KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Get Shocked


__ADS_3

“Dia sekretaris saya, karena ini masih masuk jam kerja. Tapi kalau di rumah, dia anak saya. Anak bungsu saya, Kenan Mahendra Hikmat.”


Sandi hanya mampu tergugu mendengar pernyataan Abi. Berbagai perasaan menghantamnya bersamaan, namun perasaan malu yang lebih banyak mendominasi. Belum selesai kejutan yang diterimanya, pintu ruangan kembali terbuka dan Kenzie masuk ke dalam, bergabung dengan mereka.


“Selamat datang, Ken,” sapa Darmawan seraya menjabat tangan pria itu.


“Bapak ngga keberatan saya ikut bergabung?” tanya Kenzie.


“Kenapa harus keberatan? Saya justru senang. Oh iya, sudah kenal dengan pak Sandi kan? Pak Sandi, Kenzie ini anak pak pertamanya pak Abi, kakaknya Kenan.”


Lagi-lagi Sandi seperti tersambar petir mendengarnya. Dia memang tidak tahu kalau wakil CEO yang sudah membuatnya lemas lutut beberapa hari yang lalu ternyata kakak dari Kenan. Pria itu seakan menciut menjadi kurcaci begitu berhadapan dengan Abi dan kedua anaknya. Dengan tangan bergetar, dia menyalami Kenzie.


“Ayo-ayo silahkan duduk,” ujar Darmawan.


Dua orang pelayan masuk kemudian menata makanan di meja. Selera makan Sandi terbang tertiup angin setelah mengetahui jati diri Kenan yang sebenarnya. Berbagai hidangan lezat di hadapannya tiba-tiba terasa hambar.


“Nan, katanya kamu sudah punya pacar ya,” ujar Darmawan di tengah acara makan siang mereka.


“Iya, om. namanya Zahra. Dia lagi kuliah perawat, cantik om. Sayang bapaknya galak.”


“Galak gimana?”


“Dia ngga setuju sama anaknya. Katanya saya ngga memenuhi kualifikasinya.”


Uhuk.. uhuk..


Sandi tersedak makanannya sendiri mendengar jawaban Kenan. Pria itu buru-buru membasahi kerongkongannya untuk menghentikan batuk yang melanda. Kepalanya terus tertunduk, tak berani melihat ke arah Abi yang duduk tepat di hadapannya.


“Masa cowok seganteng dan sekeren kamu ngga masuk kualifikasinya. Apalagi kamu itu anak bungsunya Abimanyu Hikmat,” ucapan Darmawan seakan bola panas yang menggulir tepat ke arah Sandi.


“Dia ngga tahu aku anaknya papa, om. Aku bilang sama dia kalau papaku kerjanya jaga toilet umum.”


“Hahahaha…”


Darmawan tak bisa menahan tawanya, mata Abi membulat mendengar jawaban sang anak. Kenzie hanya tersenyum membayangkan apa yang akan dilakukan sang papa pada adik bungsunya yang sableng ini.


PLETOK!


Kenan mengaduh seraya mengusap puncak kepalanya yang dipukul sendok oleh Abi. Darmawan dan Kenzie sontak tertawa melihatnya. Berbeda dengan Sandi yang semakin menunduk.


“Terus kamu bilang mamamu kerja apa?” kali ini Abi yang bertanya.


“Perawat, pa.”


“Yakin?” tanya Kenzie tak percaya.


“Bener bang. Tapi perawat ayam tetangga yang kerjanya nyatet kapan ngerem sama netes.”


“Hahahaha… bener-bener ajaib anakmu, pak Abi.”


“Mama harus tahu ini, biar nih anak dimasukin ke mesin cuci. Digiling sampai otaknya bersih,” celetuk Kenzie.


“Ya aku kan pengen tahu, kira-kira bapaknya Zahra terima aku apa adanya apa ngga.”


“Terus diterima?”


“Ngga, lah.”


Sokoooorr,” Kenzie menoyor kepala adiknya.


Perbincangan renyah terus mengiringi acara makan siang mereka, diselingi dengan senda gurau. Hanya Sandi yang tak ikut dalam pembicaraan. Jangankan untuk berbicara, untuk menelan makanan saja terasa sulit. Seperti ada ratusan jarum yang menyangkut di tenggorokannya. Sesekali Kenan melirik ke arah pria itu dan diam-diam tersenyum.


“Maaf pak Abi. Kalau boleh saya tahu, kriteria apa yang menjadi dasar untuk memilih menantu. Dua menantu pak Abi berasal dari sahabat bapak sendiri. Kalau Nan, beda kayanya. Apa pak Abi setuju dengan pilihannya?”


Sandi memasang telinganya baik-baik. Menunggu apa yang terlontar dari mulut pria itu. Jujur saja, dia takut kalau Abi berubah pikiran dan melarang Kenan melanjutkan hubungan dengan anaknya.


“Saya percaya dengan pilihan Nan. Dia tahu betul kriteria seperti apa wanita yang cocok menjadi istrinya dan menyandang status sebagai menantu keluarga Hikmat. Saya juga sudah mengenal Zahra, sejauh yang saya tahu, dia anak yang baik, pekerja keras dan mampu melindungi dirinya. Semua yang dibutuhkan untuk menjadi menantu saya, sudah ada dalam dirinya.”


“Tapi.. kalau mendengar cerita Nan tadi. Sepertinya ayahnya Zahra cukup materialistis.”


Ingin rasanya Sandi menghilang dari ruangan ini. Tak sanggup rasanya berada lebih lama dengan pembicaraan yang langsung mengarah padanya. Bagaimana kalau Darmawan juga Abi tahu kalau orang yang dimaksud Kenan adalah dirinya. Keringat dingin sudah membasahi tubuhnya.


“Saya tidak peduli dengan pandangan ayahnya, toh yang menjadi istri Nan itu Zahra. Dia hanya perlu menunaikan kewajibannya menikahkan putrinya.”


“Kalau dia minta sesuatu gimana pa?” tanya Kenan.


“Berarti dia itu hanya ingin menjual putrinya. Papa tidak akan memberikan apapun untuk orang itu. Menikahkan Zahra adalah kewajibannya. Bukankah dia tidak mengurus Zahra selama ini? Punya hak apa dia meminta sesuatu dari pernikahan anaknya?”


“Kalau dia ngotot minta sesuatu, kasih aja jabatan di pulau Padar, pa,” celetuk Kenzie.


“Jabatan apa bang?”


“Manajer SDM. Kerjanya mandorin komodo, hahaha…”


Uhuk.. uhuk..


Sandi kembali terbatuk mendengarnya. Dirinya semakin tak berkutik saja. Posisinya serba salah. Meminta Zahra mengakhiri hubungan dengan Kenan tak mungkin, karena itu jaminan untuk dirinya di masa tua. Tapi untuk meneruskan pun tak sanggup rasanya. Sandi jadi dilema sendiri.


“Coba undang ayahnya Zahra untuk makan malam bersama kita. Biar nanti papa yang bicara dengannya. Atas dasar apa dia menolak hubunganmu dengan Zahra.”


“Iya, pa.”


PRAK!!

__ADS_1


Lemas sudah tubuh Sandi, sendok di tangannya terjatuh begitu saja. Malapetaka seakan tengah menantinya di depan matanya. Semua mata langsung tertuju pada pria itu, membuat Sandi semakin serba salah. Wajahnya mulai memucat lengkap dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.


“Loh.. pak Sandi kenapa? Sakit?” tanya Darmawan yang terkejut melihat kondisi bawahannya itu.


“I.. iya, pak. Saya memang sedang tidak enak badan.”


“Oh begitu. Padahal tadi baik-baik saja. Malah kelihatan bersemangat sekali. Nanti setelah makan siang, langsung pulang saja. Tidak usah kembali ke kantor.”


“I.. iya, pak. Terima kasih.”


Setelah melewati situasi yang tidak mengenakkan, akhirnya acara makan siang berakhir juga. Abi beserta Kenzie dan Kenan langsung berpamitan dan meninggalkan restoran Amarta. Hanya tinggal Darmawan dan Sandi saja yang ada di sana.


“Pak Sandi mau saya antar kemana?”


“Ke.. ka… kantor saja pak. Mobil saya masih di sana.”


“Ya sudah, ayo.”


“Bi.. biar saya saja pak, yang menyetir.”


“Jangan, biar saya saja.”


Sambil tersenyum kikuk, Sandi mengikuti langkah Darmawan keluar dari privat room tersebut. Sepanjang jalan pria itu hanya diam. Pikirannya masih berkelana memikirkan ucapan Abi yang mengundangnya makan malam. Dia hanya bisa berharap, Kenan tak jadi mengundangnya makan malam. Sesampainya di kantor, Sandi tak kembali ke ruangannya, melainkan langsung menuju mobilnya dan kembali pulang.


Dengan langkah lunglai Sandi memasuki kediamannya yang nampak sepi. Tadi pagi Risma memang mengatakan akan mengajak anak-anak menginap di rumah orang tuanya. Sandi langsung masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuh di kasur. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuhnya yang tiba-tiba terasa demam.


☘️☘️☘️


Risma baru saja kembali setelah menginap semalam di rumah orang tuanya. Sebenarnya dia masih ingin tinggal satu atau dua hari lagi, namun Sandi memintanya untuk segera pulang.


Wanita itu membuka pintu pagar, dan di saat yang bersamaan Kenan datang dengan sepeda motor sportnya. Kening Risma berkerut melihat tunggangan pemuda itu yang sudah berganti wujud, hanya warnanya saja yang sama merah.


“Siang tante,” sapa Kenan begitu turun dari motornya.


“Mau apa ke sini?” tanya Risma dengan ketusnya.


“Saya cuma mau menyampaikan undangan dari orang tua saya. Nanti malam, om dan tante juga Dila dan Sisil diundang makan malam sama papa.”


“Makan malam di mana? Saya ngga mau kalau bukan di restoran mewah. Bisa gatel-gatel saya sama anak-anak kalau makan di warteg.”


“Makan malam di restoran Panchala di hotel Arjuna. Ditunggu jam tujuh malam ya tante. Saya pamit, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Mata Risma terus memandangi kepergian Kenan dengan sepeda motornya. Sejenak wanita itu terdiam memikirkan undangan makan malam di restoran Panchala. Hotel Arjuna adalah hotel bintang lima yang memiliki standar internasional. Sudah pasti harga makanan di restoran tersebut memiliki tarif yang mahal.


“Belagu amat ngundang makan di hotel Arjuna. Kayanya bobol tabungan tuh anak,” gumam Risma.


“Pa, barusan Kenan ke sini. Dia bilang orang tuanya ngundang makan malam. Nanti jam tujuh di hotel Arjuna.”


“Hah?? Yang bener ma? Terus mama jawab apa?”


“Ya mama iyain aja.”


“Waduh…”


Sandi menepuk keningnya. Hal yang ditakutkan akhirnya terjadi juga. Pria itu nampak tak tenang. Risma hanya bisa memandang bingung pada suaminya ini.


“Kenapa pa?”


“Ngga apa-apa.”


“Kalau papa ngga mau datang, ya udah ngga usah. Ngga penting juga makan malam sama keluarganya Kenan. Ngebayangin bapaknya yang tukang jaga toilet umum sama ibunya yang ngurus ayam, aku jijik sendiri,” Risma bergidik.


“Ngga enak kalau ngga datang,” gumam Sandi pelan.


“Jadi mau datang ngga nih?”


Tak ada jawaban dari Sandi. Kepalanya langsung berdenyut mendengar undangan makan malam dari Abi. Andai saja waktu dapat diputar ulang, mungkin dia akan bersikap baik pada Kenan hingga Abi akan memiliki nilai positif akan dirinya.


“Pa.. eh malah bengong,” Risma menepuk lengan suaminya, membuat Sandi terjengit.


“Eh.. ehm.. ya udah datang aja, ma,” jawab Sandi pasrah.


“Ya udah. Mama mau dandan yang cetar, supaya menunjukkan kalau kita ini berkelas dan mereka sadar diri kalau ngga selevel sama kita. Mama mau ke salon dulu.”


Risma berdiri dari duduknya kemudian kembali keluar dari rumah. Sandi hanya menghela nafas melihat kepergian istrinya. Dia bingung antara memberitahukan perihal Kenan yang sebenarnya atau tidak. Respon istrinya sama sekali tidak bisa ditebak. Namun yang pasti dia pasti akan terus mendorong Sandi untuk menjalin hubungan dengan Abi.


☘️☘️☘️


Kenan menghentikan kendaraannya di depan butik milik Azra. Setelah menyampaikan undangan secara lisan pada Risma. Kini Kenan ditugaskan sang mama untuk memboyong Zahra beserta ibu dan adiknya ke butik Azra. Nina ingin mendandani calon besannya itu untuk acara makan malam bersama nanti.


Nita yang belum tahu maksud Kenan membawanya ke sini hanya bisa terheran sekaligus memandang kagum saat melihat deretan pakaian bagus dan pastinya memiliki harga yang fantastis. Apalagi butik milik Azra sudah terkenal. Setali tiga uang dengan sang mama, Silva juga hanya terheran saja. Melihat kedatangan Kenan, Azra langsung menyambut mereka semua.


“Selamat datang tante, Zahra. Ini pasti Silva,” Azra mengusap puncak kepala Silva.


“Iya kak,” jawab Silva malu-malu.


“Widih.. si kompor mau setor gaji pertama nih,” goda Azra.


“Mana ada. Gue belum gajian, sebulan juga belum kerjanya. Lagian uang belanja dari bang Fathan kurang apa? Masa asisten wakil CEO ngasih nafkahnya pas-pasan.”


“Bacot lo, Nan. Bikin orang pengen nampol,” kesal Azra. Kenan hanya terpingkal saja.

__ADS_1


“Ayo kita ke ruangan. Mama Nina udah nunggu.”


Azra segera mengajak para tamunya memasuki sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk para tamu VIP. Nina segera berdiri begitu melihat Nita memasuki ruangan. Dengan hangat dia menyambut calon besannya itu.


“Selamat datang, bu Nita.”


“Aduh bu Nina. Ada apa ini?” tanya Nita malu-malu.


“Nanti malam, papanya Kenan mengundang pak Sandi dan keluarga untuk makan malam. Sekalian kita berkenalan. Kalau tidak keberatan kami ingin mengadakan acara pertunangan Kenan dan Zahra. Jadi pertemuan nanti sekalian membicarakan masalah pertunangan.”


Nita terkejut mendengarnya. Hubungan Kenan dan Zahra baru berjalan beberapa bulan, tapi orang tua Kenan sudah ingin meresmikan hubungan keduanya. Nita masih belum percaya diri bersanding dengan keluarga konglomerat tersebut.


“Apa bu Nina dan pak Abi yakin? Saya… malu.”


“Kenapa harus malu? Anak kita saling mencintai. Sekarang tunangan dulu, kalau Kenan sudah lulus kuliah, kita akan bicarakan pernikahan mereka. Bagaimana?”


“Terserah ibu dan bapak saja. Terima kasih sudah mau menerima kami jadi bagian keluarga.”


“Sama-sama, bu. Saya senang mendapat keluarga baru.”


“Udah siap tante?”


Azra datang menghampiri kedua wanita itu. Nina segera memberi tanda pada Azra untuk segera me-make over calon besannya. Sedang Zahra dan Silva akan dibantu oleh anak buahnya. Sementara menunggu proses make over, Nina memilihkan pakaian untuk Nita, Zahra dan Silva.


Dua jam berlalu, akhirnya acara make over selesai sudah. Azra membantu Nita memakai pakaian yang sudah dipilihkan oleh Nina. Wanita itu terus memandangi pantulan dirinya di cermin. Rasanya tak percaya kalau yang di sana adalah dirinya. Zahra dan Silva yang juga telah selesai, menatap takjub ke arah sang mama.


“Ya ampun mama cantik banget,” puji Zahra seraya mendekati sang mama.


“Wah kalau tiap hari mama dandanannya kaya gini, bakalan banyak yang nempel sama mama,” Silva terkikik geli.


“Bisa aja kalian,” wajah Nita bersemu merah mendengar pujian dan godaan kedua anaknya.


“Wah.. ada artis rupanya,” Nina yang baru datang ikut-ikutan memuji.


“Bu Nina ada-ada saja.”


“Ayo kita berangkat.”


Nina menggamit tangan Nita lalu membawanya keluar disusul oleh Zahra dan Silva. Dion segera keluar dari mobil begitu melihat Nina dan yang lainnya keluar dari butik. Kali ini dia yang ditugaskan untuk mengantar Nina beserta ketiga lainnya ke hotel Arjuna. Sedang Kenan sudah berangkat lebih dulu bersama dengan Abi.


☘️☘️☘️


Dada Nita berdebar kencang saat memasuki lobi hotel Sakura. Semua orang terutama kaum adam yang melintasinya langsung melihat ke arahnya. Wanita itu hanya menundukkan pandangannya. Tak percaya diri melihat tatapan orang-orang di sekitarnya.


Baru saja mereka tiba di lantai dua, seseorang memanggil Nina. Melihat sang pemanggil adalah istri salah satu rekan bisnis Abi, wanita itu terpaksa menghampiri dulu dan meninggalkan Risma beserta Zahra dan Silva di dekat pintu masuk restoran.


Di saat yang bersamaan Risma beserta Sandi dan juga kedua anaknya baru saja tiba. Dengan gaya angkuhnya, wanita itu berjalan menuju Panchala restoran room yang terletak di lantai dua. Tanpa sengaja dia bersenggolan dengan Nita, hingga membuat clutch bag miliknya terjatuh.


“Heh kalau jalan pake mata dong!” semburnya.


“Maaf,” ujar Nita.


Risma mengambil clutch bagnya. Sejenak dia tertegun melihat wanita yang berdiri di hadapannya. Matanya langsung membelalak ketika melihat wanita tersebut adalah Nita, mantan istri suaminya.


“Nita..” panggil Sandi. Matanya menatap tak percaya pada mantan istrinya. Penampilan Nita begitu cantik, anggun dan berkelas.


“Apa kabar mas Sandi, Risma?”


“Ngapain kamu di sini? Itu baju boleh pinjam di mana? Atau jangan-jangan kamu udah jadi simpanan suami orang ya,” sengit Risma.


“Tolong jaga omongan tante!” hardik Zahra tak suka.


“Sudah, ma. Jangan buat keributan di sini,” Sandi berusaha melerai pertengkaran yang hendak meletus.


“Bilang sama orang tua Kenan, jangan makan di sini. Ngga sudi aku kalau harus satu atap dengan wanita ini. Panggil orang tua Kenan ke sini!” ujar Risma pada Zahra.


“Ada apa ini?” Nina yang melihat ada keributan bergegas mendekat. Risma kembali dibuat terkejut melihat wanita yang membawa pergi Silva juga ada di hadapannya.


“Saya ngga ada urusan sama kamu!” sembur Risma.


“Tentu saja ada. Kamu menyebut nama anakku tadi.”


“Siapa anakmu?”


“Kenan. Dia anakku.”


“Oh.. jadi kamu ibunya Kenan, yang kerjanya tukang rawat ayam tetangga?”


“Ma…”


Sandi segera menarik lengan istrinya untuk membuatnya berhenti bicara. Nina yang terkejut mendengar ucapan Risma, hanya bisa mengerutkan keningnya saja. Zahra memalingkan wajahnya ke arah lain. Berusaha menyembunyikan tawanya yang hendak meledak. Di saat yang bersamaan Abi dan Kenan keluar dari restoran.


“Ada apa ini?”


☘️☘️☘️


**Ada soto ayam, tom yam, ayam penyet, ayam tonjok. Bapak mau apa???🤣🤣🤣


Terima kasih buat semua komen jahat kalian pada Sandi di eps kemarin hahahaha.... puas banget ya🤣🤣🤣


Maaf ya kesorena up nya. Masih ada kerjaan lain soalnya. Oh iya, mamake masih mau promo karya teman ya. Mohon maaf kemarin ada salah info dikit. Yang mau coba baca karya Reman Picisan, bisa ketik judul novelnya atau nama penanya R_picisan03. Nah yang suka nge room, cocoklah buat malmingan di sana nanti malam. Semoga kita bisa ketemu di room. Klik aja profilnya terus klik nama roomnya, Musafir Cinta atau cari dia. Tapi buat room cum bisa pake MT atau AT. Sampai ketemu di sana ya😉


__ADS_1


__ADS_2