KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Kekasih Masa Lalu


__ADS_3

Tiga tahun lalu


Dengan langkah panjang Ezra menghampiri Hanum yang tengah menunggunya di café. Kekasihnya itu mendadak ingin bertemu dengannya. Sesampainya di meja yang ditempati Hanum, Ezra menarik kursi di depan kekasihnya itu. Sejenak Ezra tertegun melihat wajah kekasihnya yang nampak murung.


“Maaf, lama nunggunya?”


“Ngga, kok.”


“Kok belum pesan makanan? Kamu mau makan apa?”


“Nunggu kamu.”


Ezra melambaikan tangannya pada salah seorang pelayan kemudian memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu makanan siap, keduanya berbincang santai. Beberapa kali Hanum tersenyum mendengar gombalan atau humor receh Ezra, lelaki yang sudah dipacarinya sejak tiga tahun lalu.


“Habis ini kita nonton yuk,” ajak Hanum.


“Boleh. Kamu mau nonton apa?”


“Ehmm… aku mau nonton film Korea yang baru. Genrenya drama, mau ngga?”


“Terserah kamu aja.”


Seorang pelayan datang mengantarkan pesanan. Keduanya pun mulai menikmati hidangan yang tersaji. Selama makan Hanum terus menggenggam tangan Ezra, membuat pria itu sedikit heran dengan tingkah kekasihnya. Namun dia berusaha menampik kecurigaan yang tak berdasar.


Usai makan, mereka meneruskan rencana untuk menonton. Ezra melajukan kendaraannya menuju Andhara mall. Hanum langsung menuju penjual tiket setibanya di lobi bioskop. Gadis itu memilih kursi di bagian pojok atas. Sebelum masuk ke dalam studio, Ezra membeli dulu minuman dan popcorn sebagai teman nonton.


Lampu studio padam begitu pertunjukkan akan dimulai. Mata Hanum menatap lurus ke depan, menikmati jalan cerita film yang sangat ingin ditontonnya. Ezra yang tidak terlalu menyukai film genre seperti ini sebisa mungkin menguatkan mata, saat kantuk mulai menghantamnya.


Mata Ezra terbuka ketika mendengar suara isak di sebelahnya. Pria itu memang sempat tidur beberapa saat, sebelum akhirnya terbangun karena mendengar tangis Hanum. Ezra memandangi kekasihnya yang terus menghapus airmata di wajahnya, sebisa mungkin dia menahan tawa yang hendak meledak.


“Kamu kenapa?” tanya Ezra.


“Sedih, Ez.”


“Udah tahu film sedih, kenapa ditonton. Udah jangan nangis, nanti disangka orang kamu tuh nangis gara-gara aku.”


Bukannya berhenti, tapi airmata Hanum semakin deras bercucuran. Tak tega melihat sang kekasih yang sepertinya begitu terhanyut akan jalan cerita film, pria itu menarik Hanum ke dalam pelukannya. Tangan Hanum mencengkeram erat kaos Ezra, berada dalam pelukan pria itu, nyatanya semakin membuat dirinya tak bisa menahan tangis. Airmata yang keluar bukan karena adegan film yang ditonton, namun karena menahan perasaan sedih yang menderanya.


Sampai pertunjukkan berakhir, Hanum masih saja menangis. Ezra sampai kebingungan sendiri melihat kekasihnya itu. Mata Hanum nampak sembab, dan wajahnya sedikit bengkak karena tak berhenti menangis. Ezra segera mengajak gadis itu keluar dari studio. Sambil menundukkan kepalanya, Hanum mengikuti langkah sang kekasih.


“Kamu kenapa, Han? Ngga biasanya kamu seperti ini. Apa ada masalah?” tanya Ezra ketika mereka berada di dalam mobil. Akhirnya pria itu tak bisa menahan rasa penasarannya lagi, melihat tingkah kekasihnya yang aneh.


“Ez.. aku.. sakit.”


“Sakit? Sakit apa? Kenapa ngga bilang? Mau aku antar ke dokter?”


Kepala Hanum menggeleng pelan. Mata gadis itu kembali memanas, dan buliran air kembali mengaliri wajah cantiknya.


“Aku.. terkena kanker hati.”


Ada keterkejutan di wajah Ezra mendengar penuturan Hanum. Kanker adalah penyakit yang ditakuti orang banyak. Walau dunia medis sudah semakin maju, namun tetap saja masih sulit untuk mengobati penyakit ini secara permanen. Dan yang lebih parahnya, baru mendengar nama penyakitnya, sudah menjadi pukulan mental bagi penderitanya.


“Apa kamu yakin?”


“Ehm.. papa dan mama sudah membawaku ke tiga dokter berbeda dan hasilnya tetap sama.”


“Kapan kamu tahu soal ini?”


“Dua bulan lalu.”


“Sudah dua bulan berjalan, tapi kamu baru mengatakannya sekarang?” nada Ezra terdengar kesal.


“Maafkan aku..”


Ezra menyandarkan kepala ke sandaran jok. Rasa sedih, marah dan kesal berbaur menjadi satu. Sebagai salah satu orang terdekat, Hanum justru harus menunggu sampai dua bulan untuk mengatakan ini semua. Melihat Hanum yang kembali menangis, membuat kemarahan dan kekesalan Ezra luntur. Pria itu merubah posisi duduknya menghadap Hanum.


“Jangan bersedih, maaf kalau aku sedikit emosi. In Syaa Allah, setiap penyakit ada obatnya. Kamu jangan putus asa. Kankermu baru masuk stadium dua, masih banyak kesempatan untuk sembuh,” Ezra menggenggam tangan Hanum.


“Papa mengajakku berobat ke Jerman.”


“Itu usulan yang bagus.”


“Tapi itu artinya kita harus berpisah.”


“Kita hanya berpisah jarak. Kita masih bisa saling menghubungi. Kalau aku senggang, aku bisa mengunjungimu di sana,” Ezra membelai rambut Hanum dengan lembut.


Dengan gerakan pelan Hanum menjauhkan tangan Ezra dari kepalanya. Matanya kemudian menatap lekat netra hazel milik pria yang sudah tiga tahun ini menyandang status sebagai kekasihnya.


“Ez.. aku mau kita putus.”


“Apa maksudmu?”


“Kamu tahu kalau aku tidak bisa menjalin hubungan jarak jauh. Terlebih dengan kondisiku yang sekarang. Kita tidak tahu apa yang terjadi di depan sana nantinya. Aku tidak mau memberimu harapan palsu atau membuatmu menunggu sia-sia. Lebih baik kita akhiri saja semuanya, supaya aku bisa menjalani pengobatan dengan tenang dan kamu bisa tetap menjalani hidup seperti biasanya.”


Ezra memandang tak percaya setelah mendengar rangkaian kalimat demi kalimat yang dilontarkan gadis itu. Diraihnya kembali jemari Hanum dan digenggamnya erat. Dengan bahasa tubuhnya, pria itu ingin meyakinkan kalau rasa cintanya tak sedangkal yang dipikirkan oleh sang kekasih.

__ADS_1


“Aku tahu, pasti pikiranmu sedang kalut sekarang. Wajar kalau kamu merasa takut, tapi perpisahan bukanlah jalan keluarnya. Bagaimana aku bisa berlalu begitu saja di saat kamu sedang berjuang untuk hidup. Aku ingin ada di sampingmu, aku ingin menjadi kekuatan untukmu.”


Sejenak Hanum terdiam, namun tak lama terlihat gelengan kepalanya. Gadis itu terlalu takut akan sesuatu di depannya. Harus dirinya akui, jika dia terlalu pengecut untuk menghadapi semuanya, termasuk takut menghadapi bagaimana reaksi Ezra nanti jika kondisi fisiknya berubah akibat pengobatan yang dijalaninya.


“Aku sayang kamu, Ez. Dan aku ngga mau membuatmu terjebak denganku. Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini. Aku membebaskanmu, jika suatu saat nanti kamu berpaling ke hati lain. Mulai saat ini, lebih baik jalani hidup kita masing-masing.”


“Han.. kenapa kamu seperti ini?”


“Aku melakukan ini demi kebaikanmu.”


“Kebaikanku? Kamu hanya terjebak dalam ketakutan yang belum pasti.”


“Iya.. mungkin aku seperti itu. Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana hidupku ke depannya. Aku ngga sanggup membayangkan dirimu berpaling. Makanya lebih baik akhiri semua dengan baik. Jika pengobatanku berhasil dan Tuhan menginginkan kita berjodoh, pasti akan ada jalan untuk kita bersama lagi.”


“Kamu yakin?”


Dengan mantap Hanum menganggukkan kepalanya. Walau sakit, namun dia harus mengambil keputusan ini. Memilih berpisah dan menyerahkan hubungan mereka pada takdir.


“Han.. kalau kamu menginginkanku menunggu, maka aku akan menunggu. Tapi kalau kamu memang ingin berpisah, maka tidak ada jaminan aku akan menunggumu. Sekali lagi aku tanya, apa kamu yakin?”


“Ya, aku yakin.”


Mendengar jawaban Hanum, Ezra segera memakai sabuk pengamannya. Hatinya diliputi kekecewaan yang mendalam. Pria itu menyalakan mesin dan menjalankan kendaraannya itu meninggalkan area mall Andhara. Hanya kebisuan yang meliputi keduanya sepanjang perjalanan pulang.


☘️☘️☘️


Satu tahun berlalu setelah kepergian Hanum. Lain di bibir, lain di hati, nyatanya Ezra masih belum bisa membuka hati untuk wanita lain. Diam-diam dia mencari tahu tentang pengobatan gadis itu dan menunggunya kembali.


Hanya para sahabatnya yang tahu bagaimana hancurnya perasaan Ezra saat Hanum menutup semua akses tentang dirinya. Lewat papanya, gadis itu meminta pada Juna untuk menutup semua informasi dirinya dari Ezra.


Walau kecewa, namun Ezra tetap berusaha menerimanya dengan baik. Semua rasa sakit yang dirasakan ditutupi dengan sikap tenangnya. Pria itu tetap berusaha menjalani hidup dan berusaha untuk membuka hati kembali. Hingga suatu saat, ada makhluk cantik yang berhasil membuatnya tertarik. Seorang gadis manis yang sudah sejak kecil dikenalnya, namun baru kini berhasil menarik perhatiannya.


Suatu sore, saat Ezra tengah dalam perjalanan pulang, matanya menangkap sosok gadis yang dikenalnya tengah berjalan di bawah gerimis hujan. Pria itu menepikan kendaraannya, lalu membuka kaca jendela mobilnya.


“Dila..” panggilnya. Gadis yang ternyata adalah Dilara tak mendengar panggilannya. Dia terus saja berjalan. Akhirnya Ezra memutuskan untuk turun lalu mengejarnya. Ditahannya tangan Dilara, hingga membuat sang empu menoleh padanya.


“Kak Ezra.”


“Dila.. kamu kenapa?”


“Kak Ezra.. hiks.. hiks…”


Ezra terjengit ketika tiba-tiba gadis itu memeluknya. Dilara menangis tersedu seraya memeluk pinggang Ezra. Untuk sesaat pria itu hanya tergugu, tak tahu harus melakukan apa. Namun sejurus kemudian, dia membalas pelukan Dilara.


“Kenapa?” tanyanya dengan suara lembut.


“Dijambret di mana?”


Ezra mengurai pelukannya kemudian memegang kedua bahu gadis itu. Matanya menatap lekat pada netra Dilara yang masih mengeluarkan buliran bening.


“Kamu dijambret di mana?” ulang Ezra.


“Tadi pas pulang kuliah, aku ikut mobil teman. Tapi dia malah nurunin aku di jalan yang sepi, katanya harus ke tempat lain dulu. Ngga lama dia pergi, aku dijambret, hiks.. hiks..”


Merasakan hujan semakin deras, Ezra segera mengajak Dilara naik ke mobil. Dia menyodorkan tisu untuk mengeringkan wajah gadis itu yang terkena titik-titik air hujan. Masih terus menangis, Dilara mengeringkan wajahnya.


SRING!


Dilara mengeluarkan cairan dari hidungnya, kemudian menggosoknya pelan. Diambilnya kembali tisu dan melakukan hal yang sama lagi. Usai itu, gadis tersebut kembali menangis seraya tangannya memasukkan tisu bekas ke tempat sampah kecil yang ada di bawah dashboard. Ezra berusaha menahan tawa melihat tingkah gadis di sampingnya.


“Udah jangan nangis lagi. Nanti kakak akan cari tahu siapa yang udah jambret tasmu.”


“Ngga usah, kak. Isi tas yang dijambret cuma dompet aja. Lagian dompet yang hilang ngga ada isinya.”


“Maksudnya?”


“Tadi pas berangkat kuliah aku buru-buru, jadi salah ambil dompet. HP juga ketinggalan.”


“Terus kenapa kamu nangis kaya gini?”


“Aku laper kak, huaaaa…”


“Hahahaha…”


Ezra tak bisa menahan tawanya kali ini. Ternyata yang membuat Dilara menangis sesenggukan bukan karena kehilangan barang berharga, tapi karena lapar yang melanda. Pria itu segera menjalankan kendaraannya.


“Kakak…”


“Apa?”


“Laper..”


“Iya.. iya.. kita mampir beli makanan dulu. Kamu mau makan apa?”


“Ke fast food aja. Tapi drive thru aja biar cepet.”

__ADS_1


“Ok..”


Ezra menambah laju kecepatan mobilnya karena tak ingin membuat gadis di sampingnya pingsan karena kelaparan. Mobilnya kemudian berbelok memasuki area salah satu fast food terkenal di Indonesia. Dia mengarahkan kendaraan menuju lokasi drive thru. Kaca jendela mobilnya terbuka bertepatan ketika pria itu menghentikan lajunya.


“Selamat sore,” sapa sang pelayan.


“Sore.. mbak.. saya pesen cheese burger satu, French fries ukuran jumbo satu, pie apple satu sama Fanta,” ujar Dilara.


“Ada lagi?”


“Kak Ezra mau ngga?”


“Cheese burger aja, minumnya samain.”


“Cheese burgernya dua ya, mba.. minumnya juga dua.”


Pelayan itu mengangguk, kemudian mengulangi pesanan Dilara. Ezra mengambil dompetnya lalu mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya pada Dilara. Setelah menunggu beberapa menit, pesanan siap dan kendaraan yang mereka tumpangi kembali melaju.


Ezra menghentikan mobilnya di dekat sebuah taman. Dia sengaja berhenti demi bisa menikmati makanan yang tadi dibelinya. Mengingat hujan masih mengguyur, keduanya memutuskan makan di dalam mobil saja.


Sambil mengunyah makanannya, Ezra memperhatikan Dilara yang tengah menyantap makanannya. Dimulai dengan cheese burger yang disantap bergantian dengan kentang goreng, sesekali pula gadis itu menyeruput minumannya. Setelah habis, giliran apple pie yang masuk ke perutnya.


“Kamu kayanya laper berat ya? Ngga nyangka badan kecil gitu tapi makannya banyak,” ujar Ezra sambil tertawa kecil.


“Laper kak. Hari ini kuliah padat. Aku nyari-nyari Anya, Al sama komplotan dedemit tapi ngga nemu. Mau telepon, hp ngga ada, pinjem hp temen percuma karena aku ngga hafal nomer mereka. Mau ngutang ke temen malu.”


“Hahahaha…”


“Kakak mah malah ngetawain.”


“Habisnya kamu lucu banget sih.”


Gemas melihat Dilara, membuat Ezra mengusak pelan puncak rambut itu. Dada Ezra berdesir saat telapak tangannya bersentuhan dengan kepala gadis itu. Di sisi lain, Dilara pun merasakan hal yang sama. Dia menundukkan kepalanya demi menyembunyikan semburat merah di wajahnya.


Sejak saat itu, kedekatan Ezra dan Dilara mulai terjalin. Pelan namun pasti, Ezra sudah bisa mengikis perasaan sakit dan kecewanya pada Hanum. Hari-harinya kembali ceria sejak kehadiran Dilara dalam hidupnya. Hingga akhirnya dirinya mantap untuk menjalin hubungan dengan Dilara.


☘️☘️☘️


Masa kini


TOK


TOK


TOK


Terdengar suara ketukan dan tak lama disusul dengan terbukanya pintu berwarna coklat tersebut. Seorang gadis dengan potongan rambut lurus sebahu masuk ke dalam ruangan Ezra.


“Ez..”


Ezra mengangkat kepalanya dan cukup terkejut melihat kedatangan Hanum. Untuk beberapa saat pria itu terdiam, hingga akhirnya dia tersadar lalu bangun dari duduknya. Dihampirinya Hanum yang berdiri di dekat meja kerjanya. Tiga tahun berlalu, tidak banyak perubahan yang terjadi pada gadis yang pernah menjadi kekasihnya itu.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Ezra.


“Seperti yang kamu lihat.”


“Pengobatanmu berhasil?”


“Alhamdulillah..”


Hanum memamerkan senyuman manisnya, senyum yang senantiasa menghangatkan hati Ezra dulu. Pria itu lalu mempersilahkan Hanum untuk duduk di sofa. Hanum memperhatikan ruang kerja yang ditempati Ezra.


“Kamu sudah ditarik ke kantor utama ternyata,” Hanum membuka pembicaraan.


“Hmm.. ayah memintaku secepatnya bergabung.”


“Lalu hotel Arjuna?”


“Ravin yang mengurusnya.”


Hanum hanya menganggukkan kepalanya. Sambil melihat berkeliling, matanya mencuri pandang ke arah Ezra. Mantan kekasihnya itu bertambah dewasa dan terlihat semakin tampan. Pandangannya kemudian beralih pada jari manis Ezra yang tidak terpasang cincin. Dalam hatinya lega mengetahui sang mantan masih belum melepas status lajangnya.


“Aku dengar Ravin sudah menikah.”


“Iya, dia menikah dengan Freya.”


“Akhirnya dia bisa mendapatkan Freya juga.”


“Hmm.. dengan penuh perjuangan pastinya,” kekeh Ezra.


“Lalu dirimu? Apa kamu sudah memiliki pasangan?”


☘️☘️☘️


**Hayo.. Kamu bakalan jawab apa Ez?

__ADS_1


Kalau tidak ada halangan, harusnya bab ini nongol Jumat malam. Semoga saja ya🤲**


__ADS_2