KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Ketakutan Cakra


__ADS_3

Kediaman Cakra yang biasanya sepi, di Minggu pagi ini ramai oleh kunjungan keluarga Hikmat. Sejak semua anaknya menikah, Rahma memang mewajibkan setiap minggu semua anggota keluarga berkumpul untuk menikmati sarapan bersama. Acara mingguan ini selalu berpindah tempat, mulai dari rumah utama, kediaman Juna, Abi dan kini giliran Sekar.


Selain acara rutin kumpul bersama, Rahma juga berniat membicarakan acara tujuh bulanan yang akan diadakan. Sekarang usia kehamilan Sekar sudah memasuki bulan ke tujuh. Wanita itu berencana mengadakan pengajian sekaligus syukuran dan juga baby shower untuk putri tercinta.


Rahma dibantu Nadia, Rayi dan bi Parmi, tengah sibuk menyiapkan sarapan yang sedianya akan diadakan di halaman belakang. Nina masih menyusui Kenzie, jadi tak bisa membantu mertuanya. Para pria duduk menunggu di teras depan sambil berbincang.


Cakra bangun dari duduknya kemudian berjalan menuju kamarnya. Sudah hampir sejam berlalu, namun sang istri masih belum keluar dari kamar sejak berpamitan untuk mandi. Sekar keluar dari kamar mandi bertepatan dengan Cakra yang masuk ke dalam kamar. Pria itu terkejut melihat wajah pucat sang istri.


“Sayang.. kamu kenapa? Muka kamu pucat gini.”


“Bang.. perutku sakit, dari shubuh aku terus keluar flek.”


“Ya Allah, kenapa baru bilang sekarang. Ayo kita ke rumah sakit.”


Sekar mengangguk pelan. Sejak semalam, dia sudah tak enak tidur. Saat bangun, flek terus keluar dari bagian intinya. Tubuhnya pun terasa lemas. Perlahan, Cakra membimbing istrinya keluar dari kamar. Namun belum sempat mencapai pintu, tubuh Sekar jatuh terkulai. Dengan sigap Cakra menangkap tubuh sang istri.


“Mama!! Mama!!”


Cakra berteriak kencang saat Sekar jatuh pingsan. Dia membopong tubuh istrinya kemudian bergegas keluar kamar. Rahma terkejut mendengar teriakan Cakra. Baru saja dia hendak menghampiri, terlihat Cakra tengah membopong anaknya.


“Sekar kenapa Cak?”


“Ngga tau ma, dia tiba-tiba pingsan. Katanya dari shubuh keluar flek.”


“Bawa ke rumah sakit.”


Anfa segera berlari keluar rumah untuk menyiapkan kendaraan. Juna membukakan pintu bagian belakang. Perlahan Cakra memasukkan Sekar ke jok belakang kemudian menyusul naik. Anfa segera tancap gas menuju rumah sakit. Di belakangnya, berturut-turut kendaraan Teddy, Juna dan Abi menyusul pergi.


“Mas.. kenapa kita pulang?” tanya Nina begitu kendaraan yang ditumpanginya memasuki kompleks perumahan.


“Kamu tunggu di rumah aja. Ngga mungkin kan Kenzie ikut ke rumah sakit.”


“Tapi aku cemas sama keadaan Sekar.”


“Kamu tunggu di rumah. Mas akan terus kabari kamu, okay?”


Mau tak mau Nina menganggukkan kepalanya. Memang tak mungkin membawa Kenzie ke rumah sakit. Abi menghentikan kendaraan di depan rumah. Dia mencium kening dan bibir Nina juga mencium pipi Kenzie sebelum keduanya turun dari mobil. Nina berdiri di depan rumah, memandangi mobil suaminya yang kembali melaju.


Abi memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Hatinya cemas memikirkan kondisi adik tersayangnya. Beberapa kali pria itu membunyikan klakson mobilnya saat kendaraan di depannya menghambat atau menghalagi jalannya. Sepuluh menit kemudian, dia sampai di rumah sakit.


Setengah berlari Abi masuk ke gedung rumah sakit. Anfa mengabarkan kalau Sekar akan segera menjalani operasi. Pria itu bergegas menuju lantai tiga, tempat di mana ruang operasi berada. Di depan ruang tunggu terlihat anggota keluarganya berkumpul.


“Ma.. gimana keadaan Sekar?”


“Sekar harus segera dioperasi. Dia mengalami plasenta previa.”


“Kok bisa? Bukannya pas terakhir periksa, kandungannya baik-baik aja?” Abi melihat ke arah Cakra yang nampak kacau. Pria itu hanya menggeleng lemah.


“Kata dokter tadi, posisi bayi sungsang.”


Abi cukup terkejut mendengarnya. Dia mendudukkan diri di samping sahabat sekaligus adik iparnya. Dirangkulnya bahu Cakra, mencoba memberikan kekuatan pada pria di sampingnya ini.


Detik demi detik waktu terus berlalu. Tak terasa sudah lima puluh menit lamanya mereka menunggu di ruang operasi, namun belum ada tanda-tanda operasi akan berakhir. Lima menit berselang, lampu tanda operasi padam yang artinya operasi sudah berakhir. Semua anggota keluarga menunggu dengan cemas hasil operasi.


Dokter Santi keluar diikuti seorang suster yang tengah membawa bayi Cakra. Pria itu segera mendekat untuk menanyakan kondisi sang istri juga melihat anaknya. Dokter Santi memerintahkan suster untuk segera membawa sang bayi ke ruang perawatan khusus.


“Anak saya mau dibawa kemana dok?”


“Karena anak bapak lahir sebelum waktunya, maka perlu perawatan khusus, anak bapak akan dirawat di NICU. Untuk sementara akan kami tempatkan di inkubator.”


“Lalu istri saya?”


“Alhamdulillah, ibu dan bayinya bisa melewati semua. Tapi kondisi bu Sekar masih belum membaik, tadi dia banyak kehilangan darah. Sebentar lagi kami akan memindahkan bu Sekar ke ruang ICU.”


Tubuh Cakra limbung begitu mendengar penjelasan sang dokter. Abi menahan tubuh sahabatnya. Tak lama pintu terbuka kembali, dua orang suster mendorong blankar yang membawa tubuh Sekar. Dengan cepat Cakra mengikuti blankar tersebut.


☘️☘️☘️


Dari balik kaca, Cakra memandangi anaknya yang tertidur di dalam inkubator. Tidak perlu ditanya bagaimana perasaannya saat ini. Dua orang yang begitu disayanginya terbaring lemah di ruang perawatan khusus. Hari yang ditunggu bersama sang istri tak disangka datang lebih cepat dan dengan cara yang tak terduga. Pria itu mengusap airmata yang menggenang di sudut matanya.


Yang membuat hatinya bertambah miris, sampai saat ini Sekar masih belum sadar. Dokter mengatakan Sekar mengalami koma akibat pendarahan hebat saat operasi tadi. Perlahan tubuh Cakra luruh ke bawah, lelaki itu berjongkok dengan tangan menumpu pada dinding. Tangisnya pecah juga, sekuat dirinya berusaha, namun kesedihan yang dirasakannya terlalu besar.


Abi menghampiri Cakra kemudian membantu pria itu berdiri. Dia membawa Cakra keluar dari area NICU lalu mendudukkannya di kursi tunggu. Sahabatnya ini terlihat begitu rapuh. Dibiarkannya Cakra menangis, mengeluarkan kesedihan yang memenuhi hatinya. Tak lama Juna datang bergabung kemudian duduk di sisi adik iparnya itu.


“Cak.. kamu harus kuat, demi Sekar juga anakmu,” nasehat Juna.


“Aku takut kak.. aku takut Sekar meninggalkanku.”


“Jangan bicara seperti itu Cak. Yakinlah kalau Sekar akan baik-baik saja. Jangan lupa untuk terus berdoa.”

__ADS_1


Cakra menundukkan kepalanya, airmata terus bercucuran dari kedua matanya. Ketakutan kehilangan Sekar begitu kuat menderanya. Ingatannya kembali pada saat dirinya kehilangan kedua orang tuanya dahulu. Jika sampai Sekar meninggalkannya juga, entah apakah dirinya bisa bertahan.


Jojo yang mendengar perihal Sekar segera menuju rumah sakit. Begitu pula dengan Kevin. Kedua pria itu menghampiri Cakra yang masih duduk terdiam. Jojo berjongkok di depan Cakra.


“Cak.. sorry gue baru dateng. Gimana Sekar?”


“Sekar masih di ruang ICU, dia koma. Anaknya di NICU,” jawab Abi.


Rindu menutup mulut dengan tangannya, menahan tangis yang keluar begitu mendengar kondisi sahabatnya. Kevin menarik Rindu ke dalam pelukannya. Punggung wanita hamil itu tampak bergetar saat tangisnya pecah dalam dekapan sang suami.


“Cak.. lo harus kuat. In Syaa Allah, Sekar akan baik-baik aja. Lo harus kuat, lo harus bisa kasih kekuatan buat Sekar.”


Jojo menepuk pundak sahabatnya itu. Cakra hanya menganggukkan kepalanya saja. beberapa kali dia menarik nafas panjang, untuk menenangkan perasaannya. Kemudian dia berdiri dan berjalan menuju ruang ICU, tempat di mana sang istri dirawat. Semoga saja dokter sudah mengijinkannya untuk menjenguk Sekar.


Sekar dirawat di ruang ICU VIP, ruangannya terpisah dari ruang ICU biasa. Ruangan ICU VIP hanya merawat satu orang pasien saja. Walau VIP, bukan berarti pihak keluarga bisa leluasa untuk menjenguk. Mereka tetap harus mematuhi aturan kapan waktu untuk bisa menjenguk pasien.


Cakra menghampiri suster yang bertugas mengawasi sang istri. Dia kembali meminta ijin untuk menemui istrinya. Suster tersebut segera menghubungi dokter Santi untuk menanyakan apakah pasien sudah bisa dijenguk. Cakra menunggu dengan cemas.


“Bagaimana sus?”


“Boleh pak, tapi ngga lama ya. Tolong katakan hal-hal yang baik saja pada pasien. Walau dalam keadaan koma, namun alam bawah sadarnya masih bisa menangkap apa yang bapak bicarakan.”


“Iya sus.”


Suster itu berdiri, kemudian memberikan perlengkapan yang harus dikenakan Cakra saat masuk ke ruang ICU. Setelah tubuhnya terbungkus baju steril, Cakra memasang masker ke wajahnya, lalu masuk ke dalam ruang ICU.


Hatinya berdenyut nyeri melihat sang istri yang terbaring lemah di atas bed. Beberapa alat terpasang di tubuhnya. Cakra berjalan mendekat lalu menarik sebuah kursi lebih dekat dengan bed.


“Se.. sayang... kamu berhasil sayang. Anak kita sudah lahir dengan selamat. Terima kasih atas perjuanganmu. Aku mohon Se... bangun sayang.. anak kita membutuhkanmu. Aku juga membutuhkanmu. Aku ngga bisa hidup tanpamu sayang.”


Cakra menggenggam tangan Sekar. Dia menengadahkan kepalanya untuk menahan airmata yang hendak meluncur. Tak ada reaksi dari Sekar, saat suaminya mengusap punggung tangannya pelan.


☘️☘️☘️


Seminggu sudah Sekar terbaring di ruang ICU. Setiap harinya Gurit dan Radix selalu datang mengunjungi sahabatnya. Sedang Rindu dilarang Kevin untuk datang, pria itu khawatir istrinya stress melihat sahabat karibnya belum juga terbangun dari komanya.


Bayi Cakra dan Sekar sendiri sudah menunjukkan kemajuan. Walau hanya mengkonsumsi susu formula yang disalurkan melalui selang, namun berat badannya mulai bertambah. Kondisi sang anak mampu menghibur papanya yang masih menunggu wanita tercintanya sadar.


“Cak.. kamu sudah memberi anakmu nama?” tanya Rahma ketika Cakra keluar dari ruang NICU.


“Belum ma. Aku mau nunggu Sekar sadar dulu.”


“Cak..”


Rahma hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Hatinya tentu saja menginginkan sang putri terbangun dari komanya, namun dia pun pasrah mengikuti skenario yang telah Tuhan tuliskan untuknya. Rahma memeluk Cakra, tangannya menepuk-nepuk punggung menantunya ini.


“Mudah-mudahan Cak... teruslah berdoa untuknya.”


“Iya ma.”


“Bang..”


Cakra melepaskan diri dari pelukan Rahma ketika mendengar Radix memanggilnya. Diusapnya kasar matanya yang berembun. Nampak sabahat istrinya itu datang dengan nafas tersengal.


“Ada apa?”


“Sekar bang..”


“Sekar kenapa?” tanya Cakra panik.


“Sekar udah sadar bang.”


Cakra tergugu mendengar ucapan Radix. Untuk sesaat pria itu hanya terdiam mencerna kata-kata Radix. Terdengar suara Rahma mengucapkan hamdalah, kemudian wanita itu bergegas menuju ruang ICU. Radix yang gemas melihat Cakra hanya terbengong, mengguncang bahu pria itu.


“Bang... Sekar udah sadar.. bang..”


Cakra tersadar dari lamunannya, kemudian secepat kilat berlari menuju ruangan ICU. Radix pun ikut berlari di belakangnya. Di depan ruang ICU, semua keluarga sudah menunggu. Mereka mempersilahkan Cakra yang lebih dulu masuk menjenguk sang istri.


Dengan dada berdebar, pria itu memakai pakaian sterilnya kemudian masuk ke ruang perawatan intensif sang istri. Nampak Sekar masih diperiksa keadaannya oleh dokter Santi. Cakra berjalan menghampiri bed. Sekar tersenyum samar melihat kedatangan suaminya.


“Bagaimana keadaan istri saya dok?”


“Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja. Hanya tinggal pemulihan.”


“Alhamdulillah,” Cakra mengusap wajah dengan kedua tangannya.


“Sebentar lagi bu Sekar akan dipindahkan ke ruang inap. Saya tinggal dulu ya pak.”


Cakra menganggukkan kepalanya. Dokter wanita itu berlalu, meninggalkan sepasang suami istri itu untuk melepas rindu. Cakra mendekati bed kemudian memeluk tubuh sang istri. Beberapa kali ciuman mendarat di puncak kepala Sekar.

__ADS_1


“Terima kasih sayang.. terima kasih..”


“Anak kita mana bang?”


“Ada di ruang NICU.”


“Dia baik-baik aja kan bang?”


“Alhamdulillah. Dia hanya perlu dirawat di inkubator sampai berat badannya normal.”


Sekar menganggukkan kepalanya, perasaannya lega mengetahui buah hatinya dalam keadaan baik-baik saja. Cakra menundukkan tubuhnya sedikit agar wajahnya bisa sejajar dengan sang istri.


“Terima kasih sayang sudah kembali. Jangan membuatku takut lagi.”


“Iya bang, maaf sudah membuatmu cemas. Terima kasih juga abang terus menjengukku dan menyemangatiku.”


“Karena aku mencintaimu dan membutuhkanmu sayang.”


“Aku juga mencintaimu.”


Cakra kembali memeluk Sekar seraya mendaratkan ciuman di puncak kepalanya. Hatinya tak henti mengucapkan syukur pada sang Maha Kuasa telah memberinya kesempatan untuk berkumpul kembali bersama istri tercinta.


☘️☘️☘️


Cakra memandangi anaknya yang tidur pulas dalam gendongan Sekar. Dokter sudah memperbolehkan anaknya keluar dari NICU. Dokter wanita itu menyarankan Sekar untuk menggendong anaknya seperti kangguru untuk memberikan kehangatan, menggantikan mesin inkubator. Hal ini untuk mengikat kembali kontak ibu dan anak yang sempat terputus setelah Sekar sempat mengalami koma. Dia juga sudah mulai memberi asi pada anaknya.


Bukan hanya Cakra, seluruh keluarga Hikmat juga tak lepas memandangi ibu baru itu yang tengah menggendong anaknya. Mereka bahagia melihat Sekar sudah terbangun dari komanya. Dua hari setelah Sekar terbangun, semua keluarga Hikmat selalu berkumpul di rumah sakit, minus Nina. Abi tidak mengijinkan istrinya itu ke rumah sakit karena harus menjaga Kenzie. Namun dia selalu melakukan video call agar sang istri bisa melepas rindu dengan adiknya.


“Cak.. nama anakmu siapa?” untuk kedua kalinya Rahma menanyakan nama sang cucu.


“Tau lo, nama anak belum dilaunching juga. Masa kita manggilnya de.. de.. doang,” celetuk Abi.


“Mau tau aja apa mau tau banget?” Cakra malah balik bertanya.


“Wah minta digaplok nih ma,” sungut Abi.


Cakra terkekeh melihat kekesalan sahabatnya itu. Namun kekehannya berganti ringisan ketika Rahma menjewer telinganya. Sekar terkikik melihat suaminya mendapat jeweran maut dari mamanya. Cakra mengusap telinganya yang terasa panas setelah Rahma melepas jewerannya.


“Siapa namanya Cak?” kali ini Teddy yang bertanya.


“Namanya Muhammad Atalaric Dunia,” bangga Cakra.


“Kirain Muhammad Ujang Dunia,” celetuk Juna sambil terkekeh.


“Terus panggilannya apa? Masa Tal.. Tal.. gitu, ngga enak banget,” seru Abi.


“Aric bego,” kesal Cakra.


Gelak tawa langsung terdengar melihat kekesalan Cakra. Sekar pun tak bisa menahan tawanya. Hampir saja Aric terbangun dari tidurnya karena pergerakan wanita itu. Dia mengusap puncak kepala sang anak untuk menidurkannya kembali.


“Bobo lagi ya Aric sayang..” ucap Sekar pelan.


☘️☘️☘️


**Selamat ya Sekar, Cakra buat kelahiran baby Aric. Semoga jadi anak yang soleh ya🤗


Buat yang nanya kapan Nadia dan Adinda hamil, sabaaaarrr. Mamake udah kaya penganten baru yang ditanyain mertua kapan hamil🤦


Semua akan ada waktunya, ikuti aja alurnya oke👌


Bagi yang merasa jenuh dengan cerita ini dan segera ingin ada cerita baru, mohon maaf, mamake masih akan meneruskan cerita ini sampai benar² selesai. Jika masih ingin mengikuti, Alhamdulillah. Kalau tidak, mamake tidak akan memaksa. Hanya saja mohon untuk tidak meninggalkan komen yang akan membuat mood ambyar, karena mood adalah salah satu modal utama dalam menulis novel🙏


Kemarin ada yang mau lihat lagi visualnya para tokoh di novel ini. Nih mamake kasih lagi.


Abi & Nina**



Juna & Nadia



Cakra & Sekar



Kevin & Rindu


__ADS_1


Jojo & Adinda



__ADS_2