
Private room yang digunakan keluarga Hikmat untuk acara makan malam sudah didatangi oleh semua anggota keluarga. Bukan hanya keluarga inti, Cakra, Lidya juga Rayi ikut makan bersama. Hanya tinggal pengantin baru yang belum kelihatan batang hidungnya.
Dua orang pelayan masuk lalu menata hidangan di meja. Setelah semuanya siap, keduanya keluar dari private room itu. Lima menit berselang, pasangan yang ditunggu-tunggu tiba juga. Abi memeluk pinggang Nina posesif saat masuk ke dalam ruangan. Rahma mengulum senyum tipis melihat cara berjalan menantunya.
Abi menarik kursi untuk Nina kemudian menarik kursi sebelah untuk dirinya. Karena semua sudah berkumpul. Acara makan malam pun dimulai. Nina dengan cekatan mengambilkan makanan untuk suaminya. Rahma melihat haru ke arah keduanya. Juna melirik ke arah Nina. Di leher wanita itu terdapat tiga buah kiss mark. Senyum devil pria itu langsung tercetak di wajah tampannya.
“Nin..”
“Ya kak.”
“Gimana siang pertamanya?”
Uhuk.. uhuk..
Abi segera memberikan minuman untuk istrinya itu. Matanya melotot melihat ke arah Juna. Namun kakaknya itu tak mempedulikannya dan meneruskan makannya. Anfa, Sekar dan Rayi yang tak mengerti dengan apa yang terjadi nampak tenang menikmati makanannya.
“Kapan kalian berangkat bulan madu?”
“Besok pagi pa. Tapi sebelumnya kami ke Banda Aceh dulu, mengunjungi makan orang tua Nina. Anfa juga ikut bersama kami.”
“Aku ngga diajak kak?” celetuk Rayi.
“Emang kamu siapa minta ikut segala? Kalau aku udah jelas suaminya Nina. Nah kamu siapanya Anfa?”
“Ish aku calon istrinya Anfa.”
“Yakin? Sebelum ada ijab kabul, semuanya masih tentatif. Siapa tahu ada yang nikung Anfa di sepertiga belokan rumah.”
Rayi menggeram kesal mendengar jawaban Abi. Anfa memegang tangan Rayi untuk menenangkan hati kekasihnya itu. Teddy hanya menggelengkan kepalanya saja, anak keduanya memang tak punya saringan kalau bicara.
“Sabar aja Ray, mulut bon cabe level 10 emang kaya gitu, pedesnya ngga ketulungan,” hibur Cakra.
“Hilih tebar pesona mulu,” gumam Sekar pelan tapi masih bisa tertangkap oleh Cakra.
“Kenapa beb? Kamu cemburu?”
“Mana ada!”
Cakra hanya tergelak, tangannya mengusak puncak kepala Sekar dengan gemas namun segera ditepis oleh gadis itu.
“Cak.. udah ada kabar dari Ruby Rainbow?”
“Belum.. tiba-tiba ngilang aja tuh orang.”
“Dibawa Coco ke desa pelangi kali,” celetuk Sekar yang langsung disambut gelak tawa lainnya.
“Fa.. pulang dari Banda Aceh, kamu bantuin papa di kantor ya. Kalau si Ruby Rainbow belum nongol juga, kamu yang handle kerjaannya.”
“Siap kak.”
__ADS_1
“Bu Lidya, bagaimana dengan panti? Apa semua kebutuhan semua anak terpenuhi dengan baik?”
“Alhamdulillah pak Teddy. Semua kebutuhan anak sudah terpenuhi dengan baik. Anak usia sekolah juga akan mulai masuk sekolah reguler tahun ajaran baru nanti.”
“Syukurlah. Kalau butuh sesuatu jangan sungkan untuk menyampaikannya pada kami.”
“Iya pak. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya.”
“Sama-sama bu. Terima kasih juga selama ini sudah menjaga dan merawat menantu kami.”
Lidya tersenyum, hatinya lega melihat Nina mendapatkan suami dan keluarga yang begitu menyayanginya. Lidya terkenang saat Nina kecil dulu. Anak itu sering menangis diam-diam menjelang tidurnya karena merindukan keluarganya.
“Ibu titip Nina ya nak Abi. Dia itu kadang suka nangis diam-diam menjelang tidur kalau sedang bersedih.”
“Ibu...” protes Nina.
Abi menolehkan wajahnya ke arah Nina. Istrinya itu hanya menundukkan pandangan, menyembunyikan wajahnya yang merona karena malu. Abi menggenggam tangan Nina kemudian mengecup punggung tangannya mesra.
“Ehem!! Berasa obat nyamuk tak berasap,” celetuk Cakra.
“Udah kaya makhluk astral kita,” sambung Rayi.
“Bener. Yang makan di sini manusia semua, kamu kenapa ikutan di sini? Gabung sana sama spesies kamu, kunti and the gank,” balas Abi.
“Astaga tante. Anak tante sudah melakukan pelecehan verbal sama saya,” adu Rayi pada Rahma.
“Pelecehan verbal itu kalau sesama manusia. Nah kamu kan makhluk astral, jadi ngga masuk hitungan.”
“Kan kamu sendiri yang bilang tadi. Amnesia?”
Rayi langsung mengatupkan mulutnya. Biar bagaimana pun dirinya tidak akan pernah menang berdebat dengan Abi. Lelaki itu selalu saja punya jawaban untuk membalasnya. Dari pada terkena hipertensi dan kekeongeun lebih baik Rayi menutup mulutnya.
Acara makan malam yang diselingi mulut pedas Abi berakhir juga. Pasangan pengantin baru kembali ke kamarnya. Rahma dan Teddy memutuskan kembali ke rumah. Juna dan Nadia memilih menginap di hotel, anggap saja ini bulan madu kedua mereka. Anfa tetap menginap di hotel karena besok pagi akan berangkat bersama pengantin baru ke Banda Aceh. Dia mengantar bu Lidya dan Rayi dulu baru kembali ke hotel.
Cakra juga berinisiatif mengantar Sekar pulang walau gadis itu dengan tegas menolaknya. Tapi bukan Cakra namanya kalau mempan dengan penolakan gadis itu. Setengah memaksa digandengnya tangan Sekar menuju mobilnya yang terparkir di basement hotel. Dibukakannya pintu mobil untuk Sekar, mau tak mau gadis itu naik. Cakra memutari bodi mobil kemudian masuk dan duduk di belakang kemudi. Tangannya bergerak mengarahkan kemudi mobil keluar dari area parkir tersebut.
“Se.. kita jalan-jalan dulu yuk.”
“Ngga ah.. pulang aja.”
“Kenapa sih Se.. kamu susah banget aku ajak jalan. Cuma jalan-jalan doang.”
“Ya udah.. mau jalan kemana?”
“Kita drive-in aja mau ngga?”
“Hmm.. boleh.”
Cakra memacu mobilnya menuju daerah Kiara Condong tempat menonton bioskop outdoor di kota Bandung yang biasa disebut drive-in Senja. Lalu lintas di malam minggu cukup padat, hingga membutuhkan waktu lebih lama untuk tiba di sana. Sayang, kuota yang disediakan fasilitas bioskop outdoor itu sudah habis. Akhirnya Cakra mengajak Sekar berjalan-jalan mengitari taman yang kerap disebut sebagai Kampung Korea itu sambil menikmati pertunjukkan air mancur.
__ADS_1
Cakra dan Sekar mempercepat langkah mereka menuju sekumpulan orang yang tengah menikmati pertunjukkan air mancur. Pancuran air berwarna-warni naik turun mengikuti irama musik yang mengiringi pergerakan air mancur tersebut. Cakra melirik ke arah Sekar yang nampak senang. Diam-diam dia mengulum senyum tipis.
Kerumunan semakin bertambah. Orang yang baru datang merangsek maju ke depan demi bisa melihat dan mengabadikan pertunjukan air mancur tersebut. Tubuh Sekar terdorong oleh sekelompok orang yang baru datang. Hampir saja gadis itu terjatuh kalau Cakra tidak langsung merengkuh bahunya. Ada gelanyar aneh saat tangan Cakra menyentuh bahunya. Sekar menundukkan pandangannya, takut pria itu melihat pipinya yang merona.
Usai pertunjukkan, Cakra mengajak Sekar berjalan-jalan di seputar taman. Dia juga bersedia menjadi fotografer dadakan saat gadis itu meminta berfoto di spot-spot tertentu. Belasan foto Sekar langsung tersimpan dalam memori ponselnya.
“Se.. selfie yuk.”
“Ogah.”
Tanpa mempedulikan penolakan Sekar, Cakra langsung merangkul bahu gadis itu hingga tubuh keduanya berdekatan. Tangan satunya dengan cepat mengabadikan gambar mereka berdua. Cakra tersenyum puas melihat hasil jepretannya.
“Hapus ngga?”
“Ngga lah. Rugi banget, dapetnya susah tahu.”
Sekar berusaha merampas ponsel milik Cakra tapi dengan gesit pria itu mengelak. Terjadilah kejar mengejar yang diiringi aksi usaha perebutan ponsel. Cakra mengangkat tinggi-tinggi ponsel di tangannya. Sekar beberapa kali melompat, mencoba mendapatkan ponsel tersebut.
Sekar belum mau berhenti. Dia mengambil posisi di dekat tangan yang terangkat. Diambilnya ancang-ancang lalu melompat setingginya. Saat yang bersamaan, Cakra menundukkan wajahnya, alhasil bibir Sekar mengenai pipinya. Saking terkejutnya, Sekar hampir terjatuh saat mendarat. Tangan Cakra dengan cepat menggapai pinggang Sekar. Untuk sesaat pandangan keduanya bertemu.
“Ehem! Bang Cakra rese iih..”
Sekar segera melepaskan diri dari Cakra kemudian buru-buru meninggalkannya. Cakra tak dapat menahan senyumnya. Dipegangnya pipi yang tadi tercium oleh Sekar. Kalau bisa dia tak ingin mencuci mukanya agar bekas bibir Sekar tetap menempel di sana.
☘️☘️☘️
Malam semakin larut, waktu telah menunjukkan pukul dua belas lebih dua puluh menit. Dua insan yang tengah dimabuk cinta masih setia bergelung dalam kenikmatan. Sejak habis makan malam, Abi kembali mengajak sang istri mengarungi surga dunia. Dengan sabar dia mengajarkan sang istri bercinta dengan berbagai macam gaya. Sedikit demi sedikit Nina sudah mulai agresif mengikuti permaian sang suami.
Deru nafas mengiringi pergerakan sepasang pengantin di atas ranjang berukuran king size. Udara panas terasa menguar di sekeliling mereka, membuat tubuh keduanya bersimbah keringat. Nina memeluk erat punggung suaminya yang lembab. Mulutnya tak henti men**sah saat Abi dengan rakus melahap bukit kembarnya sedang adiknya terus memompa di bawah sana.
Beberapa kali Nina meremat rambut Abi saat merasakan kenikmatan bertubi yang dihujamkan sang suami. De**han, lenguhan dan jeritan manja sudah tak terhitung keluar dari mulutnya. Abi membalikkan tubuh Nina, kini dia bersiap menghujam milik sang istri dari arah belakang.
Tangan Nina mencengkeram erat seprai yang sudah tak berbentuk lagi. Sebelah tangan Abi berada di perut Nina dan sebelahnya lagi meremat bukit kembar yang sudah diklaim sebagai miliknya. Pinggulnya bergerak maju mundur, menghujam lebih dalam lagi. Nina merasakan miliknya berkedut, tak lama lagi dia akan sampai ke puncaknya. Abi mempercepat gerakannya. Tak lama terdengar lenguhan Nina dan geraman Abi saat keduanya berhasil menggapai kepuasan secara bersamaan.
Tubuh keduanya ambruk di atas kasur. Abi memeluk erat tubuh Nina tanpa melepaskan tautan mereka. Berkali-kali dikecupnya bahu sang istri yang basah oleh keringat.
“Aku mencintamu Nina, sangat mencintaimu.”
Bisik Abi di telinga istrinya yang telah memberinya kepuasaan duniawi. Tak ada jawaban dari Nina, hanya tangannya yang bergerak meraih tangan Abi lalu mencium punggung tangannya berkali-kali sebagai tanda perasaan yang sama untuk sang suami.
Abi melepaskan tautannya kemudian membalikkan tubuh Nina menghadap padanya. Ditariknya sang istri dalam pelukannya. Tangannya mengusap titik peluh yang menghiasi kening Nina lalu mendaratkan ciuman di sana. Abi menarik selimut kemudian menutupi tubuh polos mereka.
“Tidurlah.”
Nina melingkarkan tangan ke punggung Abi seraya menelusupkan kepalanya ke dada bidang sang suami. Tubuhnya yang lelah membuatnya cepat terlelap. Abi yang masih terjaga memandangi wajah cantik sang istri. Perlahan dia melepaskan diri kemudian bergegas menuju kamar mandi.
Selesai membersihkan miliknya, Abi mengambil tisu basah dari atas nakas. Dengan hati-hati dibersihkannya milik sang istri agar tak mengusik tidurnya. Setelah itu Abi kembali berbaring di samping Nina. Matanya mulai terpejam dengan tangan mendekap tubuh istri tercinta.
☘️☘️☘️
__ADS_1
**Ish.. pagi² udah hareudang aja, dasar Abi seneng banget bikin otak emak² traveling🙊
Duh Cakra Ama Sekar tambah gemes deh. Kayanya Sekar udah mulai Jedar jeder deh.. Ayo gasskeun Cak**..