KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
First Kiss


__ADS_3

Suasana di meja makan saat sarapan di keluarga hikmat lagi-lagi dipenuhi dengan pembicaraan. Tak jarang terdengar tawa mereka. Memulai hari dengan perbincangan hangat dengan hati gembira sudah menjadi rutinitas keluarga ini sejak dulu. Anfa yang merupakan anggota baru di rumah ini, sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan mereka. Dipikirnya semua keluarga konglomerat akan bersikap kaku. Tapi tidak dengan keluarga ini.


“Bi.. nanti kamu mau langsung bulan madu?”


“Iya ma.”


“Perlu mama atau papa bantu buat handle perusahaan selama kamu pergi?”


“Kalau ngga ngerepotin mama sama papa. Kayanya kak Juna ngga bisa bantu, di kantornya lagi banyak proyek.”


“Ya sudah nanti papa yang handle,” ucap Teddy.


“Makasih pa. Kalau urusan bertemu klien biar Cakra yang urus. Se.. selama seminggu jadwal ketemu klien penuh. Ada beberapa yang di luar kota juga. Kamu dampingi Cakra ya ketemu klien.”


Sekar yang sedang menikmati lontong kari, menghentikan makannya. Mendampingi Cakra bertemu klien di dalam kota bukan masalah, tapi kalau keluar kota agak enggan dia melakukannya.


“Kalau dalam kota ok kak. Tapi kalau keluar kota ogah ah.”


“Ya terus Cakra sama siapa? Masa sama si Ruby Rainbow, kan sekretarisnya kamu.”


“Tapi kak...”


“Profesional Se. Kamu memang cuma magang di kantor, tapi kamu harus belajar yang benar supaya nanti kamu bisa mengemban tanggung jawab perusahaan di Jepang. Kamu ngga bisa selalu ngandelin aku atau kak Juna.”


Kalau masalah pekerjaan Abi memang tidak pernah pandang bulu. Dia akan selalu bersikap tegas, siapa pun itu, tak terkecuali Sekar. Anfa juga merasakan hal yang sama. Tak jarang dirinya terkena semprotan saat berada di kantor jika melakukan kesalahan.


“Bang Cakra pergi sama Anfa aja.”


“Anfa jaga gawang di kantor. Siapa yang bantu papa kalau Anfa ikut Cakra.”


“Ck.. Anfa tuh tugasnya jebol gawang Rayi bukan jaga gawang,” celetuk Sekar tanpa saringan membuat orang dibicarakan tersedak.


Uhuk.. uhuk..


Nina memberikan gelas minuman pada adiknya ini seraya menepuk pelan punggungnya. Anfa menatap sengit pada Sekar, bisa-bisanya gadis itu melibatkan dirinya yang masih polos.


“Kak.. Sekar tuh ngga mau ikut bang Cakra keluar kota takut jatuh dalam pesona bang Cakra. Kan malu kalau tiba-tiba dia bucin sama bang Cakra padahal selalu nolak mentah-mentah,” balas Anfa.


“Anfaaaaaa!!” teriak Sekar.


Semua tergelak mendengarnya. Anfa memasang senyum kemenangan di wajahnya. Senang sekali menggoda gadis yang dianggapnya adik itu. Tanpa diberi tahu pun Anfa tahu kalau Cakra mencintai Sekar hanya saja gadis itu masih jual mahal saja.


“Kakak sumpahin kamu bucin akut sama Cakra,” celetuk Juna.


“Aamiin..” sahut Nadia.


“Ngga usah jual mahal Se.. nanti Cakra keburu diambil orang, baru tahu rasa kamu,” ledek Abi.


“Sana ambil.. ngga butuh.”


“Bener? Lihat aja nanti, kalau bener ada yang mau sama Cakra langsung mama nikahin anak itu. Biar kamu nangis sambil kokosehan ngga bakal mama peduliin.”


“Ngga bakal ma.. aku ikhlas sepenuh hati.”


“Apa sih kurangnya Cakra? Jangan bilang kamu nolak Cakra gara-gara kamu suka sama dua curut temen kamu itu ya,” tukas Abi.


“Namanya Radix sama Gurit kaaaakk. Dia sahabatku, tega bener sih kakak nyebut mereka curut. Tuh mulut udah kaya brotowali aja, pahit.”


“Siapa pun nama mereka, Gurita kek, Radial kek.. kakak ngga suka ya kamu kalau sampai nikah sama salah satu dari mereka.”


“Lah emang kenapa? Mereka baik kok.”

__ADS_1


“Mereka cemen. Magang di kantor kakak aja ngga berani, gimana mereka mau jaga kamu nantinya.”


Sekar terdiam mendengarnya. Apa yang dikatakan kakaknya itu memang benar, Radix dan Gurit tak cukup tangguh menjadi suaminya. Mereka terlalu takut dan terintimidasi oleh Abi.


“Lagian siapa juga yang mau sama mereka. Pokoknya aku ngga mau dampingin bang Cakra meeting di luar kota, titik!”


“Ok.. kalau gitu kamu ngga usah terusin magang di kantor. Semua nilai evaluasi yang disiapkan Cakra bakal hangus. Kalau kamu mau pindah magang ke kantor kak Juna silahkan, tapi mulai dari nol.”


“Kantorku ngga nerima anak magang lagi,” sahut Juna.


“Astaga maaa... kenapa sih dengan mereka? Apa jangan-jangan aku tuh adik tiri mereka ya. Kalau bener, aku mau bikin novel judulnya, dianiaya oleh kakak tiri yang kejam.”


Sebuah gumpalan tisu mendarat di kepala Sekar, pelakunya tak lain adalah Abi. Gadis itu menyebikkan bibirnya ke arah kakak keduanya itu. Nina dan Nadia hanya tersenyum melihat interaksi kakak beradik itu.


☘️☘️☘️


Dua orang pria dan wanita yang sudah tidak muda lagi usianya tengah berpose di depan kamera. Sang fotografer sedari tadi terus saja memberikan arahan pada kedua orang itu. Karena tak berbiasa difoto apalagi sambil bergaya mesra, gaya mereka terlihat kaku. Sehingga fotografer terus mengulang menjepret kameranya.


Sungguh Kamal dan Murni tak menyangka kalau mereka akan sampai di tahap ini. Hubungan diam-diam yang dijalin oleh keduanya ternyata diketahui oleh keluarga Hikmat. Teddy meminta keduanya segera menikah dan Abi menghadiahkan foto pre wedding untuk mereka.


Pernikahan Kamal dan Murni dilaksanakan bersamaan dengan pernikahan Abi dan Nina. Mereka hanya akan melakukan akad nikah saja. Pasangan dudan dan janda ini tak ingin menggelar pesta. Cukup foto pre wedding kali ini saja yang menjadikan ratu dan raja sehari. Kebetulan sekali konsep pre wed mengusung pasangan puteri dan pangeran ala kerajaan jaman dahulu.


Kamal diminta berdiri di belakang Murni dengan tangannya melingkar di perut calon istrinya itu. Kamal yang bertubuh tinggi dan kurus bersanding dengan Murni yang bertubuh gempal dengan tinggi tak lebih dari 160 cm. Alhasil keduanya terlihat seperti angka sepuluh bila berdampingan. Oleh karenanya sang fotografer menghindari pose mereka berdiri bersisian. Selanjutnya mereka akan berpose menaiki kuda dengan Murni berada di depan Kamal.


Rayi memandangi kedua pasangan itu yang tengah berpose di bawah salah satu pohon besar yang ada di sana. Tetesan air sisa hujan dari dedaunan menambah suasana romantis selama pemoteratan.


Sesi foto pre wedding yang sedianya akan dilangsungkan pukul 10 pagi harus mundur dikarenakan hujan yang mengguyur kota Bandung sejak shubuh. Hujan baru berhenti pukul dua siang. Tanpa membuang waktu, Rayi segera mengajak Kamal dan Murni untuk melakukan foto yang mengambil lokasi di daerah Lembang.


Rayi terpaksa menukar kostum yang telah disiapkan untuk Nina dan Abi karena postur tubuh kedua pasangan itu berbeda. Kostum yang disiapkan untuk Nina tentu saja tidak cukup di tubuh Murni yang gempal. Gadis itu terjengit ketika sebuah tepukan mendarat di bahunya.


“Eh Fa.. udah dateng aja. Emang sekarang jam berapa sih?” Rayi melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul setengah lima sore.


“Aku diijinin kak Abi pulang lebih cepet. Gimana pemotretannya lancar?”


“Padahal keren loh kalau kak Na sama kak Abi pose naik kuda ala-ala prince and princess.”


“Tau ah Fa.. calon kakak ipar kamu tuh aneh bin ajaib. Aku bingung sama isi otaknya.”


Anfa tergelak. Abi memang tidak bisa ditebak apa maunya. Selalu saja muncul ide aneh di kepalanya itu. Tapi Anfa harus mengakui kalau calon kakak iparnya itu orang yang cerdas. Dia bisa dengan cepat mempelajari sesuatu bahkan bisa dengan cepat menemukan solusi dari permasalahan yang terjadi.


“Fa.. nanti kita mau konsep pre wed yang kaya gimana?”


“Bentar-bentar... kok kamu sekarang udah lancar manggil namaku? Udah ngga keseleo manggil Ge lagi.”


“Ya gimana ngga fasih. Tuh kakak ipar kamu nyuruh aku ngewirid nama kamu tiap hari.”


“Hahaha.. lagian kamu mau aja.”


“Kamu ngga tahu Fa. Dia minta aku kirim voice note isinya aku ngewirid nama kamu seratus kali. Lima kali sehari, gila aja udah kaya jadwal shalat.”


“Terus kamu kirim?”


“Iyalah.”


“Hahahahaha... lagian kamunya mau aja dikerjain kak Abi.”


“Abis dia ngancemnya syerem, mau cariin jodoh buat kamu. Enak aja.”


“Ngga usah takut, aku cuma mau kamu kok.”


BLUSH

__ADS_1


Wajah Rayi merona mendengarnya. Rayi memandangi wajah kekasihnya. Semenjak dirinya kembali menjadi Anfa dan tinggal bersama Nina, Anfa menjadi pribadi yang lebih ceria dan terbuka, seakan seluruh beban di pundaknya telah terangkat. Salah satu alasan Rayi mau menuruti perintah konyol Abi karena pria itu telah berhasil mempertemukan Anfa dengan kakaknya, Nina. Kini dia bisa tersenyum lega melihat kekasihnya terlihat begitu bahagia.


“Ray..” Rayi menoleh ketika fotografer yang juga temannya memanggil namanya.


“Udah selesai Mbo?”


Lelaki yang biasa dipanggil Jumbo itu hanya menganggukkan kepalanya saja. Kamal dan Murni juga telah selesai berganti pakaian. Keduanya langsung pamit. Rayi membereskan barang-barang dibantu oleh Anfa. Kemudian mereka meninggalkan pondok dan bergegas keluar sebelum hujan kembali turun.


Rayi memasukkan barang-barang ke dalam bagasi mobil Jumbo. Dia menitipkan semua property di mobil temannya itu karena dirinya akan pulang bersama Anfa menggunakan sepeda motor.


“Gue duluan ya,” ucap Jumbo.


“Ok, nuhun ya Mbo.”


Jumbo hanya mengacungkan jempolnya ke arah Rayi kemudian naik ke mobilnya. Rayi dan Anfa pun segera menuju motor yang terparkir tak jauh dari mobil Jumbo.


“Fa.. hp ku ketinggalan di pondok deh kayanya,” Rayi tampak mengaduk-aduk isi tasnya mencari keberadaan ponselnya.


“Ya udah balik lagi.”


Anfa dan Rayi bergegas kembali ke pondok. Keduanya berlari kecil menuju ke sana. jarak pondok dengan pintu masuk cukup jauh. Mereka harus bergegas sebelum hujan kembali turun.


Sesampainya di pondok, Rayi langsung mencari keberadaan ponselnya. Anfa berinisiatif menelpon ponsel kekasihnya. Tak lama terdengar deringan ponsel. Rayi mencari sumber suara. Ponselnya tergeletak di bawah bangku yang terbuat dari anyaman bambu.


“Ayo,” ajak Anfa setelah Rayi telah menemukan ponselnya.


Namun langkah mereka terhenti ketika tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Keduanya terpaksa menunggu sampai hujan reda di pondok. Anfa mengajak Rayi duduk di kursi bambu yang ada di sana. Dia membuka jaketnya lalu memasangkannya ke tubuh Rayi.


“Mudah-mudahan ngga lama ya Fa.”


“Iya.”


Keduanya hanya diam memandangi tetesan air yang membasahi bumi. Udara terasa semakin dingin. Anfa meraih bahu Rayi kemudian menarik tubuh kekasihnya itu ke dalam pelukannya. Rayi merebahkan kepalanya di dada Anfa.


“Ray.. kamu mau nunggu aku kan sampai selesai S2? Kak Abi minta aku fokus kuliah dulu baru ijinin aku nikah.”


“Iya Fa. Apapun keputusan kamu aku dukung kok.”


“Makasih ya Ray. Selama ini udah ada di sampingku. Kalau ngga ada kamu, aku ngga tahu apa sanggup menjalani hidup sebagai Gean selama ini.”


“Aku harap setelah ini ngga ada rahasia lagi antara kita ya Fa.”


“Iya. Aku minta maaf soal kemarin. Tapi aku janji mulai sekarang akan lebih terbuka sama kamu. Aku harap kamu juga ngga merahasiakan apapun dariku.”


“Kamu kan tahu lidahku ini remnya udah blong. Apa sih yang ngga aku ceritain ke kamu kecuali waktu kak Abi nyuruh ambil rambut kamu buat tes DNA.”


Anfa terkekeh, kekasihnya ini memang tak pernah merahasiakan apapun darinya, hal kecil sekalipun. Itulah yang membuat Anfa nyaman bersama gadis cantik itu. Anfa menundukkan kepalanya bertepatan saat Rayi mendongakkan kepalanya. Netra keduanya bertemu.


Untuk sesaat hanya kesunyian yang ada di antara mereka. perlahan Anfa mendekatkan wajahnya kemudian bibirnya menyapu bibir Rayi dengan lembut. Anfa menggerakkan bibirnya, ciumannya masih terasa kaku karena ini adalah yang pertama baginya. Begitu pula dengan Rayi. Gadis itu mencengkeram kemeja Anfa dengan mata terpejam.


“Teh!”


Ciuman keduanya berakhir ketika mendengar suara yang berasal dari samping pondok. Tampak seorang pria paruh baya berjalan mendekat ke pondok dengan payung di tangannya. Dengan kikuk Rayi dan Anfa menghampiri pria tersebut.


“Nunggu hujannya di atas saja teh sambil minum teh hangat.”


“Makasih pak.”


Rayi menerima payung yang diberikan pria itu. Tak lama ketiganya berjalan meninggalkan pondok. Rayi juga Anfa hanya diam saja selama berjalan. Keduanya masih canggung dengan apa yang terjadi barusan.


☘️☘️☘️

__ADS_1


**Anfa nakal ya udah berani cium Rayi.. kak Abi.. Anda nakal nih😂


Cieee pak Kamal sama Bi Murni udah kaya Anna sama Christoph.. coba pak Bagja diajak, kan lumayan bisa jadi Olaf🤣**


__ADS_2