
Cakra menurunkan Sekar di atas kasur kemudian membaringkannya. Saat akan pergi, Sekar langsung menarik leher sang suami kemudian kembali mencium bibirnya. Cakra cukup bingung dengan kelakuan sang istri yang tidak seperti biasanya.
“Se.. abang mau mandi dulu ya.”
“Jangan lama ya bang.”
“Iya.”
Cakra mengusap puncak kepala sang istri kemudian berjalan ke kamar mandi. Dia segera menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhnya kemudian berdiri di bawah shower.
Sekar beranjak dari kasur kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Hatinya berharap sang suami tak mengunci pintu. Rasanya tak bisa menunggu Cakra terlalu lama lagi. Bayang-bayang adegan film yang tadi ditontonnya menari-nari di kepalanya. Dengan gerakan pelan Sekar membuka pintu kamar mandi, benar saja, pintu tak terkunci. Sekar bersorak dalam hati.
Diam-diam dia masuk ke kamar mandi. Wanita itu tertegun melihat sang suami yang tengah membersihkan tubuhnya di bawah pancuran. Sekar menelan ludahnya kelat melihat bentuk tubuh Cakra yang terlihat sempurna di matanya. Dengan langkah pelan Sekar mendekat. Begitu berada di belakang Cakra, tangannya terulur mematikan kran shower membuat Cakra terjengit.
“Se..”
Tanpa bicara Sekar berjalan hingga berhadapan dengan sang suami kemudian berjongkok di depannya. Tangannya meraih junior Cakra kemudian memainkannya dengan gerakan turun naik.
“Se.. ka..”
Belum sempat Cakra menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja adik kecilnya terasa hangat. Sang istri lah yang memberikan kehangatan dengan ku**mannya. Mata Cakra terpejam menikmati apa yang diberikan oleh Sekar. Sebelah tangannya bertumpu ke dinding. Racauan mulai terdengar dari mulutnya.
Cakra menggeram, dia dibuat gila dengan permainan Sekar. Tak terasa tangannya menekan kepala Sekar agar ku**mannya bertambah dalam. Tiba-tiba saja Sekar berhenti saat Cakra sudah on. Wanita itu berdiri kemudian berjinjit sambil berbisik di telinga suaminya.
“Kalau mau lanjut, ikut aku ke kamar.”
Sekar berbicara dengan nada suara dibuat sesen**al mungkin. Kemudian saat akan beranjak pergi, dengan cepat tangan Cakra menariknya. Dipeluknya pinggang Sekar, kali ini giliran Cakra yang berbisik di telinga sang istri.
“Ngga usah di kamar, di sini aja sayang.”
Cakra memberikan gigitan kecil di telinga Sekar kemudian membalik tubuh istri dengan cepat. Disambarnya bibir yang begitu menggoda, dengan tergesa dan menuntut pria itu me**mat bibir Sekar. Tangannya bergerak meraba dan meremat titik-titik sensitif di tubuh sang istri. Tak butuh waktu lama keduanya langsung terlibat dalam pertempuran panas.
Cakra cukup terkejut karena Sekar membalas permainannya tak kalah buas. Sepertinya efek film action yang ditontonnya tadi berhasil membuatnya seperti negara api yang siap membakar lawannya. Suhu kamar mandi yang dingin dan lembab kini berubah menjadi hangat dan penuh gairah.
☘️☘️☘️
Sekar memandangi Cakra yang tengah duduk menikmati makan malam di sebelahnya. Senyum tercetak jelas di wajahnya melihat tanda merah yang tercetak di leher sang suami. Hampir satu jam lebih mereka bermain di kamar mandi, mulai dari di bawah shower, lanjut dengan gaya duduk di atas kloset dan terakhir di dalam bath tub.
“Bang..”
“Hmm..”
“Bantuin aku ya bang.”
“Bantu apa?”
-
“Comblangin Radix sama Dinda.”
Cakra menghentikan makannya lalu melihat ke arah samping. Sekar melihatnya dengan wajah penuh senyum sambil mengedip-ngedipkan matanya. Cakra kembali melanjutkan makannya.
“Abang mau comblangin si blewah sama Jojo.”
“Yaahh.. jangan dong mending sama Radix. Kasihan kan kalau Dinda sama bang Jo, berasa dapet barang second.”
Sekar sontak menutup mulut dengan kedua tangannya menyadari ucapannya yang keceplosan. Cakra kembali menoleh ke arah sang istri, kali ini dengan tatapan ketidaksukaan.
“Jojo emang pernah melakukan kesalahan tapi bukan berarti dia tidak bisa memperbaiki diri. Blewah itu anak baik dan abang berharap dia bisa membuat Jojo lebih baik lagi. Lagi pula secara finansial Jojo itu lebih mapan dari Radix. Abang bukan merendahkan Radix. Tapi kamu harus ingat, Radix itu anak sulung. Dia punya dua adik yang masih membutuhkan biaya. Jadi, kalau dia lulus dan sudah bekerja, maka prioritas utama dia itu membantu orang tuanya membiayai kedua adiknya.
Sedang si blewah, di usia mudanya dia harus bekerja keras buat kehidupan dirinya juga neneknya. Kalau dia menikah dengan Jojo, setidaknya dia bisa menikmati masa mudanya dengan melakukan hal lain, seperti kuliah. Masa depannya akan lebih baik kalau dia bersama dengan Jojo.”
Sekar terdiam merenungi ucapan sang suami yang benar adanya. Namun didorong rasa kesetiakawanan, hatinya tak rela melihat Radix sakit hati kehilangan perempuan yang disukainya. Materi bisa dicari, toh Adinda bukan tipe perempuan matre. Dia pasti bisa menerima Radix apa adanya.
“Tapi cinta itu kadang ngga mandang materi, bang. Kalau ternyata Dinda sukanya sama Radix gimana? Pokoknya kalau abang sampe bantuin bang Jojo sama Dinda, ngga bakal aku kasih jatah sebulan.”
“Ya ngga bisa gitu dong Se. Apa hubungannya cinta segitiga ngga beraturan mereka sama urusan ranjang kita?”
“Ya dihubung-hubungin aja. Abang jadi suami ngga mau dukung istri.”
Sekar bangkit dari duduknya kemudian segera meninggalkan meja makan. Cakra menghela nafas panjang. Baru saja mereka melakukan percintaan panas, sekarang malah bergulir bola panas gara-gara si blewah.
☘️☘️☘️
Jam di dinding menunjukkan pukul delapan malam. Usai makan malam Kevin langsung berkutat dengan pekerjaan yang tak sempat diselesaikannya tadi di kantor. Rindu sukses membuatnya pontang panting menjemput ke rumah Cakra begitu istrinya mengatakan kalau sedang sakit. Nyatanya itu hanya akal-akalan sang istri yang menginginkannya cepat pulang.
Kevin tersenyum tipis membayangkan Rindu yang sepulang dari rumah sahabatnya sudah seperti ulat bulu yang terus menempel padanya. Alih-alih beristirahat setelah mengeluhkan tak enak badan. Rindu malah mengajaknya bertempur di atas kasur. Menjelang maghrib keduanya baru selesai menikmati surga dunia.
Pintu kamar terbuka, Rindu masuk setelah membantu mama mertua membereskan peralatan bekas makan malam. Dihampirinya Kevin yang duduk di belakang meja. Dengan santai Rindu mendudukkan diri di pangkuan Kevin. Tangannya memeluk leher sang suami.
“Abang masih banyak kerjaannya?”
“Dikit lagi, kenapa hmm..”
“Aku temenin ya,” Rindu merebahkan kepalanya di dada Kevin.
“Boleh.”
__ADS_1
Kevin melanjutkan pekerjaannya. Hanya tinggal mengirimkan berkas yang tadi dikerjakannya melalui e-mail. Rindu ikut memandang layar laptop di depannya, memperhatikan apa yang dilakukan sang suami.
“Abang..”
“Hmm..”
“Bantuin aku dong.”
“Bantu apa?”
“Comblangin Radix sama Dinda.”
“Siapa Dinda?”
“Itu.. cewek yang bantuin masak pas kita makan malem di rumah kak Abi. Masih inget ngga?”
“Ooh..”
Kevin menjawab asal saja, padahal dia sama sekali tak mengingat sosok yang dibicarakan sang istri. Kalau dia terus bertanya maka urusannya akan bertambah panjang.
“Aku sama Sekar mau bantuin Radix biar jadian sama Dinda. Soalnya saingannya Radix berat banget.”
“Siapa?”
“Bang Jojo.”
Kevin berdehem kencang. Dia masih saja cemburu kalau mendengar Rindu menyebut nama pria itu. Hatinya tak rela saat tahu kalau istrinya menyimpan kekaguman pada Jojo jauh sebelum mengenal dirinya.
“Emang kenapa sama Jojo? Mending sama Jojo aja biar tuh orang ngga jomblo terus.”
“Ish.. jangalah mending sama Radix. Tuh anak juga jomblo.”
“Tapi Radix masih muda, kalau Jojo udah mau bulukan.”
Rindu terkikik mendengarnya. Memang suaminya ini punya mulut yang luar biasa tajamnya. Rindu mengubah posisi duduknya menjadi berhadapan, kedua kakinya melingkari pinggang Kevin. Dirapatkan tubuhnya hingga dadanya menempel sempurna pada dada sang suami.
“Kalau abang mau bantu aku nyomblangin Radix ama Dinda, aku bakal kasih goyang ngebor tiap malam. Tapi kalau ngga, ya ngga ada goyangan.”
Kevin menggeram tak suka mendengarnya. Dia memeluk pinggang Rindu erat lalu me**mat bibir yang telah mengeluarkan kata-kata yang membuatnya emosi. Dia baru melepaskan pagutannya ketika merasakan sang istri mulai kehabisan oksigen.
“Awas aja kalau berani.”
“Uuuhh.. atut.”
Rindu menggerak-gerakkan tubuhnya di atas pangkuan sang suami. Kevin memejamkan matanya saat merasakan gerakan di atasnya. Seketika miliknya mulai menegang, kembali terdengar geraman dari mulutnya. Tidak sampai di situ, kini Rindu mulai menciumi leher Kevin dan menyesapnya sedikit kencang membuat pria itu mendesis.
Kevin menolak kursi ke belakang kemudian berdiri dengan menggendong Rindu seperti koala menggendong anaknya. Kemudian pria itu berjalan ke arah ranjang. Rindu tersenyum senang kembali berhasil memancing hasrat suaminya. Adegan film action masih terbayang dalam ingatannya, hingga membuatnya ingin merasakan lagi kehebatan sang suami di atas ranjang.
Terdengar lenguhan dan de**han Rindu saat dirinya mencapai pelepasan. Tangannya meremat rambut Kevin yang masih asik bermain di bagian intinya dengan lidah juga bibirnya. Kemudian Kevin menegakkan tubuhnya lalu melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuhnya.
Kevin berdiri dengan lututnya kemudian bersiap memasuki sang istri yang pasrah berbaring. Kembali terdengar de**han Rindu ketika Kevin mulai memompa miliknya. Wanita itu tak berhenti mengeluarkan suara-suara dari mulutnya ketika Kevin menggempurnya dengan gaya yang tadi dilihatnya dalam film action.
☘️☘️☘️
Menjelang jam makan siang, Diamond Resto sudah dipenuhi oleh pengunjung yang hendak mengisi perutnya. Di salah satu meja, nampak dua orang lelaki tengah duduk bersama menanti pesanan. Sehabis meeting bersama, Kevin dan Cakra memutuskan makan siang bersama. Abi dan Jojo juga mengatakan akan segera menyusul. Cakra berinisiatif memesan makan untuk kedua sahabatnya itu.
“Vin.. kemarin istri lo aneh ngga?”
“Tiap hari juga si Rindu emang aneh.”
“Maksud gue, dia jadi agresif ngga?”
“Iya, tumben ngga biasanya dia agresif.”
“Berarti sama, Sekar juga gitu. Gue pikir dia ketempelan siluman ulet bulu.”
“Mereka pasti abis nonton film jaha**m.”
Terdengar suara Jojo menyambung pembicaraan kedua pria tersebut. Jojo mendekat lalu menarik kursi di depan mereka. Tak lama datang pelayan mengantarkan pesanan. Jojo langsung meneguk minuman yang baru saja diletakkan di atas meja.
“Film jaha**m?” tanya Cakra.
“Heleh.. jangan sok polos. Lo pasti tahu film yang gue maksud. Kalo Kevin yang nanya gue percaya kalau dia ngga tahu. Dia kan hidupnya lempeng kaya jalan tol. Palingan si Rindu juga cewek pertama yang dikenal.”
“Dari pada elo, jomblo rasa duda.”
“Anjaaaayyy hahahaha...”
Cakra tergelak mendengar balasan Kevin untuk Jojo, singkat, padat dan langsung kena sasaran. Jojo mendengus kesal, mulut Kevin dan Abi memang tak jauh beda, senang sekali membuat telinga merah dan hati meradang.
“Dia sekarang udah jadi batangan berkarat,” sambung Abi.
Abi baru saja datang lalu langsung menarik kursi di samping Jojo. Lengkap sudah sekarang, penderitaan Jojo menjadi lebih sempurna dengan kedatangan sahabat yang bermulut bon cabe. Cakra tak kuasa menahan tawanya melihat wajah Jojo yang sejak datang wajahnya sudah kusut kini bertambah lecek.
“Jo.. lo emang suka sama siapa tuh cewek yang dibilang Rindu kemarin.”
“Blewah,” seru Cakra.
__ADS_1
“Bukan.”
“Pus,” sambar Abi.
“Bukan. Din..da kalau ngga salah.”
“Ya, Dinda itu si blewah alias Pus,” jawab Cakra.
“Banyak amat panggilannya. Emang namanya siapa sih?”
“Adinda Puspita Muharani,” terang Jojo.
“Widih apal bener. Biar ngga salah ya nanti pas di depan penghulu, takut kaya si Kevin, kangen kangen mulu hahaha.”
“Mulut lo Cak, lemes banget kaya emak-emak kompleks,” gerutu Jojo.
Cakra hanya mengangkat bahu saja, dia senang sekali menggoda sahabatnya ini. Hitung-hitung pelampiasan kekesalannya karena Sekar mengancamnya tidak akan memberi jatah harian padanya.
“Oii.. lo beneran suka ngga sama si Pitak?” seru Kevin.
“Pitak siapa?” tanya Cakra.
“Itu si Dinda alias blewah. Kan namanya ada Puspitaknya tadi.”
“Pita wooiii bukan pitak.”
“Pake qolqolah dikit doang,” elak Kevin.
Abi hanya menggeleng saja melihat tingkah ketiga orang yang satu meja dengannya. Dia asik menikmati makanan yang sudah tersedia untuknya. Kevin yang merasa belum mendapat jawaban dari Jojo terus mendesaknya. Hal ini menyangkut kesejahteraan adik kecilnya.
“Jo.. lo suka ngga sama si Pitak?”
“Ngga! Ah elah bacot lo semua.”
“Ya syukur kalo lo ngga suka. Berarti gue tinggal bilang iya aja ke Rindu. Dia ngerengek terus minta dibantuin nyomblangin si k*til tyrex sama si Pitak.”
“Emang kompak ya bini lo ama bini gue. Si Sekar juga ngancem ama gue, ngga bakal dikasih jatah kalo gue bantuin nih monyet deketin si Blewah.”
“Lo juga Bi, dapet anceman dari Nina?” tanya Jojo.
“Ck.. mau gue dukung lo apa si upil dino ngga ngaruh buat gue. Tiap malem Nina tetap ngasih jatah ama gue,” bangga Abi seraya menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Jojo berdecih mendengarnya, namun dalam hatinya terasa panas mendengar Sekar dan Rindu mati-matian mendukung Radix sampai harus mengancam suami mereka. Tekadnya semakin kuat untuk menyingkirkan rivalnya itu.
“Bagus deh kalo lo ngga suka. Aman gue,” seru Kevin membuyarkan lamunan Jojo.
“Emang lo mau bantuin bini lo?” tanya Cakra.
“Pake nanya, ya iyalah pasti gue dukung demi masa depan.”
Jojo mendengus kesal, dia langsung menghentikan makannya. Selera makannya hilang sudah terbawa pembahasan Radix dan Adinda. Telinganya terasa gatal, hatinya panas, otaknya sudah mengebul. Dengan cepat dia berdiri dari duduknya.
“Mau kemana lo?”
“Balik ke kantor, banyak kerjaan gue!”
Tanpa mendengar jawaban yang lain, Jojo bergegas pergi. Cakra hanya melongo melihat kepergian Jojo dengan wajah masamnya. Sedang Kevin cuek saja menikmati makanannya, sama seperti Abi.
“Dih, napa tuh anak?”
“Cuekin aja, palingan panas denger Rindu ama Sekar lebih dukung Radix sama si Pus.”
“Dasar monyet, udah suka juga masih ngga mau ngaku,” gerutu Cakra.
“Beneran si Jojo suka sama si Pitak?”
“Hem..”
“Sorry gue ngga ikutan,” Kevin mengangkat kedua tangannya.
“Lo bilang sama Rindu bakal dukung Radix, lo juga Cak, demi kesejahteraan otong kalian berdua.”
“Lah si Jojo gimana? Kan elo yang punya ide nyomblangin dia sama Blewah.”
“Biar dia usaha sendiri. Kalau kita bantuin keenakan dia. Biar dia uring-uringan dulu. Gue pengen lihat gimana usahanya dapetin si Pus.”
“Tul. Lagian dia tadi bilang ngga suka, kerjain aja sekalian,” timpal Kevin.
“Si Radix sama Gurit kan dapet tawaran main film. Kebetulan produsernya si Jojo, bakalan seru nih. Cak, elo hubungi Jerry. Minta dia bikin Radix viral. Buat tuh upil dino terkenal se medsos, up berita positif tuh anak. Biar si Jojo kelojotan, rivalnya sekarang artis sosmed hahaha..”
“Dasar otak licik lo, Bi,” Cakra ikut terkekeh.
“Gue ngga peduli apa rencana kalian. Yang penting anaconda gue tetap bisa masuk ke sarangnya,” seru Kevin santai.
☘️☘️☘️
**Abi bener² licik ya. Dukung Jojo dengan cara yang antik😂
__ADS_1
Maaf kalau up nya telat hari ini. Kemarin mamake Family time bareng anak² sama ayah, jadi ngga sempat ngetik.
Selamat bermalam Minggu😎**