
Baru pertama kali melihat benda pusaka milik laki-laki, Adinda shock sendiri. Membayangkan batangan tegak itu akan masuk ke gua keramat miliknya sedikit membuat gadis itu ketar-ketir. Saat Jojo bersiap melesakkan rudal miliknya, tiba-tiba saja Adinda menutup pintu gua. Adinda merapatkan kedua kakinya. Jojo berusaha membuka kaki Adinda, namun gadis itu bertahan. Dia bangun kemudian duduk sambil memeluk lututnya. Jojo terhenyak melihatnya. Ini pertama kalinya ada wanita yang bersikap seperti itu. Sialnya, wanita itu adalah istrinya sendiri.
“Din..” panggil Jojo dengan suara serak menahan hasrat.
“Takut kak.”
Jojo terbengong mendengar jawaban sang istri. Dia mengusap wajahnya dengan kasar lalu merangkak naik ke atas kasur. Adinda membenamkan wajahnya ke lutut, tak berani melihat ke arah Jojo yang tak tertutup apapun.
Jojo berpindah ke belakang Adinda kemudian memeluk tubuh istrinya itu dari belakang. Terpaksa dia harus memulai kembali cumbuannya. Selain polos, l ternyata istrinya ini tak mengerti kalau apa yang dilakukannya saat ini sungguh menyiksa. Jojo menciumi tengkuk Adinda dan memberikan gigitan kecil di telinganya.
Adinda mendongakkan kepalanya saat Jojo kembali memberikan sengatan lewat ciumannya. Kini bibir Jojo mulai menelusuri leher putih itu, tangannya meremat bulatan kenyal perlahan. Apa yang dilakukan Jojo sukses memantik hasrat Adinda lagi. Gadis itu memejamkan mata sedang mulutnya terus mengeluarkan de**han.
Jojo meraih wajah sang istri lalu menolehkan ke arahnya. Jojo meraup bibir mungil Adinda, me**mat dan memagutnya dalam. Benda pusaka miliknya yang sempat mengendur kini kembali menegang. Adinda dapat merasakan sesuatu yang keras menyentuh bagian belakang tubuhnya.
Terdengar lenguhan Adinda saat Jojo memasukkan jari ke gua lembabnya. Tubuh Adinda menggelinjang hebat saat merasakan gempuran Jojo dari atas dan juga bawah. Saat merasakan Adinda sudah mulai menuju puncaknya, Jojo membaringkan tubuh istrinya itu. Sambil terus memagut bibir Adinda, Jojo mulai mengarahkan rudal miliknya.
Susah payah Jojo memasukkan rudalnya ke gua yang masih sempit ukurannya. Mata Adinda terpejam menahan rasa nyeri yang menerjang. Namun lagi-lagi Jojo memberikan sentuhan yang mampu mengalihkan rasa sakitnya. Kemudian dengan satu dorongan kuat Jojo memasukkan rudalnya masuk menerobos tirai tipis yang membatasi lubang gua.
Jojo memeluk tubuh Adinda, membiarkan gadis itu memeluk erat punggungnya demi meredakan rasa sakit yang mendera. Setelah beberapa saat Jojo mulai menggerakkan pinggulnya. Adinda menatap wajah Jojo yang berada begitu dekat dengannya. Wajahnya merona saat pria di atasnya itu terus menggerakkan tubuhnya. Rasa sakit yang dirasakannya tadi perlahan berubah menjadi kenikmatan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Setiap hentakan yang Jojo berikan mengirimkan gelanyar-gelanyar aneh yang membuatnya menginginkan lebih.
De**han dan lenguhan Adinda terdengar semakin keras saat Jojo menambah kecepatannya. Tangan Adinda meremat rambut Jojo saat merasakan kedutan di bagian bawahnya. Tak lama gelombang hangat kembali menghantamnya. Jojo terus mempercepat ritme gerakannya, dia pun hampir sampai ke ujungnya. Derus nafasnya semakin cepat hingga kemudian erangannya terdengar ketika cairan hangatnya akhirnya menyembur keluar di dalam rahim Adinda.
Tubuh Jojo tetap berada di atas Adinda dengan netra menatap dalam manik hitam wanita di bawahnya. Bibirnya kemudian menciumi wajah Adinda tanpa terlewat seinci pun. Jojo menjilati cuping telinga sang istri seraya berbisik.
“Honey... I love you.”
Jojo merebahkan tubuh di samping Adinda ditariknya pinggang sang istri hingga keduanya berhadapan. Dia tersenyum melihat wajah Adinda yang terus merona. Sebuah kecupan mendarat di kening yang dipenuhi butiran keringat. Adinda menelusupkan kepala ke dada bidang sang suami. Selain lelah, dia juga masih malu bersitatap dengan Jojo usai percintaan mereka.
Tak dapat dilukiskan bagaimana perasaan Jojo saat ini. Dirinya yang selama dua tahun terakhir ini sibuk menjadi petualang cinta akhirnya berhasil mendapatkan gadis yang akan menjadi pelabuhan terakhir. Satu hal yang dia sesali, bukan Adinda yang mendapatkan keperjakaannya. Sungguh dia menyesali mengapa harus Fahira yang dimasukinya pertama kali. Perempuan yang sudah mengkhianati sahabatnya sendiri. Jojo mengeratkan pelukannya di tubuh Adinda.
“Maaf...” lirihnya.
“Untuk apa kak?”
“Tidak menjadikanmu yang pertama dalam hidupku.”
“Ngga masalah kak. Asalkan aku menjadi yang terakhir.”
Adinda mendongakkan wajahnya. Melihat lelaki yang baru saja mendapatkan hal berharga miliknya. Dada Jojo berdesir melihat mata bulat dan bening milik istrinya itu. Dia mendekatkan wajahnya kemudian mencium bibir Adinda dengan lembut. Perasaannya bertambah dalam pada wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
☘️☘️☘️
Selepas isya, Jojo dan Adinda check out dari hotel. Mereka kembali ke apartemen untuk menyiapkan barang-barang untuk keberangkatan besok. Selama perjalanan Adinda lebih banyak menundukkan pandangan atau melihat ke arah jendela. Dia masih malu setelah penyatuan mereka tadi.
Sesampainya di apartemen, Adinda bergegas masuk ke kamar untuk menyiapkan pakaian dan barang-barang yang akan dibawa. Jojo menyusul masuk ke kamar. Pria itu mendudukkan diri di sisi ranjang sambil memperhatikan sang istri yang tengah memilih-milih pakaian untuk dibawa.
“Hon.. aku ngga usah bawa baju. Bajuku banyak di sana. Kamu juga ngga usah bawa banyak. Nanti kita belanja di sana.”
“Iya kak.”
Jojo mengambil ponselnya kemudian memesan makanan secara online, lalu dia beranjak menuju ruang kerjanya. Ada beberapa pekerjaan yang harus dia delegasikan pada Fandy juga Nirmala.
Adinda bergegas menuju pintu begitu terdengar suara bel. Ternyata kurir jasa antar yang datang mengantarkan makanan pesanan Jojo. Wanita itu membawa makanan ke meja makan. Setelah menatanya dia memanggil Jojo untuk menikmati makan malam bersama.
Masih belum ada pembicaraan selama makan malam. Sesekali Jojo melihat ke arah sang istri yang kerap berusaha menghindar dari tatapannya. Jojo tersenyum tipis, dia memahami mengapa Adinda bersikap demikian. Selesai makan Adinda membereskan piring kemudian membawa ke dapur untuk langsung dicuci.
Baru saja selesai mencuci piring, Adinda dikejutkan dengan pelukan Jojo dari arah belakangnya. Jojo memeluk pinggang Adinda seraya meletakkan dagunya di bahu sang istri. Jantung Adinda langsung berdendang. Sentuhan Jojo selalu membuat jantungnya berdetak lebih cepat dan tubuhnya seperti tersengat aliran listrik.
Jojo membalikkan tubuh Adinda menghadapnya kemudian menyambar bibir mungil istrinya. Tak siap dengan serangan mendadak Jojo, Adinda hanya diam terpaku. Jojo terus me**mat dan memagut bibir yang sudah menjadi candunya. Adinda yang awalnya hanya diam kini mulai membalas ciumannya walau masih terasa kaku.
__ADS_1
Jojo mengangkat tubuh Adinda, menggendongnya ala bridal style lalu membawanya masuk ke kamar sambil tak melepaskan pagutannya. Tangan Adinda melingkar di leher kokoh suaminya sedang matanya terpejam dan bibirnya masih terus berusaha mengikuti permainan bibir Jojo.
Perlahan tubuh Adinda terbaring di atas kasur dengan Jojo berada di atasnya. Pria itu terus mencumbu istrinya. Tangannya bergerak menelusuri setiap lekuk tubuh sang istri. Adinda mulai tak enak diam dengan semua sentuhan suaminya. Entah sejak kapan pakaian yang dikenakannya sudah berpindah tempat.
Jojo terus memberikan kenikmatan pada sang istri. Bahkan dia berhasil memancing Adinda untuk membalas cumbuannya. Kini Adinda tengah sibuk melucuti semua pakaian yang dikenakannya. Jojo menuntun Adinda untuk memegang benda pusaka miliknya. Awalnya Adinda menolak namun Jojo terus membujuknya hingga akhirnya sang istri mau melakukannya.
Wajah Adinda bersemu merah ketika tangannya memegang batangan kenyal untuk pertama kalinya. Namun ketika melihat Jojo begitu menikmati sentuhannya, wanita itu justru mulai menyukainua. Erangan dan racauan Jojo semakin membuatnya bersemangat. Tak tahan dengan sentuhan Adinda, Jojo pun memulai serangannya. Adinda terpekik pelan ketika rudal milik suaminya kembali memasuki gua lembabnya untuk yang kedua kalinya.
*******, lenguhan dan deru nafas keduanya memenuhi seluruh ruangan. Jika di pembukaan awal, Jojo bermain lembut dan tak terlalu lama. Berbeda dengan yang kedua, pria itu mulai bermain liar, membuat sang istri tak berhenti meneriakkan namanya.
Adinda terkulai lemas saat merasakan pelepasan lagi. Tubuhnya juga serasa remuk redam karena Jojo tak berhenti menggempurnya. Namun jauh di dalam hati kecilnya dia begitu menikmati permainan ranjang sang suami. Jojo membaringkan tubuhnya di belakang Adinda kemudian melesakkan kembali rudalnya. Dia bergerak cepat untuk meraih kepuasannya. Beberapa saat berlalu akhirnya Jojo berhasil sampai ke ujungnya. Pria itu menyesap bahu sang istri sedikit kencang seraya meremat bulatan kenyal saat gelombang hangatnya memenuhi rahim Adinda.
Adinda yang sudah kehabisan tenaga, terkulai lemas. Yang diinginkannya saat ini hanyalah menutup matanya saja. Tak didengarnya lagi ucapan cinta yang Jojo utarakan usai percintaan panas mereka. Wanita itu langsung terlelap dalam pelukan suaminya.
☘️☘️☘️
Pukul delapan kurang lima menit Jojo dan Adinda tiba di bandara Husein Sastranegara. Kedatangan mereka disambut oleh Puja yang telah lebih dulu tiba. Untung saja sebelum menikah, Jojo telah mengurus passport Adinda. Jadi di saat mendadak seperti ini, dia sudah bisa mengajak sang istri pergi bersamanya.
Puja langsung mengajak pengantin baru itu untuk segera menuju boarding pass. Pesawat rencananya akan tinggal landas lima belas menit lagi. Wanita keturunan India itu tersenyum tipis saat melihat cara berjalan Adinda yang sedikit aneh. Sambil berjalan, dia berbisik pelan di telinga Jojo.
“Congrats Jo, she still virgin (selamat ya Jo, dia masih perawan),” Puja berusaha menahan tawanya.
“Rejeki orang soleh,” balas Jojo sekenanya.
“Tapi rugi buat dia dapet barang bekas.”
Puja hampir saja tergelak, buru-buru dia menutup mulutnya kemudian menggandeng Adinda masuk lebih dulu melewati pintu boarding pass. Meninggalkan Jojo di belakang mereka.
Mata Adinda terus menatap burung besi di hadapannya. Ini adalah pengalaman pertamanya menaiki pesawat terbang. Puja terus menggandeng tangan Adinda, membawanya ke kelas bisnis kemudian mendudukkannya di kursi yang sesuai dengan tiketnya. Sedangkan Puja duduk di belakang kursi suami istri tersebut.
Sejak pertama bertemu dengan Adinda, Puja sudah menyukai istri dari teman sekaligus mantan atasannya itu. Seperti penjelasan Jojo dulu, mereka memang pernah tidur bersama namun itu semua terjadi karena kesalahan semalam saja. Keduanya mabuk saat peluncuran produk perusahaan Richard hingga akhirnya tidur bersama. Setelah itu mereka tak pernah melakukannya lagi dan sepakat menganggap kalau itu adalah kekhilafan semata.
Perlahan pesawat mulai bergerak. Kecepatannya terus bertambah saat melaju di landasan pacu. Adinda mencengkeram erat pegangan kursi saat pesawat semakin melaju kencang. Jojo meraih tangan Adinda kemudian menggenggamnya erat. Mulut Adinda komat-kamit melafalkan doa juga ayat Al-Qur’an yang dikuasainya. Ketika pesawat mulai lepas landas, pegangan Adinda di tangan Jojo semakin erat, bacaannya doanya pun semakin cepat mengikuti kecepatan pesawat dengan mata terpejam.
Jojo tersenyum geli melihat sang istri yang baru pertama kali menaiki pesawat. Ketika pesawat sudah mulai mengudara, Jojo menepuk pipi Adinda membuat wanita itu membuka matanya.
“Hon.. coba lihat ke jendela,” bisik Jojo.
Perlahan Adinda membuka matanya lalu melihat ke jendela. Perumahan penduduk yang awalnya masih terlihat bentuknya mulai mengecil seiring dengan semakin tingginya pergerakan pesawat. Pegangan di tangan Jojo pun mulai mengendur. Sedikit demi sedikit rasa takut yang tadi menderanya memudar. Nyonya Jojo itu mulai merasa rileks.
“Apa ini pengalaman pertamamu?”
“Iya kak.”
"Pantes, sampai satu Juz 'Amma kamu bacain," Jojo terkekeh geli yang dibalas cubitan Adinda.
“Apa lagi yang belum pernah kamu naiki selain pesawat?”
“Semuanya kak. Kereta api, kapal laut, aku juga belum pernah naik. Paling banter aku naik Damri aja kak.”
Jojo tergelak mendengar penuturan jujur sang istri. Tangannya bergerak mengusak puncak kepala wanita yang begitu dicintainya. Saking gemasnya Jojo mendaratkan ciuman di pipi Adinda.
“Nanti di Singapura, kita naik semua alat transportasi yang belum pernah kamu naiki.”
“Beneran kak?”
“Huum.. kereta api, kapal laut, helikopter, ayo kita naiki semua.”
“Kita naik kapal laut mau kemana emangnya kak?”
__ADS_1
“Kita bulan madu naik kapal pesiar, mau?”
“Mau kak.”
Mata Adinda berbinar mendengar rencana bulan madu mereka. Jojo meraih kepala sang istri kemudian mendaratkan ciuman di puncak kepalanya. Dia lalu mengarahkan pandangan Adinda ke jendela, pemandangan di bawah yang semakin mengecil dan deretan awan yang dilewati pesawat sungguh merupakan pemandangan indah yang tak ingin dilewatkan wanita itu.
☘️☘️☘️
Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam lamanya, akhirnya pesawat yang ditumpangi Jojo dan Adinda mendarat di bandara Changi, Singapura. Mereka dijemput oleh supir kantor yang telah disiapkan oleh Puja. Mereka segera menaiki kendaraan berjenis sedan tersebut.
Jojo minta diantar ke kediaman Ronald lebih dulu sebelum ke kantor untuk menghadiri meeting selepas jam makan siang. Sang supir mengantar Jojo terlebih dahulu baru kemudian menuju kantor bersama Puja.
Kedatangan Jojo disambut sukacita oleh wanita paruh baya keturunan Melayu-Tionghoa. Nanny, biasa Jojo memanggilnya. Wanita bertubuh gempal itu memeluk Jojo. Sudah setahun lamanya dia tak bertemu dengan Jojo. Setelah kematian Ronald, Jojo belum pernah datang lagi ke rumah ini.
“Bagaimana kabarmu?”
“Baik nanny.”
“Is she your wife (apa dia istrimu?).”
“Iya nanny. Hon.. kenalkan ini nanny, dia yang mengurusku selama aku tinggal di sini.”
Adinda menjabat tangan wanita paruh baya itu. Nanny menarik Adinda ke dalam pelukannya. Dalam hatinya bersyukur Jojo telah mengakhiri kegilaannya dan akhirnya bertemu dengan wanita yang menjadi pelabuhan terakhirnya. Nanny memerintahkan pegawai lain untuk membawa barang bawaan Jojo ke kamar. Sedang dirinya bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makanan.
Jojo memandangi sekeliling rumah yang penuh dengan kenangan dirinya juga Ronald. Pandangannya lalu tertuju pada figura besar yang terpampang di dinding. Foto dirinya bersama almarhum mama, Anka juga Ronald. Dulu dia sering mendapati Ronald berdiam diri sambil memandangi foto itu. Adinda menghampiri Jojo, dia berdiri di sisi sang suami.
“Itu papa Ronald?”
“Iya. Di sebelahnya mama dan yang di sampingku Anka.”
“Anka mirip sekali dengan kakak. Cantik. Apa kakak merindukan mereka?”
“Sangat.”
“Termasuk papa Ronald?”
“Terlepas dari perbuatannya terhadap Anka, dia adalah ayah yang baik dan aku sangat menyayanginya.”
“Doakan saja kak.”
Jojo mengangguk pelan kemudian mengajak Adinda masuk ke dalam kamarnya. Tak ada yang berubah dengan tatanan kamarnya. Semuanya persis sama seperti saat dia meninggalkan rumah ini setahun lalu. Setelah mematangkan rencananya dan menggembleng Ruby, Jojo memilih menetap di Bandung untuk melancarkan aksi balas dendamnya.
“Kamu ikut ke kantor ya.”
“Aku? Apa aku ngga akan ganggu kakak?”
“Ngga sayang. Aku ada meeting, nanti biar Puja yang menemanimu.”
“Iya kak.”
Jojo mencium kening Adinda kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia harus bersiap menghadiri rapat pemegang saham. Tak lama dia keluar kemudian dilanjut Adinda yang membersihkan diri dan berganti pakaian. Wanita itu ingin tampil cantik agar tidak mempermalukan sang suami.
☘️☘️☘️
**Hai readers semua.. maaf ya baru bisa hadir lagi. Abis yang sulung sakit, gantian adiknya dan sekarang mamake yang ngga enak badan🤧
Oh iya mamake mau promo lagi nih, novel karya salah satu othor yang baru memulai debutnya sebagai penulis. Cerita tentang Natasya dan Sean, dua orang yang kerap terlibat situasi tak menyenangkan namun harus menghadapi kenyataan kalau keduanya dijodohkan oleh orang tua masing-masing. Cuss ahh kepoin kisah mereka.**
__ADS_1