
Usai bertemu dengan Lisda, Viren memutuskan untuk langsung menemui Juna di rumahnya. Dia harus membicarakan tentang Lisda dan juga Reymond. Masalah Reymond tidak boleh dianggap sepele, pria itu bisa saja berbuat nekad untuk mendapatkan Alisha, dan Viren harus segera menghentikannya. Untuk kali ini dia akan membutuhkan bantuan Juna juga papanya.
Setelah memarkirkan kendaraannya, Viren segera turun dan memasuki rumah yang terlihat sepi. Maklum saja, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk berkunjung, tapi mengingat ini menyangkut keselamatan Alisha, Viren mengabaikan kesopanan waktu bertamu.
Asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuk Viren segera mempersilahkan pria itu menuju ruang kerja Juna. Kebetulan Juna belum masuk ke kamar tidurnya. Setelah mengetuk pintu, Viren segera masuk ke dalam ruangan. Tepat di saat itu, Juna juga telah menyelesaikan pekerjaan. Dia cukup terkejut melihat Viren yang datang semalam ini.
“Vir..”
“Maaf om, kalau saya datang malam-malam.”
“Tidak apa. Ayo duduk.”
Juna mendudukkan diri di sofa, disusul kemudian oleh Viren. Pria itu lalu memberikan map yang dikeluarkan dari tas kerjanya. Juna menerima map pemberian Viren lalu membaca isinya dengan seksama.
“Apa kamu yakin Lisda tidak akan mengganggu Al lagi?”
“Iya om.”
“Apa yang kamu berikan padanya karena Lisda pasti tidak akan mau menandatangani ini dengan sukarela.”
“Aku hanya memberi sedikit ancaman, om.”
“Benarkah?”
Viren menganggukkan kepalanya. Dia sungkan kalau harus mengatakan yang sebenarnya. Kalau Viren mengatakan tentang jumlah uang yang telah dikeluarkan, pasti Juna akan menggantinya berkali-kali lipat. Tapi pria itu tidak mau melakukannya. Sejak awal dia sudah berjanji akan mengatasi masalah Lisda tanpa campur tangan para orang tua.
“Terima kasih, Vir. Maaf karena sudah merepotkanmu. Kalau bukan karena permintaan Al, om mungkin sudah mengirimkannya ke tempat yang jauh atau penjara. Tapi kamu tahu sendiri, sampai sekarang pun Al masih tak mengijinkan om mengambil tindakan keras pada wanita itu.”
“Om tenang saja. Dia ngga akan ganggu Al lagi. Tapi yang harus kita pikirin sekarang soal Reymond.”
“Kenapa dia?”
“Dia berbahaya, om. Punya niat ngga baik sama Al. Untuk masalah Reymond, aku butuh bantuan om juga papa.”
“Bilang aja. Apa rencana Reymond.”
Viren menceritakan apa yang dikatakan Lisda padanya. Rencananya Reymond mendekati Alisha. Kemungkinan langkah yang akan diambilnya jika dirinya tidak bisa membuat Alisha jatuh cinta padanya. Awalnya Juna hanya mendengarkan dengan seksama, namun ketika Viren mengutarakan rencananya, dia terkejut juga.
“Itu rencana saya, om. Aku harap om setuju. Kalau om setuju, aku tinggal bilang ke papa dan kita jalankan rencana ini secepatnya.”
“Kamu serius mau jalanin rencana itu?”
“Iya, om.”
“Ok.. kalau gitu nanti om obrolin sama Al dulu. Takutnya dia kaget, kamu tahu kan dia bagaimana.”
“Iya, om. Tapi kalau Al ngga mau, kita cari cara lain aja.”
Juna hanya menganggukkan kepalanya. Viren nampak lega pria itu menyetujui rencananya. Tinggal menunggu jawaban Alisha dan juga papanya. Jika Alisha dan papanya setuju, dia berharap bisa menjalankan rencananya dengan baik dan bisa menyingkirkan Reymond selamanya.
“Kalau begitu aku pamit, om.”
Juna ikut berdiri ketika Viren bangun dari duduknya. Bersama, kedua pria itu keluar dari ruang kerja. Juna masuk ke kamar tidurnya, sedang Viren berjalan keluar rumah. Dari arah tangga, nampak Alisha tengah menuruni anak tangga. Gadis itu terkejut melihat Viren ada di rumahnya semalam ini.
Mata Alisha terus memandangi Viren dengan setelan kerjanya. Entah mengapa pria itu terlihat gagah dan tampan dalam balutan kemeja berwarna biru muda yang lengannya digulung sampai ke siku. Viren melambatkan langkahnya, menunggu Alisha sampai di dekatnya.
“Bang Vir, tumben ke sini malem-malem.”
“Iya, abis kasih laporan ke papamu.”
“Oh iya, sekarang kan abang udah kerja ya di kantor bareng papa. Gimana bang rasanya kerja di Blue Sky?”
“CEO nya ramah cuma asistennya menyeramkan.”
Alisha tak bisa menahan tawanya. Asisten yang dimaksud Viren itu adalah ayahnya sendiri. Dan yang lebih membuat gadis itu terpingkal, Viren mengatakan itu dengan wajah tanpa ekspresi. Gadis itu terus berjalan mengiringi Viren sampai ke teras. Viren membuka tas kerjanya lalu mengambil sesuatu dari dalamnya kemudian memberikan pada Alisha.
“Buat aku bang?”
“Iya, masa buat bi Isah.”
“Makasih bang.”
Tangan Alisha terulur mengambil dua buah coklat dari tangan Viren. Walau pria itu memberikan penganan yang banyak disukai kaum hawa dengan wajah datarnya, namun tetap saja gadis itu menyukainya.
“Aku pulang ya, Al.”
“Iya bang. Hati-hati.”
Alisha terus berdiri di tempatnya, memandangi punggung Viren sampai pria itu masuk ke dalam mobil. Setelah mobil yang dikendarai Viren meninggalkan kediamannya, baru gadis itu masuk ke dalam rumah. Sambil menaiki tangga, dia terus saja memandangi dua batang coklat pemberian Viren. Dia berhenti di depan kamarnya, lalu memutar tubuh dan menuju kamar sang kakak.
“Kak Azra..”
Tanpa menunggu jawaban sang kakak, gadis itu masuk ke dalam kamar yang didominasi oleh warna pink. Azra yang baru saja memakai krim malam terkejut melihat sang adik masuk ke kamarnya. Alisha mendudukkan dirinya di sisi ranjang.
“Mmm.. kak..”
“Kenapa?”
“Kalau bang Fathan romantis ngga?”
“Bang Fathan? Hahaha… mana ada dia romantis. Dia kan pendiam dan pemalu, malah akunya yang banyak nyerocos buat mancing dia.”
“Oh gitu. Terus dia suka kasih apa gitu buat nunjukkin perasaannya ke kakak?”
“Mmm.. apa ya? Dia tuh ngga ada inisiatif buat hal-hal yang kaya gitu. Pernah beliin bunga buat aku itu juga aku yang minta. Payah tuh orang, tapi heran kok aku suka ya.”
Azra tergelak mendengar ucapannya sendiri. Fathan yang pendiam dan pemalu memang jarang mengambil langkah lebih dulu. Calon suaminya itu hanya lancar bicara jika menyangkut pekerjaan atau saat bersama para sahabatnya, tapi jika menyangkut hubungan pribadi masih Azra yang memulai lebih dulu.
“Emang kenapa kamu nanya gitu? Tumben.”
“Mmm.. kak. Kalo cowok ngasih coklat itu kenapa?”
“Tergantung sih. Tapi coklat itu manis jadi kalau ada cowok yang ngasih coklat, bisa aja untuk mewakili perasaannya yang manis sama si penerima coklat. Eh itu coklat dari siapa? Heemm.. pantes nanya-nanya, pasti cowok ya yang ngasih. Siapa?”
Bukannya menjawab, Alisha malah tertawa mendengar kakaknya yang bicaranya merepet seperti petasan. Azra semakin dibuat penasaran, dia terus bertanya pada sang adik.
“Siapa yang ngasih?”
“Mmm..bang Viren.”
“WHAT?? Viren ngasih kamu coklat? Amazing si chiller bin freezer ngasih kamu coklat. Cieee.. jadi kamu sekarang sama Viren, ya?”
“Ng.. ngga kak. Tiba-tiba aja tadi dia kasih coklat. Ngga bilang apa-apa, Cuma ngasih aja, udah gitu mukanya lempeng gitu.”
“Hahaha.. bukan Viren kalau ngga gitu.”
“Terus maksudnya apa ya kak?”
“Ya apalagi, udah lope dia sama kamu.”
“Masa sih?”
__ADS_1
Wajah Alisha memerah mendengarnya. Dalam hatinya berharap apa yang dikatakan kakaknya itu benar adanya. Semoga saja Viren memiliki perasaan yang sama dengannya. Azra berpindah duduk di samping sang adik lalu merangkul bahunya.
“Kakak doain kamu bisa berjodoh sama Viren. Dia laki-laki yang baik, ya mesti dingin dan kaku. Tapi siapa tahu kalau udah nikah berubah jadi lava hahaha…”
“Kakak iihh..”
“Al.. kakak seneng dengan perubahan kamu akhir-akhir ini. Terus seperti ini ya, Al. Banyak yang tulus sayang sama kamu. Ngga semua orang seperti bu Lisda dan Mela.”
“Iya, kak. Ya udah, kakak istirahat ya, besok kan kerja.”
Alisha beranjak dari duduknya kemudian keluar kamar Azra. Gadis itu masih belum mau masuk ke kamarnya. Kali ini dia menuju kamar Ezra. Tangannya mengetuk pintu kamar yang tertutup. Tak berapa lama terdengar suara Ezra dari dalam. Alisha membuka pintu lalu masuk ke dalam. Ezra masih berada di belakang meja kerjanya.
“Kak.. aku ganggu ngga?”
“Kenapa Al?”
“Mau ngobrol aja.”
Ezra mengakhiri pekerjaan lalu meninggalkan meja kerjanya. Dia mengajak Alisha berbicara di balkon kamar. Keduanya memilih duduk di lantai dengan punggung menempel pada dinding.
“Mau ngobrol apa?”
“Abang mau coklat ngga?”
Tangan Alisha bergerak membuka bungkus coklat lalu memotongnya. Ezra membuka mulut, membiarkan sang adik menyuapkan penganan manis itu. Alisha juga ikut memakan coklat tersebut. Dia memang tidak menawari Azra, karena kakak perempuannya itu tak pernah makan apapun di atas jam enam sore. Untuk menjaga berat badan katanya, takut gaun pengantinnya nanti kesempitan.
“Kak.. hubungan kakak sama Dila gimana?”
“Ya gitu deh, lancar, aman terkendali.”
“Dih kaya arus mudik aja.”
“Hahahaha…”
“Kakak suka ngasih hadiah ngga sama Dila, kaya bunga, coklat atau apa gitu.”
“Jarang sih. Paling kita jalan bareng, nonton atau makan di luar. Emangnya kenapa?”
“Nanya aja. Kalau cowok ngasih coklat maksudnya apa kak?”
“Mmm.. macem-macem sih alasannya, tergantung situasi juga. Tapi biasanya cowok ngasih coklat itu buat nunjukkin rasa sayangnya.”
“Abang pernah ngasih coklat ke Dila?”
“Pernah.”
“Ooo.. gitu ya.”
“Jangan-jangan coklat kita makan ini dari gebetan kamu ya,” Ezra merangkul bahu Alisha.
“Aku emang suka kak sama dia. Tapi aku ngga tahu dia gimana sama aku.”
Ezra sedikit menjauhkan tubuhnya. Dia ingin lebih jelas melihat wajah sang adik. Ini pertama kalinya Alisha mengatakan menyukai seseorang, dan tentu saja Ezra senang mendengarnya. Berarti trauma sang adik, sedikit demi sedikit telah berkurang.
“Siapa yang kasih kamu coklat?”
“Bang Viren.”
“Viren?”
“Iya bang.”
“Masa sih kak.”
“Iyalah. Cowok kaku sama lempeng modelan dia mana mungkin kepikiran ngasih coklat ke cewek. Mau ngobrol aja udah untung. Kakak dukung deh kalau kamu sama Viren. Biar dia modelan es balok, tapi dia baik dan pasti bisa jagain kamu dengan baik.”
“Tapi dia juga deket sama Anya. Kali aja dia ngasih coklat juga sama Anya.”
“Kakak ngga yakin. Ayo kita buktiin.”
Ezra berdiri kemudian mengambil ponsel yang ada di atas meja kerjanya. Sambil berjalan kembali ke tempat Alisha, pria itu menghungi Anya dengan mode loud speaker. Tak butuh waktu lama untuk gadis itu menjawab panggilan.
“Halo kak Ezra yang ganteng.”
“Halo Anya yang cantik tapi korslet.”
“Ish.. emangnya aku listrik apa pake korslet.”
“Hahaha..”
Senyum Alisha terbit mendengar perbincangan kakak dan sepupunya. Anya memang gadis yang supel dan ceria, tak heran kalau banyak yang menyukainya. Salah satunya adalah Viren. Pria dingin itu terlihat nyaman jika berbicara dengannya.
“Nya.. kamu sama si Viren pernah dikasih coklat ngga?” tanya Ezra.
“Bang Vir ngasih aku coklat? Bandung bakalan diterjang hujar petir kalau dia ngasih coklat. Tuh kang es balok keliling bisanya bikin aku bengek sama kupingku gatel-gatel kalo denger omongannya.”
“Hahaha… sa ae mak Icih..”
“Emang siapa yang dikasih coklat ama kang es balok keliling? Jangan-jangan Al.. kak, ada Al, ngga?”
“Ada, ngomong aja, Nya di loud speak ini.”
“Oii Al.. lo kasih coklat ama kang es balok keliling?”
“Iya, Nya..”
“Ciee… bisa manis juga tuh es lilin. Udah ngga usah ditanya lagi, dia udah ketiban eceng ama elo.”
“Tapi kayanya ngga deh, Nya. Dia tuh lempeng banget.”
“Jangan tertipu ama penampilannya. Gue yakin dia udah lope-lope sekebon pete ama elo. Cuma emang dia kan gengsinya segede badak bercula satu. Tenang aja Al, tar biar gua ama si Nan yang bakalan komporin dia biar meleleh, eaa.. eaa..”
“Dasar ratu bacot. Kita ngomong sebaris, dia bales segerbong hahaha..” seru Ezra.
Terdengar tawa Anya di seberang. Gadis itu sudah kebal dengan berbagai julukan yang disematkan padanya. Alisha juga ikut tertawa, bukan menertawakan Anya tapi tertawa senang mendengar prediksi Anya akan perasaan Viren. Dalam hatinya sungguh berharap apa yang dikatakan sepupunya itu benar adanya.
“Ya udah, Nya. Cuma mau nanya itu doang."
“Dih.. nih si nona cantik yang cetar membahana melebihi dewi kahyangan ngga dikasih imbalan apa? Informasi aku berharga loh.”
“Ya udah.. aku kasih voucher gratis makan di Pandawa Resto yang ada di hotel Yudhistira plus tiket terusan ke water world.”
“Asiik.. emang deh kak Ez yang paling caem.”
“Besok aku daftarin nama kamu sama Irvin ya.”
“Dih kenapa sama bang Irvin?”
“Lah terus mau sama siapa? Itu kan paketan ngedate. Atau kamu mau sama si Qomar?”
“Siapa Qomar?”
__ADS_1
“Jin Singapura yang ngikutin kamu huahahaha…”
“Wadaw.. ogaaaahhh.. ya udah sama bang Irvin juga ngga apa-apa. Bisa ayan aku klo ditemenin si Qomar.”
Gelak tawa kembali terdengar. Tidak ditelepon, tidak siaran langsung, Anya memang selalu bisa membuat suasana meriah. Ezra mengakhiri panggilan setelah tak ada lagi yang ingin ditanyakan pada Anya. Pria itu lalu melihat ke arah adiknya.
“Gimana? Udah percaya belum?"
“Mmm.. percaya sih bang, tapi kan aku belum denger dia bilang langsung jadi kadar kepercayaannya baru 50%.”
“Ya udah, nanti biar kakak hipnotis dia ‘tatap mata saya.. bilang sama Al, kamu lope sama dia’.”
Tawa Anya meledak melihat gaya Ezra menjulingkan kedua matanya saat mengucapkan kata-kata hipnotis yang sangat terkenal dahulu. Dipeluknya pinggang Ezra, sang kakak memang selalu bisa membuat menghibur hatinya yang gundah gulana.
☘️☘️☘️
Suasana meeting di lantai 11 gedung kantor Metro East terasa begitu tegang. Sedari tadi Kenzie tak berhenti menyembur anak buahnya yang dinilai tak becus bekerja. Ada saja kesalahan yang ditemukan pria itu. Semua anggota tim perencanaan dibuat pusing karena Kenzie berkali-kali menolak ide mereka.
Bukan hanya tim perencanaan, Fathan juga dibuat pusing oleh atasan sekaligus sahabatnya itu. Meeting yang hanya berlangsung selama dua jam, seperti seabad lamanya. Dan setelah memeras otak mengeluarkan berbagai ide, akhirnya Kenzie menyetujui salah satu ide anggota tim perencanaan.
Sebelum meninggalkan ruangan rapat, Kenzie sekali lagi menegaskan mereka untuk menyelesaikan proposal dalam waktu dua minggu. Sudah terbayang di benak mereka, selama dua minggu ke depan akan menjadi hari yang berat. Bukan tidak mungkin mereka akan lembur sampai larut malam.
Kenzie berjalan menuju ruangannya, diikuti Fathan dan Yudi dari belakang. Yudi langsung kembali mejanya sedangkan Fathan ikut masuk ke dalam ruangan. Kenzie menghempaskan bokongnya di kursi kebesarannya.
“Than.. gimana pak Jafar, ada pergerakan ngga?”
“Belum ada.”
“Terus awasi. Dia diem apa lagi nyusun rencana.”
“Siap.”
Sudah seminggu sejak Fathan membatalkan kerjasama dengan perusahaan milik Jafar, namun belum ada tanda-tanda dari pria tersebut. Fathan memang sengaja melakukan itu untuk memberikan peringatan pada pria itu. Jika benar-benar tak ada pergerakan darinya, maka kasus akan dianggap selesai. Mungkin Jafar berpikir ulang setelah apa yang dikatakan Fathan tempo hari.
“Ken.. lo tadi pagi abis sarapan apaan sih? Di ruang meeting nyembur mulu. Kaga lihat apa, pada sawan mereka. Jangan-jangan lo ngga dikasih jatah ya, sama Nara.”
Kenzie mendelik kesal pada sahabatnya itu. Tapi tebakan Fathan memang tidak sepenuhnya salah. Tadi pagi dia memang sedikit kesal karena tidak jadi melakukan serangan fajar karena, ibu RT tempatnya tinggal tiba-tiba saja muncul mengajak Nara senam bersama sebagai salah satu program mingguan warga RT 02.
Fathan menolehkan wajahnya ketika mendengar decakan kesal Kenzie. Beberapa kali dia mencoba menghubungi Nara namun panggilannya tak diangkat. Fathan berjinjit sedikit untuk melihat ke arah layar ponsel.
“Nara masih di jalan kali. Dia OTW ke sini.”
“Kok lo tau?”
“Kan gue yang panggil dia ke sini. Gue bilang wakil CEO Metro East lagi butuh damkar hahahaha..”
Saat yang bersamaan, pintu ruangan terbuka. Muncul Nara dari baliknya dan langsung menghampiri suaminya. Fathan buru-buru keluar ruangan, takut disuguhkan pemandangan yang bisa merusak mata dan imannya. Nara mendekat lalu duduk di pangkuan Kenzie dengan kedua tangan dikalungkan ke leher suaminya.
“Ada apa masku sayang? Kata bang Fathan ada yang butuh damkar.”
“Bukan damkar.”
“Terus apa?”
“Vitamin C.”
Nara tersenyum lalu mendekatkan wajahnya. Kenzie langsung menarik tengkuk Nara dan membenamkan bibirnya. Kedua bibir itu pun saling mel*mat dan memagut. Tanpa henti Kenzie terus menyesap bibir istrinya seraya menarik lidahnya. Ciuman panjang nan panas berakhir begitu mendengar suara ketukan di pintu. Yudi datang membawa berkas yang harus ditanda tangani.
Nara segera turun dari pangkuan Kenzie. Saat Yudi semakin mendekat, tiba-tiba saja Nara merasa perutnya diaduk-aduk begitu mencium aroma parfum Yudi. Dengan cepat dia melesat masuk ke kamar mandi. Mendengar istrinya seperti tengah memuntahkan sesuatu, Kenzie bergegas menyusul masuk. Dipijatnya tengkuk sang istri.
“Kamu kenapa sayang?”
“Ngga tau mas. Tiba-tiba aja aku mual nyium aroma parfum Yudi. Tadi juga di rumah aku mau muntah pas nyium bau masakan. Badanku juga emang agak lemas.”
Dengan dipapah Kenzie, Nara keluar dari kamar mandi. Wanita itu menutup hidungnya saat melintasi Yudi. Kenzie meminta Yudi sedikit menjauh dari istrinya. Pelan-pelan Kenzie mendudukkan Nara di kursi kerjanya.
“Bu Nara kenapa?”
“Katanya mual nyium parfum kamu. Kamu pake parfum apa sih? Jangan bilang pake minyak nyong-nyong.”
“Ngga pak, masa pake minyak buat ngundang jin. Pake parfum biasa, pak. Bu Nara hamil kali. Kan kalau perempuan hamil suka sensitif sama bau-bauan.”
“Eh.. iyakah? Yang, kamu hamil?”
“Ngga tau, mas. Tapi aku emang udah telat seminggu.”
“Ayo ke rumah sakit. Kita periksa ke dokter kandungan.”
“Sekarang mas?”
“Iya. Yud, bilang ke Fathan, handle semua kerjaan aku.”
“Siap pak.”
Kenzie menyambar ponselnya di meja, juga jas yang tersampir di kapstok. Sambil menggandeng tangan istrinya, dia keluar dari ruangan. Baru mendengar kemungkinan Nara hamil sudah membuat hatinya bahagia.
☘️☘️☘️
Dengan kecepatan sedang Kenzie melajukan kendaraannya. Tangan yang satunya terus menggenggam tangan sang istri dan sesekali mencium punggung tangannya dengan mesra. Saat berbelok di jalan yang jarang dilalui kendaraan bermotor, tiba-tiba saja muncul segerombolan orang memakai sepeda motor. Mereka menghalangi jalan yang dilalui Kenzie hingga pria itu terpaksa menghentikan kendaraannya.
Salah seorang pengemudi motor mendekati mobil kemudian menggedor kaca dengan kencang. Nara mulai ketakutan, dia ingat betul kalau gank motor yang mencegat mereka adalah gank motor Anto. Dia mengenali stiker yang tertempel di motor yang ada di dekat mobil.
“TURUN!!!”
Ujar pria yang ada di samping sambil menggedor-gedor kaca mobil. Nara memeluk erat lengan Kenzie. Dia menggelengkan kepalanya ketika Kenzie hendak membuka pintu mobil. Wanita itu terkesiap ketika kembali mendengar gedoran kaca dan gebrakan di kap mobil.
“Mas..”
“Aku turun dulu.”
“Jangan mas..”
“Ngga apa-apa sayang. Jangan khawatir. Hubungi Fathan ya. Begitu aku turun langsung kunci pintunya.”
Kenzie mencium kening Nara kemudian membuka pintu mobil. Begitu pintu tertutup, Nara langsung menguncinya sesuai instruksi sang suami. Buru-buru dia menghubungi Fathan. Kenzie memandang berkeliling orang-orang yang tengah mengepungnya. Sudut matanya lalu menangkap Anto berjalan mendekat ke arahnya.
“Kenzie…”
“Mau apa lo?”
“Mau istri lo.”
“Cari mati lo!”
“Hahaha… ngga salah? Gue yang bakal kirim lo ke neraka. Hajar!”
Tanpa menunggu instruksi yang kedua kali, pasukan Anto yang berjumlah dua puluh orang itu langsung menyerang Kenzie.
☘️☘️☘️
Kira² bab ini bakal nongol malam ini atau besok ya🤔
__ADS_1