
Sepuluh hari sudah Abi dinyatakan hilang. Selama itu pula Juna, Cakra dan Jojo menetap di Labuan Bajo untuk memantau secara langsung proses pencarian Abi. Namun hasil pencarian tak membuahkan hasil. Bahkan basarnas memutuskan untuk mengakhiri pencarian. Hanya tinggal dua korban lagi yang belum ditemukan dan kecil kemungkinan keduanya masih hidup mengingat gelombang bisa saja melemparkan mereka kemana saja atau mungkin menenggelamkan tubuh mereka.
Juna tak bisa berbuat apa-apa lagi. Walau berat dia harus menerima keputusan basarnas untuk menghentikan pencarian. Namun dia tetap mengerahkan timnya untuk tetap melakukan pencarian. Berapa lama waktu yang dibutuhkan dan berapa banyak biaya yang dikeluarkan, dia tak peduli asalkan bisa menemukan adik tercintanya.
Usai memberikan perintah untuk tetap melakukan pencarian dan memperluas kembali wilayah pencarian, Juna beserta Cakra dan Jojo kembali ke Bandung. Mereka tak mungkin meninggalkan perusahaan terlalu lama. Terlebih Kevin mengatakan kalau Anwar masih berusaha menggeser Kenzie setelah menemukan sekutu baru.
“Ayo kita kembali ke Bandung. Kenzie membutuhkan kita.”
“Dia masih berulah?” tanya Cakra.
“Hmm.. aku sudah mencari tahu siapa yang bersekutu dengan Anwar. Ternyata pimpinan Nirwana Corporation yang baru. Kamu bisa urus Nugroho?” Juna melihat ke arah Cakra.
“Tenang aja kak. Aku bakal buat dia menyesal. Aku pastikan dia akan lengser dari jabatan yang baru saja didudukinya,” Cakra nampak geram.
“Bagus, aku akan menyingkirkan Anwar,” sorot mata Juna penuh dengan kemarahan.
Jojo hanya tersenyum samar mendengar pembicaraan keduanya. Dia tak bisa membayangkan bagaimana nasib Nugroho juga Anwar, melihat kemarahan Juna dan Cakra, sepertinya kedua orang tersebut tidak akan lolos dengan mudah. Mereka mencari masalah di saat yang tidak tepat.
☘️☘️☘️
Kepulangan Juna disambut oleh Nadia dan ketiga anaknya. Mereka juga bersedih ternyata sang ayah masih belum bisa menemukan papa mereka. Anak-anak Juna memang memanggil Abi dan Nina dengan panggilan papa dan mama. Dan anak-anak Abi memanggil ayah dan bunda pada Juna juga Nadia.
Setelah membersihkan diri, Juna mengistirahatkan tubuhnya berbaring di kasur. Selama memantau pencarian Abi, Juna tak pernah bisa tidur nyenyak. Bahkan tak jarang pria itu hanya tidur tiga jam saja. Setiap mendapat laporan tentang orang hanyut yang ditemukan, dia selalu dengan cepat mendatanginya.
Nadia masuk ke dalam kamar membawakan secangkir teh hangat untuk suaminya. Dia mendudukkan diri di sisi ranjang setelah meletakkan cangkir di atas nakas. Juna menegakkan tubuhnya kemudian menyandarkan punggungnya di headboard ranjang. Tangannya meraih cangkir kemudian menyesapnya hingga habis setengah.
“Masih belum ada kabar tentang Abi?”
“Hmm.. aku takut Nad.. aku takut akan benar-benar kehilangannya.”
“In Syaa Allah, Abi akan baik-baik aja. Tuhan tahu masih banyak orang yang membutuhkannya, menginginkannya untuk hidup. Dia masih punya banyak alasan untuk hidup. Mas jangan berputus asa.”
“Mudah-mudahan Nad.”
Dering ponsel Juna menginterupsi pembicaraan suami istri tersebut. Melihat nomor yang melakukan panggilan, Juna segera mengangkatnya. Nadia memberhatikan wajah suaminya yang semakin terlihat suram ketika menerima panggilan. Setelah berbicara beberapa saat, panggilan pun berakhir.
“Kenapa mas?”
“Mereka baru saja menemukan korban yang masih hilang. Dia ditemukan cukup jauh dari lokasi kapal karam dan sudah meninggal. Sekarang aku benar-benar takut, Nad. Apa Abi masih bertahan? Aku takut, Nad.”
Juna meraih tubuh Nadia, tangisnya pecah dalam pelukan sang istri. Kesedihan dan ketakutan bercampur menjadi satu memenuhi hatinya. Dirinya benar-benar tak sanggup jika harus kehilangan sang adik dengan cara tragis seperti ini.
“Maafkan aku, ma, pa. Aku gagal menjaga Abi,” ucap Juna di sela-sela tangisnya. Airmata Nadia mengalir mendengar ucapan putus asa suaminya.
Di luar kamar, ketiga anak mereka hanya bisa terpaku di depan pintu. Mereka tadinya ingin masuk dan melepas rindu bersama sang ayah. Namun melihat keadaan Juna, mereka mengurungkan niatnya. Melihat ayahnya yang menangis tersedu, Alisha yang paling mudah tersentuh ikut menangis.
“Papa pasti selamat kan kak?” tanya Alisha dengan airmata berderai.
“Hmm.. papa pasti selamat. Papa adalah orang yang kuat, dia bukan orang yang akan menyerah begitu saja. Ada mama Nina, Ken, Frey dan Nan yang menjadi kekuatannya. Kita juga harus mendoakan papa supaya cepat kembali.”
Alisha hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Ezra. Dipeluknya tubuh kakak laki-lakinya ini. Azra yang sedari tadi hanya diam, merentangkan kedua tangannya kemudian memeluk kedua saudaranya.
☘️☘️☘️
Dengan secangkir kopi panas di tangannya, Adinda berjalan menghampiri Jojo yang tengah duduk di balkon kamar. Suaminya itu masih bersedih mengingat sahabatnya yang belum juga ditemukan. Adinda menaruh cangkir di meja, kemudian tangannya memijat bahu sang suami.
Jojo memejamkan matanya menikmati pijatan sang istri. Di satu sisi dia senang bisa kembali berkumpul bersama anak dan istrinya. Di sisi lain, hatinya masih sedih karena Abi belum juga ditemukan. Apalagi tadi Juna memberi kabar korban yang hilang sudah ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Kini hanya tinggal Abi yang belum ditemukan. Jojo terus berharap semoga ada keajaiban untuk sahabatnya itu.
“Bagaimana keadaanmu dan anak-anak selama panda ngga ada?”
“Alhamdulillah baik, panda. Hampir setiap hari Barra ke rumah kak Abi untuk menghibur Frey dan Nan.”
“Anak itu perhatian juga,” Jojo tertawa kecil. Sejak kecil Barra senang sekali menjahili Freya, namun nyatanya pemuda itu peduli pada temannya itu.
“Masih belum ada kabar soal kak Abi?”
“Belum. Panda takut, semakin lama dia ditemukan, semakin tipis harapannya hidup.”
“Panda jangan bilang begitu. Tetap harus berprasangka baik pada Allah. Mungkin Allah sudah menyelamatkan kak Abi di suatu tempat, hanya saja kita masih belum bisa menemukannya. Mungkin Allah ingin melihat seberapa keras usaha kita.”
Jojo terdiam merenungi ucapan sang istri. Semakin bertambahnya usia, istri kecilnya ini semakin bertambah dewasa. Dalam hatinya mengamini ucapan Adinda. Jojo mengambil cangkir kopinya kemudian menyesapnya perlahan. Ditaruhnya kembali kopi ke tempatnya semula. Lalu pria itu bangun dari duduknya.
“Panda mau lihat anak-anak dulu.”
Jojo keluar dari kamarnya kemudian menaiki tangga yang terletak di dekat ruang makan. Tangannya bergerak mengetuk pintu kamar. Karena tak ada jawaban, Jojo langsung membuka pintu kamar. Terlihat Naya sudah tertidur pulas. Dia berjalan mendekati gadis itu kemudian mendaratkan kecupan di keningnya.
Kaki Jojo kembali melangkah menuju conecting door yang ada di sisi sebelah kanan lalu membukanya. Nara juga juga sudah tertidur. Pria itu melakukan hal yang sama pada kembarannya tadi. Setelah membenarkan letak selimut anaknya, Jojo keluar dari kamar. Selanjutnya dia masuk ke kamar Dilara. Anak bungusnya yang berusia 12 tahun itu juga sudah tertidur. Lagi-lagi Jojo mendaratkan kecupan di kening.
Terakhir, Jojo memasuki kamar Barra. Anak sulung sekaligus satu-satunya anak lelakinya itu ternyata belum tidur. Dia terlihat masih mengerjakan tugas sekolahnya. Jojo duduk di sisi ranjang memperhatikan Barra yang tengah membuat makalah dengan laptopnya.
“Tugas apa?”
“Biasa pa, tugas Bahasa Indonesia. Buat makalah tentang sejarah bahasa Indonesia dan perkembangannya di negara-negara luar,” jawab Barra tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
“Kata mama, kamu tiap hari ke rumah om Abi.”
Barra menghentikan pekerjaannya, kemudian memutar kursi yang didudukinya hingga berhadapan dengan Jojo. Selain untuk menjawab pertanyaan sang papa, dia juga penasaran ingin menanyakan perihal Abi.
__ADS_1
“Iya pa. Kasihan Nan masih sedih. Ken lagi sibuk di kantor, jadi dia ngga ada temen.”
“Nan apa Frey?” goda Jojo.
“Nan, pa. Cuma karena mereka serumah, ya sekalian hibur Frey juga.”
“Ck... ngeles aja kamu kaya bajaj. Bilang aja hibur Frey juga, apa susahnya.”
Barra memutar bola matanya, papanya ini senang sekali menggodanya tentang Freya. Kadang dia curiga, jangan-jangan Jojo berniat menjodohkannya dengan Freya. Padahal kalau bertemu keduanya sudah seperti Tom and Jerry saja yang selalu berkelahi. Tapi akhir-akhir ini Freya lebih banyak diam dan selalu nampak murung.
“Ada kabar pa, soal om Abi?” Barra mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Masih belum ada kabar.”
“Pantes Frey keliatan sedih terus. Dia pasti kepikiran om Abi terus.”
“Tuh kan Frey lagi. Kamu suka ya sama Frey?” Jojo kembali menggoda anaknya.
“Ngga pa. Ngga usah fitnes deh,” sewot Barra.
“Betulan juga ngga apa-apa. Papa seneng kok kalau kamu sama Frey. Dia kan cantik, pinter dan ceria. Cocok tuh sama kamu.”
“Satu lagi jangan lupa pa, dia tuh nyebelin. Bawel juga, kadang jutek ngga jelas. Lagian kalau aku sama Frey, berarti aku bakalan jadi adik iparnya Ken. Ogah banget punya kakak ipar modelan naga kutub kaya dia.”
“Naga kutub? Emang ada?”
“Ada, noh si Ken. Dinginnya kaya es di kutub, sekalinya ngomong panas kaya semburan naga.”
“Hahaha...”
Jojo tak bisa menahan tawanya mendengar julukan Barra untuk anak sahabatnya itu. Tingkah Barra dan Kenzie mirip seperti dirinya juga Abi sewaktu muda dulu. Mengingat Abi, Jojo kembali bersedih. Tawanya berubah menjadi helaan nafas panjang. Barra yang menyadari perubahan Jojo tahu, kalau papanya teringat pada Abi, sahabat baiknya.
“Mudah-mudahan om Abi selamat ya pa.”
“Aamiin.. mudah-mudahan aja.”
“Coba badan om Abi dipasangin chip yang bisa ngirim sinyal kalau dia masih hidup lewat deteksi panas tubuhnya. Pasti kita ngga akan susah nemuin om Abi.”
Jojo terlonjak dari duduknya. Dia baru ingat kalau dua bulan lalu Abi memberikan sebuah arloji untuknya, Juna, Cakra dan Kevin. Abi mengatakan dalam arloji itu ada sebuah chip yang bisa mengirimkan sinyal saat darurat. Melalui chip itu, mereka bisa mengetahui posisi satu sama lain jika mereka terdampar atau hilang diculik musuh.
Sambil berlari, Jojo keluar dari kamar anaknya. Barra hanya memandang bingung pada sang ayah. Tapi kemudian dia kembali melanjutkan tugasnya yang tertunda. Pemuda itu memutar kursinya dan fokus pada laptopnya.
Dengan tergesa Jojo memasuki ruang kerja pribadinya. Kemudian pria tersebut menyalakan laptop. Dibukanya program yang ditanamkan oleh Althaf, kepala IT di Metro East. Dengan dada berdebar dan hati tak henti berdoa, Jojo mulai login ke program yang dibuat Althaf. Setelah memasukkan password, dia mengaktifkan program tersebut. Matanya membelalak melihat sebuah titik merah nampak berkedip-kedip. Dia mengetuk titik merah tersebut dan terlihat ID Abi di sana.
“Alhamdulillah ya Allah. YES!!! WHOOOAAAA!!! Abi, lo emang jenius!!”
“Panda kenapa?”
Jojo menghambur ke arah Adinda kemudian mengangkat tubuh istrinya. Beberapa kali Jojo memutar tubuhnya. Adinda memeluk erat leher suaminya karena takut terjatuh. Jojo menurunkan kembali sang istri kemudian menciumi wajahnya.
“Panda kenapa sih? Kesurupan jin di mana?”
“Manda.. kamu bener.. Allah sudah menyelamatkan Abi di suatu tempat. Abi selamat manda, dia selamat. Si mulut bon cabe masih hidup. TERIMA KASIH YA ALLAH.”
Jojo mengangkat kedua tangannya. Wajahnya nampak begitu bahagia. Adinda yang mendengarnya pun tak kalah bahagia. Berulang kali wanita tersebut mengucapkan syukur.
“Panda mau ke markas dulu ya. Mau memastikan lokasi Abi. Ada kemungkinan panda langsung berangkat jemput dia. Kamu ngga keberatan kan?”
“Ngga panda. Ayo cepat pergi, bawa kak Abi pulang. Kak Nina dan anak-anak pasti senang.”
“Iya. Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa dulu ya. Biar ini jadi kejutan buat mereka.”
“Iya panda.”
Jojo mencium bibir Adinda, kemudian bergegas menuju kamarnya untuk mengambil ponsel dan membawa pakaian seadanya. Setelah itu, dia segera pergi dengan kendaraannya.
Terdengar deru mobil yang dikendarai Jojo membelah jalanan kota Bandung yang nampak lengang di malam hari. Dengan kecepatan tinggi, pria itu memacu kendaraannya. Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai ke markas tim keamanan keluarga Hikmat. Jojo memarkir kendaraannya di sembarang tempat, kemudian bergegas masuk ke dalam.
Kedatangannya sudah ditunggu oleh Beno, Agung juga Althaf. Sesuai intruksi Jojo tadi, Althaf segera melacak keberadaan sinyal yang diduga berasa dari ID chip yang dimiliki Abi. Dengan dada berdebar, Jojo menunggu penjelasan Althaf.
“Bagaimana?” tanyanya tak sabaran.
“Benar ini chip yang dimiliki pak Abi. Lokasinya berada di pulau Rinca.”
“Tapi itu benar Abi kan? Bukan orang lain?”
“Sepertinya itu benar pak Abi. Karena untuk mengaktifkan chip, pak Abi harus melakukan finger print dan juga memasukan password lewat suara.”
“Bagus kalau begitu. Gung, kamu bisa siapkan pesawat? Aku akan berangkat malam ini juga untuk jemput Abi.”
“Maaf, Jo. Cuma pak Juna, Abi, Cakra atau Anfa yang boleh mengeluarkan perintah mengeluarkan pesawat.”
“Kalau gitu hubungi Cakra. Suruh dia ke sini, kita berangkat malam ini. Jangan kasih tahu dulu kak Juna dan yang lain. Biar ini jadi kejutan untuk mereka.”
“Baik.”
Agung segera menjalankan semua yang dikatakan Jojo. Setelah menghubungi Cakra dan perintah mengeluarkan pesawat keluar, dia segera menghubungi pilot dan crew untuk bersiap. Dia sendiri yang akan mendampingi Cakra dan Jojo menjemput Abi.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Flashback On
Abi sekuat tenaga mempertahankan tubuhnya agar terus berada di permukaan air. Gulungan ombak menyeret tubuhnya semakin menjauh dari tempatnya tadi berada. Dalam hatinya terus berdoa memohon keselamatan pada yang Maha Kuasa. Di pelupuk matanya terbayang wajah, Nina, Kenzie, Freya dan Kenan yang menunggu kepulangannya.
Ya Allah selamatkan hamba. Ampuni semua dosa-dosa hamba. Hamba mohon ijinkan hamba bertemu kembali dengan keluarga yang sangat hamba sayangi. Hanya kepada-Mu lah hamba berpasrah.
Di tengah perjuangan Abi bertahan untuk tidak terbawa arus ke bawah laut. Sebuah gelombang besar kembali menghantamnya dan melemparkan tubuhnya beberapa meter ke depan. Saat itu terjadi, Abi sudah tak sadarkan diri.
Kelopak mata Abi bergerak. Perlahan kedua matanya terbuka. Untuk beberapa saat dia masih mengerjap-ngerjapkan matanya, membiasakan retinanya menangkap cahaya yang menerpa. Lambat laun pandangannya yang semula buram mulai menjadi jelas. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah seorang gadis berambut ikal dan berkulit kuning langsat. Gadis tersebut nampak tersenyum melihat Abi sudah terbangun dari tidur panjangnya.
“Bapaaaaaaakkkkkk!!!”
“Astaghfirullah.”
Abi terlonjak seraya mengucapkan kalimat istighfar. Tangannya memegangi dadanya yang berdebar kencang, efek dari suara yang didengarnya. Baru saja tersadar dari pingsannya, telinga Abi sudah disuguhkan teriakan gadis tadi yang kekencangannya mirip toa masjid.
Tak berapa lama, datang seorang pria berusia enam puluh tahunan menghampiri. Dia segera memeriksa keadaan Abi. Perlahan dia membantu Abi untuk bangun. Pria itu duduk bersandar ke dinding di belakangnya.
“Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga.”
Abi mengernyitkan keningnya mendengar suara pria itu yang begitu kental dengan logat Sundanya. Dia melihat ke sekeliling, mencoba menerka di mana dirinya berada. Terakhir dia masih ingat dirinya terombang-ambing di lautan. Rasanya tak mungkin kalau sekarang dia berada di tanah parahyangan.
“Bapak siapa?” tanya Abi bingung.
“Saya Sutisna, dan ini anak saya Lilis. Saya dan teman-teman menemukan kamu hanyut di dekat pantai.”
“Ini di mana pak?”
“Ini di kampung Karora.”
“Kampung Karora?”
Pria yang bernama Sutisna itu menganggukkan kepalanya. Berarti dia masih berada di kepulauan Flores. Disangkanya tadi, ombak membawanya terdampar di pantai Pangandaran. Sungguh pemikiran yang mustahil bin mustahal.
“Nama kamu siapa?”
“Saya Abimanyu, panggil saja Abi.”
“Kamu pasti bukan orang sini.”
“Iya pak. Saya dari Bandung. Saya ke sini ada pekerjaan, meninjau proyek di pulau Padar.”
“Bagaimana kamu bisa terdampar?”
Abi kemudian menceritakan kejadian yang menimpa dirinya beserta orang-orang yang menaiki kapal bersamanya. Yang terakhir diingatnya, saat gelombang besar kembali menghantamnya dia sudah tak sadarkan diri dan baru terbangun sekarang.
“Masya Allah, sebuah keajaiban kamu bisa selamat. Pantas saja kamu sampai pingsan selama lima hari, ternyata begitu kejadiannya.”
“Lima hari pak?”
“Iya. Saat kami menemukanmu, kamu pingsan, keadaanmu sangat lemah. Badanmu penuh memar dan beberapa tulangmu juga patah. Karena cuaca buruk, kami tidak bisa membawamu ke rumah sakit. Jadi saya mengobatimu dengan obat tradisional saja. Tapi sepertinya keadaanmu mulai membaik. Biar tradisional tapi khasiatnya ngga perlu diragukan lagi.”
Pembicaraan mereka terhenti ketika Lilis datang membawakan makanan untuk Abi. Pria itu memandangi makanan yang nampak asing di matanya.
“Dimakan dulu. Ini papeda, makannya dengan sayur ikan ini. Maaf, saya ngga bisa menyediakan makanan yang lain.”
“Ngga apa-apa pak. Saya sangat berterima kasih.”
“Habis makan diminum obatnya. Nanti saya bantu membalur tubuhmu dengan ramuan obat lagi.”
Abi menganggukkan kepalanya. Dia mulai memakan makanan yang disediakan untuknya. Walau terasa asing namun rasa masakan itu bisa diterima oleh lidahnya. Ditambah perutnya yang keroncongan, membuat Abi menghabiskan makanannya dengan cepat.
Usai makan dan meminum ramuan obat yang rasanya pahit, Sutisna membuka perban yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia mempersilahkan Abi membersihkan tubuh terlebih dulu, baru kemudian membalur badannya dengan obat yang berasal dari berbagai jenis tumbuhan.
Sambil membalur tubuh Abi, Sutisna bercerita tentang dirinya. Awalnya dia tinggal di Banjaran. Karena ditipu temannya yang menggadaikan sertifikat rumahnya, pria tersebut harus merelakan rumahnya disita. Belum lagi dia dikejar-kejar depth collector, karena temannya juga berhasil membujuknya mengajukan pinjaman dengan bunga tinggi dengan iming-iming keuntungan besar.
Merasa kasihan dengan keadaan Sutisna, seorang depth collector yang mengejarnya, menawarkan pria itu untuk pindah ke Flores. Demi menyelamatkan diri, Sutisna bersama dengan Lilis hijrah ke sini dan menempati rumah peninggalan orang tua depth collector tersebut. Tak terasa dia dan Lilis sudah tinggal selama tujuh tahun. Sehari-hari Sutisna bekerja sebagai nelayan, kadang jika kondisi laut sedang tak bersahabat. Dia bekerja menanam pohon mangrove.
Abi mendengarkan cerita Sutisna dengan seksama. Dalam hatinya bersukur masih diberi umur dan diselamatkan oleh orang yang baik. Setelah membalut tubuh Abi dengan perban, pria tersebut meminta Abi untuk beristirahat agar kondisinya cepat pulih.
☘️☘️☘️
**Jelas ya, mas Abinya selamat. Mamake ngga sekejam itu kok🤭
Buat yang kangen Abi, nih mamake kasih visualnya lagi
Abi :
Hai readers kece, kangen ya sama gue? Tenang aja, gue bakalan tetap ada di cerita ini. Ngga mungkin mamake matiin gue. Tanpa gue, cerita mamake ngga ada apa²nya😎
Bercanda mamake✌️
Udah dulu ya temu kangennya. Gue cabut dulu takut beneran dimatiin ama mamake, kabooooorrrr🚴🚴🚴🚴**
__ADS_1