
Cakra terlihat gelisah. Sedari tadi dia tak berhenti menggerakkan kakinya. Di hadapannya, orang tua Atika terus saja mengajaknya bicara. Di sampingnya, Atika, gadis yang baru dikenalnya sebulan tampak antusias. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyuman.
Sesekali Cakra melemparkan senyum terpaksa, ketika orang tua Atika melemparkan candaan garingnya. Dalam hati pria itu, terus berdoa semoga saja Sekar tidak lupa akan janjinya menyelamatkan hidupnya dari aksi nekad Atika. Cakra mengambil gelas berisi air putih kemudian meneguknya.
“Kang Cakra!!”
Cakra menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari sebelah kanannya. Serta merta air yang baru masuk ke mulutnya tersembur keluar. Semburan air itu sukses mengenai pakaian Atika.
“Mas Cakra iih...”
Cakra tak mempedulikan rengekan Atika. Matanya terus tertuju pada dua makhluk yang berdiri tak jauh dari mejanya. Matanya mengerjap beberapa kali untuk memastikan kalau tidak ada yang salah dengan penglihatannya.
Nampak di sana Sekar mengenakan daster yang telah pudar warnanya, perutnya buncit seperti sedang mengandung tujuh bulan. Rambutnya dikuncir asal dan bawahnya mengenakan sandal jepit yang sudah bulukan. Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahunan. Tangannya menggenggam tangan Sekar. Dan yang membuat Cakra bergidik, dari hidung anak itu mengeluarkan cairan yang terus saja ditarik, hingga cairan itu bergerak persis seperti lagu Syahrini, maju mundur cantik.
Dengan sorot mata penuh amarah, Sekar berjalan mendekati meja Cakra. Beberapa pengunjung yang ada di sana terus saja memperhatikannya. Wajah Cakra sudah tidak usah ditanya lagi bagaimana rupanya. Kulit putihnya berubah merah karena menahan malu.
“Kang Cakra.. akang tega ya.”
Ucap Sekar dengan logat Sunda yang kental. Dia mulai berakting, menangis seolah telah teraniaya lahir batin oleh Cakra. Setali tiga uang, bocah di sampingnya juga ikutan menangis sambil tak henti menyedot ingusnya.
“Nak Cakra.. siapa dia?”
Ibu Atika mulai membuka suaranya. Wajahnya terlihat jijik melihat penampilan Sekar dengan bocah di sampingnya. Begitu pula dengan Atika.
“Dia...”
“Saya istrinya kang Cakra, dan ini anaknya. Namanya Buana, umurnya lima tahun. Dan ini yang di dalam perut saya juga anaknya kang Cakra. Sekarang sudah tujuh bulan. Jadi gara-gara dia akang udah kaya bang Toyib ngga pulang-pulang?” Sekar menunjuk ke arah Atika.
Cakra menepuk keningnya. Bukan seperti ini drama yang diinginkan Cakra untuk membuat Atika menyingkir. Cakra berharap Sekar datang dengan gaya elegan, lalu mengenalkan dirinya sebagai anak bungsu dari Teddy dan Rahma. Sehingga membuat Atika dan kedua orang tuanya mundur teratur. Namun Cakra lupa kalau dia juga sudah menyematkan kata ilfil dalam permintaannya. Jadi inilah drama yang tengah ditampilkan Sekar padanya.
“Mas.. ini bohong kan? Dia bukan istri kamu kan? Dan anak dekil ini bukan anakmu kan?”
Atika menggoyang-goyangkan tangan Cakra. Dia memaksa Cakra menyangkal drama yang dibuat Sekar. Namun lidah Cakra terasa kelu. Dia masih shock melihat penampilan Sekar berikut aktingnya.
“Eh jangan kecentilan kamu yah, pegang-pegang suami saya. Lepas ngga..”
Sekar menarik tangan Atika yang terus memeluk lengan Cakra. Atika segera menepiskan tangan Sekar lalu mengibaskannya seolah jijik telah tersentuh wanita kumal itu.
“Bapak huaaaa... bapak jahat huaaaa...”
Cakra semakin pusing, anak ingusan itu ikutan menangis. Sontak meja yang ditempati Cakra langsung menjadi pusat perhatian. Orang tua Atika yang merasa malu segera berdiri kemudian menarik tangan Atika untuk ikut pergi dengannya.
“Saya kecewa denganmu Cakra. Mulai sekarang jangan dekati anak saya lagi. Tika.. ayo pergi. Ngga ada yang bisa kamu harapkan dari laki-laki brengsek ini.”
Ayah Atika menarik tangan anak gadisnya. Atika yang masih belum percaya, mencoba bertahan. Namun tenaga ayahnya lebih kuat, hingga akhirnya dia hanya bisa pasrah mengikuti langkah kedua orang tuanya meninggalkan restoran.
Melihat Atika beserta kedua orang tuanya telah pergi, Sekar mengakhiri sandiwaranya. Dia tertawa senang seraya bertos ria dengan bocah di sebelahnya. Sekar kemudian mengajak anak laki-laki itu duduk di kursi yang kosong.
“Gimana bang? Keren kan aktingku?”
“Astaga Se... kamu nemu anak ini di mana?”
“Tar aja ceritanya. Kasihan nih anak laper.”
Sekar mengangkat tangannya memanggil pelayan. Tak lama seorang pelayan datang menghampiri. Dia melongo melihat perempuan kampungan dengan daster kumalnya fasih menyebutkan menu dalam bahasa Inggris. Cakra menganggukkan kepala pada pelayan itu tanda untuk mencatat pesanan Sekar. Setelah itu pelayan tersebut pergi meninggalkan meja.
“Se.. ini anak siapa?”
“Ini anak ibu yang suka mangkal di dekat lampu merah sana. Gimana, keren kan aktingnya? Ayo kenalan sama om.”
“Hendi om..”
SROOT
__ADS_1
Anak itu menyedot ingusnya lalu menyodorkan tangannya ke arah Cakra. Dengan sedikit bergidik, Cakra membalas uluran tangan Hendi. Sekar mengambil tisu dari atas meja, lalu tanpa jijik dia membersihkan ingus Hendi.
“Daster siapa yang kamu pake? Terus itu perut kamu kok bisa persis orang hamil?”
“Ini dasternya bi Murni, sengaja aku cari yang paling buluk, malah udah mau dijadiin lap. Nah kalau bantalan ini aku beli khusus buat pendalaman karakter. Ini yang biasa dipake buat syuting, bang.”
Sekar menepuk-nepuk perut buncitnya. Cakra hanya menggelengkan kepalanya. Sekar memang agak somplak anaknya namun tak menyangka akan segila ini melakukan aksinya.
“Ortunya Atika kayanya ilfil banget tuh bang.”
“Bukan Cuma ortunya Atika. Semua orang yang ada di restoran ini ilfil lihat kalian berdua. Untung ngga ada yang muntah lihat nih anak.”
Sekar terkekeh melihat wajah keki Cakra. Pelayan yang tadi mencatat pesanannya datang dengan membawa pesanannya. Sebelum dia pergi, Sekar kembali memesan makanan untuk Hendi bawa pulang.
Melihat makanan lezat di hadapannya, Hendi langsung melahap makanan itu dengan rakusnya. Sekar mengusap puncak kepala Hendi. Sesekali dia membantu memotong sosis yang ada di piring bocah itu. Cakra terharu melihat sikap Sekar yang begitu perhatian pada Hendi. Hal ini sukses membuat perasaannya bertambah dalam pada gadis itu.
“Bang.. abis makan beliin aku baju ya. Aku sengaja pake daster ini dari rumah.”
“Iya.”
“Beliin juga baju buat Hendi sama emak and adiknya. Terus beliin mereka sembako sama jangan lupa kasih duit juga.”
“Iya bawel.”
Acara makan malam pun usai sudah. Setelah membayar semua tagihan, sesuai janjinya, Cakra membelikan pakaian untuk Sekar juga Hendi. Mata Cakra tak henti memandang Sekar yang telah berganti pakaian dengan celana jeans dan kaos V neck warna pink. Setelah membelikan pakaian untuk Hendi, ibu dan adiknya, Sekar lanjut berbelanja sembako untuk keluarga Hendi.
Cakra memasukkan semua belanjaan ke dalam bagasi kemudian melajukan mobilnya untuk mengantarkan Hendi kembali ke rumahnya. Cakra menghentikan mobilnya di depan sebuah kampus ternama. Bersama Sekar dia membawa beberapa kantong belanjaan. Mereka menyusuri jalan setapak di pinggiran kali Cikapundung.
Tak lama mereka sampai di sebuah rumah yang terbuat dari triplek dengan atap seng. Hendi mengucapkan salam seraya membuka pintu. Nampak ibunya baru saja menidurkan adik bungsunya yang masih bayi. Sedang adik perempuannya yang hanya selisih dua tahun darinya masih terjaga.
“Malam bu,” sapa Sekar.
“Malam neng. Sudah beres acaranya?”
Sekar menaruh barang belanjaannya tadi. Ibu Hendi menganga melihat banyaknya barang yang diberikan Sekar untuknya.
“Ya Allah neng, banyak sekali. Hatur nuhun neng.”
“Sama-sama bu. Kalau bisa ibu jangan ngemis di jalan lagi ya bu. Kasian dede Heri kalau terpapar matahari dan debu.”
“Iya neng.”
Sekar menggerakkan tangannya pada Cakra. Pria itu memberikan amplop berisi uang yang telah disiapkannya tadi. Sekar menyodorkan amplop tersebut pada ibu Hendi.
“Ibu.. ini ada sedikit rejeki buat ibu. Tolong digunakan sebaik mungkin. Mungkin ibu bisa berjualan dengan uang ini.”
Mata ibu Hendi berkaca-kaca melihat amplop yang dipegang Sekar. Dengan tangan bergetar dia mengambil amplop tersebut.
“Ya Allah... alhamdulillah tos dipasihan rejeki.. hatur neng.. hatur nuhun aa.. sing kagentosan kanu leuwih ageung deui.”
“Aamiin.. kalau gitu kita permisi dulu ya bu. Daaagh Hendi.”
“Daaagghh kak Sekar.”
Sekar dan Cakra berpamitan, kemudian keluar dari rumah sederhana yang ditempati Hendi dan keluarganya. Tak ada kata-kata yang mampu Cakra lontarkan. Malam ini, dia dibuat terkejut dengan sisi lain Sekar. Gadis ceria yang berasal dari keluarga berada namun tak sungkan untuk bergaul dengan semua orang. Kedermawanan Teddy dan Rahma memang menurun pada semua anaknya, termasuk Sekar.
“Sekarang kita mau ke mana?” tanya Cakra begitu mereka masuk ke dalam mobil.
“Pulang lah, emang mau kemana lagi?”
“Jalan-jalan dulu. Ke Cartil gimana? Ngopi sambil lihat pemandangan Bandung di malam hari, mau ya?”
“Kalau ngopi ngga akan bisa tidur nantinya, bang.”
__ADS_1
“Ya ngemil aja deh.”
“Udah kenyang.”
“Ck... susah amat sih ngajak kamu jalan. Kasih kesempatan napa sama abang ganteng ini buat kencan sama kamu.”
“Lebay... udah pulang yuk. Ngantuk aku, besok kan kerja.”
“Ya udah deh.”
Dengan sangat terpaksa, Cakra mengarahkan kendaraannya menuju kediaman Teddy. Sesekali dia melihat ke arah Sekar yang menyandarkan kepalanya ke jok, matanya terpejam dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.
Cakra menghentikan kendaraan di depan rumah besar milik keluarga Hikmat. Dia menepuk pelan lengan Sekar. Gadis itu benar-benar tertidur. Cakra mendekatkan dirinya, saat yang bersamaan Sekar membuka matanya. Refleks gadis itu menubrukkan keningnya ke hidung Cakra.
“Aduh!! Sakit Se..”
“Ya maaf, lagian bang Cakra ngapain sih? Kan kaget aku pas buka mata ada Rahwana.”
“Enak aja, ganteng gini disebut Rahwana,” Cakra mengusap tulang hidungnya yang terasa nyeri.
“Maaf.. maaf.. udah sampe ya. Aku turun dulu ya bang.”
“Se...”
Cakra menahan tangan Sekar yang hendak membuka pintu. Gadis itu menghentikan gerakan tangannya.
“Apa bang?”
“Pacaran yuk.”
“Dih ngigo bang.”
“Ngga.. aku sadar se-sadar-sadarnya. Aku cinta sama kamu Se, udah lama malah.”
“Ck.. pernyataan cinta playboy itu ngga bisa dipercaya,” Sekar membuka pintu mobil. Saat dirinya akan turun, kembali terdengar suara Cakra.
“Kamu tahu kenapa aku sering banget jalan sama banyak cewek? Bukan karena aku mudah jatuh cinta. Tapi untuk mengalihkan perasaanku. Tapi ternyata semua sia-sia, sesering apapun aku bertemu banyak wanita, hanya satu yang bisa menggetarkan hatiku. Kamu Se.. cuma kamu..”
“Ah elah bang lebay banget. See you tomorrow.”
Sekar turun dari mobil tanpa menghiraukan ucapan Cakra. Pria itu hanya menghembuskan nafas panjang. Sekuat apapun dirinya berusaha, Sekar tetap bergeming.
Apa aku harus melupakan perasaanku Se dan mulai membuka hati buat yang lain?
Cakra menggelengkan kepalanya pelan kemudian menjalankan kendaraannya meninggalkan kediaman wanita yang begitu dicintainya.
Sementara itu Sekar yang telah masuk ke dalam kamar, menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Kata-kata Cakra kembali terngiang di kepalanya. Bukannya gadis itu tak menyadari perasaan Cakra padanya. Hanya saja ada sesuatu yang membuat gadis itu mengabaikan perasaan pria itu.
Maaf bang, aku masih belum bisa memaafkanmu. Kalau saja kamu tidak menyembunyikan fakta tentang Fahira, kak Abi ngga akan terluka karena perempuan itu. Kediamanmu dulu sudah menghancurkan hidup kak Abi. Aku akan memaafkanmu kalau aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri kak Abi sudah bahagia.
☘️☘️☘️
**Cakra shock lihat angka sebelas di bawah hidung Hendi😂
Biar lebih asik ngehalunya, mamake kasih visual Sekar dan Cakra.
Sekar yang somplak**
Cakra si playboy lebay
__ADS_1