KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Kisses


__ADS_3

Huaaaa... mamale terhura, belum sampe sore, komentar udah tembus 400 lebih. Makasih semua atas apresiasinya🤗


Sebagai bonus buat kalian yang selalu kasih komentar positif buat mamake, spesial hari ini mamake up double.


Eits.. bukan berarti mamake ngga sayang sama yang ngga pernah komen ya. Mamake sayang sama semua readers KPA. Terima kasih udah setia ngikutin kehaluan dan kegilaan mamake di setiap partnya. Love you all and please enjoy .


*****************************************


Mobil yang ditumpangi Veruca berhenti di depan sebuah vila mungil bercat merah bata. Pria yang mengendarai mobil, mempersilahkan Veruca untuk turun. Perempuan itu memandang ke arah dua mobil yang ada di belakangnya. Dia merasa cukup aman melihat orang bayaran Lucky masih menjaga. Tanpa Veruca tahu kalau para pengawalnya sudah berganti menjadi tim keamanan keluarga Hikmat.


Veruca memasukkan anak kunci kemudian memutarnya. Sebelum pergi, Lucky memang telah memberikan kunci vila padanya. Dia lalu membuka pintu dan masuk ke dalam vila. Langkah Veruca terhenti saat melihat Naya tengah berkutat di dapur.


“Nay..” panggilnya


“Hey.. Ve..”


“Kok lo ada di sini?”


“Lucky yang suruh gue ke sini. Katanya dia mau kasih kejutan buat gue. Lo sendiri ngapain ke sini?”


“Gue juga disuruh Lucky ke sini.”


Naya membersihkan tangannya di wastafel kemudian mengeringkan tangannya. Matanya melihat ke arah ponsel yang ada di dekatnya lalu gadis itu berjalan mendekati Veruca. Naya berhenti tepat di depan sahabatnya itu.


“Barusan Lucky wa. Dia titip pesan buat lo.”


“Apa?”


PLAK!!


Veruca terkejut Naya menampar pipinya cukup keras. Sambil memegangi pipinya yang terkena tamparan, dia melihat nyalang ke arah Naya. Sedang Naya nampak tak peduli, gadis itu balas menatap Veruca tak kalah sengit.


“Kenapa lo tampar gue?!”


“Karena itu pantes buat elo, b*tch!”


“Lo panggil gue apa barusan?”


“B*tch.. Kenapa? Lo ngga suka gue panggil seperti itu? Atau gue harus panggil Lorena baru lo merasa senang?”


Kembali Veruca dibuat terkejut. Wanita itu mulai waspada, jika Naya sudah mengetahui nama aslinya, artinya penyamarannya selama ini telah terbongkar. Dia melihat ke kanan dan kiri tapi tak mendapati siapapun kecuali Naya. Dengan cepat Veruca bergerak hendak menjambak rambut Naya, namum gadis itu bergerak lebih cepat. Naya mencengkeram pergelangan tangan Veruca kemudian mendorongnya dengan kasar.


“Dasar pengkhianat! Gue tulus temenan sama elo tapi ini balasan yang lo kasih ke gue? Dan elo juga udah nyakitin Nara. Bener-bener perempuan licik, ngga tahu malu. Lo udah buat adek gue menderita!!”


Naya tak bisa menahan emosinya lagi. Ingin rasanya dia mencakar dan mencabik-cabik wajah perempuan di depannya. Yang membuatnya bertambah emosi, Veruca masih bisa membalas tatapannya dengan raut wajah mengejek.


“Itu karena elo bodoh, Nay. Dengan mudahnya lo termakan hasutan gue. Lo pikir orang-orang yang memuja lo itu benar-benar suka sama lo? Salah besar, mereka muji elo dan menjadi fans berat elo atas perintah gue, gue!! Lo tuh nothing Nay. Lo cume cewek manja, egois dan menyebalkan. Dan Nara... gue harus akui kalau dia lebih smart dari lo. Asal lo tahu, orang yang udah nyakitin Nara bukan gue atau para haters bayaran gue, tapi elo. Elo yang udah nyakitin dia dan buat dia menderita. Lo tahu kenapa? Rasa sakit terbesar yang diterima seseorang adalah pada saat dirinya disakiti oleh orang terdekat dan yang disayanginya.”


“Dasar brengsek!!”


Naya tak bisa menahan dirinya lagi. Dia merangsek maju, didorongnya tubuh Veruca hingga membentu ke tembok kemudian dengan kedua tangannya dia mencekik perempuan itu. Veruca berusaha melepaskan cekikan Naya di lehernya. Namun Naya yang tengah dikuasi amarah memiliki tenaga lebih besar. Wajah Veruca memerah, nafasnya mulai tersengal karena pasokan oksigen yang mulai menipis.


“Naya lepas!”


Aric yang sedari tadi hanya memperhatikan dari balik tembok segera berlari lalu melepaskan cekikan di leher Veruca. Terdengar suara batuk perempuan itu seiring tubuhnya lungsur ke lantai. Dia memegangi lehernya yang terasa nyeri. Naya yang berada dalam kungkungan Aric terus menatap Veruca dengan nyalang. Rasanya tak puas kalau belum membuat sahabat laknatnya itu mati.


“Naya.. tenang Nay, tenang.”


Aric memegangi kedua tangan Naya dari belakang dengan kencang karena gadis itu terus saja memberontak. Perlahan gerakan tangan Naya melemah hingga akhirnya berhenti. Aric memeluk tubuh kekasihnya ini dan terus menenangkannya dengan berbisik di telinga gadis itu.


“Tenang sayang... dia pantas mendapatkan hukuman lebih dari kematian.”


“Aku membencinya!! Membencinya!!”


“Sssttt.. tenang sayang.”


Veruca berdecih melihat tingkah dua sejoli di depannya. Walau memisahkan Naya dan Aric adalah bagian dari rencananya dan Lucky untuk memenuhi tugas dari orang membayarnya, namun perasaan Veruca pada Aric nyata adanya. Wanita itu benar-benar telah jatuh cinta pada pria tampan itu. Tapi Aric tak pernah membalas perasaannya, bahkan melirik pun tidak.


“Siapa yang menyuruhmu? Siapa orang yang sudah membayarmu untuk menghancurkan keluargaku?” tanya Naya setelah kondisinya sedikit tenang.


“Malaikat maut.”


“Haah.. malaikat maut.. speaking of that, aku akan menjadi malaikat maut sekarang.”


“Silahkan, aku tidak takut.”


“Bukan untukmu. Aku akan menjadi malaikat maut untuk orang yang sangat kamu sayangi.”


Naya mengambil remote televisi yang ada di nakas. Kemudian dia mengarahkan benda berbentuk persegi panjang itu ke layar datar yang ada di ruang tengah. Seketika televisi menyala. Mata Veruca membulat melihat tayangan di layar datar tersebut. Seorang gadis muda terbaring di atas ranjang dengan beberapa peralatan medis terpasang di tubuhnya.

__ADS_1


“Mira..”


“Ooh.. jadi dia Mira, adikmu tersayang. Sepertinya dia sangat menderita, penyakit kronis terus menggerogoti tubuhnya. Aku berbaik hati akan menghilangkan penderitaannya.”


“Apa maksudmu?”


“Malaikat maut. Sudah kubilang akan menjadi malaikat maut, bukan untukmu tapi untuk adikmu.”


Naya menghentikan ucapannya lalu menolehkan kepalanya ke arah televisi. Di sana terlihat seorang perawat menghampiri bed dengan sebuah suntikan di tangannya. Dia mengeluarkan satu ampul obat dari saku seragamnya lalu memperlihatkannya ke arah kamera. Wanita itu kemudian memasukkan cairan obat ke dalam suntikan.


“A.. apa yang dia lakukan.”


“Itu cairan untuk menghilangkan penderitaan adikmu untuk selamanya. Tetrodotoxin, hanya dengan dosis kecil sudah bisa mengirimkan adikmu ke alam baka.”


“Apa kau gila?!”


“Ya aku gila karena sudah menjadi kerbau yang dicucuk hidungnya olehmu selama ini. Apa kamu pikir adikmu akan senang kamu mengobatinya dengan uang haram? Daripada dia hidup tapi membencimu seumur hidupnya, lebih baik aku mempermudahnya. Anggap saja ini ungkapan terima kasihku padamu. Sekarang lihat baik-baik bagaimana adikmu meregang nyawa.”


“Jangan.. Naya aku mohon jangan Naya...”


Wajah Veruca nampak panik apalagi saat melihat perawat tersebut mendekati bed adiknya. Beberapa kali dia berteriak meminta Naya menghentikannya, namun gadis menulikan telinganya. Tak ada pencegahan dari Aric, dia terus memperhatikan apa yang dilakukan kekasihnya. Membiarkannya membalaskan rasa sakit hatinya pada Veruca.


“Jangan!!!”


Veruca berteriak kencang ketika perawat itu menyuntikkan cairan yang disebutkan Naya tadi ke tubuh adiknya. Perempuan itu semakin panik saat sang suster mengarahkan monitor yang mengontrol alat vital adiknya ke kamera. Nampak tanda-tanda vital Mira menunjukkan penurunan.


“Naya.. aku mohon jangan sakiti adikku. Kamu mau tahu siapa yang menyuruhku, aku akan mengatakannya. Tapi tolong jangan sakiti Mira.”


“Katakan, maka aku akan memberikan penawar untuknya.”


“Prima.. Prima Wibowo, dia orang yang telah menyuruhku juga Lucky. Aku tidak tahu siapa dia, aku hanya tahu namanya. Sumpah hanya itu yang kutahu. Sekarang tolong berikan penawarnya.”


“Oopss.. sorry honey.. racun itu tidak ada penawarnya.”


“Apa??”


Veruca mengalihkan pandangannya ke televisi. Dia berteriak kencang saat layar monitor menunjukkan garis lurus. Tangisnya seketika pecah, Veruca meraung memanggil nama adiknya. Naya memandang perempuan di depannya dengan tatapan nanar.


Pintu depan vila terbuka, Dendi masuk ke dalamnya kemudian segera membawa Veruca pergi. Tubuh Naya luruh jatuh ke lantai sesaat setelah wakil kepala keamanan keluarga Hikmat itu membawa sang pengkhianat dari hadapannya. Tangisnya kembali pecah. Aric mensejajarkan dirinya dengan Naya lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


“Aku saudara yang jahat. Aku sudah menyakiti saudaraku sendiri. Ve benar, bukan orang lain yang telah menyakiti Nara, tapi aku.. aku yang telah melakukannya. Aku yang sudah membuatnya menderita."


Naya terus terisak dalam dekapan Aric. Berjuta rasa bersalah dan penyesalan menghantamnya bersamaan. Karena kebodohannya, seorang Veruca berhasil meracuninya dan membuatnya menyakiti adik kembarnya sendiri. Aric mengurai pelukannya, kedua tangannya menangkup wajah Naya yang bersimbah airmata.


“Apa aku bisa menjadi kuat?”


“Tentu saja. Kamu akan menjadi gadisku yang kuat.”


“Apa abang membenciku?”


“Aku ngga membencimu. Aku sayang kamu. Aku lakukan semua ini karena aku sayang kamu, Nay.”


“Maafin aku bang. Aku sudah melakukan banyak kesalahan padamu juga. Terkadang aku egois dan ngga mau mengerti dirimu. Aku sering menyakiti hatimu, aku...”


Ucapan Naya terhenti ketika Aric menciumnya. Selama empat tahun menjalin hubungan, baru kali ini Aric mencium bibirnya. Dengan lembut pria itu memagut bibir sang kekasih. Naya terkesiap sekaligus bahagia, dia memejamkan matanya menikmati sesapan demi sesapan yang diberikan kekasihnya. Tangannya mencengkeram kaos yang dikenakan Aric. Gadis itu mulai membalas ciuman sang kekasih seperti yang dilihatnya di adegan-adegan film romantis. Menit demi menit berlalu hingga akhirnya Aric mengakhiri ciuman panjang mereka dengan sebuah kecupan di kening Naya.


☘️☘️☘️


Sudah sepuluh menit lamanya mobil yang dikendarai Septa berhenti di depan kediaman Jojo. Kenzie masih bertahan di kursi belakang bersama dengan Nara. Tak ada niatan dari pria itu untuk membangunkan Nara yang masih tertidur dalam pelukannya. Tangannya terus mengusap puncak kepala calon istrinya itu.


Septa diam-diam melirik dari kaca spion. Kalau bisa ingin rasanya dia berteriak membangunkan Nara. Dengan begitu dia bisa cepat mengantarkan Kenzie menuju rumah sakit, sedang dirinya pulang ke rumah. Dia begitu merindukan istrinya yang baru saja dinikahinya sebulan lalu. Acara bulan madunya tertunda karena bos besar memintanya menyusup ke lingkaran musuh. Sudah seminggu lamanya dia tak pulang ke rumah. Selama menyusup dia memang memilih tinggal di tempat lain demi menjaga keamanan sang istri.


Sepertinya kegundahan hati Septa sampai pada Nara. Kelopak mata gadis itu bergerak-gerak dan tak lama kemudian matanya terbuka. Perlahan Nara melepaskan diri dari pelukan Kenzie begitu sadar mobil yang ditumpanginya sudah tak bergerak lagi. Dia melihat ke arah Kenzie.


“Kita sudah sampai?”


“Hmm.. ayo turun.”


Kenzie membuka pintu lalu turun lebih dulu. Dia mengulurkan tangannya untuk membantu wanitanya turun. Nara meraih tangan Kenzie kemudian keluar dari mobil. Kenzie menutup pintu mobil lalu berjalan memasuki pekarangan rumah Jojo sambil menggandeng tangan Nara.


Septa memilih menunggu di mobil sampai sang bos menyelesaikan urusannya dengan calon istrinya. Tangannya kemudian meraih ponselnya yang bergetar. Septa tersenyum ketika melihat sebuah pesan masuk dari sang istri. Tapi kemudian senyumnya berubah menjadi geraman ketika melihat foto yang dikirimkan. Istrinya nampak tengah berbaring di kasur mengenakan lingerie tipis. Seketika Septa merasakan celananya sesak.


Kenzie berhenti di depan pintu besar. Nara menggeser posisinya hingga berhadapan dengan pujaan hatinya. Kenzie membawa tangan Nara ke dekat mulutnya kemudian mengecup punggung tangan gadis itu.


“Istirahatlah.. aku harus melihat Nan di rumah sakit.”


“Apa Nan baik-baik aja.”


“Hmm.. mulai besok kamu tidak perlu ke kantor. Diam saja di rumah, persiapkan dirimu untuk pernikahan kita. Tiga hari lagi kita menikah.”

__ADS_1


“Bukannya pernikahan kita masih sepuluh hari lagi?” tanya Nara bingung.


“Aku memajukan tanggal pernikahan kita. Aku tak ingin kejadian seperti tadi terulang lagi. Aku harus membawamu ke sisiku secepatnya, supaya aku bisa menjagamu dengan baik.”


Nara menatap Kenzie dengan mata berkaca-kaca. Ternyata sebesar itu rasa cinta Kenzie untuknya. Nara mengalungkan tangannya ke leher Kenzie, lalu berjinjit dan mendaratkan ciuman di bibir Kenzie. Gadis itu mengakhiri ciumannya yang memang hanya menempelkan bibirnya saja. Wajahnya memerah, karena ini pertama kalinya dia mencium Kenzie lebih dulu.


Tangan Kenzie menelusup ke balik leher Nara. Dengan gerakan pelan dia menarik tengkuk gadis itu kemudian menyatukan bibirnya. Lidah Kenzie menerobos masuk melalui celah bibir Nara saat pria itu memagut bibirnya. Dengan lembut dia menyesap bibir Nara seraya memainkan lidah di rongga mulutnya.


Mata Nara terpejam menikmati permainan bibir Kenzie yang begitu memabukkan. Punggungnya sampai membentur pintu di belakangnya ketika ciuman Kenzie bertambah dalam dan menuntut. Nara sendiri sudah berani memasukkan lidahnya, mengikuti lum*tan Kenzie seperti gaya french kiss yang begitu terkenal.


Kegiatan berbagi saliva selesai, namun Kenzie masih memberikan sesapan-sesapan kecil di bibir Nara. Rasanya dia tak mau berhenti dan ingin terus merasakan bibir gadis itu yang terasa manis untuknya. Nara mendongakkan kepalanya ketika pertautan bibir mereka terlepas. Kenzie langsung mendaratkan bibirnya di leher jenjang Nara. Bukan hanya bibir, namun lidahnya juga sudah bermain di sana.


Kenzie menghentikan aksinya ketika mendengar des*han Nara. Itu seperti alarm yang menyuruhnya untuk berhenti. Tangannya kemudian merengkuh punggung Nara lalu memeluknya erat. Kedua tangannya mendekap erat punggung Nara dengan kepalanya berada di ceruk leher gadis itu.


“You drive me crazy (kamu membuatku gila),” bisik Kenzie di telinga Nara. Dekapan Kenzie mengendur, perlahan dia melepaskan pelukannya.


“Masuklah.”


Dengan posisi masih menghadap Kenzie, Nara meraih gagang pintu yang ada di belakangnya. Kenzie menganggukkan kepalanya, Nara membalikkan tubuhnya. Tapi belum juga tangannya menggerakkan handle pintu, gadis itu kembali berbalik lalu menghambur ke arah Kenzie. Sambil meloncat dia memeluk leher Kenzie kemudian memberikan lum*tan dalam sebentar.


“Can’t wait to be yours (tak sabar untuk menjadi milikmu),” bisik Nara.


Kenzie mengangkat tubuh Nara. Sebelah tangannya menahan pinggang gadis itu dan sebelahnya lagi digunakan untuk membuka pintu. Pelan-pelan dia menurunkan Nara di bagian dalam rumah.


“Just three days more. After that, you’ll be mine forever (hanya tiga hari lagi. setelah itu kamu jadi milikku selamanya).”


Kenzie mencium bibir Nara sekejap, kemudian pria itu menarik diri. Dia berjalan mundur lalu menutup pintu rumah. Nara menyandarkan punggungnya di pintu seraya memegangi dadanya yang berdebar kencang. Sudah dilupakannya kejadian menegangkan bersama Lucky. Berganti dengan kebahagiaan yang membuncah akibat ciuman Kenzie yang manis namun menggairahkan. Dadanya seakan hendak meledak merasakan semua ini.


“LOVE YOU MAS KEN!!” teriaknya senang.


Kenzie meng*lum senyum ketika telinganya masih bisa menangkap teriakan Nara dari dalam rumah. Pria itu segera kembali ke mobilnya. Septa langsung menaikkan resleting celananya ketika Kenzie masuk ke dalam mobil. Seketika itu juga panggilan videonya bersama sang istri terhenti.


“Kita ke rumah sakit.”


“Baik pak.”


“Bagaimana dengan Chika dan mamanya?”


“Dion sedang membawanya ke rumah sakit.”


“Bagus. Jalan..”


Septa menyalakan mesin mobil, tangannya memundurkan tuas kopling hingga ke bagian D3 lalu menekan pedal gas. Perlahan kendaraan tersebut melaju di bawah langit yang semakin menggelap.


☘️☘️☘️


Nina berdiri di depan jendela kaca besar, memandangi anak bungsunya yang terbaring di ruang ICU berkelas VIP. Beberapa peralatan medis menempel di tubuhnya. Airmatanya menetes melihat Kenan yang biasanya selalu berkicau, kini hanya diam dan memejamkan matanya.


Abi mendekat kemudian memeluk bahu istrinya. Nina membenamkan wajahnya ke dada sang suami. Tangisnya pecah seketika. Hati ibu mana yang kuat melihat anak yang disayanginya terbaring lemah tak berdaya. Tadi Revan menghubunginya dan mengatakan Kenan dilarikan ke rumah sakit setelah sekelompok preman memukulinya. Ravin dan Barra meminta maaf karena terlambat datang untuk menolong adik dari sahabatnya itu.


“Mas.. Nan akan sembuh kan?”


“Nan anak yang kuat , dia pasti baik-baik saja.”


Pria itu memejamkan matanya. Melihat istrinya menangis membuat hatinya kesal. Setelah sekian lama, dia kembali melihat sang istri menangis sedih seperti ini. Abi mengeratkan pelukannya di bahu Nina kemudian membawa wanita itu keluar dari ruang ICU.


Di ruang tunggu, nampak Ravin dan Barra duduk menunggu. Ravin, Haikal dan Viren juga ada di sana. Juna, Cakra, Kevin dan Jojo dengan setia menemani Abi sambil menunggu kabar tentang Kenan.


Freya yang baru mendengar soal adiknya tiba di rumah sakit bersama dengan Hanna dan Anfa juga Azra. Sambil berlari dia menghambur ke arah sang mama.


“Ma.. Nan gimana ma?”


“Adikmu masih belum sadar.”


“Kenapa bisa begini? Siapa yang sudah memukuli Nan?”


Tangis Freya pecah. Ravin hanya mampu terdiam memandangi calon istrinya terisak. Pria itu memandangi wajah Freya yang bersimbah airmata dengan perasaan bersalah. Nina menarik Freya dalam pelukannya. Untuk sesaat ibu dan anak itu berpelukan sambil menangis.


Dari arah lift, nampak Dion, salah satu anak buah Dendi berjalan mendekati Abi. Dia membawa serta Astri serta Chika bersamanya. Seperti yang Lucky katakan sebelumnya, dalang sebenarnya dari pengeroyokan Kenan adalah mereka. Nina menguraikan pelukannya saat melihat kedatangan Dion. Dia sendiri sudah mendengar kalau kedua orang itu dibalik kejadian yang menimpa sang anak. Dengan kasar Nina mengusap airmatanya lalu mendekati Astri.


“Pak Abi.. ada apa saya dan anak saya dipaksa kemari?” tanya Astri tanpa merasa bersalah sama sekali. Nina yang sudah ada di dekat Astri tanpa banyak bertanya langsung melampiaskan kemarahannya.


PLAK!!


PLAK!!


☘️☘️☘️


Sokoooorrrr🤭

__ADS_1


Kalau part kemarin bikin tegang, part tadi pagi bikin senyum². Nah kalau yang sekarang bikin apa???


Jangan lupa komen yang banyak lagi ya biar hatiku gembira seperti dapet hadiah boneka dari India🤭🤣🤣🤣


__ADS_2