
“Lalu dirimu? Apa kamu sudah memiliki pasangan?”
TOK
TOK
TOK
Sebuah ketukan di pintu menginterupsi pembicaraan mereka. Tak lama pintu ruangan terbuka, Erik, sekretaris Ezra masuk.
“Maaf pak Ezra, bapak dipanggil pak Juna ke ruangan sekarang.”
“Ok.”
Erik menundukkan kepalanya sebentar kemudian keluar ruangan. Ezra bangun dari duduknya, dia harus secepatanya menemui sang ayah di ruangannya. Melihat Ezra berdiri, Hanum pun ikut berdiri.
“Han.. maaf ya, aku harus ke ruangan big boss. Pembicaraan kita lanjut lain kali.”
“Iya, Ez. Ngga apa-apa kok.”
Bersama dengan Hanum, Ezra keluar dari ruangannya. Mereka berpisah di depan pintu lift. Ezra naik ke lantai atas, sedang Hanum turun ke bawah. Gadis itu hanya memandangi Ezra yang masuk ke dalam lift. Sebenarnya hati masih merindu dan ingin menghabiskan banyak waktu dengan pria itu, namun sepertinya dia harus lebih bersabar.
Ezra mengetuk pintu sesampainya di depan ruangan Juna. Setelah mendengar suara sang ayah, pria itu segera masuk. Ezra langsung menuju ke meja kerja Juna dan menarik kursi di depannya.
“Hari ini kamu harus berangkat ke Jakarta. Ada urusan yang harus kamu bereskan di sana. Dan lusa terbang ke Thailand, meninjau pembangunan resort di sana secara langsung dan pastikan tidak ada masalah apapun di sana.”
“Baik, pak.”
“Pergilah sekarang. Bawa Viren bersamamu.”
“Baik.”
Juna memberikan beberapa berkas pada Ezra. Setelah menerima berkas tersebut, Ezra segera keluar dari ruangan. Di luar Viren sudah menunggunya. Menantu dari Juna itu juga sudah mendengar kalau dirinya harus menemani Ezra tugas ke Jakarta juga Thailand. Keduanya segera meninggalkan lantai di mana ruangan CEO Blue Sky berada.
Sementara itu, kotak besi yang Hanum naiki sudah sampai di lantai dasar. Begitu pintu lift terbuka, dia melihat gadis yang dikenalnya sedang berdiri di depan lift. Dengan cepat Hanum menghampirinya.
“Dila.. kamu Dila, kan?”
Sejenak Dilara terdiam menatap pada Hanum. Gadis itu mencoba mengingat siapa wanita yang berdiri di hadapannya. Akhirnya dia berhasil mengingat siapa orang yang berdiri di hadapannya, namun seiring dengan itu perasaan gundah ikut menghampiri.
“Kak.. Han..um kan?”
“Iya, ini aku, Hanum. Ya ampun, Dila, kamu tambah cantik aja,” Hanum memeluk Dilara yang dilanjut dengan bercipika-cipiki.
“Kamu ada perlu apa ke sini? Mau ketemu om Juna atau om Kevin?”
“Eung…”
“Gimana kalau kita ngopi-ngopi dulu. Ada yang mau aku tanyain ke kamu.”
“Soal apa?”
“Ada deh, ayo.”
Tanpa menunggu persetujuan Dilara, Hanum segera menarik tangan gadis itu. Mereka keluar dari kantor Blue Sky dan menuju café yang hanya berjarak sekitar dua ratus meter dari sana. Hanum mengambil meja yang berada di bagian luar café. Setelah memesan minuman, mereka memulai perbincangan.
“Kita terakhir ketemu kapan ya? Waktu itu kamu masih SMA kan?” Hanum memulai perbincangan.
“Iya, kak.”
“Sekarang masih kuliah atau udah lulus?”
“Lagi semester akhir, sambil nyusun skripsi juga.”
“Ngga kerasa ya, Dil. Waktu cepat banget berlalu. Perasaan baru kemarin aku ninggalin kota ini. Tapi ternyata udah tiga tahun berlalu.”
Hanum nampak menerawang ketika mengatakan itu semua. Ingatannya tertuju pada kenangan manis saat dirinya masih menjalin hubungan dengan Ezra. Masa-masa kebersamaan menjalin cinta kasih. Bahkan mereka sudah merencanakan masa depan bersama. Setelah Ezra menyelesaikan studi S2-nya dia akan segera melamar Hanum. Namun rencana hanyalah tinggal rencana.
“Kak Hanum sendiri bagaimana kabarnya sekarang?” pertanyaan Dilara membuyarkan lamunan gadis itu.
“Alhamdulillah baik. Setelah melalui perjuangan berat, akhirnya usahaku membuahkan hasil.”
“Maksudnya?”
“Mungkin kamu sudah dengar dari Barra kalau aku dan Ezra berpacaran,” Dilara menganggukkan kepalanya.
“Dan kita putus, sebelum aku pergi ke Jerman. Apa kamu tahu soal itu juga?” kembali Dilara menganggukkan kepalanya.
“Alasanku meminta putus waktu itu karena aku sedang sakit. Dokter bilang aku terkena kanker hati. Papa mengajakku ke Jerman untuk berobat. Waktu itu aku mengambil langkah paling bodoh dalam hidupku. Aku memilih putus dari Ezra karena takut akan apa yang terjadi di depan nanti. Aku takut tidak bisa sembuh dari penyakitku atau Ezra meninggalkanku karena kondisi fisikku yang berubah setelah menjalani pengobatan.”
Hanum menjeda ceritanya sejenak saat sang pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Setelah pelayan tersebut pergi, dia kembali melanjutkan ceritanya.
“Waktu itu Ezra bersikeras ngga mau putus. Dia bilang mau menungguku kalau aku memintanya. Tapi aku tetap dengan keputusanku, memilih putus dan menyerahkan semuanya pada takdir. Aku tahu, setahun setelah aku pergi, Ezra masih menunggu dan mencari tahu keadaanku. Saat itu aku berada dalam titik terendah, kondisi fisikku mulai berubah, rambutku rontok, kulitku kusam. Aku seketika kehilangan kepercayaan diri. Sampai akhirnya aku meminta papa dan om Juna untuk menutup semua akses tentangku dari Ezra.”
Dilara masih setia mendengarkan cerita dari Hanum. Dia juga penasaran akan hubungan kedua orang itu sebelumnya. Gadis itu hanya mendengar cerita sekilas dari sang kakak. Sedang Ezra sendiri tak pernah menyinggung perihal Hanum jika sedang bersama dengannya.
“Alhamdulillah sekarang kondisiku sudah membaik. Kata dokter yang merawatku, sel kanker di tubuhku sudah tidak ada lagi.”
“Syukurlah, kak."
__ADS_1
“Hmm… setelah sembuh dari penyakitku, sekarang aku berniat menata masa depanku yang sempat terhenti.”
“Kakak ada rencana menikah?”
“Iya.”
“Dengan siapa kak?”
“Kalau hatiku masih menginginkan Ezra, apa salah?”
DEG
Jantung Dilara seakan berhenti berdetak saat mendengarnya. Lidahnya seketika menjadi kelu. Perlahan namun pasti, ketakutan menjalari dirinya. Hatinya gamang, apakah Ezra masih merasakan hal yang sama dengan Hanum, atau sudah sepenuhnya jadi miliknya.
“Apa kamu tahu, dia dekat dengan siapa akhir-akhir ini?”
“Eung..”
Dilara tak tahu harus menjawab apa. Ingin rasanya dia berteriak kalau saat ini dirinyalah yang tengah menjalin hubungan dengan Ezra. Namun di sisi lain dia merasa iba pada Hanum sekaligus takut kalau ternyata Ezra masih mencintai mantannya itu.
“Tadi aku bertemu dengan Ezra sebentar.”
“Iyakah?”
“Hmm.. seperti biasa, dia selalu menyambutku dengan ramah. Senyum dan tatapan matanya masih seperti dulu, penuh dengan kehangatan. Seketika aku menjadi orang bodoh karena telah meninggalkan batu permata berharga. Aku sangat ingin kembali padanya. Tadi juga aku bertanya apakah dia sudah mempunyai pasangan, tapi dia tidak menjawabnya. Itu artinya aku masih punya peluang kan?”
Hati Dilara bagai tergores sembilu. Mendengar Ezra tak menjawab pertanyaan Hanum, seakan pria itu tak mengakui keberadaan dirinya dalam hidup pria itu. Tangan Dilara meremat erat ponsel di tangannya, menyembunyikan perasaan sedih dan kecewa yang menghantam bersamaan.
“Dila.. kamu mau bantu aku kan untuk kembali pada Ezra?”
Hanum menyentuh lembut punggung tangan Dilara. Gadis itu hanya mampu mengatupkan mulutnya saja, sambil menatap wanita di hadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan.
“A.. aku harus pergi, kak. Lain kali kita bicara lagi.”
“Iya, Dil. Makasih ya udah mau mendengar ceritaku.”
“Iya, kak. Aku duluan.”
Dilara menyambar ponsel dan tasnya kemudian segera keluar dari café. Sudut mata Hanum terus mengikuti pergerakan gadis itu. Sebelum kembali ke Indonesia, diam-diam Hanum mencari tahu tentang Ezra. Dia tahu kalau Ezra tengah menjalin hubungan dengan Dilara. Gadis itu sengaja mengatakan itu semua untuk mengguncang batin Dilara. Dan berharap Ezra tak pernah mengakui hubungannya dengan anak bungsu Jojo itu.
☘️☘️☘️
Ezra memasuki kamar hotel yang ditinggalinya kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas kasur berukuran king size. Sejenak dia ingin mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah. Setelah dari Jakarta, pria itu langsung terbang ke Thailand untuk meninjau proyek di negara gajah putih tersebut. Terhitung sudah empat hari lamanya dia tinggal di sana.
Niat hati hanya tinggal dua malam, namun ternyata ada masalah yang terjadi dan membutuhkan penanganan segera. Baru tadi semua masalah dapat dikendalikan sampai tuntas. Beruntung ada Viren yang membantunya. Adik iparnya itu memang bisa diandalkan.
Ezra mengangkat tubuhnya ketika mendengar suara bel di pintu. Sosok Viren langsung terlihat ketika pria itu membukakan pintu. Adik iparnya itu segera masuk mengikuti langkah Ezra. Keduanya mendudukkan diri di sofa. Viren menyerahkan berkas di tangannya.
Tangan Ezra terulur mengambil berkas di tangan Viren. Dengan seksama dia membaca kalimat demi kalimat yang tertuang dalam lembaran kertas berwarna putih itu. Setelahnya dia meletakkan kembali berkas di atas meja.
“Berarti udah beres semua ya.”
“Iya, bang. Udah selesai semua. Pak Dimas sedang dalam perjalanan ke sini untuk mengawasi jalannya proyek.”
“Syukurlah. Kalau begitu siapkan pesawat, kita kembali ke Bandung besok pagi.”
“Siap bang.”
“Semangat amat. Kangen ya ama Al,” goda Ezra.
“Pake nanya segala. Emang abang ngga kangen ama Dila?”
Ezra menepuk keningnya saat mendengar nama Dilara. Karena padatnya jadwal pekerjaan dan masalah yang harus ditangani, pria itu sampai lupa memberi kabar pada Dilara. Terakhir mereka berbicara saat berada di Jakarta.
“Vir.. pinjem hp kamu.”
Viren merogoh saku celananya lalu memberikannya pada Ezra. Ponsel kakak iparnya itu tertinggal di kantor yang ada di Jakarta saat bertolak menuju Thailand. Dan selama menyelesaikan semua pekerjaan di sini, semua yang menghubugi Ezra dilimpahkan pada Viren.
“Aku ke kamar dulu, bang.”
“Iya. Nanti kita makan di luar ya. Sekalian cari oleh-oleh.”
“Sip, bang.”
Viren bangun dari duduknya kemudian keluar dari kamar tersebut. Ezra berjalan menuju balkon seraya menghubungi nomor Dilara. Keningnya berkerut ketika panggilannya hanya tersambung pada kotak suara. Beberapa kali pria itu mencoba menghubungi Dilara, namun hasilnya tetap sama. Akhirnya Ezra memutuskan untuk menghubungi Barra. Setelah menunggu beberapa kali deringan, sahabatnya itu menjawab panggilannya.
“Halo..”
“Halo, Bar. Lo lagi di mana?”
“Masih di kantor.”
Ezra melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul lima sore waktu Thailand, yang artinya waktu di Bandung pun sama dengan di sini. Karena tidak ada perbedaan waktu di negara itu dengan waktu Indonesia bagian barat.
“HP nya Dila kok ngga aktif?”
“Baru inget lo ama adek gue? Kemana aja dari kemarin?” sewot Barra.
“Sorry, sibuk banget gue. Begitu sampe sini taunya banyak masalah. Lagian hp gue ketinggalan di kantor Jakarta. Dila gimana? Sehat kan?”
__ADS_1
“Au tuh anak bengong mulu kerjaannya, udah kaya ayam kena penyakit tetelo.”
“Kenapa? Ada masalah?”
“Mana gue tahu. Dia ngga cerita. Kata Hanna dia lagi galon.”
“Galon kenapa?”
“Ya gara-gara elo, apalagi. Ngilang aja kaya bang Toyib. Mana dia ketemuan sama Hanum, tambah galon kan dia.”
Ezra baru ingat kalau Hanum sudah kembali ke Bandung. Namun dia sama sekali tidak menyangka kalau Hanum akan menemui Dilara. Padahal dirinya belum mengatakan apapun perihal Dilara pada mantannya itu.
“Elo yang bilang ke Hanum kalo gue sama Dilara?”
“Ngga lah. Anak-anak juga ngga ada yang bilang. Gue kira elo yang bilang.”
“Belum sempet ngobrol banyak gue sama dia.”
“Kali aja dia udah tahu. Kalau ngga ngapain juga dia ngajakin Dila ketemuan terus.”
“Ck.. Dila susah banget dihubungi. Nanti bilangin ke dia, hubungi gue ke nomer Viren.”
“Iya.. iya.. eh.. bentar.. lo ngga ada niatan balik ama Hanum kan? Lo ngga bakalan ninggalin adek gue kan demi si mantan?”
“Gila lo. Ngapain juga gue balikan sama dia. Prinsip gue, mantan itu simpan di tempat yang semestinya.”
“Awas aja lo, kalo sampe nyakitin Dila. Gue bakal hajar elo pake jurus kamehame.”
“Gue tangkis pake jurus sarenggan.”
“Gue bales pake jurus debu-debu intan.”
“Gue tepis pake tameng Captain America.”
Terdengar gelak tawa keduanya mendengar pembicaraan absurd mereka. Ezra mengakhiri panggilan dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Di malam terakhirnya di Phuket, dia berniat untuk makan di luar sambil berjalan-jalan dan membeli buah tangan untuk kekasih tercinta.
☘️☘️☘️
Mobil milik Dilara melaju dengan kecepatan tinggi, menembus jalanan kota Bandung yang mulai lengang menjelang tengah malam. Mendekati tikungan, pergerakan mobil terlihat zigzag. Pengendara nampak tak bisa mengendalikan jalannya mobil. Beberapa kali kendaraan roda empat tersebut melenceng ke jalur sebelah.
Saat melewati tikungan, mobil kembali melenceng ke jalur sebelah dan dari arah berlawanan muncul sebuah mobil box melaju dengan kecepatan tinggi. Terkejut dengan sinar lampu yang muncul tiba-tiba, sang pengemudi mencoba menghindar, namun terlambat. Tanpa dapat ditahan benturan keras pun terjadi.
Mobil sedan berwarna putih itu berhantaman keras dengan mobil box dan terpental beberapa meter ke belakang. Beberapa kali mobil terguling sampai akhirnya berhenti dengan posisi terbalik. Kendaraan mobil box pun tak kalah parah. Kendaraan menghantam pohon besar di sisi jalan dan membuat pengendara tersebut terjepit.
☘️☘️☘️
Adinda nampak resah karena sejak dua jam lalu tak bisa menghubungi ponsel putri bungsunya. Dia juga meminta Barra mencari keberadaan Dilara pada teman-temannya. Jojo yang baru saja kembali dari pertemuan langsung menemui istrinya yang duduk di ruang tengah. Wajah Adinda nampak cemas.
“Manda kenapa?”
“Panda.. Dilara ngga ada kabarnya. Aku udah coba hubungi hp-nya tapi ngga aktif. Barra aku suruh tanya ke teman-temannya.”
“Barra udah lacak lokasi Dila?”
“Udah, panda. Tapi karena hp-nya mati jadi ngga bisa terlacak. Terakhir lokasinya di kampus. Barra lagi ke sana sekarang."
Di tengah kepanikan Dinda, ponsel Jojo berdering. Sejenak pria itu hanya memandangi deretan nomor tak dikenal yang tertera di layar ponselnya. Kemudian jarinya bergerak mengusap layar untuk menjawab panggilan.
“Halo..”
“Selamat malam. Apa benar ini dengan bapak Jovan Romano?”
“Iya, benar.”
“Saya AKP Dadan Permana dari polsek Coblong. Apa kendaran Mazda 3 dengan nomor polisi D 7822 CT adalah benar milik saudari Dilara Salvina?”
“Iya benar.”
“Apa saudari Dilara Salvina adalah anak bapak?”
“Iya. Ada apa dengan anak saya?” hati Jojo mulai cemas.
“Kendaraan putri bapak mengalami kecelakaan di jalan Siliwangi. Kondisi mobil rusak parah. Ada tiga penumpang di mobil tersebut. Apa bapak bisa ke rumah sakit Permata Harapan untuk mengkonfirmasi korban?”
“Baik, saya akan ke sana sekarang.”
“Ada apa panda?” tanya Adinda begitu panggilan berakhir.
“Mobil Dila mengalami kecelakaan.”
Tubuh Adinda langsung lunglai mendengarnya. Dengan cepat Jojo menangkap tubuh istrinya itu lalu membawanya ke sofa.
“Tenanglah, panda akan ke sana untuk memastikan semuanya. Manda di sini saja.”
“Ngga… manda mau ikut.”
“Ya sudah, ayo.”
Dengan membimbing istrinya, Jojo berjalan menuju mobil. Setelah menutup pintu mobil, pria tersebut segera menjalankan kendaraannya. Adinda pun langsung menghubungi Barra dan meminta anak sulungnya itu untuk menyusul ke rumah sakit.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Nasib Dilara gimana nih?🙈