
Seluruh keluarga termasuk Cakra tercengang mendengar cerita Anfa. Usai makan siang dan shalat dzuhur berjamaah, mereka berkumpul di ruang keluarga. Sekali lagi Anfa harus menceritakan kisah pilu hidup sebagai Gean. Rahma mendekat lalu memeluk pemuda itu. Dibelainya lembut rambut Anfa.
“Mulai sekarang hiduplah seperti yang kamu inginkan, sebagai Anfa bukan Gean. Mulai sekarang juga, kami adalah keluargamu. Mama dan papa adalah orang tuamu, Juna, Abi dan Cakra adalah kakakmu dan Sekar adalah adikmu. Mengerti?”
“Iya ma,” suara Anfa terdengar serak, menahan tangis karena terharu.
“Abi.. urus masalah Anfa sampai tuntas. Kembalikan identitas Anfa, batalkan adopsi mereka, jangan biarkan mereka mengambil Anfa lagi.”
“Pasti ma. Aku akan memberi mereka pelajaran.”
“Jangan terlalu kejam Bi,” seloroh Juna.
“Mereka sudah menyiksa Anfa selama sepuluh tahun. Kakak mau aku bersikap biasa aja? Tidak semudah itu Ferguso.”
“Hadeuh... kuatin hati ya Fa, punya kakak ipar kejam model Abi,” celetuk Cakra yang langsung disambut gelak tawa lainnya. Anfa tersenyum menanggapinya, kekagumannya pada calon kakak iparnya semakin bertambah.
☘️☘️☘️
Tak ingin membuang banyak waktu, Abi segera mengajak Anfa menemui orang tua angkatnya. Dia ingin menuntaskan permasalahan Anfa hari ini juga. Nina ikut bersama mereka, sebagai kakak kandung Anfa, dia ingin mengambil kembali hak perwalian Anfa. Rayi juga diminta untuk datang. Bagaimana pun juga gadis itu akan menjadi masa depan Anfa. Jadi Rayi berhak tahu siapa dia sebenarnya.
Bada ashar, keempat orang tersebut sudah berkumpul di kediaman Danu. Suami istri tersebut terlihat bingung Anfa datang dengan membawa dua orang yang tak mereka kenal. Setali tiga uang, Rayi juga nampak bingung. Dia masih belum mengerti mengapa Nina dan Abi mendadak ingin bertemu orang tua Anfa.
“Gean, siapa mereka?” Danu membuka pembicaraan.
“Kenalkan, saya Karenina Anastasia. Saya adalah kakak kandung Anfa.”
Baik Danu maupun Wina terkejut mendengarnya. Wajah mereka mendadak pucat. Tak ada yang mengetahui perihal Anfa. Selama ini mereka telah menutupinya dengan baik. Tapi kini tanpa diduga seorang wanita muda datang dan mengaku kakak kandung Anfa.
“Anfa? Siapa Anfa? Sepertinya nona salah alamat. Anak kami itu Gean bukan Anfa. Apa perlu kami menunjukkan akta kelahirannya?”
Abi mengeluarkan amplop putih dari saku jasnya kemudian memberikannya pada Danu. Pria itu mengambil amplop tersebut. Matanya membelalak melihat hasil tes DNA yang mengatakan 99,99% kedua subjek yakni Nina dan Gean alias Anfa, memiliki kesamaan genetik.
“Ini tidak membuktikan apa-apa. Bisa jadi anda memakai sampel diri anda sendiri atas hasil tes DNA ini.”
“Rayi.. kalian mengenal gadis ini? Dia yang membawakan rambut Gean padaku. Benar begitu Rayi?” Abi melihat ke arah Rayi.
“I.. iya kak.”
“Saya berterima kasih karena bapak dan ibu telah membesarkan adik saya. Tapi karena saya masih hidup, saya ingin mengambil alih hak perwalian Anfa.”
“Dia Gean!! Bukan Anfa!! Jangan pernah kamu sebut nama anak terkutuk itu!!” teriak Wina, mengejutkan Nina juga Rayi.
“Tolong jaga bicara anda nyonya. Anfa, Muhammad Anfa adalah nama yang diberikan kedua orang tua saya pada adik saya. Dia anak baik, bahkan saking baiknya dia rela melepaskan hidupnya dan menjalani kehidupan orang lain. Saya tidak bisa terima perlakuan anda pada Anfa. Suka tidak suka, terima tidak terima, saya tetap akan mengambil alih hak perwalian Anfa!”
Emosi Nina mulai terpancing. Ingin rasanya dia menjambak rambut wanita di depannya yang sudah menghina adiknya. Kepala Rayi seperti terpukul gada besar mendapati kenyataan kalau lelaki yang selama ini dikenalnya ternyata bukanlah Gean melainkan Anfa. Terkejut sekaligus kecewa dirasakan gadis itu.
__ADS_1
“Tanpa persetujuan kalian, kami akan membawa Anfa pergi. Lagi pula dia sudah dewasa dan sudah bisa memutuskan di mana akan tinggal. Saya juga akan melaporkan anda atas tindakan pemalsuan identitas. Anda membuat surat kematian palsu atas nama Anfa, dan menyematkan nama putra anda yang sudah meninggal dunia pada Anfa. Bahkan dia harus menjalani hidup seperti Gean. Bayangkan berapa lapis pasal yang akan saya gugat pada kalian berdua,” ancam Abi dengan suara datarnya.
“Apa kalian pikir kami takut? Saya juga akan menuntut Anfa karena sudah menghilangkan nyawa Gean. Dia yang sudah membawa Gean ke sungai dan memaksanya bermain di sana,” tanpa rasa takut Wina berbalik menyerang.
“Apa anda punya bukti dan saksi adik saya yang membuat Gean meninggal? Anda tahu betul kalau adik saya trauma berada di tempat yang berhubungan dengan air. Lalu bagaimana bisa dia mengajak Gean ke sana? Bukankah Gean sering bermain di sungai saat kalian masih tinggal di sana? Anakmu meninggal karena ulahnya sendiri, jangan menyalahkan adikku!” geram Nina.
“Cukup basa basinya! Keputusan kami sudah bulat. Mulai hari ini Anfa akan tinggal bersama kami. Kalian hanya tinggal tunggu panggilan dari pengadilan untuk pembatalan adopsi Anfa. Kooperatif lah selagi saya masih bersikap baik. Ah.. ya.. saya lupa memperkenalkan diri. Saya Abimanyu Hikmat, selanjutnya pengacara saya yang akan datang mengurus semuanya. Dan bersiaplah menerima hukuman atas perbuatan kalian selama ini. Saya pastikan kalian akan mendapatkan balasan setimpal.”
Tanpa menunggu jawaban Danu dan Wina, Abi berdiri. Rasanya sudah cukup dia mengatakan semuanya pada pasangan suami istri tersebut.
“Ayo kita pergi Fa. Kamu tidak usah membawa apapun dari sini.”
Abi membenarkan jasnya kemudian melangkah keluar diikuti oleh Nina juga Anfa dan Rayi. Namun langkah Anfa terhenti ketika Wina menarik tangannya.
“Gean.. kamu tidak boleh pergi. Kamu adalah Gean!!”
“Anfa.. namaku Anfa, nyonya. Geanmu sudah tiada sepuluh tahun yang lalu.”
Anfa melepaskan cekalan Wina pada tangannya. Dia tidak ingin bersikap kasar pada Wina. Biar bagaimana pun juga, wanita itu telah mengurusnya selama sepuluh tahun walaupun tanpa kasih sayang.
Danu menahan istrinya yang berusaha menghalangi kepergian Anfa. Mendengar kata Hikmat di belakang nama Abi, pria itu gentar juga. Dia tahu betul sejauh apa kekuasaan orang terpandang tersebut.
“Ge... bisa kita bicara?” ucap Rayi begitu Anfa hendak masuk ke dalam mobil.
Anfa mengangguk, diajaknya Rayi ke taman yang berada tak jauh dari kediaman Danu. Abi dan Nina memilih pulang lebih dulu. Nanti Abi akan mengirimkan pak Kamal untuk menjemput Abi. Sebelum pulang ke rumah, Nina mengajak Abi berbelanja pakaian Anfa terlebih dulu. Karena adiknya itu tak membawa satu potong pakaian pun dari rumah Danu.
Sementara itu, Anfa dan Rayi masih duduk diam di salah satu kursi taman. Keduanya hanya memandang ke depan, memperhatikan daun yang bergoyang diterpa angin. Baik Anfa maupun Rayi sama-sama bingung harus memulai dari mana. Hingga akhirnya,
“Ge..”
“Ray..”
Ucap keduanya bersamaan. Mereka saling memandang kemudian mengulum senyum. Anfa mempersilahkan Rayi untuk bicara lebih dulu.
“Ladies first.”
“Jadi kamu bukan anak kandung om Danu dan tante Wina?”
“Iya.”
“Namamu Anfa bukan Gean, begitu?”
“Iya.”
“Kenapa Ge? Kenapa kamu ngga pernah cerita? Apa aku ngga cukup penting buatmu?”
__ADS_1
“Maaf Ray bukan seperti itu.”
“Lalu?”
Anfa terdiam. Bukan niatnya menutupi semua ini dari Rayi, kekasihnya. Namun sedari kecil, dia sudah terbiasa memendam semua masalahnya sendiri. Dia juga takut kalau orang tua angkatnya tahu Rayi tahu identitasnya yang sebenarnya, mereka akan menyakiti Rayi.
“Kenapa Ge?”
“Aku cuma takut Ray.. takut kalau kamu akan dilukai oleh mama Wina. Dia orang yang nekad juga kejam. Maafin aku Ray. Sekarang kamu boleh tanya apapun, aku akan menjawabnya.”
“Apa kamu mencintaiku Ge?”
“Tentu saja Ray. Kamu tahu kalau aku mencintaimu.”
“Kalau begitu cukup bagiku. Aku tidak peduli siapa dirimu, Gean atau Anfa, sama saja. Yang penting laki-laki di sampingku ini mencintaiku dan akan menjadi imam hidupku.”
“Terima kasih Ray. Bisakah mulai sekarang kamu memanggilku Anfa?”
“Akan kucoba. Tapi bertahap ya Ge.. eh Fa.. otak dan lidahku sudah tersetting memanggilmu Gean,” Rayi tersenyum menampilkan senyum manisnya.
Anfa balas tersenyum. Gadis di hadapannya ini selalu bisa menenangkan hatinya. Kebersamaannya dengan Rayi dapat mengurangi kesedihannya. Gadis ceria yang selalu punya seribu cara untuk membuatnya tersenyum dan tertawa.
Terlihat sebuah sedan hitam berhenti di dekat taman. Dari dalamnya keluar pak Kamal. Anfa yang mengenali pria itu segera berdiri dari duduknya.
“Ayo aku antar pulang, kak Abi sudah mengirimkan supirnya.”
“Ok.”
Rayi berdiri lalu memeluk lengan Anfa. Mereka berjalan menuju mobil. Pak Kamal membukakan pintu untuk mereka. Keduanya masuk ke kursi belakang. Tak lama kendaraan roda empat itu melaju. Sebelum pulang, pak Kamal akan mengantarkan Rayi terlebih dulu.
“Ray.. bener ngga ada yang mau kamu tanyakan?”
“Kalau pertanyaanku hanya membuatmu sedih, ngga usah. Aku hanya ingin melihatmu bahagia Ge. Tanpa kamu cerita aku tahu begitu banyak kesedihan yang kamu pendam seorang diri. Menjalani hidup seperti orang lain itu ngga mudah bahkan menyakitkan.”
Rayi mengusap lengan kekasihnya ini. Kemudian menyandarkan kepalanya ke sana. Anfa menundukkan kepalanya hingga dagunya berada di puncak kepala Rayi. Pak Kamal melirik kemesraan mereka dari kaca spion. Sepertinya duda tanpa anak itu akan secepatnya melamar Murni. Hampir setiap hari dia disuguhi kemesraan Teddy – Rahma, Juna – Nadia, Abi – Nina dan sekarang ditambah Anfa – Rayi. Jiwa jomblonya meronta ingin segera menjadi ganda campuran.
“Ge.. eh Fa.. kamu kayanya harus siap mental deh jadi adik iparnya kak Abi.”
“Bukan aku Ray.. tapi kamu. Selama ini kak Abi selalu bersikap baik padaku. Tapi sama kamu....”
Rayi mencubit lengan kekasihnya sampai mengaduh kesakitan. Anfa balas mengelitiki pinggang Rayi, membuat gadis itu terbahak. Lagi-lagi pak Kamal disuguhkan pemandangan yang membuat iri hati dan jiwanya. Seandainya dia bisa berteriak, mungkin dia akan berkata ‘Jomblo juga manusia, ingin disayang dan dicinta’. Namun sayang teriakan demo tersebut hanya bisa diucapkan dalam hati saja.
☘️☘️☘️
Danu dan Wina, tunggu saja ya hukuman kalian. BTW baru tahu pak Kamal duda🤭 cieee.. mau nyusul Abi - Nina ya ke pelaminan sama Bi Murni. Uhuy.. musim hujan banyak yang nikah🙊
__ADS_1