
Melihat pintu kamar Alisha sedikit terbuka, Juna memutuskan untuk masuk. Diketuknya pintu kamar sebentar sebelum masuk ke dalamnya. Putri bungsunya itu namoak tengah duduk di balkon kamarnya. Juna menghampiri lalu ikut duduk di sebelahnya.
“Anak ayah kenapa melamun malam-malam begini?”
“Ayah, apa bu Lisda sudah ditemukan?”
“Hmm.. sudah. Dia bilang hanya ingin bertemu denganmu. Tapi ayah sudah memberinya peringatan untuk tidak menemuimu lagi. Atau kamu mau ayah mengirimkannya ke tempat yang jauh?”
“Ngga usah yah. Asal dia tidak menggangguku lagi, itu sudah cukup.”
“Hmm.. baiklah kalau itu keinginanmu. Tapi kalau sekali lagi dia mengganggumu, mungkin papamu yang akan bertindak.”
Alisha hanya menganggukkan kepalanya. Dia lalu menyandarkankepalanya di lengan sang ayah, seraya memeluk lengan kokoh yang selama ini melindunginya. Pandangannya menatap lurus ke depan. Juna menoleh ke arah purtinya ketika mendengar helaan nafasnya yang berat.
“Kenapa Al? Ada yang mengganggu pikiranmu?”
“Ayah.. aku ingin menikah.”
“Kamu serius soal itu?”
“Iya.”
“Apa kamu sudah punya calonnya? Atau apa sudah ada lelaki yang kamu inginkan menjadi pendampingmu?”
Tak ada jawaban gadis itu. Mulutnya masih saja membisu, sedang pikirannya melayang pada sosok Viren. Ingin rasanya dia menyebutkan nama itu. Tapi Alisha takut kalau pria itu menyukai Anya. Dilihat dari kedekatan mereka, bukan hal yang mustahil juga.
“Al..”
“Aku belum punya calon, pa.”
“Sebenarnya ayah ingin mendekatkanmu dengan Irvin kalau kamu tidak keberatan?”
“Bang Irvin anaknya om Radix?”
“Iya, itu juga kalau kamu setuju.”
“Boleh yah. Tak kenal maka tak sayang, benar kan?”
“Iya. Kamu berteman aja dulu. Kalau tidak sesuai dengan kriteriamu, ayah tidak akan memaksa. Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu, karena kamu yang akan menjalani pernikahan nantinya.”
“Makasih ayah.”
Juna merangkul bahu anaknya lalu mendaratkan kecupan di puncak kepalanya beberapa kali. Perihal keinginan Alisha untuk menikah sudah dibicarakan dengan seluruh keluarga, termasuk kedua anak kembarnya. Ezra tak masalah jika Alisha lebih dulu menikah, begitu juga dengan Azra. Jika memang sang adik harus menikah lebih dulu, dirinya tak keberatan. Dia dan Fathan masih mempersiapkan pernikahan sekaligus menyiapkan hal lain sebelum memulai rumah tangga mereka.
☘️☘️☘️
Di akhir pekan, Irvin datang ke kediaman Juna. Papanya sudah mengatakan padanya soal rencana pendekatan dirinya dengan Alisha. Tak ada penolakan dari pria itu, sejatinya dia juga penasaran akan sosok Alisha yang seakan tak tersentuh oleh siapa pun.
Kedatangan Irvin disambut hangat oleh Nadia juga Juna. Mereka mengajak anak sulung Radix itu berbincang di ruang tengah sambil menunggu Alisha siap. Pandangan mereka teralihkan saat Alisha menuruni anak tangga. Sejenak Irvin terdiam menatap Alisha yang terlihat cantik dalam balutan blouse model tunik dengan lengan tiga perempat yang dipadu dengan jeans hitam.
“Sudah siap?” tanya Nadia yang hanya dijawab dengan anggukan.
Irvin berdiri kemudian berpamitan pada Juna juga Nadia. Alisha mencium punggung tangan kedua orang tuanya sebelum mengikuti langkah Irvin. Pria itu membukakan pintu depan untuk Alisha. Sesudahnya dia menyusul masuk ke dalam mobil. Kendaraan roda empat yang sudah menjadi tunggangan Irvin selama dua tahun terakhir, melaju meninggalkan kediaman Juna.
“Kita mau kemana?”
“Terserah abang aja.”
“Kamu maunya kemana? Hmm.. udah makan belum? Kalau aku belum makan, niatnya mau makan malam bareng kamu.”
“Aku juga belum makan. Ya udah kita makan aja dulu.”
“Kamu mau makan di mana?”
“Hmm… di punclut boleh?”
“Boleh dong. Apa sih yang ngga boleh buat gadis secantik kamu.”
Alisha tersenyum mendengar pujian yang menjurus gombalan. Irvin segera mengarahkan kendaraannya menuju tempat yang sering dijadikan tempat kawula muda untuk berkumpul. Makan malam sambil menikmati udara dingin dan pemandangan Bandung di malam hari.
Irvin melambatkan laju kendaraannya, memilih tempat yang enak untuk makan malam perdananya dengan anak bungsu Juna ini. Alisha memandangi deretan tempat makan yang berjajar rapih. Ini bukan pertama kalinya datang ke tempat ini, namun ini pertama kalinya dia datang berdua saja dengan seorang pria.
Kendaraan Irvin di depan tempat makan yang cukup luas dibanding tempat lain. Ini adalah tempat makanan langganannya. Keduanya turun kemudian memasuki tempat makan tersebut. Sudah cukup banyak juga pengunjung yang datang. Setelah memesan makanan, keduanya naik ke lantai atas. Irvin memilih meja yang berada di paling sudut. Berhadapan langsung dengan panorama yang memperlihatkan kelap kelip lampu di bawah sana.
“Abang sering ke sini?”
“Lumayan sering. Kamu?”
“Kalau sama keluarga sih pernah beberapa kali tapi kalau sama cowok, baru abang.”
“Waduh berarti aku cowok pertama yang bisa kencan sama kamu. Terima kasih princess, suatu kehormatan buatku.”
Irvin menundukkan kepalanya seraya menaruh tangannya di dada, seperti tengah menghormat pada putri bangsawan. Alisha tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya. Irvin cukup senang pergi bersama Alisha. Ternyata gadis itu tak sekaku yang diperkirakannya. Tingkahnya cukup menggemaskan, sepeti Olivia, adik keduanya.
Seorang pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Setelah menata hidangan di meja, pelayan tersebut segera berlalu. Alisha menatap aneka hidangan yang tersaji di meja. Perutnya langsung keroncongan melihat nasi merah, ayam goreng serta sambal dan lalapan yang begitu menggoda. Tak lupa cumi asin yang dipesannya tadi juga sudah tersedia.
Tanpa menunggu lama, keduanya menikmati makanan. Lagi-lagi Irvin dibuat tercengang, ternyata Alisha bukan tipe gadis jaim yang menjaga pola makannya di depan seorang pria. Alisha melahap makanannya tanpa malu-malu. Irvin mulai merasa nyaman dengan situasi mereka.
“Mau tambah Al?”
“Ngga ah bang, udah kenyang.”
“Kamu ternyata asik juga ya. Aku pikir kamu tuh kaya gong yang ngga akan bunyi kalau ngga dipukul.”
“Terus menurut abang, aku kaya apa?”
“Kaya kucing Persia yang gemesin.”
“Hahaha… bisa aja dasar kang gombal.”
Lagi Alisha tertawa mendengar gombalan receh Irvin. Dia juga merasa nyaman bersama pria ini. Sosok Irvin sudah seperti Ezra, Kenzie, Aric, Kenan dan Haikal baginya. Tak ada kecanggungan sama sekali.
“Ternyata jalan sama kamu asik juga ya. Tingkah kamu tuh mirip Olivia kalau aku lihat-lihat.”
“Abang juga, kocak kaya bang Aric dan kak Ezra.”
__ADS_1
“Bagus dong, berarti kita bisa jadi teman mulai sekarang.”
“Iya bang.”
Pembicaraan di antara keduanya terus mengalir. Alisha tidak menyangka berbicara dengan Irvin bisa seasik ini. Sepertinya tak ada salahnya membuka hati untuk orang-orang di luar keluarganya. Benar apa yang dikatakan sang bunda padanya. Tidak semua orang berhati culas seperti Lisda dan Mela. Masih banyak orang baik di luar sana yang mau berteman dengan tulus. Seperti yang diperlihatkan para sahabat sang ayah dan kedua kakaknya.
“Bang Irvin udah punya pacar?” Alisha memberanikan diri menanyakan hal yang menjurus pribadi.
“Udah. Tapi kayanya bakalan jadi mantan.”
“Kok gitu? Apa gara-gara aku?”
“Ngga Al, bukan karena kamu. Tapi emang hubungan kita udah ngga bisa diteruskan lagi. Diem-diem dia selingkuh dengan sahabatnya.”
Alisha cukupp terkejut mendengarnya. Bukan hanya soal pengkhianatan sang pacar, tapi juga ketenangan Irvin saat mengatakannya. Irvin sendiri sengaja membicarakan masalah pribadinya agar Alisha semakin nyaman dengannya dan akhirnya mau terbuka soal pribadinya juga.
“Abang ngga marah?”
“Awalnya iya. Kecewa, marah dan rasanya mau menghajar selingkuhannya. Tapi aku coba introspeksi diri, ngga mungkin ada perselingkuhan tanpa apa penyebabnya dan mungkin saja penyebabnya justru dari aku.”
“Terus abang udah tahu penyebabnya apa?”
“Hmm.. karena kurang belaian,” Irvin terkekeh pelan membuat Alisha semakin mengerutkan keningnya.
“Kurang belaian gimana maksudnya?”
“Menurutnya aku ngga sayang sama dia hanya karena aku jarang melakukan kontak fisik dengannya. Aku ke dia memang ngga lebih dari pegangan tangan, cium pipi atau kening aja. Aku ngga pernah nyangka kalau dia menginginkan hal lebih dari itu. Dan aku belum bisa melakukan itu.”
“Abang belum bisa, ngga bisa atau ngga mau?”
Tak ada jawaban dari Irvin. Pria itu Nampak termenung sejenak. Dia juga tidak tahu apakah yang dilakukannya karena benar ingin menjaga pasangannya atau memang tidak ingin melakukannya karena belum yakin kalau pacarnya itu adalah perempuan yang tepat untuknya.
“Aku juga ngga tahu Al. Tapi aku bersyukur ngga melakukannya, karena nyatanya dia bukan perempuan setia.”
“Abang kenapa belum putus?”
“Sengaja. Aku mau melihat sejauh mana mereka berhubungan di belakangku. Aku juga ingin tahu apa dia berani memutuskanku. Bahkan aku sengaja bersikap lebih manis padanya dan membelikannya banyak barang untuknya. Aku.. ingin sedikit menyiksa batinnya. Memberikan perasaan bersalah karena sudah mengkhianati kekasih sebaik aku, hahaha…”
“Ish.. jahat juga abang. Tapi aku setuju bang, kadang membalas orang yang selingkuh ngga harus dengan kasar, tapi gunakan cara halus juga. Terus sampai kapan abang mau bertahan? Ada rencana mutusin dia?”
“Untuk saat ini belum. Aku nunggu dia yang mutusin. Tapi kalau terlihat dia ingin kembali padaku atau aku sudah menemukan perempuan lain yang kucintai, aku yang akan mengakhiri hubungan ini.”
Alisha menganggukkan kepalanya. Diliriknya Irvin yang tengah menghabiskan jeruk hangat miliknya. Gadis itu mulai menimbang-nimbang apa perlu mengatakan perasaan yang sebenarnya. Mengingat Irvin yang begitu terbuka padanya, rasanya tak salah kalau dia juga melakukannya.
“Kalau kamu sendiri gimana? Udah ada cowok yang kamu suka?” pertanyaan Irvin sukses membuyarkan lamunan Alisha. Untuk sejenak gadis itu terdiam.
“Hmm.. sebenernya ada sih bang. Tapi aku ngga tahu dianya seperti apa sama aku.”
“Siapa?” Irvin memperhatikan Alisha yang masih bungkam.
“Boleh aku tebak?” lanjutnya lagi dan dijawab anggukan oleh Alisha.
“Viren.”
Uhuk.. uhuk..
“Berarti bener Viren. Ya ampun.. dari sekian banyak cowok yang berseliweran di dekat kamu, kenapa harus suka sama si chiler sih? Kamu bisa kena hipotermia plus sesak nafas kalau sama tuh orang. Atau jangan-jangan kamu suka gara-gara dia yang selametin kamu pas kamu hampir diculik?”
Wajah Alisha kembali merona mendengar tebakan Irvin yang memang benar adanya. Sejak aksi penyemalatan Viren tempo hari, perasaan Alisha mulai condong padanya. Dari kacamata gadis itu, Viren seperti bentukan lain dari Abi, role modelnya selama ini. Ditambah kejadian saat resepsi Kenzie, membuat perasaan Alisha bertambah dalam pada Viren.
“Kalau kamu suka sama Viren, kenapa ngga bilang sama ayah kamu. Pasti ayah kamu setuju. Ayahmu dan om Kevin itu bersahabat baik sejak dulu. Pasti mereka senang kalau besanan, kaya om Abi sama om Jojo.”
“Tapi aku takut kalau bang Viren suka sama Anya. Mereka kan deket banget.”
Kali ini giliran Irvin yang terdiam. Benar juga apa yang dikatakan gadis itu. Viren tidak pernah peduli dengan gadis lain, kecuali Anya. Bisa jadi pria dingin itu memang menyukai Anya. Mendadak Irvin merasa iba.Walau baru pertama kali mengobrol panjang lebar dengan Alisha, namun dia mulai merasa dekat. Tak rela rasanya melihat Alisha yang baru pertama kali merasakan cinta harus layu sebelum berkembang.
“Mau aku bantu? Biar aku yang cari tahu soal perasaan Viren.”
“Abang serius?”
“Hmm.. serius. Tapi ada syaratnya.”
“Apa?”
“Mulai sekarang kita adalah sahabat. Deal?”
Irvin mengulurkan tangannya. Untuk sesaat Alisha hanya tertegun memandangi tangan Irvin yang terulur padanya. Dia masih takut dengan hubungan yang berkaitan dengan persahabatan. Dipandanginya sejenak wajah Irvin yang nampak tulus. Tangan Alisha mulai bergerak menyambut uluran tangan pria itu.
“Mulai hari ini, kita adalah sahabat. Kamu boleh cerita apapun yang mengganggu perasaanmu. Begitu juga aku, akan berbicara denganmu jika aku ingin berbagi cerita. Oke?”
“Oke.”
“Makasih ya Al, for trusting me (untuk mempercayaiku).”
“Sama-sama bang. Terima kasih mau berteman denganku dengan tulus.”
“Tidak semua orang seperti Mela. Masih banyak orang yang ingin berteman denganmu. Kamu tahu kenapa? Karena kamu gadis yang baik, kamu memiliki perasaan yang tulus. Bukalah mata dan hatimu, Al. Banyak orang yang menyayangimu dengan tulus, salah satunya aku. Dan ini bukan gombalan.”
Terdengar tawa kecil Alisha mendengar ucapan Irvin. Sepertinya dia akan menuruti apa yang dikatakan Irvin. Membuka mata dan hati, berhenti menutup diri, menikmati masa muda tanpa mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi.
☘️☘️☘️
Sambil bersenandung kecil Anya melangkahkan kakinya memasuki gedung perkantoran J&J Entertainment. Hari ini dia ditugaskan kakaknya mengantarkan berkas untuk Barra. Mendengar Barra dan Irvin tengah melakukan audisi untuk film terbaru mereka, gadis itu bergegas menuju lantai lima.
Sesampainya di lantai lima, nampak sudah banyak peserta audisi yang datang. Anya menghampiri Debby, wanita yang diminta mengatur jalannya audisi. Ditepuknya pundak wanita berusia awal tiga puluhan itu. Wajah Debby tersenyum melihat Anya, gadis yang sering membuatnya terpingkal karena tingkah konyolnya.
“Mba.. lagi audisi apa nih?”
“Film baru. Genre komedi romantis, cerita Romeo and Juliet versi Indonesia. Ini kita lagi nyari pemeran buat Julietnya. Karakternya ceria, pintar dan somplak kaya kamu hahaha…”
“Aku mau ikut audisi dong.”
“Bukan ikut audisi kamu namanya tapi mengacaukan audisi hahaha...”
“Pokoknya aku mau ikut. Aku dandan dulu ya.”
__ADS_1
Sambil mengedipkan mata, Anya melangkah menuju lift. Dia harus kembali ke mobil untuk mengambil beberapa perlengkapan untuk mengikuti audisi. Debby memandangi punggung Anya yang semakin menjauh. Dia penasaran apa yang akan dilakukan oleh gadis itu.
Lima belas menit kemudian Anya kembali ke tempat audisi. Debby ternganga melihat penampilan gadis itu. Hampir saja dia tak mengenali kalau wanita yang tengah berdiri di depannya adalah Anya. Semua peserta yang ada di sana juga langsung mengalihkan pandangannya ke arah Anya.
“Ini kamu, Nya?”
“Iya.. gimana mba? Oke kan?” Anya mengedipkan matanya.
Debby tak dapat menahan tawanya melihat penampilan Anya yang berdandan seperti wanita penggoda. Riasan wajahnya begitu menor, alisnya dibuat tebal seperti ulat bulu, bibirnya dipoles lipstick warna merah terang. Gadis itu memakai wig rambut bergelombang berwarna pirang. Pakaian yang dikenakannya press body, dan entah apa yang dimasukkan ke dalam branya, bukit kembarnya nampak padat, berisi dan bentuknya lumayan besar.
“Ayo mba,” bisik Anya.
Sambil terkikik geli, Debby membawa Anya masuk setelah peserta audisi sebelumnya keluar. Keempat juri yang tengah mengaudisi nampak berbincang membicarakan peserta yang baru saja menyelesaikan audisi.
“Siang pak, ini peserta audisi selanjutnya.”
Kompak keempat juri itu melayangkan pandangannya ke arah Debby dan peserta audisi yang berdandan menor. Keempatnya terlihat shock melihat penampilan Anya. Irvin yang tengah minum sampai tersedak.
“Astaga ondel-ondel dari mana tuh?” seru Barra.
“Kalo Julietnya model begini, yakin bangkrut kita,” celetuk juri 1.
“Tuh muka udah kaya lukisan abstrak,” komentar juri 2.
“Kok mukanya ngga aneh ya, kaya pernah lihat di mana gitu,” sambung Irvin.
“Di lampu merah kayanya, tempat si Nancy mangkal,” Barra terpingkal sendiri.
Kalau tidak ingat tengah mengerjai para juri audisi, ingin rasanya Anya menyumpal mulut Barra yang sudah mengatainya ondel-ondel dan teman sejawat Nancy. Tapi demi totalitas akting, gadis itu diam saja. Debby membalikkan tubuhnya karena tak kuat menahan tawa.
“Coba perkenalan dulu,” titah juri 1.
“Selamat siang… perkenalkan nama saya Minceehhh, umur 21 tahun, asal Soreang.”
“Ngga salah tuh umurnya? Korupsi berapa tahun?” seru Barra.
“Bukan korupsi massshhh… cuma diskon aja dikit hihihi…”
“Kamu mau audisi jadi siapa? Jujur aja kalau buat jadi Juliet, ngga masuk kategori kamu,” ucap Irvin.
“Aku mau audisi jadi istrinya pak Barra, boleh ngga?”
Anya menaruh sebelah tangannya di pinggang sambil menundukkan sedikit tubuhnya, matanya mengedip pada Barra diiringi gerakan bibirnya yang dibuat seseksi mungkin. Barra sampai bergidik dibuatnya.
“Ogah!! Saya masih normal ya. Ngga minat ama ubur-ubur beracun kaya kamu.”
“Lebih baik kamu keluar. Ngga ada peran yang cocok sama kamu,” nada suara Irvin terdengar ketus.
“Kalau pak Barra ngga mau, sama pak Irvin juga boleh. Aku siap dilamar kok. Mas kawinnya odading atau kue balok juga boleh.”
“Bentar-bentar, kok gue curiga ya sama nih cewek.”
Barra bangun dari duduknya lalu menghampiri Anya. Dia mendekatkan wajahnya , memperhatikan raut Anya. Kemudian tangannya bergerak menarik wig yang digunakan oleh gadis itu.
“Hmm… si keong racun. Gue udah curiga dari tadi.”
Dengan kesal Barra menjtak kepala Anya. Gadis itu hanya terpingkal saja, senang bisa mengerjai para juri audisi. Irvin menggelengkan kepalanya. Matanya terus memperhatikan Anya yang masih belum selesai tertawa. Tiba-tiba saja dia teringat ucapan Alisha soal hubungan Anya dengan Viren.
“Udah sana balilk, gangguin orang aja.”
“Kan biar kalian terhibur.”
“Terhibur ngga, stress iya lihat penampilan kamu.”
“Aku nganterin berkas dari bang Aric.”
“Mana berkasnya?”
“Di meja depan.”
“Ayo..”
Barra menarik lengan Anya keluar dari ruang audisi. Irvin bangun dari duduknya lalu bergegas menyusul, dia perlu berbicara sebentar dengan gadis itu. Anya mengambil berkas yang dibawanya tadi dari meja pendaftaran lalu memberikannya pada Barra.
“Bang.. aku haus, beliin minum kek.”
“Ck.. nyusahin aja. Deb.. audisi break dulu sepuluh menit.”
“Iya pak.”
Dengan wajah sumringah Anya mengikuti Barra menuju lift. Irvin juga mengikuti kedua orang itu masuk ke dalam lift.
“Kamu pake apaan jadi segede gini?” Barra menunjuk dada Anya yang ukurannya sebesar buah melon.
“Rahasia dong hahahaha..”
“Nya.. kira-kira Viren sawan ngga lihat kamu kaya gini?” celetuk Irvin.
“Dih napa jadi nyasar ke si frozen man. Kalau dia lihat paling cuma komen, kesambet apaan lo? Hahahaha…”
“Paham bener,” sahut Irvin lagi.
“Calon suami si Anya,” celetuk Barra.
“Dih ogah! Kaya ngga ada cowok lain aja.”
TING
Pintu lift terbuka. Saat Anya akan melangkah keluar di depan lift berdiri pria yang dulu di Singapura penah mengikutinya. Mata Anya membelalak, sontak dia berbalik ke arah Barra lalu menarik jas yang dikenakan pria itu kemudian menyembunyikan wajahnya di dada Barra. Refleks Barra memeluk punggung Anya.
Hanna yang ternyata tengah menunggu lift, terkejut melihat Barra tengah memeluk seorang perempuan. Dengan langkah tergesa, Hanna segera pergi. Barra yang juga terkejut melihat Hanna, segera melepaskan pelukannya kemudian berlari mengejar gadis itu. Anya hanya berdiri memantung sembari memegangi liontin kalungnya. Irvin melihat kesal pada Anya, gadis itu baru saja membuat kesalahpahaman di antara Barra dan Hanna. Irvin tahu betul bagaimana perjuangan Barra untuk menaklukkan hati Hanna.
☘️☘️☘️
**Haii.. mamake kambek. Upnya siang karena kemarin ada kendala sama laptopnya😭
__ADS_1
Buat yg nanyain novel Nick. Nih mamake kasih lagi gambarnya. Novel ini ada di akun ponakan mamake, D'adrianz. Ketik aja judulnya atau nama othornya, oke😉**