
“Frey.. udah dong marahnya.”
Ravin melihat Freya yang tengah duduk di kursi samping pengemudi. Gadis itu mengarahkan pandangannya ke jendela samping dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Segala permohonan maaf, alasan serta bujukan Ravin masih belum bisa meredakan kekesalannya.
Baru saja Ravin akan membuka mulutnya lagi, ponsel miliknya berdenting. Sebuah pesan masuk dari sekretarisnya yang mengatakan persiapan untuk acara rapat kerja nasional besok pagi sudah selesai dan dirinya harus mengecek langsung karena klien adalah salah satu partai besar yang ada di Indonesia. Ravin menyalakan mesin mobilnya kemudian melajukan kendaraan roda empat itu.
Freya membuka ponselnya, Remy mengirimi pesan padanya, meminta dirinya datang ke hotel untuk bertemi dengan panitia rakernas. Freya dan Remy yang ditunjuk mengurus semua itu. Karenanya mereka harus bertemu dengan klien.
Gadis itu melihat ke arah jalan, jalan yang mereka lalui mengarah pada hotel Arjuna. Sepertinya Ravin juga telah mendapatkan pesan yang sama. Suasana perjalanan begitu sunyi, Freya masih setia menutup mulutnya. Begitu juga dengan Ravin, seharian ini raganya lelah dan bertambah lelah dengan sikap Ferya yang terus mendiamkannya. Tanpa gadis itu tahu, pria di sebelahnya tengah menahan rasa sakit di bagian punggungnya. Saat perkelahian, Ravin sempat terkena pukulan tongkat baseball di punggungnya.
Ravin menggerakkan kemudinya memasuki Arjuna hotel. Pria itu terus memasukkan kendaraannya ke bagian basement lalu berhenti di tempat biasa mobilnya terparkir. Freya langsung turun dari mobil begitu Ravin mematikan mesin mobilnya. Bergegas gadis itu menuju lift tanpa menunggu Ravin. Dia masih ingin memberikan pelajaran pada calon suaminya itu karena sudah ikut membohonginya.
Sambil berlari kecil Ravin menyusul lalu menerobos masuk ke dalam lift yang hampir menutup pintunya. Dia terkejut karena bukan hanya Freya yang ada di sana, melainkan Remy juga Adel. Senyum Adel langsung mengembang melihat Ravin, membuat Freya mendelik kesal ke arah wanita itu. Ravin yang sudah kehilangan mood, berdiri membelakangi Adel tanpa mengucap sepatah katapun. Bahkan pria itu tak membalas senyum Adel.
Begitu lift sampai di lantai dua, Ravin bergegas keluar meninggalkan Freya di belakang. Dia langsung menuju Nakula meeting room untuk melihat persiapan. Deretan meja dan kursi sudah berjejer rapih. Di bagian depan dua meja panjang telah disusun dengan bentuk panel.. Di belakang meja, screen putih sudah terpasang di dinding.
Ravin masuk ke ruangan lain yang ada di sana. Dua meja panjang yang tertutup alas meja berwarna putih juga sudah ada di sana. Meja itu nantinya akan dijadikan tempat untuk menaruh aneka makanan juga minuman untuk coffee break. Ada beberapa kursi juga yang ditata merapat ke dinding.
Selanjutnya pria tersebut menuju ruangan Sadewa dan Karna. Sekali lagi dia mengecek kesiapan di kedua meeting room tersebut. Selesai dengan dua ruangan itu, Ravin menuju ballroom. Total ada tiga buah meeting room yang digunakan untuk rakernas, serta satu buah ballroom untuk acara pembukaan sekaligus penutupan rakernas.
Jelita, sekretarisnya datang lalu mengajaknya melihat berbagai seminar kit yang sudah disiapkan untuk peserta rakernas. Executive Housekeeper atau manajer departemen house keeping datang melaporkan kalau kamar untuk peserta seminar telah disiapkan. Hampir 60% kamar di Arjuna hotel sudah dibooking untuk acara tersebut. Para pegawai di bagian house keeping sejak tadi pagi sudah menyiapkan kamar yang dipesan. Panitia acara mengatakan, selepas maghrib para peserta seminar akan mulai berdatangan.
“Kamar sudah siap semua?” tanya Ravin pada Adi, manajer house keeping.
“Sudah semua pak. Deluxe room, junior suite room dan suite room sudah siap semua.”
“Buffet untuk makan malam bagaimana?”
“Sudah siap pak. Klien minta untuk makan malam di area kolam renang,” jawab Galang, manajer F&B.
“Good. Saya ke kamar dulu. Kalau ada sesuatu, panggil saya.”
“Baik pak.”
Ravin menganggukkan kepalanya kemudian berjalan keluar dari ballroom. Pria itu langsung menuju lift. Tak dipedulikannya Freya yang entah ada di mana. Yang dibutuhkannya adalah mengistirahatkan tubuhnya sebentar karena nyeri di punggungnya benar-benar mengganggu.
Freya yang telah selesai bertemu dengan panitia acara bersama dengan Remy dan Adel segera menuju ballroom. Terakhir dia melihat Ravin berjalan menuju aula besar yang ada di hotel ini. Mata Freya berkeliling mencari keberadaan Ravin sesampainya di sana. Karena tak menemukan keberadaan Ravin, gadis itu menghampiri Jelita yang masih mengawasi para staf banquet yang tengah menyusun meja dan kursi.
“Ta.. pak Ravin mana?” tanya Freya.
“Pak Ravin tadi bilang mau ke kamar.”
Freya langsung membalikkan tubuhnya. Dia bergegas keluar dari ballroom. Di dekat pintu, ada Remy dan Adel yang baru saja akan masuk. Melihat Freya yang nampak terburu-buru, pria itu menahan lengan Freya. Dengan cepat gadis itu menyingkirkan tangan Remy.
“Mau kemana Frey?”
“Ada perlu.”
“Kamu lihat pak Ravin ngga?” tanya Adel.
“Udah pulang.”
“Tumben. Biasanya kalau ada tamu penting atau acara besar pak Ravin ngga pernah pulang. Dia selalu stay di hotel.”
“Apal bener, kaya istrinya aja,” sindir Freya.
“Ya kan aku calon istrinya.”
Freya hanya berdecih, kemudian berlalu pergi. Tak dipedulikannya panggilan Remy padanya. Gadis itu berlari menuju lift, ditahannya pintu yang hampir menutup kemudian masuk ke dalamnya. Jari Freya bergerak memijit tombol 11, lantai di mana kamar Ravin berada. Sambil menunggu kotak besi itu sampai, Freya berusaha menghubungi Ravin, namun panggilannya tidak dijawab.
TING
Dengan cepat Freya keluar dari lift lalu berjalan menuju kamar yang letaknya di bagian ujung. Saat di dekat kamar, dia melihat petugas house keeping berdiri di depan kamar Ravin dengan baskom, handuk kecil serta es batu di dalamnya.
“Buat apa itu?” tanya Freya sesampainya di depan pegawai wanita itu.
“Tadi pak Ravin minta dibawakan ini.”
“Biar saya saja.”
Pegawai itu menganggukkan kepalanya seraya memberikan baskom di tangannya kemudian berlalu pergi. Freya memandangi baskom di tangannya, menebak-nebak mengapa Ravin membutuhkan ini. Dia lalu memijit bel dan tak lama pintu terbuka. Ravin terkejut melihat Freya yang membawakan pesanannya. Gadis itu langsung masuk ke kamar lalu menutup pintu.
“Abang minta ini buat apa?”
Tanpa menjawab pertanyaan Freya, Ravin mengambil baskom di tangan calon istrinya itu lalu menuju kamar mandi. Kesal tak dipedulikan Ravin, Freya menyusul kemudian menepukkan tangannya ke punggung pria itu.
“Aaahhh..” ringis Ravin.
“Abang kenapa?” Freya terkejut mendengar ringisan Ravin.
“Punggungku sepertinya cedera.”
“Kok bisa?”
“Tadi kena tongkat baseball pas Nan diserang.”
Freya terkejut, berjuta perasaan bersalah menyerangnya. Sedari tadi dia mengomel dan mendiamkan Ravin tanpa tahu kekasihnya ini tengah menahan nyeri di tubuhnya. Dia menarik tangan Ravin lalu mendudukkan pria itu di sisi ranjang.
“Buka baju abang, biar aku yang kompres.”
Tak tahan dengan rasa sakit yang mendera, Ravin membuka kancing kemeja, kemudian melepaskan dari tubuhnya. Freya melihat ada sedikit memar di punggung Ravin. Gadis itu lalu membungkus es batu dengan handuk kecil dan menempelkannya ke bagian yang memar.
“Abang pegang dulu sebentar.”
Tangan Ravin memegangi kompresan, sedang Freya mengangkat telepon ekstensi yang ada di nakas. Dia menghubungi operator kemudian meminta salah satu pegawai untuk membelikan obat untuk Ravin serta membawakan makanan. Selesai dengan itu, Freya kembali mengompres punggung Ravin.
“Masih sakit bang?”
“Iya.”
“Kenapa tadi ngga diperiksa pas di rumah sakit.”
“Aku mau periksa tapi kamu keburu marah tadi.”
__ADS_1
“Maaf...” cicit Freya. Tangan gadis itu masih menekan kompres di punggung Ravin.
Setelah beberapa menit, Ravin meminta Freya berhenti mengompres. Pria itu sedikit menggerak-gerakkan lengan dan punggungnya. Walau masih terasa, namun nyerinya sudah sedikit berkurang.
“Aku mau mandi. Kamu pulang aja Frey, malam ini aku tidur di hotel.”
“Aku pulang kalau abang udah makan dan minum obat. Punggung abang kan masih harus diobati. Abang mandi aja dulu.”
Tak ingin berdebat, Ravin bangun dari duduknya lalu menuju kamar mandi. Freya mengambil kemeja yang dikenakan Ravin tadi lalu menaruhnya di keranjang pakaian kotor. Dia lalu mengelilingi kamar yang baru pertama kali dimasukinya. Matanya kemudian tertuju pada sebuah foto yang terpajang di atas meja kerja Ravin. Tangannya terulur mengambil figura berukuran kecil itu. Senyumnya mengembang melihat foto dirinya yang terpajang di sana.
Lamunan Freya terjaga saat mendengar suara bel. Bergegas dia membukakan pintu, seorang bell boy mengantarkan makanan, obat pereda nyeri juga transdermal patch atau koyo untuk meredakan nyeri. Setelah menerima uang sebagai ganti pembelian obat beserta tipsnya, bell boy tersebut segera meninggalkan kamar.
Freya meletakkan makanan beserta obat di atas meja. Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, gadis itu membalikkan tubuhnya. Freya terkejut Ravin keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang hanya menutupi bagian pinggang ke bawah. Dada bidang dan perut kotak-kotaknya terekspos begitu saja. Buru-buru gadis itu membalikkan tubuhnya.
Ravin yang lupa kalau ada Freya di kamarnya, buru-buru mengambil pakaiannya kemudian masuk kembali ke kamar mandi. Freya meraba dadanya yang berdegup kencang. Bohong kalau dia tadi tak penasaran ingin meraba tubuh kekar Ravin. Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha menghapus pikiran nakalnya.
Sadar Frey... jangan mesum lo. Lo kan udah sering lihat bang Ken ama si kompor kaya gitu. Ish.. napa pas lihat bang Ravin, gue jadi mupeng gini. Astaghfirullah.
Freya mengusap wajahnya, berharap pikiran jorok yang tadi sempat mampir sudah pergi jauh. Pintu kamar mandi kembali terbuka. Kali ini Ravin keluar sudah mengenakan pakaian lengkap. Tubuhnya terbalut T-Shirt dan celana joger. Dengan gugup Freya membalikkan tubuhnya.
“Bang, pake ini dulu,” Freya menunjukkan koyo di tangannya.
Ravin melepaskan kaos yang membungkus tubuhnya lalu berbalik membelakangi Freya. Gadis itu menelan ludahnya kelat melihat punggung lebar nan kekar pria itu. Tadi karena fokus mengompres, Freya tak begitu memperhatikannya. Freya membuka koyo kemudian menempelkannya di punggung yang memar.
“Udah bang.”
“Makasih Frey.”
Ravin memakai kembali kaosnya. Dia lalu berjalan menuju sofa, melihat makanan yang tersedia di atas meja seketika membuat perutnya lapar. Freya menyusul duduk di samping pria itu.
“Kenapa pesannya cuma satu? Kamu ngga makan?”
“Abang yang harus makan, kan mau minum obat.”
“Kita makan berdua ya.”
Tangan Ravin terulur mengambil piring yang menyajikan tenderloin steak. Dipotong-potongnya daging tersebut kemudian mulai menyuapkan ke mulut Freya bergantian dengannya. Tak butuh waktu lama, makanan di piring putih itu telah tandas. Jari Ravin mengusap saos yang menempel di sudut bibir Freya. Gadis itu terpaku di tempatnya, sentuhan Ravin membuat dadanya berdesir.
“Udah ngga marah kan?” suara lembut Ravin membuyarkan lamunan Freya. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya.
“Jangan marah lagi. Aku ngga suka lihat kamu marah atau bersedih.”
Belum ada jawaban dari Freya, gadis itu masih berusaha menormalkan jantungnya yang berdetak cepat seperti habis lari maraton saja. Netra Ravin terus menatap wajah cantik Freya, kemudian tatapannya terhenti pada bibir ranum Freya. Seperti ada magnet yang menariknya, Ravin mendekatkan wajahnya kemudian menabrakkan bibirnya di bibir lembut kekasihnya.
Tak ada lum*tan atau pagutan, pria itu hanya menempelkan bibirnya saja. Namun hal itu sukses membuat jantung keduanya bertalu-talu tak karuan. Setelah beberapa saat, Ravin menarik kembali bibirnya. Freya masih terpaku di tempatnya, kesadarannya berhamburan ketika bibir mereka beradu walau hanya hitungan detik.
“Frey..”
“A.. a..ku pulang dulu ya bang.”
“Aku antar.”
“Ngga usah, abang istirahat aja. Aku biar pulang diantar supir.”
“Aku antar sampai basement.”
Di lantai tiga, lift berhenti. Adel dan Remy masuk ke dalamnya. Pandangan mereka langsung tertumbuk pada tangan Freya dan Ravin yang masih menaut erat. Seketika perasaan cemburu menerpa keduanya. Tapi pasangan yang tengah dimabuk cinta itu tak mempedulikannya. Mereka menganggap Adel dan Remy hanya hiasan dinding lift saja.
Sesampainya di basement, Ravin menarik tangan Freya kemudian keluar dari kotak besi tersebut. Suara Adel terdengar memanggil Ravin namun tak dipedulikan oleh pria itu. Sebuah Avanza hitam berhenti di depan mereka. Ravin membuka pintu penumpang bagian depan kemudian meminta supir untuk turun.
“Biar saya yang antar pak. Masuk Frey.”
Ravin memutari bodi mobil. Setelah sang supir turun, pria itu langsung naik ke dalamnya. Dia menarik tali sabuk pengaman di kursi Freya kemudian memakaikan ke tubuhnya. Freya menahan nafasnya sejenak saat tubuh mereka berdekatan. Setelah membelit tubuhnya dengan seat belt, Ravin menjalankan kendaraannya.
“Kenapa jadi abang yang antar?”
“Apa kamu mau Adel terus mengikutiku?”
“Huh.. tuh cewek masih belum nyerah ngejar abang. nyebelin banget.”
“Remy juga. Dia masih suka deketin kamu kan?”
“Udah deh bang, aku males ngomongin dua orang itu.”
Ravin meraih tangan Freya lalu mengecup punggung tangannya lembut. Segurat senyum tercetak di wajah Freya. Kendaraannya yang mereka ditumpangi terus melaju. Ravin mengemudikan mobil berjenis SUV itu hanya dengan sebelah tangan saja. Tangan yang satunya masih menggenggam erat jemari Freya.
Lima menit berlalu, namun Freya masih belum turun, padahal mereka telah sampai di depan rumah. Ravin melepaskan sabuk pengaman di tubuhnya. Kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Freya untuk melepaskan sabuk pengaman gadis itu. Tangan Ravin bergerak menangkup wajah Freya.
“Tiga bulan seperti tiga abad lamanya,” bisik Ravin seraya menautkan kening mereka.
“Aku ngga akan kemana-mana bang.”
“Aku tahu. Hanya saja...” Ravin mengusap bibir Freya yang terus menggodanya.
“Ini begitu menggoda Frey.. tapi aku tahu, begitu aku mencicipinya maka akan ada dorongan lain untuk meyentuhmu. Berawal dari bibir, lalu akan mulai menyentuh bagian-bagian lain dalam dirimu. Aku harus bagaimana Frey?”
“Kita harus menghindari pergi berduaan. Harus ada setan di antara kita.”
“Siapa yang mau jadi setannya?”
“Nan..” Freya meng*lum senyumnya.
“Atau Viren. Sekali-kali jadiin tuh anak obat nyamuk tak berasap boleh juga.”
“Tambah satu lagi.”
“Siapa?”
“Ikal.”
Untuk beberapa saat keduanya terkekeh membayangkan Kenan, Viren dan Haikal bergantian menjadi setan demi mencegah mereka melakukan perbuatan terlarang. Ravin membelai lembut pipi Freya.
“Idemu bagus juga. Mulai besok kita pakai setan-setan itu buat mendampingi kita.”
__ADS_1
“Iya bang.”
“Tapi malam ini, boleh kan aku cium kamu? Just for tonight (hanya untuk malam ini).”
Sejenak Freya terdiam, lalu menganggukkan kepalanya. Dengan lembut Ravin meraih tengkuk Freya lalu membenamkan bibirnya. Jika tadi dia hanya menempelkan bibir saja, tidak kali ini. Ravin sudah mulai memberikan pagutan pelan. Disesapnya bibir atas dan bawah Freya bergantian. Tangannya bergerak mengarahkan tangan Freya untuk memeluk lehernya. Lalu dia menarik pinggang Freya hingga tubuh mereka tak berjarak seiring dengan ciumannya yang bertambah dalam.
☘️☘️☘️
Kenan sibuk melepaskan perban yang membalut kepalanya. Sejatinya tak ada bagian di kepalanya yang terluka, karena terlindungi oleh helm full vest. Pintu ruangannya terbuka, seseorang masuk lalu membantu pria itu melepaskan belitan perban di kepalanya.
“Vir.. sejak kapan lo pake parfum cewek?” tanya Kenan tanpa melihat ke arah orang yang ditanyanya. Dipikirnya Viren yang tengah membantun. Sahabatnya itu memang mengatakan akan menjemputnya di rumah sakit.
Tak ada jawaban dari sang sahabat, Kenan mendongakkan kepalanya. Dia terpaku sebentar saat melihat seorang gadis memakai seragam perawat yang membantunya melepaskan perban. Wangi yang menguar dari tubuh gadis itu, membuat dunia Kenan berhenti sejenak. Setelah tersadar, diliriknya name tag yang tersemat di bagian atas seragamnya. Zahra, bacanya dalam hati.
Selesai melepas perban di kepala Kenan, perawat itu lalu bantu melepaskan perban di tangan dan kaki Kenan. Dia membiarkan saja perawat itu yang melakukannya. Sedang dirinya menikmati pemandangan indah di depannya. Wajah Zahra yang hanya dipoles bedak dan lisptik warna bibir tetap memancarkan kecantikan. Belum lagi rambutnya yang dicepol sederhana, memperlihatkan leher putih nan mulus. Kenan meneguk ludahnya kasar saat membayangkan menempelkan bibirnya di sana. Dengan cepat dia menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran kotor yang tiba-tiba melintas.
“Kenapa mas? Pusing?”
Ya.. Kenan memang dibuat pusing oleh wajah cantik suster itu, belum lagi aroma parfum yang digunakannya membuat pemuda itu mabuk kepayang. Sekarang ditambah mendengar suara Zahra yang lembut namun terdengar s*ksi di telinganya.
“Ngga.. suster beneran suster di sini?” tanya Kenan untuk menghalau pikiran joroknya yang lagi-lagi muncul.
“Iya..”
“Kok bisa?”
“Bisa kenapa mas?”
“Kok bisa bidadari jadi suster.”
Jika gadis lain yang mendapat pujian dari Kenan yang memilik ketampanan di atas rata-rata pasti akan bersemu merah wajahnya. Tapi tidak dengan Zahra, gadis itu hanya menatap Kenan dengan wajah tanpa ekspresi. Kemudian melanjutkan lagi pekerjaannya tanpa mempedulikan ucapan pemuda itu.
“Yah dikacangin gue. cangcimen.. cangcimen.. cangcimen... kuaci, kacang, permennya, seribuan aja.”
Diam-diam Zahra tersenyum mendengar celotehan pasien di dekatnya dan itu tertangkap oleh Kenan. Pria itu menundukkan kepalanya agar sejajar dengan kepala Zahra yang tengah menunduk karena sedang membuka perban di kakinya. Kenan meolehkan kepalanya ke arah Zahra.
“Kalo mau ketawa, ketawa aja sus.. bahaya kalau ditahan. Nanti ngga keluar dari mulut, keluarnya malah dari tempat lain.”
“Udah berapa?” Zahra mengangkat kepalanya kemudian menatap ke arah Kenan.
“Apa?”
“Udah berapa suster di sini yang digodain kamu?”
“Hmm.. berapa ya..” Kenan nampak berpikir sejenak sambil berhitung dengan jarinya. Kemudian dia menunjukkan satu jari telunjuk saja yang diarahkan pada Zahra.
“Cuma satu, ya kamu. Cuma.. kamu.. sayangku di dunia ini.”
Zahra tak bisa menahan tawanya mendengar Kenan menyanyikan lagu dangdut yang begitu melegenda. Hati Kenan bersorak, dia berhasil membuat Zahra menampilkan senyum manisnya.
“Suster tuh cantik loh kalau senyum. Tapi jangan senyum ke lain orang ya, cukup ke aku aja.”
“Masih banyak?”
“Apa?”
“Stok gombalnya?”
“Masih. Mau dengar yang lain?”
“Ngga usah. Simpen aja buat perempuan lain yang seneng digombalin sama kamu.”
“Emang suster ngga suka?”
“Ngga.”
“Ngga salah maksudnya?”
“Kamu sepertinya ada masalah dengan kepercayaan diri ya. Kepedeanmu luar biasa tinggi.”
“Itu salah satu daya pesonaku selain wajah tampanku.”
“Jangan terlalu percaya diri. Kalau jatuh, sakit banget pastinya.”
Kenan hanya terkekeh mendengarnya. Dia semakin bersemangat saja untuk menggoda perawat wanita ini. Namun niatnya batal karena Viren dan Haikal sudah datang menjemputnya. Dia merutuki kedua sahabatnya itu yang datang di saat yang tak tepat.
Zahra membuang semua perban yang tadi di lepasnya ke tempat sampah. Dia lalu mengambil obat dari lemari kecil yang ada di dekat bed Kenan. Setelah memeriksa obat satu per satu, gadis itu memberikannya pada Kenan.
“Kalau nyerinya sudah hilang, obatnya ngga usah diminum lagi. Tapi multivitaminnya tetap dihabiskan ya,” jelas Zahra seraya menyerahkan kantong obat pada Kenan.
“Cuma ini aja?”
“Iya. Luka kamu kan ngga parah, cuma memar di beberapa tempat aja. Kamu sudah bisa beraktivitas kembali.”
“Maksud aku ngga ada pesan-pesan cinta gitu.”
Viren memutar bola matanya. Dengan segera ditariknya tangan Kenan lalu membawa sahabatnya itu keluar ruangan. Tapi Kenan melepaskan diri lalu kembali pada sang suster yang telah berhasil menarik perhatiannya.
“Sus.. boleh minta nomer teleponnya?”
“Boleh... tapi aku ngga mau ngasih.”
“Well it’s hurt. Begini aja, kalau setelah ini kita kembali bertemu di tempat dan waktu yang ngga kita duga, kamu harus kasih nomer telepon kamu. Deal?”
“Ok,” Zahra langsung mengiyakan saja agar pasien genitnya ini segera pulang.
“Aku pegang janjimu.”
Kenan meraih tangan Zahra kemudian mengecup punggung tangannya. Refleks Zahra menarik tangannya. Raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan. Namun Kenan tak peduli. Pemuda itu segera meninggalkannya sambil mengedipkan mata dan melemparkan fly kiss ke perawat berwajah cantik itu.
☘️☘️☘️
**Zahra? Siapa tuuuhhh..
__ADS_1
Anak mamake namanya Zahra. Asik mamake kayanya bakalan besanan ama Abi💃💃💃
Besok jangan nungguin mamake up ya. Sabtu dan Minggu juga mamake ada acara keluarga besar suami. Doakan saja masih bisa up untuk kalian, ok😉**