
“Kamu pikir ini kantor nenek moyangmu hah!! Bisa masuk dan keluar seenak jidatnya. Dari mana kamu selama beberapa hari?!”
Ruby terkesiap melihat kemarahan Cakra. Selama bekerja di Metro East, baru kali ini dia melihat kemarahan asisten Abi itu. Cakra berdiri sambil bertolak pinggang, matanya menatap Ruby penuh intimidasi.
“Ma.. maaf pak. Beberapa hari yang lalu saya kena musibah.”
“Kamu ngga punya hp? Kenapa ngga hubungi kantor?”
“Hp saya hilang pak. Maaf.. sekali lagi saya minta maaf.”
“Ya sudah. Kamu beruntung pak Abi sedang cuti. Sekarang tanya Anfa, apa saja pekerjaan yang sudah kamu lewatkan.”
“Baik pak.”
Ruby bergegas menuju ruangannya. Di sana Anfa sudah menunggunya. Selama Ruby menghilang, dia yang ditugaskan menjadi sekretaris pengganti. Setelah Ruby berlalu, Cakra masuk ke ruangannya.
Sekar yang sedari tadi hanya menjadi penonton menghampiri Cakra. Gadis itu menarik kursi di depan meja kerja atasannya.
“Bang Cakra ngga usah sok-sokan jutek kaya kak Abi deh. Ngga pantes tahu.”
“Masa?”
“Iya. Ngga ada bakat.”
“Bakat aku emang cuma satu sih.”
“Apa?”
“Mencintaimu.”
“Dih... bakat kabutuh meureun.”
“Iya bener.. butuh kasih sayangmu.”
BLUSH
Wajah Sekar memerah mendengar rayuan receh Cakra. Gadis itu cepat-cepat bangun dari duduknya kemudian menuju mejanya. Kini giliran Cakra yang beranjak menuju meja gadis itu. Dia menempelkan bokongnya ke atas meja Sekar.
“Se.. nanti makan siang bareng yuk. Sambil kita merajut ayat-ayat cinta.”
“Apa sih bang, gaje banget sih.”
“Karena ngga kunjung ada jawaban dari kamu, abang jadi gaje kaya gini. Makanya kasih keputusan dong.”
“Keputusan apa? Keputusan pidana?”
“Iya, keputusan pidana karena sudah mencuri hatiku.”
“Bang... salah makan ya tadi pagi?”
“Bukan salah makan, cuma kurang vitamin. Vitamin cinta kamu.”
“Apaan sih, udah sana.. kerja.. kerja.. kerja..”
Sekar mendorong tubuh Cakra agar menjauh dari meja kerjanya. Dia tak tahan terus menerus diberondong gombal receh pemujanya. Walau receh, tak ayal membuat pipinya bersemu merah. Cakra tersenyum melihat Sekar yang salah tingkah. Sebelum pergi dia melayangkan fly kiss disertai kedipan mata.
Sekar berusaha tak mempedulikan tingkah konyol pria itu. Namun dirinya juga tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Kata-kata Cakra sukses membuat hatinya berbunga-bunga dan sedikit berdesir.
Sementara itu di ruangan lain, Ruby tengah merasakan ketegangan ketika berhadapan dengan Teddy. Wanita itu baru saja mengantarkan berkas-berkas yang harus ditanda tangani. Pria paruh baya itu menatap tajam pada sekretaris anaknya itu.
“Sudah lama bekerja di sini?”
“Baru dua bulan pak.”
“Hmm... apa kamu betah bekerja di sini?”
“Iya pak.”
__ADS_1
“Sudah menikah?”
“Be.. belum pak.”
“Ya sudah. Bagikan berkas ini ke tiap departemen. Panggil Anfa dan Cakra ke ruangan.”
“Baik pak.”
Ruby menundukkan kepalanya kemudian berjalan keluar ruangan. setelah memberitahu Anfa, wanita itu menuju ruangan Cakra. Setelah itu, dia menuju departemen lain untuk membagikan berkas yang tadi ditanda tangani Teddy.
Cakra dan Anfa masuk ke dalam ruangan bersamaan. Teddy meminta keduanya duduk di sofa, tak lama dia menyusul ke sana. Teddy mendudukkan bokongnya di sofa single, jarinya mengetuk-ngetuk sandaran sofa.
“Sekretaris Abi, Ruby... dia itu adiknya Fahira kan?”
Cakra terkejut Teddy juga mengetahui identitas Ruby. Dia memandang sekilas pada Anfa Tapi pemuda itu hanya mengangkat bahunya saja karena tak tahu menahu perihal Fahira, mantan istri Abi.
“Iya pa. Kok papa tahu?”
“Dulu Abi pernah minta tolong cari tahu soal Ruby, demi Fahira tentunya. Apa yang dilakukan gadis itu di sini? Apa dia punya motif terselubung?”
“Sepertinya pa. Bahkan dia pernah berusaha mencelakai Nina saat menjelang pernikahan.”
“Apa?” kini giliran Anfa yang terkejut.
“Iya Fa. Ruby itu rubah betina, kamu harus hati-hati sama dia,” peringat Cakra.
“Abi tahu soal ini dan dia diam saja?”
“Jujur pa, aku ngga tahu apa yang dia rencanain. Tapi sepertinya Abi sudah mulai bergerak. Beno yang tahu apa rencana Abi.”
“Kamu ngga tahu?”
“Ngga pa. Si kutu kupret itu main kucing-kucingan,” kesal Cakra.
“Hahaha.. mungkin karena kamu bakalan kasih ceramah panjang lebar sama dia, makanya dia lebih memilih Beno.”
“Percayakan saja sama anak itu. Apalagi ada Beno yang membantunya. Lalu, bagaimana denganmu Fa? Apa soal identitasmu sudah selesai?”
Teddy mengalihkan pandangannya pada Anfa. Abi sudah menyerahkan urusan Anfa pada sang pengacara. Lagi-lagi dia tak mendiskusikan tindakan yang diambilnya terhadap orang tua angkat Anfa.
“Alhamdulillah sudah pa. Soal ijazah sekolah, mungkin bulan depan baru keluar. Tapi untuk kartu identitas juga akta kelahiran sudah beres.”
“Lalu orang tua angkatmu bagaimana?”
“Mama sama papa diwajibkan melakukan pengabdian diri di daerah terpencil selama 15 tahun. Mereka akan berpindah dari satu IDT ke IDT lainnya sebagai relawan. Jujur, aku yang minta hukuman mereka diganti pa. Biar bagaimana pun juga, mereka sudah merawatku sejak kecil. Aku ngga tega melihat mereka berada dibalik jeruji. Alhamdulillah kak Abi setuju.”
“Ya, hukuman itu memang lebih baik. Semoga saja lewat hukuman itu mereka bisa menyadari bahwa masih banyak orang di luar sana yang lebih menderita dari mereka. Dan papa salut kamu bisa mengubah keputusan kakakmu. Abi itu cukup keras kepala.”
“Dan sadis,” sambar Cakra.
“Hehehe.. iya pa. Sebenarnya bukan aku yang bujuk kak Abi, tapi kak Nina.”
“Pantes... kalau udah kena virus bucin mah susah,” lagi-lagi Cakra berkomentar. Teddy hanya tersenyum mendengarnya. Setelah tak ada yang dibicarakan lagi, Cakra dan Anfa kembali ke ruangannya masing-masing.
☘️☘️☘️
“Se.. makan siang bareng yuk.”
“Traktir ya bang.”
“Iya.. kamu mau makan apapun aku traktir. Asal jangan makan orang aja.”
“Sumanto kali.”
Sekar membereskan berkas-berkas yang ada di mejanya. Diambilnya ponsel lalu dimasukkan ke dalam tas. Tak lama dia keluar dari meja kerjanya, mengikuti langkah Cakra keluar dari ruangan.
“Mau makan dimana?”
__ADS_1
“Aku lagi pengen makan lotek.”
“Kamu ngidam Se? Padahal aku belum transfer cebong loh ke kamu.”
Sebuah pukulan mendarat di lengan Cakra tapi pria itu hanya terkekeh saja. Setelah membukakan pintu mobil untuk Sekar, dia segera masuk lalu duduk di belakang kemudi. Tak lama Honda Civic miliknya keluar dari area parkir gedung kantor.
Tanpa banyak bertanya, Cakra segera melajukan kendaraannya menuju ke daerah buah batu tepatnya di daerah Lengkong. Di sana tukang lotek langganan Sekar mangkal. Penjualnya adalah ibu-ibu berusia sekitar 45 tahun. Tubuhnya gempal dan mulutnya tak pernah berhenti mengoceh saat sedang mengulek. Sekar bilang penjual lotek yang mempunyai jari-jari gendut lebih enak rasa ulekannya. Entah dapat hipotesis dari mana gadis itu.
Deretan mobil sudah berjajar di dekat kios lotek langganan Sekar. Cakra terpaksa memarkir kendaraannya cukup jauh dari Kios. Ruangan berukuran 4x6 itu sudah dipenuhi pengunjung yang ingin mengisi perutnya. Cakra pun memilih makan di dalam mobil saja, karena kurang nyaman duduk berdesakan dengan pengunjung lain.
Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya pesanan lotek mereka selesai. Cakra membawa dua piring di tangannya, mereka kembali menuju mobil. Lotek buatan Ceu Romlah memang tidak ada duanya, rasanya begitu maknyuss, tak heran menjelang jam makan siang sudah banyak pembeli yang datang. Sekar menyantap lotek dengan lahap. Cakra tersenyum melihat cara Sekar makan. Gadis itu tak pernah jaim makan di depan pria manapun, termasuk dirinya.
“Makannya pelan-pelan Se.. ngga akan ada yang minta juga.”
“Laper bang ditambah loteknya juara, mantul. Apalagi aku udah lama ngga makan lotek ceu Romlah.”
Cakra menggelengkan kepalanya. Orang lain mungkin tak akan percaya kalau Sekar adalah anak salah satu konglomerat di Indonesia. Walaupun pakaian yang dikenakannya bermerk, namun dia tak pernah tampil mencolok. Bahkan gadis itu tak malu makan di warung pinggir jalan.
“Se.. nikah yuk.”
Uhuk.. uhuk..
Sekar tersedak makanannya ketika mendengar ucapan Cakra. Dia terus saja terbatuk, tenggorokannya seperti terbakar, hidungnya juga terasa panas karena lotek pesanannya cukup pedas. Cakra menyodorkan sebotol air mineral. Dengan cepat gadis itu meneguknya.
“Segitu kagetnya kamu denger ajakan aku.”
“Lagian bang Cakra bercandanya keterlaluan.”
“Siapa yang bercanda Se? Aku serius loh.”
“Emang apa sih yang abang suka dari aku?”
“Emang butuh alasan ya buat suka sama seseorang? Ngga kan Se..”
Sekar terdiam, memang tak butuh alasan untuk jatuh cinta pada seseorang. Tapi Sekar penasaran saja, kenapa sahabat kakaknya ini begitu tergila-gila padanya, bahkan sejak dia masih duduk di bangku SMA.
“Sekarang aku tanya, apa yang bikin kamu ngga percaya soal perasaanku?”
“Bang Cakra tuh tukang tebar pesona.”
“Kapan aku tebar pesona Se? Apa bersikap ramah dan tersenyum sama semua orang itu termasuk tebar pesona? Aku bukan Abi yang mukanya keras mulu kaya batu cadas. Senyum itu ibadah, dan alasan aku banyak tersenyum ya biar dapet pahala.”
“Hilih, alasan. Bang Cakra sering bikin cewek baper tau ngga.”
“Aku hanya mencoba bersikap ramah Se, apa itu salah? Terus kalau mereka baper, itu salahku? Apa kabar sama kak Juna? Dia juga selalu bersikap ramah dan banyak tersenyum. Banyak juga yang baper sama sikapnya, apa dia tebar pesona? Ngga kan.”
Sekar kembali terdiam. Tak salah apa yang dikatakan pria itu. Tapi tetap saja, keramahan Cakra dan kebaperan perempuan-perempuan lain membuatnya berpikiran kalau lelaki di sampingnya ini termasuk spesies playboy.
“Kamu inget waktu kamu nangis gara-gara ketinggalan rombongan ikut persami? Melihat kamu nangis, ngga tahu kenapa tiba-tiba ada perasaan untuk melindungimu. Makanya aku inisiatif nganter kamu ke gunung Puntang. Sejak saat itu, aku jatuh cinta sama kamu Se. Aku sempat kecewa pada Abi yang lebih memilih mengantar Fahira belanja dari pada mengantar kamu ke sekolah sampai akhirnya kamu ditinggal rombongan. Tapi di sisi lain aku bersyukur, aku punya kesempatan mengantarmu dan bisa lebih dekat sama kamu.”
“Maaf bang.. tapi aku ngga punya perasaan apa-apa sama abang.”
“Apa kamu ngga mau kasih aku kesempatan?”
Sekar menundukkan kepalanya. Sesungguhnya dia tak tahu apa yang dirasakannya saat ini. Gadis itu hanya tidak mau Cakra terlalu berharap padanya. Cakra menghembuskan nafas panjang. Sepertinya dia memang harus menyerah pada perasaannya. Dirinya juga tidak mau membuat Sekar menjadi tak nyaman bersamanya.
“Kalau gitu aku minta ijin ya, Se.”
“Ijin apa bang?”
“Ijin move on dari kamu. Kalau memang kamu ngga bisa buka pintu hati kamu buatku, biar aku yang menjauh. Aku harap kamu bisa mendapatkan laki-laki baik yang mencintaimu sepenuh hati.”
Sekar tertegun mendengar penuturan Cakra. Entah mengapa ada perasaan tak rela mendengar kalimat barusan. Dia terjengit saat Cakra mengambil piring kosong dari tangannya. Pria itu turun dari mobil lalu menuju kios untuk mengembalikan piring dan membayar makanan.
Tak lama Cakra kembali. Tanpa berbicara, dia melajukan kendaraannya kembali ke kantor. Suasana seketika menjadi hening dan canggung. Beberapa kali Sekar melirik ke arah pria itu, namun Cakra hanya menatap lurus ke depan tanpa ada keinginan untuk berbicara dengannya.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Hayo Sekar, bang Cakra mau move on tuh, gimana dong?