
“Pa..”
Abi menundukkan pandangannya, melihat pada Kenzie yang berdiri di dekat rumah pohon. Pria itu menggerakkan tangannya, meminta sang anak naik ke atas. Kenzie pun menapakkan kakinya menaiki tangga ulir yang membawanya menuju rumah pohon. Dia mendekati sang papa lalu berdiri di sampingnya.
“Papa lagi ngapain?”
“Nostalgia.”
“Nostalgia?”
“Hmm.. kamu ingat, umur berapa waktu papa buat rumah pohon ini?”
“Enam tahun.”
“Ya.. enam tahun. Berarti rumah pohon ini sudah berusia dua puluh tahun. Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin mama memberi kabar bahagia soal kehamilannya. Waktu itu papa baru menikah tiga bulan dengan mamamu. Lalu kebahagiaan datang, kehadiranmu melengkapi hidup kami.”
Mata Abi terus menatap ke depan, seolah pria itu tengah melihat layar putih yang menayangkan cerita kehidupannya dahulu. Di awal-awal pernikahannya dengan Nina. Kenzie hanya diam, tak ada keinginan untuk bertanya atau menanggapi cerita sang papa.
“Papa masih belum percaya. Rasanya baru saja papa menggendongmu, mengajarimu berjalan, berbicara. Dan sekarang, kamu sudah dewasa dan akan menikah. Besok kamu sudah memiliki tanggung jawab baru,” Abi membalikkan tubuhnya menghadap Kenzie.
“Anak papa sudah besar,” Abi menepuk rahang Kenzie kemudian mengusap sudut matanya yang membasah. Kenzie pun tak kalah terharunya, suasana di antara mereka tiba-tiba saja berubah melow.
“Jadilah suami yang baik Ken.. suami yang bertanggung jawab, suami yang dapat membahagiakan dan melindungi istrinya dengan baik. Papa percaya, kamu akan bisa melakukannya. Kamu juga sudah bisa menggantikan papa kelak, menjaga perusahaan, menjaga mama dan adik-adikmu.”
“Please don’t say just like you wanna leave me, pap. You’re still with me right? You’ll gonna see me have a baby, your grandson (Tolong jangan bilang hal yang seperti itu pa, seperti papa mau meninggalkanku. Papa akan terus bersamaku kan? Papa akan melihatku memiliki anak, cucu papa.”
“Of course. I’ll be here until you, Frey and Nan give me a lot of grand children (tentu saja. Papa akan terus ada sampai kamu, Frey dan Nan memberi papa banyak cucu).”
Abi memegang kedua pundak Kenzie, kemudian membawa anaknya itu ke dalam pelukannya. Kenzie memeluk erat punggung sang papa. Matanya juga berkaca-kaca. Dia tak mau kejadian saat dirinya remaja terulang kembali. Sungguh dirinya masih belum sanggup kalau harus kehilangan papa tercinta.
Pelukan Abi terurai, berganti dengan rangkulan di bahu Kenzie. Kenzie memalingkan wajahnya sejenak, menghapus airmata yang tadi sempat mengalir. Abi hanya tersenyum melihat sang anak yang masih saja merasa gengsi kalau harus menangis di depannya atau Nina. Diusaknya puncak kepala anak sulungnya itu.
“Apa kamu sudah siap?”
“In Syaa Allah siap pa.”
“Hafalkan nama Nara dengan benar. Jangan sampai kamu salah sebut.”
“Emang ada pas akad nikah salah sebut nama pengantin?”
“Ada hahaha...”
Tawa Abi pecah mengingat pernikahan Kevin dahulu. Pria itu sampai harus mengulang ijab kabul sebanyak tiga kali karena salah menyebut nama Rindu.
“Selagi masih ada waktu, apa ada yang mau kamu tanyakan?”
“Soal apa pa?”
“Soal rumah tangga, hubungan suami istri, soal malam pertama,” Abi mengulum senyumnya.
“Ennggg...”
“Ayo kita bicara, sebagai sesama laki-laki.”
Abi mengajak Kenzie masuk ke dalam rumah pohon. Kedua pria itu lalu menghempaskan bokong di kasur yang terdapat di sana. Dengan punggung menyender ke dinding dan kaki diselonjorkan, kedua pria itu duduk bersisian.
“Kamu mau menanyakan apa?”
“Nggg.. dulu papa sama mama pernah hampir kebablasan ngga sebelum nikah.”
“Hmm.. pernah. Mamamu itu fiuuhhh.. so sexy. Papa kadang suka khilaf kalau dekat-dekat dengannya,” Abi terkekeh.
“Kenapa kamu tanya itu? Jangan-jangan kamu sama Nara...”
“Ngga pa.. kita ngga ngapa-ngapain, cuma ciuman aja ehem..”
Abi kembali terkekeh, terlebih ketika melihat wajah sang anak yang memerah. Kenzie mengusap tengkuknya untuk menghilangkan grogi yang melandanya. Terdengar dehemannya beberapa kali untuk mengusir kekikukannya.
“Papa bahagia kamu akan menikahi Nara, anak salah satu sahabat papa. Nara gadis yang baik. Kamu pasti akan bahagia hidup dengannya.”
“Kalau aku menolak perjodohan waktu itu, apa papa akan tetap memaksaku.”
“Memaksa tidak, tapi papa akan terus memastikan kalau kamu tidak memilih perempuan yang salah. Papa bersyukur kamu menerima perjodohan. Kamu tidak melakukan kesalahan yang sama seperti papa.”
“Maksud papa?”
“Sebelum menikah dengan mamamu, papa sudah pernah menikah.”
Kenzie menatap tak percaya. Abi dan Nina juga keluarga Hikmat yang lain tak pernah menceritakan masa lalu Abi pada anak-anaknya. Mereka sepakat mengubur masa kelam itu dan terus menatap ke depan. Ini pertama kalinya Abi membicarakan hal tersebut.
“Fahira.. itu nama istri pertama papa. Dia adalah kakak dari Ruby, ibunya Fathan.”
Lagi Kenzie dibuat terkejut, tapi kali ini tak ada pertanyaan keluar dari mulutnya. Pria itu memilih mendengarkan saja, membiarkan Abi menyelesaikan ceritanya. Melihat tak ada reaksi dari sang anak, Abi melanjutkan ceritanya. Pernikahannya dengan Fahira yang tak bahagia, perselingkuhan sang istri yang kemudian berujung pada kecelakaan maut, semua mengalir dari mulutnya. Tentu saja Abi melewatkan bagian Jojo yang salah paham padanya.
“Jadi dulu mama perawatnya papa?” tanya Kenzie setelah Abi selesai bercerita.
“Iya. Setelah kecelakaan, hidup papa terpuruk. Setahun papa menutup diri, hidup papa hancur, papa kehilangan semangat hidup. Tapi itu semua berubah setelah papa bertemu dengan mama. Mamamu... perempuan yang hebat. Dia bisa mengembalikan kepercayaan diri papa, memberikan semangat baru untuk papa dan yang terpenting, mamamu mencintai papa dengan tulus.”
“Mama bilang papa melakukan banyak hal untuk mama, salah satunya menemukan om Anfa. Papa juga sangat melindungi dan menyayangi mama.”
__ADS_1
“Apa yang papa lakukan untuk mama, ngga sebanding dengan apa yang mamamu lakukan untuk papa. Dan sudah kewajiban papa untuk menjaga dan melindungi mama. Karena papa sangat mencintainya.”
“Aku ingin rumah tanggaku seperti mama dan papa. Saling menyayangi, mengasihi, saling mengisi kekurangan masing-masing.”
“Papa dan mama akan selalu mendoakanmu.”
Kenzie tersenyum, dalam hatinya bersyukur diberikan keluarga yang harmonis dan bahagia. Pembicaraan di antara keduanya terus mengalir. Kenzie banyak bertanya tentang dirinya waktu kecil. Sesekali terdengar tawa mereka ketika Abi menceritakan tingkahnya semasa kecil dulu.
“Hmm.. pa.. kalau soal..”
“Soal apa? Yang jelas kalau ngomong jangan dipotong-potong,” Abi sengaja menggoda anaknya. Padahal dia sudah tahu kemana arah pembicaraan sang anak.
“Kalau dulu papa sama mama malam pertamanya gimana?”
“Ngga ada malam pertama.”
“Serius pa? Papa bohong kan? Masa ngga ada malam pertama? Emangnya mama sama papa ngga ehem-ehem apa?”
“Apa itu ehem-ehem?”
“Ngga usah sok polos pa. Udah tua juga,” gerutu Kenzie karena Abi selalu saja menggodanya.
“Pernikahan mama dan papa itu digelar dari pagi. Jam dua siang acaranya udah beres. Jadi ngapain harus tunggu sampe malam. Langsung tancap gas aja, siang pertama hahaha..”
Kenzie melongo, ternyata sang papa termasuk kategori orang yang sangat menjunjung tinggi efisiensi waktu. Tak bisa dibayangkan, di tengah udara siang yang panas, pengantin baru malah membuat suasana bertambah panas.
“Kamu harus belajar yang bener biar bisa muasin istri kamu. Jangan ikutin pipi kamu. Malam pertama malah mabar.”
“Hahaha... serius pa? Mabar? Astaga pipi hahahaha...”
“Kamu mau ngikutin jejak pipi kamu?”
“Nggalah pa.. ikutin jejak papa aja hahaha...”
“Kamu ketempelan jin mesum di mana?”
“Di rumah pohon. Nih jin mesumnya di samping aku.”
“Dasar anak gendeng.”
Abi menjitak kepala Kenzie yang menyebutnya jin mesum, namun tak ayal dia pun ikut tertawa. Mereka kembali melanjutkan pembicaraan. Namun pembicaraan kali ini cukup serius bahkan menjurus tegang. Beberapa kali Kenzie menelan ludahnya kelat saat Abi memberikan ilmu bercinta padanya.
☘️☘️☘️
Bada Ashar semua anggota keluarga Hikmat, keluarga Jojo, Kevin, Radix dan Gurit sudah datang berkumpul. Demikian juga dengan keluarga dari anak-anak Aswan dan Setia juga sudah datang. Tak lupa Beno, Agung serta Dendi juga ikut datang bersama keluarganya. Mereka sedianya akan menyaksikan jalannya janji suci antara Kenzie dan Nara. Karena jadwal pernikahan yang dimajukan lebih awal, penghulu yang akan menikahkan hanya mempunyai waktu luang saat sore hari.
Tepat pukul empat, semua yang berkepentingan sudah berada di meja akad. Penghulu, Jojo serta dua orang saksi sudah siap di posisi masing-masing. Agung akan menjadi saksi untuk pihak Kenzie, sedang Charlie akan menjadi saksi dari pihak Jojo. Kenzie sendiri sudah duduk berhadapan dengan Jojo. Sedang Nara masih menunggu di ruangan kecil yang ada di dalam ballroom, ditemani oleh Adinda juga Naya dan Dilara.
Di bagian samping, dekat dengan panggung pelaminan, hantaran pernikahan serta mas kawin sudah tertata rapih di atas meja. Acara akad akan segera dimulai.
Setelah mengecek kelengkapan dokumen dari kedua mempelai, sang penghulu mempersilahkan pada Jojo untuk memulai prosesi akad. Setelah mengucapkan basmallah dalam hati, pria itu mengulurkan tangannya ke arah Kenzie. Seraya menarik nafas panjang, Kenzie menyambut uluran tangan Jojo dan menggenggamnya erat.
“Ananda Kenzie Nagendra Hikmat, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Naraya Ofelia binti Jovan Romano dengan mas kawin emas batangan seberat 5kg dibayar tunai!”
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Naraya Ofelia binti Jovan Romano dengan mas kawin tersebut tunai!”
“Bagaimana para saksi sah?” tanya sang penghulu.
“SAH!” tegas Kevin dan Charlie bersamaan.
“SAAAAAAHHHHH!!” sambar para sepupu sekaligus sahabat Kenzie yang suaranya sudah seperti paduan suara dengan Kenan berada di depan mereka bergaya bak dirigen.
Mendengar proses akad telah selesai, Adinda beserta Naya dan Dilara membawa Nara keluar dari ruangan. Diapit mama dan kedua saudarinya, Nara melangkah menuju meja akad. Kenzie menolehkan kepalanya melihat ke arah wanita yang baru beberapa menit lalu telah sah menjadi istrinya. Matanya tak berkedip menatap wajah cantik Nara dalam balutan kebaya modern warna broken white.
Tak berbeda dengan Kenzie, Nara juga menatap tak berkedip ke arah pria yang kini telah sah menjadi suaminya. Kenzie nampak tampan dan gagah memakai beskap warna broken white. Dada gadis itu berdebar kencang seiring langkahnya yang semakin mendekati meja akad. Sesampainya di sana, Adinda mendudukkan anaknya di samping Kenzie.
Fathan menyerahkan kotak beludru berwarna biru tua yang sedari tadi ada padanya. Kenzie membuka kotak tersebut lalu menyematkan cincin pernikahkan bertahtakan berlian kecil ke jari manis Nara. Hal yang sama dilakukan oleh Nara. Diambilnya cincin yang tersisa lalu memakaikannya ke jari manis Kenzie.
Nara meraih tangan Kenzie lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Kenzie memegang kedua bahu Nara kemudian mendaratkan ciuman di kening sang istri. Tak berhenti di situ, Kenzie juga mengecup bibir Nara, membuat pengantin wanita itu tersipu malu. Semua yang menyaksikan juga dibuat terkejut dengan aksi pria yang kerap bersikap dingin itu. Sontak saja hal tersebut menimbulkan kegaduhan.
“Buset main nyosor adek gue aja!” Barra.
“Mode soang beraksi!” Ezra.
“Nabirong!” Aric.
“Tahan Ken, masih banyak jomblo ngenes!” Fathan.
“Ngamar sono ngamar!” Ravin.
“Wadaw mataku ternoda!” Anya.
“Nasib jadi jomblo menahun,” Haikal.
“Naga kutub mencair!” Viren.
__ADS_1
“Astaga bikin travelotak,” Revan.
“Ya Tuhan lindungilah jiwa hamba yang masih suci ini,” Kenan mengangkat kedua tangannya seperti tengah berdoa.
Kenzie menulikan telinganya dari ocehan para juliders di belakangnya. Dia dan Nara menyibukkan diri dengan menandatangi dokumen pernikahan. Selanjutnya mereka bergaya di depan kamera, sambil memperlihatkan cincin juga buku pernikahan. Sang fotografer kembali meminta Kenzie mencium kening Nara untuk diabadikan. Setelahnya lagi-lagi Kenzie mencuri ciuman di bibir Nara yang kembali menimbulkan kehebohan.
“Anak lo Bi, bisa hot juga,” celetuk Cakra.
“Like father like son,” sambung Juna.
“Udah ngebet banget si Ken,” sahut Kevin.
“Untung Ken keturunan gue. Kalau keturunan Jojo, bisa bobol duluan si Nara,” jawab Abi santai yang langsung mendapat delikan dari Jojo.
Usai sesi yang membuat heboh suasana, acara disambung dengan pemberian wejangan dari penghulu untuk kedua mempelai seputar rumah tangga, hak serta kewajiban suami dan istri. Kenzie dan Nara mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Selama tausyiah, tangan Kenzie tak lepas menggenggam tangan Nara.
Acara terus berlanjut dengan pemberian wejangan dari para tetua. Kedua mempelai mendatangi orang tua masing-masing untuk mendengarkan nasehat. Yang pertama mereka datangi adalah Nina. Kenzie memeluk erat sang mama. Airmata Nina mengalir, tangis bahagia wanita itu keluar melihat sang anak sudah mendapatkan pasangan hidupnya.
“Ken.. anak mama. Sekarang kamu sudah menjadi seorang suami. Berlaku baiklah pada istrimu, bimbing dengan penuh kesabaran dan kelembutan. Jangan melukai hatinya dengan meninggikan suaramu apalagi melukai fisiknya seperti papa yang selalu memperlakukan mama dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang.”
“Iya ma. In Syaa Allah, aku akan selalu mengingat nasehat mama,” Kenzie mengeratkan pelukannya di tubuh Nina. Matanya nampak berkaca-kaca. Tak lama dia menguraikan pelukannya. Memberi kesempatan pada Nara.
“Nara sayang. Mama bahagia, akhinya kamu menjadi menantu mama. Mama titip Ken padamu, harus banyak bersabar menghadapi sikapnya yang kaku dan dingin. Tapi mama percaya, dia akan memperlakukanmu dengan baik karena dia sangat mencintaimu.”
“Iya ma. Terima kasih sudah melahirkan dan membesarkan lelaki sempurna untukku,” suara Nara terdengar tercekat menahan haru.
Kenzie berjalan menuju Abi yang ada di sebelah Nina. Sang ayah menatapnya dengan penuh haru, matanya nampak berkaca-kaca. Ditepuknya pelan rahang sang anak sebelum pria itu menarik Kenzie ke dalam pelukannya.
“Anak papa sudah dewasa sekarang. Kamu sudah menjadi suami, satu tanggung jawab lagi berada di pundakmu. Jadilah suami yang baik, yang bisa membimbing istri, menyayangi dan melindunginya. Papa selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian.”
“Makasih pa. Untuk semua kasih sayang yang papa berikan. Aku yang sekarang adalah hasil didikan dan bimbingan papa. Tanpa papa, aku bukan apa-apa.”
“Papa yang berterima kasih padamu sudah lahir sebagai anak papa, kebanggaan papa,” Abi mengurai pelukannya lalu kembali menepuk rahang sang anak.
Kenzie mengusut air di sudut matanya, begitu pula Abi. Keduanya tenggelam dalam keharuan yang mendalam. Hubungan Abi dan Kenzie bukan hanya sekedar hubungan ayah dan anak, namun keduanya bisa menjadi sahabat yang baik. Abi melihat pada Nara kemudian memeluk menantunya itu.
“Menantu papa yang cantik. Terima kasih kamu mau menerima Ken sebagai suamimu, menerima semua kelebihan dan kekurangan dalam dirinya. Papa titip Ken padamu. Papa yakin kamu akan membuatnya menjadi pria yang lebih baik lagi dan hebat.”
“Aku akan berusaha menjadi istri yang baik dan menantu yang baik untuk papa dan mama.”
Kini giliran Jojo dan Adinda yang akan memberikan petuahnya pada pengantin baru. Nara menghampiri sang mama, wanita yang sudah melahirkan, membesarkan dan mencurahkan kasih sayang untuknya. Untuk sesaat Nara menangis dalam pelukan Adinda. Di saat terberatnya, mamanya yang banyak mendampingi dirinya.
“Jadilah istri yang baik, Ra. Hormati suamimu, jaga dirinya dan jaga pernikahan kalian, keduanya adalah hal yang berharga dalam hidupmu. Jadilah surga untuk suamimu, tempatnya berpulang setelah dirinya lelah mencari nafkah untukmu.”
“Iya ma,” jawab Nara di tengah tangisnya. Masih dalam posisi memeluk Nara, Adinda menarik Kenzie dalam pelukannya.
“Mama titip Nara. Kalau dia melakukan kesalahan, tegurlah dengan cara yang baik. Perlakukan dia dengan lemah lembut. Mama percayakan Nara padamu.”
“Iya ma. In Syaa Allah aku akan menjadi suami yang baik untuk Nara.”
Adinda mengurai pelukannya. Tangannya mengusap airmata yang membasahi pipi putrinya. Kemudian Nara menghampiri Jojo. Melihat wajah sang ayah yang sudah bersimbah airmata, Nara langsung menghambur dalam pelukan Jojo. Pelukan erat dan ciuman bertubi dihadiahkan oleh pria itu pada anaknya.
“Papa...”
“Satu tanggung jawab papa sudah berkurang. Sekarang Ken adalah suamimu, imam hidupmu. Dia yang akab bertanggung jawab atas hidupmu, dunia akhirat. Hormati, hargai dan patuhi suamimu karena dia adalah jalanmu menuju surga. Papa akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Jangan lupa segera berikan papa cucu yang cantik dan tampan.”
Tak ada jawaban dari Nara, gadis itu masih berkubang dengan tangisannya. Jojo mencium kening sang anak cukup lama kemudian mengurai pelukannya. Pria itu lalu melihat ke arah Kenzie. Tangannya terbuka menyambut pelukan dari menantu pertamanya. Beberapa kali ditepuknya punggung Kenzie.
“Terima kasih sudah bersedia menjadikan Nara istrimu. Papa titip anak papa padamu. Sayangi dia seperti papa menyayanginya. Jangan sia-siakan dia karena dia adalah harta berharga milik papa.”
“Iya pa. In Syaa Allah, aku akan menjadi suami yang baik untuknya. Sebisa mungkin aku tidak akan menyakiti hatinya, karena aku mencintai Nara.”
“Papa percaya itu. Doa papa selalu menyertai kalian.”
Jojo melepaskan pelukannya seraya mengusap airmatanya. Kenzie menarik Nara yang masih menangis ke dalam pelukannya. Beberapa kali pria itu mendaratkan kecupan di puncak kepala istrinya. Selanjutnya pasangan itu mendekati para paman dan bibi. Telinga keduanya terbuka lebar mendengar dan menerima nasehat untuk mereka.
Para kerabat dan juga sahabat yang menyaksikan peristiwa sakral itu juga turut memberikan ucapan selamat. Bergantian para sahabat memeluk Kenzie. Tak ada yang menyangka, pria dingin yang kerap dipanggil naga kutub itu menjadi yang pertama melepas status lajang di antara mereka.
“Gue titip Nara, Ken. Gue percaya lo pasti bisa jaga dia dengan baik. Gue bersyukur dia dapet suami seperti elo.”
“Thanks Bar. Tenang aja, gue bakal jagain Nara seperti jaga nyawa gue sendiri.”
“Dan jangan lupa, sekarang lo mesti hormat sama gue. Sekarang gue udah sah jadi kakak ipar lo,” Barra terkekeh.
“Najis... lo yang harus baik-baik sama gue kalau mau hubungan lo ama Hanna lancar,” balas Kenzie.
“Dasar adek ipar durjana,” gerutu Barra yang hanya dibalas kekehan oleh Kenzie.
Setelah suasana yang mengharu biru, acara dilanjutkan dengan foto bersama. Kedua pengantin menuju booth yang sudah disediakan pihak WO. Selain foto berdua, mereka juga berfoto dengan anggota keluarga juga kerabat dan para sahabat.
Miss Ella, orang yang bertanggung jawab merias pasangan pengantin meminta kedua mempelai untuk kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Acara resepsi akan diadakan pukul tujuh malam. Dan hanya tersisa waktu satu setengah jam lagi. Kenzie menggandeng tangan Nara. Keduanya segera menuju ke lantai 10, tempat di mana kamar rias pengantin berada.
☘️☘️☘️
Maaf yang udah nunggu lama. Tadi novel ditolak NT dengan alasan bab terlalu panjang🤐
Yang udah baca novel baru mamake, cuss udah up bab baru, jangan lupa like and komennya ya. Inget² judulnya,
BETWEEN MY STEP BROTHER, HUSBAND AND HIS LOVER**.
__ADS_1
Maacih😘😘😘