
Hari pernikahan yang ditetapkan orang tua dan mertua Radix tiba. Seluruh keluarga dan para sahabat telah berkumpul untuk menyaksikan pengucapan janji suci Radix untuk kedua kalinya. Semua yang berkepentingan telah duduk bersama di depan meja akad. Wali nikah yang sama, saksi yang sama dan penghulu yang sama. Hanya mempelai wanitanya saja yang berganti.
“Sehat pak?” tanya Radix pada pengulu.
“Alhamdulillah.”
“Ngga lagi kena gangguan pencernaan kan?”
“Hahaha.. ngga mas Radix. Aman terkendali sekarang.”
Radix dan yang lain ikut tertawa mendengar jawaban sang penghulu. Pernikahan Radix melekat kuat dalam ingatan penghulu tersebut, karena itu pertama kalinya dia menikahkan pasangan pengantin dengan banyak intermezo.
Didampingi mamanya, Naysila berjalan menuju meja akad kemudian mendudukkan diri di samping Radix. Gadis itu hanya menundukkan pandangannya saja. Saat kedua orang tuanya mengusulkan untuk menikahkan dirinya dengan Radix, tak ada penolakan sama sekali darinya. Hanya satu yang ada di pikirannya, Irvin. Dengan menikahi Radix, maka dia akan lebih leluasa mengurus Irvin, keponakan tersayangnya.
Radix melirik sekilas ke arah Naysila. Ada sedikit perasaan bersalah dalam hatinya, karena Irvin, Naysila harus menghabiskan hidup bersamanya. Mungkin saja gadis itu memiliki impian lain tentang pendamping hidupnya, bukan dengan duda anak satu yang juga pernah menjadi kakak iparnya.
Pria itu terusik dari lamunannya ketika ayah Naysila menggenggam tangannya. Radix berusaha untuk fokus. Jujur saja, momen ini mengingatkan pada pernikahannya dengan Nabila dulu. Apalagi orang-orang yang terlibat tak berubah sama sekali. Syarif menatap pria yang sekali lagi akan mengikat janji dengan putrinya.
“Ananda Radix Argatama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Naysila Oktarina binti Syarif Hidayatullah, dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas sebesar 15 gram dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Naysila Oktarina binti Syarif Hidayatullah dengan mas kawin tersebut tunai!”
“Bagaimana para saksi? Sah?”
“SAH!!”
Jawab kedua saksi secara bersamaan. Radix dan Naysila mengucap syukur seraya mengusap wajah dengan kedua tangannya. Doa-doa langsung terucap yang diamini oleh pasangan pengantin tersebut. Radix mengubah posisi duduknya berhadapan dengan Naysila, dia menyematkan cincin pernikahan di jari manis istrinya itu. Sedang Radix masih tetap mengenakan cincin pernikahan yang lama.
Naysila meraih tangan Radix kemudian mencium punggung tangannya. Hatinya bergetar saat melakukan itu. Sekarang Radix bukan lagi kakak iparnya, melainkan telah menjadi suaminya yang sah di mata hukum dan agama. Radix meraih bahu Naysila kemudian mendaratkan ciuman di kening gadis itu. Perasaan Radix pun tak kalah menentu dengan perubahan status mereka kini.
Setelah menandatangani dokumen pernikahan dan mendengarkan nasehat penghulu tentang hukum pernikahan, pasangan pengantin kembali mendengarkan wejangan yang kali ini berasal dari para orang tua. Naysila menangis dalam pelukan sang mama saat mendengarkan nasehatnya.
“Radix adalah laki-laki yang baik. Mama harap kamu bisa menjadi pendamping yang baik untuknya. Mama tahu, mungkin saat ini belum ada cinta di hatimu untuknya. Tapi mama berharap kamu tetap bisa menjalankan tugasmu sebagai seorang istri. Maafkan kami yang menginginkan pernikahan ini, tapi semua kami lakukan demi kebaikan Irvin dan juga dirimu. Mama percaya Radix bisa membahagiakanmu seperti dulu dia membahagiakan Bila.”
“Iya ma hiks.. Nay akan selalu ingat nasehat mama. Doakan hiks.. Nay.. supaya hiks.. bisa menjadi istri yang baik hiks.. dan ibu yang baik untuk Irvin.”
“Mama akan selalu mendoakanmu.”
Mama Naysila mengurai pelukannya kemudian menghapus airmata yang membasahi wajah sang putri. Tak ada penyesalan sedikit pun menikahkan Naysila dengan Radix. Menurutnya itu adalah keputusan yang tepat, terutama untuk Irvin, cucunya.
Usai suasana yang mengharu biru, keluarga mempelai mempersilahkan semua tamu yang hadir untuk menikmati hidangan. Tak ada resepsi pada pernikahan kali ini. Radix telah menawarkan pada Naysila untuk mengadakan pesta resepsi, namun gadis itu menolaknya. Menurutnya uang biaya resepsi lebih baik ditabung untuk pendidikan Irvin.
Radix menghampiri para sahabatnya yang memilih berkumpul di satu meja. Anfa dan Rayi juga menyempatkan pulang ke tanah air demi bisa melihat pernikahan sahabatnya. Radix mengambil Hanna dari gendongan Rayi saat tiba di dekat mereka. Hanna dan Irvin memang seusia, hanya berselang tiga jam saja kelahiran mereka.
“Asik pak duda mau belah duren nanti malem,” celetuk Gurit.
“Lo masih inget kan caranya Dix?” goda Anfa.
“Ngga usah ngajarin ikan berenang ya,” jawab Radix.
“Ya kali aja lupa gara-gara kelamaan solo karier hahaha,” Gurit puas sekali tertawa.
Rayi beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Naysila yang tengah memangku Irvin. Anak itu memang selalu menempel pada Naysila, bahkan kata pertamanya adalah mama dan ditujukan pada gadis itu. Rayi mengajak Naysila bergabung dengan Radix dan yang lain. Awalnya dia ragu, namun Rayi terus memaksanya.
Malu-malu, Naysila mendudukkan diri di samping Radix. Pembicaraan pun terus berlanjut. Beberapa kali dia hanya menunduk malu ketika Gurit atau Anfa menggodanya. Naysila memang tipe pemalu, berbeda dengan Nabila yang supel dan mudah akrab. Istri kedua Radix itu lebih senang menjadi pendengar dari pada aktif berbicara.
“Dix.. nanti malem pelan-pelan aja mainnya. Nay masih polos soalnya belum pernah tersentuh apapun,” ujar Gurit. Radix langsung melotot padanya.
“Iya jangan grasa-grusu kaya si Gurit, tar ranjangnya ambruk hahahaha..” sambung Anfa.
“Dari pada elo, malem pertama malah mabar,” balas Gurit.
Gelak tawa kembali terdengar. Naysila menundukkan kepalanya, wajahnya sudah semerah tomat ketika sahabat suaminya itu membahas malam pertama. Pembicaraan seperti ini adalah hal baru untuknya. sepanjang hidup, Naysila tidak pernah berhubungan dekat dengan lawan jenis, apalagi pacaran. Dia hanya mempunyai beberapa sahabat perempuan.
Naysila adalah tipe gadis rumahan. Waktunya hanya dihabiskan di kampus dan rumah saja. Kalau tidak ada keperluan, jarang sekali dia keluar rumah. Dulu Radix dan Nabila kerap mengajaknya jalan-jalan. Sebagai kakak ipar, Radix adalah sosok yang ramah sehingga membuatnya bisa akrab. Tapi sekarang, karena status yang berbeda, Naysila merasa sedikit sungkan pada pria itu.
“Nay.. kamu dikasih hadiah pernikahan apa sama Radix?” tanya Rindu.
“Minta yang mahal Nay, secara kamu tuh gadis ting-ting yang dapet duda anak satu,” sebuah toyoran langsung mendarat di kepala Gurit.
“Betul tuh.. jangan sungkan-sungkan pasti aa Radix bakalan kasih semua apa yang neng Nay mau eaa.. eaa..” sambung Sekar.
“Ngga teh.. ngga usah. Sayang uangnya, mending buat biaya pendidikan Irvin.”
“Itu beda lagi Nay. Pendidikan Irvin itu udah tanggung jawab Radix, jadi dia pasti bakalan kerja keras buat anaknya. Dan kamu itu sekarang istrinya, kamu berhak mendapatkan sesuatu dari dia. Ngga usah sungkan Nay, dia itu suami kamu bukan kakak ipar kamu lagi,” tutur Anfa.
__ADS_1
“Apa yang aa Radix punya itu punya kamu juga Nay, ya kan a?” Gurit mengedip-ngedipkan matanya ke arah Radix sambil memasang wajah imut.
“Najis!”
“Hahaha...”
Wajah Naysila kembali memerah, dia mengarahkan pandangannya ke arah lain. Kemudian matanya menangkap Radix yang tengah tertawa. Gadis itu tertegun, ini kali pertama Naysila melihat Radix tertawa begitu lepas sejak kepergian Nabila. Diam-diam dia tersenyum melihat kebahagiaan Radix. Irvin yang ada di pangkuannya juga tertawa, seakan ikut merasakan kebahagiaan sang ayah.
Di tengah perbincangan mereka, lima pria somplak datang mendekat beserta Nina dan Nadia. Mereka bermaksud berpamitan pada pasangan pengantin. Melihat suaminya, Sekar dan Rindu berdiri, bersiap untuk ikut pulang.
“Radix, Nay, kita pulang dulu ya. Selamat untuk pernikahan kalian,” pamit Nadia.
“Iya kak, makasih,” jawab Radix dan Naysila bersamaan.
“Samawa ya buat kalian. Buat Radix, selamat belah duren lagi,” ujar Nina sambil terkikik.
“Pelan-pelan ya Dix, masih gress itu,” goda Juna.
“Masih inget kan lubangnya di mana?” tambah Cakra.
“Bikin basah dulu baru coblos,” lanjut Jojo.
“Terongnya masih bisa tegang kan?” tanya Kevin dengan wajah datarnya.
“Kalau ngga bisa, setrum aja biar tegang,” jawab Abi dengan entengnya.
Radix hanya bisa menepuk keningnya saja mendengar petuah penting nan bijaksana dari lima pria somplak tersebut. Berbeda dengan Naysila yang nampak ternganga. Gadis itu tak menyangka kelima pria yang terlihat kalem dan berwibawa, ternyata bisa melontarkan komentar di luar nalarnya. Belum tahu saja gadis itu kalau kelima pria itu sudah berkumpul, mendadak timbangan otak mereka berkurang.
Sekar dan Rindu memeluk Naysila sambil bercipika-cipiki untuk berpamitan. Tak lupa mereka juga mencium Irvin yang selalu terlihat menggemaskan. Rayi juga Anfa ikut berpamitan, mereka hendak mengunjungi Wisnu juga Astuti.
“Bye Nay... selamat ber-uh-ah ria,” ujar Rindu sambil melambaikan tangan.
“Irvin nanti jangan gangguin mama papa kalau lagi perang ya,” Sekar mengusap puncak kepala anak Irvin.
“Siap-siap sakit membawa nikmat ya,” seru Rayi sambil terkikik.
“Nanti kalau ada yang tegak tapi bukan tiang listrik jangan kaget ya Nay,” sambung Anfa.
“Udah sana pulang! Lambenya ngga ada yang bener.. ya salam,” rutuk Radix.
“Monyong!!”
Terdengar gelak tawa Gurit saat pria itu meninggalkan masjid tempat akad nikah sahabatnya itu digelar. Radix melihat ke arah Naysila yang hanya menundukkan kepalanya saja. Gadis itu tak berani mengangkat kepalanya karena malu mendengar ucapan vulgar sahabat suaminya.
☘️☘️☘️
Usai acara akad nikah, Radix langsung memboyong Naysila ke rumahnya bersama dengan Irvin. Baru tiga bulan dia membeli rumah dengan gaya minimalis tersebut. Uang honor film, royalty dari youtube dan juga tabungan dari gajinya dikumpulkan hingga akhirnya bisa membeli sebuah rumah impian. Rumah dengan empat kamar tidur dan halaman yang ada di bagian belakang rumah.
Untuk kendaraan, Radix sendiri sudah mempunyai mobil, hadiah dari Abi saat pernikahannya dengan Nabila. Sama seperti Gurit yang menerima hadiah mobil dari Juna saat pernikahannya. Mobil berjenis SUV itu berhenti di depan rumah berpagar hitam. Radix dan Naysila turun dari mobil sambil menggendong Irvin.
Kaki Naysila melangkah memasuki rumah yang baru dikunjunginya. Dia memandangi interior rumah yang masih belum banyak perabotnya. Hanya ada sofa di ruang tamu dan alat elektronik seperti kulkas dan mesin cuci. Peralatan dapur sendiri baru Radix beli seminggu yang lalu. Selama ini dia memang tak pernah memasak, mamanya selalu mengirimkan makanan untuknya.
Radix mengajak Naysila masuk ke kamar utama. Hanya ada kasur berukuran king size, tempat tidur berbentuk boks untuk Irvin, lemari pakaian serta meja yang di atasnya terdapat wadah susu, dispenser, botol susu dan dot. Pria itu sengaja menaruh semua di kamar agar lebih mudah membuat susu di tengah malam.
“Maaf ya Nay, perabotannya belum lengkap. Sisanya nanti kamu aja yang pilih, aku ngga terlalu paham soal interior soalnya.”
“Iya a.”
“Irvin tidur?”
“Iya.”
“Tidurin aja di boks.”
Naysila membaringkan Irvin ke dalam tempat tidur boksnya. Anak itu sama sekali tak terusik dengan kepindahannya. Radix membuka lemari lalu mengambil pakaian ganti dari dalamnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Naysila mulai membongkar kopernya lalu memasukkan pakaian ke dalam lemari.
“Nay, aku ke kantor sebentar ya. Naskah yang harus aku seleksi ketinggalan di kantor. Kamu ngga apa-apa kan?”
“Iya a. Aa pergi aja. Oh iya, kalau di kulkas ada bahan makanan?”
“Ada, kemarin mama udah belanja tapi aku ngga tau mama bawa apa aja.”
“Nanti biar aku lihat.”
“Aku pergi ya.”
__ADS_1
Naysila menganggukkan kepalanya, setelah itu Radix keluar dari kamarnya. Beberapa saat kemudian terdengar suara mesin mobil, setelahnya kendaraan roda empat itu meluncur pergi.
☘️☘️☘️
Malam mulai turun, setelah membersihkan perabotan bekas makan malam, Naysila masuk ke dalam kamar. Dipandanginya Irvin yang baru saja tertidur sepuluh menit yang lalu. Mendadak Naysila merasa gugup begitu menyadari kalau malam ini dia akan tidur bersama dalam satu kamar bahkan satu ranjang dengan Radix.
Naysila berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Kegugupan masih melandanya, gadis itu lalu mendudukkan diri di sisi ranjang. Tak lama pintu kamar terbuka, Radix masuk ke dalam. Jantung Naysila berdetak lebih cepat melihat pria yang baru saja tadi pagi menikahinya berjalan mendekati dirinya. Radix duduk tepat di samping Naysila.
“Nay..”
“Iya a.”
“Sebelumnya aku minta maaf. Harusnya aku bertanya dulu padamu apa kamu setuju dengan pernikahan ini. Tapi aku terlalu egois yang hanya memikirkan kebahagiaan Irvin dan ngga menanyakan pendapatmu tentang pernikahan ini.”
“Ngga apa-apa a.. aku juga ngga keberatan dengan pernikahan ini.”
Radix mengubah posisi duduknya menjadi miring, hingga dia bisa melihat wajah sang istri. Naysila menundukkan pandangannya, dia masih malu bersitatap dengan Radix mengingat status mereka sekarang. Radix pun tak kalah canggung dibanding Naysila. Untuk sesaat suasana menjadi sunyi. Radix memberanikan diri menyentuh tangan Naysila, membuat gadis itu melihat ke arahnya.
“Nay.. aku tahu kalau hubungan kita berawal sebagai adik dan kakak ipar. Aku tahu kalau kita masih canggung dengan status kita sekarang, tapi yang harus kamu tahu, aku ikhlas menjalani pernikahan ini. Dan aku akan berusaha semampuku untuk menjadi suami yang baik untukmu.”
“Iya a.. aku juga akan berusaha menjadi istri yang baik untuk aa.”
“Aku sayang kamu Nay dari dulu, aku sudah menganggapmu adikku sendiri. Tapi sekarang, aku akan berusaha mengubah rasa sayangku menjadi cinta, karena kamu sudah menjadi istriku. Dan aku juga harap kamu bisa melakukan hal yang sama.”
Naysila hanya mengangguk pelan. Jantungnya berdebar tak karuan saat Radix menggenggam tangannya erat.
“Kamu ngga keberatan kalau aku menyentuhmu?”
“Ngga a.. sekarang aa suamiku, aa berhak melakukan itu.”
Radix menarik nafas panjang. Sejujurnya dia juga gugup dengan keadaan ini. Namun dirinya sudah bertekad menjalani pernikahan keduanya sebaik mungkin. Walau belum ada cinta di antara mereka, namun Radix yakin perasaan itu perlahan akan tumbuh dengan sendirinya. Dan salah satu cara menumbuhkan perasaan adalah dengan melakukan kontak fisik.
Pria itu mendekatkan wajahnya ke arah Naysila, membuat gadis menahan nafasnya. Perlahan bibir Radix mulai menyapu bibir ranum Naysila yang belum pernah tersentuh siapa pun. Dengan gerakan lembut pria itu memagut bibir sang istri. Naysila memejamkan matanya, dadanya semakin berdebar kencang. Gadis itu hanya diam saja merasakan ciuman pertamanya, tangannya meremat kaos yang dikenakan Radix.
Radix mengakhiri ciumannya, dia memundurkan wajahnya sedikit untuk melihat reaksi sang istri. Naysila masih memejamkan matanya, tak ada keberanian untuk membuka matanya. Radix menelusupkan tangannya ke tengkuk Naysila kemudian kembali mencium bibir istrinya.
Tidak seperti tadi, kali ini ciuman Radix lebih dalam, lu**tannya semakin intens dan menuntut memaksa Naysila membalas ciumannya walau dengan gerakan kaku. Rematan di kaos Radix semakin mengencang saat pria itu menelusuri leher Naysila dengan bibirnya. Perlahan dia merebahkan tubuh Naysila di ranjang. Jari jemarinya mulai bekerja membuka kancing piyama sang istri.
Malam ini, Radix akan memenuhi tugasnya sebagai suami, memberikan nafkah batin untuk istrinya. Walau masih takut-takut dan malu, namun Naysila pasrah saja saat Radix mulai menjamah tubuhnya. Siap tidak siap, dia telah menjadi istri Radix. Sudah seharusnya Naysila memberikan hak suaminya sekarang.
☘️☘️☘️
Radix terbangun dari tidurnya, matanya langsung tertuju pada sosok Naysila yang masih tertidur di sampingnya. Keduanya memang jatuh tertidur setelah percintaan mereka tadi. Radix mencium kening Naysila kemudian turun dari ranjang. Dipungutinya pakaian yang berserakan di lantai lalu masuk ke kamar mandi.
Tidur Naysila terusik ketika mendengar suara tangis Irvin. Wanita itu segera bangun dari tidurnya. Dia terkejut melihat keadaan dirinya yang tak mengenakan pakaian sehelai pun. Pipinya langsung memerah mengingat apa yang telah mereka lakukan. Naysila segera memakai pakaiannya kemudian beranjak dari ranjang.
“Aaaww..”
Naysila memekik pelan saat merasakan sakit dan perih di bagian bawahnya. Namun mendengar Irvin yang terus menangis, dia memaksakan diri berjalan menuju boks. Diangkatnya tubuh Irvin kemudian menggendongnya. Bertepatan dengan itu, Radix keluar dari kamar mandi.
“Kenapa?”
“Irvin nangis a, mungkin mau minum susu.”
“Biar aku yang buat. Kamu duduk aja.”
Naysila melangkah pelan menuju ranjang. Wanita itu masih kesulitan untuk berjalan. Radix bergegas membuatkan susu untuk anaknya. Tak butuh waktu lama, susu sudah siap, dia memberikan botol susu pada Naysila. Dengan cepat Naysila memberikan susu pada Irvin. Anak itu langsung meminumnya dengan cepat.
Usai menyusu, Radix menggendong anaknya sebentar. Mata Irvin kembali terpejam, Radix membaringkan sang anak di boks kemudian kembali ke ranjang. Naysila hanya diam memperhatikan semua yang dilakukan suaminya.
“Masih malam, ayo tidur lagi.”
Radix berbaring kemudian merentangkan lengannya. Dia meminta Naysila berbaring di sana. Ragu-ragu, wanita itu merebahkan kepalanya di lengan Radix. Dia terjengit ketika Radix menarik pinggangnya hingga posisi tubuh mereka tak berjarak. Mata Naysila terus memandangi Radix yang juga tengah melihat ke arahnya. Kemudian sebuah ciuman mendarat di kening Naysila.
“Terima kasih Nay, untuk yang tadi.”
“Iya a,” jawab Naysila dengan wajah memerah.
Radix kembali mencium kening Naysila, kemudian me**mat bibirnya. Pria itu mengarahkan tangan sang istri untuk memeluk lehernya. Ciumannya semakin dalam dan menuntut. Naysila berusaha membalas ciuman Radix yang sudah membuatnya melayang. Sekali lagi Radix mengajak istrinya mendayung nirwana di dinginnya udara dini hari yang menusuk kulit. Tak lama, penganti baru itu sudah tenggelam dalam pergulatan panas.
☘️☘️☘️
**Selamat buat Radix ya, mantep nih malam pertama langsung joss🤭
Selamat berbuka buat yang menunaikan ibadah puasa hari ini. Dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya esok hari. Mudah²an besok bonchap bisa hadir menemani kalian🤗**
__ADS_1