KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Tom and Jerry


__ADS_3

Kevin dan Rindu keluar dari kamar. Mereka langsung menuju ruang makan untuk sarapan bersama. Kening Kevin berkerut melihat papanya sudah pulang. Pria itu menarik kursi di depan papanya. Rindu duduk di sampingnya.


“Papa kok udah pulang? Kenapa ngga nungguin mama?”


“Mamamu udah masuk ruang operasi. Jadwal operasinya dimajukan. Ada Devan juga di sana.”


“Tapi kenapa papa tinggal? Mba Anya sama mas Ivan juga kenapa belum ke sana? Udah aku ke rumah sakit sekarang, kasihan mama.”


“Nanti aja Vin. Barusan Devan kasih kabar operasinya udah selesai, cuma setengah jam.”


“Cepet amat. Masa operasi jantung setengah jam.”


PLETOK


Papa memukulkan sendok ke kepala Kevin. Anya tak bisa menahan tawanya, begitu pula dengan Ivan dan Kumala. Rindu hanya menatap semua yang ada di meja makan bergantian. Kevin mengusap kepalanya yang terkena jurus sendok sang papa.


“Kamu doain mama kamu operasi jantung, iya?”


“Loh bukannya mama mau operasi jantung. Kemarin mba Anya bilang gitu. Mama ngga mau dioperasi kalau aku belum nikah.”


“Iya emang mama ngga mau operasi sebelum kamu nikah. Tapi aku ngga bilang mama mau operasi jantung. Aku cuma bilang mama abis periksa, darah tingginya naik sama ngeluh di jantungnya. Abis diperiksa mas Devan, ternyata ngga ada masalah sama jantung mama. mungkin mama stress aja gara-gara kamu belum nikah aja,” jelas Anya panjang lebar.


“Lah terus mama dioperasi apa pagi ini?”


“Amandel,” sahut Ivan.


Mata Kevin membulat. Dia langsung melihat ke arah Anya yang hanya cengar-cengir saja. Kakak keduanya itu sukses membohonginya. Rindu yang tak tahu menahu masalah yang diperbincangkan memilih memakan sarapannya dengan tenang. Diliriknya Kevin yang terlihat kesal. Suaminya itu makan dengan wajah cemberut.


Usai sarapan, Kevin mengajak Rindu ke kamar untuk membicarakan hal penting. Mereka duduk berhadapan di sisi ranjang. Rindu berusaha untuk tidak berbicara lebih dulu. Dia menunggu apa yang ingin Kevin bicarakan.


“Kang..”


“Bang.. bisa ngga manggilnya ganti jangan kang, Rin aja napa sih?”


“Ngga bisa. Lidahku udah paten nyebut kamu Kang.”


“Ya udah kalau gitu aku manggil abang, kang Ujang aja.”


PLETAK


“Adaw!! Abang kebiasaan nih nyentil mulu.”


“Awas aja kamu manggil aku Ujang.”


“Dih kan itu namanya abang juga.”


“Bukan!! Itu bukan namaku, bidan kurang kerjaan yang nambahin kata Ujang di depan namaku. Awas aja manggil aku Ujang.”


Rindu menyebikkan bibirnya serasa mengusap keningnya yang untuk kedua kalinya terkena sentilan Kevin. Dalam hatinya merutuki sikap Kevin yang mau menang sendiri tapi tak berani diungkapkan secara langsung. Takut pagi ini dia mendapat hattrick sentilan di kening.


“Kang.. kamu tahu kan kenapa pernikahan ini terjadi? Aku udah dibohongin sama mama dan kak Anya.”


“Emang bang Ke aja korbannya? Aku juga korban bang. Aku dijadiin jaminan hutang sama abah. Mama bang Ke...”


“Kang.. mama aku sekarang udah jadi mertua kamu dan berarti mama kamu juga.”


“Iya.. iya maksudnya mama ternyata udah bikin perjanjian tertulis sama abah. Kalau abah ngga bisa bayar hutang sama mama, abah harus nikahin aku sama abang.”


“Hutang apa?”


“Itu uang seratus juta yang aku pinjem dari Sekar. Kan abang yang bayarin terus mama bayarin ke abang, dan sebagai gantinya aku harus nikah sama abang.”


“Mama ngga pernah bayarin utang kamu. Aku juga ngga pernah bilang ke mama soal aku bayarin utang abah kamu ke Sekar. Mama tahu dari mana soal hutang itu?”


Rindu sontak terdiam, ternyata dia sudah masuk dalam jebakan Batman mama mertua dan abahnya sendiri.


“Abaaaaaahhhhhh!!” geram Rindu.


“Ya berarti kita sama-sama dibohongin. Terus abang maunya gimana? Kita jalani pernikahan selama setahun gitu? Selama menikah kita ngga saling mencampuri urusan masing-masing, ngga ada kontak fisik terus kalau udah setahun kita pisah.”


PLETAK


Akhirnya Rindu benar-benar meraih hattrick. Sentilan ketiga mendarat di keningnya. Kevin melihat gemas ke arah gadis mungil yang sudah menjadi istrinya. Berbicara dengan Rindu benar-benar membuatnya sakit kepala.


“Kamu tuh kebanyakan nonton drakor, baca novel online, akhirnya ngehalu mulu. Pernikahan itu bukan mainan Kang. Walau kita menikah karena akal bulus orang tua kita, tapi pernikahan kita itu sah di mata agama juga hukum.”


“Ya terus abang maunya gimana? Ngomongnya jangan sepotong-sepotong.”

__ADS_1


“Kamu yang dari tadi nyamber mulu. Makanya dengerin dulu sampai selesai.”


Rindu mengerucutkan bibirnya. Apa yang dilakukannya selalu saja salah di mata kulkas dua pintu ini.


“Ngga usah digitu-gituin bibirnya! Disangkanya jadi seksi apa? Kaya bebek iya.”


BUGH


BUGH


Saking kesalnya Rindu memukuli lengan Kevin berkali-kali. Kevin terpaksa menangkap tangan Rindu. Biar kecil ternyata tenaga Rindu cukup kuat juga. Kevin memegang erat tangan Rindu, mata keduanya saling bertemu.


“Bisa diem ngga? Emang ngga sakit apa dipukulin tenaga kuli kaya kamu.”


“Bang Ke nyebelin! Sekarang aku kan istrinya bang Ke. Kalau aku kuli, bang Ke suami kuli!”


Kevin melepaskan tangannya. Rindu mengusap-usap pergelangan tangannya yang terasa panas akibat cekalan sang suami. Kevin melihat ke arah kening Rindu yang nampak memerah. Dia memajukan tangannya, refleks Rindu menutupi keningnya, takut terkena sentilan lagi. Kevin menyingkirkan tangan Rindu lalu mengusap pelan kening sang istri yang memerah. Lagi dada Rindu berdesir karena ulah lelaki di hadapannya.


“Ehem! Udah ngga apa-apa kok.”


Rindu menepis tangan Kevin lalu menundukkan kepalanya, tak ingin Kevin melihat wajahnya yang memerah.


“Kang.. apa arti penikahan buatmu?”


“Ikatan suci, penyatuan dua orang yang saling mencintai dan berniat menjalani rumah tangga dengan tujuan ibadah.”


“Tapi kita ngga saling mencintai, belum maksudku. Apa kamu masih menganggap pernikahan ini sesuai dengan definisimu tadi?”


“Biar ngga saling mencintai, tapi janji yang udah abang ucapkan itu sudah dicatat malaikat dan disaksikan oleh Tuhan. Pernikahan kita sah secara agama juga hukum.”


“Apa kamu mau menjalani ini pernikahan ini bersamaku? Bersama-sama kita saling membuka diri dan hati kita. Aku memang belum mencintaimu saat ini tapi siapa yang tahu lima menit kemudian, Allah membalikkan hatiku jadi mencintaimu. Begitu juga kamu. Jadi, apa kamu mau berusaha bersama-sama?”


“Iya bang.”


“Kamu ngga usah khawatir, aku ngga akan menuntut hakku dalam waktu dekat. Kita jalani saja dulu semuanya, bagaimana kalau mulai dengan pacaran?”


“Iya bang.”


“Mumpung aku libur hari ini, gimana setelah nengok mama kita kencan? Sekalian kita ke toko emas buat nukar cincin pernikahanmu.”


“Ya udah kamu siap-siap gih. Kita berangkat sekarang.”


Rindu bangun lalu menuju lemari baju. Sejenak dia memilih-milih pakaian yang akan dikenakannya untuk kencan. Tangannya meraih dress motif floral yang panjangnya hanya sebatas paha, kemudian mengambil legging warna hitam untuk dipadankan dengan dress tersebut. Lalu gadis itu masuk ke kamar mandi.


Kevin sibuk berselancar dengan ponselnya. Di kolom pencarian dia mengetik ‘apa yang dilakukan orang saat berkencan’. Sederetan aktivitas orang yang sedang berkencan tertera. Dibacanya satu per satu artikel yang membahas masalah tersebut. Kemudian jarinya kembali mengetik ‘tempat kencan populer di Bandung’.


Rindu keluar dari kamar mandi. Tubuh mungilnya sudah terbalut dress floral dan legging hitam, membuat penampilannya bertambah imut saja. Dia lalu menuju cermin untuk memoles wajahnya dengan bedak juga lipstik berwarna bibir. Diliriknya Kevin yang masih berada di tempatnya tadi. Matanya terlihat tak berkedip menatap layar ponsel.


“Kang.. biasanya kalau orang pacaran ngapain aja?”


“Kenapa nanya aku?”


“Kamu bukannya pernah pacaran?”


“Iya tapi jaman SMA dulu. Kita cuma pulang bareng, jalan-jalan bentar aja, paling juga makan bakso doang terus pulang. Keseringan sih Hendra main ke rumah, ngobrol-ngobrol aja. Bang Ke kan harusnya lebih paham.”


“Aku belum pernah pacaran,” jawab Kevin sambil tak mengalihkan pandangannya dari ponsel.


“Ish.. umur aja tua, masalah pacaran ngga tahu sama sekali. Makanya jadi orang jangan jutek-jutek, ngga laku kan.”


“Ngomong apa kamu?” Kevin mengalihkan pandangannya ke Rindu.


“Ngga ada siaran ulang.”


Rindu menyemprotkan parfum ke kedua tangannya kemudian menggosokkan ke belakang telinganya. Lalu menyemprotkan kembali ke pakaiannya. Dia menghampiri Kevin yang masih berselancar dengan ponselnya.


“Kamu kalo kencan maunya ngapain aja?”


“Hmm.. aku udah buat daftar kencan impian di sini.”


Rindu mengambil ponsel lalu menggoyang-goyangkannya. Kevin langsung menyambar ponsel Rindu. Gadis itu langsung merebutnya kembali, namun gagal. Kevin berdiri agar Rindu tak dapat menjangkaunya.


“Coba aja kalau bisa buka kuncinya.”


Kevin menghadapkan layar ponsel ke arah Rindu. Kemudian jarinya mulai membuat pola di layar tersebut. Mata Rindu membulat ketika Kevin langsung bisa membuka kunci ponselnya dalam satu percobaan. Pria itu langsung mencari-cari daftar kencan yang dikatakan istrinya tadi. Dia masuk ke aplikasi word lalu membuka file berjudul kencan impian.


Rindu pasrah saja melihat Kevin sudah berhasil menemukan filenya itu. Kevin membaca dengan seksama deretan kata-kata yang ada di dalamnya. Daftar kegiatan yang mau kulakukan saat kencan :

__ADS_1



Jalan-jalan sambil berpegangan tangan


Mencicipi jajanan pinggir jalan sambil suap-suapan


Nonton film di bioskop


Ciuman di bioskop


Melihat pemandangan city light di malam hari sambil dipeluk dari belakang


Ciuman di mobil



“Ck.. ck.. ck.. ternyata otak kamu mesum juga. Ini isinya ciuman terus.”


“Biarin, suka-suka aku dong.”


“Kapan kamu buat rencana kencan kaya gini?”


“Udah lama pas lagi ngeceng bang Jojo.”


Rindu langsung menutup mulutnya saat melihat Kevin menatapnya dengan tajam. Lelaki itu mengembalikan ponsel pada Rindu kemudian membungkukkan dirinya agar sejajar dengan istrinya itu.


“Hilangkan Jojo dari otakmu itu,” Kevin mengetuk-ngetuk kepala Rindu.


“Sekarang aku adalah suamimu. Aku ngga mau saat menciummu yang ada dalam otakmu adalah Jojo. Itu berarti kamu sudah selingkuh secara tidak langsung.”


“Iya aku tahu. Aku juga udah ikhlas kalau jodohku itu bang Ke, si kulkas dua pintu.”


“Aku juga udah ikhlas kalau jodohku, si pendek yang bawel bin cerewet yang suaranya kaya kaleng rombeng dan makannya porsi kuli.”


Kevin menegakkan kembali tubuhnya kemudian berjalan menuju lemari. Diambilnya kemeja tangan panjang kotak-kotak lalu dipakainya untuk melapisi kaos putih yang dikenakannya kini. Kevin menggulung lengan kemeja sampai ke siku. Kancing kemeja dibiarkannya terbuka.


Rindu menelan ludahnya melihat penampilan Kevin yang terlihat gagah dan tampan. Pria itu tengah menyemprotkan parfum ke bajunya. Dari pantulan cermin dilihatnya Rindu yang tengah menatapnya. Kevin menaruh parfum ke tempatnya kemudian berbalik menghadap sang istri.


“Kenapa mas kawin yang aku kasih kemarin ngga dipakai? Aku beli itu buat kamu pakai bukan buat pajangan.”


Kevin kesal melihat leher dan telinga Rindu yang polos tanpa perhiasan yang diberikannya sebagai mas kawin.


“Aku kan ngga terlalu suka pakai perhiasan bang.”


“Ck.. tau gitu kemarin aku beli beras aja dua karung buat mas kawinnya.”


“Bang Keeeeee!!”


Sambil menghentakkan kaki, Rindu berdiri kemudian berjalan menuju lemari. Dikeluarkannya kotak perhiasan beludru berwarna biru lalu membawanya ke dekat Kevin.


“Aku pakai kalung sama antingnya aja ya. Gelangnya ngga usah.”


“Sama cincinnya pake.”


“Kan udah ada cincin nikah.”


“Cincin nikah sebelah kanan. Pakai cincin yang itu sebelah kiri.”


Rindu mengambil cincin lalu memakainya di jari manis sebelah kiri. Kemudian dia mengambil anting. Dirabanya cuping telinganya untuk mencari lubang tindikan. Kevin mengambil anting tersebut lalu memakaikannya di kedua telinga Rindu. Kevin kemudian mengambil kalung dan memakaikannya. Dia mencondongkan wajahnya mendekat ke Rindu saat mengaitkan kalung. Jantung Rindu kembali berdetak tak karuan saat mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh Kevin.


“Nah begini kan lebih cantik.”


Kevin membetulkan letak liontin di leher Rindu lalu menyelipkan rambut ke belakang telinga. Wajah Rindu memanas mendapatkan perlakuan yang begitu manis. Dia menundukkan kepalanya.


“Kang..” Rindu mengangkat kepalanya.


CUP


Kevin mencium pipi Rindu. Kaget dengan serangan dadakan dari Kevin, Rindu hanya diam membeku. Kevin bangun dari duduknya. Disambarnya kunci mobil yang tergeletak di atas meja kerjanya lalu melangkah keluar kamar.


“Ayo Kang..”


Kevin keluar lebih dulu tanpa menunggu Rindu. Sesungguhnya dirinya cukup terkejut juga dengan apa yang dilakukannya tadi. Jantungnya pun bertalu-talu tak karuan. Namun dia tetap berusaha bersikap tenang. Rindu meraba dadanya yang berdegup kencang kemudian menyusul Kevin keluar dari kamar.


☘️☘️☘️


Dih Bang Ke sok cool banget padahal deg²an tuh🤣

__ADS_1


__ADS_2