
Nina dan Nadia baru saja selesai membantu Sekar melepaskan gaun pengantinnya yang cukup ribet. Nadia juga membantu sang adik ipar menghapus sisa-sisa make up di wajahnya. Setelah merapihkan gaun, Nina mengambilkan sebuah lingerie dari dalam lemari lalu memberikannya pada Sekar.
“Sana bersihin badan kamu terus pakai ini.”
Sekar mengambil lingerie dari tangan Nina lalu membolak-balikkannya sebentar. Dia bergidik ngeri melihat baju yang terbuat dari kain tipis transparan, dengan belahan dada rendah dan panjangnya hanya sebatas pahanya saja. Sekar melemparkan lingerie ke atas kasur.
“Hiii... ngga mau ah kak. Baju apaan tuh, sama aja ngga pake baju. Masuk angin entar.”
Nina dan Nadia terbahak mendengar ucapan polos Sekar. Nadia menarik sang adik ipar duduk di sisi ranjang, begitu pula dengan Nina. Kedua wanita itu siap memberikan pelajaran kamasutra pada gadis polos itu.
“Salah satu cara bahagiain suami ya pake baju ini Se,” ucap Nadia.
“Tapi malu kak. Gimana tanggapan bang Cakra kalo aku pake baju tidur model gini.”
“Ya paling kamu langsung diterkam sama dia, hahahaha..”
Keduanya kembali tertawa, sedang Sekar hanya melihat mereka dengan pandangan yang sulit diartikan. Kemarin dia ngebet ingin cepat menikah dengan Cakra, tapi sekarang malah ketar-ketir sendiri menghadapi malam pertama tidur satu kamar dengan pria yang telah sah menjadi suaminya pagi tadi.
“Awalnya pasti malu, Se. Tapi lama-lama...”
Nadia menjeda ucapannya.
“Malu-maluin,” sambar Nina, membuat keduanya kembali tertawa.
“Hmm.. waktu kakak nikah, emang langsung belah duren?”
“Iyalah. Aku langsung dihajar sama mas Juna malemnya. Ngga tahu kalau Nina.”
“Sama kak. Mending kak Nadia malem. Lah aku siang itu juga abis resepsi langsung diterkam mas Abi.”
Sekar hanya meringis mendengar kisah kedua kakak iparnya. Tak menyangka ternyata kakak lelakinya buas juga. Tiba-tiba wajahnya merona membayangkan kalau Cakra akan sama seperti Juna dan Abi.
“Kak.. katanya pas pertama itu sakit ya.”
“Awalnya sakit Se. Pas pertama selaput dara kita robek, itu sakit banget. Tapicuma sebentar kok, ke sananya mah malah mau nambah dan nambah lagi. Tanya aja Nina, tuh perutnya sampe melendung.”
“Iya Se, enak banget hihihi.”
“Kalian pas begituan polos ya, ngga pake baju.”
Nina dan Nadia tak bisa menahan tawa mendengar pertanyaan Sekar. Nadia mengacak-acak rambut Sekar saking gemasnya. Nina bersyukur adik iparnya ini masih terjaga kemurniannya sampai melepas masa lajangnya. Juna dan Abi sukses menjaga adiknya hingga tak terperosok ke pergaulan bebas.
“Ngga asik kalo ngga polos Se, ngga bisa diraba-raba.”
“Kamu tuh polos banget sih. Emang belum pernah nonton film yang ada ehem-ehemnya gitu?” tanya Nina penasaran.
“Ngga. Paling banter aku nonton drakor yang ada adegan kissingnya aja. Kalau lebih dari itu belum pernah. Lihat cowok tel*nj*ng dada aja cuma kak Juna sama kak Abi doang.”
“Bagus Se. Sekarang tambah satu sama bang Cakra. Kalau dia mah, semua juga dilihatin dari atas sampe bawah,” Nina terkikik. Setelah menikah, kadar kemesuman ibu hamil ini semakin bertambah.
“Udah sana bersih-bersih, bentar lagi Cakra ke sini.”
“Tapi aku ngga mau pake baju itu,” Sekar menunjuk lingerie yang teronggok di atas kasur.
“Iya, aku kasih piyama aja. Buruan sana masuk.”
Nina mendorong Sekar masuk ke kamar mandi. Dia lalu memasukkan kembali lingerie ke dalam lemari kemudian mengeluarkan sepasang piyama berbahan satin. Ditaruhnya piyama di atas kasur.
__ADS_1
“Ck.. masa piyama sih, Nin.”
“Ngga apa-apa lah kak. Yakin besok-besok udah dipake tuh lingerie. Lagian ini celananya pendek kok. Bang Cakra masih bisa lihat paha mulus Sekar.”
Kedua wanita itu cekikikan membayangkan reaksi Cakra nanti. Piyama yang dipilihkan Nina adalah piyama dengan atasan tanpa lengan dan celana hanya sebatas paha saja. Pintu kamar mandi terbuka, kepala Sekar muncul dari baliknya.
“Kak.. mana piyamaku?”
Nina mengambil piyama lalu memberikannya pada Sekar. Gadis itu kembali menutup pintu kamar mandi. Tak lama kemudian dia keluar dengan tubuh berbalut piyama. Bibirnya maju beberapa senti.
“Kenapa Se?”
“Ini piyamanya kenapa pendek gini celananya? Tangannya juga. Aku bisa kedinginan.”
“Kan nanti ada bang Cakra yang angetin, eaa.. eaa..”
Sekar memutar bola matanya. Percuma saja berbicara dengan kedua kakak iparnya yang otaknya sudah dipenuhi kemesuman.
Sementara itu di ruangan sebelah, setelah berganti pakaian, Cakra masih bercengkrama dengan Juna dan Abi. Kedua kakak beradik itu sibuk memberikan wejangan pada sang adik ipar bagaimana cara membobol gawang yang baik dan benar. Tiba-tiba saja tubuh Cakra terasa panas mendengar pembicaraan mereka.
“Awas lo Cak, jangan kasar-kasar sama adek gue,” seru Abi.
“Ck.. mulai juga belum.”
“Inget Cak... begitu masuk alihkan rasa sakitnya,” timpal Juna.
“Bener.. mainnya lembut aja dulu.”
“Haaiisshh.. kalian bisa diem ngga. Gue jadi pengen ini.”
Juna dan Abi tergelak melihat wajah frustrasi Cakra. Sudah setengah jam lamanya dia berada di kamar ini menunggu Sekar selesai berganti pakaian, namun tanda-tanda sang istri selesai masih belum terlihat hilalnya.
Wajah Cakra berseri melihat kedatangan Nina. Itu pertanda kalau Sekar telah selesai berganti pakaian. Pria itu langsung bangkit dari duduknya, tanpa berpamitan pada Abi, dia langsung keluar kamar. Nina mendekati Abi lalu duduk di pangkuan sang suami.
“Masss...”
“Hmm..”
“Mau nengokin dede bayi ngga?”
“Tadi kurang lama ya nengoknya?” goda Abi.
Nina menyembunyikan wajahnya di dada Abi. Tangannya melingkari leher sang suami. Setelah meninggalkan resepsi, suami istri ini memang langsung melakukan olahraga malam.
“Jadi ngga?”
“Apa?” Nina mendongakkan kepalanya.
“Nengok dede.”
Nina menganggukkan kepalanya dengan wajah merona. Abi yang gemas langsung menyambar bibir yang tak pernah absen diciumnya setiap hari. Pelan-pelan Abi membaringkan Nina di atas kasur lalu mulai melucuti pakaian yang menutupi tubuh indahnya. Keduanya bersiap memanaskan suhu ruangan yang dingin diiringi de**han dan lenguhan mereka.
☘️☘️☘️
Sekar terjengit ketika mendengar suara bel di pintu. Untuk beberapa saat gadis itu hanya terdiam di tempat. Baru pada bel ketiga kakinya melangkah menuju pintu. Wajah Cakra langsung terlihat ketika pintu terbuka. Sekar berjalan mundur ketika sang suami memasuki kamar.
Cakra terpaku di tempatnya melihat Sekar terbalut piyama dengan model tanpa lengan dan celana pendek. Belum pernah dia melihat gadis yang telah sah menjadi istrinya berpakaian terbuka seperti ini. Jakunnya turun naik menahan hasrat yang tiba-tiba saja menyeruak dalam dirinya. Sekar yang salah tingkah segera membalikkan tubuhnya. Dia malah membuka pintu balkon lalu berdiri di sana.
__ADS_1
Cakra mengikuti langkah Sekar ke balkon lalu berdiri di sampingnya. Diliriknya Sekar yang menatap jauh ke depan. Terlihat sekali kalau gadis itu tengah dilanda kegugupan. Sebenarnya Cakra pun merasakan hal yang sama. Hanya saja sebagai lelaki, dia berusaha menutupi hal tersebut dan mencoba bersikap tenang.
Untuk sesaat suasana hening melanda keduanya. Sekar memeluk lengannya saat merasakan udara dingin menerpa tubuhnya. Cakra bengingsut mundur lalu memeluk Sekar dari belakang. Tubuh Sekar menegang mendapat pelukan dari sang suami. Cakra menundukkan kepalanya lalu menaruhnya di ceruk leher Sekar.
Perlahan ketegangan di tubuh Sekar mengendur seiring dengan rasa hangat yang menjalari tubuhnya. Gadis itu bahkan sudah berani memegang lengan Cakra yang melingkari perutnya.
“Aku ngga percaya Se, akhirnya kita sampai di titik ini juga. Aku pikir mendapatkanmu cuma impian semata.”
“Kok abang ngomongnya gitu?”
“Ya abisnya kamu cuek banget sama aku. Kadang aku suka cemburu sama Radix dan Gurit. Mereka bisa bebas dekat sama kamu. Kamu juga kelihatan enjoy banget pas sama mereka. Dulu aku pernah mikir, kamu pacaran sama salah satu dari mereka.”
Sekar tertawa kecil mendengar pengakuan sang suami. Perlahan dia bergerak membuat Cakra melonggarkan pelukannya. Sekar berbalik menghadap Cakra. Netra keduanya bertemu dan saling memandang cukup lama.
“Jujur bang, dulu di mataku ngga ada laki-laki yang menarik dibanding kak Juna dan kak Abi. Waktu abang, bang Jojo dan bang Kevin sering main ke rumah dan dekat denganku, aku mengganggap kalian seperti kak Juna dan kak Abi aja. Aku kaget waktu abang bilang suka sama aku. Aku pikir abang cuma mau godain aku aja. Karena setahuku abang punya pacar.”
“Aku pernah sekali pacaran pas SMA tapi ngga lama. Dan waktu aku lihat kamu tumbuh jadi gadis cantik dan menggemaskan, perasaan sayang sebagai kakak berubah jadi perasaan sayang laki-laki pada lawan jenis.”
“Tapi kan abang pernah deket sama beberapa perempuan.”
“Itu cuma buat mengalihkan perasaanku aja karena kamu ngga pernah merespon perasaanku. Tapi ternyata aku ngga bisa. Setiap aku jalan sama perempuan, aku membayangkan yang jalan sama aku itu kamu.”
Cakra mengusap rambut kemudian pipi Sekar dengan lembut. Hati Sekar menghangat kala melihat tatapan cinta di mata suaminya. Seiring dengan itu, hatinya juga berdebar menyadari kalau sekarang status mereka telah menjadi suami istri. Yang artinya Cakra bebas melakukan apapun padanya.
Cakra mendekatkan wajahnya kemudian mendaratkan ciuman di kening Sekar cukup lama. Kemudian berlajut ke kedua pipi, hidung juga dagu. Pria itu memegang wajah sang istri dengan kedua tangannya. Jarak wajah mereka begitu dekat hingga Sekar dapat merasakan hembusan nafas Cakra.
“Se... abang boleh cium bibir kamu?”
“Bo.. boleh bang. Sekarang kan aku istri abang.”
Sekar menutup matanya saat wajah Cakra semakin mendekat. Kemudian bibirnya mulai merasakan bibir kenyal Cakra menyentuhnya. Untuk beberapa saat bibir keduanya hanya menempel saja. Sedetik kemudian Cakra mulai me**mat lembut bibir atas dan bawah Sekar bergantian.
Sekar meremat kaos Cakra. Dadanya berdentum tak karuan. Ini pertama kalinya dirinya berciuman. Jujur dia tak tahu bagaimana cara membalas ciuman sang suami. Namun akhirnya bibirnya bergerak mengikuti pagutan suaminya. Cakra mengakhiri ciumannya lalu menautkan kening mereka.
“Abang..”
“Hmm..”
“Aku ngantuk.”
“Kita tidur ya.”
Cakra menggandeng tangan Sekar masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintu. Sekar merangkak naik ke atas kasur lalu berbaring membelakanginya. Cakra menghela nafas panjang, sejatinya dia ingin langsung menerkam sang istri. Namun sepertinya Sekar belum siap, jadi Cakra memilih untuk bersabar.
Tangan Cakra bergerak mematikan lampu utama kemudian menyalakan lampu tidur. Dia naik ke atas kasur lalu merebahkan tubuhnya di belakang sang istri. Perlahan tangannya merengkuh tubuh Sekar lalu memeluknya dari belakang. Sebisa mungkin dia menahan hasrat yang sempat naik. Demi sang istri, Cakra rela menunda keinginannya.
☘️☘️☘️
**Yang ngarep MP, sabar... belum waktunya🤣
Curhatan Cakra:
Buat pembaca setia, aku kecewaaahhh kalian melupakanku. Hanya Jojo dan Blewaaahhh yang ditanyakan, aku dilupakan. Aku yang nikah mereka yang dikomen, aku auto ngambek😤
Nah loh.. Abang Cakrawala Dunia ngambek🤣
Wow komen tembus 200 lebih. Sesuai janji, mamake akan double up hari ini.
__ADS_1
Sebenarnya mamake pengen crazy up buat kalian, tapi apa daya kapasitas otak mamake saat ini sedang tidak memadai😁
Makasih buat semua komennya, komen kalian itu mood booster buat mamake. Semoga ke depannya kisah ini akan terus menarik dan tidak membosankan😘😘😘**