok jam setengah tujuh saya jemput. Saya permisi pulang tante, daah Silva,” Kenan mencium punggung tangan Nita kemudian mengusak puncak kepala Silva. Setelah mengucapkan salam pemuda itu meninggalkan kedaiaman Zahra.


Silva mendudukkan diri di kursi seraya membuka bungkusan yang diberikan Kenan. Sedang Nita masih terpaku di tempatnya, menatap punggung Kenan yang mulai menjauh. Wanita itu kagum, di zaman seperti ini masih ada anak muda yang berlaku sopan pada orang tua. Nita kemudian menutup pintu dan mendekati Silva yang kegirangan mendapatkan banyak hadiah bagus.


☘️☘️☘️


“Mas..” panggil Nina saat suaminya itu baru saja masuk ke dalam kamar. Abi mendekati ranjang kemudian naik ke atasnya. Dia duduk dengan bersandar pada headboard. Nina menegakkan tubuhnya kemudian menyandarkan kepala ke dada suaminya.


“Besok beneran Nan mulai magang?”


“Iya.”


“Jangan keras-keras sama Nan. Dia masih muda, belum waktunya dia diberi tanggung jawab. Lagian masih ada Ken sama Fathan yang bantu mas di kantor.”


“Nan harus mulai belajar bertanggung jawab. Apalagi sekarang dia udah punya calon. Nan harus membuktikan dirinya pada orang tua Zahra, terutama bapaknya, kalau dia layak menjadi suami Zahra. Bukan karena latar belakangnya sebagai keluarga Hikmat tapi karena kemampuan dan kepribadiannya.”


Nina memicingkan matanya melihat ke arah sang suami. Dari isi pembicaraannya, Nina yakin kalau Abi telah mengetahui latar belakang Zahra. Suaminya ini adalah orang yang sangat berhati-hati, pasti dia telah menyelidiki dulu latar belakang Zahra.


“Mas udah tahu ya soal Zahra?” terka Nina.


“Iya. Mas kan harus tahu siapa yang dipilih sama Nan. Kalau Nara dan Ravin, kita sudah kenal sejak kecil. Apalagi dengan orang tuanya, tapi Zahra, dia di luar lingkaran kita. Bukannya tidak boleh, tapi hanya berjaga-jaga saja. Alhamdulillah, Zahra itu memang anak yang baik, pekerja keras juga. Sayangnya dia memiliki ayah yang brengsek.”


“Emangnya kenapa mas?” Nina mulai penasaran.


“Kepo.”


Abi mencium sekelas bibir Nina kemudian membaringkan dirinya. Berpura-pura tak mengerti dengan rasa penasaran sang istri. Nina ikut berbaring kemudian memeluk tubuh suaminya.


“Cerita dong mas,” bujuk Nina.


“Wani piro?”


“Mas mau apa? Bukit kembar atau apem?” Nina terkikik geli. Ucapannya barusan sudah seperti wanita bayaran yang menjajakan dagangannya.

__ADS_1


“Dua-duanya dong.”


“Boleh, tapi cerita dulu.”


“DP dulu satu ronde. Nanti mas cerita terus tambah satu ronde lagi.”


“Ish udah tua masih aja modus. Inget umur mas, mau main dua ronde kaya yang kuat aja. Ngga takut encok apa?”


“Kamu perlu bukti kalau suamimu masih perkasa hmm..”


Abi mel*mat bibir Nina dengan rakus. Tangannya langsung bergerilya di tubuh istrinya itu. Dalam waktu cepat pria itu sudah berhasil membuat istrinya on fire. Nina hanya pasrah saat Abi menagih DP dengan memulai permainan yang sangat disukainya.


☘️☘️☘️


Kenan nampak termenung di halaman belakang sehabis berolahraga pagi. Abi juga yang baru selesai mengolah tubuh segera menghampiri anaknya itu. Nina yang berada di dapur segera menghampiri kedua pria yang begitu dicintainya sambil membawa nampan berisi susu dan potongan buah.


Nina menaruh nampan di depan kedua pria itu lalu mendudukkan diri di samping suaminya. Dipandanginya dua sosok lelaki di dekatnya. Keduanya terlihat tampan dalam balutan kaos tanpa lengan dan celana jogger. Lelehan keringat di wajah mereka semakin menambah ketampanan dua pria kesayangannya. Kenan seperti gambaran Abi di masa muda dulu. Dan Abi gambaran Kenan di saat tua nanti.


“Kamu kenapa pagi-pagi udah bengong? Mikirin hari pertama kerja?” tegur Abi setelah menghabiskan susunya.


“Bukan, pa. Kemarin aku ketemu sama papanya Zahra.”


“Terus?”


“Aku baru tahu kalau Zahra benci banget sama papanya. Dia juga cerita soal masa lalu orang tuanya. Sumpah gedeg banget aku, pa. Kalau dia bukan bapaknya Zahra, udah aku hajar kali tuh orang.”


“Emangnya kenapa?”


Rasa penasaran Nina kembali terbit. Walau semalam Abi sudah menceritakan tentang ayah Zahra yang selingkuh, tapi dia yakin ada cerita lain yang belum mereka ketahui. Pasti ada alasan kenapa Zahra begitu membenci papanya.


Kenan menceritakan apa yang kemarin diceritakan oleh Zahra padanya. Abi hanya diam saja, tak berkomentar apapun, berbeda dengan Nina yang tampak berang. Beberapa kali terdengar cerocosan wanita itu mengutuk perbuatan Sandi dan Risma.


“Keterlaluan emang tuh orang. Kalau dia bersikap seperti itu pada mantan istrinya, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi Silva itu anaknya, ngga ada yang namanya mantan anak. Apalagi anak itu ngga pernah mengenal dan mendapatkan kasih sayang bapaknya sejak lahir,” ceorocos Nina kesal.


“Emang ngeselin kan, ma? Wajar aja sih kalau Zahra sampai benci sama dia. Terus sekarang dia mau jodohin Zahra sama siapa tuh namanya.. ehmm.. Jay.. iya, Jay. Dasar bapak ngga ada akhlak. Ngurus ngga, udah gede main jodohin aja,” kesal Kenan.


“Jay… sebentar, kayanya papa ngga asing dengan nama itu. Hmm.. apa yang dimaksud itu Sanjaya anaknya pak Toni, supplier di hotel Arjuna.”


“Iya, kali,” jawab Kenan.


“Pak Toni itu supplier Horeca (Hotel, Restoran, Café) besar di Bandung. Dia punya perkebunan di Lembang. Dia juga punya banyak koneksi pejabat pemerintahan dan petinggi bank pemerintah dan swasta. Sanjaya sudah mulai terlibat dengan urusan pekerjaan sejak dua tahun lalu. Dia juga yang bertugas melobi calon klien.”


“Terus? Anak kita juga ngga kalah hebatnya. Kenan punya banyak nilai lebih dan yang terpenting, kamu itu anaknya Satria Abimanyu Hikmat. Tunjukkan pada papanya Zahra kalau kamu lebih hebat dan pantas daripada Jay..” Nina memberikan dorongan semangat pada anaknya.


“Makanya kamu harus mulai belajar dari sekarang. Belajar mengenal lingkungan kerja di mana kamu nanti akan memikul tanggung jawab yang sama besar seperti abangmu. Tunjukkan kualitas dirimu bukan sebagai anak Abimanyu Hikmat tapi sebagai Kenan Mahendra. Tunjukkan pada Zahra, kalau tidak semua pria brengsek seperti papanya. Tunjukkan kamu bisa membuatnya bahagia dan tidak membagi hati pada perempuan lain.”


“Iya, pa.”


Kenan memandang haru pada kedua orang tuanya. Semangatnya bertambah berkali-kali lipat dengan dukungan mereka. Dia tidak akan membiarkan Jay mengambil Zahra darinya. Pria itu bertekad menghadapi ayah Zahra dan juga Jay tanpa memakai embel-embel Hikmat di belakang namanya.


“Oh iya, untuk makan malam nanti, aku juga ngundang mama sama Silva, adiknya Zahra. Mama sama papa ngga keberatan kan?”


“Bagus kalau begitu. Sayang, telepon Ken dan Nara untuk datang bergabung nanti malam. Frey dan Ravin sudah pulang bulan madu?” ujar Abi.


“Sudah, mas.”


“Telepon mereka juga untuk datang.”


“Freya bilang emang mau ke sini sore nanti sama Ravin.”


“Baguslah.”


“Langsung lamaran juga boleh, pa,” Kenan menaik turunkan alisnya.


“Kerja dulu yang bener.”


Abi menepak kepala anak bungsunya ini, kemudian beranjak dari duduknya. Dia harus bersiap untuk berangkat ke kantor. Begitu juga dengan Kenan, ini adalah hari pertamanya magang. Dia mengangkat tubuhnya seraya mencium pipi Nina kemudian melesat menuju kamarnya.


☘️☘️☘️


**Yang nunggu kisah Barra-Hanna, Irvin-Anya, sabar yaa.. kita selami dulu kisah Nan dan Zahra😉


Papa Abi yang modusnya ngga lekang dimakan zaman**



Nan, penerus gen papa Abi yang juga jago modus.

__ADS_1



__ADS_2