
Motor yang dikendarai Kenan memasuki basement Andhara Mall. Usai membeli kebutuhan untuk renovasi studio musiknya, pemuda itu memutuskan mengunjungi mall. Ada sesuatu yang ingin dibelinya. Mengingat sikap sang kakak yang masih saja kaku seperti kanebo yang dijemur di atas tiang listrik. Sepertinya dia harus ikut turun tangan meredakan kegalauan Nara.
Setelah memarkirkan kendaraannya, sambil bersiul Kenan masuk ke dalam gedung. Dia berdiri di depan pintu lift yang masih tertutup. Dua orang gadis yang tengah menunggu lift, mencuri-curi pandang pada pemuda itu. Sambil memasukkan tangan ke saku celana, Kenan masuk ke dalam lift diikuti dua gadis di sampingnya tadi.
“A.. punten.. sekarang jam berapa?” tanya salah satu gadis berbasa-basi. Kenan menoleh ke arah gadis yang tengah melemparkan senyuman manis ke arahnya.
“Lihat aja sendiri. Emang itu aksesoris doang?”
Kenan menunjuk pada jam tangan yang dikenakan gadis itu. Refleks tangan sang gadis langsung menutupi jam di pergelangan tangannya. Dalam hatinya merutuki kenapa sampai salah mengajukan pertanyaan.
“Hehe.. jam saya mati, a.”
“Buang aja kalo mati. Kalo dipake terus nanti keburu bau ****** jamnya.”
Jawab Kenan sekenanya seraya melangkah keluar. Gadis itu hanya melongo mendengar jawaban yang keluar dari mulut Kenan. Ternyata mulutnya tak semanis wajahnya. Kenan terus melangkahkan kakinya menuju salah satu toko yang menjual aneka penganan yang terbuat dari coklat. Kedatangannya langsung disambut oleh salah satu pelayan.
“Sore kak..”
“Maghrib kak.. aku mau beli coklat bentuk eceng dong.”
“Eceng?” tanya sang pelayan bingung.
“Iya eceng alias lope.”
“Ooh..”
Pelayan itu terkikik geli mendengar jawaban Kenan. Dia kemudian menuju etalase yang memajang aneka coklat dengan berbagai bentuk, termasuk bentuk hati. Kenan melihat semua coklat yang diberikan oleh pelayan tersebut. Semuanya terlihat cantik.
“Saya mau yang deretan ini, ini sama ini juga.”
Kenan menunjuk coklat berbentuk hati dengan bermacam motif dan warna serta satu buah coklat berbentuk bulat. Total ada delapan coklat yang dipilihnya. Pelayan tersebut kemudian mengemas coklat ke dalam sebuah kotak. Setelah membayar pesanan, Kenan keluar dengan paper bag di tangannya.
Sebelum pulang, Kenan mampir dulu ke salah satu booth minuman yang ada di mall untuk membasahi kerongkongannya. Sambil menunggu pesanan, pemuda itu mengecek pesan yang masuk ke ponselnya. Tiba-tiba saja telinganya menangkap sebuah suara yang tak asing. Sontak dia menolehkan kepala ke arah samping.
Pucuk dicita, ulam pun tiba. Tak disangka dia bertemu dengan wanita yang sangat ingin ditemuinya. Dan ternyata, Tuhan mengirimkan langsung ke hadapannya sekarang. Dia membalikkan tubuhnya ke arah wanita itu.
“Oii chiki balls!”
Chika menoleh ke arah Kenan. Wajahnya nampak begitu kesal melihat adik dari Kenzie ini. Setiap bertemu, pemuda itu selalu sukses membuatnya naik darah.
“Nama gue bukan chiki balls!”
“Kenapa nengok?”
“Lo tuh nyebelin banget!”
“Kaya lo ngga nyebelin aja.”
“Rese lo!”
“Lebih rese mana, gue apa lo yang gangguin hubungan orang lain? Asal tahu aja ya mba, ibu-ibu.. dia ini calon pelakor. Dia mau ngerebut suami kakak saya.”
Kenan melihat ke arah penjual minuman yang tengah meracik minumannya serta beberapa orang yang juga sedang memesan sambil menunjuk ke arah Chika. Wajah Chika sontak langsung memerah.
“Eh dek.. kamu ngga laku apa sampai mau ngerebut suami orang?”
“Cantik-cantik kok jadi pelakor.”
“Yang kaya gini nih yang harus dibasmi.”
Perasaan Chika dongkol setengah mati mendengar tudingan dari orang-orang tersebut. Kenan sebisa mungkin menahan tawa melihatnya. Dia segera mengambil minuman pesanannya.
“Mba.. ini saya bayar sekalian pesanan dia. Tapi minuman itu buat mba aja, jangan kasih ke dia. Inget ya mba, jangan dikasih ke dia. Ambil aja kembaliannya.”
Kenan menyerahkan selembar seratus ribuan pada penjual minuman tersebut kemudian melenggang pergi. Chika yang kesal sudah menunggu namun tak mendapat minumannya segera pergi dari booth. Apalagi para ibu yang ada di sana terus saja mencecarnya.
“Makanya jangan suka nyinyirin orang. Rasain tuh nyinyiran emak-emak kompleks.”
Chika meneruskan langkahnya tanpa mempedulikan ucapan Kenan. Selain kesal, dia juga malu karena ulah Kenan, tadi dia sempat menjadi bahan tontonan. Belum sempat dia berjalan jauh, Kenan lebih dulu mencekal lengannya.
“Jangan gangguin kak Nara lagi. Kalo lo masih ganggu, kelar hidup lo!”
Kenan memberikan sedikit tekanan pada cengkeraman tangannya kemudian melepasnya. Sambil menyeruput minumannya, pemuda itu meninggalkan Chika yang tengah meringis kesakitan seraya mengusap lengannya.
Mata Kenan berkeliling mencari mobil yang biasa dikendarai Chika. Setelah menemukannya, Kenan berjalan mendekat. Dia berjongkok kemudian mengeluarkan angin dari ban mobil tersebut. Bukan hanya satu, tapi keempat ban mobil Chika dibuat kempes olehnya.
Selesai melakukan aksinya, Kenan berjalan menuju parkiran motor seraya mengambil ponsel dari saku jaketnya. Pemuda itu mendial sebuah nomor. Panggilannya langsung terjawab dalam satu deringan.
“Paan?”
“Bro.. hapusin rekaman cctv di basement 1 Andhara mall yak.”
“Lo abis bikin onar apalagi?”
“Ck.. cuma ngempesin ban mobil doang.”
“Kebiasaan lo, nyong.”
“Satu lagi. Hack hp nya si chiki balls, biar dia ngga bisa pesen taksi or ojek online sama call a friend buat jemput dia di mall.”
“Lo punya dendam apa sama si chiki balls?”
“Gue lagi pengen aja lihat kakinya gempor pulang jalan kaki hahaha...”
“Dasar kampreto delisioso!”
“Dasar monyet albino!”
“Mana ada monyet albino, nyong.”
“Elo monyet albinonya hahaha...”
Kenan langsung mengakhiri panggilan sebelum umpatan Jacob terdengar. Hacker yang bekerja pada Abi itu memang teman dari Kenan. Walau masih muda, namun kepiawaiannya meretas sistem setara dengan ahli IT profesional, bahkan mungkin lebih. Kenan menyangkutkan tali paper bag ke stang motor, kemudian pemuda itu memakai helmnya. Tak lama kemudian kuda besinya keluar dari area basement Andhara Mall.
☘️☘️☘️
Dengan langkah gontai, Nara masuk ke dalam rumah. Sepulang kerja tadi Kenzie mengajaknya makan malam bersama, namun gadis itu menolaknya. Dia masih harus memikirkan kembali hubungannya dengan Kenzie. Jika benar pria itu menikahinya hanya untuk memenuhi keinginan kedua orang tuanya, maka Nara akan membatalkan pernikahan tersebut. Dia tak ingin terjebak dalam ikatan pernikahan tanpa cinta.
“Non lemes banget,” tegur bi Dian.
“Cape bi,” Nara beralasan.
“Ibu sama bapak udah pulang non.”
“Beneran?”
Bi Dian hanya menganggukkan kepalanya. Nara berjalan menuju kamar orang tuanya. Selain hendak menyapa, dia juga ingin menanyakan perihal berita yang didengarnya tadi dari Chika.
“Panda.. besok kita fitting baju buat acara resepsi Nara,” seru Adinda seraya memasukkan pakaian ke lemari.
“Jam berapa?”
__ADS_1
“Jam 2.”
“Panda ada janji makan siang sama Abi dan yang lain. Kalau terlambat sedikit ngga apa-apa ya.”
“Iya.. kalau ketemu calon besan, panda mana bisa sebentar.”
Jojo terkekeh mendengar ucapan sang istri. Dia menarik tangan Adinda kemudian mereka duduk di sisi ranjang. Jojo menggenggam erat tangan Adinda, wanita yang telah mendampinginya selama 26 tahun.
“Panda bersyukur memilikimu sebagai istri. Manda sudah memberiku empat orang anak yang hebat. Dan sekarang kita akan mendapatkan menantu yang hebat seperti Kenzie. Panda bersyukur Kenzie mau menerima perjodohan ini. Dia pasti bisa menjaga Nara kita dengan baik.”
“Manda juga berharap Kenzie bisa mencintai dan menyayangi Nara seperti kita.”
“Aamiin..”
Kaki Nara tertahan saat akan masuk ke dalam kamar begitu mendengar pembicaraan kedua orang tuanya. Dia dapat mendengar jelas perkataan mereka karena pintu kamar sedikit terbuka. Perlahan kakinya bergerak mundur, kemudian berbalik dan berlari menaiki anak tangga.
Nara masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintu rapat-rapat. Punggungnya menyandar di pintu, kemudian tubuhnya perlahan turun ke bawah. Ternyata benar apa yang dikatakan Chika, pernikahannya dengan Kenzie adalah perjodohan yang sudah diatur oleh orang tuanya.
TOK
TOK
TOK
“Paket!”
Buru-buru Nara menghapus airmata yang baru saja mengalir. Dia menarik nafas beberapa kali baru kemudian berdiri. Tangan Nara bergerak membuka pintu. Terlihat Kenan berdiri di depan pintu dengan sebuah paper bag di tangannya.
“Dengan kak Naraya Ofelia?” tanya Kenan dengan gaya bicara seperti kurir paket online.
“Iya.”
“Ini ada kiriman buat kak Nara. Pengirimnya pak naga kutub si kanebo kering.”
Nara terkikik geli mendengar julukan Kenan untuk Kenzie. Tangannya meraih paper bag yang diberikan padanya. Kenan mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.
“Difoto dulu ya kak, buat bukti. Silahkan dipegang paketnya kak. Hadap ke kamera ya.”
Nara mengikuti saja apa yang dikatakan oleh Kenan. Tak lama kemudian Kenan mengambil foto Nara yang tengah memegang paket. Gayanya benar-benar seperti kurir sungguhan.
“Paketnya sudah dibayar sama pak Kanker ya kak.”
“Siapa pak Kanker?”
“Kanebo Kering.”
“Hahaha...”
“Aku pulang dulu ya kak.”
“Makasih ya, Nan.”
Kenan hanya mengangkat jempolnya saja seraya menuruni anak tangga. Nara masuk kembali ke dalam kamar. Dia mendudukkan diri di atas kasur lalu mengeluarkan kotak dari dalam paper bag. Nara membuka kotak berwarna coklat. Di dalamnya terdapat delapan buah coklat, yang hampir semuanya berbentuk hati.
Gadis itu mengambil ponsel lalu mencari nomor Kenzie dan menghubunginya. Dia harus mengucapkan terima kasih. Sang calon suami ternyata memberikan kejutan manis untuknya. Setelah menunggu sebentar, akhirnya panggilannya terjawab.
“Halo..”
“Halo mas. Hmm.. makasih ya..”
“Makasih untuk apa?”
“Coklat apa?”
DEG
Sontak Nara terdiam. Ternyata sang pengirim coklat bukanlah Kenzie. Ini pasti ide Kenan yang membelikan coklat untuknya atas nama sang kakak. Nara tersenyum getir.
“Eh maaf mas.. aku kayanya salah baca deh. Udah dulu ya.”
Nara langsung mengakhiri panggilannya. Ada rasa kecewa menyergapnya. Harusnya dia tahu kalau bukan Kenzie yang melakukannya. Tangan Nara terulur mengambil sebuah coklat dari dalam kotak. Sebuah coklat berbentuk hati yang terdapat corak merah.
“Makasih Nan buat coklatnya. Walau aku ngga jadi nikah sama kakakmu, aku harap kamu tetap mau jadi adikku.”
Airmata Nara kembali mengalir. Dia mulai menggigit coklat berbentuk hati itu. Sambil menangis, gadis itu memakan coklat pemberian Kenan.
☘️☘️☘️
Sambil memutar-mutar kunci motor di tangannya, Kenan masuk ke dalam rumah lalu naik ke lantai dua. Pemuda itu tak langsung masuk ke kamarnya. Dia memilih Kenzie di kamarnya. Setelah mengetuk pintu, Kenan masuk ke dalam kamar. Nampak sang kakak tengah duduk di belakang meja kerjanya.
“Bang..”
“Hmm..”
“Kirain mau ngajak kak Nara jalan.”
“Gue tadi ngajakin makan malem. Tapi dianya ngga mau,” jawab Kenzie tanpa melepaskan pandangan dari berkas di tangannya.
“Ck.. pasti cara ngajaknya nih yang salah.”
“Maksudnya?”
Akhirnya perhatian Kenzie teralihkan juga. Dia meletakkan berkas ke atas meja lalu melihat ke arah sang adik. Kenan berjalan mendekat. Sepertinya dia harus memberikan les privat pada kakaknya ini.
“Abang pasti gini nih ngajaknya... ‘Ra, ayo makan malam’. Iya kan?”
“Iya.”
“Nah ini yang salah.”
“Salah gimana? Kan udah bener ngomongnya.”
Kenan menggelengkan kepalanya. Kakaknya benar-benar kaku seperti celana jeans yang dijemur berhari-hari di bawah terik sinar matahari. Tapi dia memaklumi karena seumur hidupnya sang kak hanya menghabiskan waktu dengan buku, berkas, laptop dan para makhluk berbatang.
“Hadeuh.. susah emang.. Kak Frey.. sini bentar.”
Freya yang tengah melintas di depan kamar langsung menoleh begitu mendengar namanya dipanggil. Gadis itu masuk ke dalam kamar Kenzie.
“Nih gue kasih contoh cara ngajak yang bener. Kak tunggu bentar ya.”
Kenan berlari keluar menuju kamarnya. Dia mencari-cari sesuatu dalam kamarnya. Tak lama dia menemukan apa yang dicarinya. Sebuah topeng dengan wajah Ravin. Dia sendiri yang membuat topeng itu untuk mengganggu Freya saat kakak perempuannya tengah galau memilih antara Ravin dan Barra.
Pemuda itu masuk kembali ke kamar Kenzie dengan topeng sudah melekat di kepalanya. Dia berdiri di depan Freya. Tentu saja gadis itu terkejut. Baru saja dia akan protes, Kenan langsung menyelanya.
“Nih lihatin caranya bang.”
Kenan berdiri berhadapan dengan Freya, kemudian meraih tangan kakak perempuannya itu. Sambil menggenggam tangan Freya, pemuda itu berkata,
“Frey.. kita candle light dinner yuk.”
__ADS_1
“Apaan sih lo,” Freya melepaskan pegangan tangan Kenan lalu menoyor kepalanya. Dengan kesal Kenan mengangkat topengnya.
“Elah.. ngerusak momen aja lo, kak. Ini gue lagi kasih reka adegan buat bang Ken biar ngga kaku kalo ngajak cewek ngedate,” protes Kenan.
“Lah terus lo ngapain pake topeng bang Ravin segala?”
“Biar suasananya mendukung Saeblaaaahhhh,” gemas Kenan namun sebuah toyoran kembali mendarat di kepalanya.
“Haaaiissshh berisik lo semua!! Udah sana keluar!!”
Kenzie berdiri dari duduknya kemudian mendorong keluar kedua adiknya yang malah membuat kepalanya semakin pusing. Kenan berpegangan pada pinggiran pintu saat Kenzie terus mendorongnya keluar.
“Eeee.. bentar bang. Gue mau tanya dulu.”
“Apaan?”
“Tadi kak Nara ada telepon ngga?”
“Ada, emangnya kenapa?”
“Dia nanya abang yang kirim coklat?”
“Iya.”
“Terus abang jawab apa?”
“Ngga.”
“Ya salam. Ampun deh bang, jadi orang jangan kaku-kaku amat napa. Puyeng dah gue ama lo!”
Dengan kesal Kenan meninggalkan Kenzie yang masih bingung dengan sikap adiknya. Terdengar pintu berdebam ketika pemuda itu masuk ke dalam kamar. Freya yang masih berada di depan kamar Kenzie hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Bang.. besok gue beliin oli deh buat elo.”
“Buat apaan?”
“Buat ngoles muka abang biar agak lemesan dikit.”
Freya bergegas masuk ke dalam kamarnya begitu melihat wajah horor Kenzie. Sebelum menutup pintu dia menjulurkan lidah ke arah sang kakak.
☘️☘️☘️
Baru saja Nara akan menaiki mobilnya ketika kendaraan Kenzie berhenti di depan rumahnya. Gadis itu bergegas menghampiri. Perlahan kaca mobil bergerak turun. Terlihat wajah tampan Kenzie dengan kacamata hitam bertengger di wajahnya.
“Masuk!”
Tanpa banyak bertanya, Nara masuk ke dalam mobil. Gadis itu menahan nafasnya ketika Kenzie bergerak mendekat lalu memasangkan sabuk pengaman ke tubuhnya. Aroma parfum pria itu sejenak membuatnya tak fokus. Dadanya pun langsung berdendang riang. Kenzie kembali ke posisi semula lalu memakai seat beltnya. Tak lama kendaraannya kembali berjalan.
“Kamu temani saya meeting di luar.”
“Iya pak.”
Hanya itu pembicaraan yang terjadi, Kenzie kembali melajukan kendaraannya dengan tenang. Dia melirik spion di samping kanannya. Nampak sebuah sepeda motor mengikuti mobilnya. Pria itu langsung menekan pedal gas dalam-dalam. Mobil Kenzie melesat meninggalkan motor di belakang.
Toni yang mengikuti mobil Kenzie dari belakang juga menambah kecepatan motornya ketika kendaraan yang dibuntutinya mengebut. Namun kejarannya terhenti begitu sebuah mobil tiba-tiba menghadangnya. Dengan cepat pria itu mengerem motornya.
Duta keluar dari mobil lalu menghampiri Toni. Sadar kalau orang yang menghadang mengincar dirinya. Toni turun dari motor, dilepaskan helm full vestnya lalu meletakkannya di atas motor.
“Siapa lo?!”
“Harusnya gue yang tanya. Ngapain lo ngikutin mobil bos gue?”
Begitu tahu orang yang menghadangnya adalah anak buah Kenzie, Toni hendak kabur. Tapi Duta lebih dulu mengejar dan menendang punggung pria itu hingga terjatuh. Sudah kepalang basah, akhirnya Toni memilih melawan. Seberapa kuat dia mencoba, namun Duta lebih tangguh darinya. Hanya dengan tiga pukulan, dirinya sudah terkapar.
Duta menarik kaos Toni hingga pria itu berdiri. Kemudian diseretnya Toni menuju mobilnya. Baru saja dia akan membuka pintu mobil, sebuah tendangan mengenai dirinya. Duta menepiskan debu yang mengotori pakaiannya. Di hadapannya sudah berdiri Septa juga Jamal.
“Siapa kalian?”
“Lo mau nyulik nih orang?” Septa malah balik bertanya.
“Banyak bacot lo!”
Duta merangsek maju. Perkelahian pun segera terjadi. Toni yang masih kesakitan hanya dapat melihat tiga orang yang tengah berjibaku di depannya. Saat dirinya pasrah hampir tertangkap, tanpa disangka datang dua orang membantunya. Septa melayangkan tendangan disusul dengan hajaran Jamal, membuat Duta jatuh tersungkur. Pria itu tak sadarkan diri.
Septa tersenyum mengejek sedang Jamal mengacungkan ibu jarinya dengan posisi terbalik ke arah Duta. Kapan lagi mereka bisa menghajar pria itu. Kesempatan seperti ini tidak boleh disia-siakan. Kedua orang itu membantu Toni kemudian membawanya pergi.
Sepeninggal ketiga orang itu, Duta bangun. Dia menepuk-nepuk pakaiannya yang sedikit kotor. Kalau bukan demi mendalami peran, ingin rasanya dia menghajar balik Septa juga Jamal. Pria itu lalu masuk ke dalam mobil. Rencana pertama berhasil dilakukan.
☘️☘️☘️
Menjelang siang, Kenzie sudah menyelesaikan meetingnya. Rekan bisnisnya lebih dulu pergi sedang Kenzie dan Nara masih bertahan di sana. Pria itu sudah memesan makan siang untuk mereka berdua. Seorang pelayan masuk ke dalam private room seraya mendorong troli. Diletakkannya beberapa pesanan di atas meja. Setelahnya pelayan wanita itu keluar.
Nara melihat makanan yang dipesan adalah salah satu makanan kesukaannya. Dengan gerakan kepala, Kenzie meminta Nara untuk makan. Gadis itu menarik hot plate berisi tenderloin steak ke dekatnya. Keduanya menikmati makan siang dengan tenang.
Pukul satu, keduanya keluar dari restoran. Seorang petugas vallet telah menyiapkan kendaraan Kenzie di depan pintu masuk resto. Setelah menerima kunci, Kenzie masuk ke dalam mobil disusul oleh Nara.
“Sekarang kembali ke kantor, pak?”
“Kita shalat dulu.”
Nara menganggukkan kepalanya. Tangannya bergerak menarik tali sabuk pengaman dan mengenakannya bersamaan dengan bergulirnya roda kendaraan. Kenzie membelokkan mobilnya memasuki area parkir sebuah masjid. Setelah memarkirkan kendaraan, Kenzie juga Nara turun. Mereka memasuki masjid bercat kuning laksana emas.
Sepuluh menit kemudian mereka selesai menjalankan kewajiban. Sejenak Nara memandangi wajah Kenzie yang terlihat segar setelah terkena air wudhu. Hatinya semakin berat untuk melepaskan pria ini dari hidupnya.
Sekali ini aja Ra, lo egois. Ngga ada salahnya menjalani perjodohan ini. Kalau Ken menerima, berarti dia udah menerima elo sebagai pendampingnya. Lambat laun lo pasti bisa bikin dia jatuh cinta sama elo.
Belum tentu, Ra. Lo lihat aja Chika. Berapa lama dia ngejar-ngejar Ken tapi ujung-ujungnya zonk. Dia aja yang cantik ditolak apalagi elo. Dari pada lo lebih sakit nantinya, mending akhiri aja sekarang.
Nara terus bermonolog, dua sisi hatinya saling bersahutan. Bunyi suara mesin membuyarkan lamunan Nara. Kenzie kembali menjalankan kendaraannya. Tak ada niat Nara menanyakan kemana tujuan mereka kali ini. Gadis itu masih sibuk dengan perang batinnya.
Kendaraan Kenzie terus melaju membelah jalanan kota Bandung yang begitu terik. Tak lama mobilnya berbelok memasuki area Andhara mall. Pria itu mengarahkan kendaraan menuju basement kemudian berhenti di salah satu tempat yang kosong.
“Ayo.”
☘️☘️☘️
**Ayo bang, kita dangduta nyok🤣
Kaget ya dapet notif?
Sama, mamake juga kaget nih jempol tiba² berkhianat main up aja padahal hari ini waktunya libur🤦
Up hari ini bonus buat kalian readers setiaku🤗
Sama mamake lagi seneng, tim Thomas masuk semifinal habis ngalahin musuh bebuyutan, China 3-0. Good job for you guys👏👏👏
Buat yg bingung pas Kenan bilang chiki balls godain suami kakaknya, itu mamake ngga typo ya, sengaja Kenan bilang gitu biar lebih mendramatisir dan chiki balls semakin dibully🤣🤣
Nih mamake kasih lagi visual si kompor mledug**
__ADS_1
Papa Abi