
Di ballroom, pesta pernikahan masih terus berlangsung. Keriuhan semakin terasa ketika boyband dari negeri ginseng yang diundang secara khusus melantunkan tembang andalannya. Suasana semakin bertambah semarak ketika irama musik menghentak memenuhi ballroom. Beberapa tamu yang juga penggemar K-Pop Idol mendekat ke arah panggung dan ikut menari bersama.
Sambil menggerak-gerakkan kepalanya mengikuti irama musik, Anya berjalan menuju meja yang dihuni para sahabatnya. Dia menarik sebuah kursi di samping Revan, adik dari Irvin. Revan mencomot sepotong kue yang dibawa oleh Anya. Dengan satu suapan dia memasukkan kue ke dalam mulut.
“Enak ye kalau tinggal am,” sindir Anya.
“Enak banget, Nya.. rasanya ajib banget hahaha..”
“Dasar kampreto.”
“Nih makan punyaku aja,” Irvin menyodorkan kue di piringnya yang masih utuh. Tentu saja dengan senang hati Anya menerimanya.
“Makasih abang Irvin yang ganteng sejagad dunia maya.”
“Cuma dunia maya?”
“Iya.. kalau di real, yang paling ganteng itu..”
“Gue pastinya,” sambar Kenan.
“Narsis.. pede gila. Masih ganteng bang Aric, nyong,” Anya mendorong kepala Kenan ke belakang dengan telunjuknya.
“Aduh.. duh.. Nya.. tolong dong. Kepala gue ngga bisa balik nih.”
Kenan mempertahankan kepalanya yang terdorong ke belakang. Tak lama Viren menepak belakang kepala pria itu hingga akhirnya berada di posisi normal kembali. Irvin hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah absurd para sahabat adiknya.
“Nan..”
“Paan?”
“Masa tadi jihan nanya sama gue. Kita pacaran apa ngga,” ujar Anya santai.
“Kaya ngga ada cewek lain aja, gue pacaran ama elo. Gue masih normal ya, ogah banget pacaran ama cewek jadi-jadian kaya elo.”
“Kampret, gue juga ogah ama elo,” Anya mengeplak kepala Kenan.
“Nya.. kamu mau ikut pesta halloween di kampus ngga?”
Jihan datang bergabung bersama mereka. Dia akan mengikuti nasehat sang kakak, mulai mendekati Anya demi bisa menarik hati Kenan. Anya melepaskan rangkulan Jihan di bahunya.
“Ngga kayanya. Ngga punya pasangan. Itu konsepnya couple-an kan?”
“Iya. Kamu sama Viren aja.”
“Ogah!” jawab Anya dan Viren bersamaan.
“Nah jawabnya kompak noh. Jodoh berarti,” Revan mulai menggoda.
“Walau dia satu-satunya stok cowok di dunia, ogah banget. Mending jomblo seumur hidup.”
“Gue mending adu pedang dari pada dapet apem modelan dia,” balas Viren tak mau kalah.
Gelak tawa terdengar di meja tersebut. Haikal sampai memukul-mukul meja dan Revan terus memegangi perutnya. Anya dan Viren memang kerap beradu mulut, keduanya sering mengeluarkan celotehan yang mengundang tawa para sahabatnya.
Tawa Anya hilang ketika melihat seorang pria tengah melihatnya dengan tatapan tajam. Gadis itu langsung menundukkan pandangannya. Tak lama dia menarik-narik kemeja Kenan.
“Nan.. anterin gue ke toilet dong.”
“Males.. pergi aja sendiri.”
“Nan..”
“Aku anter, ayo.”
Jihan menarik tangan Anya. Gadis itu bangun dari duduknya kemudian keluar dari ballroom. Jarak kamar mandi dari ballroom tidak terlalu jauh. Tak butuh waktu lama untuk Anya menuntaskan hajatnya. Bersama dengan Jihan, dia keluar dari toilet. Lagi-lagi Anya melihat lelaki yang tadi menatapnya.
“Tuh cowok lihatnya mupeng banget.”
Celetuk Jihan sambil menunjuk dengan dagunya ke arah pria yang mengenakan kemeja berwarna biru muda. Anya segera menarik tangan Jihan untuk segera kembali ke ballroom. Sepanjang jalan Anya terus menundukkan kepalanya. Dia baru mengangkat kepalanya begitu sampai di mejanya. Melihat wajah Anya yang sedikit pucat, membuat Kenan tak bisa menahan diri untuk bertanya.
“Kenapa Nya?”
Anya mendekat kemudian membisikkan sesuatu di telinga Kenan. Pemuda itu langsung melihat ke arah yang dikatakan oleh Anya. Dia menarik kepala Anya kemudian membenamkan ke dadanya. Dada Jihan bergemuruh hebat melihat pemandangan di depannya.
Di sudut lain, sedari tadi Fathan tak henti menjawab pertanyaan dari para rekan bisnisnya tentang masalah pekerjaan juga tentang Kenzie yang akan segera mengakhiri masa lajangnya. Karena Kenzie tiba-tiba menghilang, alhasil Fathan yang menjadi buruan mereka.
Dalam hati pria itu merutuki Kenzie yang menghilang tanpa jejak. Niatnya ingin menghabiskan malam bersama dengan Azra, gagal sudah. Beruntung Aric datang, dia langsung menyerahkan para rekan bisnis bawel itu pada sahabatnya. Sedang Fathan bergegas menghampiri Azra yang berdiri sendiri di dekat stall minuman.
Langkah Fathan terhenti ketika melihat Amran mendekat. Bukan hanya Amran tapi juga ibu dari pria itu. Ketiganya nampak berbincang sebentar. Tak lama Jafar, ayah Amran bergabung. Pria itu datang bersama dengan Juna. Fathan berjalan mendekat kemudian berhenti tak jauh dari tempat Azra. Sambil meneguk minumannya, Fathan mencoba mencuri dengar pembicaraan mereka.
“Kayanya mereka sudah cocok, bagaimana kalau kita percepat saja pernikahan mereka,” seru Jafar.
Rekan bisnis Juna itu memang sangat menginginkan Azra menjadi menantunya. Tak ada reaksi dari Azra, gadis itu hanya tersenyum samar. Berbeda dengan Amran yang terlihat begitu bahagia.
“Bagaimana pak Juna?”
“Kalau saya terserah Azra saja. Karena dia yang akan menjalani pernikahan.”
“Kalau pendapat pribadi pak Juna sendiri bagaimana? Apakah Amran layak untuk Azra?”
“Amran pria yang baik, sopan juga tampan. Bagi saya tak ada yang salah dengan Amran. Tapi sekali lagi keputusan ada di tangan anak saya,” jawab Juna diplomatis.
“Hahaha.. kalau begitu kita segerakan saja pernikahan mereka. Karena sepertinya Azra juga menyukai Amran.”
Azra memutar bola matanya malas mendengar ucapan Jafar. Kemudian sudut matanya menangkap Fathan yang berdiri tak jauh darinya. Melihat Fathan yang beranjak pergi, Azra segera berpamitan pada Juna dan yang lain. Gadis itu kemudian menyusul Fathan.
“Bang.. mau kemana? Dari tadi aku cariin, sibuk bener kayanya.”
“Biasalah.. Kenzie ngilang jadi aku yang jadi sasarannya.”
“Kita ke deck yuk.”
“Ngga ah. Nanti calon kamu marah.”
“Maksud abang apa sih?”
“Az.. kita bicara realita aja. Hubungan kita sepertinya ngga akan berhasil. Aku ngga sebanding dengan Amran yang memiliki segalanya. Aku cuma anak kepala keamanan keluarga Hikmat.”
Fathan melenggang pergi tanpa memberi kesempatan pada Azra untuk menjawabnya. Kesal mendengar ucapan pria itu, Azra bergegas menyusul lalu menarik tangan Fathan hingga berbalik ke arahnya.
“Iya.. hubungan kita sepertinya tidak akan berhasil. Bukan Amran atau statusmu. Tapi karena kamu ngga layak untukku. Aku ngga butuh laki-laki bermental tempe sepertimu. Dasar pengecut..”
Azra mendorong tubuh Fathan dengan tangannya. Sambil menahan tangis, gadis itu berlari keluar dari ballroom. Fathan bergeming, dia hanya diam menatap kepergian gadis yang dicintainya. Sebuah tepukan di bahu menyadarkan lamunannya.
“Bu..”
“Kejar dia Than, jangan diam saja.”
__ADS_1
“Aku ngga layak untuknya, bu.”
“Apa yang kamu takutkan? Apa yang dimiliki Amran ada juga di dirimu. Dan yang terpenting Azra menyukaimu.”
“Itu semua ngga ada gunanya kalau pak Juna ngga menyetujui hubungan kami.”
“Ibu sudah kenal lama dengan keluarga Hikmat. Mereka bukan orang yang membedakan orang berdasarkan status. Kalau kamu dinilai layak mendampingi Azra, mereka pasti akan memberikan restunya. Berjuanglah sebelum kamu benar-benar kehilangannya.”
Ruby menepuk pundak sang anak kemudian meninggalkannya. Dia sengaja memberikan waktu pada anaknya untuk memikirkan ucapannya. Tak lama sang istri pergi, Agung datang mendekat. Sepertinya dia juga perlu memberikan suntikan moral pada anaknya.
“Kamu mencintai Azra?”
“Iya.”
“Lalu apa yang membuatmu ngga berani melangkah?”
“Apa selama ini Ken, Aric, Ezra, Barra atau Ravin memandang sebelah mata padamu hanya karena ayah bawahan orang tuanya?” Agung melanjutkan ucapannya karena Fathan belum menjawab pertanyaannya tadi.
“Ngga yah.”
“Kamu tahu dari mana sikap mereka berasal? Itu hasil didikan para orang tua mereka. Ayah bisa menerima kalau kamu mundur karena Azra tidak menyukaimu. Tapi ayah ngga suka kamu mundur hanya karena status sosial. Keluarga Hikmat bukanlah sekumpulan orang picik yang hanya memandang orang dari status sosialnya saja. Kalau kamu benar mencintainya Azra, tunjukkan kalau kamu layak bersanding dengannya. Tunjukkan keseriusanmu. Datangi pak Juna minta restu padanya. Itu baru anak ayah.”
Mendengar ucapan sang ayah, semangat Fathan terlecut. Dengan penuh percaya diri dia berjalan menuju meja yang dihuni Juna dan para sahabatnya. Setelah berbincang sebentar dengan Jafar, pria itu memang kembali ke tempatnya semula. Fathan berhenti sejenak untuk mengambil nafas panjang kemudian meneruskan langkahnya. Dia berhenti tepat di sisi kursi yang Juna duduki.
“Maaf om.”
“Kenapa Than?”
“Ada yang mau saya bicarakan dengan om. Kalau om tidak keberatan.”
“Bicara di sini saja, jangan berduaan nanti diganggu setan,” celetuk Abi.
“Betul, jangan sampai ada dusta di antara kita,” sambung Kevin.
“Kita ini bestie, you know,” sahut Jojo.
“Sakitnya tuh di sini kalau ditinggal ngobrol berdua,” Cakra menunjuk dadanya.
Sejenak Fathan hanya bisa melongo mendengar komentar empat pria di depannya. Dia sampai tak bisa mengeluarkan kata-kata saking terpananya mendengar celotehan absurd mereka. Juna terkekeh melihat Fathan yang sepertinya shock melihat kesomplakan sahabat dan adiknya.
“Apa yang mau kamu bicarakan? Katakan saja di sini.”
Juna mempersilahkan Fathan untuk duduk di kursi sebelahnya yang kosong. Fathan menarik kursi kemudian mendudukkan diri di sana. Dia berdehem sebentar untuk mengusir rasa grogi yang menyergap. Bukan hanya satu tapi lima singa harus dia hadapi sekaligus. Tapi demi bisa mendapatkan Azra, pria itu siap melakukannya. Lagi pula sudah kepalang tanggung, dari pada ditikung Amran, lebih baik maju sekarang.
“Begini om, maaf kalau saya lancang. Saya menyukai atau lebih tepatnya mencintai Azra. Kalau om mengijinkan, saya ingin melamar Azra menjadi istri saya.”
“Uuuuuhhhhh...” terdengar suara Abi dan yang lainnya bersamaan seperti paduan suara.
“Kamu mencintai Azra?” tanya Juna.
“Iya om.”
“Apa Azra mencintaimu?”
“Sepertinya om.”
“Saya ngga mau dengar jawaban yang ngga pasti. Pergi tanyakan pada Azra apa dia mencintaimu. Kalau dia juga mencintaimu, saya tunggu kamu beserta kedua orang tuamu di rumah.”
Lagi, Fathan malah terpaku di tempatnya setelah mendengar jawaban Juna. Rasanya tak percaya, pria bersahaja itu baru saja memberikan ijin padanya. Cakra yang gemas melihat Fathan masih terdiam, berdiri dari duduknya kemudian menarik pria itu.
“Malah bengong. Udah sana, cari Azranya.”
Fathan menganggukkan kepalanya pada semua orang di meja itu kemudian bergegas pergi. Juna hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Fathan.
“Waduh.. musim kawin nih,” celetuk Jojo.
“Nikah woi.. elo aja kali yang kawin duluan sebelum nikah,” sembur Abi.
“Ngga usah dibahas lagi, nyet.”
“Wah ngelunjak, Bi. Udah batalin aja, kaga usah besanan ama dia,” sahut Kevin.
“Jangan oii.. sorry bestie.. kita kan lope forever ya,” Jojo memaju mundurkan tangannya yang membentuk hati ke arah Abi.
“Najis!”
“Hahaha..”
Fathan berlari keluar ballroom. Tadi dia sempat melihat Azra berlari keluar dari tempat resepsi. Pria itu yakin kalau Azra menuju observation deck yang ada di lantai 57. Fathan bergegas menuju lift. Dia bergerak gelisah menunggu lift yang tak kunjung terbuka pintunya.
Setelah hampir sepuluh menit menunggu, akhirnya lift yang ditunggu tiba juga. Fathan menunggu beberapa pengunjung keluar baru dirinya masuk ke dalam lift. Tak berapa lama kotak besi tersebut bergerak naik.
Lift berhenti beberapa kali membuat perjalanannya menuju deck memakan waktu lebih lama. Penantiannya berakhir juga, saat lift telah berhasil mencapai lantai tertinggi di gedung tersebut. Dengan cepat Fathan menghambur keluar. Matanya langsung berkeliling memandangi area skypark, mencari keberadaan pujaan hatinya.
Fathan berdiri lunglai, ternyata Azra tak ada di lantai ini. Pria itu pun memutuskan untuk kembali ke bawah. Beberapa kali dia menghubungi Azra, namun panggilannya tak dijawab oleh gadis itu.
TING
Pintu lift terbuka. Fathan yang tengah menunduk langsung mengangkat kepalanya. Matanya kemudian menangkap sosok Azra tengah berdiri di dalam lift. Pandangan mereka beradu dan saling mengunci. Melihat pintu yang hampir kembali menutup, Fathan maju kemudian menarik tangan Azra keluar dari lift. Dia membawa gadis itu ke salah satu sudut yang sepi.
“Az.. maafin aku. Maaf kalau tadi aku sudah bersikap seperti pengecut. Tapi sekarang aku sadar kalau kamu terlalu berharga kalau kulepaskan begitu saja. Aku ngga mau kehilanganmu, aku mencintaimu Az. Maukah kamu menikah denganku?”
Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir Azra. Hanya tatapan saja yang diberikan pada Fathan dengan mata berkaca-kaca. Ucapan cinta dan ajakan menikah yang ditunggunya selama ini akhirnya keluar juga dari mulut pria yang dicintainya.
“Az.. kamu mau menikah denganku?”
“Iya.. aku mau.”
Fathan menarik Azra ke dalam pelukannya. Tangan Azra melingkari punggung kokoh pria itu. Fathan mengeratkan pelukannya seraya membenamkan wajahnya di ceruk leher Azra. Beberapa kali pria itu membisikkan kata cinta di telinga Azra.
☘️☘️☘️
Kembali ke ballroom. Naya sedari tadi tak melepaskan pandangannya dari Aric yang tengah asik berbincang dengan Ezra juga Fathan. Dapat terlihat jelas kerinduan dari sorot mata gadis itu. Semenjak memutuskan memundurkan jadwal pernikahan, hubungan keduanya semakin merenggang saja. Jangankan bertemu, untuk berkomunikasi via ponsel pun sudah jarang.
Lamunan Naya terhenti ketika mendengar dering ponselnya. Sejenak gadis itu memandangi nama yang tertera di layar ponsel. Sahabatnya, Veruca yang menghubunginya. Dia sedikit ragu menjawab panggilan dari Veruca, akhir-akhir ini Naya merasa curiga dengan sahabatnya itu. Namun karena ponselnya terus berdering, gadis itu terpaksa menjawabnya.
“Halo.”
“Halo Nay.. lo lagi di mana?”
“Lagi ada di nikahan temen. Kenapa emang?”
“Ada bang Aric ngga?”
“Ngga, emang kenapa?”
“Ya ngga bakalan adalah, orang dia lagi jalan sama cewek. Mereka malah check in ke hotel.”
__ADS_1
“Masa?”
“Iya.”
Veruca menceritakan tentang Aric menurut versinya, tanpa wanita itu sadari pria yang dibicarakannya berada tak jauh dari sahabatnya. Naya terus mendengarkan apa yang dikatakan Veruca, sedang matanya tak lepas memandang ke arah Aric. Matanya mulai memanas, sadar kalau selama ini dia telah diracuni oleh orang yang begitu dipercayainya.
“Halo.. halo.. Nay, lo masih denger gue kan?”
“Iya.”
“Kenapa? lo nangis ya? Duh sorry, gue ngga ada maksud bikin lo sedih. Tapi lo harus tahu kebenarannya. kalau calon suami lo tuh cowok brengsek, ngga setia.”
“Hmm.. makasih Ve.. lo emang sahabat terbaik gue. Udah dulu ya.”
Naya langsung memutuskan panggilan. Seketika dia muak mendengar suara Veruca. Terngiang kembali semua hasutan yang pernah dikatakan wanita itu. Tak ingin menarik perhatian semua orang, Naya berlari keluar ruangan. Gadis itu menuju salah satu sudut yang sepi dan mengeluarkan semua kesedihannya. Beberapa kali dia menepuk dadanya yang terasa sesak.
“Nay..”
Naya menoleh ketika sebuah suara yang begitu familiar memanggil namanya. Melihat saudara kembarnya bersimbah airmata, Nara berjongkok kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
“Kenapa Nay? Ada apa?”
“Maafin gue, Ra. Gue udah jadi saudara yang jahat selama ini. Gue emang bodoh, ngga bisa melihat mana yang asli dan mana yang palsu. Bisa-bisanya gue terhasut omongan orang lain dan musuhin saudara sendiri. Maafin gue, Ra... maaf...”
Nara mengeratkan pelukannya di tubuh Naya. Matanya juga ikut berkaca-kaca. Tak dapat dilukiskan bagaimana perasaannya saat ini. Akhirnya saudara kembar yang begitu disayanginya bisa menyadari kekeliruannya. Perlahan Nara mengurai pelukannya, diambilnya tisu dari dalam tas lalu mengusap pelan airmata yang membasahi wajah Naya.
“Ve.. dia itu pengkhianat. Dia ular berkepala dua. Dia sudah mengadu domba kita, Ra.”
“Gue tahu, Nay. Dan lo ngga pantes nangis karena dia. Lo harus kuat. Tunjukkan kalau elo bukan wanita bodoh.”
“Iya, Ra. Gue akan balas semua perbuatannya.”
Kesedihan di sorot mata Naya berubah menjadi kemarahan. Selama dua tahun ini, Veruca telah berhasil meracuni pikirannya. Membuatnya melakukan hal-hal di luar kebiasaannya dan membuatnya dijauhi oleh anggota keluarga.
“Syukur deh kalo lo udah sadar. Kirain bakal oon selamanya,” celetuk Kenzie yang sedari tadi memperhatikan keduanya dari belakang.
“Mas iih..”
“Ngga apa-apa, Ra. Bukan bang Ken kalo ngomongnya ngga nyelekit.”
Naya tersenyum seraya mengusap sisa-sisa airmatanya. Nara berdiri kemudian membantu Naya untuk berdiri.
“Lo ngga apa-apa?”
“Hmm.. gue mau balik ke kamar duluan.”
“Mau gue temenin?”
“Ngga usah. Tar pawang lo ngamuk. Bilang ke papa sama mama, gue ke kamar.”
“Iya.”
Naya beranjak dari tempatnya. Dia berjalan menuju lift yang kebetulan sudah terbuka pintunya. Dengan cepat Naya masuk ke dalam. Tak lama lift bergerak turun. Naya melangkahkan kakinya begitu lift sudah menyentuh lantai dasar. Dia tak kembali ke kamar tapi memilih berjalan-jalan untuk menghirup udara segar.
Gadis itu melangkah menuju sebuah kursi yang ada di bagian sisi gedung kemudian mendudukkan diri di sana. Tangannya membuka clutch bag-nya kemudian mengambil ponselnya. Dibukanya pesan yang baru saja masuk. Naya tersenyum getir melihat beberapa foto yang dikirimkan Veruca. Foto Aric bersama dengan wanita lain.
“Dasar ular,” gumamnya pelan.
Naya memasukkan kembali ponselnya. Disandarkan punggung ke sandaran kursi kemudian menutup matanya. Hembusan angin sedikit menyegarkan dirinya yang tengah terbakar amarah. Gadis itu membuka matanya begitu merasakan ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Saat dirinya membuka mata, terlihat sebuah tangan menyodorkan es krim sundae ke depan wajahnya.
“Abang..”
“Mau makan sendiri atau kusuapi?”
Karena tak ada jawaban dari Naya, Aric berinisiatif menyuapi gadis itu. Naya membuka mulutnya dan membiarkan penganan manis dan dingin itu masuk ke dalam mulutnya. Tanpa dapat ditahan airmatanya mengalir begitu saja.
“Es krimnya rasanya horor banget ya, kamu sampe nangis gitu.”
“Abang..”
Naya memukul pelan lengan Aric. Pria itu hanya terkekeh. Diletakkan cup es krim di pinggir kursi, kemudian menarik Naya ke dalam pelukannya. Mendapat pelukan dari kekasih tercinta, airmata Naya semakin deras bercucuran. Aric membiarkan saja Naya mengeluarkan semua kesedihannya. Beberapa kali dia mendaratkan ciuman di puncak kepala gadis itu.
“Welcome back baby,” gumamnya pelan.
☘️☘️☘️
Saat malam beranjak semakin larut, keluarga mempelai wanita mempersilahkan tamu yang masih bertahan di ballroom menuju skypark observation deck. Taipan asal singapura itu sudah menyewa area ini bagi para tamunya untuk menikmati pertunjukkan kembang api.
Begitu semua tamu sudah berpindah tempat, acara pertunjukkan kembang api pun dimulai. Pendaran cahaya warna-warni menerangi langit malam Singapura. Tak bisa dilukiskan bagaimana perasaan Syakira malam ini. Anak yang dulu disia-siakan ayah kandungnya, kini sudah menjadi orang sukses dan mendapatkan istri dari kalangan atas. Didikan Gurit sebagai ayah sambungnya, berhasil mengantarkan Akmal sampai ke titik ini.
Wanita yang usianya sudah tak muda lagi namun tetap konsisten dengan suara mend*sahnya itu menyusut air di sudut matanya. Seseorang menyodorkan tisu pada Syakira, membuat dirinya mengeluarkan suara khasnya.
“Therimaaahh kaasyiihh.”
“Sama-sama bu.”
Robert Chen, yang tak lain adalah besannya hanya melemparkan senyum pada Syakira. Pria itu sudah mulai membiasakan diri mendengar suara mend*sah ibu dari menantunya. Awal bertemu, tak dipungkiri Robert cukup terkejut mendengar suara Syakira. Bahkan dirinya sempat dibuat cenat-cenut setiap mendengar wanita itu bicara. Ditambah dengan bodi Syakira yang masih terlihat montok, membuat otak Robert sempat dibuat berkelana.
“Kamu bahagia sayang?” tanya Gurit seraya memeluk pinggang sang istri.
“Iyaaahhh sayaaangghh.. makasyiiihh unthukkhh syemuaanyaahh.”
“Sama-sama sayang,” Gurit mencium pipi Syakira.
Pesta kembang api masih belum berakhir. Bunyi percikan api terus terdengar disusul dengan pancaran warna di langit yang semakin menggelap. Pantulan cahaya di teluk Marina semakin menambah keindahan malam ini. Sebuah kembang api kembali ditembakkan, kini sebuah tulisan tercetak di udara. HAPPY WEDDING DAY, JESSLYN AND AKMAL.
Dilara tak henti memandangi hujan cahaya di langit. Kepalanya mendongak mengabadikan momen indah ini dengan kedua netranya. Ezra berjalan mendekat ke arahnya, kemudian memilih berdiri di belakang gadis itu. Perlahan tangannya bergerak memeluk tubuh gadis di depannya. Tinggi Dilara yang hanya sebatas dada Ezra, membuat pria itu dengan bebas meletakkan dagunya di atas kepala Dilara. Dada gadis itu berdentum tak karuan berada sedekat ini bersama pria pencuri hatinya.
☘️☘️☘️
**Eaaa.. yang baper langsung reka adegan ya sama pasangan masing²😁
Yang kangen banget sama Syakira dan suara khasnya, tuh mamake keluarin Syakiranya.
Hayo.. kira² udah bisa nebak belum pasangan Anya siapa? Revan, Viren apa jangan² Kenan🏃🏃🏃
Kemarin ada yang nanyain Alisha, anak bungsu Juna yang sempet jadi korban penculikan. Alisha masih hidup dan bentar lagi launching orangnya. Sabar aja ya. Kenapa Barra dan Hanna ngga nongol? Karena mamake udah siapin kejutan buat mereka😉
Ini visual anak² Juna
Ezra**
Azra
__ADS_1
Alisha