KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Bonchap (Happily Ever After)


__ADS_3

Tak terasa dua tahun berlalu setelah pernikahan Revan dan Silva. Enam bulan setelah pernikahan Revan, Radix dan Gurit menikahkan anak bungsu mereka secara berturut. Kini semua anak keluarga Hikmat beserta para sahabat sudah memiliki pasangan masing-masing. Dan tentu saja semakin menambah anggota keluarga besar tersebut.


Para orang tua sudah resmi pensiun dari urusan kantor dan menyerahkan semua pada generasi muda. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, bermain bersama para cucu. Tak jarang mereka sering berkumpul, bernostalgia sambil mengasuh cucu-cucu mereka. Masa tua benar-benar dihabiskan dengan bersantai seraya mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat kelak.


Pagi ini di kediaman Kenzie, semua anggota keluarga sedang bersiap untuk pergi ke rumah Abi. Seperti biasa, di akhir bulan, semua selalu meyempatkan waktu untuk berkumpul bersama. Dan kali ini kediaman Abi yang menjadi tempat kumpul.


Nara masih menyiapkan makanan di dapur. Agar tidak memberatkan sang tuan rumah, dia berinisiatif untuk membawa makanan. Bukan hanya Nara, tapi yang lainnya pun seperti itu. Kenzie yang sudah siap, duduk menunggu di ruang tengah bersama dengan anak bungsunya.


Arsy yang telah siap ikut menyusul duduk di dekat sang ayah. Tangannya meraih remote televisi dan menyalakan layar datar di depannya. Gadis kecil itu mencari-cari siaran yang menampilkan acara film anak-anak. Saat ini Arsy dan Izar sudah menginjak usia 8 tahun, sedang adiknya Azzam berusia empat tahun.


Dari wajah, Arsy lebih banyak mewarisi kecantikan ibunya, hanya saja untuk sifat lebih cenderung pada Kenzie. Berbeda dengan Izar yang wajahnya berpaduan Kenzie dan Nara, sifatnya lebih menurun pada Nara. Sedang anak ketiga mereka, Azzam, baik wajah maupun sikap sama persis dengan Kenzie.


Izar yang juga telah siap ikut bergabung bersama adik dan ayahnya. Sekilas dia melirik pada saudara kembarnya yang nampak serius menonton televisi. Arsy anak pendiam, sedang Izar tak pernah bisa menahan diri untuk berbicara. Ada saja celotehan yang keluar dari mulutnya.


“Pa.. kemarin Arsy bikin teman sekelasnya nangis,” ujar Izar.


“Benar Arsy?” tanya Kenzie seraya melihat pada putrinya.


“Abisnya dia nyebelin, pa. Tiap hari kerjanya ngomelin teman-teman sekelas, mentang-mentang dia ketua kelas terus bisa seenaknya. Ya udah aku semprot balik, eh nangis, cemen.”


“Menegur kan bisa dengan cara halus, sayang. Kamu itu perempuan, bersikap lemah lembut, dong,” ujar Nara yang tiba-tiba masuk ke ruang tengah.


“Aku negurnya halus kok, ma,” bantah Arsy.


“Halus apaan. Gini nih ma.”


Izar berdiri dari duduknya, anak itu hendak melakukan reka adegan apa yang dilakukan adik kembarnya kemarin di sekolah. Izar dan Arsy memang menempuh pendidikan di sekolah yang sama dan berada dalam satu kelas yang sama pula.


“Eh jenong.. bisa mingkem ngga? Berisik tahu, kita dikasih tau sekali juga udah ngerti kok, ngga usah diulang-ulang kaya radio rusak. Arsy ngomong kaya gitu ma, sambil tolak pinggang dan muka tanpa ekspresi. Ya langsung nangis lah Tamara.”


“Kamu ngga boleh begitu, Arsy. Namanya Tamara kenapa kamu panggil jenong?”


“Kan jidatnya jenong,” jawab Arsy santai. Anak itu kembali mengarahkan pandangannya ke layar televisi.


Nara hanya menggelengkan kepalanya, sikap Arsy semakin lama semakin mirip dengan suaminya. Nara melihat jam di dinding, sudah waktunya mereka menuju kediaman Abi. Wanita itu mengambil Azzam dari pangkuan Kenzie kemudian membawanya ke kamar untuk digantikan baju.


“Arsy.. lain kali ngga boleh begitu ya, nak,” nasehat Kenzie sepeninggal sang istri.


“Iya, pa.”


Kenzie mengusak pelan puncak kepala Arsy lalu beranjak dari tempatnya. Pria itu bermaksud menyusul Nara ke kamar Azzam. Ketika memasuki kamar, dilihatnya Nara baru saja selesai memakaikan baju anak bungsunya. Kenzie berjongkok di hadapan Azzam yang sudah rapih dan tampan.


“Anak papa udah ganteng gini,” Kenzie mengusap puncak kepala Azzam.


“Azzam tunggu di depan ya, sama kak Arsy dan abang Izar,” lanjut Kenzie lagi.


“Iya, pa.”


Tanpa menunggu lama, Azzam berlari keluar kamar. Kenzie berdiri kemudian mendekati sang istri. Tangannya meraih pinggang Nara dan menarik tubuh wanita itu hingga tak berjarak dengannya.


“Bagaimana kalau minggu depan kita liburan keluarga?”


“Long weekend ya? Boleh juga mas. Kita mau kemana?”


“Glamping gimana? Di tempat wisata yang tiga bulan lalu dibuka sama Nan. Tempatnya bagus dan cocok buat liburan keluarga. Ada lokasi outbond-nya juga, sama arung jeram. Anak-anak pasti suka.”


“Boleh, mas. Kita jadwalkan aja.”


Kenzie menarik tubuh Nara semakin dekat. kemudian pria itu mencium lembut bibir sang istri. Sambil mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya, Nara membalas ciuman Kenzie. Keduanya terus terhanyut dalam pertautan bibir, hingga


“Mama!! Papa!! Cepetan dong!!”


Terdengar teriakan kencang Izar dari arah ruang tengah. Sepasang suami istri itu terpaksa menghentikan akivitas mereka. Nara membersihkan sisa lipstick di bibir Kenzie sebelum keduanya keluar dari kamar.


☘️☘️☘️


“Aya!! Firhan!!” terdengar suara Freya memanggil kedua anaknya.


Seperti halnya Kenzie dan Nara, Freya juga tengah bersiap untuk menuju kediaman Abi. Rindu dan Kevin sedari tadi sudah menunggu di teras rumah. Tak kunjung mendapat sahutan dari sang anak, Freya bergegas naik ke lantai atas. Betapa terkejutnya dia melihat kedua anaknya masih bersantai duduk menyender di atas ranjang bersama Ravin. Keduanya tengah asik memperhatikan sang ayah yang bermain game online.


“Bagus ya… opa sama oma udah nungguin dari tadi, tapi kalian malah malas-malasan di sini. Mau ikut ke rumah kakek ngga?” tanya Freya seraya menaruh kedua tangan di pinggang.


Melihat ibunda ratu sudah mulai bertanduk, Ravin segera mengakhiri permainannya. Pria itu mengajak Firhan untuk berganti pakaian. Anak bungsunya itu masih mengenakan bath robe usai mandi tadi. Dayana atau yang biasa dipanggil Aya segera keluar dari kamar. Dia bermaksud menemui opa dan omanya, karena sedari tadi anak cantik itu memang sudah selesai berpakaian.


Dengan cepat Ravin memakaikan baju pada Firhan yang saat ini masih berusia lima tahun, terpaut dua tahun dari sang kakak. Setelah menyisiri rambut sang anak, Ravin memerintahkan anaknya itu untuk menunggu di bawah. Setelah memastikan Firhan keluar, Ravin menarik tangan Freya hingga tubuh wanita itu membentur dadanya.


“Jangan marah-marah, bu Ratu. Ratu sendiri belum pakai baju. Mau hamba pakaikan, bu Ratu?”

__ADS_1


Ravin mengatakan itu semua di dekat telinga sang istri. Kemudian dengan sengaja dia memberikan gigitan kecil di telinga wanita itu. Bulu di tubuh Freya meremang mendapatkan sentuhan itu. Sang suami memang hafal betul di mana titik-titik sensitifnya.


“Abang, jangan macem-macem aahh..”


“Macem-macem gimana? Cuma gini doang.”


Ravin meniup pelan telinga Freya lalu mencuimi leher jenjangnya, membuat istrinya itu tak enak diam. Tanpa sadar Freya mend*sah, Ravin semakin gencar memberikan cumbuan, bibirnya menyambar bibir Freya yang jika sudah marah tak bisa berhenti mengoceh kedua tangannya meremat bulatan kenyal favoritnya.


“Main sebentar, Yang,” bisik Ravin.


“Mama sama papa udah nungguin.”


“Sebentar aja ya.”


Freya tak kuasa menolak, karena sang suami terus saja memberikan cumbuan yang membuatnya terbuai. Akhirnya percintaan kilat segera terjadi. Di saat keduanya asik meraih puncak surgawi, Kevin beserta Rindu sibuk menenangkan kedua cucunya yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan kakek, nenek dan sepupunya yang lain.


☘️☘️☘️


Aric memeluk tubuh Naya dari belakang saat sang istri sedang memasukkan makanan yang baru selesai dibuatnya ke dalam wadah. Makanan-makanan tersebut akan dibawa ke tempat perkumpulan keluarga. Bibir Aric mengecup lembut bahu sang istri. Namun aktivitasnya itu terganggu dengan panggilan sebuah suara yang tak asing di telinganya.


“Papa jangan deket-deket mama terus,” ujar Arya yang melihat pada Aric dengan tajam. Tak lama datang Divya, adik dari Arya. Anak itu memukul lengan sang kakak sedikit kencang, membuat anak laki-laki berusia tujuh tahun itu meringis kesakitan.


“Jangan suka marahin papa! Itu papa aku!” sentak Divya.


Aric terkekeh melihat tingkah kedua anaknya. Mereka sering bertengkar karena membela kesayangannya masing-masing. Arya yang selalu marah jika Aric mendekati Naya dan Divya yang selalu membela Aric. Selain Divya, Aric juga mempunyai satu orang lagi fans garis kerasnya. Anak bungsunya yang juga berjenis kelamin perempuan sering membantu Divya mengeroyok Arya.


“Akal!”


Tangan kecil Kalila mendarat di lengan Arya. Gadis cilik itu datang membantu sang kakak. Arya yang hendak membalas langsung dibawa keluar oleh Naya, sedang Aric segera menggendong kedua buah hatinya, menyusul keluar dari dapur.


“Sebentar lagi kita mau ke rumah kakek Abi dan nenek Nina. Kalian semua siap-siap ya,” ujar Aric.


“Asik.. bisa ketemu kak Aya,” sorak Divya. Anak itu memang dekat dengan Dayana.


Naya membawa Kalila untuk menggantikan baju. Dalam waktu singkat ketiga anaknya sudah bersiap untuk pergi. Dia melihat pada Aric yang masih mengenakan pakaian santainya.


“Anaknya udah ganteng dan cantik, kok ayahnya masih kucem ya,” sindir Naya.


“Siap sayang.”


“Kenapa, hmm..? Mau ya?”


“Ish apaan sih.. udah buruan ganti baju,” Naya mendorong tubuh Aric menjauh.


“Pakein bajunya dong,” pinta Aric dengan nada manja.


Mau tak mau Naya menuruti permintaan sang suami. Seperti anak kecil, Aric hanya diam saja ketika Naya memakaikan baju padanya. Terdengar deheman Naya ketika mengancingkan celana sang suami. Sebisa mungkin wanita itu tak melihat ke arah senjata suaminya yang sering membuatnya mengeluarkan des*han manja.


☘️☘️☘️


Nina dibantu asisten rumah tangga dan juga Nadia dan Rayi sibuk memindahkan makanan yang sudah selesai dibuat untuk acara perkumpulan yang sepertinya akan dimulai sebentar lagi. Alisha, Viren, Haikal dan Vina merapihkan halaman belakang, tempat mereka akan menikmati makan siang bersama.


Sementara itu, Abi, Juna dan Anfa asik bermain dengan cucu-cucu mereka di rumah pohon. Beberapa kali terdengar teriakan Anfa memperingatkan cucunya agar tidak berlari-lari, khawatir nanti terjatuh.


Sementara itu, Kenan masih berada di kamar bersama dengan Zahra. Istrinya itu tidak bisa ikut membantu karena tengah hamil anak ketiganya. Di usia kehamilan yang baru menginjak delapan minggu, kondisi Zahra tidak begitu baik. Dia kerap mengalami morning sick, hingga tak sanggup untuk bangun dari tempat tidur.


“Gimana sayang?” tanya Kenan seraya mengusap puncak kepala istrinya.


“Masih lemas, mas. Aku ngga enak sama mama.”


“Ngga usah dipikirin. Mama ngerti kok.”


Pembicaraan mereka terinterupsi ketika mendengar ketukan di pintu. Kenan bangun dan segera membukakan pintu. Alisha muncul dari balik pintu dengan membawa segelas kecil minuman hangat di tangannya.


“Nan.. ini dari mama Nina. Zahra suruh minum ya,” Alisha menyodorkan gelas di tangannya.


“Makasih, Al.”


Kenan mengambil gelas dari tangan Alisha. Setelahnya wanita itu segera meninggalkan kamar Kenan. Zahra mendudukkan diri begitu sang suami menyodorkan minuman hangat yang dibuatkan Nina untuknya. Air lemon yang dicampur dengan irisan jahe dan madu cukup ampuh untuk mengatasi rasa lemasnya.


Setelah menghabiskan minuman, Zahra kembali berbaring. Kenan merangkak naik ke atas kasur lalu merebahkan diri di samping sang istri. Dipeluknya Zahra hingga tubuh mereka tak berjarak. Menghidu aroma tubuh sang suami, membuat rasa mual yang melandanya berangsur berkurang.


☘️☘️☘️


Suasana kediaman Abi sudah seperti taman kanan-kanak saja. Suara tawa, teriakan, jeritan bahkan tangisan anak-anak terdengar silih berganti. Hal yang sudah biasa terjadi ketika seluruh keluarga Hikmat dan para sahabatnya berkumpul.


Kenan turun dari lantai atas bersama dengan Zahra. Keadaan istrinya sudah lebih baik dan ingin berkumpul dengan saudara dan para sahabatnya. Mereka langsung menuju halaman belakang. Semua tengah menikmati makan siang bersama. Menu makanan Sunda yang menjadi tema kali ini.

__ADS_1


Zahra meneguk ludahnya melihat nasi liwet, sambal, aneka lalap, gurame goreng, pepes ayam, pepes peda, tempe dan tahu goreng tersaji di sana. Ingin rasanya dia melahap semua yang ada. Rasa mual yang tadi menggelayuti berubah menjadi rasa lapar. Mendengar suara gemuruh yang berasal dari perut sang istri, Kenan dengan cepat mengambilkan makanan untuk istrinya itu.


Setelah makan siang bersama, mereka tak langsung pulang, melainkan masih tetap berkumpul sambil berbincang. Anak-anak pun masih betah bermain bersama. Sambil bercakap-cakap, para orang tua terus mengawasai anak-anak mereka.


Di ruangan depan, para tetua berkumpul lengkap dengan pasangannya masing-masing. Mereka bernostalgia mengenang masa-masa indah saat muda dulu. Sesekali terdengar tawa mereka.


“Jadi dulu, ibu Nina itu perawat pak Abi, ya?” tanya Darmawan.


“Iya, pak. Bapak tahu sendiri kan, kalau Abi itu gengsinya setinggi langit. Udah cinta sama Nina masih belum mau ngaku. Ujung-ujungnya modusin Nina, pura-pura masih lumpuh biar Nina ngga pergi,” terang Juna sambil tertawa.


“Asal bapak tahu, kakak saya ini kisah hidupnya udah kaya novel online. Dia bisa nikah sama istrinya karena jadi pengantin pengganti,” balas Abi tak mau kalah.


“Tapi ngga ada yang sefenomenal Kevin. Udah mendadak nikah, diprank keluarganya, sampai belah duren juga gara-gara jamu buatan almarhum mamanya,” Juna tertawa kencang.


“Kalau ngga ada jamu, ngga yakin bisa jebol gawang dia,” timpal Cakra.


Kevin tak mempedulikan bully-an padanya. Dia asik saja memangku Kalila yang begitu lengket padanya. Percuma juga membalas, karena apa yang mereka katakan benar adanya.


“Ngga kerasa ya, kita sudah setua ini. Sudah punya cucu juga,” ujar Darmawan.


“Iya, pak. Sekarang cucu saya sudah tujuh. Bakalan nambah jadi delapan sesudah Zahra melahirkan,” ujar Abi.


“Sama seperti saya, pak. Sebentar lagi mau delapan juga,” sahut Darmawan. Pria itu memang sudah menganggap Zahra dan Silva anaknya sendiri.


“Kalau pak Juna dan yang lain sudah berapa nih?” tanya pria itu lagi.


“Kalau saya tujuh,” jawab Juna.


“Saya lima,” jawab Cakra.


“Saya yang paling sedikit, empat,” terang Kevin.


“Kalau pak Jojo?”


“Sebentar.. dari Barra dua, Nara tiga, Naya tiga, Dila tiga. Total sebelas, pak,” Jojo tertawa setelahnya karena harus menghitung dulu jumlah cucu yang dia punya.


“Paling banyak dia, pak. Bisa bikin tim sepak bola,” celetuk Juna.


“Padahal dulu cebongnya yang paling lama hibernasi. Ngga taunya malah kejar setoran. Punya anak banyak dan cucu bejibun,” sambung Abi.


Suara gelak tawa kembali terdengar. Keseruan obrolan mereka terhenti ketika terdengar suara musik. Pandangan mereka langsung tertuju ke ruang tengah, di mana Kenan tengah bersiap untuk berkaraoke. Tak lama suara merdu pria itu terdengar.


“Tak pernah kusangka. Aku bisa merasakan cinta sejati. Dan tak pernah benar-benar mencintai. Manusia di Bumi ini. Hingga apa pun akan kuberi. Untuk kamu, kamu, kamu. Dan takkan pernah aku meminta. Balasan semua, semua, semua.”


Kenan memeluk pinggang Zahra dengan mesra saat menyanyikan bait lagu berjudul Immortal Love Song tersebut. Matanya menatap dalam netra sang istri. Seolah menyiratkan perasaan terdalam yang dirasakannya.


Hal yang sama terjadi pada para tetua. Sambil mendengarkan suara merdu Kenan, mereka menggenggam tangan pasangannya masing-masing. Perasaan mereka sama seperti yang Kenan rasakan saat ini. Dan lagu yang dibawakan pria itu seakanmewakili perasaan mereka.


“Tuhan pun tahu jikalau aku mencintai dirimu. Tak musnah oleh waktu. Hingga maut datang menjemputku. Ku tetap menunggu kamu di lain waktu.”


Bagian reffrain yang dinyanyikan Kenan begitu mengena di hati semua yang mendengarnya. Dalam hati mereka berdoa, semoga saja di hari akhir kelak, dapat dipersatukan kembali dengan seluruh keluarga tercinta. Sebuah impian yang banyak dicita-citakan hampir semua manusia di dunia ini. Dipersatukan kembali dengan orang-orang tercinta di surga-Nya.


Maut adalah satu hal yang pasti dalam setiap kehidupan. Kebersamaan dengan orang terkasih akan berakhir saat nafas meninggalkan raga. Semoga saja kebajikan yang kita lakukan di dunia serta doa-doa tulus yang dipanjatkan, akan membawa kita bertemu dan berkumpul kembali dengan ayah, ibu, anak, sanak saudara dan para sahabat tercinta.


Seperti halnya kehidupan yang akan menemui akhirnya. Perjumpaan keluarga Hikmat dengan readers tercinta juga telah sampai ke titik akhir. Semoga saja kisah kami semua dapat memberikan semua yang membacanya, tidak hanya hiburan tapi juga nilai-nilai yang bermanfaat bagi kita semua.


Pesan-pesan moral yang terdapat dalam novel ini, adalah sebuah harapan, semoga aku bisa menjadi salah satu seperti mereka. Terima kasih untuk semua yang tetap mengikuti kisah ini sampai ke ujungnya. Semoga kita bisa bertemu di karya selanjutnya. Big hug and kiss for all of you my loyal readers. I love you all🤗😘


Jangan lepas akhir kisah ini dengan airmata, tapi dengan senyuman. Karena aku berharap kalian semua terhibur dan bahagia dengan akhir kisah ini. Bahagia itu sederhana, mengetahui kalian bahagia dengan kisah yang kubuat, aku pun bahagia. Dengan ini, aku dan keluarga besar Hikmat pamit undur. Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya.


☘️☘️☘️ OFFICIALLY END ☘️☘️☘️


**Alhamdulillah akhirnya aku bisa menyelesaikan novel ini. Terima kasih untuk semuanya,🙏


Novel terbaruku, NAIK RANJANG sudah up ya. Ketik aja judulnya di kolom pencarian atau klik profilku😉


Untuk My Hot Guys dan Scandals sudah mulau up kembali ya di rumah sebelah.


Sebagai penutup aku kasih lagi visual para karakter di novel KPA ini dari season 1 dan 2.


Adios amigos😘😘😘**




__ADS_1


__ADS_2