
Lima tahun kemudian
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Lima tahun berlalu, dan anggota keluarga Hikmat sudah bertambah seiring dengan kelahiran cucu generasi kedua. Abi dan yang lainnya juga memutuskan pensiun, mereka menyerahkan tanggung jawab perusahaan pada anak-anak.
Kenzie sudah resmi menggantikan posisi Abi di Metro East dan Fathan masih setia mendampinginya. Sementara itu Kenan mengisi posisi Kenzie dahulu, sebagai wakil CEO. Dia juga bertanggung jawab atas anak perusahaan yang baru saja didirikan tiga tahun lalu. Dan untuk membantu tugasnya sehari-hari, dia dibantu oleh Jamal. Pria itu kini resmi bergabung di perusahaan, tidak lagi berada di tim keamanan. Selain dapat dipercaya, Jamal juga memiliki otak yang encer. Sedang Freya mengambil alih tugas Nina mengelola yayasan.
Begitu pula Juna, yang sudah menyerahkan sepenuhnya tampuk kepeminpinan di Blue Sky pada Ezra. Viren pun sudah resmi mendampingi anak sulung Juna itu untuk menggantikan Kevin. Azra sendiri masih menggeluti bisnisnya, mengelola butik. Kini butiknya sudah memiliki cabang di tiga kota berbeda. Alisha memilih membantu Freya mengelola yayasan bersama dengan Dilara.
Aric pun telah mengambil alih tampuk kepemimpinan dari Cakra. Suami dari Naya itu resmi menjadi CEO Maeswara Dunia sejak dua tahun lalu. Dalam mengelola perusahaan, dia dibantu oleh Reza, anak dari Darian, sepupu Nina. Anya, Naya dan Nara berkolaborasi membuka usaha kuliner yang menyediakan aneka cake dan pastry.
Jojo juga mengikuti para sahabat untuk pensiun dan mempercayakan sepenuhnya pengelolaan J&J Entertainment pada anak sulungnya, Barra. Dan untuk membantu pekerjaannya, pria itu dibantu oleh Irvin.
Hal yang sama terjadi pada Kevin. Sekarang pria itu memilih tinggal di rumah. Viren menggantikan dirinya di Blue Sky, sedang Ravin mengelola semua hotel yang berada di bawah Arjuna Group.
Berbeda dengan Anfa yang masih aktif bekerja di perusahaan. Dia masih harus bertahan dua atau tiga tahun lagi, sampai Haikal benar-benar siap memegang tampuk kepeminpinan The Ocean. Saat ini Haikal sudah bergabung di perusahaan dan ada Revan yang membantu pekerjaannya sehari-hari. Hanna sendiri sekarang lebih fokus mengurus beberapa klub olahraga yang didirikan oleh The Ocean.
Abi saat ini sudah memiliki enam orang cucu. Tiga diperoleh dari Kenzie dan Nara. Setelah si kembar berusia tiga tahun, mereka kembali dikarunia anak laki-laki. Begitu pula dengan Freya, setelah mendapatkan anak perempuan, dua tahun kemudian dia melahirkan seorang anak laki-laki. Lalu Kenan, dari pernikahannya dengan Zahra telah dikarunia seorang anak laki-laki. Dan kini dia tengah menanti kelahiran anak keduanya yang diperkirakan berjenis kelamin perempuan.
Juna pun sudah mempunyai lima orang cucu. Pria itu mendapatkan cucu laki-laki kembar dari Ezra. Sedang Azra memberinya sepasang cucu laki-laki dan perempuan. Alisha dan Viren baru mempunyai satu anak berjenis kelamin perempuan. Dan pasangan itu kini tengah berbahagia karena Alisha dinyatakan tengah hamil muda tiga hari lalu.
Cakra juga sehari-harinya lebih sering menghabiskan waktu di rumah, bermain dengan keempat cucunya. Lewat Aric dan Naya, dia memperoleh dua orang cucu, sepasang laki-laki dan perempuan. Dari Anya dia juga mendapatkan sepasang cucu. Dan sekarang pria itu tengah menanti kelahiran cucu kelimanya yang diperkirakan akan lahir dua bulan lagi dari pasangan Aric dan Naya.
Menyusul di belakangnya Kevin yang memiliki tiga orang cucu, dua perempuan dan satu laki-laki. Dan cucu keempatnya masih belum bisa diprediksi apakah perempuan atau laki-laki.
Dan di antara kelima sahabat tersebut, tentu saja Jojo keluar sebagai pemegang rekor dengan cucu terbanyak. Total pria itu sudah mempunyai sembilan orang cucu. Tiga dari Nara, dan anaknya yang lain masing-masing memberinya dua orang cucu. Bahkan sebentar lagi, anggota keluarganya bertambah, karena Naya tengah mengandung anak ketiganya.
Radix dan Gurit juga telah memperoleh gelar kakek dari anak-anaknya yang telah memberikan cucu. Semua anak Gurit sudah menikah dan dirinya telah memperoleh enam orang cucu. Radix sendiri baru mempunyai tiga orang cucu dari Irvin dan Olivia. Sedang Revan belum melepas masa jomblonya, dan Katrina anak bungsunya masih menyelesaikan studinya.
Sedang Anfa, kini tengah bersiap untuk menikahkan anak bungsunya. Haikal yang telah menyelesaikan studinya hingga jenjang master dan juga telah resmi bergabung di perusahaan, telah memantapkan hatinya untuk mengakhiri masa lajangnya. Pria itu akan menikahi Vina. Gadis yang dikenalnya saat pesta pernikahan Kenan dan Zahra. Sejak saat itu hubungan keduanya dimulai dan esok, mereka akan meresmikannya dalam ikatan suci.
☘️☘️☘️
Para tamu undangan terus berdatangan untuk memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai yang tengah berbahagia. Sejak naik ke panggung pelaminan satu jam yang lalu, Haikal dan Vina tak henti mengumbar senyuman. Jelas sekali rona kebahagiaan terpancar di wajah sepasang pengantin tersebut. Begitu pula dengan orang tua kedua belah pihak.
Namun kondisi terbalik dirasakan seorang pria yang tengah duduk sendiri di meja paling sudut. Pria tampan yang kini mengenakan kacamata, memilih memainkan ponselnya, demi menghalau kegalauan yang dirasakannya. Sejak setahun yang lalu, Revan sukses menyandang status presiden jomblo, karena hubungannya dengan Tiara kandas sebelum sampai ke pelaminan.
Perhatiannya teralihkan ketika band pengiring wedding singer memainkan musik disusul dengan suara yang begitu akrab di telinganya. Pria itu mengangkat kepalanya, melihat pada Kenan yang tengah berdiri di depan stand mic. Perasaannya mulai tidak enak, sahabat somplaknya itu pasti tengah merencanakan sesuatu untuk membuatnya keki.
“Selamat malam semuanya. Pada kesempatan kali ini, ijinkan saya menyanyikan sebuah lagu. Tapi mohon maaf sebelumnya pada pasangan pengantin. Lagu yang akan saya nyanyikan tidak diperuntukkan bagi kalian. Tapi untuk sahabat saya yang tengah duduk menyendiri seperti ayam yang kehilangan telurnya.”
Tangan Kenan menunjuk pada meja yang ditempati Revan. Dengan perasaan dongkol Revan melihat pada Kenan seraya mengepalkan tangannya. Tebakannya benar adanya, Kenan memang tengah menjadikan dirinya bahan bully-an. Pria itu bertambah keki ketika melihat Viren, Anya dan Irvin berjalan mendekatinya. Sudah dipastikan, penderitaannya akan bertambah dengan kedatangan kakak dan sahabatnya.
Tanpa berlama-lama, Kenan segera memberi tanda pada band pengiring untuk memulai lagu yang akan dinyanyikannya. Alunan musik pun mulai terdengar. Terdengar helaan nafas panjang Revan, sahabat durjananya itu menyanyikan lagu yang mempunyai judul sama dengan nama mantan kekasihnya.
“Tiara, menggamit kenangan zaman persekolahan. Tiara, kumimpi kita bersanding atas kayangan. Seakan bisa kusentuh peristiwa semalam. Di malam pesta, engkau bisikkan kata azimat di telinga.”
Terdengar suara tawa Viren dan Irvin ketika Kenan mulai menyanyikan bait pertama lagu yang berjudul Tiara tersebut. Revan hanya bisa mendengus kesal melihat para sahabat durjananya begitu bahagia menertawakan dirinya.
“Biasa aja tuh muka. Ngga usah dibikin tegar kaya gitu,” celetuk Viren.
“Jangan nangis oii, malu-maluin lo,” Anya mengambil tisu lalu mengusapkannya ke telinga Revan seperti tengah mengelap sesuatu.
“Dasar kampret!” rutuk Revan.
Bukannya marah, Anya semakin terpingkal melihat reaksi Revan. Kandasnya hubungan Revan dan Tiara memang sudah tersebar luas di keluarga Hikmat. Bahkan Dendi sempat meminta maaf pada Radix karena tak enak hati. Namun ayah dari Revan itu hanya menanggapinya dengan santai.
“Diem nyi ronggeng,” Revan menepis tangan Anya.
“Kakak ipar lo, nyong,” Irvin menoyor kepala adiknya.
__ADS_1
“Bomat!”
Ketiga orang yang tengah bersama Revan kembali mempedengarkan tawanya dan semakin membuat Revan keki. Pria itu bertambah sebal ketika Kenan menyanyikan bait terakhir lagunya seraya mengarahkan tangan kepadanya.
“Oh, Tiara, pedihnya. Dapatkah kau merasakan? Oh, Tiara, pedihnya. Dapatkah kau merasakan?”
Kenan mengakhiri lagunya lalu turun dari panggung hiburan. Dia melangkahkan kakinya menuju meja yang ditempati para sahabatnya. Pria itu mendaratkan bokongnya di kursi tepat di samping Revan. Dengan santai Kenan merangkul bahu sang sahabat.
“Gimana? Terhibur kan dengar suara emas gue.”
“Dasar kampret. Enak kaga, pengen muntah iya,” rutuk Revan.
“Hahaha…”
“Elo tuh, emang ngga ada lagu lain apa? Kasihan adek gue sampai berlinangan air comberan dari kupingnya,” celetuk Irvin.
“Rese!” umpat Revan yang kembali disambut tawa lainnya.
“Sebenernya gue punya kabar ngga enak nih. Pengennya ngga sampein, tapi ini amanat,” ujar Kenan seraya memasang wajah serius.
“Kapan apaan?” tanya Viren.
“Tadi pagi om Dendi ke rumah. Terus dia bilang minggu depan Tiara nikah.”
“What???” Irvin pura-pura terkejut, padahal pria itu sudah mengetahui perihal pernikahan Tiara.
“Astaga Van, jadi selama ini lo cuma jagain jodoh orang doang,” celetuk Viren.
“Sakitnya tuh di sini,” Anya menunjuk dadanya.
“Revan yang jagain, Aldi yang bayar tunai, hahahaha…”
“Tenang aja, Van. Pasti akan datang seorang bidadari dalam hidup lo. Lo tinggal buka hati dan lihat sekeliling, siapa tahu jodoh lo ngga jauh,” celetuk Anya.
“Kang seblak yang deket rumah kayanya masih jomblo,” celetuk Irvin.
“Diem lo, bang. Jangan sampai gue bikin rumah tangga lo ganjing-ganjing.”
“Lo ngga tau kalau tiap malem gue sama Anya emang gonjang-ganjing di kasur,” balas Irvin tak mau kalah.
“Bhuahahahaha…” tawa lepas Kenan dan Viren langsung terdengar. Revan hanya bisa pasrah dijadikan bulan-bulanan para sahabatnya. Namun di sudut hatinya dia sedikit terhibur. Walau terkesan membully, namun itu adalah bentuk perhatian dari orang-orang terdekatnya agar dirinya tidak terlalu lama terpuruk dalam kesedihan.
Revan beranjak dari tempatnya lalu berjalan menuju salah salah satu stoll untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Dari sekian banyak stoll yang tersedia, pria itu memilih mengantri di stoll yang menyediakan sate ayam.
Tak jauh darinya berdiri seorang gadis yang juga tengah mengantri. Di depan gadis itu berdiri seorang pria bertubuh gempal yang tengah mengambil makanan. Setelah mendapatkan satu porsi sate dan lontongnya, pria itu berbalik dan tanpa sengaja menyenggol sang gadis. Tak siap dengan senggolan pria bertubuh gempal itu, tubuh gadis itu oleng dan hampir terjatuh. Revan yang ada di belakangnya dengan sigap menahannya. Tangannya melingkari pinggang ramping sang gadis.
“Eh.. kamu ngga apa-apa?” tanya Revan.
“I.. iya..” jawab gadis tersebut yang ternyata adalah Silva, adik dari Zahra. Untuk sesaat pandangan keduanya bertemu, kemudian Revan melepaskan pelukannya.
“Beneran ngga apa-apa?” tanya Revan memastikan.
“Iya, kak. Makasih untuk kakak cepet nangkep aku. Kalau ngga, aku udah nyungsep,” Silva tertawa kecil untuk menyembunyikan kegugupannya.
Keduanya lalu segera menuju stoll yang hanya menyisakan satu orang saja. Setelah menunggu sebentar, mereka berhasil mendapatkan makanan tersebut. Sesaat Silva bingung hendak duduk di meja mana, namun Revan sudah lebih dulu menarik lengannya menuju meja yang ditempatinya tadi.
“Kak..” sapa Silva pada Kenan seraya mendudukkan diri di salah satu kursi.
“Zahra mana?” tanya Kenan.
__ADS_1
“Kakak lagi sama kak Frey. Tuh,” Silva menunjuk salah satu meja yang berada beberapa meter dari mereka.
“Kakak ke sana dulu, ya. Makan yang banyak,” Kenan berdiri, sebelum pergi, pria itu mengusak pelan puncak kepala sang adik ipar.
Tak lama setelah Kenan pergi, Irvin dan Anya juga beranjak dari tempatnya. Anya ingin berkeliling mencicipi makanan. Begitu pula Viren yang memilih menghampiri Alisha yang tengah mengantri makanan bersama anaknya. Tinggalah Revan dan Silva yang tersisa.
“Kamu mau makan apa lagi?” tanya Revan.
“Eung.. apa ya? Kayanya aku mau makan nasi aja. Aku laper berat.”
“Ayo.”
Silva bangun dari duduknya kemudian berjalan mengikuti Revan. Diam-diam gadis itu tersenyum. Hatinya bahagia bisa bersama dengan Revan, pria yang sudah berhasil mencuri hatinya sejak dua tahun lalu. Namun dia hanya bisa menahan perasaannya karena saat itu Revan masih bersama dengan Tiara. Namun setelah hubungan pria itu kandas, dia masih belum berani mendekat.
Dada Silva berdebar ketika tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan Revan saat mengambil makanan. Sekilas Revan melihat pada adik ipar Kenan tersebut, keningnya mengernyit melihat wajah gadis itu yang memerah.
“Kamu sakit?” tanya Revan seraya menyentuh kening Silva. Karuan saja hal tersebut membuat wajah gadis itu semakin merona.
“Eung.. ngga kak,” Silva berusaha menyembunyikan kegugupannya. Dengan cepat dia mengambil makanan lalu kembali ke meja tadi. Jantungnya berdebar tak karuan. Sedang Revan yang tidak tahu apa-apa, mengikuti langkah Silva dengan santai dan duduk di sampingnya.
“Pacar kamu mana?” Revan membuka percakapan.
“Aku ngga punya pacar.”
“Masa?”
“Iya. Aku kan jomblo sejati,” Silva tertawa pelan. Sejenak Revan terpaku melihat senyum manis gadis itu.
“Mending beresin kuliah dulu. Ngga usah pacaran, kalau ketemu cowok yang tepat langsung nikah.”
“Iya, kak. Kak Nan juga bilang gitu. Kakak sendiri kapan nyusul kak Ikal?”
“Nanti kalau udah ketemu jodohnya. Kayanya masih ngumpet di lubang tikus.”
Jawaban nyeleneh Revan sontak memancing kembali tawa Silva, dan lagi-lagi Revan dibuat tertegun. Sejak putus dari Tiara, pria itu tak pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Dia sibuk bekerja demi mengalihkan perasaan sakitnya. Walau tahu ada beberapa teman wanitanya yang berusaha mendekat dan mencari perhatiannya, Revan tetap bergeming.
“Kakak jangan kelamaan jomblo. Masa mau megang predikat presiden jomblo terus-terusan,” Silva kembali terkikik.
“Ck.. ternyata kamu udah terkontaminasi Nan, ya.”
“Ngga, kak. Aku bilang apa adanya loh.”
“Dan ternyata itu menyakitkan.”
Revan memasang wajah sedih namun kemudian tertawa. Hati Silva semakin cenat-cenut melihat wajah tampan itu tersenyum. Dia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan pipinya yang kembali merona.
“Sil, kamu mau datang ngga ke nikahan Tiara?”
“Kayanya sih datang, kak. Kakak sendiri gimana? Mau datang?”
“Ngga tau, lihat nanti aja.”
“Kalau menurutku sih, kakak datang aja. Tunjukkin sama kak Tiara, kalau kakak udah mup on.”
Revan tertawa mendengar cara Silva mengucapkan kata mup on. Dengan gemas dia mengusak puncak kepala gadis itu dan sukses membuat jantung Silva berdentum-dentum. Silva segera melanjutkan makannya dan tak berani menatap wajah Revan lagi. Berdekatan dengan Revan ternyata efeknya berbahaya sekali. Bisa-bisa pria di sebelahnya tahu perasaan yang mati-matian dipendamnya selama ini.
☘️☘️☘️
Haiii.. Sesuai janji, aku datang membawa bonchap untuk kalian semua. Semoga bisa terhibur, ya. Aku terharu membaca komentar kalian kemarin, terima kasih banyak ya. Semoga saja aku bisa ye teratur up date di tengah kesibukan yang masih melanda. Love you all😘😘😘
__ADS_1