KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Bonchap : Family is Everything


__ADS_3

Abi bergegas masuk ke dalam rumah. Tujuan pertamanya adalah kamar miliknya. Dengan gerakan pelan dia membuka pintu lalu masuk ke dalamnya. Dilihatnya sang istri tengah berdiri termenung di teras kamar. Perlahan Abi mendekat lalu memeluk bahu sang istri dari belakang.


“Mas..” tanpa melihat, Nina sudah tahu orang yang tengah memeluknya adalah suami yang selama ini dirindukannya.


“I miss you,” bisik Abi di telinga Nina.


Dengan cepat Nina membalikkan tubuhnya. Dengan mata berkaca-kaca dia menatap wajah sang suami yang selama ini selalu hadir dalam mimpinya. Tangannya meraba rahang Abi yang ditumbuhi brewok cukup lebat.


“Mas.. ini benar kamu. Aku ngga sedang mimpi kan?”


Tangan Abi merengkuh Nina ke dalam pelukannya. Tangis Nina pecah seketika, pelukannya di leher Abi semakin erat. Wanita itu menumpahkan kerinduannya yang mendalam lewat airmata yang mengalir deras dari kedua matanya.


Abi mengurai pelukannya. Jarinya mengusap buliran bening yang terus saja mengalir dari mata indah istrinya. Kemudian tangannya meraih tengkuk Nina, sebuah ciuman diberikan di bibir yang begitu dirindukannya. Airmatanya mengalir ketika matanya menutup di sela-sela ciumannya. Abi mengakhiri ciumannya lalu menyatukan kening mereka.


“Kalian baik-baik aja?”


“Kami baik-baik aja? Terima kasih sudah kembali untuk kami. Aku tahu pasti berat untukmu berjuang untuk hidup dan kembali pada kami.”


“Terima kasih sudah memberikanku kekuatan lewat doa-doamu juga anak-anak.”


“Anak-anak tak pernah berhenti mendoakanmu. Sekarang Nan sudah tidak susah lagi dibangunkan shalat shubuh. Dia juga sudah mulai shalat tahajud. Hanya namamu yang dipanjatkan dalam setiap doanya.”


Abi kembali memeluk Nina, tangan kekarnya memeluk erat punggung istri tercinta. Dibenamkan wajahnya di ceruk leher Nina. Menghirup aroma tubuh wanita yang begitu dirindukannya.


“Ayo kita temui anak-anak, mas. Mereka pasti senang bertemu denganmu.”


Abi melepaskan pelukannya. Nina mengusap airmata di wajah suaminya. Kemudian sambil bergandengan tangan, keduanya naik ke lantai atas. Nina mengetuk pintu kamar Freya, terdengar suara gadis itu dari dalam kamar. Abi membuka pintu kemudian masuk ke dalam. Nampak sang putri tengah duduk melamun di depan meja belajarnya.


“Frey,” panggil Nina.


“Iya ma,” jawab Freya tanpa menoleh ke arah sang mama.


“Ada yang mau bertemu denganmu.”


“Siapa ma?”


Freya menolehkan kepalanya. Mata gadis itu membelalak melihat Abi berdiri di samping Nina. Secepat kilat Freya bangun lalu menghambur ke arah Abi.


“Papa...”


Abi berdiri dengan kedua lututnya untuk menyambut sang anak yang berlari ke arahnya. Freya langsung memeluk Abi, tangisnya seketika pecah. Ayah yang begitu dirindukannya, yang selalu disebut dalam setiap doanya, akhirnya kembali pulang. Abi memeluk erat punggung Freya, anak gadisnya yang tahun ini genap berusia 15 tahun. Matanya kembali membasah mendengar isak tangis putrinya.


“Papa jangan pergi lagi. Frey takut ngga bisa ketemu papa lagi. Frey kangen sama papa. Love you papa.”


“Love you too sweetheart. Miss you a lot.”


Abi mengurai pelukannya lalu menciumi wajah anaknya. Nina mengusap airmatanya, akhirnya Tuhan membawa kembali kebahagiaan keluarga ini. Abi menghapus airmata Freya. Masih terdengar isak gadis itu.


“Are you okay? Kenapa kamu keliatan kurus sayang?”


“Semenjak mas hilang, Frey lebih banyak mengurung diri di kamar. Dia juga sering melewatkan jam makan,” jawab Nina.


“Maafin papa. Maaf karena sudah membuatmu bersedih, maaf papa pergi terlalu lama.”


“Frey selalu doain papa supaya cepat pulang,” ujar Freya di sela-sela isaknya.


“Iya sayang, papa percaya. Doa kamu sampai ke papa. Papa bisa kembali karena doa yang kamu panjatkan.”


“Papa ngga akan pergi lagi kan?”


“Ngga sayang. Papa akan berada di sini bersama kamu, bang Ken, Nan dan juga mama.”


Abi menghapus sisa-sisa airmata di wajah Freya kemudian merapihkan rambut panjangnya yang sedikit berantakan. Abi bangun kemudian sambil menggandeng tangan Freya, dia menuju kamar Kenan. Setelah mengetuk, Nina membuka pintu kamar. Ketiganya tertegun ketika melihat Kenan tengah mengaji.


“Shodaqallahuladziim..” Kenan mengakhiri tadarusnya kemudian mengangkat kedua tangannya.


“Ya Allah, Nan janji akan jadi anak yang lebih baik, nurut sama mama dan papa. Nan juga ngga akan bolong-bolong lagi shalatnya, rajin tadarusnya, Nan akan berusaha jadi anak soleh yang selalu papa dan mama inginkan. Nan mohon selamatkan papa dan kembalikan papa. Nan kangen papa, Nan belum melakukan apa-apa yang buat papa bangga. Tolong kabulkan permintaan Nan, ya Allah. Berikan kesempatan untuk Nan membuat papa bangga, aamiin yaa rabbal’alaamiin.”


Nan mengusap wajah dengan kedua tangannya. Anak itu kemudian berdiri, melipat sajadahnya lalu meletakkan Al-Qur’an ke atas meja serta melepas kopeah yang melekat di kepalanya.


“Papa bangga padamu, Nan.”


Nan terkejut mendengar suara yang begitu dikenalnya. Dengan cepat dia berbalik. Matanya membelalak melihat Abi ada di hadapannya. Untuk sesaat anak itu masih terpaku di tempatnya.


“You don’t wanna hug me, boy?”


Abi menekuk lututnya dan menjadikan tumpuan untuknya berdiri. Nan segera menghambur ke arahnya. Dengan erat dia memeluk punggung kokoh sang papa yang begitu dirindukannya. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, hanya isak tangis saja yang terdengar.


“Kata mama kamu sudah tidak susah dibangunkan shalat shubuh lagi,” Kenan menganggukkan kepalanya.


“Kamu juga sudah mulai shalat tahajud,” lagi Kenan menganggukkan kepalanya.


“Kamu juga mendoakan papa setiap habis shalat,” kepala Kenan kembali mengangguk.


“Terima kasih Nan. Karena doamu, papa bisa kembali pulang. Papa sayang kamu, tanpa kamu melakukan apapun, papa sudah bangga padamu.”


“Nan kangen papa,” akhirnya terdengar juga suara Kenan di sela-sela isaknya.


“Papa juga, papa kangen kamu.”


Abi mengeratkan pelukannya di tubuh Kenan. Tangan Kenan terus melingkari punggung papanya. Perlahan Abi mengurai pelukannya lalu mengusap airmata di wajah anaknya. Dia berdiri lalu merangkul bahu Kenan. Anak bungsunya kini sudah setinggi bahunya.


“Papa baik-baik aja kan?”


“Alhamdulillah papa baik.”


“Mama nangis terus waktu papa ngga ada.”


Abi melihat pada Nina, kemudian meraih tengkuk wanita itu dan mendaratkan ciuman di keningnya. Kenan beringsut mendekat pada Freya yang juga masih dalam keadaan terharu karena kepulangan sang papa. Kemudian secepat kilat Kenan menarik pakaian Freya, dan


SRIING!!


Kenan mengeluarkan cairan kental dari hidungnya lalu mengelapnya dengan pakaian Freya. Tentu saja gadis tersebut terkejut, dengan jijik dia melihat ke lengan bajunya. Wajahnya yang tadi sendu, perlahan mulai berubah.


“NAN!!!!”


Kenan malah tergelak melihat kekesalan sang kakak. Secepat kilat dia berlari keluar dari kamar. Freya refleks mengejar adiknya itu. Dan adegan kejar mengejar layaknya Tom and Jerry mulai terjadi. Nina dan Abi tergelak melihatnya.


“Terima kasih mas sudah kembali. Aku merindukan momen-momen seperti ini.”


“Iya sayang. Mas juga senang,” Abi mengecup bibir Nina.


“Ken mana?”


“Di rumah pohon. Akhir-akhir ini dia lebih senang menghabiskan waktunya di sana. Walau dia berusaha kuat, tapi aku tahu mas, dia terpukul saat mas menghilang. Aku tahu dia begitu merindukanmu.”

__ADS_1


“Aku lihat Ken, dulu.”


“Hmm.. take your time.”


Nina mengusap punggung suaminya. Abi beranjak keluar dari kamar Kenan. Dengan cepat dia menuruni anak tangga lalu melangkah menuju taman belakang. Sejenak dia terdiam memandangi rumah pohon yang dibangunnya beberapa tahun silam. Teringat dirinya juga Kenzie sering menghabiskan waktu bersama di sana. Perlahan kakinya mulai menaiki tangga yang berbentuk spiral tersebut.



Sementara itu di dalam rumah pohon, nampak Kenzie tengah tiduran dengan posisi meringkuk. Matanya terus memandangi layar ponsel yang tengah dipegangnya. Jarinya bergerak mengusap wajah Abi yang terpampang di layar. Seperti yang Nina katakan, Kenzie yang tenang dan terlihat kuat, jauh di dalam lubuk hatinya, pemuda itu menyimpan kesedihannya sendiri. Namun demi menjalankan tanggung jawab yang sudah dibebankan padanya, Kenzie berusaha untuk tetap kuat.


Pemuda itu melakukan semua yang diajarkan sang papa padanya. Bahkan dia berhasil menarik investor utama untuk proyek besar mereka. Tak pelak Kenzie mendapat banyak pujian dari para pemegang saham, dewan direksi dan juga para karyawan. Namun itu semua tak berarti apapun untuknya. Yang diinginkannya saat ini adalah bertemu dengan Abi mendengar sendiri dari mulutnya kalau pria itu bangga padanya.


“Papa..” lirihnya. Perlahan buliran bening mengalir dari kedua sudut matanya.


Abi sampi di atas. Matanya menangkap sang anak yang tengah berbaring dengan posisi membelakanginya. Baru saja dia hendak memanggil nama putra sulungnya, ketika terdengar suara Kenzie.


“You promised me pap, you won’t leaved me. Please come back. (papa sudah janji tidak akan meninggalkanku. Tolong kembali). Aku sudah melakukan semua yang papa katakan. Menjaga mama, Frey dan Nan. Aku juga menggantikan papa di kantor. Aku bahkan bisa membujuk Mr. Sander untuk berinvestasi. Aku sudah melakukan semua yang papa katakan. Bisakah papa kembali? Aku kangen papa.”


“Papa juga kangen kamu.”


Kenzie terlonjak dari tidurnya begitu mendengar suara Abi dari arah belakangnya. Dengan cepat dia bangun lalu membalikkan tubuhnya. Setengah tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Kenzie berjalan menghampiri Abi.


“Pa..pa..”


“Iya nak, ini papa. I’m back.”


“Papa..”


Kenzie menghambur ke arah Abi. Pemuda itu menabrakkan tubuhnya dan memeluk sang papa dengan erat. Airmatanya semakin deras keluar dari kedua matanya. Abi membiarkan sang anak menangis, mengeluarkan semua kesedihan dan beban yang menghimpit dadanya.


“Maafkan papa. Apa papa terlalu membebanimu?” Kenzie hanya menggelengkan kepalanya.


“No.. I just miss you. And I need you. Don’t leave me again, pap (Ngga. Aku hanya merindukanmu. Dan membutuhkanmu. Jangan tinggalkan aku lagi, pa).”


Abi mengeratkan pelukannya. Dirinya pun tak kuasa menahan airmata yang sedari tadi menggantung di pelupuk matanya. Ayah dan anak itu berpelukan erat untuk beberapa saat. Setelah Kenzie sedikit tenang, Abi mengurai pelukannya.


“Terima kasih Ken, kamu sudah menjaga mama, Frey dan Nan dengan baik. Kamu juga menggantikan tugas papa di kantor dengan baik. Papa bangga sama kamu, sangat bangga,” Abi menepuk pelan rahang Kenzie.


“Aku juga bangga jadi anak papa. You’re the best father I ever had (kamu adalah papa terbaik yang kumiliki).”


Abi menghapus airmata di wajah sang anak kemudian merangkul Kenzie, meremat pelan bahu sang anak. Hatinya sungguh bersyukur diberikan kesempatan kedua untuk hidup dan berkumpul kembali bersama keluarga yang dicintainya. Dia lalu mengajak Kenzie untuk turun.


Freya dan Kenan yang masih berkejaran langsung berhenti begitu melihat Abi dan Kenzie datang. Keduanya terpaku melihat mata merah Kenzie. Wajah sang kakak juga nampak sembab. Hal yang tak pernah mereka lihat selama ini. Freya segera menghampiri Kenzie.


“Abang... maafin Frey. Frey udah bikin abang sedih dan susah selama papa ngga ada. Frey janji, ngga akan cengeng lagi.”


Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Kenzie. Pemuda itu mendekati sang adik kemudian memeluknya. Tangan Freya melingkari pinggang kakak tercintanya. Kenan pun mendekati keduanya.


“Maafin Nan juga, bang. Harusnya Nan bantuin abang, bukan bikin abang tambah sedih.”


Kenzie melepaskan sebelah tangannya dari punggung Freya, kemudian menarik Kenan ke dalam pelukannya. Nina mendekat pada Abi kemudian memeluk pinggang sang suami dari samping. Hatinya bahagia melihat ketiga anaknya tumbuh akur dan saling menyayangi.


“Ok.. sedih-sedihnya udahan ya. Papa kan sudah kembali. Sekarang bantuin mama masak makanan spesial buat papa,” seru Nina.


Ketiga anaknya yang tengah berpelukan layaknya teletubbies segera mengurai pelukan begitu mendengar penuturan sang mama.


“Biar Frey, abang sama Nan aja yang masak.”


“Emangnya bisa?”


“Nan...” panggil Abi.


“Nan bener ma. Biar kita yang masak. Bayi besar mama perlu dimandiin kayanya.”


Abi melotot ke arah Kenzie yang mengeluarkan kata-kata dengan entengnya. Kemudian ketiga anaknya itu segera pergi ke dapur. Nina tersenyum melihat tingkah laku anak-anaknya. Dia lalu menarik tangan Abi. Seperti kata Kenzie, dia perlu memandikan suaminya.


Nina membawa suaminya masuk ke dalam kamar mandi. Dia mendudukkan Abi di atas kloset, sedang dirinya mengisi bath tub dan menyiapkan alat cukur. Nina memberikan busa di sekitar rahang sang suami.


“Siapa yang menolong mas?”


“Pak Tisna dan Lilis.”


“Masih muda?”


“Pak Tisna? Ya ngga lah. Udah enam puluh tahun.”


“Bukan pak Tisna, Lilis.”


“Ooh.. lumayan 28 tahun.”


“Cantik?”


“Hmm.. lumayan.”


“Pantes betah di sana,” gumam Nina pelan namun masih bisa tertangkap oleh telinga Abi. Dengan cepat Abi menarik Nina hingga duduk di pangkuannya.


“Kamu cemburu?”


“Ngga.”


“Tapi wajahmu mengatakan sebaliknya.”


Abi menjawil hidung sang istri. Nina bermaksud beranjak dari pangkuan suaminya, namun Abi langsung menahannya. Tangan kekarnya melingkari pinggang wanita yang begitu dicintainya.


“Jangan buang energimu dengan kecemburuan yang tak penting. Kamu dan anak-anak adalah alasanku bertahan hidup. Lilis dan bapaknya adalah orang yang dikirimkan Tuhan untuk menyelamatkanku dan membantuku bertemu dengan kalian lagi. Aku sangat mencintaimu, kamu tahu itu.”


“Aku tahu mas. Aku hanya takut kamu melupakanku dan anak-anak.”


“Tidak mungkin. Kalaupun aku kehilangan ingatan, aku akan berusaha mendapatkan ingatan itu kembali. Karena kalian hal paling berharga dalam hidupku.”


Senyuman Nina terbit mendengarnya. Perlahan dia mulai mencukur bulu-bulu di rahang suaminya. Mata Abi terus menatap wajah cantik sang istri yang hanya berjarak beberapa senti saja. Tangannya bergerak merapihkan rambut Nina kemudian menyelipkannya ke belakang telinga.


Acara cukur mencukur pun selesai. Nina beranjak untuk mengambil handuk kecil lalu mengelap sisa busa di wajah Abi. Kini penampilan Abi sudah lebih baik, bulu lebat yang tadi memenuhi rahangnya kini sudah tak ada lagi. Nina hanya menyisakan sedikit bulu di sana.


“Selesai... gantengnya suamiku.”


Nina menangkup wajah Abi lalu mengecup bibirnya. Tangan Abi menahan tengkuk sang istri, bibirnya membalas kecupan Nina dengan lu**tan dalam. Nina melingkarkan kedua tangannya di leher Abi. Wanita itu melayani ciuman sang suami yang begitu dirindukannya.


“Ayo mandi dulu mas.”


“Bantu mas gosok punggung ya.”


“Ok.”


“Bajunya lepas, nanti basah.”

__ADS_1


“Modus.”


Abi hanya terkekeh. Tangannya menurunkan resleting dress Nina lalu melepaskannya dari tubuh sang istri. Kemudian bibirnya kembali menciumi leher dan dada Nina yang begitu menggodanya.


“Eeuughh.. mas ayo mandi dulu.”


“Bukain bajunya, mama.”


“Ish..”


Nina tergelak melihat sikap manja suaminya. Tangannya lalu bergerak melepaskan pakaian yang melekat di tubuh Abi satu per satu. Kemudian bayi besar itu masuk ke dalam bath tub yang sudah ditetesi sabun dan juga aroma therapy.


“Sini ma, masuk sini. Tapi dibuka dulu ya, biar ngga basah.”


Nina hanya meng*lum senyum saja. Dia melepaskan sisa-sisa kain yang melekat di tubuhnya lalu masuk ke dalam bath tub. Perlahan wanita itu mulai menggosok punggung suaminya.


☘️☘️☘️


Sambil bergandengan tangan, Nina dan Abi keluar dari kamar. Acara memandikan bayi besar memakan waktu lebih lama karena sang bayi minta dimanjakan lebih dulu. Keduanya melangkah menuju ruang makan. Di sana ketiga anaknya sudah menunggu.


“Lama banget sih mandinya,” protes Freya.


“Papa pasti main busa dulu tuh,” celetuk Kenan.


“Itu mah kamu waktu kecil. Mandinya belum, sabun mandinya udah habis sebotol,” jawab Nina yang hanya dibalas cengiran oleh Kenan.


“Terus papa mandinya lama, ngapain aja?” cecar Freya.


“Mainin mama,” sambar Kenzie.


Nina membelalakkan matanya mendengar jawaban frontal anak sulungnya. Tangan Abi bergerak cepat menjitak kepala Kenzie. Freya menulikan telinganya, dia buru-buru menuju dapur, sedang Kenan nampak berpikir keras arti jawaban sang kakak.


“Taraaa.. ayo kita mulai acara makan dengan menu appetizer buatan Frey.”


Freya datang dari arah dapur dengan nampan di tangannya. Dia meletakkan lima mangkok berisi salad sayur di depan lainnya. Kemudian gadis itu menarik kursi di samping Kenzie.


“Selamat makan.”


Semua yang ada di meja makan mulai menikmati salad sayuran yang disediakan Freya. Untung saja gadis itu pernah melihat bagaimana sang mama menyiapkan salad sayur.


“Berasa mbe gue makan ini,” celetuk Kenan.


“Berisik, tinggal makan doang. Lagian ini kan salad yang sering mama bikin.”


“Bedalah rasanya. Kalau bikinan mama saosnya enak. Nah ini cuma mayo doang.”


Dengan kesal Freya menjitak kepala adiknya ini. Abi tersenyum melihat tingkah keduanya. Momen seperti inilah yang dirindukannya saat dirinya terdampar dan jauh dari keluarga. Kenzie yang telah menghabiskan saladnya berdiri, kemudian menuju dapur. Dia memberi isyarat pada Kenan untuk membantunya.


Sambil membawa dua piring di tangannya Kenzie datang lalu meletakkan piring tersebut di depan Nina juga Abi. Lalu Kenan datang dengan dua piring, satu untuknya, satu lagi untuk Freya. Kenzie kembali ke dapur untuk mengambil piring terakhir lalu kembali duduk di tempatnya semula.


Freya memandangi nasi goreng buatan sang kakak. Secara visual, nasi goreng buatan Kenzie nampak lezat karena Kenzie menambahkan mix vegetables, potongan daun bawang, sosis dan suiran ayam di dalamnya. Pemuda itu juga meletakkan potongan tomat dan timun sebagai garnish dan melengkapinya dengan telor ceplok yang diletakkan di atas nasi goreng.


Kenan yang memang sudah lapar langsung menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Dia nampak terkejut saat lidahnya merasakan nasi goreng buatan Kenzie yang terlihat menggoda. Dengan cepat dia menelan makanannya kemudian meminum air putih demi mendorong makanan itu masuk.


“Sumpah bang, rasa makanan lo horor banget.”


Freya yang penasaran, segera mencoba nasi goreng di depannya. Hampir saja dia memuntahkan kembali makanan tersebut, buru-buru dia menyambar gelas air putih di sampingnya. Abi yang penasaran juga mencobanya. Susah payah pria itu menelan makanannya. Ternyata rasa makanan sang anak tak lebih baik darinya.


Nina hanya meng*lum senyum saja saat merasakan masakan Kenzie yang amburadul. Tak percaya dengan reaksi yang diberikan kedua orang tua dan adiknya, Kenzie pun menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


“Uhuk.. uhuk..”


Kenzie langsung terbatuk begitu nasi goreng masuk ke dalam mulutnya. Dia menyambar gelas di sampingnya lalu meneguknya sampai tandas. Kenan terkekeh melihat sang kakak juga tersiksa mencicipi masakan buatannya sendiri.


“Gila lo ya bang, papa baru pulang udah lo racunin aja,” celetuk Freya.


“Hahahaha...” Abi tak bisa menahan tawanya.


“Udah.. udah.. mending kita pesan makanan aja ya,” sela Nina.


“Ide bagus ma. Aku udah laper banget nih.”


“Kelamaan kalau pesan. Gimana kalau ke rumah ayah aja. Pasti bunda udah masak,” usul Freya.


“Nah iya bener. Ayo ma, pa.”


Kenan bangun dari duduknya lalu mengajak yang lain ke rumah Juna. Abi bangun dari duduknya lalu menarik Nina, keduanya kemudian menyusul langkah sang anak yang sudah lebih dulu pergi.


Kehebohan langsung terjadi di rumah Juna setelah mendapat invasi dadakan dari tetangganya. Nadia segera menghubungi Rayi, memintanya untuk membawa makanan tambahan ke rumahnya. Tentu saja dengan senang hati, Rayi dan Anfa datang bergabung bersama anak-anak mereka sambil membawa makanan tambahan.


Acara makan malam dadakan pun dimulai. Pembicaraan dan gelak tawa bersahutan memenuhi seantero rumah. Keadaan yang selama dua minggu ini diliputi kesunyian dan kesedihan, kini berganti dengan kebahagiaan dan keceriaan. Juna tak pernah jauh dari Abi sepanjang makan malam.


“Terima kasih, Bi, sudah kembali untuk kami.”


Juna merangkul bahu adiknya. Saat ini keduanya tengah menikmati angin malam di dekat kolam renang usai makan malam. Pantulan sinar bulan yang berpendar di area kolam membuat suasana semakin indah.


“Terima kasih juga kak untuk ngga menyerah mencari keberadaanku,” Abi balas merangkul Juna.


“Itu sudah kewajibanku sebagai kakak.”


“Maaf aku selalu menyusahkanmu. Dulu, juga sekarang.”


“Kamu tidak pernah menyusahkanku. Hanya saja tanpa kehadiranmu, hidupku tak lengkap rasanya.”


“Coba Sekar ke sini juga.”


“Ooh begitu ya. Kalian bermesraan tanpa kehadiranku.”


Juna dan Abi menoleh bersamaan. Di belakang mereka, Sekar sudah berdiri seraya bertolak pinggang. Nina tadi menghubungi dan memintanya datang. Dengan cepat Sekar menghampiri kemudian memeluk Abi.


“Kak Abi jangan buat aku khawatir lagi.”


“Maafin kakak, Se,” Abi menghapus airmata yang mengalir di pipi sang adik.


Juna mendekat lalu merangkul bahu Sekar. Kini Sekar berdiri di antara kakaknya. Kedua tangannya memeluk pinggang Juna dan Abi. Hatinya begitu bahagia, kakak yang disayanginya telah kembali ke tengah-tengah mereka.


“Ternyata begini rasanya diabaikan. Sakitnya tuh di sini,” Anfa menunjuk dadanya.


Juna menoleh ke arah Anfa yang berdiri tak jauh dari mereka. Tangannya melambai meminta pria itu mendekat. Dengan senyum di wajahnya Anfa mendekat, dia berdiri di samping Juna dan ikut merangkulnya. Kebahagiaan terpancar di wajah mereka dab berharap kedua orang tua mereka menyaksikan momen bahagia ini.


☘️☘️☘️


**Itu jahilnya Kenan nurun dari siapa ya🤔


Up hari ini 3100 kata loh. Coba mamake pengen tau kalian pegel ngga bacanya🤭**

__ADS_1


__ADS_2