
Anfa berjalan mendekati Rayi, kemudian meraih tengkuk istrinya itu. Ciuman panjang nan menggelora segera terjadi. Anfa tak henti me**mat, memagut dan men**lum bibir istrinya itu. Tangan Rayi pun sudah bertengger manis di leher Anfa. Sambil tak melepaskan tautannya, mereka berjalan menuju ruang tidur.
Tangan Anfa mulai bergerak membuka satu demi satu kancing blouse yang dikenakan sang istri. Dadanya berdebar kencang begitu melihat bukit kembar yang masih terbungkus kain berenda. Dia segera melepas kaos yang dikenakannya, karena suhu tubuhnya tiba-tiba naik.
Rayi menelan ludahnya kelat melihat tubuh Anfa yang sudah mulai berisi, ditambah otot-otot perutnya yang mulai terbentuk. Sungguh pria di hadapannya ini begitu seksi dan menggoda. Rayi pasrah saja saat Anfa membaringkan tubuhnya dia atas kasur. Perlahan pria itu menelusuri setiap inci tubuh sang istri. Dia mulai mempraktekkan apa yang ditontonnya tadi.
Rayi menutup mata ketika semua benang yang melekat di tubuhnya sudah dilepaskan oleh sang suami. Tubuhnya bergerak ke sana kemari saat Anfa mulai men**lum dan me**mat bukit kembar miliknya. Namun wanita itu masih belum berani membuka matanya karena malu.
Anfa terus melancarkan cumbuannya. Sentuhannya berhasil membuat Rayi meloloskan sebuah de**han. Hal itu tentu membuat Anfa semakin bersemangat. Pria itu semakin bergerak turun ke arah bawah, hingga akhirnya sampai ke lembah milik sang istri. Jantungnya semakin berdegup tak karuan. Burung perkututnya semakin menegang dan minta segera dikeluarkan dari sangkarnya.
De**han dan lenguhan Rayi terdengar ketika Anfa mulai bermain di area bawahnya. Tubuhnya menggelinjang hebat merasakan geli juga nikmat yang datang bersamaan. Tangannya bergerak meremat rambut Anfa yang masih betah berlama-lama di lembah miliknya. Tak lama kemudian tubuhnya bergetar saat gelombang hangat menghantamnya.
Terdengar helaan nafas Rayi saat baru saja mencapai pelepasan. Hal yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Tubuhnya sedikit lemas tapi juga ada kepuasan yang dirasakannya. Dia masih belum berani membuka matanya, hingga terdengar suara Anfa memanggil namanya.
“Ray..”
Pelan-pelan Rayi membuka matanya. Wajahnya memerah begitu melihat tubuh polos suaminya terpampang nyata di hadapannya. Jantungnya kembali berdegup kencang, bagian bawahnya juga berdenyut tatkala melihat benda tumpul sang suami yang sudah menegang. Rasa takut juga penasaran ingin merasakan batangan itu dalam miliknya mulai bergulat dalam pikirannya.
Anfa kembali me**mat bibir Rayi, men**lumnya dengan penuh kelembutan. Sekali lagi Rayi terbuai dalam cumbuan sang suami. Dia menjerit tertahan saat Anfa menyesap sedikit kencang salah satu bukit kembarnya hingga meninggalkan bercak kemerahan. Merasa cukup dengan cumbuan yang diberikan, Anfa bersiap untuk menjebol gawang istrinya.
Tangan Rayi meremat kencang seprai saat perlahan benda tumpul suaminya memasuki lembah miliknya. Rasa sakit sekaligus perih menyergap bersamaan. Sudut mata Rayi sampai mengeluarkan air ketika merasakan sakit di bagian bawahnya. Anfa berhenti sejenak demi memberi waktu pada sang istri. Dia merasakan cairan hangat yang merembes keluar dari lembah yang baru dimasukinya tadi.
Setelah keadaan Rayi sedikit tenang, Anfa mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. Tangan Rayi kembali mencengkeram seprai dengan erat, ketika lagi-lagi sakit dan perih menderanya. Namun perlahan rasa sakit itu berganti dengan kenikmatan. Sedikit demi sedikit, Rayi mulai bisa menikmati penyatuan mereka.
Anfa terus menggerakkan pinggulnya di atas tubuh sang istri. Mencoba berbagi kenikmatan yang baru pertama kali mereka rasakan. Deru nafas mereka terdengar saling bersahutan. Anfa benar-benar dibuat melayang dengan aktivitas ranjang yang memabukkan. Terlebih saat merasakan lembah Rayi yang mencengkeram adik kecilnya begitu kuat, membuat pria itu semakin mempercepat gerakan dan hentakannya.
Rayi memeluk erat punggung Anfa yang basah oleh keringat. Tubuhnya menegang kemudian bergetar saat gelombang hangat kembali menghantam untuk kedua kalinya. Anfa semakin terpacu agar cepat sampai ke ujungnya. Deru nafasnya memburu seiring dengan pergerakan tubuhnya. Tak lama terdengar erangannya ketika telah berhasil sampai di ujungnya. Ratusan cebong yang selama ini tertidur nyaman mulai bergerak bebas keluar dari sarangnya. Mereka berebut menerobos masuk ke dalam rahim Rayi.
Tubuh Anfa ambruk di atas Rayi. Namun tak berapa lama, dia menggulirkan tubuhnya ke samping. Untuk beberapa saat keduanya masih berbaring dengan posisi telentang. Mereka masih mengatur nafas setelah pergulatan panas yang menguras tenaga. Anfa menoleh ke arah Rayi, kemudian menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Beberapa kali dia mendaratkan kecupan di puncak kepala sang istri.
“Makasih Ray..”
Rayi tak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya serasa remuk redam, padahal mereka bermain tak lebih dari setengah jam. Namun sukses menguras tenaga dan juga menyisakan rasa perih di area bawahnya. Anfa menarik selimut kemudian menutupi tubuh mereka berdua. Rasa kantuk langsung menderanya setelah berhasil menyalurkan hasratnya. Lima menit berselang, keduanya sudah jatuh tertidur.
☘️☘️☘️
Anfa membawakan makan siang untuk sang istri yang masih duduk bersandar di atas ranjang. Wanita itu tak ingin banyak bergerak karena masih merasakan rasa sakit di area bawahnya. Setelah terbangun dari tidur, Anfa kembali menggarapnya. Bahkan permainan mereka lebih lama dari yang pertama. Tentu saja itu membuat bagian inti Rayi semakin perih.
“Ray.. makan dulu ya.”
“Satu piring berdua aja ya.”
“Kaya lagu dangdut aja,” Anfa terkekeh, tapi kemudian berganti ringisan saat Rayi mencubit pinggangnya.
Keduanya lalu menikmati makanan yang telah dipesan oleh Anfa. Rayi makan dengan lahap karena selain perutnya lapar, tenaganya pun sudah habis terkuras. Sambil menyuapi sang istri, Anfa memandangi wajah Rayi. Masih belum percaya kalau mereka sudah sampai di titik ini.
Anfa mengusap saos di sudut bibir Rayi kemudian menjilatnya. Rayi tersenyum melihat perlakuan manis Anfa. Setelah penyatuan mereka, Anfa terlihat lebih manis dan romantis. Dia mengingat kembali awal perkenalan di bangku SMA. Anfa yang pintar namun tidak banyak bicara langsung menarik perhatiannya. Setelah lama mengenalnya, Rayi baru tahu kalau ada sisi humoris pada pemuda itu. Tapi sisi humorisnya langsung hilang saat berada di rumah. Dia menjadi serius dan lebih banyak diam.
CUP
Rayi terbangun dari lamunannya ketika sebuah kecupan mendarat di bibirnya. Pelakunya sudah pasti sang suami yang gemas melihat istrinya malah melamun. Dia kembali menyuapkan makanan untuk Rayi.
“Ray.. masih sakit ngga?”
“Apa?”
“Itunya.”
“Ish..”
Rayi menolehkan wajahnya ke arah lain. Pipinya langsung merona ketika Anfa menanyakan bagian intinya. Anfa terkekeh melihat sikap malu-malu sang istri.
“Tumben malu-malu, biasanya malu-maluin. Adaww..”
Sebuah pukulan mendarat di lengan Anfa. Semakin lama suaminya ini semakin jahil saja. Mungkin efek sering bergaul dengan Radix dan Gurit, juga terkontaminasi lima pria yang ternyata otaknya sedikit bergeser dari tempatnya.
“Nanti aku keluar sebentar ya, mau beli obat buat redain rasa sakit. Aku tadi udah nanya ke mama Rahma.”
__ADS_1
“Iiihh.. kamu mah malu-maluin.”
“Ya kan biar kamu ngga sakit lagi. Jadi aku bisa....” Anfa tak meneruskan ucapannya, dia hanya menaik turunkan alisnya saja.
“Dasar omesh.”
“Hahaha.. tapi kamu juga suka kan.”
“Ngga.”
“Ngga salah maksudnya.”
Lagi-lagi wajah Rayi memerah mendengar ucapan Anfa. Keduanya segera menghabiskan makan siang. Setelah itu Anfa segera pergi ke apotik terdekat. Lima belas menit kemudian dia kembali dengan membawa obat pereda nyeri juga gel untuk bagian bawah Rayi, untuk mengobati lecetnya.
“Ray.. nih minum obatnya,” Anfa menyodorkan obat juga gelas berisi air putih.
“Ayo aku obatin.”
“Kan udah tadi aku minum obatnya.”
“Yang ini harus dioles ke situ,” Anfa menunjuk bagian inti istrinya.
“Aku pake sendiri.”
“Ngga akan bisa. Udah sama aku aja. Cepetan buka.”
Rayi memandang curiga ke arah Anfa. Namun suaminya itu meyakinkan kalau dirinya hanya akan mengobati, tidak akan meminta jatah lagi. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Rayi membuka penutup bagian bawahnya dan membiarkan Anfa mengoleskan gel di sana.
“Udah selesai. Nanti kalau udah ngga sakit kasih tau ya.”
“Biar apa?”
“Biar bisa main-main lagi hahahaha...”
Rayi menepuk pelan lengan Anfa. Entah mengapa kebanyakan kaum adam jika sudah menikah, maka otaknya selalu saja mesum. Dan ternyata hal yang sama juga berlaku untuk Anfa. Dia yang dulu selalu malu membicarakan tentang **** dan semua yang berkaitan dengan itu. Kini dengan santainya pria itu bisa mengatakannya tanpa malu-malu.
“Fa.. kita kan sekarang udah nikah. Walau kita seumuran, tapi kamu kan suamiku. Ngga sopan kalau aku hanya memanggil namamu aja. Kamu mau dipanggil apa?”
“Ish.. serius.”
“Beneran serius sayang.”
BLUSH
Wajah Rayi merona mendengar Anfa memanggilnya dengan sebutan sayang. Anfa memegang pipi sang istri yang kemerahan kemudian memagut sebentar bibir yang sudah menjadi candunya.
“Aku panggil Bibi aja ya, singkatan dari habibi,” ujar Rayi.
“Kok aku jadi berasa kaya bi Murni, bi Ita, bi Sari kalau begitu. Nanti kalau kamu manggil aku bi.. bi.. nyahut mereka semua.”
“Anfaaaaaaaa...”
☘️☘️☘️
Seminggu sudah Rayi dan Anfa menjalani biduk rumah tangga. Mereka tinggal bersama Teddy juga Rahma. Namun kedua orang itu tak pernah ikut campur dengan rumah tangga sang anak. Selama seminggu ini juga Rahma kerap mengajarkan bagaimana menjadi istri yang baik. Dia juga mengajarkan cara memasak makanan kesukaan Anfa. Rayi baru tahu kalau makanan yang selama ini disukai Anfa ternyata adalah kesukaan Gean. Dan ternyata makanan kesukaan Anfa berbeda dengan Gean.
Seperti yang dijanjikan Abi, seminggu setelah menikah, Anfa diberikan cuti dua minggu untuk menikmati bulan madu mereka. Juna telah menyiapkan tiket beserta akomodasi bulan madu untuk Rayi dan Anfa ke Maldives. Sehari sebelum keberangkatan mereka, Anfa memutuskan menginap di kediaman orang tua Rayi.
Sebuah Avanza silver berhenti di depan kediaman Wisnu. Dari dalamnya keluar Anfa juga Rayi. Sambil menggeret koper, keduanya masuk ke dalam rumah seraya mengucapkan salam. Kedatangan mereka tentu saja disambut suka cita oleh Wisnu, Astuti dan Rahayu. Astuti segera menyiapkan minuman dan camilan untuk anak dan menantunya. Kemudian mereka duduk bersama di ruang tengah. Anfa menyerahkan kunci mobil yang tadi dikendarainya pada Wisnu.
“Ini untuk papa.”
“Loh kok untuk papa?”
“Ambil aja pa, itu emang untuk papa. Mobil itu hadiah dari bang Kevin, setelah berunding, Anfa putusin kasih mobil itu buat papa,” jawab Rayi.
“Terus kalian bagaimana?”
__ADS_1
“Kak Abi juga kasih mobil buat kita pa,” jelas Anfa.
Anfa dan Rayi memang menerima hadiah pernikahan dari kelima laki-laki yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri. Abi memberikan mobil mewah, Kevin juga memberikan mobil jenis SUV yang kemudian diberikan kepada Wisnu, Juna memberikan hadiah bulan madu. Sedang Cakra dan Jojo bersama-sama menyiapkan apartemen lengkap dengan perabotannya untuk tempat tinggal pasangan pengantin di Tokyo, nantinya.
Astuti begitu senang mendengar anaknya menerima banyak hadiah pernikahan yang nilainya jika dijumlahkan mencapai milyaran rupiah. Dia juga senang, Anfa memberikan mobil kepadanya. Kini dia tidak harus menaiki mobil tua yang sering mogok tak kenal tempat dan waktu.
“Kalau buat mama ada nda?” tanya Astuti.
“Ada kok,” Anfa memberikan paper bag yang tadi dibawanya kemudian memberikannya pada Astuti.”
“Buat mama satu, buat bude satu.”
Astuti mengeluarkan isi dari paper bag yang ternyata adalah dua kotak persegi panjang yang isinya kalung. Kedua wanita itu senang bukan kepalang mendapat perhiasan emas dari Anfa.
“Makasih ya, Fa. Mama suka hadiahnya.”
“Bude juga,” timpal Rahayu.
Anfa hanya menganggukkan kepalanya saja menanggapi ucapan terima kasih kedua wanita itu. Wisnu menggelengkan kepalanya, sifat istri juga kakak iparnya sama persis, seperti pinang dibelah dua.
“Fa.. nanti kalau kamu ke Jepang, Rayi juga ikut?”
“Iya ma.”
“Rayinya nda usah dibawa. Lagi pula kan Rayi bekerja juga, sayang dong karirnya harus terhenti kalau dia ikut kamu ke Jepang. Biar Rayi tinggal sama mama. Kamu kan bisa pulang nengok Rayi sebulan sekali.”
Wisnu terkejut mendengar ucapan sang istri. Tapi pria itu masih diam, dia ingin melihat bagaimana Anfa menanggapi hal tersebut. Sedang Anfa sendiri cukup kesal mendengar ucapan mama mertuanya, namun sebisa mungkin dia menahan diri dan tetap bersikap sopan.
“Maaf ma, Rayi itu istriku. Jadi dia harus ikut kemana pun aku pergi. Soal pekerjaan, dia bisa melakukan hal lain saat di Jepang nanti. Lagi pula aku juga masih bisa memenuhi semua kebutuhannya tanpa dia harus bekerja. Kalau Rayi tetap di sini, lalu buat apa kami menikah? Sebagai istri, dia harus mendampingiku di mana pun aku berada. Bukan begitu pa?”
Wisnu hanya menganggukkan kepalanya. Jujur dia senang Anfa bisa bersikap tegas pada sang istri. Sepertinya Astuti masih mengira kalau Anfa bisa disetir sesuka hatinya. Rayi yang menjadi objek pembicaraan memilih untuk diam saja. Memberikan waktu untuk Anfa bersuara. Dia yakin Anfa bisa menaklukkan ibunya yang kadang cara berpikirnya di luar nalar.
“Dia memang istrimu, tapi masih anakku. Mama nda mau kalau Rayi nanti malah menderita di sana. Sudah Rayi di sini saja, nda usah ikut kamu ke Jepang. Kamu cukup kirimkan uang untuk keperluan sehari-hari dan pulang sebulan sekali. Rayi itu nda bisa jauh dari keluarganya.”
“Sampai kapan pun Rayi itu anak mama dan papa. Tapi aku suaminya, aku yang lebih berhak atas hidupnya sekarang. Aku yang sekarang bertanggung jawab atas hidupnya, dunia dan akhirat. Mama setuju atau tidak, Rayi siap atau tidak, aku akan tetap membawa Rayi bersamaku. Tolong ma, jangan ikut campur dalam kehidupan kami. Aku sebisa mungkin akan membahagiakan Rayi, memenuhi semua kebutuhannya, lahir dan batin. Aku juga akan menjalankan kewajibanku sebagai menantu mama. Aku harap kita bisa saling menghargai.”
Astuti terdiam, tak menyangka kalau Anfa berani mengatakan semua itu padanya. Biasanya pemuda itu hanya diam dan menuruti apa yang dikatakannya. Tapi kali ini tidak, bahkan wanita itu juga terkejut melihat sikap tegas menantunya. Tak ada lagi Anfa yang diam dan penurut.
“Maaf ma, pa, bude, aku mau istirahat.”
“Silahkan,” Wisnu memberi kode pada Rayi untuk menemani suaminya ke kamar. Rayi bangun lalu membawa Anfa ke kamarnya. Namun tak berapa lama, dia keluar kemudian menghampiri Astuti kembali.
“Ma.. sampai kapan mama mau bersikap seperti ini? Tolong biarkan aku dan Anfa menjalani rumah tangga kami dengan tenang. Kalau mama ngga mau berubah juga, aku akan mengadukannya pada mama Rahma juga kak Abi.”
Rayi segera pergi meninggalkan Astuti yang ternganga mendengar penuturan sang putri. Rahayu hanya mengusap punggung Astuti, untuk menenangkan adiknya itu.
“Ya ampun anak itu,” kesal Astuti.
“Rayi benar bu. Kita tidak usah ikut campur dalam pernikahan anak kita. Cukup doakan saja yang terbaik. Ibu sudah tua, sudah waktunya berubah lebih baik lagi. Malu sama besan kita yang sudah begitu baik. Kita beruntung mendapat menantu sebaik Anfa. Percaya saja kalau dia akan membuat anak kita bahagia. Kalau ibu masih seperti ini, bapak bakalan nikah lagi.”
Dengan santai Wisnu bangun dari duduknya kemudian masuk ke dalam kamar. Astuti semakin dibuat ternganga mendengar penuturan sang suami.
“Sabar As.. benar apa yang dikatakan Rayi juga suamimu. Nda usah macam-macam, ingat pulau terpencil dan rumah sakit jiwa yang disiapkan Abi. Kalau kamu mau ke sana silahkan saja, tapi mbak nda mau ikut.”
Rahayu mengambil kotak berisi kalung, hadiah pemberian Anfa. Kemudian wanita itu masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Astuti yang masih tergugu di tempatnya. Tak ada yang mendukungnya kali ini.
☘️☘️☘️
**Astuti... mamam tuh🤣
Yang nunggu unboxing Rayi, udh yeee. Kalau kurang panas, maklum aja kan namanya juga masih unyu² jadi belum bisa buas di ranjang🤣
In Syaa Allah novel Kepentok Perawat Antik sebentat lagi akan sampai ke ujungnya. Walau berat, tapi mamake harus siap berpisah dengan keluarga Hikmat dan para sahabatnya🤧
Tenang aja, mamake bakalan tetap kasih bonchap buat kalian kok🤗
Semoga semuanya bisa berjalan sesuai rencana ya, aamiin...
__ADS_1
Terima kasih buat semua yang selalu kasih dukungan buat mamake. Like, komen positif, gift, vote yang kalian berikan merupakan mood booster untuk mamake. Terima kasih dan mohon maaf kalau mamake ngga bisa membalas pesan kalian satu per satu🙏
Harapan mamake jangan tinggalkan novel ini sebelum benar² berakhir ya🙏**